You are on page 1of 8

Berita 1

Kebijakan Bebas Visa Jokowi, Untung atau Rugi?


JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan pemerintah memberikan bebas visa untuk
ratusan negara menuai pro dan kontra. Pemerintah mengklaim kebijakan ini akan
meningkatkan devisa. Pendapat sebaliknya muncul dari beberapa anggota DPR. Dalam rapat
gabungan bersama pemerintah, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin
mengatakan, kebijakan bebas visa dalam setahun ini telah menghilangkan potensi pendapatan
negara sampai dengan Rp 1 triliun.
Kebijakan ini dianggapnya berisiko tinggi, khususnya dari sisi keamanan.
Kalaupun kita dapat uang dari pariwisata, tapi risikonya tinggi, buat apa?" kata Hasanuddin,
di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/2/2016). Pada kesempatan sama, anggota
Komisi I DPR RI Effendi Simbolon juga mengkritik gebrakan Jokowi mengenai
pemberlakuan

bebas

visa

untuk

ratusan

negara.

(Baca: Effendi Simbolon Kritik Kebijakan Jokowi Bebas Visa).


Menurut Effendi, Indonesia lebih banyak mendapatkan kerugian dari kebijakan
tersebut. Politisi PDI Perjuangan itu, menuturkan, pemerintah memberikan bebas visa pada
ratusan negara untuk meningkatkan pendapatan devisa negara. Namun, ia menilai, mayoritas
negara yang mendapat fasilitas itu adalah negara yang masyarakatnya tidak memiliki tradisi
berlibur ke luar negeri. "Kebijakan bebas visa sebagai solusi untuk meningkatkan devisa, itu
tidak setimpal," kata Effendi. Ia melanjutkan, dalam rapat Komisi I DPR bersama Menteri
Luar Negeri beberapa waktu lalu, direkomendasikan agar kebijakan bebas visa untuk ratusan
negara dibatalkan.
Pemerintah dianggap tidak terbuka dan kebijakan itu dinilai memberikan lebih banyak
kerugian. "Misalnya saya, liburan ke luar negeri bukan karena bebas visa," ujarnya. Effendi
melanjutkan, kebijakan bebas visa untuk ratusan negara juga membuat pengawasan masuk
dan keluarnya warga negara asing semakin sulit. Ia khawatir kebijakan ini akan
meningkatkan status Indonesia sebagai negara tujuan kelompok radikal. "Apakah ada
jaminan backpackers itu bawa uang ke Indonesia, apakah ini cara kita mendapatkan dollar?"
ungkapnya.

Bebas visa untuk 84 negara


Pemerintah memberlakukan kebijakan bebas visa kunjungan terhadap 84 negara di
dunia. Kemudian, pemerintah melakukan penambahan kepada beberapa negara hingga
akhirnya bebas visa diberlakukan kepada total 174 negara di dunia.
Negara-negara baru yang mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan di antaranya,
Australia, Brasil, Ukraina, Kenya, Uzbekistan, Banglades, Kamerun, Palestina, Honduras,
Pakistan dan Mongolia, Sierra Leone, Uruguay, Bosnia-Herzegovina, Kosta Rika, Albania,
Mozambik, Macedonia, El Salvador, Zambia, Moldova, Madagaskar, Georgia, Namibia,
Kiribati, Armenia, Bolivia, Bhutan, Guatemala, Mauritania, dan Paraguay.
Ada beberapa negara yang tidak dimasukkan daftar negara yang diberi fasilitas bebas
visa. Negara-negara tersebut merupakan negara yang aktif dalam perdagangan narkoba dan
eksportir ideologi ekstrem. Hal ini dilakukan untuk menghindari Indonesia menjadi ladang
baru ideologi ekstrem dan radikal. Juga terdapat negara-negara yang diberi perhatian khusus,
yaitu Brasil, China, dan Australia. Brasil diberikan bebas visa setelah hubungan membaik
pasca-konflik diplomatik terkait kasus hukuman mati.
Dongkrak devisa
Presiden Jokowi menyatakan, kebijakan bebas visa diterapkan untuk mendongkrak
devisa melalui pariwisata. Terkait dampak keamanan yang dapat timbul setelah pemberlakuan
ini, Jokowi mengaku tidak khawatir. Menurut Jokowi, kebijakan bebas visa untuk
meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) jangan dicampuraduk dengan isu
keamanan. Ia percaya Polri mampu menjamin keamanan setelah kebijakan bebas visa
diterapkan. "Kamu lihat Singapura, Malaysia (memberlakukan bebas visa ke) 170 negara
lebih. Mereka aman-aman saja kan? Kenapa dulu kita hanya 15 negara yang diberi bebas
visa?" kata Jokowi.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia
selama Januari-Desember 2015 melampaui target. Jumlah wisman yang datang ke Indonesia
sepanjang 2015 mencapai 10.406.759. Jumlah itu melampaui angka yang ditargetkan
pemerintah sekitar 10 juta wisman. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan, angka
proyeksi kunjungan wisman pada 2015 sebesar 10,017 juta atau tumbuh 7,2 persen. Dari
angka tersebut, perolehan devisa pariwisata mencapai 11,9 miliar dollar AS atau setara Rp

163 triliun dengan perhitungan rata-rata lama tinggal wisman selama berlibur di Indonesia
adalah 8,50 hari dengan pengeluaran sebanyak 1.190 dollar AS per wisman per kunjungan.
Pertumbuhan pariwisata Indonesia tahun 2015 ini diklaim berada di atas pertumbuhan
pariwisata dunia sebesar 4,4 persen dan pertumbuhan pariwisata kawasan ASEAN sebesar 6
persen. "Pertumbuhan pariwisata Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara kompetitor
Malaysia, Singapura, dan Thailand," kata Arief. Dengan capaian ini, kata Arief, akan memacu
pemerintah mencapai target kunjungan 12 juta wisman pada 2016.
Sejumlah akselerasi telah disiapkan untuk mencapai target tersebut. Di antaranya
dengan mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas, Candi Borobudur, Mandalika, Labuhan
Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai,
dan Tanjung Kelayang. Pemerintah juga akan membentuk badan otoritas nasional dalam
mengelola destinasi prioritas tersebut dan meyakini menghasilkan 8,5 juta wisman yang
berkunjung. Terobosan regulasi juga dilakukan pemerintah dengan memperbanyak pemberian
bebas visa kunjungan. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menarik satu juta wisman dengan
devisa sebesar 1 miliar dollar AS pada 2016.

Berita 2:
EFFENDI SIMBOLON KRITIK KEBIJAKAN JOKOWI BEBAS VISA
JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon
mengkritik

kebijakan

bebas

visa

yang

berlakukan

pemerintahan

Presiden

Joko

Widodo.Menurut Effendi, Indonesia lebih banyak mendapatkan kerugian dari kebijakan


tersebut.Ia menuturkan, pemerintah beralasan memberikan bebas visa pada ratusan negara
untuk meningkatkan pendapatan devisa negara.Namun, Effendi menilai mayoritas negara
yang diberikan bebas visa adalah negara yang masyarakatnya tidak memiliki tradisi berlibur
ke luar negeri."Kebijakan bebas visa sebagai solusi untuk meningkatkan devisa, itu tidak
setimpal," kata Effendi dalam rapat gabungan antara DPR dengan pemerintah di ruang
Banggar, Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/2/2016).
Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, dalam rapat Komisi I DPR bersama Menteri
Luar Negeri Retno LP Marsudi beberapa waktu lalu, direkomendasikan agar kebijakan bebas
visa untuk ratusan negara dibatalkan.Pemerintah dianggap tidak terbuka dan kebijakan itu
dinilai memberikan lebih banyak kerugian. (baca: Berlakukan Bebas Visa, Jokowi Tak Cemas

Isu Keamanan). "Misalnya saya, liburan ke luar negeri bukan karena bebas visa,"
ujarnya.Effendi melanjutkan, kebijakan bebas visa untuk ratusan negara juga membuat
pengawasan masuk dan keluarnya warga negara asing semakin sulit.Ia khawatir kebijakan ini
akan meningkatkan status Indonesia sebagai negara tujuan kelompok radikal. (baca:
Kunjungan Orang Asing ke Indonesia Naik 4,8 Persen di 2015). "Apakah ada jaminan
backpackers itu bawa uang ke Indonesia, apakah ini cara kita mendapatkan dollar?" kata dia.
Pemerintah memberlakukan kebijakan bebas visa kunjungan terhadap 84 negara di
dunia. (baca: Menpar Usulkan Tambahan 80 Negara Bebas Visa Tahun Ini). Kemudian,
pemerintah melakukan penambahan kepada negara hingga akhirnya bebas visa diberlakukan
kepada total 174 negara di dunia (baca: Penambahan Negara Bebas Visa ke Indonesia
Diteken April). Negara-negara baru yang mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan
diantaranya Australia, Brasil, Ukraina, Kenya, Uzbekistan, Banglades, Kamerun, Palestina,
Honduras, Pakistan dan Mongolia, Sierra Leone, Uruguay, Bosnia-Herzegovina, Kosta Rika,
Albania, Mozambik, Macedonia, El Salvador, Zambia, Moldova, Madagaskar, Georgia,
Namibia, Kiribati, Armenia, Bolivia, Bhutan, Guatemala, Mauritania, dan Paraguay.
Ada beberapa negara yang tidak dimasukkan daftar negara yang diberi fasilitas bebas
visa. Negara-negara tersebut merupakan negara yang aktif dalam perdagangan narkoba dan
eksportir ideologi ekstrem.Hal ini dilakukan untuk menghindari Indonesia menjadi ladang
baru ideologi ekstrem dan radikal. Juga terdapat negara-negara yang diberi perhatian khusus,
yaitu Brasil, China, dan Australia.Brasil diberi setelah hubungan membaik pasca-konflik
diplomatik terkait kasus hukuman mati.
Penulis
: Indra Akuntono
Editor
: Sandro Gatra
Senin, 15 Februari 2016 | 13:40 WIB

Berita 3:

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Indef Mengancam


Pertumbuhan Ekonomi
Lily Rusna Fajriah
Jum'at, 1 Januari 2016 12:57 WIB
JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang
Kemaritiman diminta hati-hati mengeluarkan kebijakan bebas visa bagi sejumlah negara.
Seperti diketahui belum lama ini Menko bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli
melanjutkan kebijakan tersebut dengan membebaskan visa kepada 84 negara.
(Baca Juga: Rizal Ramli Kembali Bebaskan Visa 84 Negara)
Kebijakan itu merupakan lanjutan dari pemberian bebas visa terhadap 47 negara pada
beberapa bulan lalu. Sehingga, total sebanyak 131 negara telah bebas visa. Namun Direktur
Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati
mengatakan harus dilihat secara detail apakah bebas visa ini memiliki dampak kepada
pertumbuhan ekonomi atau justru malapetaka di Indonesia.
"Sekarang berapa tambahan pariwisata yang masuk dengan adanya kebebasan bebas visa. Itu
pun harus dilihat, apa punya dampak terhadap pertumbuhan ekonomi melalui spending dari
pariwisata. Apa yang masuk itu betul-betul wisatawan yang berkontribusi terhadap spending,
hotel, transportasi dan sebagainya," katanya saat dihubungi Sindonews, Jumat (1/1/2016).
Menurutnya, yang dikhawatirkan adalah orang-orang asing yang masuk ke Tanah Air dengan
dalih menggunakan visa wisata, namun justru masuk ke sektor tenaga kerja. Jika begitu,
Indonesia akan mendapatkan masalah baru dengan meningkatnya jumlah pengangguran.
"Ini yang akan menambah tingkat pengangguran. Ini yang betul-betul juga harus dievaluasi,
apa orang yang masuk lintas negara itu betul-betul wisatawan atau tenaga kerja asing yang
masuk. Jadi ini yang juga harus dicermati," tandasnya.
(akr)
Sumber: http://ekbis.sindonews.com/read/1073772/33/kebijakan-bebas-visa-dinilai-indefmengancam-pertumbuhan-ekonomi-1451627858

Kajian Masalah

1. Kebijakan pemerintah mengenai pembebasan visa bagi warga negara asing yang akan
masuk ke Negara Indonesia, menuai pro dan kontra. Pihak yang pro dengan
diberlakukannya sistem bebas visa ini berpikir bahwa kebijakan ini akan menambah
jumlah wisatawan yang akan berkunjung maupun berlibur ke Indonesia, sehingga
devisa negara akan meningkat, sedangkan pihak yang kontra dengan kebijakan
tersebut berasumsi bahwa kebijakan tersebut akan merugikan negara, misalnya
keamanan negara akan terancam seperti akan mudahnya kelompok radikalisme masuk
dan akan lebih mengembangkan kelompok mereka dengan anggota dari warga negara
Indonesia. Kebijakan pemerintah ini dalam segi ekonomi sebenarnya sudah sesuai
dengan sila Pancasila untuk menyejahterakan masyarakat, karena dengan pembebasan
visa bagi warga negara asing yang masuk ke Indonesia akan meningkatkan devisa
negara, karena akan banyak wisatawan yang akan berlibur ke Indonesia. Namun,
dampaknya bagi segi sosial akan semakin melunturkan budaya-budaya yang ada di
Indonesia, karena tentunya wisatawan yang datang tidak hanya serta merta
berkunjung saja, namun secara tidak langsung pengaruh gaya hidup mereka juga ikut
tertular kepada lingkungan sekitar, sehingga hal ini bisa berpotensi menimbulkan
masalah degradasi moral bangsa. Masyarakat sekitar yang tidak kuat akan
pengaruhnya nanti bisa jadi mereka akan cenderung westernisasi, misalnya dalam hal
berpakaian dan perilaku.
2. Menurut kelompok kami kebijakan pemerintah mengenai pembebasan visa bagi
warga negara asing yang berkunjung ke indonesia ini kurang sesuai dengan nilai
pancasila. Kami menilai bahwa kebijakan ini telah bertentangan dengan pancasila.
Visa tersebut merupakan inti pemeriksaan identitas yang valid untuk seseorang yang
akan memasuki wilayah suatu negara, jadi jika warga negara asing dibebaskan dari
prosedur visa, kemungkinan besar seseorang yang tidak kita ketahui latar belakang,
tujuan, serta identitasnya maka kita tidak akan pernah tau dia berniat baik ataukah
berniat buruk. Jika orang tersebut berniat buruk dan memiliki paham radikal terhadap
pancasila, ini akan menjadi ancaman besar dan dapat melunturkan ideologi pancasila.
Belum lagi kasus terorisme, dan intinya hal ini bisa merusak sistem. Hal ini dapat
dengan mudahnya terjadi di indonesia karena sistem keamanan yang lemah dan
orang-orang luar dibebaskan keluar masuk wilayah NKRI. Kebijakan ini cenderung
hanya akan menguntungkan pihak-pihak yang berorientasi di sektor pariwisata saja.
Karena jika kita analisis lebih mendalam lagi, menurut kami kebijakan ini justru lebih
banyak memberikan kerugian baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

3. Faktor-faktor yang menyebabkan kebijakan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai


Pancasila menurut kelompok kami, yaitu:
a. Keamanan negara, kebijakan ini cenderung memperlihatkan sisi lemah dari
keamanan negara, karena ketika hal tersebut diberlakukan maka seluruh warga
negara asing yang terdaftar akan bebas keluar masuk wilayah NKRI, hal ini
tentunya akan mengancam keamanan NKRI, kemungkinan besar akan banyak
orang-orang asing yang akan membentuk sebuah organisasi yang bersifat
radikal yang ingin memecah kesatuan dan persatuan negara Indonesia, alhasil
wilayah Indonesia kini rentan karena semakin mudah disusupi kelompok
radikal dan teroris dari negara lain.
b. Rentannya perdagangan ilegal, kita tidak akan pernah tau apakah warga asing
datang benar-benar hanya ingin berlibur atau hanya sekedar mengunjungi
keluarga mereka yang ada di indonesia. Bisa saja mereka datang untuk
melakukan kegiatan perniagaan dengan masyarakat lokal. Namun yang perlu
kita perhatikan yakni apakah barang-barang yang mereka jual/perdagangkan
adalah barang legal atau ilegal. Karena dengan adanya kebijakan ini tanpa
adanya penguatan dalam hal keamanan, mereka dapat dengan mudahnya
keluar masuk wilayah NKRI dengan membawa berbagai macam hal yang
mungkin salah satunya dilarang di Indonesia. Misalnya saja narkoba dan
barang-barang lainnya yang tergolong kedalam psikotropika. Pada saat
indonesia tanpa kebebasan visa saja indonesia sudah berulang kali kebobolan.
Indonesia merupakan negara yang mudah ditembus oleh sindikat perdagangan
narkoba internasional. Dan memang banyak yang telah tertangkap dan
dihukum. Tetapi lebih banyak lagi yang berhasil lolos. Faktanya, peredaran
narkoba di indonesia masih tinggi dan sebagian besar narkoba datang dari luar
indonesia.
c. Semakin banyaknya negera asing yang masuk ke Indonesia dengan bebas,
maka mereka juga akan membawa berbagai kebudayaan dan gaya hidup yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, seperti cara berpakaian yang begitu
terbuka, yang mana hal tersebut akan melunturkan budaya Indonesia yang
mana orang-orangnya barpakaian sopan.
d. Efek negatif lainnya yang menimbulkan ketidak adilan. Memang benar bahwa
kebijakan bebas visa ini memberikan efek positif bagi mereka yang bekerja di
sektor pariwisata. Namun bagaimana dengan mereka yang bukan berada pada
sektor tersebut. Pertama, kebijakan ini dinilai meningkatkan angka

pengangguran warga lokal. Tidak semua wisatawan asing datang ke indonesia


untuk menghabiskan uang mereka berlibur di indonesia. Dikhawatirkan adalah
orang-orang asing yang masuk ke indonesia dengan dalih menggunakan visa
wisata, namun justru masuk ke sektor tenaga kerja. Jika begitu, Indonesia akan
mendapatkan masalah baru dengan meningkatnya jumlah pengangguran.
4. Kebijakan yang seharusnya dibentuk oleh pemerintah menurut kelompok kami, yaitu:
a. Tetap di berlakukan visa, namun untuk cara pengurusan visanya harus
dipermudah. Mungkin bukan karena biaya visa lah para turis mancanegara
enggan berkunjung ke indonesia melainkan proses administrasinya yang
seolah-olah dipersulit.
b. Keamanan negara harus lebih ditingkatkan kembali, sehingga kelompokkelompok radikal yang ingin merusak kesatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
dapat dicegah, dan juga peredaran narkoba yang masih tinggi dapat dicegah
sedini mungkin. Faktor keamanan juga masih menjadi persoalan yang harus
ditangani dengan serius jika ingin turis asing merasa enjoy berada di
Indonesia. Sayangnya sejauh ini faktor keamanan masih menjadi persoalan
yang serius di beberapa tempat di Indonesia, sehingga walau pun daerah
tersebut memiliki potensi wisata yang baik, wisatawan masih enggan datang.
Bahkan di Lombok saja yang pariwisatanya mulai berkembang, keamanan
terhadap turis asing masih belum terjamin sepenuhnya.
c. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di berbagai objek wisata. Karena
kunjungan seseorang untuk menjadi wisatawan ke negara lain, tidak sematamata karena kemudahan mengurus atau bahkan bebas visa. Yang paling utama
adalah apa yang ingin dilihat dan dirasakan di negara tujuan. Secara garis
besar adalah beberapa hal yang diinginkan oleh wisatawan dari negera yang
ditujunya yakni: Keindahan, keunikan, kenyamanan, keamanan dan
kemudahan. dengan jumlah destinasi dan potensi wisata Indonesia yang sangat
besar, seharusnya pemerintah, melalui kementerian pariwisata fokus dalam
pengembangan SDM dan pembenahan kondisi pariwisata. Dengan demikian
kebijakan bebas visa bagi wisatawan asing tidak perlu diberlakukan. Jika suatu
objek wisata sangat menarik dan layak untuk dikunjungi maka wisatawan pun
tidak akan mempermasalahkan mengenai biaya visa bahkan mereka rela
membayar dengan harga yang lebih mahal untuk mendapatkan pelayanan dan
pengalaman yang luar biasa.