You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Metrorhagia juga dikenal sebagai perdarahan uterus
disfungsional adalah masalah yang biasanya di derita oleh
seorang
terutama

wanita.
untuk

Metrorhagia
beberapa

adalah

tahun

keadaan

pertama

umum,

menstruasi

(pubertas metrorhagia). Hal ini juga diamati dengan pasien


yang dekat dengan fase menopause mereka. Pada dasarnya,
kondisi ini ditandai dengan episode perdarahan (terutama
bercak namun dapat menyebabkan pendarahan parah) di luar
fase menstruasi.
Dengan demikian, episode perdarahan digambarkan
sebagai tidak teratur dalam jumlah dan pola. Mengingat
siklus menstruasi normal wanita, fase menstruasi yang
(umumnya dikenal sebagai menstruasi) harus rata-rata 4 hari
dan

harus

terjadi

pada

bulan

depan

nanti.

Untuk

mempermudah, metrorhagia adalah di antara bercak vagina


dalam menstruasi bulanan, ancaman kesehatan dianggap
mungkin

dan

tidak

boleh

dianggap

enteng.

Ini

harus

mendorong kita untuk mencari nasihat medis untuk sejumlah


kondisi

yang

mendasarinya

mungkin

untuk

mencari

penyebab kelainan tersebut. Tetapi perhatikan, orang tidak


boleh panik dan menganggapnya disebabkan oleh penyakit
yang ditakuti.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian metroragia ?
2. Bagaimana etiologi metroragia ?
3. Bagaimana patologi metroragia ?
4. Bagaimana gambaran klinik metroragia ?

5. Apa diagnosis metroragia ?


6. Bagaimana penanganan metroragia ?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang metroragia ?
8. Bagaimana pencegah metroragia ?
9. Bagaimana WOC metroragia ?
10.

Bagaimana asuhan keperawatan metroragia ?

1.3. Tujuan
1.3.1.
Tujuan Umum
Untuk memahami dan melaksanakan asuhan
keperawatan klien dengan kasus metroragia.
1.3.2.

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari metroragia
2. Untuk mengetahui etiologi metroragia
3. Untuk mengetahui patologi metroragia
4. Untuk mengetahui gambaran klinik metroragia
5. Untuk mengetahui diagnosis metroragia
6. Untuk mengetahui penanganan metroragia
7. Untuk

mengetahui

pemeriksaan

penunjang

metroragia
8. Untuk mengetahui pencegahan metroragia
9. Untuk mengetahui WOC metroragia
10.

Untuk

metroragia

mengetahui

asuhan

keperawatan

BAB II
KONSEP PENYAKIT
2.1

Pengertian Metroragia
Metroragia pendarahan yang terjadi di antara siklus

mentruasi, atau dengan kata lain timbul lebih sering dari biasa
(Yatim Faisal, 2001)
Metroragia adalah

pendarahan

uterus

biasanya

tidak

banyak timbul pada interfan partun mestruasi yang tidak


biasanya (Chandranita, 2004)
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak
berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi
pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat
lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium,
karsinoma

endometrium,

karsinoma

serviks),

kelainan

fungsional dan penggunaan estrogen eksogen.


2.2 Etiologi Metroragia
Beberapa penyebab dari metroragia, yaitu :
1. Metroragia di luar kehamilan :
a. Sebab-sebab organik
Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan
olah kelainan pada :
1. Serviks uteri
a. Polip servisis uteri
Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan
tumbuh dari permukaan mukosa. Servikal polip
adalah

polip

yang

terdapat

servikalis (Tiran, 2005)


b. Erosio porsionis uteri
Erosio porsiones (EP)

adalah

dalam

kanalis

suatu

proses

peradangan atau suatu luka yang terjadi pada


daerah

porsio

serviks

uteri

(mulut

rahim).

Penyebabnya bisa karena infeksi dengan kumankuman atau virus, bisa juga karena rangsangan

zat kimia/alat tertentu, umumnya disebabkan


oleh infeksi.
c. Ulkus pada portio uteri atau ulkus portio
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka
pada portio berwarna merah dengan batas tidak
jelas pada ostium uteri eksternum.
2. Korpus uteriseperti
Polip endometrium, abortus imminens, abortus
insipiens, abortus incompletus, mola hidatidosa,
koriokarsinoma,

subinvolusio

uteri,

karsinoma

korpus uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.


3. Tuba fallopii
Kehamilan ekstopik terganggu, radang tuba dan
tumor tuba.
4. Ovarium
Radang overium dan tumor ovarium.
b. Sebab-sebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya
dengan

sebab

organik,

dinamakan

perdarahan

disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi


pada setiap umur antara menarche dan menopause.
Tetapi kelainan ini lebih sering dijumpai sewaktu masa
permulaan dan masa akhir fungsi ovarium.
Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat
di

rumah

sakit

untuk

perdarahan

disfungsional

berumur diatas 40 tahun dan 3 % dibawah 20 tahun.


Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan
disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena
keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarang
diperlukan perawatan di rumah sakit.
2. Metroragia oleh karena adanya kehamilan : abortus dan
kehamilan ektopik.
2.3

Patologi Metroragia
Menurut schroder pada tahun 1915, setelah penelitian

histopatologik pada uterus dan ovario pada waktu yang sama,


menarik

kesimpulan

bahwa

gangguan

perdarahan

yang

dinamakan metropatia hemorrgica terjadi karena persistensi


folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan
pembentukan corpus luteum. Akibatnya terjadilah hiperplasia
endometrium karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan
terus menerus.
Penelitian
menunjukan

pula

bahwa

perdarahan

disfungsional dapat ditemukan bersamaan dengan berbagai


jenis endometrium yaitu endometrium atropik, hiperplastik,
ploriferatif dan sekretoris, dengan endometrium jenis non
sekresi

merupakan

bagian

terbesar.

Endometrium

jenis

nonsekresi dan jenis sekresi penting artinya karena dengan


demikian

dapat

dibedakan

perdarahan

anovulatori

dari

perdarahan ovuloatoir. Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik


karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini mempunyai
dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan
yang berbeda.
Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoir gangguan
dianggap

berasal

dari

faktor-faktor

neuromuskular,

vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya belum


seberapa

dimengerti,

sedang

perdarahan

anovulatoir

biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin.


2.4 Gambaran Klinik Metroragia
a. Perdarahan Ovulatori
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10 % dari
perdarahan
(polimenore)

disfungsional
atau

dengan

panjang

siklus

(oligomenore).

pendek
Untuk

menegakan diagnosis perdarahan ovulatori perlu dilakukan


kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena perdarhan
yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi,
maka kadang-kadang bentuk survei suhu badan basal
dapat menolong.

Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari


endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik,
maka harus dipikirkan sebagai etiologinya :
1. Korpus Luteum Persistens
Dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium yang membesar. Sindrom
ini harus dibedakan dari kelainan ektopik karena riwayat
penyakit

dan

menunjukan

hasil

banyak

pemeriksaan
persamaan

panggul
antara

sering

keduanya.

Korpus luteum persistens dapat menimbulkan pelepasan


endometrium yagn tidak teratur (irregular shedding).
Diagnosis ini di buat dengan melakukan kerokan yang
tepat pada waktunya, yaitu menurut Mc. Lennon pada
hari ke 4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai
endometrium dalam tipe sekresi disamping nonsekresi.
2. Insufisiensi Korpus Luteum
Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia
kurangnya

atau
produksi

polimenore.
progesteron

Dasarnya

adalah

disebabkan

oleh

gangguan LH realizing factor. Diagnosis dibuat, apabila


hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok
dengan

gambaran

endometrium

yang

seharusnya

didapat pada hari siklus yang bersangkutan.


3. Apopleksia Uteri
Pada wanita dengan hipertensi dapat
pecahnya pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan Darah
Seperti anemia, purpura trombositopenik

terjadi

dan

gangguan dalam mekasnisme pembekuan darah.


b. Perdarahan Anovulatoar
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya
endometrium. Dengan menurunya kadar estrogen dibawah
tingkat tertentu timbul perdarahan yang kadang-kadang
bersifat siklik, kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpautnya dengan
jumlah

folikel

yang

pada

suatu

waktu

fungsional

aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum


mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-folikel
baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh
terus dan dari endometrium yang mula-mula ploriferasi
dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik.
Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka
dapat

disimpulkan

adanya

perdarahan

anovulatoir.

Perdarahan fungsional dapat terjadi pada setiap waktu


akan tetapi paling sering pada masa permulaan yaitu
pubertas dan masa pramenopause.
Pada masa pubertas perdarahan

tidak

normal

disebabkan oleh karena gangguan atau keterlambatan


proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa
pembuatan realizing faktor tidak sempurna. Pada masa
pramenopause proses terhentinya

fungsi ovarium tidak

selalu berjalan lancar.


Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan
kecil sekali dan ada harapan lambat laun keadaan menjadi
normal dan siklus haid menjadi ovulatoir, pada seorang
dewasa dan terutama dalam masa pramenopause dengan
perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk
menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat

dijumpai

pada

penderita-penderita dengan penyakit metabolik, penyakit


endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun,
tumor-tumor

ovarium

dan

sebagainya.

Akan

tetapi

disamping itu terdapat banyak wanita dengan perdarahan


disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut.
Selain itu faktor psikologik juga berpengaruh antara lain
stress kecelakaan, kematian, pemberian obat penenang
terlalu lama dan lain-lain dapat menyebabkan perdarahan
anovulatoir.
2.5

Diagnosis Metroragia

Anamnesis metroragia :
1. Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah
didahului

oleh

siklus

yang

pendek

atau

oleh

oligomenore/amenorhe, sifat perdarahan (banyak atau


sedikit-sedikit dan sakit atau tidak), lama perdarahan, dan
sebagainnya.
2. Pada pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda
yang menunjuk ke arah kemungkinaan penyakit metabolik,
endokrin, penyakit menahun. Kecurigaan terhadap salah
satu penyait tersebut hendaknya menjadi dorongan untuk
melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah penyakit
yang bersangkutan.
3. Pada pemeriksaan ginekologi perlu dilihat apakah tidak ada
kelainan-kelainan organik yang menyebabkan perdarahan
abnormal (polip, ulkus, tumor, kehamilan terganggu).
4. Pada pubertas tidak perlu dilakukan kerokan untuk
menegakan diagnosis. Pada wanita umur 20-40 tahun
kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip,
mioma submukosum.
5. Dilakukan kerokan apabila

sudah

dipastikan

tidak

mengganggu kehamlan yang masih bisa diharapkan. Pada


wanita pramenopause dorongan untuk melakukan kerokan
adalah untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.
2.6 Penanganan Metroragia
1. Istirahat baring dan transfusi darah
2. Bila pemeriksaan ginekologi menunjukan

perdarahan

berasal dari uterus dan tidak ada abortus inkompletus,


perdarahan untuk sementara waktu dapat dipengaruhi
dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
a. Estrogen dalam dosis tinggi
Supaya kadarnya dalam darah meningkat
perdarahan

berhenti.

Dapat

diberikan

secar

dan
IM

dipropionasestradiol 2,5 mg atau benzoas estradiol 1,5

mg, atau valeras estradiol 20 mg. Tetapi apabila


suntikan dihentikan perdarahan dapat terjadi lagi.
b. Progesteron
Pemberian progesteron mengimbangi pengaruh
estrogen

terhadap

endometrium,

dapat

diberikan

kaproas hidroksi progesteron 125 mg, secara IM, atau


dapat diberikan per os sehari nirethindrone 15 mg atau
asetas medroksi progesteron (provera) 10 mg, yang
dapat diulangi berguna dalam masa pubertas.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thyroid dan
kadar HCG, FSH, LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada
indikasi atau skrining gangguan perdarahan atau jika ada
tampilan yang mengarah kesana.
2. Deteksi patologi endometrium melalui dilatasi dan kuretase
dan serta histeroskopi.
Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita
muda dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda
(< 40 tahun) yang gagal berespon terhadap pengobatan
harus

menjalani

sejumlah

pemeriksaan

endometrium.

Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan


bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan
kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada
seluruh kasus perdarahan uterus abnormal berulang atau
berat.

Pada

histeroskopi

wanita
lebih

yang

sensitif

memerlukan
dibandingkan

investigasi,
dilatasi

dan

kuretase dalam mendeteksi abnormalitas endometrium.


3. Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang
tidak berhasil dalam uji coba terapeutik.
4. Uji kehamilan : untuk melihat ada tanda-tanda kehamilan.
5. Pemeriksaan koagulasi : untuk memantau faktor
pembekuan darah.
2.8

Pencegahan

1. Menstimulasi kelenjar pituitary di otak dan adrenal untuk


menyeimbangkan kadar dan LH FSH dengan pengobatan
hormon
2. Lebih memperhatikan organ reproduksi : melakukan tes
usap bagi yang sudah menikah 1 tahun sekali termasuk
pemeriksaan menggunakan kontrasepsi IUD setiap tahun
sekali.

2.9

WOC Metroragia
Etiologi
1. Metroragia di luar kehamilan :
a. Sebab sebab organik
Serviks uteri dan korpus uteri
seperti : tuba fallopii dan
ovarium
b. Sebab sebab fungsional
Terjadi pada setiapumur
antara menarche dan
menopause

Etiologi
2. Metroragia oleh
karena adanya
kehamilan : abortus,
kehamilan ektopik

Terjadi perdarahan dari uterus, tuba


dan ovarium

Metroragia /
Perdarahan di Luar
Haid
Siklus
ovulasi

Tanpa
ovulasi
Tidak
terjadi
ovulasi

Rendahnya
hormon
esterogen
Perdarahan
rahim

HB menurun

Anemia

MK : INTOLERANSI
AKTIFITAS
Kontraksi
uterus
MK : NYERI

Esterogen
berlebihan dan
progesteron
Endometrium
mengalami

Dinding rahim
rapuh
Perdarahan
MK : DEFISIT VOLUME
CAIRAN

BAB III
KONSEP ASKEP
3.1 Pengkajian
1. Identitas klien
Umur : biasanya terjadi pada usia tua (30 tahun ke atas)
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : Nyeri
b. Riwayat penyakit sekarang :
1. Nyeri disertai keluarnya darah dari rahim yang tidak
teratur
2. Aktifitas istirahat
a. Tekanan darah sistol menurun
b. Denyut nadi meningkat (> 100 kali per menit)
3. Eliminasi
a. Perubahan pada konsistensi : defekasi
b. Peningkatan frekuensi berkemih
c. Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine
c. Riwayat penyakit dahulu
Pasien-pasien
dengan
metroragia
mungkin
menceritakan riwayat nyeri serupa yang timbul pada
setiap siklus haid serta punya riwayat abortus.
3. Pemeriksaan fisik
Pengkajian juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik mulai
B1-B6 :
a. B1 (Breathing)
1. Pernapasan tidak teratur
2. Frekuensi mengalami peningkatan
b. B2 (Blood)
1. Denyut jantung mengalami peningkatan
2. Tekanan darah rendah (90/60 mmHg)
c. B3 (Brain)
1. Penurunan konsentrasi
2. Pusing
3. Konjungtiva anemia
d. B4 (Bladder)
1. Warna kuning
2. Volume 1,5 L/Hari
e. B5 (Bowel)
1. Nyeri pada adomen
2. Nafsu makan menurun
f. B6 (Bone)
1. Badan mudah lelah
2. Nyeri pada punggung
4. Analisis Data

Masalah

Data

o
1.

Etiologi

Keperawa
tan

DS :

Kontraksi &

a. Penyebab timbulnya nyeri :


haid tidak teratur
b. Nyeri dirasakan meningkat
saat aktivitas
c. Klien mengeluh nyeri pada
daerah simpisis, punggung
dan payudara.kalanyeri 4-6
d. Nyeri sering dan terusmenerus

Nyeri akut

disritmia uterus

Peningkatan
kontraksi uterus

Aliran darah ke
uterus

Iskemia

Nyeri

DO : Wajah tampak menahan


nyeri
2.

DS : Pasien menyatakan mudah


lelah
DO :
1. Nadi lemah (TD : 90/60
mmHg)
2. Klien terlihat pucat sclera/

Pendarahan

Anemia

Kelemahan

Intoleran aktivitas

Intoleransi

Gangguan Haid

Kurang

Ansietas

aktivitas

konjungtiva anemi
3. Klien lemas
3.

DS : Klien menyatakan merasa


gelisah
DO:
1. Pucat
2. Memperlihatkan
inisiatif

kurang

pengetahuan

Ansietas

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
2. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
a. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
x24 jam klien memiliki Hb dalam batas normal
b. Kriteria hasil :
Memiliki asupan cairan yang adekuat
c. Intervensi keperawatan :
Intervensi
1. Manajemen
dengan

Rasional
elektrolit

meningkatkan

keseimbangan
dan

elektrolit
mencegah

komplikasi
2. Pemantauan
dengan
dan
klien

cairan

mengumpulkan

menganalisis
untuk

1. Mencegah terjadinya
shock
2. Agar

terjadi

keseimbangan cairan
dan elektrolit
3. Agar
input

dan

output seimbang

data

mengatur

keseimbangan elektrolit
3. Manajemen
nutrisi
dengan membantu dan
menyediakan
makanan

asupan
dancairan

dalam diet seimbang

2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus


a. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x
24 jam nyeri dapat diadaptasi oleh klien
b. Kriteria hasil :
Skala nyeri 0-1 dan klien tampak rileks
c. Intervensi keperawatan :
Intervensi

Rasional

1.
1.

Beri
tenang

lingkungan
dan

kemampuan koping
2.

Kolaborasi

Analgesik

dapat

menurunkan nyeri

dengan

dokter dalam pemberian

dan

meningkatkan

penuh

stress
2.

istirahat

kurangi

rangsangan

Meningkatkan

3.

Memudahkan
relaksasi,

analgesik

terapi

non

farmakologi tambahan
3.

Ajarkan
relaksasi

4.

strategi 4.
(misalnya

persepsi sendiri atau

nafas berirama lambat,

prilaku

nafas dalam, bimbingan

menghilangkan

imajinasi

dapat

Evaluasi dan dukung


Kompres hangat

untuk
nyeri

membantu

mengatasinya

mekanisme koping klien


5.

Penggunaan

lebih

efektif
5.

Mengurangi
nyeri

rasa
dan

memperlancar

aliran

darah

3. Intoleran aktifitas berhubungan dengan anemia


a. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x
24 jam klien dapat beraktivitas seperti semula
b. Kriteria hasil :
Klien dapat mengidentifikasi faktor-faktor

yang

memperberat dan memperingan intoleransi aktivitas


dan klien mampu beraktivitas
c. Intervensi keperawatan :
Intervensi

Rasional

1.
1.

Beri

lingkungan

tenang

dan

untuk

periode

jaringan
2.

Tingkatkan

aktivitas

Berikan

Tirah baring lama


dapat

secara bertahap
3.

dan

seluler/penyembuhan

dorong istirahat sebelum


2.

aktivitas

regenerasi

istirahat tanpa gangguan,


makan

Menghemat energi

menurunkan

kemampuan
bantuan

3.

sesuai kebutuhan

Menurunkan
penggunaan
dan

energi

membantu

keseimbangan supply
dan

kebutuhan

oksigen

3.4 Implementasi Keperawatan


Pelaksanaan keperawatan merupakan

kegiatan

yang

dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.


Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan
dimonitor kemajuan kesehatan klien.
3.5 Evaluasi Keperawatan
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang
sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan
tujuan

yang

telah

ditetapkan

dilakukan

dengan

cara

berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga


kesehatan lainnya. Penilaian dalam keperawatan merupakan
kegiatan dalam melaksanakan rencana kegiatan klien secara
optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.
Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari
rencana dan pelaksanaan tindakan perawatan yang dilakukan

dalam memenuhi kebutuhan klien. Evaluasi dapat berupa :


masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak
berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi
pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat
lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium,
karsinoma

endometrium,

karsinoma

serviks),

kelainan

fungsional dan penggunaan estrogen eksogen.


4.2. Saran
Sebagai seorang tenaga kesehatan yang dijadikan role
model sebaiknya menunjukkan perilaku hidup bersih dan
sehat. Dan jika menemukan kasus klien dengan metrohargia
harus dilakukan asuhan keperawatan sesuai dengan prosedur
yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Agunk. 2015. Metroragia Kelompok 7. www.scribd.com.
(Diakses pada tanggal 04 April 2016 pukul 18.00 WIB)
Rahmatullah, Ayu. 2013. Asuhan Kperawatan Gangguan Haid
New Fix. www.scribd.com. . (Diakses pada tanggal 04 April
2016 pukul 18.10 WIB)