You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
NAPZA merupakan akronim dari Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya yang merupakan jenis obat-obatan yang dapat mempengaruhi
gangguan kesehatan dan kejiwaan.
NAPZA secara umum adalah zat-zat kimiawi yang apabila dimasukkan
kedalam tubuh baik secara oral (diminum, dihisap, dihirup dan disedot)
maupun disuntik, dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati, perasaan
dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menimbulkan gangguan keadaan
sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian yang
panjang

dan

pemakaian

yang

berlebihan

(Lumbantobing,

2007).

Menurut UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menyebutkan bahwa:

Narkotika adalah suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman
maupun bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang
menyebabkan penurunan dan perubahan kesadaran, mengurangi
dan

menghilangkan

rasa

nyeri

serta

dapat

menimbulkan

ketergantungan secara fisik maupun psikologik.

Psikotropika adalah setiap bahan baik alami ataupun buatan


bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif mempunyai pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Zat Adiktif yaitu bahan lain yang bukan Narkotika atau Psikotropika
yang merupakan inhalasi yang penggunaannya dapat menimbulkan
ketergantungan, misalnya lem, aceton, eter, premix, thiner dan lainlain.

Benzodiazepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang


mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer, dan
psikoleptika.
Penyalahgunaan NAPZA yaitu pemakaian obat-obatan untuk sendiri
tanpa indikasi medik, tanpa petunjuk atau resep dokter, baik secara teratur
atau

berkala

penyalahgunaan

sekurang-kurangnya
ini

cenderung

selama
terjadi

satu

toleransi

bulan.

Pada

tubuh

yaitu

kecenderungan menambah dosis obat untuk mendapat khasiat yang


sama setelah pemakaian berulang. Disamping itu menyebabkan sindroma
putus obat (withdrawal) apabila pemakaian dihentikan (Hawari, 2000).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Benzodiazepine ?
2. Bagaimana perkembangan benzodiazepine ?
3. Apa kegunaan dari Benzodiazepine ?
4. Bagaimana mekanisme kerja Benzodiazepine?
5. Bagaimana efek dari penggunaan Benzodiazepine?
6. Berapa dosis yang dianjurkan pada penggunaan Benzodiazepin
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Benzodiazepine
2. Mengetahui perkembangan dari Benzodiazepine
3. Mengetahui manfaat dari Benzodiazepine
4. Mengetahui mekanisme kerja Benzodiazepine
5. Mengetahui efek dari penggunaan Benzodiazepine
6. Mengetahui jumlah dosis penggunaan Benzodiazepine

BAB II
ISI
A. Pengertian dan Sejarah Benzodiazepin
Benzodiazepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang
mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer, dan
psikoleptika. Benzodiazepin memiliki lima efek farmakologi sekaligus,
yaitu anxiolisis, sedasi, anti konvulsi, relaksasi otot melalui medula
spinalis, dan amnesia retrograde.
Benzodiazepin dikembangkan pertama kali pada akhir tahun 1940-an
dengan derivat pertama kali yang dipasarkan adalah klordiazepoksid
(semula dinamakan methaminodiazepokside) pada tahun 1960, kemudian
dilakukan biotransformasi menjadi diazepam (1963), nitrazepam (1965),
oksazepam (1966), medazepam (1971), lorazepam (1972), klorazepat
(1973), flurazepam (1974), temazepam (1977), triazolam dan clobazam
(1979),

ketazolam

(1980),

lormetazepam

(1981),

flunirazepam,

bromazepam, prazepam (1982), dan alprazolam (1983).


Golongan

Benzodiazepin

menggantikan

penggunaan

golongan

Barbiturat yang mulai ditinggalkan, Keunggulan benzodiazepine dari


barbiturate

yaitu

rendahnya

tingkat

toleransi

obat,

potensi

penyalahgunaan yang rendah, margin dosis aman yang lebar, dan tidak
menginduksi enzim mikrosom di hati. Benzodiazepin telah banyak

digunakan sebagai pengganti barbiturat sebagai premedikasi dan


menimbulkan sedasi pada pasien dalam monitorng anestesi.
B. Penggolongan Benzodiazepin
Berdasarkan kecepatan metabolismenya dapat dibedakan menjadi 3
kelompok yaitu short acting, long acting, ultra short acting.
1. Long acting.
Obat-obat ini dirombak dengan jalan demetilasi dan hidroksilasi
menjadi metabolit aktif (sehingga memperpanjang waktu kerja) yang
kemudian dirombak kembali menjadi oksazepam yang dikonjugasi
menjadi glukoronida tak aktif.
2. Short acting
Obat-obat ini dimetabolisme tanpa menghasilkan zat aktif. Sehingga
waktu kerjanya tidak diperpanjang. Obat-obat ini jarang menghasilkan
efek sisa karena tidak terakumulasi pada penggunaan berulang.
3. Ultra short acting
Lama kerjanya sangat kurang dari short acting. Hanya kurang dari 5,5
jam. Efek abstinensia lebih besar terjadi pada obat-obatan jenis ini. Selain
sisa metabolit aktif menentukan untuk perpanjangan waktu kerja, afinitas
terhadap reseptor juga sangant menentukan lamanya efek yang terjadi
saat penggunaan.

C. Rumus Kimia Benzodiazepin


Benzodiazepin adalah obat hipnotik-sedatif terpenting. Semua struktur
yang

ada

pada

benzodiazepine

menunjukkan

1,4-benzodiazepin.

Kebanyakan mengandung gugusan karboksamid dalam dalam struktur


cincin heterosiklik beranggota 7. Substituen pada posisi 7 ini sangat
penting dalam aktivitas hipnotik-sedatif.
D. Mekanisme Kerja Golongan Benzodiazepin
Efek farmakologi benzodiazepine merupakan akibat aksi gammaaminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmitter penghambat di otak.
Benzodiazepine

tidak

mengaktifkan

reseptor

GABA A melainkan

meningkatkan kepekaan reseptor GABA A terhadap neurotransmitter


penghambat sehingga kanal klorida terbuka
dan terjadi hiperpolarisasi sinaptik membran
sel dan mendorong post sinaptik membran sel
tidak

dapat

dieksitasi. BDZs tidak menggantikan GABA,


yang meningkat pada alpha sub-unit, tetapi meningkatkan frekuensi
pembukaan

saluran

konduktansi ion klorida dan

yang

mengarah

ke

penghambatan potensial

peningkatan
aksi. Hal

ini

menghasilkan efek anxiolisis, sedasi, amnesia retrograde, potensiasi


alkohol, antikonvulsi dan relaksasi otot skeletal.
Farmakodinamik

Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja golongan


ini pada SSP dengan efek utama : sedasi, hypnosis, pengurangan
terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot, dan anti konvulsi.
Hanya dua efek saja yang merupakan kerja golongan ini pada
jaringan perifer : vasodilatasi koroner (setelah pemberian dosis terapi
golongan

benzodiazepine

tertentu

secara

iv),

dan

blokade

neuromuskular (yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi).


Farmakokinetik
Sifat

fisikokimia

dan

farmakokinetik

benzodiazepine

sangat

mempengaruhi penggunaannya dalam klinik karena menentukan lama


kerjanya. Semua benzodiazepine dalam bentuk nonionic memiliki
koefesien distribusi lemak : air yang tinggi; namun sifat lipofiliknya
daoat bervariasi lebih dari 50 kali, bergantung kepada polaritas dan
elektronegativitas berbagai senyawa benzodiazepine.
Semua benzodiazepin pada dasarnya diabsorpsi

sempurna,

kecuali klorazepat; obat ini cepat mengalami dekarboksilasi dalam


cairan lambung menjadi N-desmetil-diazepam (nordazepam), yang
kemudian diabsorpsi sempurna. Setelah pemberian per oral, kadar
puncak benzodiazepin plasma dapat dicapai dalam waktu 0,5-8 jam.
Kecuali lorazepam, absorbsi benzodiazepin melalui suntikan IM tidak
teratur.
Secara umum penggunaan terapi benzodiazepine bergantung kepada
waktu paruhnya, dan tidak selalu sesuia dengan indikasi yang
dipasarkan. Benzodiazepin yang bermanfaat sebagai antikonvulsi

harus memiliki waktu paruh yang panjang, dan dibutuhkan cepat


masuk ke dalam otak agar dapat mengatasi status epilepsi secara
cepat. Benzodiazepin dengan waktu paruh yang pendek diperlukan
sebagai hipnotik, walaupun memiliki kelemahan yaitu peningkatan
penyalahgunaan

dan

dan

berat

gejala

putus obat setelah

penggunaannya secara kronik. Sebagai ansietas, benzodiazepine


harus memiliki waktu paruh yang panjang, meskipun disertai risiko
neuropsikologik disebabkan akumulasi obat
E. Kegunaan Benzodiazepin
1. untuk penyebab penyakit yang dihubungkan dengan gangguan
psikiatri dan non psikiatri seperti kesulitan tidur, menghilangkan
kecemasan, pengobatan delirium tremens, sedasi sebelum proses
operasi.
2. untuk menghilangkan kejang epilepsi dan juga pada spasme otot.
3. sebagai campuran untuk pengobatan pasien-pasien dengan
gangguan lambung yang dasarnya adalah fungsional (gejala
psikosomatik) dan juga pasien-pasien gangguan jantung yang cemas.
F. Efek Benzodiazepin
1. Efek jangka pendek
a. mengantuk, letargi, kelelahan
b. gerakan yang tidak terkoordinasi, penurunan reaksi terhadap
waktu dan ataksia
c. penurunan fungsi kognisi dan memori (terutama amnesia
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

anterograde)
kebingungan
kelemahan otot atau hipotoni
depresi
nistagmus, vertigo
disarthria, bicara cadel/tidak jelas
pandangan kabur, mulut kering
sakit kepala

k. euforia paradoksal, rasa girang, tidak dapat beristirahat,


hipomania dan perilaku
l. inhibisi yang ekstrim (terutama pengguna dosis tinggi dapat
merasa tidak dapat
m. dilukai, kebai terhadap serangan atau pukulan dan merasa
dirinya tidak dapat
n. dilihat orang sekitarnya)
o. efek potensiasi dengan napza depresah susunan syaraf pusat
lainnya, misal
p. alkohol dan opioid yang dapat meningkatkan risiko penekanan
pernapasan.
2. Efek jangka panjang
a. Mirip dengan efek jangka pendek, ditambah dengan :
b. toleransi terhadap efek sedatif/hipnotik dan psikomotor
c. emosi yang "tumpul" (ketidakmampuan merasa bahagia atau
duka sehubungan
d. dengan hambatan terhadap emosi)
e. siklus menstruasi tidak teratur, pembesaran payudara
f. ketergantungan (dapat terjadi setelah 3 sampai 6 bulan dalam
dosis terapi)
G. Gejala Putus Benzodiazepin
Umumnya mencakup:
1. insomnia
2. ansietas
3. irritable
4. tidak dapat beristirahat
5. agitasi
6. depresi
7. tremor
8. dizziness
Jarang terjadi, tapi perlu penanganan serius :
1. kejang (kejang hampir menyerupai pengguna alkohol dosis tinggi)
2. delirium
Gejala lain mencakup:
1. kedutan otot dan nyeri
8

2. anoreksia, mual
3. kelelahan
4. tinnitus
5. hiperakusis, fotofobia, gangguan persepsi
6. depersonalisasi, derealisasi
7. pandangan kabur
H. Jenis
Benzodiazepin
beserta
dosis

dan

dosis

ketergantungannya.
Nama
Diazepam
Klordiazepoksid
Alprazolam
Flunitrazepam
Pentobarbital
Amobarbital
Meprobamat

Dosis sedatif (mg)


5-10
10-25
0,25 - 8
1-2
100
65 - 100
400

Dosis ketergantungan
40-100 mg x 42 120 hari
75-600 mg x 42-120 hari
8-16 mg x 42 hari
8-10 mg x 42 hari
800-2200 mg x 35 37 hari
800-2200 mg x 35 37 hari
1,6 3,2 g x 270 hari

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa benzodiazepin adalah sekelompok obat
golongan psikotropika

yang mempunyai efek antiansietas atau dikenal

sebagai minor tranquilizer, dan psikoleptika. Dimana jika dikonsumsi


memiliki efek jangka panjang dan jangka pendek.
B. SARAN
Disarankan untuk menjauhi narkotika, psikotropika, dan zat aditif dan
jangan mencoba-coba untuk mengonsumsinya karena memiliki dampak
buruk bagi kesehatan.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Benzodiazepin - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
(Diakses 07 September 2015 pukul 06:07pm)
2. Hawari, D. 2000. Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif.
Fakultas Kedokteran Umum Universitas Indonesia: Jakarta.
3. Tentang Benzodiazepine - ALPRAZOLAM, DUMOLID, RIKLONA,
MST, STESOLID, DLL.(Diakses 07 September 2015 pukul
06:07pm)
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 tentang
Narkotika.
5. Waspadai Penggunaan Obat Penenang Tak Rasional Kompas.com Health. (Diakses 07 September 2015 pukul 06:15pm)

11