You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN
A; Latar Belakang

Dari fase ke fase, kemiskinan selalu menjadi persoalan di setiap Negara yang
sering kali di bahas. Masalah kemiskinan , menjadi salah satu titik permasalahan
terbesar dalam daftar permasalahan di setiap negara yang akhirnya menjadi
masalah global.
Kemiskinan memang seringkali dipahami secara sempit, baik dari definisi, sebab,
maupun cara penanggulangannya. Secara umum, kemiskinan adalah keadaan
dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti
makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan
merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif
dan komparatif, sementara yang lainnya melihat dari segi moral dan evaluatif, dan
yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Di Indonesia sendiri kemiskinan menjadi salah satu permasalahan yang objeknya
kebanyakan adalah orang Islam. Hal ini selain di sebabkan oleh mayoritas terbesar
warga Negara Indonesia adalah umat muslim, juga di sebabkan indeks
pemberdayaan umat muslim yang kurang.
Islam mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kemiskinan, salah satunya dengan
Zakat. Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib di keluarkan oleh seorang
muslim dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut
ketentuan yang telah ditetapkan.
Dengan mengelola zakat dengan baik dan tepat maka salah satu masalah umat
islam yaitu kemiskinan. Hal ini diisyaratkan dalam salah satu ayat Al-quran surat
At-Taubah ayat 103. Makalah ini akan membahas cara mengatasi kemiskinan
merujuk pada surat At-taubah ayat 103, dilengkapi beberapa tafsiran.

B; Rumusan Masalah

Makalah ini mempunyai rujukan masalah sebagai berikut:


1; Apa maksud dari surat At-Taubah ayat 103?
2; Bagaimana cara mengatasi kemiskinan merujuk pada Al-quran surat at-

Taubah ayat 103?


3; Seperti apa fungsi zakat sebagai salah satu upaya mengatasi kemiskinan?

C; Tujuan penulisan

Makalah ini bertujuan sebagai berikut:


1; Memenuhi tugas pra-UTS mata kuliah Esensi Al-Quran.
2; Memahami maksud surat at-Taubah ayat 103.
3; Memahami cara mengatasi kemiskinan menurut Quran surat At-Taubah

ayat 103.
4; Menganalisis fungsi zakat sebagai salah satu upaya mengatasi kemiskinan.

BAB II
PEMBAHASAN
A; Surat At-Taubah Ayat 103

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S At-Taubah : 103)

B; Asbabun Nuzul Surat At-Taubah : 103

Menurut riwayat Ibnu Jarir bahwa Abu Lubabah dan kawan-kawannya yang
mengikatkan diri di tiang-tiang mesjid datang kepada Rasulullah SAW seraya
berkata: "Ya Rasulullah, inilah harta benda kami yang merintangi kami untuk
turut berperang. Ambillah harta itu dan bagi-bagikanlah, serta mohonkanlah
ampun untuk kami atas kesalahan kami." Rasulullah menjawab: "Aku belum
diperintahkan untuk menerima hartamu itu." Maka turunlah ayat ini. Perintah
Allah SWT pada permulaan ayat ini ditujukan kepada Rasul-Nya, yaitu agar
Rasulullah SAW mengambil sebagian dari harta benda mereka itu sebagai sedekah
atau zakat untuk menjadi bukti tentang benarnya tobat mereka, karena sedekah
atau zakat tersebut akan membersihkan diri mereka dari dosa yang timbul karena
mangkirnya mereka dari peperangan dan untuk menyucikan dari mereka dari sifat
"cinta harta" yang mendorong mereka untuk mangkir dari peperangan itu. Selain
itu sedekah atau zakat tersebut akan membersihkan diri mereka pula dari semua
sifat-sifat jelek yang timbul karena harta benda, seperti kikir, tamak, dengki, dan
sebagainya.

Di samping itu juga dapat dikatakan, bahwa penunaian zakat adalah juga
membersihkan harta benda yang tinggal sebab pada harta benda seseorang ada hak
orang lain, yaitu orang-orang yang oleh agama Islam telah ditentukan sebagai
orang-orang yang berhak menerima zakat. Selama zakat itu belum dibayarkan
oleh pemilik harta tersebut, maka selama itu pula harta bendanya tetap bercampur
dengan hak orang lain yang haram untuk dimakannya. Akan tetapi, bila ia
mengeluarkan zakat dari hartanya itu, maka bersihlah harta tersebut dari hak
orang lain.
Juga terkandung suatu pengertian, bahwa menunaikan zakat itu akan
menyebabkan timbulnya keberkatan pada harta yang masih tinggal, sehingga ia
tumbuh dan berkembang biak. Sebaliknya bila zakat itu tidak dikeluarkan, maka
harta benda seseorang tidak akan memperoleh keberkatan dan tidak akan
berkembang biak dengan baik, bahkan kemungkinan akan ditimpa malapetaka dan
menyusut sehingga lenyap sama sekali dari tangan pemiliknya sebagai hukuman
Allah SWT terhadap pemiliknya.
Perlu diketahui, bahwa walaupun perintah Allah SWT dalam ayat ini pada
lahirnya ditujukan kepada Rasul-Nya dan turunnya ayat ini ialah berkenaan
dengan peristiwa Abu Lubabah dan kawan-kawannya namun ia juga berlaku
terhadap semua pemimpin atau penguasa dalam setiap masyarakat kaum
Muslimin untuk melaksanakan perintah Allah dalam masalah zakat ini, yaitu
untuk menunggu zakat tersebut dari orang-orang Islam yang wajib berzakat dan
kemudian membagi-bagikan zakat itu kepada yang berhak menerimanya. Dengan
demikian, maka zakat akan dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana yang efektif
untuk membina kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya dan
juga kepada setiap pemimpin dan penguasa dalam masyarakat agar setelah
melakukan pemungutan dan pembagian zakat itu, mereka berdoa kepada Allah
bagi keselamatan dan kebahagiaan pembayar zakat karena doa tersebut akan

menenangkan jiwa mereka, dan akan menenteramkan hati mereka, serta


menimbulkan kepercayaan dalam hati mereka bahwa Allah SWT benar-benar
telah menerima tobat mereka.
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah SWT Maha Mendengar setiap ucapan
hamba-Nya, antara lain ucapan pengakuan dosa serta ucapan doa. Dan Allah
Maha Mengetahui semua yang tersimpan dalam hati sanubari hamba-Nya antara
lain ialah rasa penyesalan dan kegelisahan yang timbul karena kesadaran atas
kesalahan yang telah diperbuatnya.

C; Tafsir Ayat Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 103


1; Tafsir Jalalen

(Ambillah sedekah dari sebagian harta mereka, dengan sedekah itu kamu
membersihkan dan menyucikan mereka) dari dosa-dosa mereka, maka Nabi SAW
mengambil sepertiga harta mereka kemudian menyedekahkannya (dan berdoalah
untuk mereka). (Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenangan jiwa) rahmat
(bagi mereka) menurut suatu pendapat yang dimaksud dengan sakanun ialah
ketenangan batin lantaran tobat mereka diterima. (Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui).

2; Tafsir Al-Misbah

(Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka) dari dosa-dosa mereka. Maka Nabi saw
mengambil sepertiga harta mereka, kemudian menyedekahkannya. Di sini Nabi
Muhammad saw diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta yang
berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan

penuh

kesungguhan dan ketulusan hati, dari sebagian harta mereka, bukan seluruhnya,
bukan pula sebagian besar, dan tidak juga yang terbaik; dengannya yakni dengan
harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan engkau membersihkan harta
dan jiwa mereka dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.
(Dan berdoalah untuk mereka) Maksudnya, berdoalah untuk mereka dan
mohonkanlah ampunan buat mereka. Guna menunjukkan restumu terhadap
mereka dan memohonkan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka.
(Sesungguhnya doamu itu ketentraman jiwa bagi mereka) yang selama ini gelisah
dan takut akibat dosa-dosa yang mereka lakukan. Menurut suatu pendapat yang
dimaksud dengan sakanun ialah ketenangan batin lantaran yobat mereka diterima.
Menurut Ibnu Abbas, menjadi rahmat buat mereka. Sedangkan menurut Qatadah,
menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.
(Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) Yakni mendengar kepada
doamu dan mengetahui orang yang berhak mendapatkan hal itu darimu dan orang
yang pantas untuk memperolehnya.

3; Tafsir Ibnu Katsir

Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dalam ayat ini untuk memungut
zakat dari umatnya untuk menyucikan dan membersihkan mereka dengan zakat
itu. Juga diperintahkan agar beliau berdoa dan beristighfar bagi mereka yang
menyerahkan bagian zakatnya.
Pada masa khalifah Abu Bakar, ayat ini dijadikan alasan oleh orang-orang yang
menolak mengeluarkan zakat karena yang diperintah untuk memungut zakat dari
mereka adalah Rasullullah sendiri, perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada
beliau pribadi bukan Abu Bakar.
Akan tetapi kemudian pendapat mereka ditolak oleh khalifah dan bahkan mereka
karena menolak menyerahkan zakat yang wajib itu dinyatakan sebagai orang6

orang yang murtad yang patut diperangi. Karena sifat tegas khalifah maka
menyerahlah mereka dan kembali kejalan yang benar. Abu bakar berkata:
mengenai peristiwa itu, demi Allah, andaikan mereka menolak menyerahkan
kepadaku seutas tali yang pernah mereka serahkanya sebagai kewajiban berzakat
kepada Rasulullah, niscaya akan kuperangi mereka karena penolakan itu.
Yang disebut mereka pada khususnya adalah golongan yang tersebut pada ayat
sebelumnya, yaitu ornag yang msih campur aduk baginya diantara amalan yang
baik dan yang buruk, tetapi dia sadar akan kekurangan dirinya dan ingin akan
kebaikan.
Dalam ayat ini dinyatakan suatu rahasia penting yang amat dalam, yaitu salah
salah satu sebab mengapa manusia itu menjadi degil, sampai ada ada juga yang
masih senang mencampur aduk amal baik dengan amal buruk, dan tidak juga
insaf, sehingga akhirnya bisa jatuh jadi munafik atau fasik. Sebab yang terutama
adalah pengaruh harta.
Dalam kehidupan manusia dikaruniai instink untuk ingin mempunyai, mencari
makanan, dan harta. Agama Islam tidak menghapuskan instink tersebut bahkan
dikobarkan, tetapi Islam mewajibkan supaya sebagian dari didapat itu diserahkan
kepada yang lemah. Yang kaya wajib membantu yang miskin. Bukan anjuran,
bukan sunnat saja, dan bukan hanya belas kasihan, tetapi kewajiban dan menjadi
salah satu dari tiang rukun Islam.
Setelah Rasulullah SAW berhasil membentuk masyarakat atas dasar ajaran Islam,
datanglah perintah Tuhan kepadanya Khudz ambil dari sebagian harta mereka
sebagai sedekah. Kadang-kadang dia dinamai sodaqoh. Arti asal dari shodaqoh
ialah bukti dan kebenaran, atau bukti dari benar-benarnya ada kejujuran (shiddiq)
dan dia pun dinamai zakat, artinya pembersih, berkah, tumbuh, bertambah, suci,
dan baik. Maksud perintah Tuhan menyuruh mengambil dari sebagian harta
mereka itu sebagai sedekah dalam ayat ini adalah guna membersihkan dan
mensucikan mereka.

D; Analisis Quran Surat At-Taubah Ayat 103

Dari ayat ini ada beberapa hal yang dapat dianalisis, yaitu
1; Zakat

Zakat menurut istilah agam Islam artinya kadar harta tertentu, yang diberikan
kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syart tertentu. Hukum zakat
adalah

fardu ain untuk orang-orang yang cukup syarat-syaratnya, kewajiban

berzakat ini di isyaratkan pada tahun kedua Hijriah.


Firman Allah SWT,
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Zakat terbagi kedalam dua jenis yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah
merupakan zakat yang dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan dengan takaran
yang telah ditentukan. Sedangkan zakat maal adalah zakat yang dikeluarkan untuk
harta yang telah mencapai ukuran wajib zakat.
Benda yang wajib dizakati adalah sebagai berikut:
a; Binatang ternak, meliputi unta, sapi, kerbau dan kambing.
b; Emas dan perak
c; Biji makanan yang mengenyangkan, seperti padi
d; Buah-buahan, dan
e; Harta perniagaan

Kewajiban zakat bukan hanya sekedar menunaikan kewajiban saja, tapi juga
memberikan banyak manfaat untuk kepentingan hidup masayrakat muslim. Dalam
tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa kewajiban zakat adalah untuk membersihkan

seseorang dari dosa, juga membersihkan harta yang dimiliki seseorang karena
dalam suatu takaran harta terdapat hak orang lain di dalamnya.

2; Zakat sebagai upaya menanggulangi kemiskinan

Zakat dalam tafsir Al-Misbah, zakat harus dimbil oleh orang yang berkuasa saat
itu untuk kemudian di berikan kepada yang membutuhkan. Dalam tafsir tersebut
disebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada Rosulullah untuk mengambil
sebagian harta dari umatnya lalu kemudian mendoakanya.
Ayat tersebut mengisyaratkan dalam melaksanakan zakat hendaknya ada
pengorganisiran agar tersalurkan dan terorganisir dengan baik. Di Indonesia
tersendiri terdapat beberapa badan pengelola zakat seperti ZIS, LAZ dan
sebagainya.
Zakat selain sebagai pembersih diri dan kekayaan bagi umat muslim, juga sebagai
sarana melakukan kegiatan social kepada orang-orang yang membutuhkan. Alquran mengklasifikasikan orang-orang yang berhak menerima zakat dalam salah
satu ayatnya, yaitu:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang


miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang
diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Yang berhak menerima zakat menurut ayat diatas adalah sebagai berikut:
1; Orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta

dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.


2; Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam
Keadaan kekurangan.
9

3; Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan


4;
5;
6;

7;

membagikan zakat.
Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru
masuk Islam yang imannya masih lemah.
Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang
ditawan oleh orang-orang kafir.
Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang
bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang
berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu
dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
Orang yang berjalan ada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan
pertahanan Islam dan kaum muslimin. Diantara mufasirin ada yang

berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingankepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
8; Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami
kesengsaraan dalam perjalanannya.

Dalam tafsir Asbabun Nujul, zakat bukan hanya untuk kepentingan ibadah saja
tapi juga untuk pembinaan kesejahteraan umat. Zakat sangat penting untuk
menanggulangi kemiskinan, khususnya di Indonesia yang umat muslim
merupakan mayoritas. Zakat akan menghasilkan dana yang sangat besar, yang
terpenting adalah bagaimana pendistribusian zakat tersebut.
Jika setiap tahunnya, umat islam rutin mengeluarkan zakat sebesar seperpuluh
atau seperduapuluh persen dari hasil pertanian dan dan seperempat puluh dari
harta kekayaan lain, umat Islam mempunyai dana yang sangat besar untuk
pembinaan kesejahteraan umat yang dari segi ekonominya rendah. Dengan zakat
fitrah saja, yag nilainya sangat kecil, jika di koordinir dengan baik akan terhimpun
dana yang sangat besar.
Dana zakat ini, jika dikoordinir dengan baik oleh para organisasi pengelola zakat
dapat digunakan untuk kepentingan mustahiq sebagai upaya pensejahteraan social,
seperti modal usaha. Selain diberi dana usaha, harus diberikan juga pengertian
10

kepada para mustahiq untuk merubah pola pikir konsumtif, sehingga dana zakat
yang diberikan tidak habis dikonsumsi tapi digunakan untuk pemberdayaan diri
seperti modal usaha yang telah dibahas diatas.

BAB III
PENUTUP
A; Kesimpulan

Makalah ini memilki kesimpulan sebagi berikut:


1; Al-Quran surat At-Taubah ayat 103 membahas tentang kewajiban zakat

untuk umat muslim


2; Selain kewajiban zakat, terdapat pula isyarat pengkoordiniran zakat secara
baik dan tepat dalam surat At-Taubah ayat 103
3; Zakat adalah upaya membersihkan diri dan harta bagi kaum muslim
4; Selain untuk menunaikan kewajiban, zakat juga berperan sebagai salah
satu upaya menganggulangi kemiskinan bagi umat Islam.

B; Saran

Ayat Al-Quran adalah ayat-ayat yang mengandung tuntunan tersirat didalamnya.


Dalam memahami suatu ayat di diperlukan penafsiran yang benar dan tepat.
Bagi kaum awam yang belum mempunyai kemampuan dalam menafsirkan ayat
Al-Quran, untuk memahami ayat al_Quran diperlukan tafsir yang beragam agar
mendapat pengetahuan yang luas tentang maksud suatu ayat tersebut.

11

Dalam makalah ini, ayat yang ditafsirkan adalah surat at-Taubah ayat 103 yang
bahasannya terkait masalah zakat. Dalam memahami ayat ini, penulis hanya
menggunakan beberapa tafsir saja. Oleh karena itu penulis menyarankan untuk
mencari rujukan kitab tafsir yang lebih beragam agar lebih memahami maksud
dari ayat yang dibahas.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemah
Imas Rosyanti.2002.Esensi Al-Quran.Bandung:CV Pustaka Setia
Sulaiman Rasjid.2012.Fiqih Islam.Bandung:Penerbit Sinar Baru Algesindo
Ibn Katsir.1988.Tafsir Ibnu Katsier.Penterjemah:Salim Bahreisy dan Said
Bahreisy.Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Jalalluddin al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi,1997.Tafsir Jalallain.Terjemah
oleh bahrun abu bakar.Bandung:Sinar Baru Algensindo

12