You are on page 1of 7

DISFUNGSI PERAN WANITA

DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Disampaikan
Dalam Seminar Internasional Comparative Study dan Joint Seminar

Oleh:
Yagus Triana HS
Tata Bina Udin
Maman Hidayat
Deni Nurcahya
Fahira Idris

PROGRAM DOKTOR ILMU SOSIAL


BIDANG KAJIAN UTAMA ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS PASCASARJANAUNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG 2016

DISFUNGSI PERAN WANITA

DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN


ABSTRAK
Peran wanita dalam dunia kerja makin tinggi saat makin terbukanya kesempatan
kerja diluar perannya sebagai ibu rumah tangga, sehingga wanita perlu menyesuaikan peran
sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah. Tenaga kerja wanita memiliki potensi di
sektor industri disamping peranannya dalam pembentukan pendapatan ekonomi keluarga
(household econommy). Bagi wanita yang berpendidikan formal relatif rendah, maka
motivasi bekerja lebih didorong untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sedangkan
bagi wanita intelektual yang lebih banyak mengenyam pendidikan terutama pendidikan
tinggi maka motivasi didorong oleh pengembangan karier.
Artikel ini bertujuan mendiskripsikan peran wanita dalam menghadapi Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA), hal ini dilandasi oleh adanya reformasi besar dalam reposisi
peran,dan partisipasi wanita dalam perjalalan MEA. Dalam kacamata MEA, terekam
adanya ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Baik dari segi peran dan partisipasinya
terhadap ekonomi, sosial, dan politik. Sehingga perempuan dianggap tertinggal dan
menghambat pembangunan.
Berdasarkan ha itu, maka perlu adanya strategi pemberdayaan perempuan untuk
menghadapi MEA yaitu melalui peningkatan kualitas SDM perempuan, pembaharuan
hukum dan peraturan perundang-undangan, penghapusan kekerasan terhadap perempuan,
penegakan hak asasi manusia bagi perempuan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan
anak, pemampuan lembaga pemerintah dalam pemberdayaan perempuan, peningkatan peran
serta masyarakat, perluasan jangkauan pemberdayaan perempuan dan eningkatan
penerapan komitmen internasional.
Kata Kunci: Peran wanita

Pengertian Dan Karakteristik Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah


bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara
Negara-negara asean. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah
menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic
Community (AEC). Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari
integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi
kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi
ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam
mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan
prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang
konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan
pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan
basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme
dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi;
mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis,
tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai
langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pada saat yang sama,
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan
mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan VietNam melalui
Initiative for ASEAN Integration dan inisiatif regional lainnya.

Bentuk Kerjasamanya

adalah:
1. Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas.
2. Pengakuan kualifikasi professional.
3. Konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan.
4. Langkah-langkah pembiayaan perdagangan.
5. Meningkatkan infrastruktur.
6. Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN.
7. Mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah.
8. Meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA).
Pentingnya perdagangan eksternal terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk
Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk tetap melihat ke depan, karakteristik utama
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) :
1. Pasar dan basis produksi tunggal.
2. Kawasan ekonomi yang kompetitif.
3. Wilayah pembangunan ekonomi yang merata
4. Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global.
Karakteristik ini saling berkaitan kuat. Dengan Memasukkan unsur-unsur yang
dibutuhkan dari masing-masing karakteristik dan harus memastikan konsistensi dan
keterpaduan dari unsur-unsur serta pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di
antara para pemangku kepentingan yang relevan. Mayorias kaum perempuan tidak menyadari
seberapa jauh peran nya yang akan ia hadapi dalam MEA. Sejatinya, ada banyak reformasi
besar dalam reposisi peran,dan partisipasi wanita dalam perjalalan MEA yang akan dimulai
beberapa pekan kedepan. Dalam kacamata MEA, terekam adanya ketidakadilan terhadap
kaum perempuan. Baik dari segi peran dan partisipasinya terhadap ekonomi, sosial, dan

politik. Sehingga perempuan dianggap tertinggal dan menghambat pembangunan. Sumber


paradigma MEA ini tercipta atas adanya konsepsi pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai
salah satu tujuan dalam MEA ini. Konsepsi pemberdayaan ekonomi perempuan itu antara lain
:
1. MEA menjadi pendorong meningkatnya Pemberdayaan Perempuan.
2. MEA menjadi pemberdayaan Ekonomi perempuan (Pengurangan kemiskinan perempuan,
kemandirian ekonomi perempuan, aliran modal untuk perempuan, lapangan kerja untuk
perempuan, pasar yang lebih luas untuk berbagai produk).
3. Perempuan menjadi maju dan mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat.
Indonesia sendiri memiliki strategi pragmatis sebagai kesiapan kematangan negara
untuk menghadapi MEA yaitu program pemberdayaan perempuan. Yang berupa :
a. Pembangunan nasional berperspektif kesetaraan gender dan peduli anak.
b. Pengembangan kemitrasejajaran yang harmonis antara perempuan dan laki-laki.
c. Pengembangn kemitraan dan jaringan kerja Pengembangan indikator.
d. Pengembangan sistem penghargaan.
e. Perluasan pendidikan bagi anak perempuan dan
f. Pengembangan sistem informasi manajemen.
Semua strategi program pemberdayaan perempuan ini berlandaskan dengan
kebijakan dasar Pengarusutamaan (strategi pembangunan yang dilakukan untuk mencapai
kesetaraan dan keadilan gender) dalam pembangunan nasional dilakukan melalui one door
policy atau kebijakan satu pintu, Peningkatan kualitas SDM perempuan, Pembaharuan
hukum dan peraturan perundang-undangan, penghapusan kekerasan terhadap perempuan,
Penegakan hak asasi manusia bagi perempuan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan
anak, pemampuan lembaga pemerintah dalam pemberdayaan perempuan, peningkatan peran
serta masyarakat, Perluasan jangkauan pemberdayaan perempuan, dan Peningkatan
penerapan komitmen internasional.
Posisi perempuan saat dimulainya Masyarakat Ekonomi Asia, dituntut untuk
berpartisipasi aktif dengan porsi yang sama dengan laki-laki. Dan kelak, para pengusaha
wanita dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam menghadapi pasar global
ASEAN. Para pekerja perempuan pun mendapat hak yang sama dengan laki-laki dan para
pengusaha perempuan mendapat akses modal dan pasar yang sama dengan laki-laki.
Pertanyaannya, mampukah penggandaan peran perempuan ini menciptakan solusi untuk
dekadensi kualitas generasi yang bukan menjadi pemandangan asing di Indonesia dewasa ini?

Bukankah kewajiban orangtua terutama ibu adalah mendidik anaknya baik dari segi edukasi,
moral, keagamaan, sosial-masyarakat dan banyak aspek kehidupan lainnya.
Adakah sinkronasi antara implementasi nyata dengan pembangunan pemberdayaan
perempuan yang bertujuan meningkatkan status, posisi, dan kondisi perempuan agar dapat
mencapai kemajuan yang setara dengan laki-laki yang kelak diaharapkan mampun
membangun anak indonesia yang cerdas, sehat, dan terlindungi. Lalu, bagaimana bisa
tercapai tujuan pembangunan generasi yang cerdas, berintegritas, dan berkualitas jika
kewajiban perempuan untuk mendidik anaknya tercabik oleh keharusannya berpartisipasi
dalam ranah yang sama dengan laki-laki dengan porsi yang sama dengan laki-laki pula?
Tentu saja peran ini akan membuat pembagian peran sebagai orang tua terkutang-katung.
Lantas, dengan adanya dorongan partisipasi perempuan yang porsinya sama dengan laki-laki
harus membuatnya mengalihkan peran dan kewajiban nya sebagai pendidik darah dagingnya
sendiri ?
Al Ummu madrosatul uula menjadi satu ungkapan yang sering luput dari benak
setiap perempuan di era modern ini. Malah, makna lughowi bahkan hakiki tak banyak yang
memahaminya. Al Ummu madrosatul uula yang bermakna ibu adalah madrasah pertama bagi
anak-anaknya, tak banyak lagi di implementasikan dalam kehidupan, tak sedikit teori, buku
sampai seminar parenting yang diselenggarakan. Namum, tetap saja ranah pekerjaan di mata
wanita masih sangat menggiurkan. Disfungsi peran ibu di era wanita karir ini, membuat
ketidakseimbangan di banyak aspek dari mulai keluarga sampai negara. Mengapa peran
rumahan yang sering disepelekan ini berdampak jauh pada aspek negara? Jawaban nya tentu
dapat kita temukan di sekitar kita atau mungkin dibawah atap rumah kita sendiri. Ibu yang
seharusnya mengurus, mendidik, membesarkan, dan memahamkan nilai-nilai agama sosial
moral dan banyak lainnya. Meninggalkan rumah demi karirnya, melimpahkan segala
kewajibannya pada buah hatinya kepada seseorang yang mungkin ia tidak pernah ketahui
latar belakangnya, yang mungkin tidak jelas riwayat pendidikannya, pada seseorang yang ia
tidak pernah kenal baik sebelumnya yaitu pembantu rumah tangga.
Sebagaimana ungkapan bahwa perasaan dan perilaku manusia ditentukan oleh
hubungan antara orangtua dan anaknya. Bahkan cara orangtua menggantikan popok anaknya
akan berpengaruh pada perilaku psikologis sang anak di masa dewasanya sayangnya,
banyak orang yang menyadari hal ini, tetapi tidak banyak yang mengaplikasikan nya di
kehidupan sehari-hari. Seringkali dengan peran ibu dan istri yang hilang, karna adanya
kesetaraan

peran antara

laki-laki dan perempuan

meningkatkatnya angka perceraian.

di ranah kerja menyebabkan

Jelaslah pentingnya seorang sosok orangtua sebagai pendidik terhadap anaknya sangat
signifikan dan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku, perasaan, bahkan kualitas diri
seorang individu. Bayangkan jika seluruh wanita indonesia mampu menjalankan kewajiban
mendidik anaknya dengan baik, maka takkan kita temui kasus-kasus kerusakan moral dan
sosial para remaja. Dan semua itu berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas sumber
daya manusia di Indonesia. Karna memang kenyataan nya, banyak pelencengan-pelencengan
sosial yang dilakukan remaja yang terjadi di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Asyiek, Fauzia, Syahri dan Molo, Marcelinus. 1994. Wanita, Aktivitas Ekonomi dan
Domestik: Kasus Pekerja Industri Rumah Tangga Pangan di Sumatra Selatan, Pusat
Penelitian Kependudukan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
2. Karnawati, Tin Agustina. 2012. Wanita dan Partisipasinya terhadap Pemberdayaan
Ekonomi Keluarga. Disertasi. Universitas Negeri Malang.
3. Nasikun. 1993. Tinjauan Ekonomi Politik Problema Peran Wanita di Negara-negara
Sedang Berkembang dalam Fauzia Rizal, Lusi Magiyani, Agus Fahmi Husein, 1993.
Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia, Tiara Wacana Yogyakarta.
4. Troena, Eka Afnan. 1995. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja
Wanita. Jurnal Universitas Brawijaya Vol 7. No. 3 Desember 1995