You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang tidak
diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi membran
sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas.
(Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859).
Reumatoid artritis termasuk penyakit autoimun yang menyerang persendian
tulang. Sendi yang terjangkit biasanya sendi kecil seperti tangan dan kaki secara
simetris (kiri dan kanan) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan,
nyeri dan kemudian sendi mengalami kerusakan. Kerusakan sendi sudah mulai
terjadi pada 6 bulan pertama terserang penyakit ini, dan cacat bisa terjadi setelah 2-3
tahun bila penyakit tidak diobati. Untuk memperdalam pemahaman mengenai
reumatoid oleh karena itu penulis membuat makalah yang berjudul Asuhan
Keperawatan pada pasien dengan Rheumatoid Arthritis.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana konsep dasar reumatoid artritis dan asuhan keperawatan
pada klien dengan reumatoid artritis ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1.

Untuk mengetahui pengertian reumatoid artritis.

2.

Untuk mengetahui etiologi reumatoid artritis.

3.

Untuk mengetahui manisfestasi klinis reumatoid artritis.

4.

Untuk mengetahui patofisiologi reumatoid artritis.

5.

Untuk mengetahui komplikasi reumatoid artritis.

6.

Untuk mengetahui prognosis reumatoid artritis.

7.

Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang reumatoid artritis.

8.

Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan reumatoid artritis.

9.
Untuk menjabarkan
reumatoid artritis.

asuhan

keperawatan

pada

klien

dengan

1.4 MANFAAT PENULISAN


Dengan makalah ini diharapkan supaya para pembaca bisa lebih
mengenal terhadap
tanda
dan
gejala
yang
berhubungan
dengan reumatoid artritis. Dan menyampaikan kepada para pembaca
tentang asuhan keperawatan reumatoid artritis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN REUMATOID ARTRITIS

Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan


manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh
(Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : hal 536).
Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan
proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat
sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi
secara simetris. (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal.165)
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak
diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam
membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas
lebih lanjut.(Susan Martin Tucker.1998).
Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai
membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan nyeri
persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan ( Diane C. Baughman.
2000 ).
Artritis Reumatoid adalah suatu penyakit peradangan kronik yang
menyebabkan degenerasi jaringan ikat, peradangan (inflamasi) terjadi secara
terus-menerus terutama pada organ sinovium dan menyebar ke struktur sendi di
sekitarnya seperti tulang rawan, kapsul fibrosa sendi, legamen dan tendon.
Inflamasi ditandai dengan penimbunan sel darah putih, pengaktifan komplemen,
fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan granular. Inflamasi kronik
menyebabkan hipertropi dan penebalan membran pada sinovium, terjadi hambatan
aliran darah dan nekrosis sel dan inflamasi berlanjut. Pembentukan panus terjadi
oleh penebalan sinovium yang dilapisi jaringan granular. Penyebaran panus ke

sinovium menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut memacu


kerusakan sendi dan deformitas. Biasanya jaringan ikat yang pertama kali
mengalami kerusakan adalah jaringan ikat yang membentuk lapisan sendi, yaitu
membrane sinovium.
Klasifikasi Rheumatoid Arthritis :
Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:
1. Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan
gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu
6 minggu.
2. Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan
gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu
6 minggu.
3. Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan
gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu
6 minggu.
4. Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan
gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu
3 bulan.
2.2 ETIOLOGI REUMATOID ARTRITIS

Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti.


Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan
faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi
seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).Ada beberapa
teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2. Endokrin
3. Autoimmun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan

Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun
dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi
mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup
difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi
penderita.

2.3 PATOLOGI REUMATOID ARTRITIS


1)

Kelainan pada sinovia

Kelainan artitis reumatoid dimulai pada sinovia berupa


sinovitis. Pada tahap awal terjadi hiperemi dan pembengkakan pada
sel-sel yang meliputi sinovia disertai dngan infiltrasi limposit dan selsel plasma. Selanjutnya terjadi pembentukan vilus berkembang ke
arah ruang sendi dan terjadi nekrosis dan kerusakan dalam ruang
sendi. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan daerah nekrosis
fibrinoid yang diliputi oleh jaringan fibroblas membentuk garis radial
kearah bagian yang nekrosis.
2)
Kelainan pada tendo
Pada tendo terjadi tenosinovitis disertai dengan invasi kolagen yang
dapat menyebabkan ruptur tendo secara parsial atau total.

3)

Kelainan pada tulang.

Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu :


a.

Stadium I (stadium sinovitis)

Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak
maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
b.

Stadium II (stadium destruksi)

Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial


terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi
tendon.
c.

Stadium III (stadium deformitas)

Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang


kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

4)

Kelainan pada jaringan ekstra artikular.

Perubahan patologis yang dapat terjadi pada jaringan ekstra-artikuler


adalah :
a.

Otot

Pada otot terjadi miopati yang pada elektromiograf menunjukkan


adanya degenerasi serabut otot.
b.

Pembuluh darah kapiler

Terjadi perubahan pada pembuluh darah sedang dan kecil berupa


artritis nekrotik. Akibatnya terjadi gangguan respon arteriol terhadap
temperatur.
c.

Nodul subkutan

Nodul subkutan terdiri atas unit jaringan yang nekrotik di bagian


sentral dan dikelilingi oleh lapisan sel mnonuklear yang tersusun
secara radier dengan jaringan ikat yang padat dan diinfiltrasi oleh selsel bulat. Nodul subkutan hanya ditemukan pada 25% dari seluruh
klien artritis reumatoid. Gambaran ektra-artikuler yang khas adalah
ditemukannya nodul subkutan yang merupakan tanda patognomonik
dan ditemukan pada 25% dari klien artritis reumatoid.

d.

Kelenjar limfe

Terjadi pembesaran kelenjar limfe yang berasal dari aliran limfe


sendi, hiperplasia folikuler, peningkatan aktivitas sistem
retikuloendotelial dan proliferasi jaringan ikat yang mengakibatkan
splenomegali.
e.

Saraf

Pada saraf terjadi perubahan pada jaringan periuneral berupa


nekrosis fokal, rekasi epiteloid serta infiltrasi yang menyebabkan
neuropati sehingga terjadi gangguan sensoris.
f.

Organ-organ Visea

Kelainan artritis reumatoid juga dapat terjadi pada organ visera


seperti jantung dimana adanya demam reumatik kemungkinan akan
menyebabkan gangguan pada katub jantung. (Muttaqin, Pengantar
Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal, 2006).

2.4 PATOFISIOLOGI REUMATOID ARTRITIS


Pada Artritis reumatoid, reaksi autoimun terutama terjadi pada jaringan synovial.
Proses fagositosis

menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut

akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran synovial, dan
akhirnya

membentuk

panus.

Panus

akan

meghancurkan

tulang

rawan

dan

emnimbulkan erosi tulang, akibatnya menghilangkan permukaan sendi yang akan


mengalami perubahan generative dengan menghilangnya elastisita otot dan kekuatan
kontraksi otot.
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi synovial disertai edema, kongesti vascular
eksudat fibrin dan inflamasi selular. Peradangan yang berkelanjutan menyebabkan
synovial menjadi menebal terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada
persendian ini granulasi membentuk pannus atau penutup yang menutupi kartilago.
Pannus masuk ke tulang subcondria. Jaringan granulasi menguat karena radang
menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuler. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago persendian menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi , karena
jaringan fibrosa atau tulang bersatu (akilosis). Kerusakan kartilago dan tulang
menyebabkan tendon dan ligament menjadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi
atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub condrial bisa menyebabkan
osteoporosis setempat. Lamanya rheumatoid arthritis

berbeda pada setiap orang

ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara orang
ada yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang
lain terutama yang mempunyai factor rematoid, gangguan akan menjadi kronis yang
progresif. Pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai kerusakan
sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus.

2.5 MANISFESTASI KLINIS REUMATOID ARTRITIS


Gejala awal terjadi pada beberapa sendi sehingga disebut poli artritis
rheumatoid. Persendian yang paling sering terkena adalah sendi
tangan, pergelangan tangan, sendi lutut, sendi siku pergelangan kaki,
sendi
bahu
serta
sendi
panggul
dan
biasanya
bersifat
bilateral/simetris. Tetapi kadang-kadang hanya terjadi pada satu
sendi disebut artritis reumatoid mono-artikular. (Chairuddin, 2003).
Kriteria dm American Rheumatism Association (ARA) yang di revisi
1987, adalah:

1.
Kaku pada pagi hari (morning stiffness). Pasien merasa kaku
pada persendian dan di sekitarnya sejak bangun tidur sampai
sekurang-kurangnya 1 jam sebelum perbaikan maksimal.
2.
Arthritis pada 3 daerah. Terjadi pembengkakan jaringan lunak
atau persendian(soft tissue swelling) atau lebih efusi, bukan
pembesaran tulang (hyperostosis). Terjadi pada sekurang-kurangnya
3 sendisecara bersamaan dalam observasi seorang dokter. Terdapat
14 persendian siku, pergelangan kaki, dan metatarsofalang kiri dan
kanan.
3.
Arthritis pada persendian tangan. Sekurang-kurangnya terjadi
pembengkakan satu persendian tangan seperti tertera di atas.
4.
Arthritis simetris. Maksudnya keterlibatan sendi yang sama;
(tidak mutlak bersifat simetris) pada kedua sisi secara serentak
(symmetrical polyartritis simultaneously).
5.
Nodul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang
atau permukaan ektensor atau daerah jukstaartikular dalam
observasi seorang dokter.
6.
Faktor rheumatoid serum positif. Terdapat titer abnormal faktor
rheumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan
hasil positif kurang dari 5% kelompok control.
7.
Terdapat perubahan gambaran radiologis yang khas pada
pemeriksaan sinar rontgen tangan posteroanterior atau pergelangan
tangan, yang harus menunjukkkan adanya erosi atau dekalsifikasi
tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang berdekatan
dengan sendi.
Diagnosis artritis reumatoid ditegakkan jika sekurang-kurangnya
terpenuhi 4 dari 7 kriteria di atas. Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat
minimal selama 6 minggu. (Mansjoer, 2001).
2.6 KOMPLIKASI REUMATOID ARTRITIS

Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah


gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama
penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat
pengubah perjalanan penyakit (disease modifying antirheumatoid
drugs, DMRAD) yang menjadi penyebab mordibitas dan mortalitas
utama pada artitis reumatoid.

Komplikasi syaraf yang terjadi tidak memberikan gambaran


jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan lesi
neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat
ketidakstabilan verterbra servikal dan neuropati iskemik akibat

vaskulitis. (Mansjoer, 2001). Vaskulitis (inflamasi sistem vaskuler)


dapat menyebabkan trombosis dan infark.

Nodulus reumatoid ekstrasinovial dapat terbentuk pada katup


jantung atau pada paru, mata, atau limpa. Fungsi pernapasan dan
jantung dapat terganggu. Glaukoma dapat terjadi apabila nodulus
yang menyumbat aliran keluar cairan okular terbentuk pada mata.

Penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup


sehari-hari , depresi, dan stres keluarga dapat menyertai eksaserbasi
penyakit. (Corwin, 2009).

Osteoporosis.

Nekrosis sendi panggul.

Deformitaas sendi.

Kontraktur jaringan lunak.


Sindrom Sjogren (Bilotta, 2011).

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG REUMATOID ARTRITIS


Tidak banyak berperan dalam diagnosis artritis reumatoid, namun
dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat
prognosis pasien. Pada pemeriksaan laboraturium terdapat:

Tes faktor reuma biasanya positif pada lebih dari 75% pasien
artritis reumatoid terutama bila masih aktif. Sisanya dapat dijumpai
pada pasien lepra, tuberkulosis paru, sirosis hepatis, hepatitis
infeksiosa, lues, endokarditis bakterialis, penyakit kolagen, dan
sarkoidosis.

Protein C-reaktif biasanya positif.

LED meningkat.

Leukosit normal atau meningkat sedikit.

kronik.

Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang

Trombosit meningkat.

Kadar albumin serum turun dan globulin naik.

Pada pemeriksaan rotgen, semua sendi dapat terkena, tapi yang


tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris. Sendi
sakroiliaka jugasering terkena. Pada awalnya terjadi pembengkakan

jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular. Kemudian terjadi


penyempitan ruang sendi dan erosi. (Mansjoer, 2001).

2.8 PENATALAKSANAAN/PENGOBATAN REUMATOID ARTRITIS


Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri,
mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan
meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita.
Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain
:
1.

Pemberian terapi

Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin


untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk
mengurangi inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk
memperlambat destruksi sendi dan imunosupressive terapi untuk
menghambat proses autoimun.

2.

Pengaturan aktivitas dan istirahat

Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal


penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang
terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat
membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun
istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap
menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi.

3.

Kompres panas dan dingin

Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek


analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih
efektive daripada kompres dingin.

4.
Diet
Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur
dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang
terdapat dalam minyak ikan.

Mengkonsumsi makanan seperti tahu untuk pengganti daging,


memakan buah beri untuk menurunkan kadar asam urat dan
mengurangi inflamasi.
Hindari makanan yang banyak mengandung purin seperti bir dari
minuman beralkohol, ikan anchovy, sarden, herring, ragi, jerohan,
kacang-kacangan, ekstrak daging, jamur, bayam, asparagus, dan
kembangkol karena dapat menyebabkan penimbunan asam urat
dipersendian.

5.
Banyak minum air untuk membantu mengencerkan asam urat
yang terdapat dalam darah sehingga tidak tertimbun di sendi.
(NANDA, 2013).

6.

Gizi

Pemenuhan gizi pada atritis reumatoid adalah untuk mencapai dan


mempertahankan status gizi yang optimal serta mengurangi
peradangan pada sendi. Adapun syaratsyarat diet atritis rheumatoid
adalah protein cukup, lemak sedang, cukup vitamin dan mineral,
cairan disesuaikan dengan urine yang dikeluarkan setiap hari. Rata
rata asupan cairan yang dianjurkan adalah 2 2 L/hari, karbohidrat
dapat diberikan lebih banyak yaitu 65 75% dari kebutuhan energi
total.
7.
Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai
tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk
menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk
mengganti sendi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN REUMATOID ARTRITIS


3.1 PENGKAJIAN
a.

Aktivitas/Istirahat


Gejala
: Nyeri sendi karena pergerakan, nyeri tekan, yang
memburuk dengan stress pada sendi; kekakuan sendi pada pagi hari,
biasanya terjadi secara bilateral dan simetris. Keterbatasan fungsional
yang berpengaruh pada gaya hidup, aktivitas istirahat, dan pekerjaan.
Gejala lain adalah keletihan dan kelelahan yang hebat.

Tanda
: Malaise, keterbatasan rentang gerak; atrofi otot,
kulit; kontraktur/kelainan pada sendi dan otot.
b.

Kardiovaskuler

Gejala
: Fenomena Raynaud jari tangan/kaki, misal pucat
intermitten, sianotik, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna
kembali normal.
c.

Integritas Ego

Gejala
: Faktor-faktor stress akut/kronis, misal finansial,
pekerjaan,
ketidakmampuan,
faktor-faktor
hubungan
sosial.
Keputusasaan dan ketidak berdayaan. Ancaman pada konsep diri, citra
tubuh, identitas diri misal ketergantungan pada orang lain, dan
perubahan bentuk anggota tubuh.
d.

Makanan/Cairan

Gejala
:
Ketidakmampuan
untuk
menghasilkan/mengkonsumsi makan/cairan adekuat; mual, anoreksia,
dan kesulitan untuk mengunyah.

Tanda
kering.
e.

: Penurunan berat badan, dan membran mukosa

Hiegiene

Gejala
: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas
perawatan pribadi secara mandiri. Ketergantungan pada orang lain.
f.

Neurosensori

Gejala
: Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya
sensasi pada jari tangan.

g.

Tanda

: Pembengkakan sendi simetris.

Nyeri/kenyamanan

Gejala
: Fase akut dari nyeri (disertai/tidak disertai
pembengkakan jaringan lunak pada sendi). Rasa nyeri kronis dan
kekakuan (terutama pada pagi hari).
h.

Keamanan


Gejala
: Kulit mengilat, tegang; nodus subkutaneus. Lesi
kulit, ulkus kaki, kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan
rumah tangga. Demam ringan menetap, kekeringan pada mata, dan
membran mukosa.
i.

Interaksi sosial

Gejala
: Kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain,
perubahan peran, isolasi.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan pada yang dapat ditemukan pada
rumatoid arthritis (Doengoes, 2000) adalah sebagai berikut :

klien

1) Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi


akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.

oleh

jaringan

2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal,


nyeri/ketidaknyamanan, intoleransi terhadap aktivitas atau penurunan
kekuatan otot.
3) Gangguan citra tubuh / perubahan penampilan peran berhubungan
dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas
umum, peningkatan penggunaan energi atau ketidakseimbangan
mobilitas.
4) Defisit
perawatan
diri
berhubungan
dengan
kerusakan
muskuloskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak
atau depresi.
5) Risiko tinggi kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
berhubungan dengan proses penyakit degeneratif jangka panjang,
sistem pendukung tidak adekuat.
6) Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar mengenai penyakit,
prognosis,
danpengobatan
berhubungan
dengan
kurangnya
pemajanan/ mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

Sementara Carpenito (1995) merupakan diagnosis keperawtan pada


klien reumatoid artritis, adalah sebagai berikut :
1) Kelemahan berhubungan dengan penurunan mobilitas.
2) Risiko tinggi kerusakan membran mukosa oral berhubungan
dengan pengaruh obat dan sndrom Sjogren.
3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, fibrositis.

4) Risiko tinggi isolasi sosial berhubungan dengan kelemahan dan


kesulitan ambulasi.
5) Gangguan pola seksual berhubungan dengan nyeri, kelemahan,
sulit mengatur posisi, dan kurang adekuat lubrikasi.
6) Gangguan
proses
keluarga
kesulitan/ketidakmampuan klien.
7) Ketidakberdayaan berhubungan
psikologis akibat penyakit.

berhubungan

dengan

perubahan

dengan
fisik

dan

3.3 RENCANA KEPERAWATAN


Rencana asuhan keperawatan pada klien artritis reumatoid di bawah
ini, disusun berdasarkan diagnosis keperawatan , tindakan
keperawatan, dan rasionalasis ( Doenges, 2000).

1) Diagnosis keperawatan
: Nyeri akut/kronis berhubungan
dengan distensi jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi,
destruksi sendi.
Tujuan

: Nyeri berkurang, hilang atau teradaptasi.

Kriteria Hasil

klien melaporkan penurunan nyeri.

menunjukkan perilaku yang lebih relaks.

memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari


dengan peningkatan keberhasilan.
-

Skala nyeri 0-1 atau teradaptasi.


N
o

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

Membantu
dalam
menentukan
kebutuhan
manajemen
nyeri
dan
efektivitas program.

1.

Kaji keluhan nyeri, skala


nyeri, serta catat lokasi
dan intensitas, faktor faktor
yang
mempercepat,
dan
respons
rasa
sakit
nonverbal.

2.

Berikan

Matras

matras/kasur

yang

keras,
bantal
Tinggikan tempat
sesuai kebutuhan.

3.

kecil.
tidur

Biarkan klien mengambil


posisi
yang
nyaman
waktu tidur atau duduk di
kursi. Tingkatkan istirahat
di tempat tidur sesuai
indikasi.

Tempatkan/
pantau
penggunaan
bantal,
karung pasir, gulungan
trokanter , bebat atau
brace.

4.

5.

Anjurkan
klien
untuk
sering merubah posisi.
Bantu
klien
untuk
bergerak di tempat tidur,
sokong sendi yang sakit di
atas dan di bawah, serta
hindari
gerakan
yang
menyentak.

empuk/lembut,
bantal
yang besar akan menjaga
pemeliharaan kesejajaran
tubuh
yang
tepat,
menempatkan stres pada
sendi
yang
sakit.
Peninggian tempat tidur
menurunkan tekanan pada
sendi yang nyeri.

Pada penyakit yang berat/


eksaserbasi, tirah baring
mungkin diperlukan untuk
membatasi nyeri/cedera.
Mengistirahatkan
sendisendi yang sakit dan
mempertahankan
posisi
netral. Penggunaan brace
dapat menurunkan nyeri
/kerusakan pada sendi.
Imobilisasi
yang
lama
dapat
mengakibatkan
hilang mobilitas /fungsi
sendi.
Mencegah
terjadinya
kelelahan
umum
dan
kekakuan
sendi.
Menstabilkan
sendi,
mengurangi gerakan/rasa
sakit pada sendi.

6.

Anjurkan
klien
untuk
mandi
air
hangat.
Sediakan waslap hangat
untuk kompres sendi yang
sakit. Pantau suhu air
kompres, air mandi, dan
sebagainya.

Meningkatkan
relaksasi
otot
dan
mobilitas,
menurunkan rasa sakit,
dan
menghilangkan
kekakuan pada pagi hari.
Sensitivitas pada panas
dapat dihilangkan dan luka
dermal
dapat
disembuhkan.

7.

Berikan

Meningkatkan

masase

yang

relaksasi/

8.

9.

1
0.
1
1.

lembut.

mengurangi tegangan otot.

Dorong
penggunaan
teknik manajemen stres,
misal relaksasi progresif,
sentuhan
terapeutik,
biofeedback, visualisasi,
pedoman
imajinasi,
hipnosis
diri,
dan
pengendalian napas.

Meningkatkan
relaksasi,
memberikan rasa kontrol
nyeri,
dan
dapat
meningkatkan kemampuan
koping.

Libatkan dalam aktivitas


hiburan sesuai dengan
jadwal aktivitas klien.

Memfokuskan
kembali
perhatian,
memberikan
stimulasi,
dan
meningkatkan
rasa
percaya diri dan perasaan
sehat.

Beri
obat
sebelum
dilakukan
aktivitas/
latihan yang direncanakan
sesuai petunjuk.

Meningkatkan
relaksasi,
mengurangi tegangan otot/
spasme,
memudahkan
untuk ikut serta dalam
terapi.

Kolaborasi
Berikan
petunjuk:

obat

sesuai

Asetilsalisilat (Aspirin).

NSAID lainnya, misal


ibuprofen
(motrin),

Bekerja
sebagai
antiinflmasi
dan
efek
analgesik ringan dalam
mengurangi kekakuan dan
meningkatkan
mobilitas.
ASA harus dipakai secara
reguler untuk mendukung
kadar
dalam
darah
terapeutik.
Riset
mengindikasikan
bahwa
ASA
memiliki
indeks
toksisitas
yang
paling
rendah dari NSAID lain
yang diresepkan.

Dapat digunakan bila


klien tidak memberikan
respons pada aspirin atau
untuk meningkatkan efek

naproksen,
piroksikam
fenoprofen.

sulindak,
(feldence),

D-penisilamin
(cuprimine).

dari aspirin.

Dapat
mengontrol
efek-efek sistemik dari RA
jika terapi lainnya tidak
berhasil.
Efek
samping
yang lebih berat misalnya
trombositopenia,
leukopenia,
anemia
aplastik
membutuhkan
pemantauan yang ketat.
Obat harus diberikan di
antara
waktu
makan,
karena
absorpsi
obat
menjadi tidak seimbang
akibat
makanan
dan
produk antasida dan besi.

Antasida.

Produk kodein.

1
2.

Bantu klien dengan terapi


fisik, misal sarung tangan

Diberikan bersamaan
dengan
NSAID
untuk
meminimalkan
iritasi/ketidaknymanan
lambung.

Meskipun
narkotika
umumnya
adalah
kontraindikasi,
namun
karena sifat kronis dari
penyakit, pengguna jangka
pendek
mungkin
diperlukan selama periode
eksaserbasi akut untuk
mengontrol
nyeri
yang
berat.
Memberikan
dukungan
hangat/ panas untuk sendi

parafin,
bak
dengan
bergelombang.

1
3.

mandi
kolam

Berikan kompres
jika dibutuhkan.

1
4.

Pertahankan unit
jika digunakan.

Siapkan
pembedahan,
sinovektomi

1
5.

dingin

TENS

intervensi
misal

yang sakit.

Rasa
dingin
dapat
menghilangkan nyeri dan
bengkak
pada
periode
akut.
Rangsang elektrik tingkat
rendah yang konstan dapat
menghambat
transmisi
sensasi nyeri.
Pengangkatan
sinovium
yang
meradang
dapat
mengurangi
nyeri
dan
membatasi progresi dari
perubahan degeneratif.

2)
Diagnosa
Keperawatan
:
Gangguan
mobilitas
fisik
berhubungan
dengan
deformitas
skeletal,
nyeri/ketidaknyamanan, intoleransi terhadap aktivitas ataupenurunan
kekuatan otot.
Tujuan
: Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik
sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria Hasil

Klien dapat ikut serta dalam program latihan.

Tidak terjadi kontraktur sendi.

Bertambahnya kekukatan otot.

Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas,


mempertahankan koordinasi mobilitas sesuai tingkat optimal.

N
o

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

1.

Evaluasi/
lanjutan
pemantauan
tingkat
inflamasi/
rasa
sakit
pada sendi.

Tingkat aktivitas/ latihan


tergantung
dari
perkembangan resolusi
proses inflamasi.

2.

Pertahankan
istirahat
tirah baring/ duduk jika
diperlukan. Buat jadwal
aktivitas yang sesuai
dengan toleransi untuk
memberikan
periode
istirahat
yang
terusmenerus
dan
tidur
malam hari yang tidak
terganggu.

Istirahat
sistemik
dianjurkan
selama
eksaserbasi akut dan
seluruh fase penyakit
yang
penting,
untuk
mencegah
kelelahan,
dan
mempertahankan
kekuatan.

Bantu
klien
latihan
rentang
gerak
pasif/
aktif,
demikian
juga
latihan
resistif
dan
isometrik
jika
memungkinkan.

Mempertahankan/
meningkatkan
fungsi
sendi, kekuatan otot,
dan
stamina
umum.
Latihan
yang
tidak
adekuat
dapat
menimbulkan kekakuan
sendi,
karenanya
aktivitas
yang
berlebihan
dapat
merusak sendi.

Ubah posisi klien setiap


dua jam dengan bantuan
personel yang cukup.
Demonstrasikan/ bantu
teknik pemindahan dan
penggunaan
bantuan
mobilitas.

Menghilangkan tekanan
pada
jaringan
dan
meningkatkan sirkulasi.
Mempermudah
perawatan
diri
dan
kemandirian klien. Teknik
pemindahan yang tepat
dapat
mencegah
robekan abrasi kulit.

3.

4.
5.

Posisikan sendi yang


sakit
dengan
bantal,
kantung pasir, gulung
trokanter, bebat, dan
brace.

Meningkatkan stabilitas
jaringan
(mengurangi
risiko
cedera)
dan
mempertahankan posisi
sendi
yang
diperlukandan
dan
kesejajaran tubuh serta
dapat
mengurangi

kontraktur.

6.

Gunakan bantal kecil/


tipis di bawah leher.

7.

Dorong
klien
mempertahankan postur
tegak dan duduk, berdiri
, berjalan.

8.

Berikan lingkungan yang


aman, misal menaikkan
kursi/
kloset,
menggunakan pegangan
tangga
pada
bak/
pancuran
dan
toilet,
penggunaan alat bantu
mobilitas/ kursi roda.

1
0.

Memaksimalkan
fungsi
sendi, mempertahankan
mobilitas.

Menghindari
cedera
akibat kecelakaan/ jatuh.

Konsultasi dengan ahli


terapi fisik/ okupasi dan
spesialis vokasional.

Berguna
dalam
memformulasikan
program
latihan/
aktivitas
yang
berdasarkan
pada
kebutuhan
individual
dan
dalam
mengidentifikasi
alat/
bantuan mobilitas.

Berikan
matras
busa/pengubah tekanan.

Menurunkan
tekanan
pada
jaringan
yang
mudah
pecah
untuk
mengurangi
risiko
imobilitas/terjadi
dekubitus.

Kolaborasi

9.

Mencegah fleksi leher.

Berikan
obat-obatan
sesuai indikasi:

Agen
antireumatik,
garam emas,
tiomaleat.

misal
natrium
Obat-obatan :

Krisoterapi (garam
emas
)
dapat
menghasilkan
remisi
dramatis/terus-menerus
tetapi
dapat
mengakibatkan inflamasi
rebound
bila
terjadi
penghentian atau dapat
terjadi
efek
samping
serius,
misal
krisis
nitrotoid seperti pusing,
penglihatan
kabur,
kemerahan tubuh, dan
berkembang
menjadi
syok anafilaktrik.

Steroid .

Mungkin dibutuhkan
untuk menekan inflamasi
sistemik akut.

1
1.
1
2.

Siapkan
bedah:

intervensi

Artroplasti.

Prosedur pelepasan
tunnel,
perbaikan
tendon, ganglionektomi.

Intervensi bedah:

Perbaikan
pada
kelemahan periartikuler
dan subluksasi dapat
meningkatkan stabilitas
sendi.

Perbaikan
berkenaan dengan defek
jaringan
penyambung,
meningkatkan
fungsi,
dan mobilitas.

Pergantian mungkin

Implan sendi.

diperlukan
untuk
memperbaiki
fungsi
optimal dan mobilitas.

3)
Diagnosa Keperawatan
: Gangguan citra tubuh / perubahan
penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk
melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi
atau ketidakseimbangan mobilitas.
Tujuan
: Klien mampu mengimplementasikan pola
koping yang baru dan mengungkapkan serta menunjukkan terhadap
penampilan.
Kriteria Hasil

Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam


kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup,
dan kemungkinan keterbatasan.
-

Menyusun rencana realistis untuk masa depan.

Klien menerima perunbahan citra tubuh.

Klien berpartisipasi dalam berbagai aspek perawatan dan dalam


pengambilan keputusan tentang perawatan.

N
o

INTERVENSI

Mandiri

1.
2.

Dorong
klien
mengungkapkan
perasaannya mengenai
proses penyakit dan
harapan masa depan.
Diskusikan
arti
dari
kehilangan/ perubahan
pada
klien/
orang
terdekat.
Pastikan

RASIONAL

Memberikan kesempatan
untuk
mengidentifikasi
rasa
takut/kesalahan
konsep
dan
mampu
menghadapi
masalah
secara langsung.

Mengidentifikasi
bagaimana
penyakit
memengaruhi
persepsi
diri dan interaksi dengan

bagaimana pendangan
pribadi
klien
dalam
berfungsi dalam gaya
hidup
sehari-hari,
termasuk aspek-aspek
seksual.

orang
lain
akan
menentukan kebutuhan
terhadap
intervensi/konseling lebih
lanjut.

3.

Diskusikan
persepsi
klien
menganai
bagaimana
orang
terdekat
menerima
keterbatasan klien.

Isyarat verbal/nonverbal
orang terdekat dapat
memengaruhi
bagaimana
klien
memandang
dirinya
sendiri.

4.

Akui
dan
terima
perasaan
berduka,
bermusuhan,
serta
ketergantungan.

Nyeri
konstan
akan
melelahkan,
perasaan
marah, dan bermusuhan
umum terjadi.

Observasi perilaku klien


terhadap kemungkinan
menarik
diri,
menyangkal atau terlalu
memperhatikan
perubahan tubuh.

5.

Dapat
menunjukkan
emosional atau metode
koping
maladaftif,
membutuhkan intervensi
lebih
lanjut/dukungan
psikologis.

6.

Susun batasan pada


perilaku
maladaftif.
Bantu
klien
untuk
mengidentifikasi
perilaku positif yang
dapat
membantu
mekanisme koping yang
adaftif

Membantu klien untuk


mempertahankan control
diri,
yang
dapat
meningkatkan perasaan
harga diri.

7.

Ikut
sertakan
klien
dalam
merencanakan
perawatan
dan
membuat
jadwal
aktifitas.

Meningkatkan perasaan
kompetensi/harga
diri,
mendorong kemandirian,
dan
mendorong
partisipasi dalam terapi.

8.

Bantu
kebutuhan
perawatan
yang
diperlukan klien

Mempertahankan
penampilan yang dapat
meningkatkan citra diri.

9.

Berikan

Memungkinkan

respons/pujian

klien

positif bila perlu.

untuk merasa senang


terhadap dirinya sendiri.
Menguatkan
perilaku
positif,
dan
meningkatkan
rasa
percaya diri.

Kolaborasi

1
0.

1
1.

Rujuk
pada
konselig
psikiatri, missal perawat
spesialis
psikiatri,
psikologi/psikolog,
pekerja social.

Berikan
obat-obatan
sesuai petunjuk, missal
antiansietas dan obatobatan peningkat alam
perasaan.

Klien/orang
terdekat
mungkin membutuhkan
dukungan
selama
berhadapan
dengan
proses
jangka
panjang/ketidakmampua
n.
Mungkin
dibutuhkan
pada saat munculnya
depresi hebat sampai
klien
mampu
mengembangkan
kemampuan koping yang
lebih efektif.

4.
Diagnosa Keperawatan
: Defisit perawatan diri berhubungan
dengan kerusakan muskuloskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan,
nyeri saat bergerak atau depresi.
Tujuan
kemampuannya.

: Klien dapat melakukan perawatan diri sesuai

Kriteria Hasil

Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang


konsisten dengan kemampuan individual.
Mendemonstrasikan perubahan
memenuhi kebutuhan perawatan diri.

teknik/

gaya

hidup

untuk

Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat


memenuhi kebutuhan perawatan diri.

N
o.

INTERVENSI

1.

Mandiri

RASIONAL

Diskusikan dengan klien


tingkat fungsional umum
sebelum
timbulnya/eksaserbasi
penyakit
dan
resiko
perubahan
yang
diantisipasi.

Klien mungkin dapat


melanjutkan
aktivitas
umum
dengan
melakukan
adaptasi
yang diperlukan pada
keterbatasan saat ini.

2.

Pertahankan
mobilitas,
control terhadap nyeri,
dan program latihan.

Mendukung kemandirian
fisik/emosional klien.

3.

Kaji
hambatan
klien
dalam
partisipasi
perawatan
diri.
Identifikasi/buat rencana
untuk
modifikasi
lingkungan.

Menyiapkan klien untuk


meningkatkan
kemandirian, yang akan
meningkatkan
harga
diri.

Kolaborasi
4.

Konsultasi dengan
terapi okupasi.

ahli

Mengatur
evaluasi
kesehatan
di
rumah
sebelum dan setelah
pemulangan.
5.
6.

Membuat jadwal konsul


dengan lembaga lainnya,
missal
pelayanan

Berguna
dalam
menentukan alat bantu
untuk
memenuhi
kebutuhan
individual,
missal
memasang
kancing, menggunakan
alat bantu, emmakai
sepatu,
atau
menggantungkan
pgangan untuk mandi
pancuran.
Mengidentifikasi
masalah-masalah yang
mungkin
dihadapi
karena
tingkat
ketidakmampuan actual.
Memberikan
lebih
banyak
keberhasilan
usaha tim dengan orang
lan yang ikut serta
dalam
perawatan,
missal
tim
terapi
okupasi.
Klien
mungkin
membutuhkan berbagai
bantuan
tambahan

perawatan di rumah, ahli


nutrisi.

utnuk partisipasi situasi


di rumah.

5.
Diagnosa
Keperawatan
: Resiko
tinggi
kerusakan
penatalaksanaan pemeliharaan rumah berhubungan dengan proses
penyakit degeneratif jangka panjang, sistem pendukung tidak adekuat.

N
o.

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
Kaji tingkat
fisik klien.

fingsional

1.
Evaluasi
lingkungan
sekitar untuk mengkaji
kemampuan klien dalam
melakukan
perawatan
diri sendiri.
2.

3.
4.

Tentukan
sumbersumber financial untuk
memenuhi
kebutuhan
situasi
individual.
Identifikasi
system
pendukung
yang
tersedia untuk klien,
misalnya
membagi
perbaikan/ tugas-tugas
rumah tangga antara
anggota keluarga atau
pelayanan.
Identifikasi
peralatan
yang diperlukan untuk
mendukung
aktifitas
klien, missal peninggian
dudukan toilet, kursi

Menidentifikasi tungkat
bantuan/dukungan yang
diperlukan klien.
Menentukan
kemungkinan
susunan
yang
ada/perubahan
susunan rumah untuk
memenuhi
kebutuhan
klien

Menjamin
bahwa
kebutuhan klien akan
dipenuhi secara terusmenerus.

Memberikan kesempatan
untuk
mendapatkan
peralatan
sebelum
pulang untuk menunjang
aktivitas klien di rumah.

roda.

Kolaborasi
Koordinasikan evaluasi
di rumah dengan ahli
terapi okupasi.
5.

Identifikasi
sumbersumber
komunitas,
missal
pelayanan
pembantu
rumah
tangga,
pelayanan
social (bila ada)

Bermanfaat
untuk
mengidentifkasi
peralatan,
cara-cara
untuk
mengubah
berbagai tugas dalam
mempertahankan
kemandirian.
Memberikan kemudahan
berpindah
pada/mendukung
kontinuitas dalam situasi
di rumah.

6.
Diagnosa
Keperawatan
: Kurang
pengetahuan/kebutuhan
belajar mengenai penyakit, prognosis, dan pengobatan berhubungan
dengan kurang pemanjanan/mengingat, kesalahan interprestasi
informasi.
Tujuan
: Klien mampu memahami/menjelaskan
mengenai penyakit, prognosis dan perawatannya.
Kriteria Hasil

Menunjukkan
perawatan.

pemahaman

tentang

kondisi/

prognosis,

Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk


modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau
pembatasan aktivitas.

N
o.

INTERVENSI

Mandiri

1.

Tinjau proses penyakit,


prognosis, dan harapan
masa depan.

RASIONAL

Memberikan
pengetahuan di mana
klien dapat membuat
pilihan
berdasarkan
informasi
yang
disampaikan.

2.

Diskusikan
kebiasaan
klien
dalam
penatalaksanaan proses
sakit melalui diet, obatobatan, serta program
diet seimbang, latihan,
dan istirahat.

Tujuan control penyakit


adalh untuk menekan
inflamasi sendi/jaringan
lain
guna
mempertahankan fungsi
sendi dan mencegah
deformitas.

3.

Bantu
klien
dalam
merencanakan
jadwal
aktivitas yang realistis,
periode
istirahat,
perawatan
diri,
pemberian obat-obatan,
terapi
fisik,
dan
menajemen stress.

Memberikan
striuktur
dan megurangi ansietas
pada waktu menangani
proses penyakit kronis
yang kompleks.

4.

Tekankan
pentingnya
melanjutkan manajemen
farmakoteraupeutik.

Keuntungan dari terapi


obat-obatan tergantung
ketepatan dosis.

5.

Rekomendasikan
penggunaan
aspiran
bersalut/dibuper enteric
atau salisilat (anthorpan)
atai kolin magnesium
trisalisilat (trilisate).

Preparat
bersalut/dibufer di cerna
dengan
makanan,
meminimalkan
iritasi
gaster,
mengurangi
resiko perdarahan.

6.

Anjurkan klien untuk


mencerna
obat-obatan
dengan makanan, susu
atau antasida.

Membatasi iritasi gaster.

7.

Identifikasi efek samping


obat-obatan
yang
merugikan,
missal
tinnitus,
intoleransi
lambung,
perdarahan
gastrointestinal,
dann
ruam purpurik.

8.

Tekankan
pentingnya
membaca label produk
dan
mengurangi
penggunaan obat yang
dijual
bebas
tanpa
persetujuan dokter.

Memperpanjang
memaksimalkan
aspirin
mengakibatkan
lajak (overdosis).

dan
dosis
dapat
takar

Banyak
produk
mengandung
salisilat
tersembunyi
(missal
obat diare) yang dapat
meningkatkan
resiko
overdosis
obat/efek
samping
yang
berbahaya

9.

10
.

Tinjau pentingnya diet


yang seimbang dengan
makanan yang banyak
mengandung
vitamin,
protein, dan zat besi.
Dorong
klien
yang
obesitas
untuk
menurunkan
berat
badan
dan
berikan
informasi
penurunan
berat
badan
sesuai
kebutuhan.

Meningkatkan perasaan
sehat.

Penurunan berat badan


akan
mengurangi
tekanan pada sendi.

11
.

Berikan
informasi
menganai alat bantu,
missal bermain barangbarang yang bergerak,
tongkat
untuk
mengambil, piring-piring
ringan, tempat duduk
toilet
yang
dapat
dinaikkan, palang palang
keamanan.

12
.

Diskusikan
teknik
menghemat
energy,
kisal duduk lebih baik
daripada berdiri dalam
menyiapkan
makanan
dan mandi.

13
.

Dorong
klien
untuk
menpertahankan posisi
tubuh yang benar, baik
saat istirahat maupun
saat aktivitas, missal
menjaga sendi tetap
meregang, tidak fleksi.

Mekanika tubuh yang


baik
harus
menjadi
bagian dari gaya hidup
klien untuk mengurangi
takanan sendi dan nyeri.

14
.

Tinjau perlunya inspeksi


sering pada kulit dan
lakukan perawatan kulut
lainnya di bawah bebat,
gips, alat penyokong.
Tunjukkan
pemberian
bantalan yang tepat.

Mengurangi
resiko
iritsai/kerusakan kulit.

Mengurangi
paksaan
untuk
menggunakan
sendi
dan
memungkinkan individu
untuk ikut serta secara
lebih nyaman dalam
aktivitas
yang
dibutuhkan

Mencegah kepenatan.

BAB III
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang bersifat
sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat
sendi secara simetris. Artritis reumatoid adalah gangguan kronik yang
menyerang berbagai sistem organ. Penyakit ini adalah salah satu dan
sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantai oleh
imunitas dan tidak diketahui sebab-sebabnya. Biasanya terjadi destrukti
sendi progesif, walaupun episode peradangan sendi dapat mengalami masa
remisi.
Artritis reumatoid merupakan inflamasi kronik yang paling sering ditemukan
pada sendi. Insiden puncak adalah antara usia 40 hingga 60 tahun, lebih
sering pada wanita daripada pria dengan perbandingan 3 : 1. Penyakit ini
menyerang sendi-sendi kecil pada tangan, pergelangan kaki dan sendi-sendi
besar dilutut, panggul serta pergelangan tangan. (Muttaqin, 2006).
Tujuan pengobatan adalah menghasilkan dan mempertahankan remisi atau
sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut.Tujuan
utama dari program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan,
mempertahankan fungsi sendi dan mencegah dan/atau memeperbaiki
deformitas.

DAFTAR PUSTAKA

Bilotta, Kimberly A.J. 2011. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi


Keperawatan Edisi 2. Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3. Jakarta:
EGC.
Doenges, E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kusuma, Hardhi dan Amin Huda N. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 2 2013. Yogyakarta: Media
hardy.
Lukman dan Nurna Ningsih. 2009.
Asuhan Keperawatan Pada Klien
Dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal. Jakarta: Salemba Medika.
Mansjoer, arif.
aesculapius.

Dkk.2001. Kapita

Selekta

Kedokteran.

Jakarta: Media

Muttaqin, arif. 2005. Ringkasan Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien


Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Banjarmasin: Unpublished.
Muttaqin, arif. 2006. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Sistem Muskuloskeletal. Banjarmasin: Unpublished.
Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G.2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal BedahEdisi 8. Jakarta: EGC.