You are on page 1of 10

ENERGI PANAS BUMI / GEOTHERMAL

Energi geothermal merupakan sumber energi terbarukan berupa energi thermal (panas) yang
dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi. Istilah geothermal berakar dari bahasa Yunani
dimana kata, "geo", berarti bumi dan, "thermos", berarti panas, menjadi geothermal yang juga
sering disebut panas bumi. Energi panas di inti bumi sebagian besar berasal dari peluruhan
radioaktif dari berbagai mineral di dalam inti bumi.
Energi geothermal merupakan sumber energi bersih bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil
karena sumur geothermal melepaskan sangat sedikit gas rumah kaca yang terperangkap jauh di
dalam inti bumi, ini dapat diabaikan bila dibandingkan dengan jumlah gas rumah kaca yang
dilepaskan oleh pembakaran bahan bakar fosil.
Ada cukup energi geothermal di dalam inti bumi, lebih dari kebutuhan energi dunia saat ini.
Namun, sangat sedikit dari total energi panas bumi yang dimanfaatkan pada skala global karena
dengan teknologi saat ini hanya daerah di dekat batas-batas tektonik yang menguntungkan untuk
dieksploitasi.
Pembangkit listrik geothermal saat ini beroperasi di 24 negara di seluruh dunia, dan negara yang
terbesar di dunia dalam hal kapasitas instalasi energi panas bumi adalah Amerika Serikat. Pada
tahun 2010 Amerika Serikat memiliki 77 pembangkit listrik tenaga panas bumi yang
memproduksi lebih dari 3000 MW.
Amerika Serikat juga merupakan lokasi bagi kompleks pembangkit listrik tenaga geothermal
terbesar di dunia, terletak di Geysers, California. Namun, Amerika Serikat hanya memperoleh
sekitar 0,3% pasokan listriknya dari pembangkit listrik panas bumi, bahkan meskipun negara ini
merupakan negara terbesar di dunia dalam hal kapasitas instalasi geothermal.
Energi geothermal tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik tetapi juga untuk tujuan
pemanasan. Di banyak daerah di seluruh dunia, pemanasan geothermal adalah cara yang lebih
ekonomis untuk memanfaatkan energi panas bumi dibandingkan dengan pembangkit listrik
geotermal.
Energi geothermal tersedia 24-7 dan karenanya tidak memiliki masalah intermitten (tidak
kontinyu) seperti energi surya dan angin. Setelah dibangun, pembangkit listrik geothermal
membutuhkan biaya pemeliharaan yang relatif rendah, dan tidak memerlukan banyak sumber
daya air. Namun, memerlukan biaya modal yang tinggi untuk pengeboran. Pengeboran sumur
geothermal menyumbang lebih dari setengah dari biaya modal.
Energi geotehermal memiliki lebih dari cukup potensi untuk memainkan peran penting di pasar
energi global masa depan. Kemajuan teknologi dan iptek harus membantu membuat biaya modal
untuk proyek panas bumi menjadi turun sehingga listrik tenaga geothermal terjangkau di
berbagai area di seluruh dunia.

Bagaimana Energi Geothermal Diproduksi


Bayangkan pusat Bumi. Bagian ini sangat panas sehingga dapat mencairkan batu dengan cukup
mudah. Nah, bila Anda pergi menuju kerak bumi, suhu akan lebih tinggi dan lebih tinggi.
Menurut perkirakan, untuk kira-kira setiap empat puluh meter (belum sampai setengah panjang
lapangan sepak bola), suhu naik sekitar tiga puluh empat derajat Fahrenheit. Akibatnya adalah
batu-batu yang panas di bawah permukaan bumi ikut memanaskan air sehingga terjadilah
peguapan. Untuk memanfaatkannya, kemudian dibuat lubang dengan cara mengebor ke daerah
panas bumi pada kedalaman tertentu sehingga uap air dapat terbebaskan.
Selama proses, di stasiun panas bumi dibor lubang seperti disebutkan di atas dan dibuat sumur
injeksi dimana air dingin dipompakan ke sumur. Air dingin ini kemudian dialirkan melewati batu
panas dan kemudian tekanan digunakan untuk mengeluarkan air kembali. Setelah air panas
mencapai permukaan, air tersebut berubah menjadi uap, yang kemudian dimanfaatkan sebagai
sumber daya. Nah, uap yang sudah dibersihkan dan disaring lalu digunakan untuk menggerakkan
turbin listrik, yang pada gilirannya akan mengahasilkan energi listrik.
Kelebihan Energi Geothermal
Bila pembangkit listrik memanfaatkan tenaga panas bumi dilakukan dengan cara yang benar,
tidak ada produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pemerhati lingkungan pasti akan
menyukainnya!
Pada proses produksi, tidak digunakan bahan bakar fosil. Selain itu, energi geothermal tidak
menyebabkan efek rumah kaca apapun. Setelah pembangunan pembangkit listrik tenaga
geothermal, hanya ada sedikit pemeliharaan. Dalam hal konsumsi energi, pembangkit listrik
tenaga panas bumi adalah pembangkit energi mandiri. Keuntungan lain untuk energi geothermal
adalah bahwa pembangkit listrik tidak harus yang besar untuk melindungi lingkungan alam.
Kekurangan Energi Geothermal
Ada beberapa kekurangan pada energi geothermal. Pertama, Kita tidak bisa membangun
pembangkit listrik tenaga panas bumi di sembarang lahan kosong di suatu tempat. Daerah tempat
pembangkit energi geothermal yang akan dibangun harus mengandung batu-batu panas yang
cocok pada kedalaman yang tepat untuk pengeboran. Selain itu, jenis bebatuannya harus mudah
untuk dibor ke dalam. Hal ini penting untuk menjaga area sekitar karena jika lubang dibor

dengan tidak benar, maka mineral dan gas yang berpotensi membahayakan bisa menyembur dari
bawah tanah. Pencemaran dapat terjadi karena pengeboran yang tidak tepat di stasiun panas
bumi. Dan juga, memungkinkan pula pada suatu area panas bumi tertentu terjadi kekeringan.
Energi panas bumi yang ada di Indonesia pada saat ini dapat dikelompokkan menjadi :
1. Energi panas bumi uap basah
Pemanfaatan energi panas bumi yang ideal adalah bila panas bumi yang keluar dari perut bumi
berupa uap kering, sehingga dapat digunakan langsung untuk menggerakkan turbin generator
listrik. Namun uap kering yang demikian ini jarang ditemukan termasuk di Indonesia dan pada
umumnya uap yang keluar berupa uap basah yang mengandung sejumlah air yang harus
dipisahkan terlebih dulu sebelumdigunakan untuk menggerakkan Uap basah yang keluar dari
perut bumi pada mulanya berupa air panas bertekanan tinggi yang pada saat menjelang
permukaan bumi terpisah menjadi kira-kira 20 % uap dan 80 % air. Atas dasar ini maka untuk
dapat memanfaatkan jenis uap basah ini diperlukan separator untuk memisahkan antara uap dan
air. Uap yang telah dipisahkan dari air diteruskan ke turbin untuk menggerakkan generator
listrik, sedangkan airnya disuntikkan kembali ke dalam bumi untuk menjaga keseimbangan air
dalam tanah.
2. Energi panas bumi air panas
Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut brine
dan mengandung banyak mineral. Karena banyaknya kandungan mineral ini, maka air panas
tidak dapat digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa sistim
pembangkit tenaga listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi jenis ini, digunakan
sistem biner (dua buah sistem utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem primemya dan sistem
sekundernya berupa alat penukar panas (heat exchanger) yang akan menghasilkan uap untuk
menggerakkan turbin. Energi panas bumi uap panas bersifat korosif, sehingga biaya awal
pemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan energi panas bumi jenis lainnya.
3.Energi panas bumi batuan panas
Energi panas bumi jenis ini berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi akibat berkontak
dengan sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara
menyuntikkan air ke dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian diusahakan
untuk dapat diambil kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin. Sumber batuan
panas pada umumnya terletak jauh di dalam perut bumi, sehingga untuk memanfaatkannya perlu
teknik pengeboran khusus yang memerlukan biaya cukup tinggi.
Potensi Panas Bumi
Potensi panas bumi Indonesia dapat dibagi dalam 2 (dua) kelas, yaitu : sumber daya dan
cadangan; yang masing-masing dibagi lagi menjadi subkelas-subkelas.
Kriteria sumber daya terdiri dari :
1. Spekulatif, dicirikan oleh terdapatnya manifestasi panas bumi aktif dimana luas reservoir
dihitung dari data geologi yang tersedia dan rapat dayanya berdasarkan asumsi.

2. Hipotesis, dicirikan oleh manifestasi panas bumi aktif dengan data dasar hasil survei regional
geologi, geokimia dan geofisika. Luas daerah prospek ditentukan berdasarkan penyebaran
manifestasi dan batasan geologi, sementara penentuan suhu berdasarkan geotermometer.
Kriteria cadangan terdiri dari :
1. Terduga, dibuktikan oleh data pemboran landaian suhu dimana estimasi luas dan ketebalan
reservoir serta parameter fisika batuan dan fluida dilakukan berdasarkan data ilmu kebumian
terpadu, yang digambarkan dalam bentuk model tentatif.
2. Mungkin, dibuktikan oleh sebuah sumur eksplorasi yang berhasil dimana estimasi luas dan
ketebalan reservoir didasarkan pada data sumur dan hasil penyelidikan ilmu kebumian rinci
terpadu. Parameter batuan, fluida dan suhu reservoir diperoleh dari pengukuran langsung dalam
sumur.
3. Terbukti, dibuktikan oleh lebih dari satu sumur eksplorasi yang berhasil mengeluarkan uap/air
panas, dimana estimasi luas dan ketebalan reservoir didasarkan kepada data sumur dan hasil
penyelidikan ilmu kebumian rinci terpadu. Parameter batuan dan fluida serta suhu reservoir
didapatkan dari data pengukuran langsung dalam sumur dan atau laboratorium.
Saat ini terdapat tiga macam teknologi pembangkit panas bumi (geothermal power plants) yang
dapat mengkonversi panas bumi menjadi sumber daya listrik, yaitu dry steam, flash steam, dan
binary cycle. Ketiga macam teknologi ini pada dasarnya digunakan pada kondisi yang berbedabeda.
1.

Dry Steam Power Plants

Pembangkit tipe ini adalah yang pertama kali ada. Pada tipe ini uap panas (steam) lang-sung
diarahkan ke turbin dan mengaktifkan generator untuk bekerja menghasilkan listrik. Sisa panas
yang datang dari production well dialirkan kembali ke dalam reservoir melalui injection well.
Pembangkit tipe tertua ini per-tama kali digunakan di Lardarello, Italia, pada 1904 dimana saat
ini masih berfungsi dengan baik. Di Amerika Serikat pun dry steam power masih digunakan
seperti yang ada di Geysers, California Utara.

2.

Flash Steam Power Plants

Panas bumi yang berupa fluida misalnya air panas alam (hot spring) di atas suhu 1750 C dapat
digunakan sebagai sumber pembangkit Flash Steam Power Plants. Fluida panas tersebut dialirkan kedalam tangki flash yang tekanannya lebih rendah sehingga terjadi uap panas secara cepat.
Uap panas yang disebut dengan flash inilah yang menggerakkan turbin untuk meng-aktifkan
generator yang kemudian menghasil-kan listrik. Sisa panas yang tidak terpakai ma-suk kembali
ke reservoir melalui injection well. Con-toh dari Flash Steam Power Plants adalah Cal-Energy
Navy I flash geothermal power plants di Coso Geothermal field, California, USA.
3.

Binary Cycle Power Plants (BCPP)

BCPP menggunakan teknologi yang berbeda dengan kedua teknologi sebelumnya yaitu dry
steam dan flash steam. Pada BCPP air panas atau uap panas yang berasal dari sumur pro-duksi
(production well) tidak pernah menyentuh turbin. Air panas bumi digunakan untuk memanaskan
apa yang disebut dengan working fluid pada heat exchanger. Working fluid kemu-dian menjadi
panas dan menghasilkan uap berupa flash. Uap yang dihasilkan di heat exchanger tadi lalu
dialirkan untuk memutar turbin dan selanjutnya menggerakkan genera-tor untuk menghasilkan
sumber daya listrik. Uap panas yang dihasilkan di heat exchanger inilah yang disebut sebagai
secondary (binary) fluid. Binary Cycle Power Plants ini sebetulnya merupakan sistem tertutup.
Jadi tidak ada yang dilepas ke atmosfer.
Keunggulan dari BCPP ialah dapat dioperasikan pada suhu ren-dah yaitu 90-1750C. Contoh
pene-rapan teknologi tipe BCPP ini ada di Mammoth Pacific Binary Geo-thermal Power Plants

di Casa Di-ablo geothermal field, USA. Diperkirakan pembangkit listrik panas bumi BCPP akan
semakin banyak digunakan dimasa yang akan datang.
Potensi Panas bumi Di Indonesia

Manifestasi panas bumi diindonesia yang berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi tersebar di Pulau
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Pulau Sulawesi, Halmahera dan
Irian Jaya, ini menunjukkan betapa besarnya kekayaan energi panas bumi yang tersimpan di dalamnya.

ENERGI PASANG SURUT AIR LAUT

Listrik tenaga pasang surut adalah energi terbarukan, hasil dari mengkonversi energi pasang
surut menjadi listrik. Listrik tenaga pasang surut adalah bentuk tenaga air di mana energi
didapatkan dari energi yang terkandung pada pasang surut air laut.
Listrik tenaga pasang surut merupakan sumber energi terbarukan karena pasang surut air laut di
bumi adalah hasil dari interaksi gravitasi bulan dan matahari dan rotasi bumi yang membuatnya
menjadi sumber tenaga listrik yang hampir tak ada habis-habisnya.
Listrik tenaga pasang surut memiliki potensi yang sangat baik tetapi banyak industri listrik
pasang surut masih sebatas proyek percontohan dan belum mendapat perhatian di seluruh dunia.
Banyak daerah di dunia memiliki sumber daya pasang surut air laut yang kuat, konstan dan dapat
diprediksi. Energi pasang surut juga disebutkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan
yang paling efisien, dengan efisiensi hingga 80%.
Listrik tenaga pasang surut tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca berbahaya dan karena itu
tidak berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi pada bahan bakar fosil.
Listrik tenaga pasang surut memiliki satu kelemahan utama, yaitu biaya konstruksinya yang
tinggi sehingga secara signifikan memperpanjang masa pengembalian investasi dan hal inilah
yang menghalangi masuknya para investor.

Energi pasang surut mampu menghasilkan listrik hanya disaat gelombang pasang yang rata-rata
sekitar 10 jam setiap hari. Ini berarti bahwa energi pasang surut adalah sumber energi intermiten
(seperti surya dan angin) dan karena itu memerlukan solusi penyimpanan energi yang memadai.
Biaya konstruksi tinggi dan intermitten merupakan dua kekurangan besar yang menghalangi
listrik tenaga pasang surut menjadi pemain utama di pasar energi terbarukan global. Apakah ilmu
pengetahuan akan dapat membuat perbedaan dan membuat tenaga pasang surut kompetitif
dengan bahan bakar fosil dalam hal biaya? hal ini masih terus kita pantau, tetapi potensi tersebut
pastilah ada.
Tenaga pasang surut pada dasarnya adalah bentuk tenaga air yang menghasilkan daya listrik
melalui pemanfaatan dari aliran pasang surut. Listrik tenaga pasang surut walaupun memiliki
potensi besar masih belum banyak digunakan. Prinsip kerja dari tenaga pasang surut tidak terlalu
rumit: sekali air pasang datang, air akan disimpan dalam bendungan, dan ketika air surut, air di
bendungan akan disalurkan melalui pipa untuk menggerakkan turbin, yang kemudian
menghasilkan listrik.
Listrik tenaga pasang surut memiliki beberapa keunggulan. Pertama, tenaga pasang surut adalah
sumber energi terbarukan karena pasang surut di planet kita disebabkan oleh interaksi gaya
gravitasi antara Bulan dan Matahari, serta rotasi bumi, yang berarti bahwa listrik tenaga pasang
surut tidak akan habis selama paling tidak beberapa milyar tahun.
Satu keunggulan besar yang dimiliki tenaga pasang surut dibandingkan beberapa sumber energi
terbarukan lainnya (terutama energi angin) adalah bahwa tenaga pasang surut merupakan sumber
energi yang sangat handal. Hal ini dapat dipahami karena kita bisa memprediksi kapan air pasang
akan naik dan kemudian surut, karena pasang-surutnya air laut jauh lebih siklik daripada pola
cuaca yang acak.
Dan juga, listrik tenaga pasang surut tidak menghasilkan gas rumah kaca seperti bahan bakar
fosil, dan limbah berbahaya seperti ini juga dikhawatirkan akan terjadi pada penggunaan energi
nuklir. Waduk dan bendungan kecil yang diperlukan untuk memanfaatkan tenaga pasang surut
juga dapat memainkan peran yang sangat penting dalam melindungi kota-kota terdekat atau
pelabuhan dari gelombang berbahaya pada saat terjadi badai.
Listrik tenaga pasang surut merupakan sumber energi yang sangat efisien, dengan efisiensi 80%,
ini berarti bahwa efisiensi energi pasang surut hampir tiga kali lebih besar dari batubara dan
minyak bumi yang memiliki efisiensi 30%, dan juga secara signifikan lebih tinggi dari efisiensi
energi surya dan angin.
Kelemahan utama energi pasang surut adalah pembangkit listrik pasang surut sangat mahal untuk
dibangun, yang berarti listrik tenaga pasang surut masih tidak efektif dalam hal biaya bila
dibandingkan dengan pembangkit bahan bakar fosil. Meskipun begitu, pembangkit listrik pasang
surut dibangun hanya sekali dan biaya pemeliharaannya relatif rendah.
Dan pula, di kehidupan nyata energi pasang surut hanya dapat dilakukan di pantai dengan
diferensial pasang surut yang baik, artinya tidak banyak lokasi yang benar-benar cocok untuk

jenis pembangkit listrik tenaga pasang surut, dan juga hanya menghasilkan listrik selama ada
gelombang pasang yang rata-rata terjadi sekitar 10 jam setiap hari.
Listrik tenaga pasang surut juga dapat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan; turbin
pembangkit dapat mengganggu gerakan kapal dan hewan laut yang besar di sekitar kanal,
sedangkan bangunan pembangkit listrik tenaga pasang surut dapat mengganggu migrasi ikan di
lautan, dan bahkan membunuh populasi ikan ketika melewati turbin.
Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tenaga pasang surut memiliki potensi besar, namun juga
terdapat beberapa kelemahan serius yang menghambat listrik tenaga pasang surut memiliki nilai
komersial tinggi. Masih perlu banyak pengembangan agar teknologi listrik tenaga pasang surut
menjadi efektif dalam hal biaya, karena potensi besar saja tidak cukup untuk membuat tenaga
pasang surut kompetitif dengan bahan bakar fosil yang dominan di saat ini.
Indonesia dengan luas perairan hampir 60% dari total luas wilayah sebesar 1.929.317 km2,
Indonesia seharusnya bisa menerapkan teknologi alternatif ini. Apalagi dengan bentangan Timur
ke Barat sepanjang 5.150 km dan bentangan Utara ke Selatan 1.930 km telah mendudukkan
Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Pada musim hujan, angin
umumnya bergerak dari Utara Barat Laut dengan kandungan uap air dari Laut Cina Selatan dan
Teluk Benggala. Di musim Barat, gelombang air laut naik dari biasanya di sekitar Pulau Jawa.
Fenomena alamiah ini mempermudah pembuatan teknik pasang surut tersebut.
Keadaan pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut dari
Samudra Pasifik, Hindia, morfologi pantai, dan batimeri perairan yang kompleks dimana
terdapat banyak selat, palung, dan laut yang dangkal dan laut dalam. Keadaan perairan tersebut
membentuk pola pasang surut yang beragam. Di Selat Malaka pasang surut setengah harian
(semi diurnal) mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan pengamatan pasang surut
di Kabil, Pulau Batam diperoleh bilangan Formzhal sebesar 0,69, sehingga pasang surut di Pulau
Batam dan Selat Malaka pada umumnya adalah pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang
menonjol. Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa. Berdasarkan
pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhal sebesar 3,80. Jadi tipe pasang
surut di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya adalah pasut bertipe tunggal. Tunggang
pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1 sampai dengan 6 meter. Di Laut Jawa,
umumnya tunggang pasang surut antara 11,5 m, kecuali di Selat madura yang mencapai 3
meter. Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di Papua.
Alat-Alat Pengukuran Pasang Surut Air Laut dan Metode Pengukurannya
Beberapa alat pengukuran pasang surut diantaranya sebagai berikut:
a. Tide Staff
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan
pada pengukuran pasang surut di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur
pasang surut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian
muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu,
alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat.

Syarat pemasangan papan pasut adalah:


o Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air;
o Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai
(aliran debit air);
o Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air
bergerak secara tidak teratur;
o Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan
dipasang tegak lurus
o Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah
dikaitkan;
o Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut mudah
untuk diikatkan terhadap titik referensi;
o Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil; dan
o Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah
b. Tide Gauge
Perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki
sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam
komputer. Tide gauge terdiri dari dua jenis, yaitu:
o Floating tide gauge (self registering)
Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut dapat diketahui melalui
pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasang surut
dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu
pasut.
o Pressure tide gauge (self registering)
Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan
naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan
dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada
di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan
pasang surut.

c. Satelit
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3.
Saat ini, secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang,
yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan
mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global.
Prinsip Dasar Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa radar
(transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Sistem ini,
altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik
(radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan
diterima kembali oleh satelit. Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan teknik
altimetri yaitu pada dasarnya satelit altimetri bertugas mengukur jarak vertikal dari satelit ke
permukaan laut.
Tinggi satelit di atas permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi muka laut (Sea Surface
Height atau SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara tinggi satelit dengan
jarak vertikal. Variasi muka laut periode pendek harus dihilangkan sehingga fenomena kenaikan
muka lautdapat terlihat melalui analisis deret waktu (time series analysis). Analisis deret waktu
dilakukan karena kita akan melihat variasi temporal periode panjang dan fenomena sekularnya.