You are on page 1of 17

STUDI PENGOLAHAN AIR MINUM KEMASAN DI DEPO ISI ULANG

DI KOTA MALANG
Hana Arifiana, Mohamad Nasrul Fuad, Nimatul Khoiriyah, Nabilah Febrianti Hasan dan
Bapak Dr. Sueb, M. Kes*
*Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri
Malang
Jalan Semarang 5 Malang 64145
E-mail: sueb.fmipa@um.ac.id

Abstrak: Sumber daya air merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk
keberlanjutan kehidupan makhluk hidup terutama manusia, selain merupakan sumber daya
alam, air juga merupakan komponen ekosistem yang yang dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Teknik pengolahan air minum di depo
air minum menggunakan 3 cara, yaitu Teknologi Ultraviolet (UV), Teknologi Ozonisasi, dan
Teknologi Reverse Osmosis (RO). Tujuan pembuatan makalah ini adalah mengetahui cara
pengolahan air minum di beberapa depo air minum di Kota Malang, mengetahui nilai derajat
keasaman (pH) dan kadar oksigen terlarut (DO), mengetahui hubungan cara pengolahan
sumber air bersih, derajat keasaman dan kadar oksigen terlarut dalam air minum kemasan.
Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah dengan panduan
observasi untuk pengumpulan data secara kuantitatif. Uji statistik
menggunakan uji sperman dan uji pearson untuk mengolah data. Cara
pengolahan air minum kemasan di Depo isi ulang tidak berhubungan
dengan pH dan berkaitan dengan kadar oksigen terlarut.
Kata Kunci: Air Minum Isi Ulang, Depo Isi Ulang, pengolahan air, pH dan
DO.

Abstract:Water resources is the one element that is essential for the sustainability of
life living things other than human, is primarily natural resources, water is also a component
of the ecosystem which governed by State and theis used for the prosperity of the
people. Drinking water treatment technique in refill Depot using 3 ways, Ultraviolet
(UV) technology, Ozone technology, and Reverse Osmosis (RO) technology. The purpose
of this paper is to know drinking water treatment on refill Depot in Malang, knowing the
value of the degree of acidity (pH) and the levels of dissolved oxygen (DO), knowing the
drinking water treatment relation with the degree of acidity and the levels of dissolved oxygen in refill Depot. The methods in this paper using the observation guide lines for data
collection in quantitative. Statistical calculation using Spearman test and Pearson test to
process data. The processing of drinking water on refill Depot not related to pH
but dissolved oxygen levels associated with.
Keyword: refill drinking water, refill Depot, water treatment, pH and DO.

1. Pendahuluan
Sumber daya air merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk keberlanjutan
kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Keberadaan air dapat berperan multiguna, dapat
digunakan sebagai air minum dan MCK (mandi, cuci, kakus), mengairi lahan pertanian,
religius (mendukung pelaksanaan ibadah), dan ekonomi. Maka diperlukan adanya suatu
Pengolahan terhadap sumber daya air agar keberadaannya tetap bermanfaat dan berkelanjutan
untuk kepentingan jangka panjang (Aulia&Dharmawan, 2010).
Adanya air di bumi merupakan kekayaan alam yang memberikan timbal balik pada
berbagai proses kehidupan. Selain merupakan sumber daya alam, air juga merupakan
komponen ekosistem yang sangat penting yang dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hal ini tertuang dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (JDIH Ristek RI, 1999).
Pengolahan air yang menyeimbangkan penggunannya adalah hal umum dalam sistem
sumber daya air modern. Sistem air berkelanjutan yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan air sekarang dan masa depan, dengan tetap menjaga berbagai variasi hidrologi
diperlukan untuk menjaga integritas ekologi, mengingat pentingnya kebutuhan air bersih,
maka wajar apabila sektor air bersih mendapatkan prioritas penanganan utama karena
menyangkut kehidupan orang banyak (Solis & McKinney, 2012).
Menurut penelitian Marpaung dan Marsono (2013), teknik pengolahan air minum di
depo air minum menggunakan 3 cara, yaitu Teknologi Ultraviolet (UV), Teknologi Ozonisasi,
danTeknologi Reverse Osmosis (RO). Kebanyakan Depo air minum isi ulang menggunakan
teknologi ozonisasi dan Reserve Osmosis. Ozonisasi adalah proses desinfeksi yang bertujuan
untuk membunuh dan menghilangkan bakteri penyebab penyakit yang dilakukan
menggunakan ozon. Selain ozonisasi, proses desinfeksi juga dilakukan dengan sterilisasi atau
teknologi UV dengan melakukan penyinaran pada lampu ultraviolet (AMDK Airolas, 2009).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/Menkes/Per/IV/20120, air minum yang layak untuk dikonsumsi harus memiliki pH
antara 6,5 8,5. Jika pH berada di bawah 6,5 maka air akan memiliki sifat asam. Akibat yang
timbul dalam tubuh jika meminum air yang bersifat asam antara lain gangguan pencernaan,
kekurangan energi, dan sakit pada persendian (Alegantina, dkk., 2004). Selain pH pada air
mengandung oksigen terlarut yang berasal dari udara dan hasil fotosintesis tumbuhan air.
Nilai DO normal pada air minum adalah diatas atau sama dengan 5 ppm (Slamet, 2007).
Berdasarkan hal di atas penulis ingin meneliti mengenai nilai pH dan kadar oksigen terlarut
(DO) pada depo air minum di Kota Malang, dengan cara Pengolahan air minum adalah teknik
yang digunakan untuk mengubah susunan kimia, fisika, dan biologis air sehingga layak
digunakan untuk umum (Suripin, 2002).
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan quesioner tertutup sebagai bagian dari penelitian kuantitatif
yang akan diberikan kepada pengelola depo air minum isi ulang di Kota Malang. Untuk
mendapatkan data nilai pH dan kadar oksigen terlarut dalam air minum, peneliti menggunaan

teknik observasi laboratorium yang akan di lakukan di Laboratorium Biologi Universitas


Negeri Malang.
Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan September 2015 di Kabupaten Malang. Lokasi
Depo air minum berada di beberapa daerah di kota Malang yang dibedakan berdasarkan
pasokan air bersih yang akan dikelola menjadi air minum. Dari rentang waktu ini,
diperkirakan peneliti berada di waktu yang cukup untuk melakukan observasi lapangan
sehingga pengambilan bukti pengumpulan data dapat diabadikan dan digunakan sebagai
lampiran.
Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
Populasi dari penelitian adalah seluruh pengelola dari masing-masing Depo air minum
yang telah terdata sebanyak 30 Depo. Sampel pertama adalah narasumber berjumlah 1 orang
yang dipilih berdasarkan pengetahuannya mengenai Pengolahan Air Minum pada Depo yang
diolah, baik hal yang berkaitan dengan pekerja, maupun proses pengolahan air hingga
menjadi air minum kemasan. Rata-rata dari narasumber merupakan pemilik dari Depo air
minum dan kesehariannya selalu berada di Depo untuk melayani konsumen. Sehingga jumlah
sampel pertama ada 30orang. Sampel kedua adalah air minum kemasan yang diolah di depo
air minum. Masing-masing sampel air akan diambil 150 ml sehingga dimungkinkan
untuk uji laboratorium menggunakan pH meter dan DO meter.
Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel dengan menggunakan teknik purposif
sampling. Sugiyono (2010) dalam Ridiansah (2013) sampling purposive adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Artinya, setiap subjek yang diambil dari
populasi dipilih dengan sengaja berdasarkan alat pengumpulan data atau instrument
penelitian.
Instrumen Penelitian
Pengumpulkan data dari sampel penelitian diperlukan alat yang disebut instrumen.
Alat pengumpulan data atau instrument penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam
pengumpulan data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpul datanya. Sehubungan kuesioner dijelaskan olehArikunto (2002) dalam Ridiansah
(2013), bahwa kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Dalam
menggunakan tipe quisioner tertutup, peneliti perlu mengurutkan pernyataan atau pertanyaan
yang akan diajukan kepada responden, sehingga dapat mengendalikan proses pengisian
quisioner yang berlangsung (Sunyono, 2011)
Penelitian ini dilakukan dengan menggali informasi mengenai nilai pH dan kadar DO
pada air minum kemasan di Depo air minum dan quisioner tertutup terhadap pengelola Depo
air minum.
3.5 Prosedur Penelitian
Langkah-langkah dalam pengumpulan data untuk penelitian sebagai berikut.
3.4.1 Penyebaran questioner tertutup kepada narasumber yang telah dipilih di masing-masing Depo
air minum di Kota Malang dan Observasi teknologi pengolahan air di Depo.
3.4.2 Pengambilan sampel air minum kemasan yang dikelola Depo air minum.
3.4.3 Pengujian sampel air minum kemasan yang dikelola Depo air minum di Laboratorium.

HASIL DAN ANALISIS


Analisis korelasi adalah metode statistik yang digunakan untuk mengukur besarnya
hubungan linier antara dua variabel atau lebih (Pattima, 2007). Jenis analisis terbagi menjadi
analisis korelasi non parametris dan parametris (Sunyono, 2011). Pada rumusan masalah
pertama dan kedua analisis menggunakan analisis persentase terkategorikan. Sedangkan pada
rumusan masalah ketiga, karena data cara pengolahan air minum di Depo berupa data dalam
skala interval dan data nilai pH dan kadar Oksigen Terlarut dalam skala rasio maka
digunakan statistik parametrik untuk menguji hubungan cara pengolahan air minum dan
kadar oksigen terlarut. Statistik non parametrik digunakan untuk menguji hubungan cara
pengolahan air minum dan nilai pH dengan uji Spearman. Sebelumnya dilakukan uji
normalitas pada data.
Tabel 1.1 Data Jumlah Penggunaan Tahap Olahan Air Minum di
Depo
No
Question
Selalu
Sering
Kadang
Jarang Tidak
Dilakuk Dilakuk Dilakuka Dilakuk Dilakuk
Total
an
an
n
an
an
1.
Pengolahan air
minum di Depo
ini
30
0
0
0
0
30
menggunakantek
nologi
Ultarviolet
2.
PadaTeknologi
Ultraviolet
dilakukan tahap
30
0
0
0
0
30
desinfeksi untuk
pembasmi
kuman
3.
Teknologi
Ultraviolet
mengontrol
30
0
0
0
0
30
kandungan zat
organik pada air
minum
4.
PadaTeknologi
Ultraviolet
terdapat tahap
pemurnian air
30
0
0
0
0
30
dari bakteri
dengan destruksi
ozon
5.
Teknologi
Ultraviolet
melalui proses
pengurangan
30
0
0
0
0
30
mikroba dengan
adanya tahap
Destruksi Klor

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Pengolahan air
minum di Depo
ini
menggunakan
teknologi
Reverse
Osmosis
Membran fiber
digunakan untuk
menyaring pasir
kecil dan kerikil
di air
Bau dan warna
air dinormalkan
dengan
penyaringan
menggunakan
pre-karbonaktif
Penyaring Air
Poly Amide TFC
digunakan untuk
membunuh
bakteri di air
minum
Hasil
pengolahan air
dimaksimalkan
dengan
penyaringan
post-karbonaktif
Pengolahan air
minum di Depo
ini
menggunakan
teknologi
Ozonisasi
Nilai keasaman
air minum diatur
pada tahap
penetralan air
Air minum harus
bersih dari
kandungan
logam setelah
tahap aerasi
Zat berbahaya
dalam air
diendapkan pada
tahap koagulasi

17

30

16

30

27

30

27

30

28

30

10

16

30

25

30

11

15

30

17

30

15.

Endapan zat
berbahaya
disaring terlebih
9
0
4
0
17
30
dahulu pada
tahap
penyaringan
16. Bakteri dan
kuman dibasmi
11
0
3
0
16
30
melalui tahap
ozonisasi
Cara pengolahan air minum kemasan di Depo air isi ulang umumnya
menggunakan 3 teknologi utama, yaitu Ozonisasi, Reserve Osmosis (RO) atau
penyaringan, dan Ultraviolet (UV). Setiap sampel menggunakan teknologi Ultraviolet
sebagai cara pengolahan baku. Semua tahap pada teknologi Ultraviolet diterapkan sebagai
pengolahan air yang wajib digunakan. Sehingga Depo isi ulang yang menggunakan teknologi
Ultaviolet dengan tahapan desinfeksi, pengontrolan kandungan zat organik,destruksi ozon,
dan destruksi klor masing-masing sebanyak 100% dari 30 Depo. Kedua tahap yang lainnya,
dapat diterapkan bersamaan dengan teknologi Ultraviolet, dan atau dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga dalam satu depo menggunakan 3 teknologi sekaligus.
Teknologi Reserve Osmosis digunakan oleh 9 Depo atau 30% dari 30 Depo. Terdapat
4 Depo yang kadang menggunakan teknologi RO atau 13,33% dari 30 Depo. Sebanyak 17
tidak menggunakan RO sebagai teknologi pengolahan air atau 56,67% dari 30 Depo. Tahapan
penyaringan dengan membran fiber selalu digunakan di8 Depo atau 26,67% dari 30 Depo, 1
Depo sering menggunakan atau 3,33% dari 30 Depo, 5 Depo terkadang menerapkan
penyaringan dengan fiber atau 16,67% dari 30 Depo, dan 16 Depo tidak menggunakannya
atau 53,3% dari 30 Depo. Penggunaan pre-karbon aktif pada 27 Depo atau 90% dari 30 Depo,
1 Depo sering menggunakannya atau 3,33% dari 30 Depo, dan 2 Depo kadang
menggunakannya atau 6,67% dari 30 Depo. Penyaringan dengan Poly Amide TFC digunakan
1 dari 30 Depo atau 3,33%, 2 Depo sering menggunakannya atau 6,67% dari 30 Depo, dan 27
Depo lainnya tidak menggunakan Poly Amide TFC atau 90% dari 30 Depo. Penyaringan
dengan Post-Karbon Aktif digunakan di 28 Depo atau 93,33% dan 2 lain tidak
menggunakannya 6,67% dari 30 Depo.
Penggunaan teknologi Ozonisasi diterapkan di 10 Depo atau 33,33%, 4 depo
terkadang menggunakannya atau 13,33%, dan sisanya 16 Depo tidak menggunakan 53,33%
dari 30 Depo. Tahap penetralan air dilakukan di 25 Depo atau 83,33%, 1 Depo sering
menggunakannya atau 3,33%, dan 4 Depo tidak menerapkan tahap penetralan atau 13,33%
dari 30 Depo. Tahap aerasi diterapkan di 11 Depo dari 30 Depo atau 36,67%, 1 Depo sering
menggunakannya atau 3,33%,3 Depo kadang melakukan tahap aerasi atau 10%, dan sisanya
15 Depo tidak melakukan tahap aerasi atau 50% dari 30 Depo. 8 Depo melakukan tahap
koagulasi atau 26,67%, 1 Depo sering melakukannya atau 3,33%, 4 Depo
menggunakanterkadang melakukan tahap koagulasi atau 13,33%, dan 17 Depo tidak
menggunakannya atau 56,67% dari 30 Depo. Penyaringan endapan dari koagulasi dilakukan
di 9 Depo dari 30 Depo atau 30%, 4 Depo terkadang melakukannya atau 13,33%, dan 17
Depo tidak menggunakannya 56,67% dari 30 Depo. Tahap ozonisasi dilakukan di 11 Depo
atau 36,67%, 3 Depo terkadang melakukannya atau 10%, dan 16 Depo tidak melakukan tahap
ini atau 53,33% dari 30 Depo.
Tabel 1.2 Data Nilai pH dan Kadar Oksigen Terlarut pada Air
Minum Kemasan di Depo

No.

Nama Depo

pH

Oksigen Terlarut

1.

Depo Puncak

7,12

10,3

2.

Depo Kalibaru

7,34

10,6

3.

Depo Pangeran Tirta

7,12

11,4

4.

Depo Biru

7,23

10,6

5.

Depo Salwa

7,20

11,5

6.

Depo 19

7,12

11,9

7.

Depo Amgua

7,15

10,2

8.

Depo Alga

6,95

11,6

9.

Depo Cak No

7,19

11,2

10.

Depo Mawar

7,50

10,9

11.

Depo Puncak

7,13

11,5

12.

Depo Amanah

7,20

10,3

13.

Depo Biru

7,23

10,1

14.

Depo Segar

7,12

10,1

15.

Depo KOS

7,27

11,9

16.

Depo Assalam

7,12

10,7

17.

Depo Estube

7,25

11,6

18.

Depo Bio-Therapy

7,50

10,8

19.

Depo Aqua Fafa

7,32

10,2

20.

Depo B-Fresh

7,12

10,6

21.

Depo Fresh Tirta

7,20

11,7

22.

Depo Ken Zhi

7,31

11,6

23.

Depo Fresh

6,48

10,9

24.

Depo Agen Aqua

7,05

11,2

25.

Depo Gravity

7,24

12,6

26.

Depo TokoTugu

7,25

11,8

27.

Depo Aljabar

7,25

10,5

28.

Depo Tirta Nadi

7,50

10,0

29.

Depo Aquario

7,13

10,0

30.

Depo TirtaSehat

7,23

11,2

Rentang pH normal air minum adalah 6,5-8,5 sehingga berdasarkan data


pada tabel 1.2 semua air minum olahan Depo layak dikonsumsi kecuali air
minum kemasan hasil olahan Depo Fresh. pH air minum tertinggi adalah

7,50 dari air minum kemasan di Depo Mawar, Depo Bio-Therapy, dan Tirta
Nadi. pH air minum terendah adalah 6,48 yang diperoleh dari Depo Fresh.
pH air minum lain terdapat dalam rentang pH normal dengan selisih
terhitung jauh. Data pH air minum kemasan tidak teristribusi normal,
sehingga pada uji normalitas menunjukkan nilai signifikansi dibawah ..
Tabel

1.3Hasil

UjiKorelasi

Cara

Pengolahan

Air

MinumKemasandanNilai pH dengan Uji Spearman


Cara
Pengolahan
Air Minum
Kemasan

Nilai pH

Correlation
1.000
.055
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.
.772
N
30
30
Spearman's
rho
Correlation
.055
1.000
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.772
.
N
30
30
Hasil dari kolerasi Spearman menunjukkan nilai signifikansi (2tailed) 0,772 lebih besar dari 0,05. Maka, disimpulkan jika tidak ada
hubungan antara cara pengolahan air minum kemasan di Depo isi ulang
dengan nilai pH.
Tabel 1.4 HasilUjiKorelasi Cara Pengolahan Air MinumKemasandan
Cara
Pengolahan
Air Minum
Kemasan
Nilai pH

Kadar Oksigen Terlarut dengan Uji Pearson

Cara
Pengolahan
Air Minum
Kemasan
Kadar
Oksigen
Terlarut

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

Cara Pengolahan
Air Minum
Kemasan

Kadar Oksigen
Terlarut

-.011

30

.954
30

-.011

.954
30

30

Hasil dari kolerasi Pearson menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed)


0,954 lebih besar dari 0,05. Maka, disimpulkan ada hubungan antara cara
pengolahan air minum kemasan di Depo isi ulang dengan kadar oksigen terlarut
PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitan diperoleh hasil bahwa Teknologi Ultraviolet digunakan oleh


semua depo air minum. Hal tersebut dikarenakan sinar Utraviolet berguna untuk sterilisasi air
dari bakteri, jika Ultraviolet tidak berfungsi dapat membahayakan kandungan air minum yang
akan dikonsumsi.Tahap terakhir dari pengolahan depo air minum adalah tahap mematikan
mikroorganisme yang mungkin masih tersisa. Untuk mematikan mikroorganisme, instalasi air
minum isi ulang menggunakan sistem lampu sinar ultra violet (UV) (Gottschalket al.,
2009).Radiasi UV dapat mempengaruhi mikroorganisme dengan mengubah DNAdalam sel.
Penggunaan UV bukan untuk menghilangkan organisme dalam air, UV hanya
menginaktifkan organisme. Efektifitas proses ini tergantung pada waktu kontak danintensitas
lampu serta kualitas air yang akan diolah. Sinar UV tidak menambahkan rasadan bau. Sinar
UV adalah desinfektan yang sangat efektif, walaupun proses desinfeksihanya dapat terjadi di
dalam unit. Tidak ada sisa UV di dalam air setelah proses desinfeksi (Brownellet al., 2008).
Proses pemurnian air dapat dilakukan dengan unit media filter dan mikrofilter. Media
filter adalah pre treatment yang digunakan sebagai filtrasi awal denganmenggunakan media
silica sand atau pasir silica dan karbon aktif. Kegunaan utama dari karbon aktif adalah
membersihkan larutan dengan cara penyaringan atau filtrasi dan dapat menghilangkanrasa,
warna, bau dan zat pencemar lainnya yang terkandung dalam air (Khalkhali &
Omidvari,2005).Pengolahan ultraviolet yang paling utama terjadi pada tahap desinfeksi.
Proses desinfeksi akan menurunkan jumlah mikroba hingga 98% yang ada dalam air sebelum
diolah(Aquafine Corporation, 2009). Proses desinfeksi dimaksudkan untuk membunuh
mikroorganisme yang tidak tersaring pada proses sebelumnya (Athena, 2004). Selain
desinfeksi terdapat tahap lain dalam pengolahan air menggunakan teknologi UV, yaitu
reduksi zat organik, destruksi ozon, dan destruksi klor. Tahap reduksi zat organik
dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan zat organik berlebih yang dapat menimbulkan
dampak buruk bagi keseimbangan zat terlarut dalam tubuh. Destruksi ozon dibutuhkan untuk
merusak molekul kontaminan, dan destruksi klor dilakukan untuk menurukan kadar bakteri
yang telah dilakukan di tahap desinfeksi yang bertujuan untuk menjaga kandungan air dari
bakteri yang merusak kelayakan konsumsi air minum(Aquafine Corporation, 2009).
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa sebanyak 9 dari 30 depo menggunakan
teknologi Reverse Osmosis(RO) dalam pengolahan air minum selain menggunakan teknologi
Ultraviolet. 4 depo kadang menggunakan teknologi RO, dan 17 depo air minum tidak
menggunakan teknologi RO sebagai teknologi pengolahan air minum. Hasil dari air minum
yang diolah menggunakan teknologi Reverse Osmosisair tidak bisa berlumut walau di jemur
sekian tahun. Reverse Osmosis mampu menyaring keluar sampai 96-99 % mineral
anorganikyang masih terlarut dalam air yang sudah terlihat jernih (Said, 2008). Teknologi ini
menggunakan beberapa tahap filtrasi. Proses filtrasi dimaksudkan selain untuk memisahkan
kontaminan tersuspensi juga memisahkan campuran yang berbentuk koloid termasuk
mikroorganisme dari dalam air (Pradana, dkk., 2013). Air hasil dari proses filtrasi
menunjukkan bahwa air minum bebas dari bahan organik. Filter yang dirancang baik efektif
dalam menghilangkan kandungan besi di dalam air, sehingga membuat air aman untuk
diminum (El Harbawi, dkk., 2010).
Proses pemurian air dapat menggunakan mikrofilter yang berfungsi sama dengan
media filter dan sebagai feeding ultrafilter. Mikrofilterdigunakan sebagai pengolahan
pendahuluan sebelum Reverse Osmosis. Disamping itu juga dapat menggunakan ultrafilter
yang dapat menghilangkan virus dan zat organik sampai dengan 0,001 mikron. Ultrafilter
digunakan sebagai pengolahan pendahuluan sebelum proses Reverse Osmosis(Said, 2008).

Tahapan teknologi RO yang digunakan oleh beberapa depo antara lain tahapan penyaringan
dengan membran fiber, penyaringan dengan pre-karbon aktif, penyaringan dengan Poly
Amide TFC, dan penyaringan dengan post-karbon aktif. Tahapan penyaringan dengan
membran fiber selalu digunakan pada 8 dari 30 depo, sering digunakan pada satu depo,
kadang digunakan pada 5 depo, dan sebanyak 16 depo tidak menggunakan tahapan tersebut.
Tahapan penyaringan dengan membran fiberberfungsi menyaring bahan dalam air seperti
karat, pasir, kapur yang menyebabkan penyakit hati, perut, batu dan disfungsi pada organ
tubuh, dan mikroba seperti bakteri dan jamuryang menyebabkan penyakit membran mukus
pada perut dan hati(Said, 2008).
Tahapan penyaringan dengan pre-karbon aktif selalu digunakan pada 27 dari 30
depo, sering digunakan pada 1 dari 30 depo depo, dan kadang digunakan pada 2 dari 30 depo.
Tahapan penyaringan dengan pre-karbon aktif berfungsi menyaring bahan dalam air seperti
bahan organik, bau, warna, bahan pencuci, klorin bahan penyebab kanker triklorometana,
acid amino, proteolipid (minyak busuk), racun, pembunuh kuman, fosfororganik bahan
penyebab kanker, keracunan, sakit perut, muntah dan hepatitis(Said, 2008). Tahapan
penyaringan dengan Poly Amide TFC selalu digunakan hanya 1 dari 30 depo, sering
digunakan pada 2 depo, dan 27 lainnya tidak menggunakan tahap penyaringan dengan Poly
Amide TFC. Tahapan penyaringan dengan Poly Amide TFCberfungsi menyaring bahan dalam
air seperti karbon, bakteri, desinfektan penyebab iritasi pada rongga mulut, zat peluntur
seperti xenon perokside, sodium percarbonat, sodium perborat, oxalate yang menyebabkan
inflamasi rongga mulut dan gangguan pencernaan, senyawa kimia beracun dan zat
pewarna(Said, 2008). Tahapan penyaringan dengan post-karbon aktif digunakan oleh 28 dari
30 depo, sedangkan 2 lainnya tidak menggunakan tahap penyaringan post-karbon aktif. Tahap
penyaringan dengan post-karbon aktif berfungsi menyaring bahan dalam air seperti menyerap
sisa bahan organik, bau, menjamin rasa dan kualitas air yang bermutu (Said, 2008).
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa teknologi ozonisasi digunakan oleh 10
dari 30 depo selain menggunakan teknologi UV. 4 depo terkadang menggunakan teknologi
ozonisasi dan 16 lainnya tidak menggunakan teknologi ozonisasi dalam pengolahan air
minum. Ozonisasi merupakanadvanceoxidation proses yang digunakan sebagai
desinfektan,menghilangkan bau, warna dan rasa. Ozon dapat mengoksidasi besi dan mangan
menjaditerpresipitasi dari sumber air, selain itu dapat pula mengkoagulasi partikulat,
mengontrolpertumbuhan alga, dan mampu menghancurkan beberapa jenis pestisida. Ozon
juga dapatdigunakan untuk mengontrol sisa produk dari desinfektan, misalnya dari
penggunaanklorin dan juga dapat pula digunakan pada proses stabilisasi biologi(Gottschalket
al., 2009). Pada penelitian Can & Gurol (2010) diamati bahwa pemberian ozon pada dosis
konstan, formaldehida awalnya terakumulasi dalam larutan, mencapai konsentrasi puncak,
dan kemudian mulai menurun oleh ozonisasi berkepanjangan. Waktu kontak yang lebih lama
akhirnya bisa menghilangkan formalin. Oleh karena itu, untuk penerapan dosis ozon konstan,
waktu kontak adalah salah satu parameter yang paling penting diamati untuk menentukan
konsentrasi formaldehida pada air hasil pengolahan.
Tahapan teknologi ozonisasi yang digunakan pada beberapa depo antara lain tahap
netralisasi, aerasi, koagulasi, filtrasi, dan ozonisasi. Tahap netralisasi dilakukan pada 25dari
30 depo, 1 depo sering menggunakan, dan 4 depo lainnya tidak menggunakan tahap
netralisasi. Tahap netralisasi berfungsi mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7-8).
Untuk air yang bersifat asam diberi kapur untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga
untuk membantu efektifitas proses selanjutnya(Gottschalket al., 2009). Tahap aerasi
dilakukan pada 11 dari 30 depo, 1 depo sering menggunakan, 3 depo kadang menggunakan,
dan 15 depo lainnya tidak menggunakan tahap aerasi. Tahap aerasi berfungsi agar kandungan
zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara
membentuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat diendapkan.Disamping itu proses

aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas
H2S, CH4, CO2 dan gas-gas racun lainnya (Gottschalk, et al., 2009).
Tahap koagulasi dilakukan pada 8 dari 30 depo, 1 depo sering menggunakan, 4 depo
kadang menggunakan, dan 17 depo tidak menggunakan tahap koagulasi. Tahap koagulasi
merupakan penambahan bahan kimia ke dalam air agar kotoran dalam air yang berupa
padatan tersuspensi rnisalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat
menggumpal dan cepat rnengendap(Gottschalket al., 2009). Tahap filtrasi setelah melalui
tahap koagulasi dilakukan pada 9 dari 30 depo 4 depo kadang melakukan, dan 17 depo
lainnya tidak melakukan tahap filtrasi. Tahap filtrasi dilakukan karena tidak semua gumpalan
kotoran dapat diendapkan secara sempurna. Gumpalan yang berukuran kecil dan ringan
masih melayang-layang dalam air sehingga untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih
harus dilakukan pengolahan air tahap proses penyaringan menggunakan filter air yang
dilakukan dengan mengalirkan air yang kotorannya telah diendapkan ke bak penyaring yang
berisikan saringan pasir(Gottschalket al., 2009). Tahap ozonisasi dilakukan pada 11 dari 30
depo, 3 depo kadang melakukan, dan 16 depo lainnya tidak melakukan tahap ozonisasi.
Tahap ozonisasi merupakan tahap terakhir dari pengolahan dengan teknologi Ozonisasi.Air
hasil penyaringan yang telah cukup jernih diozonisasi untuk menghilangkan bakteri-bakteri
patogen dan senyawa-senyawa organik sehingga air hasil pengolahan dapat langsung
dikonsumsi(Gottschalk, et al., 2009).
3 teknologi utama tersebut yang paling umum digunakan di Depo isi ulang. Terdapat
tambahan alat pengolah air minum kemasan yang memberikan tambahan bahan pada air
minum sehingga berdampak pada rasa dan bau air minum. Pada Depo Tirta Nadi, terdapat 3
pilihan air minum yang tersedia untuk konsumen, yaitu bioterapi, mineral, extra reserve
osmosis. Pengolahan bioterapi mneggunakan alat bioenergy dan extra reserve osmosis
menggunakan penyaring dengan ketelitian 0,0001 mikron. Ketiga pilihan air minum tersebut
melewati tahap pengolahan pada 3 teknologi utama, namun pada akhir tahap pengolahan
melewati alat yang berbeda sesuai dengan pilihan konsumen.
Derajat keasaman atau pH merupakan nilai yang menunjukkan aktifitas ion hydrogen
dalam air. Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain kandungan oksigen dan
ion-ion (Marganof, 2007). Nilai pH pada tabel 1.2menunjukkan dari 30 depo yang diteliti,
semua air minum masih berada pada kisaran baku mutu yaitu (6,5 8,5). Hasil uji parameter
pendukung air minum dalam kemasan (AMDK) hasilnya ialah hampir semua parmeter
memenuhi syarat mutu air dalam kemasan, yaitu pH berkisar antara 6,0-8,5 (Pradana &
Marsono, 2013).
Kadar oksigen terlarut di Seluruh depo berbeda, tergantung dari teknologi yang
digunakan. Depo yang menggunakan teknologi tambahan sepertibioenergymemiliki kadar
oksigen terlarut yang tinggi. DO atau kadar oksigen terlarut menyatakan kandungan oksigen
di dalam air. Kemampuan air dalam melarutkan oksigen sangat tergantung pada suhu air,
tekanan gas oksigen dan kemurnian air. Oksigen dapat larut dalam air karena molekul
oksigen menempati ruang di antara molekul air. Kandungan oksigen di dalam air dipengaruhi
berbagai faktor seperti suhu, tekanan dan jumlah zat yang terlarut di dalam air. Umumnya air
mengandung 4-6 ppm oksigen, air pegunungan dapat mengandung sampai 8 ppm oksigen.
Dengan kemajuan teknologi memungkinkan untuk meningkatkan kandungan oksigen di air
sampai dengan 80 ppm (Tanck, 2009).
SIMPULAN
Cara pengolahan air minum kemasan di Depo isi ulang di Kota Malang
menggunakan 3 teknologi utama yaitu Ultraviolet, Reserve Osmosis, dan
Ozonisasi. Pada beberapa Depo menggunakan alat tambahan berupa filter
ozon dan bioenergy. Nilai pH semua air minum kemasan di Depo terdapat

pada pH normal. Kadar oksigen terlarut tergantung dari teknologi yang


digunakan untuk mengolah air. Depo yang menggunakan alat tambahan
bioenergy mengasilkan air minum yang berkadar oksigen terlarut lebih
tinggi dari tinggi. Tidak terdapat hubungan antara cara pengolahan air
minum dan nilai pH dan terdapat hubungan antara cara pengolahan air
minum dengan kadar oksigen terlarut.
DAFTAR PUSTAKA
AMDK Airolas. 2009. Selayang Pandang Air Minum dalam Kemasan Airolas. Jatirono: PT.
Rolas Nusantara Mandiri.
Aquafine Corporation. 2009. Food & Baverages Industry Specific Application for UV
Technology. New York: USA.
Athena, Sukar, Hendro, & Anwar D. 2005. Pengaruh Pengolahan Air Di Depot Air Minum Isi
Ulang Dalam Menormalkan Derajat Keasaman (pH). Media Litbang Kesehatan, Vol.
15(2): hlm. 1-12.
Aulia, Tia Oktaviani Sumarna & Dharmawan, Arya Hadi. 2010. Kearifan Lokal Dalam
Pengelolaan Sumberdaya Air Di Kampung Kuta. Jurnal Transdisiplin Sosiologi,
Komunikasi, Dan Ekologi Manusia ISSN : 1978-4333, Vol. 04, No. 03
Brownell, Sarah A., Chakrabarti, Alicia R, Kaser, Forest M., Connelly, Lloyd G., Peletz,
Rachel L., Reygadas, Fermin, Lang, Micah J., Kammen Daniel M., & Nelson, Kara L.
2008. Assessment of A Low-Cost, Point-of-Use, Ultraviolet Water Disinfection
Technology, Journal of Water and Health,Vol. 6(1): hlm. 53-65.
Can, Zehra S. & Gurol, Mirat. 2010. Formaldehyde Formation During Ozonation Of
Drinking Water. The Journal of the International Ozone Association, Ozone: Science &
Engineering, Vol.25(1): hlm. 41-51.
El-Harbawi, Mohanad, Sabidi, Aida Azwana Bt.,Kamarudin, Ezzah Bt., Hamid, Amiran
B.,Harun, Suhaizal B., Nazlan, Ahmad B., Xi Yi, Chin. 2010. Design Of A Portable
Dual Purposes Water Filter System. Journal of Engineering Science and
Technology,Vol. 5(2): hlm. 165 175.
Giordano, Mark & Shah, Tushaar. 2014. From IWRM back to integrated water resources
management. International Journal of Water Resources Development.
Gottschalk, C., Judy, Ann L., Adrian, S. 2009. Ozonation Of Water And Waste Water. Wiley:
Germany
Marganof, 2007. Model Pengendalian Pencemaran Perairan di Danau Maninjau Sumatra
Barat Khalkhali, R. Ansari dan R. Omidvari. 2005. Polish Journal of Environmental
Studies.Adsorption of Mercuric Ion from Aqueous Solutions Using Activated Carbon,
Vol. 14(2): hm. 185-188.
Pradana, Yoga Ardy dan Marsono, Bowo Djoko. 2013. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang di
Kecamatan Sukodono, Sidoarjo Ditinjau dari Perilaku dan Pemeliharaan Alat. JURNAL
TEKNIK POMITS Vol. 2(2): hlm. 23-28.
Ridiansah, P. Nugraha. 2013. Pengaruh Self-Esteem terhadap Motivasi Bertanding pada Atlet
UKM
Sepak
Bola
Universitas
Pendidikan
Indonesia,
(online),
http://repository.upi.edu/646/6/S_KOR_0800194_CHAPTER3.pdf,
diakses
16
September 2015.
Said, Nusa Idaman. 2008. Teknologi Pengelolaan Air Minum, Teori dan Pengalaman Praktis.
Pusat Teknologi di Lingkungan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya
Alam. Jakarta:BPPT

Slamet, J.S. 2007. Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.


Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Tanck, Roy dan Theater, Jide. 2009. Tentang Air pH Air Minum RO, TDS, Rasa Pahit air
yang kita minum & Efek bagi tubuh.BSN.2006. SNI 01-3553-2006 Tentang Air Minum
Dalam Kemasan.
Solis, S. Sandoval & McKinney, D. C. 2012. Integrated Water Management for
Environmental Flows in the Rio Grande. Journal of Water Resources Planning and
Management
Tambunan, Ridho A. 2014. Jurnal Ilmiah Peran Pdam Dalam Pengelolaan Bahan Air Baku
Air Minum Sebagai Perlindungan Kualitas Air Minum Di Kota Yogyakarta. Skripsi
tidak diterbitkan

Lampiran
1.1

Lembar Panduan Observasi

No
.

Pernyataan

1.

Pengolahan air minum di


Depo ini menggunakan
teknologi Ultarviolet
Pada Teknologi
Ultraviolet dilakukan
tahap desinfeksi untuk
pembasmi kuman
Teknologi Ultraviolet
mengontrol kandungan
zat organik pada air
minum
Pada Teknologi
Ultraviolet terdapat tahap
pemurnian air dari
bakteri dengan destruksi
ozon
Teknologi Ultraviolet
melalui proses
pengurangan mikroba
dengan adanya tahap
Destruksi Klor
Pengolahan air minum di
Depo ini menggunakan
teknologi Reverse
Osmosis
Membran fiber
digunakan untuk
menyaring pasir kecil
dan kerikil di air
Bau dan warna air
dinormalkan dengan
penyaringan
menggunakan pre-karbon
aktif
Penyaring Air Poly
Amide TFC digunakan
untuk membunuh bakteri
di air minum
Hasil pengolahan air
dimaksimalkan dengan
penyaringan post-karbon
aktif
Pengolahan air minum di
Depo ini menggunakan

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

Selalu

Sering

Jarang

Tidak

12.
13.
14.
15.
16.

teknologi Ozonisasi
Nilai keasaman air
minum diatur pada tahap
penetralan air
Air minum harus bersih
dari kandungan logam
setelah tahap aerasi
Zat berbahaya dalam air
diendapkan pada tahap
koagulasi
Endapan zat berbahaya
disaring terlebih dahulu
pada tahap penyaringan
Bakteri dan kuman
dibasmi melalui tahap
ozonisasi

1.2

Data Lokasi Depo Isi Ulang

No.

Nama Depo

Alamat

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.

Depo Puncak
Depo Kalibaru
Depo Pangeran Tirta
Depo Biru
Depo Salwa
Depo 19
Depo Amgua
DepoAlga
Depo Cak No
Depo Mawar
Depo Puncak
Depo Amanah
Depo Biru 2
Depo Segar
Depo KOS
Depo Assalam
Depo Estube
DepoBio-Therapy
Depo Aqua Fafa
Depo B-Fresh
Depo Fresh Tirta
Depo Ken Zhi
Depo Fresh
Depo Gravity
Depo Tugu
Depo Aljabar
Depo Tirta Nadi
Depo Aquario

Jalan Danau Sentani Raya C7-D29


Jalan Wisnuwardhana No. 11-12
Jalan Danau Limboto A4-B5
Jalan Raya Sawojajar No. 93
Jalan Sulfat Agung No. 86
Jalan S. Priyo Sudarmo No. 4
Jalan Sulfat Agung No. 6
Jalan Sanan No. 18
Jalan J. A. Suprapto Gg. 2 No. 90A
Jalan Mawar I No. 102
Jalan Wijaya Kusuma No. 6
Jalan Sumber Waras (Samaan) No. 94
Jalan A. R Hakim 2A
Jalan Merjosari Blok E No. 65
Jalan M. T. Haryono No. 17
Jalan Joyo Tambaksari No. 34
Jalan Sumbersari No. 252
Jalan Sigura-gura
Jalan Terusan Surabaya
Jalan Ambarawa
Jalan Arif Margono No. 59
Jalan Sunan Ampel Gg. I No. 2
Jalan Sumbersari Gg. V
Jalan Jombang No. 105
Jalan Surabaya No. 23
Jalan Ambarawa No. 34
Jalan Mertojoyo Selatan No. 67
Jalan Raya Candi No. 4

29.
30.
1.3

Depo Tirta Sehat


Depo Agen Aqua

Jalan Gajayana Gg. II


Jalan Sumbersari Gg. III

Foto-foto Observasi
1. Menentukan Nilai pH Air Minum Kemasan
2. Menentukan Kadar Oksigen Terlarut Air Minum Kemasan
3. Observasi di Depo Isi Ulang di Kota Malang