You are on page 1of 49

BAB IV

METODE ARTIFICIAL LIFT

4.1. DASAR TEORI


Artificial lift adalah metode pengangkatan fluida sumur dengan cara
mengintroduksi tenaga tambahan ke dalam sumur (bukan ke dalam reservoir)
dimana metoda ini diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu
lagi mendorong fluida ke permukaan atau untuk maksud maksud peningkatan
produksi. Introduksi tenaga tambahan yang ada terdiri dari:
1. Pompa terdiri dari :
a.
Pompa sucker rod
b.
Pompa sentrifugal multistage
c.
Pompa hydraulic
d.
Pompa jet
2.
Gas lift, terdiri dari :
a. Continous gas-lift
b. Intermittent gas-lift
3.
Chamber lift
4.1.1.
Unit Pompa Sucker-rod
4.1.1.1.

Peralatan Pompa Sucker-Rod


Peralatan pompa sucker-rod terdiri dari mesin penggerak mula, peralatan

di atas dan di bawah permukaan.


A. Mesin Penggerak Mula (Prime mover)
Penggerak mula merupakan sumber utama seluruh peralatan pompa
sucker rod di mana bahan bakarnya dapat berupa gas alam yang berasal dari
sumur sucker-rod digunakan, solar atau listrik tergantung pada jenis mesin yang
digunakan.
Peralatan Pompa di atas Permukaan
Fungsi utama dari peralatan peralatan ini adalah:
a.

Memindahkan energi atau tenaga dari prime mover ke unit

peralatan pompa di dalam sumur.


b.
Mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi satu gerak
bolak balik naik turun.

c.

Mengubah kecepatan putar prime mover menjadi suatau langkah

pemompaan (stroke per menit, SPM) yang sesuai atau yang diinginkan.
Di dalam industri migas, dikenal ada tiga macam pompa sucker-rod yaitu:
1.
Konvensional (C).
2.
Air Balance (B).
3.
Mark II (M).
dan klasifikasi oleh API RP 11 L adalah sebagai berikut:
X XXX.X XXX XX
1
2
3 4
5
1. Jenis alat permukaan
C = Konvensional
M = Mark II
A = Air Balance
2. Peak Torque Rating, ribuan in-lb
3. Gear reducer D = double
S = single
4. Polished rod rating, ribuan lb
5. Panjang langkah maximum, inchi
Misal: C 1600 173 64
Komponen komponen utama sucker rod dan fungsinya adalah sebagai berikut:
1.
Gear Reducer
Merupakan transmisi yang berfungsi untuk mengubah kecepatan putar dari
prime mover, gerak putaran prime mover diteruskan ke gear reducer dengan
menggunakan belt. Di mana belt ini dipasang engine pada prime mover dan
unit sheave pada gear reducer.
V-Belt
Sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear reducer.
3.
Crank Shaft
Merupakan poros dari crank yang berfungsi untuk mengikat crank pada gear
2.

4.

reducer dan meneruskan gerak.


Counter Balance
Adalah sepasang pemberat yang fungsinya:

untuk mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi gerak naik

turun.
menyimpan tenaga prime mover pada saat down stroke atau pada saat
counter balance menuju ke atas, yaitu pada saat kebutuhan tenaga kecil

atau minimum.
membantu prime mover pada saat up-stroke (saat counter balance
bergerak ke bawah) sebesar tenaga potensialnya karena kerja prime mover
yang terbesar adalah pada saat up-stroke (pompa bergerak ke atas) di mana
sejumlah minyak ikut terangkat ke atas permukaan.

5.

Crank
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan crank shaft pada gear
reducer dengan counter balance. Pada crank ini terdapat lubang lubang
tempat pitman bearing. Besar kecilnya langkah atau stroke pemompaan yang
diinginkan dapat diatur di sini dengan cara mengubah ubah pitman bearing,
apabila kedudukan pitman bearing ke posisi lubang mendekati counter
balance, maka langkah pemompaan menjadi bertambah besar atau sebaliknya
apabila menjauhi jarak antara crank shaft sampai dengan pitman bearing
dengan sebagai Polished stroke length yang fungsinya meneruskan gerak

6.

berputar dari crank shaft pada gear reducer ke walking bean melalui pitman.
Pitman
Adalah sepasang tangkai yang menghubungkan antara crank pada pitman
bearing. Fungsinya adalah merubah dan meneruskan gerak berputar menjadi

7.

bolak balik naik turun.


Walking beam
Merupakan tangkai horizontal di belakang horse head. Fungsinya merupakan
gerak naik turun yang dihasilkan oleh pasangan pitman-crank-counter

8.

balance ke rangkaian pompa di dalam sumur melalui rangkaian rod.


Horse head
Menurunkan gerak dari walking beam ke unit pompa di dalam sumur melalui
bridle, polish rod dan sucker string atau merupakan kepala dari walking beam

yang menyerupai kepala kuda.


9.
Bridle
Merupakan nama lain dari wire line hanger, yaitu merupakan sepasang kabel
baja yang disatukan pada carrier bar.
10. Carrier bar
Merupakan alat yang berfungsi sebagai tampat bergantungnya rangkaian rod
dan polished rod.
11. Polished rod Clamp
Komponen yang bertumpu pada carrier bar yang fungsinya untuk
mengeraskan kaitan polish rod pada carrier bar dan tempat di mana dinamo
meter (alat pencatat unit berapa pompa) diletakkan.
12. Polished rod
Polished rod merupakan bagian teratas dari rangkaian rod yang muncul
dipermukaan. Fungsinya adalah menghubungkan antara rangkaian rod di
dalam sumur dengan perlatan-peralatan di permukaan.

13. Stuffing box


Dipasang di atas kepala sumur (casing atau tubing head) untuk
mencegah/menahan minyak agar supaya tidak keluar bersama naik turunnya
polish rod. Dengan demikian seluruh aliran minyak hasil pemompaan akan
mengalir ke flowline lewat crosstee. Disamping itu juga berfungsi sebagai
tempat kedudukan polish head rod sehingga dengan demikian polish rod dapat
bergerak naik turun dengan bebas.
14. Sampson Post
Merupakan kaki penyangga atau penopang walking beam.
15. Saddle Bearing
Adalah tempat kedudukan dari walking beam pada sampson post pada bagian
atas.
16. Equalizer
Adalah bagian atau dari pitman yang dapat bergerak secara leluasa menurut
kebutuhan operasi pemompaan minyak berlangsung.
17. Brake
Brake di sini berfungsi untuk mengerem gerak pompa jika dibutuhkan,
misalnya pada saat akan dilakukan reparasi sumur atau unit pompanya
sendiri.
C. Peralatan Pompa di dalam sumur
Fungsi peralatan pompa sucker rod di dalam sumur adalah untuk membantu
menaikan fluida sumur ke permukaan melalui tubing. Unit pompa sucker rod di
dalam sumur terdiri dari:
1.

Tubing
Seperti halnya peralatan sembur alam, tubing digunakan untuk mengalirkan
minyak dari dasar sumur ke permukaan setelah minyak diangkat oleh pompa

2.

yang di tempatkan pada ujung tubing.


Working barrel
Merupakan tempat di mana plunger dapat bergerak naik turun sesuai dengan
langkah pemompaan dan menampung minyak sebelum diangkat oleh plunger
pada saat up stroke.
Menurut standart API ada 2 (dua) jenis barrel, yaitu:
a. Liner barrel, biasanya jenis diberi simbol L.
b. Full barrel, yang terdiri dari satu bagian yang utuh dan kuat, biasanya jenis

3.

ini diberi simbol H untuk heavy-wall dan W untuk thin-wall.


Plunger

Merupakan bagian dari pompa yang terdapat di dalam barrel dan dapat
bergerak naik turun yang berfungsi sebagai pengisap minyak dari formasi
4.

masuk ke dalam barrel yang kemudian diangkat ke permukaan melalui tubing.


Standing valve
Merupakan katup yang terdapat di bagian bawah working barrel yang
berfungsi memberi kesempatan minyak dari dalam sumur masuk ke working
barrel (pada saat up-stroke valve terbuka) dan untuk menahan minyak agar
tidak keluar dari working barrel pada saat plunger bergerak ke bawah (pada
saat down stroke valve tertutup). Standing valve ini mempunyai peranan yang
penting dalam sistem pemompaan, karena effisiensi volumetris pompa sangat

5.

tergantung pada cara kerja dan bentuk dari ball dan seat standing-valve.
Travelling valve
Merupakan ball dan seat yang terletak pada bagian bawah dari plunger dan
akan ikut bergerak ke atas dan ke bawah menurut gerakan plunger.
Fungsinya:
a.
Mengalirkan atau memindahkan minyak dari working masuk ke
plunger, hal ini terjadi pada saat plunger bergerak ke bawah.
b.
Menahan minyak pada saat plunger bergerak ke atas (up-stroke)
sehingga minyak tersebut dapat (dipindahkan) ke tubing untuk selanjutnya

6.

dialirkan ke permukaan.
Anchor
Komponen di pasang pada bagian bawah dari pompa, yang berfungsi:
a.
Untuk memisahkan gas dari minyak agar supaya gas
tersebut tidak ikut masuk ke dalam pompa bersama-sama dengan minyak,
b.

karena adanya gas akan mengurangi efisiensi pompa.


Untuk menghindarkan masuknya pasir atau padatan ke
dalam pompa.

c.
Mengurangi/menghindari terjadinya tubing stretch.
Ada dua macam tipe Gas Anchor:
Poorman type
Larutan dalam minyak yang masuk ke dalam anchor akan melepaskan diri
dari larutan (bouyancy effect). Minyak akan masuk ke dalam barrel
melalui section pipe, sedangkan gas yang telah terpisah akan dialirkan ke
annulus. Apabila section pipe terlalu panjang atau diameternya terlalu
panjang atau diameternya terlalu kecil, maka akan terjadi pressure lost
yang cukup besar sehingga menyebabkan terjadinya penurunan PI sumur

pompa. Sedangkan apabila section pipe terlalu pendek, maka proses


pemisahan gas kurang sempurna. Diameter section pipe terlalu besar
menyebabkan ruang annulus antara dinding anchor dengan section pipe
menjadi lebih kecil, sehingga kecepatan aliran minyak besar dan akibatnya
gas akan masih terbawa oleh butiran butiran minyak. Diameter gas

anchor yang terlalu besar akan menyebabkan penurunan PI sumur pompa.


Packer type
Minyak masuk melalui ruang dinding anchor dan section pipe. Kemudian
minyak jatuh di dalam annulus antara casing dan gas anchor dan ditahan
oleh packer, selanjutnya minyak masuk ke dalam pompa melalui section

pipe. Di sini minyak masuk ke dalam annulus sudah terpisah dari gasnya.
7.
Tangkai pompa
Tangkai pompa (sucker rod string) terdiri dari:
a. Sucker rod
Merupakan batang/rod penghubung antara plunger dengan peralatan di
permukaan. Fungsi utamanya adalah melanjutkan gerak naik turun dari
horse head ke plunger. Berdasarkan konstruksinya, maka sucker rod
dibagi menjadi 2 (dua):
-

berujung box pin


berujung pin pin
Untuk menghubungkan antara dua buah sucker rod digunakan sucker rod
coupling. Umumnya panjang satu single dari sucker rod yang sering
digunakan berkisar antara 25-30 ft.
Dalam perencanaan sucker rod selalu diusahakan atau yang dipilih yang
ringan, artinya memenuhi kriteria ekonomis, tetapi dengan syarat tanpa
mengabaikan kelebihan (allowable stress) pada sucker rod tersebut.
Sucker rod yang dipilih dari permukaan, sampai unit pompa di dasar
sumur

(plunger)

tidak

perlu

sama

diameternya,

tetapi

dapat

dilakukan/dibuat kombinasi dari beberapa tipe dan ukuran rod. Sucker


string yang merupakan kombinasi dari beberapa tipe dan ukuran tersebut.
Disebut Tappered Rod String.
b. Poni rod

Merupakan rod yang mempunyai panjang yang lebih pendek dari panjang
rod umumnya (25 ft). Fungsinya adalah untuk melengkapi panjang dari
sucker rod, apabila tidak mencapai kepanjangan yang dibutuhkan
ukurannya adalah: 2, 4, 6, 8, 12 feet.
c. Polished rod
Adalah tangkai rod yang berada di luar sumur yang mengubungkan sucker
rod string dengan carier bar dan dapat naik turun di dalam stuffing box.
Diameter stuffing box lebih besar daripada diameter sucker rod, yaitu: 1
1/8, 1 , 1 , 1 . Panjang polished rod adalah: 8, 11, 16, 22 feet.
4.1.1.2.

Prinsip Kerja Pompa Sucker Rod


Gerak rotasi dari prime mover diubah menjadi gerak naik turun oleh

sistem pitman-crank assembly, kemudian gerak naik turun ini oleh horse head,
dijadikan gerak lurus naik turun (angguk) untuk menggerakan plunger melalui
rangkaian rod. Pada saat up stroke plunger bergerak ke atas menyebabkan tekanan
di bawah turun. Karena tekanan dasar sumur lebih besar dari tekanan dalam
pompa, akibatnya standing valve terbuka dan minyak masuk ke dalam barrel.
Pada saat down stroke beban fluida yang ada di dalam barrel dan tekanan yang
diakibatkan oleh naiknya plunger, maka standing valve menutup sedangkan
travelling valve pada plunger terbuka akibat tekanan minyak yang tidak di dalam
barrel, selanjutnya pada saat up stroke maksimum minyak akan dipindahkan ke
dalam tubing. Proses ini dikakukan secara berulang ulang, sehingga minyak
dapat mengalir ke permukaan.
4.1.1.3. Tipe Unit Pompa di Dalam Sumur (Sub Surface Pump)
Unit pompa di dalam sumur dapat dibedakan atas beberapa tipe, antara
lain:
A.

Tipe Rod Pump/Insert Pump (R-TYPE)


Unit pompa keseluruhan (working barrel, standing valve, plunger,

travelling valve) dimasukan ke dalam sumur bersama sama dengan rod lewat
dalam tubing. Untuk keperluan reparasi dan penggantian pompa cukup dicabut
sucker rod-nya saja, dengan demikian seluruh unit pompa akan ikut terangkat ke
atas. Tipe pompa demikian ini sering digunakan pada sumur-sumur yang dalam.
Tipe ini dibagi atas 3 (tiga) golongan:

Stationary barrel, Top anchor, misalnya RWA.

Stationary barrel, Bottom anchor, misalnya RWB.

Travelling barrel, Bottom anchor, misalnya RWT.


Tubing Pump (T-TYPE)
Pompa semacam ini dimasukan ke dalam sumur bersama sama dengan

B.

tubing, sedangkan plunger dan travelling valve diikatkan pada ujung bawah dari
sucker rod dan di turunkan sampai standing valve. Apabila pompa hendak dicabut
baik sucker rod maupun tubing harus pula dicabut bersama sama. Tipe ini sering
digunakan pada sumur sumur dangkal dan produktifitasnya kecil. Untuk suatu
tubing dengan ukuran tertentu, volume rod pump lebih kecil daripada tubing
pump. Karena diameter working barrel pada rod pump lebih kecil daripada
diameter dalam tubing, panjang pompa berkisar antara 4 22 feet.
Tipe tubing pump ada 2 (dua) jenis, yaitu:

Tubing pump dengan regular shoes.


Tubing pump dengan extenstion shoes dan nipple pada bagian bawah
pompa.
Catatan:
Kode-kode huruf yang terdapat pada jenis pompa sucker rod:
T : di depan menyatakan Type Tubing Pump
R : di depan menyatakan Type Rod Pump
W : di tengah menyatakan Full barrel
L : di tengah menyatakan Linear barrel
E : di belakang menyatakan Extention Shoe nipple
A : menyatakan Stationary-barrel dimana bagian atas yang disambung
B

pada tubing.
: menyatakan Stationary-barrel dengan bagian atas dan bawah

disambung dengan tubing.


T : di belakang menyatakan travelling barrel.
4.1.2. Instalasi Gas Lift
Yang dimaksud disini adalah semua peralatan lift baik yang berada di
dalam sumur maupun yang berada di permukaan, juga termasuk komplesi yang
digunakan dalam sistem gas lift tersebut.
4.1.2.1. Jenis- Jenis Komplesi Gas Lift
1.
Komplesi terbuka
Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan
di dalam sumur tanpa memakai packer maupun standing valve. Jenis komplesi
yang demikian dianjurkan untuk sistem continuous gas lift. Jenis komplesi
terbuka ini jarang digunakan, tetapi untuk injeksi gas dari bagian tubing dan

keluar dari annulus akan lebih ekonomis, atau pada sumur yang mempunyai
2.

problem kepasiran.
Komplesi Setengah Tertutup
Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan
di dalam sumur, menggunakan packer antara tubing dan casing serta tidak
menggunakan standing valve. Jadi, disini pengaruh injeksi gas terhadap
formasi produktif dicegah oleh adanya packer. Komplesi semacam ini cocok

untuk continuous maupun intermittent gas lift.


3.
Komplesi Tertutup
Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan
di dalam sumur, menggunakan packer dan juga standing valve ditempatkan di
bawah valve gas lift terbawah atau ujung tubing string. Dalam hal ini injeksi
gas sama sekali tidak terpengaruh terhadap formasi, karena dihalangi oleh
packer dan standing valve. Komplesi ini biasanya digunakan pada sumursumur dengan tekanan dasar sumur rendah, dan productivity index rendah.
4.
Komplesi Ganda
Komplesi ganda ini digunakan pada sumur sumur yang mana terdapat
dua formasi produktif atau lebih, diproduksikan melalui dua tebing yang
terpisah dalam satu sumur. Masing masing formasi produktif tersebut
dipisahkan dengan menggunakan packer. Sedangkan susunan tubing tersebut
bisa paralel atau sesuai (konsentris). Sistem ini mempunyai keuntungan lebih
menghemat gas injeksinya bila production casing cukup besar, sehingga
memungkinkan untuk ditempati oleh dua tubing secara bersejajaran. Model
sepusat ini digunakan bila diameter casingnya kecil atau tidak memungkinkan
5.

untuk ditempati oleh dua tubing yang diletakkan secara sejajar.


Komplesi Ruang (Accumulation Chamber Lift Instalation)
Sistem ini mirip dengan sistem komplesi tertutup, hanya bedanya di sini
menggunakan

ruang

akumulasi.

Ruang

akumulasi

berfungsi

untuk

memperkecil tekanan kolom minyak yang berada di dalam tubing. Tekanan


kolom minyak menjadi kecil, karena akibat rendahnya kolom cairan yang ada
di dalam ruang akumulasi, karena adanya packer di dalam tubing. Disamping
ruang akumulasi yang berfungsi untuk memperbesar rate produksi minyak
yang dihasilkan. Tipe komplesi ini digunakan pada sumur-sumur dengan
tekanan dasr sumur rendah serta productivity index yang rendah pula.

6.

Pack off Instalation


Pada jenis ini, tidak perlu dilakukan penggantian tubing apabila ingin
dilakukan pemasangan valve-valve gas lift pada sumur-sumur yang
bersangkutan. Hal ini disebabkan, pada kedalaman casing tertentu telah di
pasang pack off, di mana berfungsi sebagai penghubung annulus dengan fluida
di dalam tubing melalui lubang kecil yang dapat dibuka dan ditutup. Hal ini
dapat dilakukan karena terdapat alat yang disebut slidding side door. Jadi pada
jenis alat ini, bila suatu saat memerlukan gas lift agar dapat meneruskan
produksinya tidak perlu dilakukan penggantian tubing. Dengan menggunakan
metode wire line, slidding side door dapat dibuka dan valve gas lift langsung
digunakan.

4.1.2.2. Peralatan Gas Lift


Peralatan gas lift untuk menunjang operasinya sistem pengangkatan
minyak dengan menggunakan metode injeksi gas ke dalam sumur dapat dibagi
dalam dua kelompok yaitu :
A. Peralatan di Atas Permukaan (Surface Equipment)
1.
Well head Gas Lift X-Mastree
Well head sebetulnya bukan merupakan alat khusus untuk gas lift saja,
tetapi juga merupakan salah satu alat yang digunakan pada metode sembur
alam,

dimana

dalam

periode

masa

produksi,

alat

ini

berfungsi

menggantungkan tubing dan casing disamping itu well head merupakan


2.

tempat duduknya X-mastree.


Station Kompresor Gas
Kompresor gas yaitu suatu alat yang berfungsi untuk mendapatkan gas
bertekanan tinggi untuk keperluan injeksi. Di dalam stasiun kompresor,
terdapat beberapa buah kompresor dengan sistem manifoldnya. Dari stasiun
kompresor ini dikirimkan gas bertekanan sesuai dengan tekanan yang

diperlukan sumur sumur gas lift melalui stasiun distribusi.


3.
Stasiun Distribusi
Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompresor ke sumur terdapat
beberapa cara, antara lain:
a. Stasiun distribusi langsung
Pada sistem ini gas dari kompresor disalurkan langsung ke sumur-sumur
produksi, sehingga untuk beberapa sumur mana membutuhkan gasnya
tidak sama, sistem ini kurang efisien.

b.

Stasiun distribusi dengan pipa induk


Pada sistem ini lebih ekonomis, karena panjang pipa dapat diperkecil.
Tetapi karena ada hubungan langsung antara satu sumur dengan sumur
lainnya, maka bila salah satu sumur sedang dilakukan penginjeksian gas

c.

sumur lain bisa terpengaruh.


Stasiun distribusi dengan stasiun distribusi
Pada sistem ini sangat rasional dan banyak dipakai di mana-mana, gas
dibawa dari Stasiun pusat ke stasiun distribusi dari sini gas dikirim melalui
pipa-pipa.
Alat-alat kontrol
Alat alat kontrol yang dimaksudkan di sini adalah semua peralatan

4.

yang berfungsi untuk mengontrol atau mengatur gas injeksi, seperti:


a.
Choke kontrol
Adalah alat yang mengatur jumlah gas yang diinjeksikan, sehingga dalam
waktu yang telah ditentukan tersebut dapat mencapai tekanan tertentu
seperti yang diinginkan untuk penutupan dan pembukaan valve. Khusus
untuk intermittent gas lift.
b.

Regulator
Adalah alat yang melengkapi choke kontrol berfungsi jumlah/banyaknya
gas yang masuk. Apabila gas injeksi telah cukup regulator ini akan

menutup. Khusus untuk intermittent gas lift.


c.
Time Cycle Controller
Adalah merupakan alat yang digunakan untuk mengontrol laju/rate aliran
injeksi pada aliran intermittent berdasarkan interval waktu tertentu/dengan
kata lain, kerjanya berdasarkan prinsip kerja jam. Maka alat ini akan
membuka regulator selama waktu yang telah ditentukan untuk
mengalirkan gas injeksi, setelah selama waktu tertentu regulator menutup
dalam selang waktu yang telah ditentukan.
B. Peralatan di Bawah Permukaan (Sub Surface Equipment)
1. Accumulation Chamber
Accumulation chamber merupakan ruang/chamber terbuat dari tubing yang
berdiameter lebih besar dari tubing di bawahnya terdapat katup/valve tetap
untuk menahan cairan supaya jangan sampai keluar dari kamar akumulasi
pada saat dilakukan injeksi. Fungsinya adalah memperkecil tekanan kolom
minyak yang berada di atas tubing.

2. Pinhole Collar
Pinhole Collar adalah suatu collar khusus yang mempunyai lubang kecil
tempat gas injeksi masuk ke dalam tubing. Letaknya di dalam sumur
ditentukan lebih dahulu. Pada umumnya penggunaan collar semacam ini tidak
effesien, karena sumur tidak memproduksi secara optimum ratenya.
3. Valve gas Lift
Secara penggunaan valve gas lift berfungsi untuk:
a. Memproduksi minyak dengan murah dan mudah tanpa memerlukan injeksi
gas yang tekanannya sangat besar.
b. Mengurangi unloading (kick off) atau tambahan portable compressor.
c. Kemantapan (stability) mampu mengimbangi secara otomatis terhadap
perubahan perubahan tekanan yang terjadi pada sistem injeksi gas.
d. Mendapatkan kedalaman injeksi yang lebih besar untuk suatu kompresor
dengan tekanan tertentu.
e. Menghindari swabbing untuk high fluid well atau yang diliputi air.
Secara berturut turut perkembangan valve dapat diikuti seperti berikut:
1. Spring loaded differential valve:
Jenis ini paling banyak digunakan pada masa masa yang lalu
bekerja berdasarkan kondisi reservoir.
Secara normal bila tidak ada gaya gaya maka valve tersebut akan
membuka. Spring loaded pressure dapat diatur dengan Adjust Table Nut
agar spring pressure ini dapat berkisar 100 150 psi. Pada saat valve
terbuka, maka dua gaya yang bekerja pada tangkai valve:
a. Melalui port dibagian valve, sehingga tekanan injeksi gas
sepenuhnya pada kedalaman di manan valve dipasang, akan
bekerja seluruh permukaan atau dari steam, dan menekan melawan
tekanan dari spring (berusaha untuk menutup).
b. Melalui choke pada dinding sampai valve tersebut.
2. Mechanically Controlled Differential Valve
Membuka dan menutupnya valve dilakukan dengan kawat dari
permukaan. Jenis ini sudah jarang di pakai pada waktu sekarang, karena
akan terjadinya banyak kesulitan, kawat mudah putus, korosi effesiensi
rendah, prinsip pemikiran kurang populer, saat pemasangan lama, juga
sangat sukar operasinya pada saat unloading. Valve jenis ini untuk
3.

intermittent flow.
Specific Gravity Differential Valve

Jenis ini biasa dipergunakan untuk continuous flow, dengan


menggunakan diafragma karet. Membuka dan menutupnya valve
berdasarkan gradien tekanan di tubing, bila gradien tekanan di tubing naik,
maka valve akan membuka, bila gradien tekanan turun dengan adanya gas
injeksi, maka valve akan menutup.
4. Pressure Charge Bellow Valve
Jenis ini paling umum digunakan dewasa ini, karena mempunyai
-

sifat sifat khusus, yaitu:


mudah dikontrol kerjanya, karena otomatis
operating pressure konstan
dapat digunakan baik intermittent maupun continuous
Secara normal valve ini akan menutup, karena adanya pressure
charge bellow. Sedangkan valve ini akan bekerja karena adanya tekanan

injeksi gas.
5. Flexible Sleave Valve
Yang aliran gas masuk ke dalam tubing adalah karet yang mudah
lentur (flexible). Sedangkan valve ini mempunyai dome (ruang) berisi gas
kering dengan tekanan tertentu. Tekanan buka valve sama dengan tekanan
tutupnya dan juga sama dengan tekanan gas dalam dome. Valve dapat
digunakan untuk aliran intermittent maupun continuous dengan injeksi gas
diatur dari permukaan.
4.1.3. Electric Submersible Pump
Electric Submersible Pump adalah pompa bertingkat banyak yang
porosnya dihubungkan langsung dengan motor penggerak. Motor penggerak ini
menggunakan tenaga listrik yang dialirkan dari permukaan dengan kabel dan
sumbernya dari power plant lapangan.
4.1.3.1.

Peralatan di Atas Permukaan


Unit peralatan centrifugal atau Electric Submersible Centrifugal Pump

terdiri dari beberapa komponen utama:


1. Switch Board
Alat ini berfungsi sebagai kontrol dipermukaan guna melindungi peralatanperalatan bawah permukaan. Alat ini merupakan gabungan dari starter,
Upperload dan underload Protection dan Recorder Instrument (alat pencatat)
yang bekerja secara otomatis jika terjadi penyimpangan.
2. Junction Box

Junction box adalah tempat (kotak) yang terletak di antara swicth board dan
well head. Fungsinya untuk menghubungkan kabel swicth board dengan kabel
dari well head.
3. Transformer
Alat ini digunakan untuk mengubah tegangan (voltage) sumber arus
(generator) menjadi tegangan yang sesuai dengan operating voltage motor di
bawah permukaan.
4. Tubing Head
Tubing head pada pompa centrifugal agak berbeda dengan tubing head
biasanya perbedaanya terutama terletak adanya kabel yang melalui tubing
head.
5. Drum
Dipakai sebagai tempat menggulung kabel apabila pompa sedang dicabut.
4.1.3.2.

Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan di bawah permukaan dari pompa centrifugal terdiri dari motor

listrik sebagai unit penggerak protector, gas separator, pompa centrifugal


multistage dan kabel listrik.
Dalam kondisi kerja, unit bawah permukaan ditenggelamkan dalam
fluida dengan disambung tubing yang kemudian digantungkan pada well head
serta dilengkapi pula dengan peralatan peralatan sebagai pelengkap antara lain:
transformer, checkvalve, bleeder valve, klem kabel serta peralatan peralatan
service pada saat pemasangan pompa centrifugal, reel of cable, shock absorber.
1.
Motor Listrik
Motor listrik penggerak pompa adalah 3 phase, motor listrik ini dimasukkan
ke dalam rumah motor yang diisi dengan minyak motor untuk pendingin dan
2.

merupakan isolasi motor terhadap fluida sumur.


Protector
Protector ini dipasang di bawah pompa, fungsinya antara lain:
menyimpan minyak motor dan minyak pompa
mengijinkan terhadap pengembangan pengurutan minyak motor
-

3.

dan minyak pelumas motor


mencegah fluida sumur ke dalam motor atau ke rumah motor
untuk keseimbangan tekanan dalam motor dengan tekanan luar
yaitu tekanan fluida sumur pada kedalaman penenggelaman.
Pompa
Jenis pompanya merupakan pompa multistage dengan masing stage terdiri
dari satu impeller dan satu diffuser yang dimasukan dalam rumah, pada

impeller terdapat sudu sudu atau blades yang akan mengalirkan fluida
produksi.
4.

Gas Separator
Untuk sumur yang gas oil ratio (GOR) tinggi, gas separator dapat
disambungkan pada pompa guna memperbaiki efisiensi pompa. Gas separator
ini sekaligus berfungsi sebagai intake pompa (tempat masuknya fluida
kedalam pompa) dan karena perbedaan densitas gas dan minyak maka gas

akan terpisah dari minyak.


5.
Kabel
Tenaga listrik dari permukaan dialirkan ke motor melalui kabel, yang terdiri
dari tiga kabel tembaga yang di isolasi satu sama lain. Kabel diklem dengan
6.

tubing pada interval jarak tertentu sampai ke tubing head.


Check Valve
Letaknya satu joint di atas pompa, berfungsi sebagai:
- bila pompa berhenti bekerja (shut down), menahan fluida agar tidak
keluar dari tubing (turun ke pompa lagi) dan menahan partikel partikel

pada agar tidak mengendap dalam pompa.


- Menjaga tubing tetap penuh dengan fluida pada saat pompa berhenti.
7.
Bleeder Valve
Di pasang satu joint tubing di atas check valve berfungsi untuk mengijinkan
aliran fluida keluar pada waktu dilaksanakan pencabutan pompa centrifugal.
4.1.3.3.

Prinsip Kerja Electric Submersible Pump


Prinsip kerjanya adalah berdasarkan pada prinsip kerja pompa

centrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa centrifugal adalah motor
hidraulis yang menghasilkan tenaga hidraulis dengan jalan memutar cairan yang
melalui impeller pompa. Cairan masuk ke dalam impeller pompa menuruti poros
pompa dikumpulkan dalam rumah pompa atau diffuser kemudian dikeluarkan
keluar oleh impeller, tenaga mekanis motor diubah menjadi tenaga hidraulis.
Impeller terdiri dari dua piringan yang di dalamnya terdapat sudu, pada saat
impeller berputar dengan kecepatan sudut W, cairan dalam impeller dialirkan
keluar dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu, cairan yang tertampung dalam
rumah pompa kemudian dialirkan melalui pipa keluar (diffuser), dimana sebagian
tenaga kinetik diubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan, karena cairan
dialirkan keluar, maka terjadi proses pengisapan.
4.1.4. Progressive Cavity Pump (PCP)

Pompa ini memiliki 2 elemen utama yaitu rotor dan stator. Rotor sebagai
penggerak PCP, berbentuk batang spiral yang terbuat dari alloy steel atau stainless
steel yang dibalut dengan chrome. Ada juga yang terbuat dari chrome seara
keseluruhan. Biasanya memiliki panjang 1.5 14 meter dengan diameter 1
inch. Sedangkan stator sebagai seal rotor (wadahnya) yang berbentuk spiral,
terbuat dari steel tube diluarnya dan elastomer berbahan nitrile rubber atau viton
rubber didalamnya (merupakan co-polymer acrylonitrile dan butadine). Stator
dengan desain khusus memiliki elastomer yang terbuat dari teflon. Biasanya
memiliki panjang yang kurang lebih sama dengan rotor yaitu sekitar 1.5-14 meter
namun dengan ukuran diameter yang lebih besar antara 2.5-4.5 inch.
Desain PCP terdiri dari single external helical gear (rotor) yang berputar secara
eksentrik didalam double internal helical gear (stator). Keduanya sama-sama
memiliki minor dan major diameter.
4.1.4.1.

Prinsip Kerja Progressive Cavity Pump (PCP)


Progressive Cavity Pump bekerja dengan mengandalkan 2 elemen utama,

yaitu rotor dan stator. Adapun motor drive sebagai prime mover (penggerak)
berada di permukaan yang menggerakkan rotor di lubang sumur. Pompa (rotor
dan stator) berada dibawah lubang perforasi untuk memastikan bahwa pompa
berada dibawah fluid level untuk mengantisipasi loss flow yang terjadi. Fluida
mengalir kedalam stator dan terus mengair melalui tubing hingga ke permukaan.
4.1.4.2.
Kelebihan dan Kekurangan Progressive Cavity Pump (PCP)
Keunggulan PCP terletak pada tingginya efisiensi volumetric yang
mencapai 80%. Dibandingkan dengan metode artificial lift lain, PCP merupakan
yang tertinggi efisiensi volumetriknya. PCP sangat baik dalam mengatasi masalah
kepasiran dan paraffin. Keunggulan lainnya atara lain :s
a. Desain pemasangan peralatan yang cukup sederhana
b. Tidak terjadi gas lock
c. Mampu mengangkat hampir keseluruhan jenis oil (sekitar 5-42 0API)

d. Penggunaaan energi yang efisien


Kekurangan PCP terletak pada rentannya dengan temperature yang
tinggi. Batas maksimum suhu tertinggi adalah 250 F. Beberapa kekurangan PCP,
antara lain :
a. Sensitif terhadap tekanan yang berlebihan
b. Tidak kompatibel dengan beberapa chiemical, H2S dan oil gravity yang
tinggi.
c. Kedalaman yang bisa dicapai sekitar 6000 ft. Sangat rendah bila
dibandingkan dengan ESP dan gas lift yang mencapai 15,000 ft.
d. Flow rate PCP hanya sekitar 8000 bpd. Sangat rendah bila dibandingkan
dengan ESP yang mencapai 50,000 bpd dan Gas Lift yang mencapai 80,000
bpd.
4.1.5.

Hydraulic Pumping Unit (HPU)


Hydraulic Pumping Unit (HPU) merupakan salah satu jenis dari sucker

rod pump. Sucker rod pump digunakan sebagai salah satu alternatif sistem
artificial lift. Penggunaan pompa ini dilakukan jika tidak tersedianya gas yang
cukup di lapangan, sehingga sistem gas lift tidak dapat diterapkan.
4.1.5.1.

Keuntungan dan Kerugian Hydraulic Pumping Unit (HPU)


Keuntungan menggunakan HPU adalah sebagai berikut :
1. HPU lebih mudah untuk dipindahkan dan dipasang dari satu sumur ke sumur
lain karena tidak memerlukan pondasi, dan teknis penyetelannya sederhana.
2. Perubahan SPM (Stroke per Minute) dan panjang langkah (Stroke Length) lebih
mudah. Dalam mengubah SPM tidak perlu mengganti pulley dan dalam
penentuan stroke length tidak menggunakan alat berat untuk menggeser crank
piin seperti pada pompa angguk.
3. Optimasi sumur dengan alat HPU dapat dilakukan secara tepat dan mudah
dengan mengubah parameter kecepatan dan langkah pompa yang dapat

dilakukan setiap saat dengan waktu yang lebih cepat, sehingga kehilangan
produksi dapat diminimalisir.
4. Pengaturan langkah HPU lebih mudah karena tinggal mengubah settiing
hidrolik.
5. Pemakaian energi listrik lebih hemat dibandingkan pompa angguk.
6. Kehilangan produksi akan lebih dapat diminimalkan apabila pemasangan,
pemindahan, dan pengaturan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
7. Mengurangi resiko kebocoran stuffing box karena penempatan hydraulic jack
lebih center.
8. Biaya sewa lebih murah dibandingkan pompa angguk.
Kerugian menggunakan HPU adalah sebagai berikut :
1. Tidak cocok untuk produksi besar (Q HPU bpd).
2. Kedalaman sumur terbatas (kedalaman pompa <1000 m).
3. Kurang cocok untuk sumur miring dan lepas pantai (offshore).
4.1.5.2. Prinsip Kerja Hydraulic Pumping Unit (HPU)
1. Hydraulic fluid bertekanan tinggi dari power pack dipompakan menuju ke
hydraulic jack guna mentransmisikan pressure dari hydraulic fluid menjadi
gerakan naik turun pada hydraulic jack.
2. Dari gerakan hidrolik tadi kemudian diteruskan oleh polished rod terus idan ke
plunger, sehingga plunger bergerak turun naik yang merupakan gerakan
langkah dari pompa.
3. Apabila plunger bergerak keatas (up-stroke), maka dibawah plunger akan
terjadi penurunan tekanan, sehingga tekanan dasar sumur lebih besar dari
tekanan dalam pompa, keadaan ini menyebabkan standing valve terbuka dan
fluida masuk ke dalam pompa.
4. Pada akhir up stroke volume dibawah plunger terisi penuh oleh cairan dan pada
saat plunger bergerak kebawah (down-stroke), standing valve akan tertutup
karena plunger menekan fluida, pada saat bersamaan fluida tersebut akan
menekan traveling valve, fluida keluar dari plunger dan masuk ke tubing.
5. Proses tersebut berlangsung berulang kali, sehingga fluida pada tubing akan
bergerak naik ke permukaan dan mengalir menuju separator melalui flow line.

4.2.

DESKRIPSI ALAT

4.2.1. - Nama Alat

: Polished Rod.
- Fungsi
:

Menghubungkan sucker rod string

dengan carrier bar.


- Mekanisme :
Melanjutkan gerak naik turun dari
horse head ke plunger.
Gambar 4.1. Rod

Gambar 4.1. Polished Rod

(http://image.made-in-china.com/.../Subsurface-Sucker-Rod-Pump.jpg)

Spesifikasi

:
Tabel IV-1
Spesifikasi Polished Rod

Pum Barrel
p
length
bore
(m)
(mm)
28
3.3-9.5
32
3.3-9.5
38
3.3-9.5
44
3.3-9.5
50
3.3-8
56
3.3-8
70
3.3-8
95
3.3-9

Plunger
length
(m)

Tubin
g size
(in)

sucker
rod size
(in)

Pump
cinstant
(m3/d)

0.6-6.9
0.6-6.9
0.6-6.9
0.6-6.9
0.6-5.4
0.6-5.4
0.6-5.4
0.6-1.8

2-7/8
2-7/8
2-7/8
2-7/8
2-7/8
2-7/8
3-1/2
4-1/2

3/4
3/4
3/4
3/4
3/4
3/4
7/8
1

0.877
1.140
1.642
2.235
3.012
3.694
5.518
9.128

4.2.2. - Nama Alat

: Pony Rod.
- Fungsi
:

Untuk

melengkapi

panjang

dari

sucker rod apabila tidak mencapai target yang


dibutuhkan.
- Mekanisme :

Sebuah batang pendek dari biasanya,

biasanya ditempatkan di bawah batang, kemudian


dipoles dan digunakan untuk membuat string tongkat
panjang yang diinginkan.

Gambar 4.2. Pony Rod


(http://www.southeastoverseas.com/mud_pumps/pictures_files/image0
10.jpg)

Spesifikasi

:
Tabel IV-2
Spesifikasi Pony Rod

Size,

Wt. Each,

Type

Type

Type

Type

Type

O.D.Ins. &

Lbs.

30

78

90

96

97

Length, Ft.
5/8 x 2
4.6
X
X
X
5/8 x 4
6.8
X
X
X
5/8 x 6
8.7
X
X
X
5/8 x 8
11
X
X
X
3/4 x 2
6
X
X
X
X
X
3/4 x 4
9.1
X
X
X
X
X
3/4 x 6
12
X
X
X
X
X
3/4 x 8
15
X
X
X
X
X
7/8 x 2
7.6
X
X
X
X
X
7/8 x 4
11.6
X
X
X
X
X
7/8 x 6
15.5
X
X
X
X
X
7/8 x 8
20
X
X
X
X
X
1x2
11.6
X
X
X
X
X
1x4
17.1
X
X
X
X
X
1x6
20.5
X
X
X
X
X
1x8
27.8
X
X
X
X
X
Type 78 Pony Rods for Type 54 and 78 Sucker Rods, Type 90 Pony Rods for
Type 40 and Type 90 Sucker Rods. All other Pony Rods to match Sucker Rod
grade.

4.2.3. - Nama Alat

: Working Barrel.
- Fungsi
:

Sebagai

tempat

untuk

plunger

bergerak naik turun sesuai dengan langkah pemompaan


dan penampung minyak sebelum diangkat oleh plunger
pada waktu Up Stroke.
- Mekanisme

: Working Barrel yang berbentuk seperti silinder pompa,


didalamnya di tempatkan sebuah plunger yang dapat
bergerak naik dan turun. Pada saat upstroke, working
barrel akan berguna sebagai tempat menampung
minyak yang kemudian akan diangkat ke permukaan
melalui tubing.

Gambar 4.3. Working Barrel


(http://www.tjskl.org.cn/productssearch/cz5091df8.html)

- Spesifikasi :
Tabel IV-3
Working Barrel
Total length (mm)
Maximum external diameter (mm)
Minimum internal diameter (mm)
eccentric hole seal diameter (mm)
Operating differential pressure (MPa)
Connected screw thread
Total weight (kg)

996
113
46
20
15
2 7/8TBG
35

4.2.4. - Nama Alat

: Travelling valve.

- Fungsi

: 1.Mengalirkan atau memindahkan minyak dari working


masuk ke plunger, hal ini terjadi pada saat plunger
bergerak ke bawah.
2.Menahan minyak pada saat plunger bergerak ke atas
(up-stroke)

sehingga

minyak

tersebut

dapat

(dipindahkan) ke tubing untuk selanjutnya dialirkan


ke permukaan.
- Mekanisme

: Merupakan ball and seat yang terletak pada bagian


bawah dari plunger dan akan ikut bergerak ke atas dan
ke bawah menurut gerakan plunger.

Gambar 4.4. Travelling Valve


(http://www.bairdmfr.com/images/bs/bsP5a.jpg)

- Spesifikasi

:
Tabel IV-4
Spesifikasi Travelling valve

DN
mm
15
20
25
32
40
50
65
80
100

in
1/2
3/4
1
1 1/4
1 1/2
2
2 1/2
3
4

4.2.5. - Nama Alat


- Fungsi

L
140
152
165
178
190
216
241
283
305

D
95
117
123
133
155
165
190
210
254

300Lb(PR)RF
b
n-d
14.2
4-16
16
4-19
17.5
4-19
19
4-19
20.6
4-22.5
22.4
8-19
25.4
8-22.5
28.4
8-22.5
31.8
8-22.5

H
59
63
75
95
107
155
164
182
226

D0
130
130
160
160
160
200
200
200
300

: Standing Valve.
: Memberikan kesempatan minyak dari dalam sumur
masuk ke working barrel.

- Mekanisme

: Merupakan katup yang terdapat di bagian bawah


working barrel, up-stroke valve terbuka maka minyak
masuk, down stroke valve tertutup maka minyak
tertahan.

Gambar 4.5. Standing Valve


(www.charlesatempleton.com.jpg)

Spesifikasi

:
Tabel IV-5
Spesifikasi Standing Valve

Tubing

Cage No. Single

Actual Thd

Size

Thd

Size

Guide No.

Ball &
Seal

2 Upset
2 Reg.
2 Upset
3 Reg.
3 Upset
3 Upset
3 Upset
4 Upset

SL 2 R
SL 2 V
SL 2 R
SL 3 V
SL 3 R
A3R
X
1

4.2.6. - Nama Alat

2 594 EU8R
2 7/8 11 V
3.094 EU88
3 - 11 V
3 EU8R
4 EU8R
4 EU8R
3 EU8R

SL 7
SL 9
SL 9
SL A32
SL A32
SL A32
SL 10
SL 10

2 API
2 3/9 API
2 3/9 API
3 SPEC
3 SPEC
3 API
3 API
3 API

: Gas Lift Mandrel.

- Fungsi

: Sebagai tempat memasang valve Gas Lift, pada dinding

- Mekanisme

tubing.
: Alat ini sudah di setting di permukaan sebelum metode
Gas Lift dilaksanakan, saat gas lift diterapkan pada
mandrel ini akan ditempatkan valve gas lift. Valve gas
lift dipasang melalui wireline.

Gambar 4.6. Gas Lift Mandrel


(http://www.oilfieldtraders.com.au/Uploads/Images/haliburton-gaslift-mandrel-3.jpg)

- Spesifikasi :
Tabel IV-6
Spesifikasi Gas Lift Mandrel
Tubing Size,

Type

Max. OD, in

ID, in (mm)

in (mm)
1,315 EUE

(mm)
2,669 (67,8)

1,049 (26,6)

(33,4)
1,660 EUE

B deflector lug

3,148 (800)

1,380 (80,0)

(33,4)
1,900 EUE

BR deflector

3,305 (83,9)

1,610 (40,9)

(48,3)
2,063 IJ

lug
BR deflector

3,625 (92,1)

1,751 (445)

(52,4)

lug

Length, ft
(mm)

4,0 (1,22)

4.2.7. - Nama Alat

: Operating Valve.

- Fungsi

: Digunakan untuk menginjeksikan gas ke dalam tubing

- Mekanisme

pada gas lift minyak dapat diproduksikan.


: Katup ini selalu tebuka sehingga injeksi gas akan terjadi
secara continous melewati katup ini. Gas injeksi akan
masuk ke dalam dome, sehingga stem dan port akan
terangkat ke atas dan sprend akan terbuka sehingga gas
dapat masuk ke dalam tubing.

.
Gambar 4.7. Operating Valve
(http://www.weatherford.com/Products/Production/GasLift/GasLiftVal
ves/)

- Spesifikasi :
Tabel IV-7
Spesifikasi Operating Valve
Tekanan uji
Tekanan Kerja
Panjang
Lebar
Tinggi

4.2.8. - Nama Alat


- Fungsi

14 bar (udara)
Max. 10 bar (Udara)
85 mm
85mm
108 mm Berat=27 kg

: Electrical Submersible Pump Motor (ESP Motor).


: Sebagai tenaga penggerak Pompa ESP.

- Mekanisme

: Motor ini dimasukkan ke dalam rumah motor yang


terisi minyak motor (berfungsi untuk pendingin dan
merupakan isolasi motor terhadap fluida sumur).

Gambar 4.8. Electrical Submersible Pump Motor (ESP Motor)


(http://www.slb.com/media/services/completion/safetyvalves/4_and_4
h_series.pdf)

- Spesifikasi

:
Tabel IV-8
ESP Motor

Casing OD
in [mm]
512 [139.7]
7 [177.8]

Motor
Series
456
562

Type
RX, RK
RK-XD, RXXD

Power, hp at

Power, hp at

60 Hz
24216
30450

50 Hz
20180
25375

350 HX-

858 [219.1]

738

4.2.9. - Nama Alat

XD
425 HX-

21321

18268

XD
RK, RX

43321
250900

36268
208750

: ESP Diffuser.

- Fungsi

: Mengubah sebagian energi kecepatan menjadi energi

- Mekanisme

tekanan.
: Diffuser menerima fluida yang didorong oleh impeller,
tenaga kinetis fluida akan diubah menjadi tenaga
potensial (tekanan) dan diarahkan ke stage selanjutnya.
Pada proses tersebut fluida memiliki energi yang
semakin besar dibandingkan pada saat masuknya.
Kejadian tersebut terjadi terus menerus sehingga
tekanan head pompa berbanding lurus dengan jumlah
stages, artinya semakin banyak stage yang dipasangkan
maka

semakin

besar

mengangkat fluida.

kemampuan

pompa

untuk

Gambar 4.9. ESP Diffuser


(http://sell.lulusoso.com/selling-leads/150929/Diffusers-for-electricalsubmersible-oil-pumps.html)

- Spesifikasi

:
Tabel IV-9
ESP Diffuser

Material
API standard

Ni-resist type 4, duplex stainless steel, nickelaluminium bronze


338, 400, 513, 538, 562, 675,862,950

4.2.10. - Nama Alat

: ESP Impeller.

- Fungsi

: Untuk mendorong fluida yang di dalam motor menuju

- Mekanisme

diffuser.
: Impeller akan mendorong masuk fluida ke dalam
diffuser akibat proses centrifugal sehingga fluida
terlempar ke luar menuju diffuser.

Gambar 4.10. ESP Impeller


(http://sell.lulusoso.com/selling-leads/150929/Diffusers-for-electricalsubmersible-oil-pumps.html)

Spesifikasi :
Tabel IV-10
ESP Impeller

Place of Origin

Tianjin, China (Mainland)

Brand Name

JLT

Model Number

338,387...

Theory

Centrifugal Pump

Structure

Multistage Pump

Usage

Oil

Power

Electric

Standard or

Standard

Nonstandard
Pressure

Regular

Application

Submersible

4.2.11. - Nama Alat

: ESP Seal.

- Fungsi

: Melindungi motor dari penetrasi fluida sumur.

- Mekanisme

: Fluida sumur yang mempunyai berat jenis lebih besar


akan berada dibawah oli motor. Oli motor karena panas
akan mengembang mendesak fluida sumur yang berada
pada dasar ruangan keluar, sehingga tekanan di dalam
motor dan diluar akan sama. Jika pompa mati tekanan
dalam motor akan turun karena temperatur turun, fluida

sumur akan masuk kedalam ruang atas protektor.


demikianlah kejadian ini berulang-ulang, jika fluida
sudah memenuhi ruang atas fluida sumur akan turun
keruang bawah sampai ruang bawah penuh kemudian
masuk ke motor.

Gambar 4.11. ESP Seal


(http://www.made-in-china.com/image/Mechanical-Seal-for-Pumps.jpg)

Spesifikasi

:
Tabel IV-11
Spesifikasi ESP Seal

Outside diameter
Max. bottomhole

5.130 in [130.30 mm]


425 degF [218 degC]

temperature rating
Length
Metallurgy
Chambers
Shaft diameter
Deviation

Dictated by system configuration


Carbon steel or Redalloy* high-nickel alloy
Metal bellows, bag, or labyrinth
1.187 in [30.15 mm]
090

4.2.12. - Nama Alat


- Fungsi

: ESP Round and Flat Cable.


: ESP round cable berfungsi untuk penyalur tenaga dari
motor menuju pompa sementara ESP flat cable
berfungsi sebagai media pengaliran tenaga listrik ke

- Mekanisme

motor.
: ESP round cable dengan mengalirkan tenaga dari motor
menuju pompa melalui kabel yang terdiri dari tiga
kabel tembaga yang dililitkan dan diisolasi satu sama
lain berbentuk radial.
ESP flat cable dengan menyalurkan tenaga listrik dari
permukaan ke motor melalui kabel yang terdiri dari tiga
kabel tembaga yang diisolasi satu sama lain berbentuk
pipih memanjang. Kabel di klem dengan tubing pada
interval jarak tertentu sampai ke tubing head.

flat
round

Gambar 4.12. ESP Round and Flat Cable


(http://i00.i.aliimg.com/wsphoto/v0/609499602_1/Ruber_inner_sheath_ES
P_flat_round_power_cable.jpg_200x200.jpg)
-

Spesifikasi

:
Tabel IV-12
ESP Round and Flat Cables
THREE WIRE SINGLE PHASE
SPECIFICATIONS
Dual
Elemen
t
Fuse
Size

HP

Volts

Maximum
Amps

Line to Line
Resistance

Locke
d
Rotor
Amps

1/2

115

Y -12.0 B -12.0 R
-0.0

MS
1.0 -1.3 4.1 -5.1

50.5

15

1/2

230

Y -6.0 B -6.0 R -0.0

MS
4.2 -5.2 16.7 -20.5

23.0

3/4

230

Y -8.0 B -8.0 R -0.0

MS
3.0 -3.6 11.0 -13.4

34.2

230

Y -9.8 B -9.8 R -0.0

MS
2.2 -2.7 10.1 -12.3

41.8

12

1 1/2

230

Y -11.5 B -11.0 R -1.3

MS
1.5 -2.3 6.2 -12.0

52.0

15

230

Y -13.2 B -11.9 R
-2.6

MS
1.6 -2.3 5.2 -7.1

51.0

15

230

Y -17.0 B -12.6 R
-6.0

MS
0.9 -1.5 3.0 -4.9

83.5

20

230

Y -27.5 B -19.1 R
-10.8

MS
68 -1.0 1.8 -2.8

121.0

30

4.2.13. - Nama Alat


- Fungsi

: ESP Gas Separator.


: Untuk memperbaiki effisiensi pompa ESP dengan
memisahkan

gas

terlarut

pada

minyak

yang

diproduksikan dan sebagai tempat intake masuknya


- Mekanisme

fluida ke dalam pompa.


: Fluida yang masuk ke dalam rangkaian tubing
dipisahkan telebih dahulu saat melewati gas separator,
gas terpisah dan keluar melaui annulus.

Gambar 4.13. ESP Gas Separator


(http://www.weatherford.com/ECMWEB/groups/web/documents/weatherfo
rdcorp/esp_intakesandgasseparators-2.jpg)

Spesifikasi

:
Tabel IV-13

Spesifikasi ESP Gas Separator


Series
OD, in (mm)
Length ft (mm)
Weight, lbm (kg)
Power Consumption

4.2.14. - Nama Alat


- Fungsi
- Mekanisme

D20-60
400 (101,6)
6,6 (2,20)
145 (65,8)
3

S20-90
5,38 (136,7)
3,2 (0,98)
145 (658)
6

S70-150
5,38 (136,7)
3,41 (1,04)
160 (72,6)
14

: PCP Rotor.
: Sebagai penggerak PCP.
: Berputar secara eksentrik didalam double internal
helical gear (stator). Keduanya sama sama memiliki
minor dan major diameter.

PCP Rotor

Gambar 4.14. PCP Rotor


(http//www.worldoil.comApril-2008-Metal-PCP-field-trial-increasespumping-window.html)

- Spesifikasi :
Tabel IV-14
Spesifikasi PCP Rotor
Type

Flow capacities

Pressures

Titan C22

500 gpm (114 m/hr)

175 psi (12 bar)

4.2.15. - Nama Alat


- Fungsi
- Mekanisme

: PCP Stator.
: Sebagai seal rotor (wadah rotor).
: Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah
menjadi tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya
rotor maka poros (shaft) yang berada ditengahnya akan
ikut berputar, sehingga poros yang saling berhubungan
akan ikut berputar pula (poros pompa, intake, dan
protector).

PCP Stator

Gambar 4.15. PCP Stator

(http://www.worldoil.com/April-2008-Metal-PCP-field-trial-increasespumping-window.html)

- Spesifikasi :
Tabel IV-15
Spesifikasi PCP Stator
Type
Titan C22

Flow capacities
500 gpm (114 m/hr)

Pressures
175i (12 bar)

4.3. PEMBAHASAN
Artificial lift adalah metode pengangkatan fluida sumur dengan cara
mengintroduksi tenaga tambahan ke dalam sumur (bukan ke dalam reservoir)
dimana ini diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu lagi
mendorong fluida ke permukaan atau untuk maksud-maksud peningkatan
produksi.
Prinsip kerja pompa sucker rod adalah mengubah gerak rotasi dari prime
mover menjadi gerak naik turun oleh sistem pitmen-crank assembly. Kemudian
gerak naik turun ini oleh horse head dijadikan gerak lurus naik turun (angguk)
untuk menggerakkan plunger melalui rangkaian rod. Pada saat up stroke plunger
bergerak keatas menyebabkan tekanan di bawah turun karena tekanan dasar sumur
lebih besar dari tekanan dalam pompa, akibatnya standing valve terbuka dan
minyak masuk ke dalam barrel. Sedangkan pada saat down stroke, beban fluida
yang ada di dalam barrel dan tekanan yang diakibatkan oleh naiknya
plunger.maka standing valve menutup sedangkan travelling valve pada plunger
terbuka akibat tekanan minyak yang tidak di dalam barrell,selanjutnya pada saat
up stroke maksimum minyak akan dipindahkan ke dalam tubing . Proses ini
dilakukan secara berulang-ulang, sehingga minyak dapat mengalir ke permukaan.
Sucker rod pump digunakan pada saat fluida sumur tidak dapat mengalir, karena
adanya kolom fluida untuk penempatan pompa dan pada sumur yang vertikal
(lurus). Keuntungan penggunaan sucker rod pump, antara lain : lebih efisien dan
dipakai pada sumur dangkal kurang dari 200 meter, serta kerja pompa dapat
dianalisa dengan dinamometer dan well sounded device. Sedangkan kerugiannya,
antara lain : memerlukan tempat yang luas, dan adanya gas dalam sumur produksi
dapat menyebabkan gas lock.
Peralatan gas lift untuk menunjang sistem pengangkatan minyak dengan
menggunakan metode injeksi gas ke dalam sumur terdiri atas dua kelompok besar,
yaitu peralatan di atas permukaan (wellhead gas lift, station compresor gas,
stasiun distribusi dan alat-alat kontrol) dan peralatan bawah permukaan (kamar
akumulasi, pinhole collar dan valve gas lift).

Pompa centrifugal (ESP) adalah pompa bertingkat dengan porosnya


dihubungkan dengan motor penggerak. Motor penggerak ini menggunakan tenaga
listrik yang disuplai dari permukaan dengan kabel dan sumbernya diambil dari
power plant lapangan. ESP umumnya dipakai pada pemboran lepas pantai sumursumur miring, laju produksi besar, GOR rendah, viskositas tinggi dan dapat
dipakai untuk injeksi air dengan syarat impeller tinggi. Prinsip kerja ESP adalah
berdasarkan pada prinsip kerja pompa centrifugal dengan sumbu putarnya tegak
lurus. Pompa centrifugal adalah motor hidrolis yang menghasilkan tenaga hidrolis
dengan cara memutar cairan yang melalui impeller pompa.
Progressive Cavity Pump bekerja dengan mengandalkan 2 elemen utama,
yaitu rotor dan stator. Adapun motor drive sebagai prime mover (penggerak)
berada di permukaan yang menggerakkan rotor di lubang sumur. Pompa (rotor
dan stator) berada dibawah lubang perforasi untuk memastikan bahwa pompa
berada dibawah fluid level untuk mengantisipasi loss flow yang terjadi. Fluida
mengalir kedalam stator dan terus mengair melalui tubing hingga ke permukaan.
Hydraulic Pumping Unit (HPU) merupakan salah satu jenis dari sucker rod
pump. Sucker rod pump digunakan sebagai salah satu alternatif sistem artificial
lift. Penggunaan pompa ini dilakukan jika tidak tersedianya gas yang cukup di
lapangan, sehingga sistem gas lift tidak dapat diterapkan.

4.4. KESIMPULAN
1. Metoda artificial lift diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah
tidak mampu lagi mendorong fluida ke permukaan atau untuk maksudmaksud peningkatan produksi.
2. Faktor-faktor dalam pemilihan metode artificial lift antara lain :

Kedalaman

Sifat fisik batuan reservoir

Letak sumur (onshore/offshore)

Lubang sumur (vertikal/horizontal)

3. Introduksi tenaga tambahan yang ada pada metode artificial lift antara
lain:
a. Pompa yang terdiri dari :
Pompa Sucker Rod
Pompa Sentrifugal Multistage
Pompa Hydraulic
Pompa Jet
b. Gas lift, yang terdiri dari :

Continous gas-lift
Intermitten gas-lift
c. Chamber lift
4. Sucker Rod sebagai salah satu peralatan dalam artificial lift tidak dapat
dipasang di sembarang lokasi tetapi harus memenuhi syarat-syarat :
Sumur harus lurus.
Kedalaman sumur sedang sampai dangkal.
Harus ada fluid level.
Produksi gas kecil.
5. Metode gas lift adalah suatu metode pengangkatan fluida dari lubang
sumur dengan cara menambahkan gas dimana mempunyai tekanan
cukup tinggi ke dalam kolom minyak.

6. Electric Submersible Pump adalah pompa bertingkat banyak yang


porosnya dihubungkan langsung dengan motor penggerak yang sumber
tenaganya berasal dari power plant.
7. Progressive Cavity Pump memiliki keunggulan yang terletak pada
tingginya efisiensi volumetric yang mencapai 80%. Dibandingkan
dengan metode artificial lift lain, PCP merupakan yang tertinggi
efisiensi volumetriknya serta pompa ini sangat baik dalam mengatasi
masalah kepasiran dan paraffin.
8. Hydraulic Pumping Unit (HPU) merupakan salah satu jenis dari sucker
rod pump. Sucker rod pump digunakan sebagai salah satu alternatif
sistem artificial lift. Penggunaan pompa ini dilakukan jika tidak
tersedianya gas yang cukup di lapangan, sehingga sistem gas lift tidak
dapat diterapkan