Вы находитесь на странице: 1из 12

LAPORAN KASUS

Schizophrenia Multiple Episodes,


Currently in Partial Remission

Disusun Oleh :

Nanda Soraya (030.10.202)

Pembimbing :

dr. Pramudya P, Sp.KJ


dr. Agus Susanto, Sp.KJ
dr. Eunice P Najoan, Sp.KJ
dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ
dr. Feri Ikhwan Nasution, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARDJO
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 1 26 FEBRUARI 2016

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. I
Umur
: 48 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
0

Agama
Suku
Pendidikan terakhir
Pekerjaan
Status pernikahaan
Alamat

: Islam
: Sunda
: SMA
: Tukang parkir
: Belum kawin
: Jl. Petojo Binatu II No 29A RT 07/08 Gambir JKP

Pasien datang ke Poli Psikiatri RS TNI AL Dr. Mintohardjo pertama kali pada hari
Rabu, tanggal 10 Februari 2016.
II.

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


Data didapat dari:
1. Autoanamnesis tanggal 10 Februari 2016
2. Alloanamnesis dengan kakak kandung pasien (Ny. E, 63 tahun, ibu rumah tangga,
Islam, tidak tinggal serumah dengan pasien dan Ny. I, 61 tahun, ibu rumah tangga,
Islam, tidak tinggal serumah dengan pasien) tanggal 10 dan 11 Februari 2016.
A. Keluhan Utama
Pasien sulit tidur sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
B. Keluhan Tambahan
Mengoceh tidak jelas dan gelisah
C. Riwayat Gangguan Sekarang
1. Autoanamnesis pada hari Rabu, 10 Januari 2016 pukul 11.00 WIB di Poli
Psikiatri RS TNI AL Dr. Mintohardjo
Pasien datang diantar oleh kedua kakak kandungnya ke Poli Psikiatri
RSAL dr. Mintohardjo dengan keluhan tidak bisa tidur sama sekali sejak 1
minggu SMRS. Pasien akhir-akhir ini juga jarang mandi dan ganti pakaian
karena merasa tidak perlu. Nafsu makan pasien baik.
Pasien mengaku dahulu pernah melihat bayangan hitam dan mengajaknya
berbicara, namun sekarang sudah tidak pernah lagi. Pasien merupakan pribadi
pendiam dan pemalu, akhir-akhir ini menjadi lebih acuh dan tidak peduli
terhadap sekitar.
Pasien sering merasa dirinya sedang dibicarakan oleh orang lain, termasuk
saat pasien menonton TV, pasien merasa artis di dalam TV membicarakan
tentang dirinya. Pasien tidak pernah merasa seperti dikejar-kejar oleh orang
lain.
Sekitar 2 minggu sebelumnya, pasien sempat bertengkar dengan adik tiri
pasien (anaknya istri kedua ayahnya yang juga merupakan sepupu pasien), Ny.
A, yang tinggal di dekat rumah pasien. Pertengkaran terjadi karena Ny. A
tersebut melontarkan lelucon mengenai keadaan pasien yang merupakan anak
1

laki-laki satu-satunya dalam kakak-beradik, namun belum juga menikah.


Pasien merasa sebelumnya tidak dekat dengan Ny. A dan pasien merasa sangat
tersinggung.
Pasien sebelumnya rutin meminum obat sakit jiwa dari RS Duren Sawit,
namun sudah 1 minggu ini obatnya habis. Pasien mengaku mulutnya selalu
bergerak-gerak seperti mulut kelinci yang mengunyah-ngunyah makanan kirakira sejak pasien diberi obat suntik di RS Duren Sawit. Pasien diberikan obat
suntik atas permintaan keluarga pasien karena pasien hanya tinggal seorang
diri di rumah sehingga tidak ada yang dapat mengontrol pasien untuk
meminum obat.
2. Alloanamnesis dilakukan pada hari Rabu, 10 Januari 2016 dan Kamis, 11
Januari 2016 dengan Ny. E dan Ny. I, kakak kandung pasien pukul 11.00
WIB di Poli Psikiatri RSAL dr. Mintohardjo
Pasien datang diantar oleh kedua kakak kandungnya (Ny. E dan Ny. I) ke
Poli Psikiatri Jiwa RSAL dr. Mintohardjo dengan keluhan pasien gelisah dan
sering marah tanpa sebab yang jelas sejak 1 minggu SMRS. Ny. E dan Ny. I
biasanya tidak tinggal serumah dengan Tn. I, namun 1 bulan belakangan, Ny. I
sedang menginap di rumah Tn. I yang merupakan rumah peninggalan orang
tua. Pasien sudah mulai terlihat ada perubahan perilaku sejak pasien lulus
SMA, kurang lebih 30 tahun yang lalu.
Ny. I mengatakan, sehari-hari pasien menjadi tukang parkir di lingkungan
pertokoan dekat rumah dan membantu membersihkan masjid, namun 1
minggu belakangan pasien hanya di rumah dan terlihat seperti gelisah. Pasien
juga dikatakan suka marah-marah tidak jelas. Saat marah-marah, pasien hanya
mengoceh tidak jelas dan tidak dapat dimengerti oleh kakaknya. Pasien tidak
pernah terlihat akan melukai diri sendiri dan orang-orang sekitar. Pasien juga
tidak merusak barang-barang.
Ny. I mengaku pasien sering menuduh orang-orang sekitarnya sedang
membicarakan tentangnya. Pasien terlihat lebih suka menyendiri sehingga
hubungan pasien dengan orang sekitar sangat kurang. Pasien terlihat acuh
dengan diri sendiri dan sekitarnya. Pasien tidak pernah bercerita mengenai apa
yang dirasakan pasien, kecuali kemarin pasien mengatakan bahwa pasien tidak
bisa tidur sejak 1 minggu SMRS dan obat dari dokter sudah habis.
Ny. I juga membenarkan sekitar 2 minggu sebelumnya, pasien bertengkar
dengan Ny. A setelah Ny. A melontarkan lelucon tersebut. Menurut Ny. I,
2

kakak-beradik dari mendiang istri pertama, terutama Tn. I, memang tidak


terlalu sering berkomunikasi dengan keluarga Ny. A. Sejak kejadian tersebut,
Ny. I merasa perilaku Tn. I berubah.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Menurut keluarga pasien, pasien sudah menunjukkan perubahan perilaku
sejak pasien lulus SMA saat pasien berusia sekitar 18 tahun. Hal ini awalnya
terjadi sesaat setelah ibu kandung pasien meninggal. Perubahan perilaku ini di
antaranya pasien sering terlihat berbicara sendiri. Pasien mengakui pasien
sering melihat bayangan hitam yang berbicara dengannya, namun pasien tidak
dapat mengerti apa yang dibicarakan bayangan itu. Pasien juga sering
mendengar ada suara laki-laki yang mengatakan orang-orang tuh pada
ngomongin loe. Menurut keluarga pasien, hal ini yang biasanya
menyebabkan pasien terlihat marah-marah sendiri. Pasien jadi sering terlihat
kebingungan, pasien sering tidak merespon dengan baik saat diajak bicara dan
wajahnya tidak berekspresi sama sekali walaupun diajak bercanda. Pasien
tidak mau merawat diri seperti mandi dan ganti baju yang sudah kotor.
Melihat perubahan perilaku yang tidak wajar itu, kemudian pasien dibawa
ke pengobatan alternatif di Tangerang oleh keluarga karena keluarga saat itu
belum mengerti mengenai penyakit yang diderita pasien. Setelah beberapa
tahun berobat alternatif di Tangerang, pasien tetap tidak ada perbaikan.
Pada saat pasien berumur 20 tahun, ayah kandung pasien menikah dengan
adik kandung mendiang ibunya yang sudah memiliki anak terlebih dahulu dari
suami pertamanya. Setelah itu, pasien terlihat stres dan semakin menarik diri
dari sekitarnya. Pasien kembali bicara meracau. Pasien juga mengatakan
bahwa pasien melihat bayangan hitam dan mendengar lelaki berbicara
kepadanya lagi. Pasien juga kembali menuduh bahwa orang-orang di
sekitarnya membicarakan pasien. Pasien sulit tidur juga.
Saat pasien berumur 35 tahun, pasien pergi dibawa berobat ke psikiater di
Fatmawati setelah diberikan informasi oleh sanak saudara. Beberapa saat
setelahnya, pasien sempat mengalami gaduh gelisah sehingga perlu dirawat
inap selama seminggu di sana. Pasien mengalami hal tersebut sesaat setelah
perempuan yang diam-diam disukai pasien, Nn. P, memiliki pacar. Setelah
dirawat, mulut pasien sempat menjadi seperti saat ini, seperti kelinci yang
3

sedang mengunyah-ngunyah makanan. Setelah kontrol beberapa saat


kemudian, mulut pasien kembali normal.
Dua tahun kemudian, pasien kembali mengalami hal serupa yaitu pasien
gaduh gelisah dan berbicara sangat meracau. Hal ini membuat pasien kembali
dirawat inap di RS Fatmawati selama seminggu. Pada saat kambuh ini,
keluarga pasien tidak ada yang mengetahui apa kira-kira penyebabnya. Pasien
juga mengatakan sudah lupa mengapa pasien bisa kambuh.
Pada saat pasien berumur 40 tahun, pasien mengamuk-ngamuk kembali,
karena keluarga pasien merasa belum ada perbaikan yang berarti sehingga
pasien membawa pasien berobat ke RS Duren Sawit. Di RS Duren Sawit,
pasien awalnya diberikan 3 jenis obat, namun pasien dan keluarga tidak ingat
obat apa saja. Di RS Duren Sawit ini, pasien sudah menunjukkan perbaikan
yang berarti. Pasien sudah tidak pernah gelisah, tidak melihat bayangan hitam
dan mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa orang lain membicarakan
pasien. Pasien sudah dapat tidur nyenyak dan hidupnya menjadi lebih tenang.
Satu tahun yang lalu, pasien kembali mengamuk dan mengalami hal yang
serupa seperti sebelumnya. Hal ini terjadi saat pasien ikut acara arisan
keluarga. Saat itu pasien kembali merasa kesal karena halusinasi bayangan
hitam kembali mengatakan

padanya

bahwa semua orang di sana

membicarakan tentang dirinya. Setelah itu, pasien segera dibawa ke RS Duren


Sawit dan pasien kembali dirawat selama 1 minggu.
Sekitar 1 bulan sebelum ke RSAL dr. Mintohardjo, pasien diberi suntikan
Risperdal 1 kali atas permintaan keluarga pasien dengan alasan bahwa pasien
tidak dapat minum obat teratur dan tidak ada yang dapat mengawasinya
minum obat karena pasien hanya tinggal seorang diri. Selain disuntik, psikiater
juga menurunkan dosis obatnya sehingga yang diminum hanya 1 kali saat
malam hari sebelum tidur. Dokter meminta agar pasien kembali ke rumah sakit
1 bulan setelah suntikan pertama, untuk disuntik lagi.
Setelah disuntik dan adanya pergantian dosis obat, pasien tetap menjadi
lebih tenang, namun pasien merasa mulutnya selalu bergerak sendiri seperti
mulut kelinci yang sedang mengunyah-ngunyah makanan. Hal ini dahulu juga
pernah terjadi pada pasien setelah pasien meminum banyak obat dari dokter
dalam sekali minum. Pasien meminum banyak tablet karena pasien sempat
lupa untuk meminum obat selama 2 hari sehingga pasien langsung meminum
obat untuk 2 hari itu sekaligus.
4

Sejak pasien kumat saat pasien berumur 18 tahun sampai saat ini, pasien
terhitung sudah enam kali mengamuk. Kejadian ini hanya berlangsung setelah
pasien mengalami hal yang membuat pasien stress. Setelah diberikan
Risperidone, pasien akan kembali tenang.
Pasien mengatakan kepada keluarga bahwa obat pasien habis kurang lebih
sejak 1 minggu SMRS. Kemudian pasien dibawa oleh kedua kakaknya pergi
ke puskesmas untuk minta rujukan BPJS untuk berobat ke RS Duren Sawit,
namun menurut puskesmas, pasien hanya bisa dirujuk ke poli psikiatri RS TNI
AL dr. Mintohardjo.
2. Riwayat Gangguan Medis Umum
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, alergi,
penyakit jantung, serta kelainan saraf maupun otak sebelumnya.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien mengaku tidak pernah merokok, menggunakan zat psikoaktif dan
alkohol sebelumnya.
E. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Masa Prenatal dan Perinatal
Selama mengandung ibu pasien dalam keadaan sehat, persalinan dilakukan
secara normal, cukup bulan, tidak terdapat trauma lahir dan cacat bawaan.
Pasien merupakan anak ke-12 dari 13 bersaudara.
2. Masa Kanak awal (0-3 tahun)
Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan anak seusianya. Pasien
mendapat ASI, namun kakak pasien tidak ingat berapa lama. Pasien diasuh
oleh kedua orang tuanya dan mendapatkan kasih sayang yang cukup.
3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan anak seusianya. Pasien
bersekolah dan bergaul dengan teman seusianya. Prestasi sekolah pasien baik
dan tidak pernah tinggal kelas.
4. Masa Kanak Akhir dan Remaja
Pasien seorang anak yang baik dan penyayang keluarga. Pasien memang
terlihat cenderung pendiam, namun pasien terlihat memiliki beberapa teman
yang suka diajak bermain di rumah.
5. Masa Dewasa
a. Riwayat Pendidikan

Lama masa pendidikan formal pasien selama SD sampai dengan SMA


sesuai dengan seharusnya. Setelah lulus SMA, pasien tidak mau
melanjutkan ke perguruan tinggi.

b. Riwayat Pekerjaan
Pasien sejak lulus SMA bekerja sebagai tukang parkir di pertokoan Jalan
Harmoni dekat rumahnya. Setelah itu, pasien suka bantu-bantu
membersihkan masjid.
c. Riwayat Perkawinan
Pasien belum pernah menikah.
d. Riwayat Agama
Pasien beragama islam dan biasanya taat beribadah.
e. Aktivitas Sosial
Pasien merupakan seseorang yang pendiam sejak dahulu. Saat sekolah
punya beberapa teman dekat yang suka main ke rumah, namun sekarang
tidak mempunyai teman. Pasien juga tidak terlalu dekat dengan
keluarganya karena semua saudaranya sudah memiliki keluarga sendiri
dan tinggal di rumah yang berbeda dengan pasien. Saudaranya banyak
yang tinggal di daerah yang lebih jauh dari rumah pasien.
f. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien belum pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum.
g. Riwayat Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien tinggal sendirian di rumah bekas peninggalan orang tua. Pasien
sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir dan setelah itu bantu-bantu
membersihkan masjid.
h. Riwayat Keluarga

x
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Sudah meninggal
6

Pasien merupakan anak ke-12 dari 13 bersaudara. Menurut keterangan


pasien, dalam keluarga besar pasien tidak terdapat anggota keluarga yang
memiliki gejala yang sama dengan pasien atau pernah mengalami
gangguan jiwa lainnya.
i. Persepsi Keluarga tentang Pasien
Keluarga pasien merasa awal mula perubahan perilaku pasien terjadi
karena pasien merasa kehilangan ibunya dan karena pasien merupakan
sosok

yang

pendiam,

sehingga

pasien

tidak

dapat

meluapkan

kesedihannya. Keluhan pasien saat ini mungkin karena bertengkar dengan


Ny. A. Keluarga pasien berharap pasien dapat membaik sehingga dapat
mengurus hidupnya sendiri dengan baik untuk masa depan pasien.
III.

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Berdasarkan pemeriksaan pada tanggal 10 Februari 2016 pukul 11.00 WIB di
Poli Psikiatri RS TNI AL Dr. Mintohardjo.
1. Deskripsi Umum
a. Kesadaran
Kuantitatif
: Compos Mentis
Kualitatif
: Terganggu
b. Penampilan
Pasien seorang laki-laki berusia 48 tahun, wajah dan penampilan tampak
sesuai dengan usia. Mata coklat, kulit sawo matang, rambut cepak berantakan
berwarna hitam. Pasien memakai baju kaos berwarna merah sedikit lusuh dan
kotor serta celana berwarna coklat tua. Perawatan diri kurang. Tinggi dan berat
badan terlihat ideal.
c. Psikomotor
Selama wawancara, pasien terkadang memberikan jawaban yang tidak jelas
dan tidak sesuai dengan pertanyaan. Tidak ada aktivitas psikomotor yang
berlebihan atau menghambat, kecuali mulut pasien selalu bergerak seperti
mulut kelinci yang mengunyah makanan.
d. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kurang kooperatif terhadap pemeriksa. Tatapan mata pasien dengan
pemeriksa kurang adekuat.
2. Pembicaraan
Pasien berbicara cukup, menjawab saat diberi pertanyaan. Dari topik ke topik
lainnya hubungannya tidak erat (asosiasi longgar), kadang pembicaraan pasien
tidak dapat dimengerti (inkoheren).
3. Fungsi Intelektual (kognitif)
Taraf pendidikan formal
: SMA
7

Pengetahuan umum

presiden pertama sampai sekarang.


Taraf kecerdasan
: Pasien dapat menjawab pertanyaan matematika

dasar
Daya konsentrasi

Kurang

baik,

pasien

terkadang

terlihat

melamun dan tidak menjawab pertanyaan pemeriksa


Orientasi
:
- Waktu
: Baik, pasien mengetahui hari, bulan, dan tahun sekarang.
- Tempat
: Baik, pasien mengetahui bahwa saat wawancara ia berada di
-

: Pasien mengetahui presiden Indonesia dari

RS TNI AL Dr. Mintohardjo.


Orang
: Baik, pasien mengetahui dengan siapa dia berbicara di RS

TNI AL Dr. Mintohardjo.


Daya ingat
- Jangka panjang : Baik, pasien ingat tanggal lahir dan nama sekolah SD,
-

SMP, dan SMA-nya.


Jangka pendek
: Baik, pasien dapat mengingat sebelum wawancara

pasien makan apa.


Segera
: Baik, pasien dapat menyebutkan nama pemeriksa yang

baru saja diberitahukan kepada pasien.


4. Mood dan Afek
- Mood
: Euthym
- Afek
: Datar
- Keserasian
: Tidak serasi
- Taraf dapat di empati
: Tidak dapat dirabarasakan
5. Gangguan Persepsi
- Halusinasi
: Tidak terdapat halusinasi
- Ilusi
: Tidak terdapat ilusi
- Depersonalisasi : Tidak terdapat depersonalisasi
- Derealisasi
: Tidak terdapat derealisasi
6. Proses Berpikir
a. Arus pikir
- Produktivitas
: Inkoherensi, kuantitas cukup
- Kontinuitas
: Asosiasi longgar
- Hendaya berbahasa
: Tidak terdapat hendaya berbahasa
b. Isi pikir
- Preokupasi
: Tidak terdapat preokupasi
- Waham
: Waham (+)
o Waham referensial, pasien merasa dirinya dibicarakan orang lain
termasuk artis di TV
7. Pengendalian Impuls
Pasien dapat mengendalikan impuls saat wawancara
8. Daya nilai
- Daya nilai sosial : Baik, sikap pasien sopan saat wawancara

Uji daya nilai

: Baik, pasien bercerita kalau mengolok-olok orang lain

adalah perbuatan yang tidak baik.


Penilaian realita : Terganggu

9. Tilikan
Derajat 4, pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan tetapi tidak
memahami penyebab sakitnya.
10. Taraf dapat dipercaya
Pasien dapat dipercaya
IV.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


1. Status Internus
Keadaan Umum : Tenang
Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Gizi cukup
Tanda vital: Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Frekuensi nadi
: 88 x/menit
Frekuensi nafas
: 20 x/menit
Suhu
: 36,7C
Mata
: Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/THT
: Normotia, tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri tarik telinga,
tidak terdapat septum deviasi hidung, faring tidak hiperemis,
Mulut

tonsil T1-T1
: terdapat gerakan vertikal ritmik involunter pada mulut seperti
gerakan mulut kelinci mengunyah tanpa gerakan lidah (rabbit

Jantung
Paru
Abdomen

syndrome)
: SI-SII reguler, murmur (-), gallop (-)
: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/: Supel, tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri tekan lepas, bising

Ekstremitas

usus (+) normal


: Akral hangat, kekuatan otot 5, tidak terdapat oedem pada
ekstremitas

2. Status Neurologis
1) GCS : E4V5M6
2) Gejala rangsang selaput otak : Negatif
3) Tanda-tanda efek samping ekstrapiramidal
- Tremor tangan
: Negatif
- Akatisia
: Negatif
- Bradikinesia
: Negatif
- Cara berjalan
: Normal
- Keseimbangan
: Baik
- Rigiditas
: Negatif
4) Motorik
: Baik
5) Sensorik
: Baik
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
9

Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.


VI.
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
A. Karakterikstik Simtom
Pada pasien terdapat:
1. Waham referensial
Pasien merasa orang-orang sedang membicarakan dirinya, termasuk artis di
TV
2. Disorganized Speech
Saat wawancara, pasien menjawab pertanyaan, namun terkadang pembicaraan
pasien dari topik ke topik kurang erat hubungannya (asosiasi longgar) dan
terkadang tidak ada hubungannya (inkoherensi).
3. Gejala negatif
Afek pasien datar
B. Disfungsi Sosial dan Pekerjaan
Pasien lebih suka hidup menyendiri dan sehari-hari tidak memiliki teman. Akhirakhir ini pasien juga tidak lagi menjadi tukang parkir maupun bantu-bantu
membersihkan masjid.
C. Durasi lebih dari 6 bulan
D. Bukan merupakan gangguan skizoafektif dan mood
E. Bukan merupakan akibat langsung dari penggunaan zat tertentu ataupun oleh
suatu kondisi medis umum
F. Tidak ada riwayat gangguan perkembangan
VII.

DIAGNOSIS
Schizophrenia multiple episodes, currently in partial remission

VIII. DAFTAR MASALAH


a. Organobiologik
Terdapat rabbit syndrome yang ditunjukkan dengan adanya gerakan ritmik
vertikal involunter pada mulut pasien yang kemungkinan besar terjadi karena
efek samping obat antipsikotik.

b. Psikologik
Kesadaran kualitatif terganggu, kurang kooperatif dan tatapan mata pasien
terhadap pemeriksa kurang adekuat, asosiasi longgar, inkoherensi, afek datar,
waham referensial, daya nilai realita terganggu.
c. Lingkungan dan sosioekonomi
Adanya isolasi sosial.
IX.
X.

PROGNOSIS
Dubia ad bonam
PENATALAKSANAAN
10

a. PSIKOFARMAKA
- Risperidone 2 x 2 mg
- Trihexyphenidyl 2 x 2 mg
b. PSIKOTERAPI
1. Membina raport dengan pasien sehingga pasien merasa nyaman dan aman
untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan serta riwayat penyakitnya
2. Memberikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya serta edukasi
untuk minum obat secara teratur dan rutin kontrol ke poli psikiatri agar dapat
dilihat perkembangan penyakitnya oleh psikiater
3. Memberikan informasi kepada keluarga mengenai kondisi dan penyakit

pasien, pentingnya konsumsi obat sesuai instruksi dokter dan kontrol teratur
ke poli psikiatri, serta menjelaskan pentingnya dukungan keluarga untuk
proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan penyakit pasien
XI.

SARAN
a. Edukasi pasien untuk kontrol ke poli psikiatri secara teratur dan rutin minum obat
b. Keluarga hendaknya memberi dukungan dan perhatian lebih kepada pasien,
terutama dalam pengawasan minum obat
c. Jika dirasa pasien akan membahayakan dirinya atau orang lain maka segera bawa
ke rumah sakit

11