You are on page 1of 17

MAKALAH KONSEP DASAR KEPERAWATAN

BERPIKIR KRITIS DALAM PENGKAJIAN


KEPERAWATAN

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2 :


ADE LISNA YULIAWATI
EVINA
KURNIAWAN ADIWIDIA
MONIKA RINI PUSPITASARI
PUTRI CHAIRIAH
SRI ANDAYANI
SRI RAHAYU
TIYA YULIA

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS INDONESIA
2010
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keperawatan didefinisikan sebagai diagnosis dan tindakan terhadap respon
manusia pada masalah kesehatan aktual maupun potensial dan situasi kehidupan
(Nursing: A Social Policy Statement, 1985, NANDA,1990)
Perawat memiliki dua fokus dalam praktek klinik, yaitu sebagai
kolaborator dengan disiplin ilmu lain dan sebagai pemberi asuhan keperawatan
primer (Carpenito, 1993). Oleh karena itu, seorang perawat harus memiliki
pengetahuan yang baik di bidang ilmu yang terkait, seperti : anatomi, fisiologi,
patofisiologi, dan lain-lain.
Pengkajian adalah langkah pertama dalam proses keperawatan, dimana
seorang perawat mengumpulkan seluruh informasi yang dibutuhkan dari klien
terkait masalah kesehatan. Perawat dapat menerapkan pengetahuan ilmiah,
disiplin ilmu keperawatan, dan pengalamannya untuk menggali keunikan masalah
perawatan kesehatan klien.
Dalam proses pengkajian, seorang perawat harus memiliki keterampilan
berfikir kritis agar dapat menggali informasi yang relavan dari klien, dan dalam
mengkaji respon klien terhadap masalah kesehatannya, untuk mamberikan
tindakan perawatan yang paling efektif dan sesuai untuk klien, sehingga kapanpun
terjadi perubahan respon klien, seorang perawat harus selalu memberi penilaian
yang benar. Salah satu tanda praktek keperawatan ahli adalah selalu terbuka
terhadap perubahan klien dalam situasi klinis (Carvenali & Thomas).
B. TUJUAN PENULISAN
Diharapkan mampu

menerapkan

keterampilan

berfikir kritis

dalam

menganalisa fenomena yang ada dan membuat keputusan klinis dengan


-

menggunakan pendekatan proses keperawatan


Memiliki pengetahuan dan keterampilan berfikir kritis dalam proses
pengkajian keperawatan.

Mampu mererapkan keterampilan berfikir kritis dalam melakukan proses


keperawatan.

C. METODE PENULISAN
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif dengan
menggunakan data yang terdapat dalam literature buku panduan.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II

PEMBAHASAN

BAB III KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI PENGKAJIAN
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat
mengidentifikasi,

mengenali

masalah-masalah,

kebutuhan

kesehatan

dan

keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan (Effendy, 1995).
Pengkajian adalah suatu proses pengumpulan data yang sistematis untuk
menentukan status kesehatan pasien dan untuk mengidentifikasi semua masalah
kesehatan baik aktual maupun potensial (Brunner & Suddarth).
Menurut M. Gaie & Barbara dalam bukunya Critical Thinking in
Nursing, mengungkapkan bahwa Pengkajian adalah pemikiran tentang informasi
yang harus dikumpulkan, proses pengumpulan informasi, pemikiran tentang
kesesuaian informasi itu dan menggambarkan kesimpulan tentang respon pasien
terkait masalah kesehatan atau keadaan sakitnya.
Menurut Bandman dan Bandman, (1995), Pengkajian keperawatan adalah
proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien.
Fase proses keperawatan ini mencakup 2 langkah: pengumpulan data dari sumber
primer (klien) dan dari sumber sekunder (keluarga dan tenaga kesehatan) dan
analisis data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan.
B. TUJUAN PENGKAJIAN
Menetapkan

dasar

data

tentang

kebutuhan,

masalah

kesehatan,

pengalaman yang berkaitan, praktik kesehatan, tujuan , nilai dan gaya hidup klien.
Informasi

yang

terdapat

dalam

dasar

data

adalah

dasar

untuk

mengindividualisasikan rencana asuhan keperawatan, mengembangkan dan


memperbaiki sepanjang waktu asuhan keperawatan terhadap pasien.
C. BERFIKIR KRITIS DALAM PENGKAJIAN
Pengkajian harus relevan dengan masalah kesehatan yang dihadapi klien,
oleh karenanya, seorang perawat tidak harus terpaku dengan format pengkajian

yang telah ada. Pengkajian bersifat dinamis, dan memungkinkan perawat untuk
secara bebas menggali masalah yang relevan.
Seorang perawat harus memiliki kemampuan berfikir kritis tentang apa
yang harus dikaji. Penilaian mandiri tentang kapan pertanyaan atau pengukuran
diperlukan adalah dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman klinik seorang
perawat (Gordon, 1994). Perawat harus mengumpulkan dan menginterpretasi
informasi secara akurat dan membuat penilaian seksama yang menunjang
pengambilan keputusan yang baik di dalam lingkungan perawatan kesehatan yang
kompleks.
Carnevali dan Thomas, (1993), menyarankan 2 pendekatan untuk
mengumpulkan data yang komprehensif: yaitu:
1) Format data dasar komprehensif yang terstruktur.
2) Pendekatan yang berorientasi masalah yang difokuskan pada situasi klien saat
ini.
Pendekatan

apapun

yang

digunakan,

seorang

perawat

harus

mengelompokan informasi yang didapat dan mulai mengidentifikasi pola yang


tampak dan masalah potensial.
Berfikir kritis mencakup sikap jujur dan keterampilan intelektual yang digunakan
dalam melakukan proses (Wilkinson, 1992) .
Aktivitas berfikir kritis dalam pengkajian yaitu :
1. Mengumpulkan data klien yang sesuai melalui pengamatan, pemeriksaan,
wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan dan menelaah catatan kesehatan
klien.
2. Membedakan data yang relevan dengan data yang tidak relevan.
3. Membedakan data yang penting dengan data yang tidak penting
4. Memvalidasi data dengan orang lain.
D. PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang
dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhankebutuhan keperawatan dan kesehatan klien.

Pengumpulan data dimulai sejak klien masuk ke rumah sakit (initial


assessment), selama klien dirawat secara terus - menerus (on going assessment),
serta pengkajian ulang untuk menambah / melengkapi data (re-assessment).
1. Tujuan Pengumpulan Data
Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien
Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien
Untuk menilai keadaan kesehatan klien
Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langah-langkah
berikutnya.
2. Tipe Data
Selama proses pengkajian perawat akan menemukan 2 tipe data yaitu :
Data Subjektif
Persepsi klien tentang masalah kesehatan mereka (Potter dan Perry. 1997).
Data ini biasanya mencakup perasaan ansietas, ketidaknyamanan fisik
atau stress mental. Data ini hanya klien yang dapat memberikan
jawabannya, tapi seorang perawat juga harus waspada bahwa masalah ini
dapat terjadi pada perubahan fisiologis, yang dapat teridentifikasi dari data
objektif.
Data Objektif
Data yang didapat dari hasil pengamatan atau pengukuran yang dibuat
oleh pengumpul data, berdasarkan standar yang diterima seperti
pengukuran tanda vital, pengukuran tinggi badan, adanya ruam merah
dikulit, dan lain-lain. Data ini juga didapatkan dari hasil observasi dan
pemeriksaan fisik dengan teknik inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
3. Sumber Data
Dasar data dalam pengkajian dapat diperoleh dari berbagai sumber
diantaranya :
1) Klien sendiri sebagai sumber data utama (primer)
2) Orang terdekat
3) Catatan klien
4) Riwayat penyakit (pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan)
5) Tinjauan literatur.
6) Hasil pemeriksaan diagnostik
7) Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya.
6

4. Metode Mengumpulkan Data


Cara yang biasa digunakan untuk mengumpulkan data tentang klien
antara lain: wawancara (interview), pengamatan (observasi), pemeriksaan
fisik (pshysical assessment) dan studi dokumentasi.
WAWANCARA
Wawancara adalah menanyakan atau membuat tanya-jawab yang
berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh klien, biasa juga disebut dengan
anamnesa. Anamnesa bisa dilakukan kepada pasien langsung yang disebut
autoanamnesa, dan kepada orang yang terdekat dengan pasien disebut
alloanamnesa. Wawancara berlangsung untuk menanyakan hal-hal yang
berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu
komunikasi yang direncanakan.
Tujuan dari wawancara adalah:
a.
b.
c.

memperoleh data tentang masalah kesehatan dan masalah keperawatan klien.


menjalin hubungan antara perawat dengan klien.
membantu klien memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam identifikasi

d.

masalah dan tujuan keperawatan.


membantu perawat untuk menentukan investigasi lebih lanjut selama tahap
pengkajian.
Teknik komunikasi yang dilakukan oleh perawat selama melakukan proses

asuhan keperawatan adalah komunikasi terapeutik, yang terdiri dari 2 jenis


komunikasi yaitu verbal dan non verbal. Teknik verbal meliputi pertanyaan
terbuka atau tertutup, menggali jawaban dan memvalidasi respon klien. Teknik
non verbal meliputi : mendengarkan secara aktif, diam, sentuhan dan konta mata.
Tahapan wawancara:
1.

Fase Persiapan / Orientasi

Sebelum memulai sebuah wawancara, perawat harus menetapkan


tujuan, tipe data, dan metode yang palaing sesuai untuk melakukan
wawancara.
Perawat membuka wawancara dengan salam, lalu menjelaskan
tujuan, mendiskusikan tipe pertanyaan yang diajukan, dan meluangkan waktu
untuk saling mengenal dengan klien, serta membina hubungan saling percaya.
2.

Fase kerja
Selama tahap kerja dalam wawancara, perawat memfokuskan arah
pembicaraan pada masalah khusus yang ingin diketahui. Pada fase ini
perawat mengunakan 4 teknik wawancara yaitu: teknik mencari masalah,
pemecahan masalah, pertanyaan langsung, dan pertanyaan terbuka. Seorang
perawat harus memperhatikan 10 strategi komunikasi efektif, yaitu:
Diam
Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Menunjukan penerimaan, tanpa menghakimi
Pertanyaan yang berkaitan
Memparafrase memvalidasi informasi dari klien tanpa mengubah makna
pernyataan.
Mengklarifikasi
Berfokus, membatasi area diskusi
Menyatakan observasi memberikan umpan balik
Memberikan informasi
Meringkas

3.

Fase Terminasi
Perawat mempersiapkan untuk penutupan wawancara. Untuk itu
klien harus mengetahui kapan wawancara dan tujuan dari wawancara pada
awal perkenalan, sehingga diharapkan pada akhir wawancara perawat dan
klien mampu menilai keberhasilan dan dapat mengambil kesimpulan

bersama. Jika diperlukan, perawat perlu membuat perjanjian lagi untuk


pertemuan berikutnya.
Teknik Wawancara adalah :
1. Teknik Mencari masalah
Bertujuan untuk mengidentifikasi masalah potensial yang dihadapi klien,
pengumpulan data selanjutnya difokuskan pada masalah tersebut.
2. Teknik Pemecahan Masalah
Teknik ini difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam pada
masalah spesifik yang diidentifikasi oleh klien atau perawat (ivey,1988).
3. Teknik Pertanyaan Langsung
Wawancara pertanyaan langsung adalah format terstruktur yang
membutuhkan jawaban satu atau dua kata dan serung kali digunakan untuk
mengklarifikasi informasi sebelumnya atau memberikan informasi tambahan
(ivey,1988).
Tipe pertanyaan seperti ini sangat berguna dalam data biografi dan informasi
spesifik mengenai masalah kesehatan seperti, gejala, factor pencetus, dan
tindakan pereda.
4. Teknik Pertanyaan Terbuka
Wawancara ini ditujukan untuk mendapatkan respon lebih dari satu atau dua
kata. Mengarah pada diskusi dimana pasien secara aktif menguraikan
massalah kesehatannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara dengan
klien adalah:
1. Menerima klien apa adanya
2. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menyampaikan keluhankeluhannya / pendapatnya secara bebas
3. Dalam melakukan wawancara harus dapat menjamin rasa aman dan nyaman
bagi klien
4. Perawat harus bersikap tenang, sopan dan penuh perhatian
5. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
6. Tidak bersifat menggurui

7. Memperhatikan pesan yang disampaikan


8. Mengurangi hambatan-hambatan
9. Posisi duduk yang sesuai (berhadapan, jarak tepat/sesuai, cara duduk)
10. Menghindari adanya interupsi
11. Mendengarkan penuh dengan perasaan
12. Memberikan kesempatan istirahat kepada klien
Hambatan wawancara :
1) Internal :
a. Pandangan atau pendapat yang berbeda
b. Penampilan klien berbeda
c. Klien dalam keadaan cemas, nyeri, atau kondisinya menurun
d. Klien mengatakan bahwa ia tidak ingin mendengar tentang sesuatu hal
e. Klien tidak senang dengan perawat, atau sebaliknya
f. Perawat berpikir tentang sesuatu hal yang lain / tidak fokus ke pasien
g. Perawat sedang merencanakan pertanyaan selanjutnya
h. Perawat merasa terburu-buru
i. Perawat terlalu gelisah atau terburu-buru dalam bertanya
2) External ;
a. Suara lingkungan gaduh: TV, radio, pembicaraan di luar
b. Kurangnya privacy
c. Ruangan tidak memadai untuk dilakukannya wawancara
d. Interupsi atau pertanyaan dari staf perawat yang lain.
PENGAMATAN / OBSERVASI
Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan klien untuk
memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. Observasi
dilakukan dengan menggunakan penglihatan dan alat indra lainnya, melalui

10

rabaan, sentuhan dan pendengaran. Tujuan dari observasi adalah mengumpulkan


data tentang masalah yang dihadapi klien melalui kepekaan alat panca indra.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi adalah :
1. Tidak selalu pemeriksaan yang akan kita lakukan dijelaskan secara terinci
kepada klien (meskipun komunikasi terapeutik tetap harus dilakukan), karena
terkadang hal ini dapat meningkatkan kecemasan klien atau mengaburkan
data (data yang diperoleh menjadi tidak murni). Misalnya: Pak, saya akan
menghitung nafas bapak dalam satu menit. kemungkinan besar data yang
diperoleh menjadi tidak valid, karena kemungkinan klien akan berusaha
untuk mengatur nafasnya.
2. Menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual klien
3. Hasilnya dicatat dalam catatan keperawatan, sehingga dapat dibaca dan
dimengerti oleh perawat yang lain.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk
menentukan masalah kesehatan klien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranya adalah
1. Inspeksi
Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang
diperiksa melalui pengamatan. Hasilnya seperti : Mata kuning (icteric),
terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dll.
2. Palpasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui perabaan terhadap bagianbagian tubuh yang mengalami kelainan. Misalnya adanya tumor, oedema,
krepitasi (patah / retak tulang), dll.
3. Auskultasi

11

Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui pendengaran. Biasanya


menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan
adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.
4. Perkusi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh
menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk mengetahui
reflek seseorang (dibicarakan khusus). Juga dilakukan pemeriksaan lain yang
berkaitan dengan kesehatan fisik klien. Misalnya : kembung, batas-batas
jantung, batas hepar-paru (mengetahui pengembangan paru), dll.
Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan :

Head-to-toe (dari kepala s.d kaki)


ROS (Review of System)
Pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982)

Setelah data terkumpul, dilakukan pengelompokkan data, yang dapat dilakukan


dengan cara :

Berdasarkan sistem tubuh


Berdasarkan kebutuhan dasar (Maslow)
Berdasarkan teori keperawatan
Berdasarkan pola kesehatan fungsional.

E. ANALISIS DATA
Analisis data merupakan kemampuan kognitif dalam pengembangan daya
berfikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan
pengetahuan, pengalaman, dan pengertian keperawatan. Dalam melakukan
analisis data, diperlukan kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan
data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat
kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.
Fungsi analisis data adalah :

12

1.

Dapat menginterpretasi data keperawatan dan kesehatan, sehingga data yang


diperoleh memiliki makna dan arti dalam menentukan masalah dan
kebutuhan klien

2.

Sebagai proses pengambilan keputusan dalam menentukan alternatif


pemecahan masalah yang dituangkan dalam rencana asuhan keperawatan,
sebelum melakukan tindakan keperawatan.
Pedoman analisis data adalah :

a)
b)
c)
d)

Menyusun kategorisasi data secara sistematis dan logis


Identifikasi kesenjangan data
Menentukan pola alternatif pemecahan masalah
Menerapkan teori, model, kerangka kerja, norma dan standar, dibandingkan

dengan data senjang


e) Identifikasi kemampuan dan keadaan yang menunjang asuhan keperawatan
klien
f) Membuat hubungan sebab akibat antara data dengan masalah yang timbul.
Cara analisis data :

Validasi data, teliti kembali data yang telah terkumpul


Mengelompokkan data berdasarkan kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritual
Membandingkan dengan standart
Membuat kesimpulan tantang kesenjangan (masalah keperawatan) yang
ditemukan.

F. PRIORITAS MASALAH
Apabila masalah telah diidentifikasi, maka disusun daftar masalah yang
ditemukan, kemudian diprioritaskan. Hal ini dilakukan karena tidak mungkin
semua masalah diatasi bersama-sama sekaligus. Jadi diputuskan masalah mana
yang yang dapat diatasi terlebih dahulu.
Dalam memprioritaskan kebutuhan klien, hierarki Maslow menjadi
rujukan perawat dalam menentukan pemenuhan kebutuhan klien. Kebutuhan
fisiologi menjadi kebutuhan utama manusia, kemudian diikuti oleh kebutuhankebutuhan psikososial seperti:

rasa aman-nyaman, pengetahuan, rasa cinta,

memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri.

13

G. DOKUMENTASI PENGKAJIAN
Dokumentasi data bermanfaat sebagai sarana komunikasi antar anggota tim
perawatan kesehatan dan memfasilitasi perencanaan yang terkoordinasi dan
kesinambungan

dari

perawatan.

Pada

saat

pengkajian,

data

yang

di

dokumentasikan adalah:
1. Initial Assessment:
a. Nursing History / Riwayat Keperawatan ( Interview / Data Subjektif ):
Data biografi, riwayat sakit, kemampuan tubuh saat ini, harapan, status
emosi, koping.
b. Data Pemeriksaan fisik ( Data Objektif ):didapatkan melalui pemeriksaan /
observasi: sistem tubuh, tanda vital dan pemeriksaan lain.
2. Data perkembangan pasien ( subjektif dan objektif )
3. Data yang telah divalidasi
4. Data yang telah di organisasikan
Semua proses pengkajian di dokumentasikan dalam dokumentasi permanen.
Syarat pendokumentasian yang baik adalah:
1. Data yang didokumentasikan harus dapat diakses, dikomunikasikan, dan
dicatat secara permanen
2. Pendokumentasian dilakukan pada hari yang sama dengan keadaan pasien saat
itu.
3. Tulisan harus rapih dan terbaca.
4. Menggunakan singkatan yang disahkan oleh badan / instansi
5. Jangan mencatat semua kata perkata saat berkomunikasi dengan pasien
karena hanya akan menggangu komunikasi anda dengan pasien.
6. Bila memungkinkan, saat pengkajian fokus dan komprehensive, catat data
subjektif dengan menggunakan istilah dari klien, gunakan tanda ( ).

14

7. Dokumentasikan Isyarat yang diekspresikan pasien ( apa yang klien katakan


dan apa yang anda lihat, dengar, rasakan, ukur, dan cium / smell ).
8. Jangan membuat kesimpulan ( interpretasi sendiri isyarat yang anda lihat ).
9. Pemikir kritis menggunakan istilah yang konkret dan spesifik, untuk
menggambarkan data.
10. Hindari generalisasi yang tidak jelas, misalnya: keadaan pasien baik, normal,
memadai/adequate, ditoleransi dengan baik. Misalnya: Pasien dapat melihat
dengan baik, tetapi lebih baik bila menulis, Pasien mampu membaca koran
dengan jarak 24 inchi ketika menggunakan kacamata.
Dokumentasi data juga bermanfaat untuk fungsi lain :
1. Dokumen yang bersifat bisnis dan legal bagi lembaga perawatan kesehatan
dan bagi staf profesional yang bertanggung jawab terhadap perawatan
perawatan pasien.
2. Dasar untuk mengevaluasi kualitas dan kesesuaian perawatan seperti halnya
untuk mengkaji kembali penggunaan yang efektif dari pelayanan perawatan
pasien
3. Dokumentasi memberikan data yang bermanfaat untuk penelitian, pendidikan
dan perencanaan jangka pendek dan jangka panjang.
Terdapat berbagai sistem yang digunakan untuk pendokumentasian
perawatan pasien. Tiap lembaga kesehatan memilih sendiri sistem yang paling
memenuhi kebutuhannya. Saat ini banyak lembaga perawatan kesehatan yang
sudah beralih ke sistem pendokumentasian dengan komputerisasi untuk lebih
menghemat waktu, meningkatkan pemantauan dari masalah peningkatan kualitas
dan memudahkan untuk memperoleh informasi tentang pasien.

15

BAB III
KESIMPULAN
Dalam melakukan proses keperawatan, seorang perawat harus menerapkan
cara berfikir kritis. Salah satunya dalam melakukan pengkajian yang merupakan
langkah awal dari proses keperawatan.
Dalam pengkajian, perawat harus mengumpulkan data untuk mengetahui
masalah kesehatan yang dihadapi oleh klien. Data yang dikumpulkan harus
menyeluruh meliputi aspek bio-psiko-sosial dan spiritual, dilakukan secara sistematis
dan terus-menerus.
Setelah data terkumpul, data tersebut dianalisis dengan dukungan pengetahuan
yang relevan, dikelompokan menurut kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritual dan
dicatat dalam catatan keperawatan secara sistematis dan berkesinambungan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses dan
praktik; alih bahasa: Yasmin Asih (et al). edisi 4. Jakarta : EGC.
Kozier, B, Erb, G. Berman, A.J. & Snyder. 2004. Fundamental of Nursing : Concept,
Process, and Practice. New Jersey: Pearson Education.
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medical Bedah, edisi 8. Volume 1. Jakarta :
EGC
Carpenito, L. J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 8, Jakarta : EGC.
Gordon. 1994. Nursing Diagnosis : Process and Aplication, 3th edition. St. Louis :
Mosby.
Rubenfeld, M. G. & Scheffer, B. K. 1999. Critical Thinking In Nursing : an
Interactive Aproach. 2nd edition. Philadelphia : Lipincott.
Kozier, B.Erb, Glenora & Patricia. 1989. Introduction to Nursing. Addison-Wesley
publishing.

17