You are on page 1of 15

KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI MINYAK BUMI DAN GAS PADA CEKUNGAN BONE

KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI MINYAK BUMI DAN GAS PADA CEKUNGAN
BONE
BOBBY ARMANDA SITUMORANG
21100110141004
Email : bobbygeologiundip@yahoo.co.id
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI UNIVERSTIAS DIPONEGORO, SEMARANG
ABSTRAK
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai suatu keunikan.
Indonesia terletak di daerah yang strategis dari segi Geologinya. Indonesia terletak
di pertemuan lempeng besar diantaranya lempeng Eurasia, Pasifik, Australia dan
lempeng kecil seperti Lempeng Filipina. Dari pertempuan lempeng tersebut di
Indonesia mempunya banyak cekungan cekungan yang sangat berpotensi sebagai
tempat tersimpannya hidrokarbon. Jadi dari hal itu, Indonesia kaya akan sumber
daya alamnya. Sudah banyak cekungan diIndonesia yang do eksplorasi dan
dieksploitasi untuk diambil sumberdaya alamnya berupa Minyak bumi, gas bumi,
batubara dan yang lainnya. Cekungan di daerah Sulawesi menyimpan banyak
kandungan alamnya. Hal ini diakibatkan dari pembentukan Pulau Sulawesi yang
berupakan hasil dari tumbukan antar lempeng. Diantaranyanya adalah cekungan
Bone yang terletak di Sulawesi bagian selatan. Cekungan bone terletak di Teluk
Bone. Ada tiga peristiwa tektonik yang berperan pada perkembangan
CekunganBone dan proses sedimentasinya yaitu peristiwa pertama, peristiwa
kedua, dan peristiwa ketiga. Sedangkan system petroleum yang berkembang pada
cekungan ini yang melingkupi proses pembentukan material hidrokarbon terdiri atas
lima komponen yaitu source rock (batuan induk), reservoir, migrasi, trap (jebakan),
dan seal (batuan penudung).Eksplorasi hidrokarbon di Teluk Bone bagian utara
sudah mulai dilakukan pada tahun 1971. Eksplorasi daerah tersebut dilakukan
karena di perkirakan daerah ini berpotensi mengandung hidrokarbon. Beberapa
petunjuk adanya hidrokarbon diantaranya adanya rembesan gas di Sengkang, Desa
Pongko dan Malangke. Pengambilan data seismik dan kegiatan pemboran ekspolrasi
telah dilakukan di daerah tersebut
Kata kunci : Hidrokarbon, Cekungan Bone, Eksplorasi, Eksploitasi, Lempeng

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perairan Teluk Bone Secara administratif terletak di Propinsi Sulawesi Selatan (di
sebelah barat dan utara) dan Propinsi Sulawesi Tenggara (di sebelah timur). Wilayah
Administratif dari Propinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan perairan Teluk Bone

adalah Kabupaten Bulukumba, Kab. Sinjai, Kab. Bone, Kab. Wajo, Kab. Luwuk, Kodya
Polopo, Kab. Luwuk Utara, Kab. Luwuk Timur. Sedangkan wilayah administratif di
Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan perairan Teluk Bone adalah
Kabupaten Bombana dan Kab. Kolaka. Laut Flores adalah batas sebelah selatan dari
perairan Teluk Bone. Pulau Sulawesi terletak di tepi bagian timur daratan Sunda
(Sundaland) yang merupakan inti benua yang mantap dari lempeng Eurasia bagian
tenggara (Hutchsin, 1989 dalam Soemandjuntak, 2004:26). Pulau ini terbentuk
disepanjang lajur tumbukan antara lempeng Eurasia di barat, lempeng pasifik di
timur dan kepingan benua mini yang berasal dari lempang Indo-Australia
(Hamlthon, 1979 dalam Simandjuntak, 2004:26). Sulawesi adalah Salah satu mosaic
kepingan benua dalam proses amalgamasi dan akrasi di pinggir timur benua Asia,
keempat lengan utara Sulawesi membentuk mandala megatektonik yang berbeda
Teluk Bone dicirikan sebagai tempat bermuaranya Sungai Cenrana. Secara geografis
Sungai Cenrana menjadi muara dari sejumlah sungai besar dan kecil di Sulawesi
Selatan. Dimana air dari Sungai Cenrana ini kemudian mengalir ke Teluk
Bone. Cekungan Bone merupakan Cekungan tulang terletak antara busur vulkanik
barat daya dan kompleks tabrakan tenggara wilayah Sulawesi Selatan. Basin ini
jelas berbingkai besar oleh kesalahan NS marjinal berorientasi, paralel subporosnya.
Margin barat daya cekungan dibatasi oleh NS berorientasi Walanae dan Bone
West BaySistem Fault, sementara margin timur laut cekungan berbatasan dengan
Sistem Sesar Tulang Timur.
Pada paper ini akan membahas mengenai ekspolorasi hidrikarbin dengan
menggunakan berbagai metode metode.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh Molnar dan
Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengr (1986) dicoba
diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006). Escape tectonics adalah konsep tektonik
yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi menjauhi suatu
wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di samudra. Karena
itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut : post-collisional
tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan). Eksplorasi hidrokarbon di
wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti bahwa telah terjadi escape
tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan dicirikan oleh
jalur sesar-lipatan yang ketat, sementara hasil escape tectonics dicirikan oleh sesarsesar mendatar regional, sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran
kerak Bumi. Awang Harun Satyana mengidentifikasi lima peristiwa benturan di
Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia
sepanjang Kenozoikum.
METODOLOGI
Dalam penulisan paper ini digunakan dua metode yaitu :
1.
Studi literatur, yaitu mempelajari referensi tentang seputaran topik bahasan
yang kemudian telah dipersempit menjadi judul yang terdapat pada artikel, jurnal,
serta buku-buku yang memuat seputaran topik bahasan.

2.
Studi media elektronik, yaitu mengambil data-data maupun referensi tentang
seputaran topik bahasan yang terdapat pada media internet.
PEMBAHASAN
Berdasarkan keadaan litotektonik atau tektonikstratigrafi,Pulau Sulawesi dibagi 4
yaitu:
1. Mandala barat(West &North Sulawesi Volcano- Plutonic Arc) sebagai jalur
magmatik (Cenozoic Volcanics and Plutonic Rocks)yang merupakan bagian ujung
timur Paparan Sunda;
2. Mandala tengah (CentralSulawesi Metamorphic Belt)
berupa batuan malihan yang ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian dari blok
Australia;
3. Mandala timur (East Sulawesi Ophiolite Belt) berupa ofiolit yang merupakan
segmen dari kerak samudera berimbrikasi dan batuan sedimen berumur TriasMiosen
4. BanggaiSula and Tukang Besi Continental fragments kepulauan paling timur
Banggai-Sula dan Buton merupakan pecahan benua yang berpindah ke arah barat
karena strike slip faults dari- New Guinea.
Cekungan Bone ini merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di
Indonesia. Lataknya di daerah Sulawesi bagian selatan. Benturan pertama adalah
benturan India ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45 Ma (Eosen awal-tengah).
Benturan ini telah menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar Pegunungan Himalaya
yang juga merupakan suture Indus. Benturan ini segera diikuti oleh gerakan lateral
Daratan Sunda (Sundaland) ke arah tenggara, sebagai wujud escape tectonics,
diakomodasi dan dimanifestasikan oleh sesar-sesar mendatar besar di wilayah
Indocina dan Daratan Sunda, pembukaan Laut Cina Selatan, pembentukan
cekungan-cekungan sedimen di Malaya, Indocina, dan Sumatra, dan saat ini oleh
pembukaan Laut Andaman. Sesar-sesar ini terbentuk di atas dan menggiatkan
kembali garis-garis suture akresi batuandasar berumur Mesozoikum di Daratan
Sunda. Sesar-sesar besar hasil escape tectonics ini adalah: Sesar Red River-Sabah,
Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping), Sesar Three Pagoda-Malaya-Natuna-LuparAdang, dan Sesar Sumatra.
Eksplorasi hidrokarbon di Teluk Bone bagian utara sudah mulai dilakukan pada
tahun 1971. Eksplorasi daerah tersebut dilakukan karena di perkirakan daerah ini
berpotensi mengandung hidrokarbon. Beberapa petunjuk adanya hidrokarbon
diantaranya adanya rembesan gas di Sengkang, Desa Pongko dan Malangke.
Pengambilan data seismik dan kegiatan pemboran ekspolrasi telah dilakukan di
daerah tersebut. Rekaman seismik daerah tersebut kurang sempurna. Interpretasi
seismik daerah tersebut menunjukan ketebalan batuan sedimen Tertier di sumur
BBA 1x adalah 1600 meter. Pemboran yang dilakukan berhenti pada batuan
berumur Miosen tengah, pada kedalaman 10500 feet, dan dihasilkan dry hole.
Korelasi stratigrafi regional menunjukkan bahwa pemboran belum mencapai batuan
sedimen berumur Eosen yang di duga terdapat di daerah tersebut, dimana batuan
tersebut dapat berfungsi sebagai batuan sumber dan reservoir hidrokarbon.
Evaluasi data gravity menunjukan bahwa ketebalan sedimen Tertier mencapai
ketebalan lebih dari 1600 meter. Dengan harapan untuk menemukan hidrocarbon di

daerah tersebut disarankan perlu dilakukan evaluasi ulang terutama pemrosesan


data seismik di daerah tersebut.

KESIMPULAN
Ada tiga peristiwa tektonik yang berperan pada perkembangan Cekungan Bone dan
proses sedimentasinya yaitu peristiwa pertama, peristiwa kedua, dan peristiwa
ketiga. Eksplorasi daerah tersebut dilakukan karena di perkirakan daerah ini
berpotensimengandung hidrokarbon .
Sedangkan system petroleum yang berkembang pada cekungan ini yang melingkupi
proses pembentukan material hidrokarbon terdiri atas lima komponen yaitu source
rock (batuan induk), reservoir, migrasi, trap (jebakan), dan seal (batuan
penudung). Eksplorasi hidrokarbon di Teluk Bone bagian utara sudah mulai
dilakukan pada tahun 1971. Eksplorasi daerah tersebut dilakukan karena di
perkirakan daerah ini berpotensi mengandung hidrokarbon. Beberapa petunjuk
adanya hidrokarbon diantaranya adanya rembesan gas di Sengkang, Desa Pongko
dan Malangke. Pengambilan data seismik dan kegiatan pemboran ekspolrasi telah
dilakukan di daerah tersebut
REFERENSI
Daly M.C., Cooper, M.A., Wilson J.,Smith, D.G., Hooper,B.G.D., 1991, Cenezoic Plate
Tectonics and Basin Evalution in Indonesia; Marine and Petroleum Geology
Katili, J. A., 1975, Volcanism and Plate Tectonics in the Indonesian Island,
Tectonophysics, 26,p. 165http://id.scribd.com/doc/142205498/Cekungan-Di-Indonesia188 (Diakses tanggal 2
juli 2014 pukul 19.00)
http://www.hagi.or.id/paper/penggunaan-data-stratigrafi-dan-gravity-untuk-reevaluasi-ketebalan-batuan-sedimen-tertier-di-sumur-bba-1x-cekungan-teluk-bonebagian-utara/188 (Diakses tanggal 2 juli 2014 pukul 19.00)

Escape Tectonics Indonesia


By Awang Harun Satyana
Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh Molnar dan
Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengr (1986) dicoba
diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006).Escape tectonics adalah konsep tektonik
yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi menjauhi suatu
wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di samudra. Karena
itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut : post-collisional
tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan). Eksplorasi hidrokarbon di
wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti bahwa telah terjadi escape
tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan dicirikan oleh
jalur sesar-lipatan yang ketat, sementara hasil escape tectonics dicirikan oleh sesarsesar mendatar regional, sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran
kerak Bumi.
Saya mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau
mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Benturan
pertama adalah benturan India ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45 Ma (Eosen
awal-tengah). Benturan ini telah menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar Pegunungan
Himalaya yang juga merupakan suture Indus. Benturan ini segera diikuti oleh
gerakan lateral Daratan Sunda (Sundaland) ke arah tenggara, sebagai
wujud escape tectonics, diakomodasi dan dimanifestasikan oleh sesar-sesar
mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan Sunda, pembukaan Laut Cina
Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen di Malaya, Indocina, dan
Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman. Sesar-sesar ini terbentuk di
atas dan menggiatkan kembali garis-garis suture akresi batuandasar berumur
Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-sesar besar hasil escape tectonics ini adalah :
Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping), Sesar Three PagodaMalaya-Natuna-Lupar-Adang, dan Sesar Sumatra
Gambar 1 Tectonic escape di Indonesia Barat pada 45 Ma dicirikan oleh benturan
India dan Eurasia dan bergeraknya massa daratan Asia Timur, Indocina dan
Indonesia Barat ke arah timur dan tenggara. Sesar-sesar mendatar besar di Asia
(misalnya Altyn Tagh), pembukaan Laut Jepang dan Laut Cina Selatan adalah juga
manifestasi tectonic escape akibat benturan India-Eurasia (dimodifikasi dari
Tapponnier dkk., 1982; Satyana, 2006)

Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah busur
kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut Filipina
berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua sekarang. Benturan
ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah Papua dan segera
diikuti oleh escape tectonics berupa sesar-sesar mendatar besar dan pembentukan
cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone benturan. Sesar-sesar besar
tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga, Sesar
Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal area)
Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga, Waropen, Biak, Jayapura)
dan Cekungan Akimeugah di selatan zone benturan Pegunungan Tengah Papua,
terbentuk akibat runtuhan untuk mengkompensasi tinggian akibat benturan. Sesarsesar mendatar yang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan cekungancekungan ini.
Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala Burung dengan
badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan sesar Lengguru
menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari zone benturan ini
seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki menunjukkan escape
tectonics pascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di sebelah barat Jalur
Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai akibat post-collision
extensional structure.
Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal) ketika
mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit Sulawesi

Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua dan bergerak ke
barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar
Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah benturan Banggai dan
Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic escapes pascabenturan
dalam bentuk-bentuk rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembentukan sesar-sesar
menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, dan Balantak,
dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar mendatar ini di beberapa tempat
telah membuka cekungan-cekungan koyakan (pull-apart basin) akibat
mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso, Matano, Towuti juga Depresi
Palu.
Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma (pertengahan-Pliosen) ketika tepi
utara Benua Australia berbenturan dengan busur Kepulauan Banda. Benturan ini
telah membentuk jalur lipatan dan sesar foreland sepanjang Timor, Tanimbar
sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini juga banyak dipengaruhi oleh benturan
busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala Burung. Pembukaan lateral juga terjadi
mengikuti benturan busur-benua ini, pembukaan ini adalah manifestasi tectonic
escape. Sesar-sesar mendatar besar terbentuk hampir sejajar dengan
orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat mikro-kontinen Sumba dan pembentukan
serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan Laut Banda dapat berhubungan
dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui mekanisme extensional
structure atau collapse yang mengikuti arc-continent collision.
Kasus-kasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic escapes adalah gejala
dan proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen seperti Indonesia.
Konsep escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk pemahaman
bagaimana benua terbangun dan terpotong-potong.

Gambar 2. Tectonic escape pascabenturan Banggai-Sula dicirikan oleh banyak hal :


rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembukaan Teluk Bone, dan pembentukan sesarsesar mendatar besar yang memotong pulau ini. Escape tectonics di Sulawesi
merupakan gambaran ideal model yang dikemukakan Molnar dan Tapponnier
(1982) dan Tapponnier dkk. (1982). Panah hitam adalah arah benturan, panah
kosong adalah arah escape (Satyana, 2006)

CEKUNGAN BANGGAI ( BANGGAI BASIN ) Oleh : Freddie Wira A. (140710070038),


Adrie Wiranata (140710070042), Rifki Asrul Sani (140710070075), Sandy Tirta S.
(140710070091), Aji Wibowo (140710077003) Fakultas Teknik Geologi Universitas
Padjadjaran 2010 Disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah Stratigrafi
Indonesia
PENDAHULUAN
Banggai Sula Mikrocontinent merupakan bagian dari lempeng benua Australia-New
Guinea yang terlepas selama zaman Mesozoik akhir. Hal ini didukung dengan
adanya kesamaan dalam stratigrafi Pra-Cretaceous berada diatas basement
Paleozoic granitic dan metamorphic. Selama periode Miosen hingga Pliosen,
Mikrocontinent bertubrukan dengan lempeng Asiatic menghasilkan obduction
kearah timur dari ophiolite di Timurlaut Sulawesi. GEOLOGI REGIONAL 1.
Kerangka Tektonik Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan
oleh Molnar dan Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengr
(1986) dicoba diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006). Escape tectonics adalah
konsep tektonik yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi
menjauhi suatu wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di
samudra. Karena itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut :
post-collisional tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan). Eksplorasi
hidrokarbon di wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti bahwa telah
terjadi escape tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan
dicirikan oleh jalur sesar-lipatan yang ketat, sementara hasil escape tectonics
dicirikan oleh sesar-sesar mendatar regional, sesar-sesar normal, dan retakanretakan atau pemekaran kerak Bumi. Awang H. Satyana (2007) mengidentifikasi
lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah
tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Benturan pertama adalah benturan India
ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45 Ma (Eosen awal-tengah). Benturan ini telah
menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar Pegunungan Himalaya yang juga merupakan
suture Indus. Benturan ini segera diikuti oleh gerakan lateral Daratan Sunda
(Sundaland) ke arah tenggara, sebagai wujud escape tectonics, diakomodasi dan
dimanifestasikan oleh sesar-sesar mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan
Sunda, pembukaan Laut Cina Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen
di Malaya, Indocina, dan Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman.
Sesar-sesar ini terbentuk di atas dan menggiatkan kembali garis-garis suture akresi
batuandasar berumur Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-sesar besar hasil
escape tectonics ini adalah : Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae
Ping), Sesar Three Pagoda-Malaya-Natuna-Lupar-Adang, dan Sesar Sumatra.
Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah busur
kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut Filipina
berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua sekarang. Benturan
ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah Papua dan segera
diikuti oleh escape tectonics berupa sesar-sesar mendatar besar dan pembentukan
cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone benturan. Sesar-sesar besar
tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga, Sesar
Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal area)
Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga, Waropen, Biak, Jayapura)
dan Cekungan Akimeugah di selatan zone benturan Pegunungan Tengah Papua,
terbentuk akibat runtuhan untuk mengkompensasi tinggian akibat benturan. Sesar-

sesar mendatar yang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan cekungancekungan ini. Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala
Burung dengan badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan
sesar Lengguru menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari
zone benturan ini seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki menunjukkan
escape tectonics pascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di sebelah barat
Jalur Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai akibat postcollision extensional structure. Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen
akhir-Pliosen paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan BanggaiSula membentur ofiolit Sulawesi Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari
Kepala Burung Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah
membentuk jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui
di daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti
tectonic escapes pascabenturan dalam bentuk-bentuk rotasi lengan-lengan
Sulawesi, pembentukan sesar-sesar menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo,
Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar
mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan
(pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso,
Matano, Towuti juga Depresi Palu. Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma
(pertengahan-Pliosen) ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan busur
Kepulauan Banda. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar foreland
sepanjang Timor, Tanimbar sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini juga banyak
dipengaruhi oleh benturan busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala Burung.
Pembukaan lateral juga terjadi mengikuti benturan busur-benua ini, pembukaan ini
adalah manifestasi tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar terbentuk hampir
sejajar dengan orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat mikro-kontinen Sumba dan
pembentukan serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan Laut Banda dapat
berhubungan dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui mekanisme
extensional structure atau collapse yang mengikuti arc-continent collision. Kasuskasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic escapes adalah gejala dan
proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen seperti Indonesia. Konsep
escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk pemahaman bagaimana
benua terbangun dan terpotong-potong.
Banggai-Sula Mikrokontinen
merupakan bagian dari benua Australia Utara New Guinea. Selama zaman
Mesozoic Lempeng mikro Banggai-Sula terpisah dan bergerak kearah barat
Lempeng Asia. Periode extensional ini dicirikan dengan sebuah fase transgresi
klastika jurasik dari daratan ke laut dangkal yang berada diatas anoxic shale laut
dalam. Secara utama proses sedimentasi passive margin terjadi dalam Cretaceous
hingga Tersier selama pergerakannya kearah barat.
Collision dari BanggaiSula dengan Lempeng Asia terjadi dari Miosen Tengah hingga Pliosen dan dihasilkan
dalam kerak samudra Asia, Sulawesi ophiolite, sedang ditekan menuju timur pada
Lempeng mikro Banggai-Sula. Episode compressive merupakan hal yang
mengakibatkan terjadinya struktur sesar yang muncul di paparan Taliabu. Mengikuti
aktivitas pensesaran dan pengangkatan dari Sulawesi timus, kearah timur
dihubungkan dengan pengendapan molasses yang dimulai pada Pliosen awal.
Sedimen molasses pada periode Pliosen dan Pleistosen, mengalami progradasi
kearah timur mengisi area cekungan hingga ke bagian barat pulau Peleng

Gambar 1. Peta Lokasi Cekungan Banggai


Di bagian utara Banggai-Sula mikrokontinen merupakan batasan dengan lempeng
laut Maluku. Sedimen yang terdeformasi menunjukan bukti obduksi menuju northdipping bagian Mesozoik hingga Tersier. Sequence yang terdeformasi mungkin
menjadi bagian yang tersusun atas sedimen imbrikasi dari batuan asal Banggai-Sula
tapi lebih menyerupai sebuah mlange tektonik yang menutupi laut Maluku. Jauh ke
utara diketahui kandungan sedimen yang berasosiasi dengan batuan ultrabasa dan
batuan vulkanik.

Gambar 2. Keadaan Tektonik pada Cekungan Banggai


Ditempat lain, sesar normal periode Pliosen akhir hingga Pleistosen diakibatkan
bagian dari gaya tekanan compressive awal, dihasilkan dari subsidence pada selat
Peleng. Kompleks Collisi / terusan sabuk diinterpretasikan terbentuk sebagai suatu
hasil dari proses kolisi, yang terjadi selama Kala Miosen, dari Lempeng Mikro
Kontinen Banggai-Sula dan sebuah Busur vulkanik Tersier, yang membentuk daerah
yang dikenal sebagai Sulawesi Tengah pada saat ini. Proses Collisi menghasilkan
lipatan yang mempengaruhi daerah disekitarnya, penujaman, dan imbrikasi dari
sedimenter, dan juga pada ubduksi dari salah satu massa ophiolit terbesar di dunia,
yakni Sabuk Ophiolit Sulawesi Bagian Timur. Lempeng Mikro Kontinen Banggai-Sula
diinterpretasikan mempunyai lokasi awal yang jauh ke arah timur dari lokasinya

yang sekarang, dipredeksikan di dekat daerah New Guinea Bagian Tengah, dan
membentuk Lempeng Kontinen Mayor dari Australia-New Guinea, dimana lempeng
ini sendiri terbentuk sebagai hasil dari proses pemisahan dari Gondwana, yang
terjadi selama Masa Mesozoikum. Pada saat proses pemisahan berlangsung,
lempeng mikro mengalami pemekaran ke arah barat, dan subduksi kerak oceanic
yang cenderung ke arah barat, berhubungan dengan bagian tepi dari lempeng
mikro yang dikenal pada saat sekarang ini dengan Sulawesi Barat. Inisial
sedimentasi yang berada di atas basement batuan beku atau metamorfik dari
Lempeng mikro Banggai-Sula yang berumur Paleozoikum Akhir dimulai dari sedimen
laut dangkal hingga laut dalam, sedimen klastik berumur Jura, sedimen khas hasil
pemisahan, batas pemekaran sikuen. Batupasir laut dangkal dan material lempung
dijumpai pada daerah Peleng Timur dan fasies laut dalam, termasuk turbidit,
dijumpai pada daerah bagian barat dari Sulawesi Timur. Sedimentasi pasif yang
terjadi selama Zaman Kapur hingga Paleogen, sebagai hasil dari proses pemekaran
ke arah barat dari lempeng mikro yang berkesinambungan. Adanya singkapan yang
muncul di permukaan yang terbatas dan data well memperlihatkan bahwa
sedimentasi karbonat dimulai pada Kala Eosen pada bagian selatan dan barat dari
wilayah ini, sementara di daerah lain di bagian timur sedimentasi karbonat tidak
jelas terjadi hingga Kala Miosen. Pada suatu paparan (shelf) dengan kaberadaan
karbonat yang ekstensif, dilokalisir oleh pertumbuhan terumbu karang, mengelilingi
wilayah Banggai Sula selama Kala Miosen. Selama Kala Miosen Akhir hingga Pliosen
Awal, collisi dari lempeng mikro dengan bagian luar, busur non-vulkanik
menghasilkan gaya kompresi yang mengarah ke timur, terobosan dan imbrikasi dari
sedimenter, dan obduksi dari ophiolit mulai dari tepian lempeng Asia ke Lempeng
Mikro Banggai-Sula. Plat Banggai-Sula bersama dengan sedimenter bagian atas
pada akhirnya merupakan plat yang yang berada di dalam overthrust sedimenter
Tersier dan Mesozoik dan batuan beku ultrabasa yang membentuk kompleks collisi
pada saat ini. Bersama dengan sedimen flysch, yang dihasilkan oleh proses erosi
dari kompleks collisi, terjadi di depan dari penunjaman bagian timur. Komponen
utama dari sedimen ini adalah debris ophiolit.
1.

Stratigrafi
Banggai Sula Mikrokontinen memiliki urutan stratigrafi yang diurutkan
berdasarkan umur dari Paleozoikum hingga Kuarter (Gambar.3). Batuan alas
(basement) merupakan basal klastik berumur Paleogen tipis (Eosen akhirOligosen awal) dan batuan karbonat, dan dalam skala regional berupa
batuan karbonat dan klastik (Kelompok Salodik).

Pra Jurasik
Metamorphic Tanpa Nama
Basement berupa batuan metamorf terdiri atas slate, schist, dan gneiss yang
mungkin sudah mengalami proses deformasi pada periode Paleozoikum Atas.
Selama Permian Akhir hingga Triassic batuan granite bercampur dengan Basement.
Tingkat metamofisme tinggi dihasilkan oleh intrusi ini yang sebagiannya merupakan
hornfel. Batuan alas (Basement) dari Lempeng Mikro Banggai Sula terlihat dalam
bentuk outcrop/singkapan di Pulau Peleng dan beberapa singkapan yang terdapat di
Tomori PSC, merupakan sekis primer yang terintrusi oleh Granit berumur Perm
hingga Trias.
Granit Banggai

Granit diperkirakan berumur Permian Akhir hingga Triassic. Terdapat bermacammacam intrusi di daerah ini, termasuk Orthoclase merah kaya granit, granadiorit,
diorite kuarsa, mikrodiorit, syenite porphiri, aplite dan pegmatite. Di Banggai dan
Selatan Taliabu, granit terlihat segar dan ini menjadi dalil kemunculannya relatif
masih baru sebagai hasil dari proses pengangkatan dan pensesaran. Terlihat jelas
seperti pada pulai Kano, granit mengalami pelapukan secara intensif, ini
memungkinkan terjadi selama periode pembukaan benua yang berasosiasi dengan
rifting pada Jurassic Awal. Variasi outcrop dari batuan yang berumur Mesozoikum
terekam sebagai jendela tektonik di Cekungan Banggai, terutama pada sabuk
ophiolit. Batuan yang berumur Trias hingga Kapur terbentuk dan meliputi
batugamping pelagic dan batulempung, batugamping laut dangkal dan turbidit, dan
batupasir. Keduanya merupakan reservoir potensial dan batuan induk yang
terekam. Diperkirakan sekitar 14.000 kaki dari sedimen Tersier dikenali pada bagian
tengah wilayah lepas pantai dari blok Tomori dari interpretasi seismic. Sedimensedimen tersebut cenderung menebal secara signifikan kearah barat dan barat
daya.

Gambar 3. Stratigrafi Regional Cekungan Banggai


Mangole Vulkanik
Muncul dengan ketebalan sekitar 1000m di Banggai, Taliabu, dan Mangole dan
termasuk didalamnya rhyolite, dasit, ignimbrite lithic tuff dan breksi pada Pulau
Bangga yang mengandung fragmen batuan metamorf. Sedimentasi karbonat terus
berlangsung hingga zaman Kuarter dan pengangkatan pada zaman recent secara
ekstensiv memunculkan beberapa dari endapan-endapan ini.
Formasi Luwuk/Peleng
Terbentuknya batugamping pada Formasi Luwuk dan Peleng ditemukan lebih
banyak pada Pulau Peleng. Tipe sedimen utama digambarkan sebagai karang
konglomerat karena ini terbentuk oleh campuran acak dari karang-karang yang
hancur, molusca, algae dan foraminifera. Pengendapan terjadi dibawah kondisi
energy yang tinggi, dalam beberapa kasus kemungkinan berasosiasi dengan lereng
curam sesar aktif yang mengindikasikan seluruh wilayah tetap menyisakan aktifitas
geologi yang aktif.
Endapan Recent, Alluvium
Berupa lempung, lanau, pasir dan gravel yang berasosiasi dengan rawa-rawa,
sungai dan pantai yang muncul dalam lokasi yang bermacam-macam disekitar
pesisir dan dekat bibir sung