You are on page 1of 21

PROBLEM BASED LEARNING

TUGAS PERANCANGAN SISTEM KALOR


SPIRAL PLATE HEAT EXCHANGER
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Perancangan Sistem Kalor
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik

Disusun oleh :
Nama

: Azharyanto Fadhli

Program Studi

: Perancangan Sistem Kalor

Dosen

: Dr. Damora Rhakasywi,ST.MT

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS PANCASILA
2016

4314218045

SPIRAL HEAT EXCHANGER


(PENUKAR KALOR SPIRAL)

Alat penukar kalor tipe spiral dibuat dari plat tembaga. Plat tembaga tersebut kemudian
dipotong berdasarkan pola. Setelah itu dilakukan proses penyambungan dengan cara dipatri
hingga potongan plat menjadi berbentuk spiral yang didalamnya terdapat dua saluran yang
dipisahkan oleh sebuah sekat yang juga terbuat dari bahan plat tembaga. Salah satu saluran
dialiri fluida panas dan saluran lain dialiri fluida dingin. Arah aliran kedua fluida dapat
diubah dengan melakukan pengaturan katub, sehingga alat penukar kalor ini dapat bekerja
dengan dua arah aliran yaitu searah (parallel flow) dan berlawanan arah (counter flow).

Gambar Contoh Penukar Kalor jenis Spiral

Aliran fluida yang melalui alat penukar kalor spiral menerima panas atau memberi
panas dari dan atau ke fluida lain dengan cara konduksi melalui dinging sekat ditambah lagi
secara konveksi antara dinding dengan fluida.

Tipe aliran pada penukar kalor jenis ini ada dua, yaitu :
1. Tipe aliran searah
2. Tipe aliran melawan arah.

Pada tipe aliran searah, fluida kerja yang ingin di dinginkan atau di panaskan
dialirkan

searah

dengan

fluida

kerja

yang

akan

menidinginkan

atau

memanaskannya.
Sedangkan tipe aliran berlawanan arah, fluida kerja yang ingin di dinginkan atau
di panaskan mengalir berlawanan dengan fluida kerja yang mendinginkan atau
memanaskannya.

Contoh tipe aliran searah

Keterangan :
-

Merah

: Area Panas

Biru

: Area Dingin

Nomor 1

: Fluida yang didinginkan

Nomor 2

: Fluida Pendingin

Gambar Contoh Tipe Aliran Berlawanan Arah

Keterangan :
-

Merah

: Area Panas

Biru

: Area Dingin

Nomor 1

: Fluida pemanas

Nomor 2

: Fluida yang dipanaskan

Ada beberapa jenis Penukar Kalor tipe spiral, yaitu :


1. Spiral Plate Heat Exchanger
Heat exchanger tipe ini menggunakan desain spiral pada susunan platnya, dengan
menggunakan sistem sealing las. Aliran dua fluida di dalam heat exchanger tipe ini
dapat berbentuk tiga macam yakni :
(1) dua aliran fluida spiral mengalir berlawanan arah (counterflow).
(2) satu fluida mengalir spiral dan yang lainnya bersilangan dengan fluida
pertama (crossflow).
(3) satu fluida mengalir secara spiral dan yang lainnya mengalir secara combinasi
antara spiral dengan crossflow.

Contoh Spiral Heat Exchanger (plate)

Heat exchanger tipe ini sangat cocok digunakan untuk fluida dengan viskositas
tinggi atau juga fluida yang mengandung material-maerial pengotor yang dapat
menimbulkan tumpukan kotoran di dalam elemen heat exchanger. Hal ini disebabkan
karena desainnya yang satu lintasan, sehingga apabila terjadi penumpukan kotoran di
satu titik, maka secara alami kecapatan aliran fluida pada titik tersebut akan meningkat,
sehingga kotoran tadi akan terkikis sendiri oleh fluida kerja tersebut. Karena kelebihan
inilah sehingga heat exchanger tipe ini sangat cocok untuk digunakan pada fluida kerja

dengan viskositas sangat tinggi, fluida slurries (semacam lumpur), air limbah inidustri,
dan sejenisnya.
Cara kerja penukar kalor jenis ini adalah : Untuk aliran dimana masing-masing
fluida tutup pada kedua sisinya. Dan dalam mengalir mengikuti bentuk spiralnya,
rakitan spiral plate-nya memiliki usunan tersebut fluida biasanya mengalir dengan arah
yang berlawanan, yaitu dengan mengalirkan fluida dingin pada sekelilingnya sehingga
mengalir kearah pusat, sedangkan fluida panas dimasukkan pada pusat tersebut
sehingga mengalir kearah sekelilingnya.
Disini, perhitungan dalam merancang alat penukar panas ini, kita dapat
menggunakan prinsip perpindahan panas antara plat. Perpindahan panas yang terjadi
pada alat penukar kalor jenis ini adalah proses perpindahan panas secara konduksi yang
terjadi pada plat (tergantung pada konduktifitas termal bahan) dan juga perpindahan
panas yang terjadi secara konduksi antara fluida kerja dengan dinding plat.

Penggunaan Spiral Heat Exchagner sangat banyak, namun umumnya kita akan
sering menjumpainya dalam industri Pasteurisasi, Pra-Penghangat Ruangan, (untuk
digunakan dalam recuperators) dan sistem pendingin.
KELEBIHAN :
1. Ramah lingkungan.
2. Efisien penggunaan ruang.
3. Mengurangi biaya.
4. Efisien dalam keseluruhan operasi.
5. Mudah di bersihkan.
KEKURANGAN :
1. Perbaikan untuk spiral plate heat exchanger cukup sulit.
2. Spiral plate heat exchanger sering tidak digunakan jika terjadi siklus
temperatur yang berulang-ulang.
3. Spiral plate heat exchanger tersebut biasanya tidak digunakan apabila
selama pengoperasian terjadi pengerakan yang Besar.
4. Untuk aliran aksial-spiral, perbedaan temperatur harus dikoreksi.

2. Spiral Tube Heat Exchanger


Heat exchanger tipe ini menggunakan pipa tube yang didesain membentuk spiral
di dalam sisi shell. Perpindahan panas pada tipe ini sangat efisien, namun di sisi hampir
tidak mungkin untuk melakukan pembersihan sisi dalam tube apabila kotor. Oleh
karena itu jenis heat exchanger ini butuh perawatan yang lebih dibandingkan dengan
plate spiral heat exchanger.

Contoh heat exchanger tipe spiral (tube).

Di sini kita mepyelidiki peristiwa berlangsungnya perindahan panas itu. Kalau kita
menganggap perindahan panas berlangsung secara mengalir analogi dengan aliran listrik
atau aliran fluida, maka aliran panas ini kita namakan arus panas. Kita definisikan arus
panas ini sebagai jumlah tenaga panas per satuan waktu atau daya panas melalui
penampang tegak lurus kepada arah arus. Oleh sebab itu arus panas rata-rata adalah :

Dengan T sebagai waktu perpindahan panas yang dipandang. Karena arus panas
dapat berubah-ubah menurut waktu, maka arus panas pada setiap saat adalah :

Perindahan panas dapat kita ketahui melalui perubahan temperatur. Oleh karenanya
perlu ditentukan hubungan antara arus panas dan perubahan atau perbedaan temperatur.
Bagi kalorimeter yang mengalami pertukaran panas dengan luar sistem, akibat
perpindahan panas, Newton memberikan suatu koreksi yang dikenal sebagai hukum pendinginan atau pemanasan Newton.

Hukum Pendinginan Atau Pemanasan Newton

Perubahan temperatur akibat pertukaran panas seperti pada kalorimeter menurut


Newton pada tahun 1701, adalah berbanding lurns dengan waktu. Bila temperatur sistem
lebih tinggi daripada tempeatur sekitarnya, maka akan terjadi pendinginan pada sistem
atau penurunan temperatur dan demikian pun sebaliknya. Perbandingan ini dapat dijadikan
persamaan dengan membubuhi suatu faktor konstanta k, sehingga :

= ( )

Dengan t dan t. masing-masing merupakan temperatur sistem dan temperatur


sekitarnya. Tanda negatif menunjukkan terjadinya penurnnan temperatur bila t > ts . Karena
perubahan temperatur ini dapat berbeda menurut waktu, maka perubahan temperatur setiap
saat adalah :

= ( )

atau dapat juga ditulis

=

sehingga setelah diintegrasikan diperoleh temperatur sistem setelah waktu 't, sebesar
In (t - ts) = - k T + C
Jika temperatur pada waktu T =0 adalah t0 maka konstanta integrasi C dapat
ditentukan, sehingga diperoleh

Ln

0
0

Atau
t = t0 + (t0 ts ) e-kt

Apabila perbedaan temperatur sistem dan sekitarnya keeil maka dengan sendirinya
perubahan temperatur pada sistem adalah keeil juga karena perubahan temperature
maksimum dari sistem adalah menyamai temperatur sekitarnya. Oleh sebab itu dalam hal
ini nampak dari persamaan diatas bahwa k 't akan keeil juga harganya. Untuk k 't 1 dapat
diadakan pendekatan dari persamaan diatas dengan menguraikan dulu ke dalam deret.

Dengan mengabaikan faktor kT dengan pangkat dua dan lebih, pendekatan ini
menjadi

Perhitungan dalam merancang heat exchanger, dalam hal ini spiral heat exchanger
adalah dengan memperhitungkan perpindahan panas secara konduksi dan secara konveksi.

1. Perpindahan panas konduksi


Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat perantara. Namun, zat tersebut
tidak ikut berpindah ataupun bergerak. Contoh sederhana dalam kehidupan seharihari misalnya, ketika kita membuat kopi atau minuman panas, lalu kita
mencelupkan sendok untuk mengaduk gulanya. Biarkan beberapa menit, maka
sendok tersebut akan ikut panas. Panas dari air mengalir ke seluruh bagian sendok.
Atau contoh lain misalnya saat kita membakar besi logam dan sejenisnya. meskipun
hanya salah satu ujung dari besi logam tersebut yang dipanaskan, namun panasnya
akan menyebar ke seluruh bagian logam sampai ke ujung logam yang tidak ikut
dipanaskan. Hal ini menunjukkan panas berpindah dengan perantara besi logam
tersebut.
Contoh lainnya adalah ketika kita melihat tukang menempah besi menjadi
sesuatu barang semisal parang. Walau hanya ujung besi yang dipanaskan, namun

rasa panas menjalar ke semua bagian besi, sehingga para tukang biasanya mengalasi
ujung besi yang tidak dipanaskan dengan kain. Selain itu, juga kita bisa melihat
pada kasus melelehnya margarine yang dimasukkan ke dalam wajan yang panas.
Tenaga panas dari suatu bagian benda bertemperatur lebih tinggi akan mengalir
melalui zat benda itu ke bagian lainnya yang bertemperatur lebih rendah. Sebagai
arus panas, perpindahan panas ini memenuhi definisi (82). Zat atau partikel zat dari
benda yang dilalui panas ini sendiri tidak mengalir sehingga tenaga panas
berpindah dari satu partikel ke lain partikel dan meneapai bagian yang dituju.
Perpindahan panas seeara ini disebut konduksi panas; arus panasnya adalah arus
panas konduksi dan zatnya itu mempunyai sifat konduksi panas. Konduksi panas
ini bergantung kepada zat yang dilaluinyan dan juga kepada distribusi temperatur
dari bagian benda sedangkan, menurut penyelidikan, selanjutnya juga bergantung
sedikit banyak kepada temperatur itu sendiri. Berlangsungnya konduksi panas
melalui zat dapat diketahui oleh perubahan temperatur yang terjadi. Ditinjau dari
sudut teori molukuler, yakni benda atau zat terdiri dari molekul, pemberian panas
pada zat menyebabkan molekul itu bergetar. Getaran ini makin bertambah jika
panas ditambah, sehingga tenaga panas berubah menjadi tenaga getaran. Molekul
yang bergetar ini tetap pada tempatnya tetapi getaran yang lebih hebat ini akan
menyebabkan getaran yang lebih keeil dari molekul di sampingnya, bertambah
getarannya, dan demikian seterusnya sehingga akhirnya getaran molekul pada
bagian lain benda akan lebih hebat. Sebagai akibatnya, temperatur pada bagian lain
benda itu akan naik dan kita lihat bahwa panas berpindah ke tempat lain.
Jadi pada konduksi panas, tenaga panas dipindahkan dari satu partikel zat ke
partikel di sampingnya, berturut-turut sampai meneapai bagian lain zat yang
bertemperatur lebih rendah.

Konduksi Panas Pada Keadaan Tetap

Apabila temperatur dari suatu benda pada dua tempat adalah tetap dan berlainan,
maka akan terjadi konduksi panas. Konduksi panas demikian yakni antara bagian
dengan temperatur tetap disebut konduksi panas pada keadaan tetap. Arus konduksi
tentunya bergantung juga kepada distribusi temperatur tetap ini pada benda itu, di
samping bentuk benda itu sendiri.

Di sini kita akan melihat hanya hal-hal yang sederhana, yakni keadaan dengan
hanya dua temperatur tetap yang terletak simetris pada benda bersangkutan. Pada
keadaan seimbang, arus panas antara kedua tempeatur tetap ini akan tetap
harganya.
Pada gambar 19 terlihat suatu keping datar plan-paralel, dengan luas kedua
permukaan bidang yang berhadapan adalah A dan masing-masing mempunyai
temperature tetap t1 dan t2 (t1 > t2).

Tebal keping adalab I dan arus panas H mengalir dari t1 ke t2. Setelah mencapai
keseimbangan, maka menurut hasil eksperimen dari Biot dan Fourier, arus panas
tetap H berbanding lurns dengan luas penampang yang tegak lurns pada arab arus
panas, berbanding lurns dengan beda temperatur tetap itu (t1 - t2), dan berbanding
terbalik dengan panjang jalan yang ditempuh arus panas. Dengan membubuhi suatu
faktor pembanding K, kita peroleh hubungan :

Atau umumnya dapat ditulis :

Dengan x sebagai jalan yang ditempuh arus panas. Apabila perubaban


temperatur bergantung kepada jalan arus panas, maka dapat ditulis menjadi :

Dengan tanda negatif menyatakan babwa arab arus menuju ke arab turunnya
temperatur.
Faktor

disebut juga sebagai gradient temperatur.

Konstanta K disebut koefisien konduktivitas panas atau konduktivitas panas.


Ternyata kemudian bahwa konduktivitas panas ini juga tidak konstan tetapi
bergantung kepada temperatur. Untuk batas temperatur tertentu dapat diambil
harga rata-ratanya yakni konduktivitas panas rata. Kita pandang di sini zat dengan
konduktivitas panas yang isotropis.

Dari persamaan ini kita dapat menyelesaikan perancangan heat exchanger tipe
spiral.

Gambar-gambar contoh spiral heat exchanger yang digunakan di industri.

SPIRAL PLATE HEAT EXCHANGERS

A spiral plate heat exchanger (SPHE) is fabricated by rolling a pair of relatively long
strips of plate to form a pair of spiral passages (Figure 7.28). Channel spacing is maintained
uniformly along the length of the spiral passages by means of spacer studs welded to the plate
strips prior to rolling. It can be made with channels 525 mm wide, with or without studs. The
spiral channels are welded shut on their ends.

a.

b.

FIGUE 7.28 Spiral plate heat exchanger. (a) Unit and (b) two plates design (with studded or plain
design).

in order to contain respective fluids. An overall gasket is applied to the cover. The covers
are attached to the spiral element by means of forged hook bolts and adapters. The hook bolt
engages the bevel at the back of the flange ring and the adapter engages the rim at the edge of the
cover. A header is welded on the outer end of each passage to accommodate the respective
peripheral nozzle. For most services, both fluid flow channels are closed by alternate channels
welded at both sides of the spiral plate. In some applications, one of the channels is left
completely open, and the other closed at both sides of the plate. These two types of construction
prevent the fluids from mixing.

Flow Arragement and Application


The spiral assembly can be fitted with covers to provide three flow pattern types:

1.

Both fluids in spiral flows; this arrangement can accommodate the media in full
counter- flow. General uses are for liquid to liquid, condensers, and gas coolers.

2.

One fluid in spiral flow and the other in axial flow across the spiral; general uses are
as condensers, reboilers, and gas coolers and heaters.

3.

One fluid in spiral flow and the other in a combination of axial and spiral flow; general
uses are as condensers (with built-in aftercoolers) and vaporizers.

These flow arrangements are shown schematically in Figure 7.29.

Construction Material
Spiral plate exchangers are fabricated from any material that can be cold worked and
welded. Typical construction materials include carbon steel, stainless steels, Hastelloy B and
C, nickel and nickel alloys, aluminum alloys, titanium, and copper alloys. To protect against
corrosion from cooling water, the surface is given baked phenolic resin coatings, among others.
Anodic elements may also be wound into the assembly to anodically protect surfaces against
corrosion.

Thermal Design of Spiral Plate Exchanger


Thermal design procedures of SPHEs are covered by Minton [19]. The system of
ordinary differential equations for the temperature distribution in SPHEs has been solved
numerically by Chaudhury et al. [20] to obtain the efficiency,
LMTD correction factor F is a function of number of transfer units, number of turns n,
and the heat capacity rate ratio. They found that the LMTD correction factors, when plotted
versus NTU Plate Heat Exchangers and Spiral Plate Heat Exchangers.

FIGURE 7.29 Alfa Laval SPHE flow arrangements (L, condensate; G, gas; W, liquid; V, vapor; and
S, noncondensables).

per turn, fall approximately on a single curve and that curve can be represented by the simple
formula

Mechanical Design of Spiral Plate Heat Exchangers


Spiral exchangers can be furnished in accordance with most pressure vessel codes. Sizes
range from 0.5 to 350 m2 of heat transfer surface in one single spiral body. The maximum
design pressure is normally limited to 150 psi due to the following reasons, although for smaller
diameters the pressure may sometimes be higher [19]:
1. They are normally designed for the full pressure of each passage.
2. Because the turns of the spiral are of relatively large diameter, each turn must contain
its design pressure.
3. The plate thickness is somewhat restricted.
Limitations of materials of constructions govern design temperature.

Aplication for Spiral Plate Heat Exchanger


The SPHE is particularly suited for such liquid-to-liquid duties as
-

Clogging slurries such as PVC slurries

Clogging particle-laden and fibrous media such as TMP condensate in pulp and paper
production

Clogging and erosive media such as alumina, hydrate slurries, etc.

Fouling media such as waste water or sewage sludge

High-viscosity media such as heavy oil

Non-Newtonian fluids such as fermenting froth in pharmaceuticals processing

Adventage of Spiral Plate Exchangers


SPHEs have a number of advantages over conventional shell and tube exchangers:
1. The spiral heat exchanger approaches the ideal in heat exchanger design. Media can be
arranged in full counterflow. Flow characteristics are the same for each medium. The
long passages on each side permit close temperature approaches. Radiation losses are
negligible.

2. The exchanger is well suited for heating or cooling viscous fluids because its L/D ratio
is lower than that of tubular exchangers
3. At a velocity that would be marginal and approaching streamline flow in straight tubes,
good turbulence is realized because of the continuously curving passages.
4. The scrubbing action of the fluids in each side of the passage tends to flush away
deposits as they form and hence permits the use of low fouling resistance values.
5. Media cannot intermix; they are isolated by the welded closing on one side of each
passage.
6. The spiral exchanger is compact and requires less installation and servicing space than
conventional exchangers of equivalent surface.
7. They are easily maintainable. By removing the covers of the spiral exchanger, the entire
lengths of the passages are easily accessible for inspection or mechanical cleaning, if
necessary. Similarly, because of the single passage on each side, the spiral heat
exchanger is readily cleaned with cleaning solutions without opening the unit.
8. Spiral plate exchangers avoid problems associated with differential thermal expansion
in non-cyclic service.
9. In axial flow, a large flow area affords a low pressure drop, which becomes especially
important when condensing under vacuum.

Lamination
Besides the pressure limitation noted earlier, the spiral plate exchanger also has the
following disadvantages :
1. Repairing an SPHE in the field is difficult; however, the possibility of leakage in a
spiral is less because it is generally fabricated from much thicker plate than tube walls.
2. Spiral plate exchangers are not recommended for service in which thermal cycling is
frequent. When used for such services, the unit sometimes must be designed for higher
stresses.
3. The SPHE usually should not be used when a hard deposit forms during operation,
because the spacer studs prevent such deposits from being easily removed by drilling.

Fouling Tendencies
Fouling is defined as the formation on heat exchanger surfaces of undesirable deposits
that impede the heat transfer and increase the resistance to fluid flow, resulting in higher
pressure drop. The growth of these deposits causes the thermohydraulic performance of heat
exchanger to decline with time. Fouling affects the energy consumption of industrial processes,
and it also decides the amount of extra material required to provide extra heat transfer surface
to compensate for the effects of fouling. Compact heat exchangers are generally preferred for
nonfouling applications. In a shell and tube unit, the fluid with more fouling tendencies should
be put on the tubeside for ease of cleaning. On the shellside with cross baffles, it is sometimes
difficult to achieve a good flow distribution if the baffle cut is either too high or too low.
Stagnation in any regions of low velocity behind the baffles is difficult to avoid if the baffles
are cut more than about 20%25%. PHEs and spiral plate exchangers are better chosen for
fouling services. The flow pattern in PHE induces turbulence even at comparable low
velocities; in the spiral units, the scrubbing action of the fluids on the curved surfaces
minimizes fouling. Also consider Philips RODbaffle heat exchanger, TWISTED TUBE heat
exchanger, Helixchanger heat exchanger or EMbaffle heat exchanger to improve flow
velocity on shellside, enhance heat transfer performance and reduce fouling tendencies on
shellside.

Maintenance, Inspection, Cleaning, Repair, and Extension Aspects


Consider the suitability of various heat exchangers as regards maintenance, inspection,
cleaning, repair, and extension. For example, the pharmaceutical, dairy, and food industries
require quick access to internal components for frequent cleaning. Since some of the heat
exchanger types offer great variations in design, this must be kept in mind when designing for
a certain application. For instance, consider inspection and manual cleaning. Spiral plate
exchangers can be made with both sides open at one edge, or with one side open and one closed.
They can be made with channels between 5 and 25 mm wide, with or without studs. STHE can
be made with fixed tubesheets or with a removable tube bundle, with small- or large-diameter
tubes, or small or wide pitch. A lamella heat exchanger bundle is removable and thus fairly
easy to clean on the shellside. Inside, the lamella, however, cannot be drilled to remove the
hard fouling deposits. Gasketed PHEs are easy to open, especially when all nozzles are located
on the stationary end-plate side. The plate arrangement can be changed for other duties within
the frame and nozzle capacity.

Repair of some of the shell and tube exchanger components is possible, but the repair
of expansion joint is very difficult. Tubes can be renewed or plugged. Repair of compact heat
exchangers of tube-fin type is very difficult except by plugging of the tube. Repair of the platefin exchanger is generally very difficult. For these two types of heat exchangers, extension of
units for higher thermal duties is generally not possible. All these drawbacks are easily
overcome in a PHE. It can be easily repaired, and plates and other parts can be easily replaced.
Due to modular construction, PHEs possess the flexibility of enhancing or reducing the heat
transfer surface area, modifying the pass arrangement, and addition of more than one duty
according to the heat transfer requirements at a future date.

Daftar Pustaka
-

Heat Exchanger Design Handbook, 2nd Edition-2013,

DAFTAR PUSTAKA

http://chemicalengineeringnow.blogspot.co.id/2015/03/heat-exchanger-alat-penukarpanas.html

http://server2.docfoc.us/uploads/Z2015/12/23/EwO8YgSRl2/2d9d328c4781d2a24fa8
b2a2dc615904.docx

Heat Exchanger Design Handbook, 2nd Edition-2013