You are on page 1of 11

LAPORAN PENDAHULUAN

I.

PENGERTIAN
Endometritis adalah infeksi endometrium,desidua dan miometrium pasca persalinan(
Morgan,Geri.obstetri dan ginekologi panduan praktis).
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim).
(Manuaba, I.B. G.).Endometritis adalah suatu infeksi yag terjadi di endometrium,
merupakan komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam setelah
melahirkan.
Endometritis adalah infeksi atau desidua endometrium, dengan ekstensi ke
miometrium dan jaringan parametrial. Endometritis dibagi menjadi kebidanan dan
nonobstetric endometritis. Penyakit radang panggul (PID) adalah sebuah Common
nonobstetric pendahulunya dalam populasi.

II. ETIOLOGI
Endometritis adalah penyakit yang disebabkan oleh polimikroba, rata-rata 2-3
organisme. Dalam banyak kasus, muncul dari infeksi ascending dari organisme yang
ditemukan di flora normal vagina (Rivlin, 2011).
Bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran genital pascapartum adalah:
1. Aerob:
Streptokokus grup A, B dan D
Enterokokus
Bateri gram-negatif Escherchia coli, Klebsiella dan Proteus
Staphylococcus aureus
Gardnerella vaginalis
2. Anaerob:
Spesies peptokokus
Spesies peptostreptokokus
Golongan Bacteroides fragilis
Spesies klostridium
Spesies fusobakterium

Spesies Mobiluncus
3. Lain-lain:
Spesies Mycoplasma
Chlamydia tracomatis
Neisseria gonorrhoeae (Leveno, 2009).
III. KLASIFIKASI
a. Endometritis akut
Pada endometritis post partum regenerasi endometrium selesai pada hari ke9, sehingga endometritis post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9.
Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus provokatus.
Pada endometritis akut, endometrium mengalami edema dan pada
pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti
polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang
paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.Infeksi
gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan radang menjalar ke atas dan
menyebabkan endometritis akut. Infeksi gonorea.
Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi cepat meluas ke
miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah limfe dapat menjalar ke
parametrium, ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya.
Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejala-gejala
penyakit dalam keseluruhannya:

Penderita panas tinggi


Kelihatan sakit keras
Keluar leukorea yang bernanah
Uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan

Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di
luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukan radium ke dalam uterus,
memasukan IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya.
Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan dalam uterus, apakah
endometritis akut tetap berbatas pada endometrium, atau menjalar ke jaringan di
sekitarnya.
Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak seberapa
patogen pada umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu
dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam

pengobatan endometritis akuta yang paling penting adalah berusaha mencegah,


agar infeksi tidak menjalar.
Manifestasi klinis
1. Demam
2. Lochea berbau : pada endometritis post abortum kadang-kadang
keluar flour yang purulent.
3. Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi.
4. Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau parametrium tidak
nyeri.
Terapi :

Uterotonika.
Istirahat, letak fowler.
Antibiotika.
Endometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus

carsinoma. Dapat diberi estrogen.


b. Endometritis kronik
Endometritis kronik tidak seberapa sering terdapat, oleh karena itu infeksi
yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri,
karena pelepasan lapisan fungsional darn endometrium pada waktu haid. Pada
pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit.
Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam
keadaan normal dalam endometrium.
Manifestasi klinis
Endometritis kronika adalah leukorea dan menorargia. Pengobatan
tergantung dari penyebabnya.
Endometritis kronis ditemukan:
1.

Pada tuberkulosis.

2.

Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus.

3.

Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri.

4.

Pada polip uterus dengan infeksi.

5.

Pada tumor ganas uterus.

6.

Pada salpingo oofaritis dan selulitis pelvik.

Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus TB


genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah
endometrium yang meradang menahun.
Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat
desidua dan vili korealis di tengah-tengah radang menahun endometrium. Pada
partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan
dan organisasi dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah
apa yang dinamakan polip plasenta.
Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi terus-menerus
karena adanya benda asing atau polip/tumor dengan infeksi di dalam kavum
uteri.
Gejalanya :

Flour albus yang keluar dari ostium.


Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.

Terapi: :
Perlu dilakukan kuretase.
IV. PATOGENESIS.
Bakteri secara normal mengkoloni seviks, vagina, perineum dan saluran cerna.
Meskipun virulensinya rendah, namun berbagai bakteri ini menjadi patogenik jika
terdapat jaringan yang mengalami devitalisasi dan hematom yang pasti ada dalam
persalinan. Infeksi pascapartum bersifat polimikroba (biasanya dua hingga tiga
spesies) dan terjadi di tempat insisi atau implantasi plasenta (Leveno, 2009).
Infeksi endometrium, atau desidua, biasanya hasil dari infeksi melalui saluran
kelamin. Dari perspektif patologis, endometritis dapat diklasifikasikan sebagai akut
dan kronis. Endometritis akut ditandai oleh adanya neutrofil dalam kelenjar
endometrium. Pada kasus non obstetric, penyakit radang panggul dan invasif
prosedur ginekologi adalah prekursor yang paling umum untuk endometritis akut.
Pada kasus obstetri, infeksi postpartum merupakan masalah yang umum.
Endometritis kronis ditandai oleh adanya sel plasma dan limfosit dalam stroma
endometrium. Endometritis kronis pada populasi obstetri biasanya dikaitkan dengan
produk konsepsi tertahan setelah melahirkan atau aborsi elektif. Pada populasi

nonobstetric, endometritis kronis terlihat dengan adanya infeksi (misalnya klamidia,


TBC, vaginosis bakteri) dan adanya alat kontrasepsi dalam rahim (Zieve, 2011).
Endometritis adalah infeksi pada endometrium atau desidua, dengan ekstensi
ke dalam miometrium dan jaringan parametrium. Endometritis biasanya hasil dari
infeksi naik dari saluran bawah kelamin. Dari perspektif patologis, endometritis
dapat diklasifikasikan sebagai akut dan kronis. Endometritis akut dicirikan dengan
adanya neutrofil dalam kelenjar endometrium. Endometritis kronis ditandai dengan
adanya sel plasma dan limfosit dalam stroma endometrium.
Pada populasi non obstetric, PID dan prosedur ginekologi invasif adalah
prekursor paling umum untuk endometritis akut. Pada populasi obstetri, infeksi
postpartum adalah masalah yang paling umum. Endometritis kronis di bidang
kebidanan biasanya terkait dengan hasil konsepsi tertahan setelah melahirkan atau
aborsi elektif. Pada populasi non obstetric, endometritis kronis dapat dilihat dari
infeksi, seperti klamidia, tuberkulosis, dan vaginosis bakteri, dan adanya suatu alat
kontrasepsi (Zieve, 2011).
Ketidaksterilan alat-alat yang digunakan dalam menolong persalinan
menyebabkan bakteri dan ogranisme masuk dan menginfeksi organ reproduksi,
infeksi dapat menyebar melalui jaringan limfa dan dinding uterus (Stright, 2009)
Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus
tuberkulosis genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkol pada
tengah-tengah endometrium yang meradang menahun.
Pada abortus incompletus terdapat sisa-sisa desidua dan villikorialis yang
tertinggal dalam uterus dapat menyebabkan radang endometrium yang menahun.
Pada partus dengan sisa plasenta yang masih tertinggal dalam uterus, terdapat
peradangan dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang
disebut polip plasenta.
Endometritis kronika yang lain umumnya akibat infeksi terus menerus karena
adanya benda asing atau polip/tumor di dalam cavum uteri (Prawirohardjo, 2012).
Infeksi gonorhoe mulai sebagai servicitis akuta, dan radang menjalar keatas
dan menyebabkan endometris akuta.
Infeksi post abortus dan post partum sering terdapat oleh karena luka-luka pada
cervik uteri, luka pada dinding uterus bekas tempat plasenta, yang merupakan pusat
masuknya bagi kuman-kuman patogen. Selain itu, alat-alat yang digunakan pada
abortus dan partus tidak steril dapat membawa kuman-kuman kedalam uterus.

Abortus septik dan sepsis puerperalis cepat meluas ke miometrium dan melalui
pembuluh darah dan limfe menjalar ke parametrium, ke tuba dan ovarium, dan
peritonium di sekitarnya. Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini mirip oleh
gejala-gejala penyakit dalam. Penderita panas tinggi, nyeri, keluar leukorea yang
bernanah, dan uterus serta daerah disekitarnya nyeri pada perabaan. Sebab lain
endometritis akuta adalah tindakan yang dilakukan dalam utterus diluar partus atau
abortus, seperti kuretase, memasukkan radium ke dalam uterus, mamasukkan IUD
(Intra Uterin Device) ke dalam uterus, dsb (Prawirohardjo, 2012).
V. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita
dan derajat trauma pada jalan lahir. Infeksi uterus harus menjadi perhatian utama
pada wanita pascapartum dengan demam. Biasanya timbul rabas vagina (lokia) yang
berbau, banyak dan bersemu darah (Lokiametra). Sering terdapat nyeri tekan
abdomen dan parametrium uterus sewaktu pemeriksaan bimanual. Uterus pada
endometritis agak membesar dan lembek. Penderita pada hari-hari pertama tampak
kurang sehat dan perut nyeri. Mulai ;hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat,
akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam waktu kurang
lebih satu minggu keadaan akan kembali normal lagi (Prawirohardjo, 2012). Demam
ibu pascapartum (pascaoperasi), tanpa causa lain yang jelas, harus dianggap sebagai
endometritis (Leveno, 2009).
VI. FAKTOR RESIKO
1. Persalinan lama, khususnya dengan pecah ketubah
2. Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan
3. Bermacam-macam pemeriksaan vagina selama persalinan, khususnya pecah
4.
5.
6.
7.

ketuban
Teknik aseptic tidak sempurna
Tidak memperhatikan teknik cuci tangan
Manipulasi intrauterine (mis, eksplorasi uteri, pelaksanaan placenta manual)
Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka, seperti laserasi yang tidak

diperbaiki
8. Hematoma
9. Hemoragi, khususnya jika kehilangan darah lebih dari 1000 ml
10. Retensi sissa plasenta atau membrane janin
11. Perawatan perineum tidak memadai

12. Infeksi vagina/serviks atau penyakit menular seksual yang tidak ditangani (Mis,
vaginosis bakteri, klamidia, gonorea)
(Varney, 2008)
13. Infesi dasar: chorioamnionitis & bacterial vaginosis
14. Setelah persalinan spontan, abosrtus spontan atau abortus elektif
15. Adanya benda asing
16. Faktor resiko lain yang berkontribusi, termasuk:
o Anemia
o Obesitas
o Diabetes
o Malnutrisi
o Status imun
o Sosial ekonomi rendah
o Operator tidak punya pengalaman dan / keterampilan
o Waktu operasi lebih dari 1 jam
o General anastesi
(Queenan et al, 2005).
17. Perdarahan pascapartum
18. Pre eklamsia
(Walsh, 2008)
VII.KOMPLIKASI
Komplikasi yang potensial dari endometritis adalah sebagai berikut:
Luka infeksi
Infeksi luka biasanya terjadi pada hari kelima pasca operasi sebagai demam
menetap meskipun pasien mendapat terapi antimikroba yang adekuat. Biasanya
dijumpai eritema, indurasi, dan drainase insisi

Karena peritonitis
Peritonitis pasca sesar mirip dengan peritonitis bedah, kecuali rigiditas abdomen
biasanya tidak terlalu mencolok karena peregangan abdomen yang berkaitan
dengan kehamilan. Nyeri mungkin hebat. Jika infeksi berawal di uterus dan
meluas hanya ke peritonium didekatnya (peritonitis panggul), terapi biasanya
medis. Sebaliknya peritonitis abdomen generalisata akibat cedera usus atau
nekrosis insisi uterus, sebaiknya diterapi secara bedah

Parametrial phlegmon
Pada sebagian wanita yang mengalami metritis setelah sesar, terjadi selulitis
parametrium yang intensif. Hal ini menyebabkan terbentuknya daerah indursi
yang disebut flegmon, di dalam lembar-lembar ligamentum latum (parametria)
atau dibawah lipatan kandung kemih yang berada di atas insisi uterus. Selulitis ini
umumnya unilateral dan dapat meluas ke lateral ke dinding samping panggul.

Infeksi ini harus dipertimbangkan jika demam menetap setelah 72 jam meskipun
pasien sudah mendapat terapi untuk endomiometritis pasca sesar

Panggul abses
Flegmon parametrium dapat dapat mengalami supurasi,membentuk abses
ligamentum latum yang fluktuatif. Jika abses ini pecah, dapat timbul peritonitis
yang mengancam nyawa. Dapat dilakukan drainase abses dengan menggunakan
tuntunan computed tomography, kolpotami, atau melalui abdomen, bergantung
pada lokasi abses

Abses subfasia dan Terbukanya jaringan parut uterus


Kompilkasi serius endometritis pada wanita yang melahirkan sesaradalah
terbukanya insisi akibat infeksi nekrosis disertai perluasan ke dalam ruang
subfasia di sekitar dan akhirnya pemisahan insisi fasia. Hal ini bermanifestasi
sebagai drainase subfasia pada wanita dengan demam lama. Di perlukan
eksplorasi bedah dan pengangkatan uterus yang terinfeksi

Septik panggul thrombophlebitis


Di dahului oleh infeksi bakteri di tempat implantasi plasenta atau insisi uterus.
Infeksi dapat meluas di sepanjang rute vena dan munkin mengenai vena-vena di
ovarium
Penyebaran infeksi dari endometrium tabung saluran indung telur, indung telur
atau rongga peritoneal dapat mengakibatkan, salpingitis, oophoritis, karena
peritonitis lokal atau abses tuba ovarium. Salpingitis kemudian mengarah ke tubal
dysmotility dan pelekatan yang mengakibatkan infertilitas, insiden yang lebih
tinggi dari kehamilan ektopik, dan kronis nyeri panggul.

(Cunningham, 2009)
VIII. DIAGNOSA
Tes yang dapat dilakukan:
- Kultur dari serviks untuk clamidia, onore dan organisme lain
- Biopsi endometrium
- ESR (sedimen rate)
- Laparoskopi
- WBC (white blood count)
- Uji mikroskopis lendir
(Zieve, 2011)
IX. PENCEGAHAN
1. Selama kehamilan
Cegah anemia dengan memperbaiki gizi dan diet yang baik.

Koitus pada hamil tua sebaiknya dilarang.


2. Selama persalinan
Batasi masukknya kuman kedalam jalan lahir degan cara sterilisasi alat
partus.
Jaga persalinan agar tidak berlarut.
Selesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
Cegah terjadinya perdarahan banyak.
Periksa dalam dilakukan hanya bila perlu.
Transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.
3. Selama nifas
Jaga luka-luka agar tidak dimasuki kuman.
Batasi pengunjung pada hari-hari pertama nifas.
Penderita dengan tanda infeksi harus diisolasikan.
X. PENATALAKSANAAN
Sifat polimikroba dari infeksi ini mengharuskan pemberian regimen
antimikroba spektrum luas dalam pengobatan endometritis setelah pelahiran
pervaginam atau sesar. Beberapa regimen yang berbeda dapat digunakan. Di
Parkland Hospital, regimen yang digunakan adalah klindamisin plus gentamisin dan
sudah memadai bagi 95 persen wanita. Beberapa kasus yang gagal berespon
berkaitan dengan Enterococcus dan secara empiris ditambahkan ampisilin jika tidak
ada respon klinis setelah 72 jam pemberian klindamisin plus gentamisin. Jika demam
menetap, penyulit endometritis perlu disingkirkan dengan pemeriksaan panggul dan
pemeriksaan pencitraan. Tanpa penyulit tersebut, wanita endometritis diberi
antibiotik intravena sampai afebris selama 24 jam, pada saat tersebut pasien
dipulangkan tanpa terapi oral. Hal ini biasanya memerlukan waktu 2 sampai 3 hari
dan jarang menyebabkan pasien perlu dirawat ulang atas indikasi infeksi uterus
(Leveno, 2009).
Pasien sebisa mungkin diidolasi, tapi bayi boleh menyusu pada ibunya. Untuk
kelancaran lochea, pasien boleh diletakkan dalam posisi fowler dan diberi
uterotonica serta dianjurkan banyak minum (Saleha, 2009)
Penatalaksanaan
1. Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terapi.
Evaluasi klinis dari organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga
pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan
petunjuk untuk terapi antibiotik.

2. Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi


ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu
mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diit per
oral untuk memberikan nutrisi yang memadai.
3. Transfusi darah dapat diindikasikan untuk anemia berat dengan post abortus atau
post partum.
4. Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang banyak
manfaatnya.
5. Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai dengan jaringan
plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks. Drainase lokia yang memadai
sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase
perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo oofaringektomi
bilateral mungkin ditemukan bila klostridia telah meluas melampaui
endometrium dan ditemukan bukti adanya sepsis sistemik klostridia (syok,
hemolisis, gagal ginjal)

Endometrium adalah lapisan dalam dinding kavum uteri yang berfungsi


sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi. Selama siklus haid, jaringan
endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian
jika tidak ada pembuahan/ implantasi, endometrium rontok kembali dan
keluar berupa darah/ jaringan haid.