You are on page 1of 9

Crown Lengthening

Mahkota gigi yang pendek dapat menyebabkan retensi yang kurang dan pada
akhirnya mengakibatkan preparasi gigi yang kurang tepat. Pemanjangan mahkota
gigi melalui operasi dilakukan untuk menambah panjang mahkota klinis tanpa
merusak kelebaran biologis nya. Beberapa teknik telah diajukan untuk prosedur
pemanjangan mahkota ini antara lain gingivektomi, flap apical dengan atau tanpa
pengangkatan tulang, dan operasi ekstrusi menggunakan periotome. (Nethravathy,
Vinoth and Thomas, 2013)
Tujuan Operasi Pemanjangan Mahkota (Nethravathy, Vinoth and Thomas, 2013)
1. Proses untuk memperoleh struktur gigi sehat yang cukup dalam kasus
fraktur gigi subgingival dan lesi karies.
2. Meningkatkan retensi dari restorasi gigi
3. Penempatan margin restorasi yang benar tanpa melanggar lebar biologis
dari gigi.
4. Aspek estetik yang meningkat untuk paseien dengan margin gingiva yang
tak seimbang.

Sebelum prosedur operasi


operasi

Sesudah Prosedur

Sumber :
Nethravathy, R., Vinoth, S. and Thomas, A. (2013). Three different surgical
techniques of crown lengthening: A comparative study. Journal of Pharmacy and
Bioallied Sciences, 5(5), p.14.

Interdental Papillae Reconstruction


Kehilangan interdental papilla depat menyebabkan kelainan kosmetik pada
struktur gigi dan mulut , masalah fonetik, dan impaksi sisa makanan pada daerah
lateral. Seringkali kehilangan papilla disebabkan oleh penyakit periodontal
disebabkan oleh inflamasi gingiva, kehilangan perlekatan, dan resorpsi tinggi
tulang interproksimal. Hilangnya papilla juga dapat disebabkan terapi operasi
periodontal, disebabkan karena jaringan lunak biasanya kontraksi pada masa
penyembuhan.
Penyebab Kehilangan Interdental Papilla

Tidak adanya atau hilangnya interdental papillae dapat disebabkan oleh beberapa
alas an, antara lain :
1. Lesi terkait plak
2. Kebiasaan oral hygiene yang traumatis
3. Bentuk abnormal gigi
4. Kontur yang tidak baik dari restorasi
5. Adanya celah antar gigi
6. Hilangnya gigi
Rekonstruksi dari Interdental Papillae yang Hilang
a. Teknik Non-Operatif
Pembenaran dari kebiasaan perawatan gigi yang traumatis
Diffuse erythema dan denudasi dari attached gingiva pada rongga mulut dapat
disebabkan oleh penyikatan gigi yang salah. Penggunaan dental floss yang salah
dapat menyakiti interdental papillae. Kebiasaan ini harus dihentikan dan diubah.
Reepitelisasi dari lesi traumatis dapat mengembalikan papilla seperti sediakala.
Metode restorative atau prostetik
Bentuk abnormal gigi dapat terlibat dalam tidak terbentukanya papilla, dan teknik
restorasi yang tidak benar terindikasi turut berperan dalam terpisahnya jaringan
interdental. Dengan pembentukan ulang secara restorative atau menggunakan
prostetik dari kontur gigi, titik kontak akan dapat diperpanjang dan diletakkan
lebih kea rah apical; embrasure dapat dikurangi, memungkinkan perpindahan
interdental gingiva kearah koronal.
Pendekatan secara Ortodontik
Penutupan melalu prosedur ortodontis dari interdental space dicapai dengan
penggerakan secara fisik dua gigi yang berdampingan. Tujuannya adalah

mengurangi diastema dan mendapat titik kontak diantara kedua gigi, tanpa
menggunakan upaya operasi periodontal untuk membentuk papilla yang
hilang.Efek dari perawatan ortodontik ini adalah perubahan pada struktur jaringan
penyangga, menyebabkan perubahan yang mengikuti pada ketinggian tulang dan
kontur jaringan lunak dan dengan demikian membentuk papilla baru.

Kuretase berulang dari papilla


Kuretase berulang seiap 15 hari untuk 3 bulan untuk membentuk ulang papilla
yang hancur akibat necrotizing gingivitis, menginduksi reaksi inflamasi
proliferative hiperplastik pada papilla. Sekitar 9 bulan setelah perawatan awal,
regenerasi dari interdental papilla mulai tampak. Beberapa struktur papilla
menunjukkan regenerasi total, namun ada juga yang tidak menunjukkan respon
terhadap kuretase periodik.
b. Teknik Operatif
Beberapa metode operatif telah diajukan untuk mencegah dan/atau mengatasi
gangguan estetis karena hilangnya interdental papilla, terutama pada pasien usia
muda. Interdental papilla merupakan daerah kecil dengan suplai darah yang
sedikit. Faktor ini menjadi faktor penghalang yang besar untuk semua prosedur
operasi rekonstruktif dan teknik augmentasi. Sebagian besar teknik operatif
melibatkan grafting tulang pada gingiva, namun keberhasilannya rendah karena
suplai darah yang tidak memadai.
Pendekatan operatif melibatkan prosedur-prosedur sebagai berikut :
1. Pembentukan kembali kontur papilla
2. Preservasi papilla.
3. Rekonstruksi papilla.

Singh VP, Uppoor AS, Nayak DG, Shah D. Black triangle dilemma and its
management in esthetic dentistry. Dent Res J (Isfahan) 2013;10:296-301.

Periodontal acrylic veneer


Penyakit periodontal menyebabkan kerusakan dan hancurnya dari struktur
penyangga gigi, termasuk juga tulang dan ligamen periodontal. Dalam beberapa
kasus, ada kehilangan perlindungan gingiva pada gigi di regio anterior, dengan
resesi gingiva dan hilangnya interdental papilla. Perawatan operatif pada situasi
demikian

sangat

beresiko,

membutuhkan

waktu

penyembuhan

yang

berkepanjangan, dan hasilnya tidak dapat diprediksi; menjadikan metode ini tidak
dianjurkan.
Rekonstruksi pada daerah ini menggunakan protesa seperti gingival veneer dapat
digunakan untuk merawat kecacatan yang ada setelah kontrol dari penyakit

periodontal,

terutama pada regio anterior rahang atas. Dokter gigi dapat

memberikan gingival veneer yang nyaman dan

pas, yang stabil dan

mengembalikan estetika dari daerah yang mengalami kecacatan karena hilangnya


interdental papilla dan resesi gingiva. Metode ini merupakan pilihan inovatif
untuk mengatasi permasalahan estetik dan kesehatan gigi dalam jangka panjang.
(Patil, Danane and Prabhu, 2011)

Flap diangkat dan kontur ulang tulang


dilakukan

Flap dijahit dan periodontal


pack diletakkan

Post tindakan operasi (2 minggu)


dipasang pada

Periodontal veneer
regio anterior rahang atas

Sumber:
Patil,S.,Danane,N.andPrabhu,V.(2011).Gingivalveneer:Masktheunesthetic.
JournalofIndianSocietyofPeriodontology,15(3),p.284.

Dental Implant

Dental implant merupakan struktur gigi tiruan yang dibuat sedemikian rupa untuk
menggantikan fungsi dari akar dan jaringan penyangga gigi asli yang telah hilang.
Teknologi ini menggunakan pasak yang terbuat dari logam campur titanium yang
dapat berosteointegrasi dengan tulang rahang sebagaimana dengan gigi alami.
Setelah implant dipasang, pasak tersebut digunakan sebagai media tempat untuk
pemasangan mahkota porselen. Metode ini merupakan metode terbaik saat ini
bagi pasien yang kehilangan akar dan mahkota gigi sekaligus.
Bagian-Bagian Utama dari Dental Implant :
a. Mahkota
Mahkota merupakan bagian teratas dari restorasi dan merupakan bagian yang
tampak pada rongga mulut. Bagian ini menggantikan fungsi gigi asli dengan
memberikan permukaan gigit dan aspek estetik. Mahkota yang baik dibuat dengan
tangan oleh teknisi gigi. Mahkota dapat di semen maupun disekrupkan ke
abutment.
Material yang digunakan : Porselen (bisa fused to metal ataupun tanpa logam )
atau logam (biasanya emas)
Hal yang harus dipertimbangkan: Pola gigit, keausan, aspek estetis

b. Abutment
Abutment berfungsi untuk menyangga mahkota (atau beberapa mahkota pada
kasus pembuatan gigi tiruan tetap). Bagian ini juga merupakan penghububg antara
mahkota dan implant. Abutment tersedia dalam bentuk jadi dengan angulasi yang
tetap dari pabrikan dalam ukuran yang berbeda (diameter penghubung) dan
material yang berbeda pula. Abutment dibuat dengan ukuran khusus untuk
mendapatkan ketepatan ukuran yang sesuai dengan mahkota. Abutment yang
disiapkan kemudian disekrupkan dengan kunci ulir ke implant menggunakan alat
pencari posisi khusus dan memandu secara tepat ke posisi pemasangan.
Material yang digunakan: Titanium.
Hal yang harus dipertimbangkan: Bentuk, sudut pemasangan, panjang dan ukuran
platform.
c. Implant atau Fixture
Implant memberikan fondasi atau jangkar bagi sebuah restorasi. Bagian ini
disekrupkan langsung ke tulang rahang memberikan tempat yang permanen
dimana abutment dapat dipasangkan. Jaringan tulang dapat tumbuh di sekitar
implant meregenerasi dan memperkuat rahang mengurang bone loss yang terjadi
saat gigi alami hilang.
Implant tersedia dalam beragam panjang, bentuk, dan lebar (ukuran platform).
Setiap pabrikan memiliki design implant mereka sendiri. Fitur unik ini
mengharuskan baik dokter gigi maupun teknisi mengikuti prosedur individual dari
pabrikan dan panduan untuk memasang maupun juga untuk mrmbuat protesa yang
terkait dengan implant.
Material yang digunakan : Titanium.

Hal yang harus dipertimbangkan: Sebagian besar aspek medis, termasuk keadaan
tulang tahang dan permasalahan tempat untuk pemasangan; konsultasi dengan
bidang terkait diperlukan sebelum prosedur dilakukan.