You are on page 1of 13

HISTOLOGI I

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Siti Mimah Rohimah


: B1J014012
: III
:4
: Nyais Zuariah

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

3 spasi

Jaringan adalah
sel-sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang
2,5kumpulan
spasi
sama serta mengadakan hubungan dan koordinasi satu dengan yang lainya yang
mendukun pertumbuhan pada tumbuhan (Mukhtar, 1992). Jaringan adalah kumpulan
sel-sel yang berhubungan erat satu sama lain dan mempunyai struktur dan fungsi
yang sama. Tumbuhan berpembuluh matang dapat dibedakan menjadi beberapa tipe
yang semua dikelompokkan menjadi jaringan (Kimball, 1992). Jaringan adalah
kumpulan

struktur,

fungsi,

cara

pertumbuhan,

dan

cara

perkembangan

(Brotowidjoyo, 1989).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara histology 1, antara lain :
1. Mengamati bentuki-bentuk sel epidermis pada tumbuhan dan derivatnya, antara
lain sel silica, sel gabus, stomata dan trikoma.
2. Mengamati macam-macam jaringan dasar (parenkim), antara lain aerenkim dan
aktinenkim.

1,5 spasi

II.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara sitologi diantaranya


mikroskop, object glass, cover glass, pipet tetes dan silet.
Bahan-bahan yang digunakan adalah penampang membujur epidermis batang
tebu (Sacharum officinarum), penampang membujur daun jagung (Zea mays),
penampang membujur daun adam hawa (Rhoeo discolor), penampang melintang
daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dan penampang melintang daun talas
(Colocasia esculenta).
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara sitologi antara lain:
1. Irisan melintang atau membujur dari preparat dibuat setipis mungkin dan
irisan tersebut diletakkan diatas kaca benda kemudian ditetesi air dan tutup
dengan kaca penutup.
2. Preparat awetan diamati dibawah mikroskop.
3. Semua preparat diamati dan diperhatikan letak sel silica das sel gabus dan
bentuk serta tipe sel epidermisnya. Bentuk sel penutup stomata dan tipe
stomata dan trikoma diamati.
4. Irisan melintang atau membujur dari preparat dibuat setipis mungkin dan
irisan tersebut diletakkan diatas kaca benda kemudian ditetesi air dan tutup
dengan kaca penutup.
5. Bentuk dan susuna sel parenkim dioamati dengan perbesaran kuat, preparat
digambar dan diberi keterangan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Keterangan :
6 1. Xilem
2. ..
3. ..
2
1
3
5
4

Gambar 1. Melintang Batang Zea mays (Jagung) Perbesaran 100 x


Gambar

Keterangan :

Gambar 2. ..
B. Pembahasan

Ditinjau dari asal katanya, yaitu dari bahasa Yunani, epi berarti atas, derma
berarti kulit. Maka epidermis adalah lapisan-lapisan sel yang berada paling luar pada
alat-alat tumbuhan primer, seperti : akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Dan
dapat dikemukakan bahwa sel-sel epidermis yang berasal dari meristem primer, dan
pembentukan jaringannya itu tentunya akan merupakan jaringan primer. Menurut
para ahli, epidermis ini biasanya tersusun dari satu lapisan sel saja dan pada irisan
permukaan

sel-selnya

tampak

berbentuk

macam-macam,

seperti

misalnya

isodeamitris yang memanjang, berlekuk-lekuk atau menampakkan bentuk lainnya.


Letak dari sel-sel epidermis kenyataannya begitu rapat sehingga karenanya diantara
sel-sel tidak terdapat ruang-ruang antar sel. Kenyataan bahwa adanya protoplasma
yang walaupun hanya sedikit yang melekat pada dinding selnya, menandakan bahwa
sel-sel epidermis itu masih hidup (Sutrian, 2004).
Epidermis merupakan lapisan sel terluar pada daun, bunga, buah, dan biji,
serta pada batang dan akar sebelum tumbuhan mengalami penebalan sekunder.
Meskipun dari segi ontogeni seragam, dari segi morfologi maupun fungsi sel
epidermis tidak seragam. Selain sel epidermis biasa, terdapat sel epidermis yang
telah berkembang menjadi sel rambut, sel penutup pada stomata, serta sel lain.
Epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel. Pada beberapa tumbuhan, sel
protoderm pada daun membelah dengan bidang pembelahan sejajar dengan
permukaan, dan turunannya dapat membelah lagi sehingga terjadi epidermis berlapis
banyak (Hidayat, 1995). Tahap awal perkembangan epidermis secara ontogenetik
tidak sama antara yang terdapat pada akar dengan yang ada pada pucuk. Epidermis
biasanya terdapat pada seluruh kehidupan organ-organ tumbuhan yang tidak
mengalami

penebalan

sekunder

(Iserep,

1993).

Derivat epidermis diantaranya salah satunya adalah:


1.1.1 stomata
Stomata berasal dari kata Yunani : stoma yang mempunyai arti lubang atau porus.
Esau mengartikan sebagai sel-sel penutup dan porus yang ada di antaranya. Jadi
stomata adalah porus atau lubang-lubang yang terdapat pada epidermis yang masingmasing dibatasi oleh dua buah guard cell atau sel-sel penutup. Guard cell adalah selsel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi, juga dapat
mengatur besarnya lubang-lubang yang ada diantaranya. Stomata umumnya terdapat
pada bagian-bagian tumbuhan yang berwarna hijau, jadi terutama sekali pada daundaun. Pada tumbuhan yang hidup di bawah permukaan air terdapat pula alat-alat

yang strukturnya mirip dengan stomata, padahal alat-alat tersebut bukanlah stomata
(Sutrian, 2004).
Sel yang mengelilingi stomata dapat berbentuk sama atau berbeda dengan sel
epidermis lainnya, sel yang berbeda bentuk itu dinamakan sel tetangga. Sel tetangga
berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang
mengatur lebar celah. Stomata terdapat pada semua bagian tumbuahan diatas tanah,
paling banyak ditemukan pada daun. Pada daun, stomata ditemukan dikedua
permukaan daun atau pada satu muka saja, biasanya pada permukaan bawah. Sel
penutup biasanya mengadakan kloroplas sehingga bisa berlangsung fotosintesis. Sel
penutup umumnya berbentuk ginjal, tetapi pada tumbuhan monokotil ada yang
berbentuk halter. Dimungkinkan ada hubungan antara bagian dalam tubuh tumbuhan
dengan dunia luar lingkungan, hal ini sangat berguna bagi proses fotosintesis,
respirasi, dan transpirasi. Stomata berasal dari sel protoderm yang terdapat pada
meristem apikal (Fahn, 1991).
Pada dikotil dapat dibagi menjadi empat jenis stomata berdasarkan susunan sel
epidermis yang ada di samping sel penutup yaitu (Hidayat, 1995) :
1. Jenis anomositik, yaitu sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang tidak
berbeda ukuran dan bentuknya dari sel epidermis lainnya. Jenis ini umumnya
terdapat pada Ranunculacae.
2. Jenis anisositik, yaitu sel penutup dikelilingi tiga buah sel tetangga yang tidak
sama besar. Jenis ini umum terdapat pada Crucifirae.
3. Jenis parasitik, yaitu setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga atau lebih
dengan sumbu panjang sel tetangga itu sejajar sumbu sel penutup celah. Jenis
ini umumnya terdapat pada Rubiaciae.
4. Jenis diasitik, yaitu setiap stomata dikelililngi dua sel tetangga. Jenis ini
umum terdapat pada Acanthaciae.
Selain itu juga terdapat tiga kategori sel penutup, yaitu (Hidayat,
1995) :
1. Mesogen, sel penutup dan sel yang ada di dekatnya yang dapat berkembang
atau tidak berkembang menjadi sel tetangga. Memiliki asal yang sama.
2. Perigen, sel yang di dekat stomata yang tidak memiliki asal yang sama
dengan sel penutup.
3. Mesoperigen, sedikitnya satu sel tetangga yang memiliki hubungan langsung
dengan stomata, sementara sel yang lain tidak.
Fungsi stomata pada daun adalah sebagai tempat pertukaran gas antara oksigen dan
karbondioksida, pengatur penguapan (Fahn, 1991).
2.3.2 Trikoma
Trikoma dalam arti sebenarnya adalah rambut-rambut yang tumbuh (berasal dari kata
Yunani), asalnya adalah dari sel-sel epidermis yang bentuk, susunan serta fungsinya
memang bervariasi. Trikoma terdapat pada hampir semua organ tumbuh-tumbuhan
(pada epidermisnya). Jelasnya yaitu selama organ-organ tumbuhan itu masih hidup.
Disamping itu terdapat juga trikoma yang hidupnya hanya sebentar. Trikoma ini
biasanya tumbuh lebih dahulu menjelang atau dalam hubungan dengan pertumbuhan
organ tumbuhannya. Ditinjau dari susunannya dapat dibedakan menjadi dua, trikoma
yang uniseluler dan multiseluler. Sedangkan menurut bentuknya trikoma juga dibagi
menjadi dua, trikoma sebagai rambut dan trikoma sebagai sisik (Sutrian, 2004).
Beberapa sel epidermis daun atau cabang membentuk tonjolan dalam bantuk rambut
atau trikoma. Trikoma dapat tersebar dalam bentuk tunggal, tetapi adakalanya

bergerombol. Trikoma dapat terdiri dari sel tunggal atau beberapa sel bergabung
dengan berbagai bentuknya. Mulai dari bentuk sederhana sebagai tonjolan sampai
membentuk bangunan komplek yang bercabang-cabang atau berbentuk bintang. Selsel penyusun trikoma dapat berupa sel hidup atau sel mati (Fahn, 1991).
Penggunaan trikoma dalam taksonomi sangat dikenal. Beberapa famili dapat dengan
mudah diidentifikasi dengan adanya tipe atau tipe istimewa berbentuk rambut. Pada
kasus yang lain rambut itu penting untuk klasifikasi genus dan spesies dan dalam
analisis hibrid antar spesies. Secara garis besar trikoma dapat dibedakan menjadi dua
golongan besar yaitu trikoma tanpa kelenjar dan trikoma berkelenjar (Fahn, 1991).
Trikoma dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu : trikoma yang tidak
menghasilkan sekret dapat berbentuk rambut bersel satu atau sel banyak, rambut
sisik yang memipih dan bersel banyak, rambut bercabang dan bersel banyak, dan
rambut akar. Sedangkan trikoma yang menghasilkan sekret dapat bersel satu atau
bersel banyak dan berupa sisik, trikoma yang menghasilkan sekret yang kental atau
koleter, rambut gatal, dan trikoma yang menghasilkan nektar (Hidayat, 1995).
2.3.3 Sel Silika, Lentisel, Litosit, dan Sel Gabus
Sel silika dan sel gabus sering kali secara berturut-turut dibentuk dalam pasangan di
sepanjang daun. Sel-sel silika yang berkembang sepenuhnya mengandung badanbadan silika yang berupa massa silika yang isotropik dan di tengah-tengahnya
buasanya berupa granula-granula renik. Pada pandangan permukaan, benda-banda
silika itu mungkin berbentuk bulatan, elips, halter, atau berbeentuk pelana.
Dilaporkan adanya silikon dijumpai hanya dalam jumlah kecil dalam sel silika muda,
akumulasinya semakin cepat dalam sel yang mengalami proses menua (Fahn, 1991).
Dinding sel gabus disisipi oleh suberin dan banyak diantaranya mengandung bahanbahan organuk padat. Sel-sel pendek kadang-kadang mempunyai papil, seta, duri,
ataupun rambut. Metcalfe (1960) memberi perhatian terhadap kenyataan bahwa selsel gabus pada banyak tumbuhan memuat badan-badan silika, dan bahwa dalam
badan silika rumput-rumputan tertentu juga terjadi dalam beberapa sel memanjang
(Fahn, 1991).
Litosit merupakan derivat epidermis yang mempunyai bentuk khusus. Terdapat pada
daun tumbuhan Moraceae dan Cucurbitacirae. Dindingnya mengalami penebalan ke
arah lumen sel, epidermis yang mengalami penebalan dari luar ke dalam. Penebalan
ini berbentuk rumah lebah mengandung selulosa dan kalsium karbonat yang disebut
sistolit (Iserep, 1993).
Pada sebagian besar tumbuhan dalam jaringan periderm, terdaapat area terbatas yang
sel-selnya tersusun tidak rapat, bersuberin atau tidak. Derah ini dinamakan lentisel.
Lentisel menonjol di atas periderm di sekitarnya, karena ukuran yang lebih besar dan
susunan sel-selnya yang tidak rapat, dan biasanya jumlahnya lebih banyak di daerahdaerah ini. Karena kesinambungan ini ruang-ruang antar sel dari lentisel serta dari
jaringan sebelah dalam dari organ aksial, diduga bahwa fungsi lentisel berhubungan
dengan pertukaran gas, sama dengan stomata pada organ yang hanya ditutupi oleh
epidermis (Fahn, 1991).
Stomata terdiri atas sel penjaga dan sel penutup yang dikelilingi oleh beberapa sel
tetangga (Fahn, l982). Mekanisme menutup dan membuka-nya stomata tergantung
dari tekanan turgor sel tanaman, atau karena perubahan konsentrasi karbondioksida,
berkurangnya cahaya dan hormon asam absisat (Lakitan, 1996). Sel yang
mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga berperan dalam
perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup. Sel penutup letaknya
dapat sama tinggi, lebih tinggi atau lebih rendah dari sel epidermis lainnya. Bila
sama tinggi dengan permukaan epidermis lainnya disebut faneropor, sedangkan jika

menonjol atau tenggelam di bawah permukaan disebut kriptopor. Setiap sel penutup
mengandung inti yang jelas dan kloroplas yang secara berkala menghasilkan pati.
Dinding sel penutup dan sel penjaga sebagian berlapis lignin (Arifin,2010).
-bentuk sel penutup
Menurut bentuk sel penjaga
a. Ginjal
Bentuk dari sel penjaga menyerupai ginjal. Mayoritas tumbuhan memiliki tipe ini.
Contoh: Daun adam-hawa (Rhoeo discolour)
b. Barbel
Bentuk datar ditengah dan membuat di ujung. Pemalik stomata tipe ini adalah dari
keluarga Zea.
-letak sel penutup
Tipe paneropor. Misal pada Mesophyta
2.
Tipe kriptopor. Misal pada Xerophyta(Pinus sp dan Ficus sp)
3.
tipe menonjol (misal : Teratai)
-arah membukanya stomata
Tipe Amaryllidaceae
2. Tipe Gramineae
3. Tipe Mnium
4. Tipe Heleborus
-jumlah sel tetangga
Bentuk sel tetangga
a. Anisositik
Terdapat sel penjaga yang bentuknya berlainan. Contohnya pada cocor bebek
(Kalanchoe sp).
b. Animositik
Sel tetangga tidak dapat dibedakan dengan sel epidermis di sekitarnya. Contohnya
pada paku sarang burung (Aspelenium nidus).
c. Parasitik
Letak sel tetangga parallel dengan sel penjaga. Contoh, pada Eichornia crasipes.
d. Telrasit
Terdapat empat sel penjaga yang letaknya parallel dan dengan sel penjaga.
4. Jelaskan tentang jaringan dasar dan sifat2nya
b).Jaringan Parenkim ( Jaringan Dasar)
Parenkim terdiri atas kelompok sel hidup yang bentuk, ukuran,
maupunfungsinya
berbeda-beda.
Sel-sel
parenkim
mampu
mempertahankankemampuannya untuk membelah meskipun telah dewasa sehingga
berperan penting dalam proses regenerasi.Sel-sel parenkim yang telah dewasa dapat
bersifat meristematik bilalingkungannya memungkinkan. Jaringan parenkim
terutama terdapat pada bagiankulit batang dan akar, mesofil daun, daging buah, dan
endosperma biji. Sel-sel parenkim juga tersebar pada jaringan lain, seperti pada
parenkim xilem, parenkim floem, dan jari-jari empulur.Ciri utama sel parenkim
adalah memiliki dinding sel yang tipis, serta lentur.Beberapa sel parenkim

mengalami penebalan, seperti pada parenkim xilem. Sel parenkim berbentuk kubus
atau memanjang dan mengandung vakuola sentralyang besar. Ciri khas parenkim
yang lain adalah sel-selnya banyak memilikiruang antarsel karena bentuk selnya
membulat.Parenkim yang mempunyai ruang antarsel adalah daun. Ruang antarsel
ini berfungsi sebagai sarana pertukaran gas antar klorenkim dengan udara luar.
Sel parenkim
memiliki
banyak
fungsi,
yaitu
untuk
berlangsungnya
prosesfotosintesis, penyimpanan makanan dan fungsi metabolisme lain. Isi sel
parenkim bervariasi sesuai dengan fungsinya, misalnya sel yang berfungsi
untuk fotosintesis banyak mengandung kloroplas. Jaringan yang terbentuk dari selsel parenkim semacam ini disebut klorenkim. Cadangan makanan yang terdapat
padasel parenkim berupa larutan dalam vakuola, cairan dalam plasma atau
berupakristal (amilum). Sel parenkim merupakan struktur sel yang jumlahnya
paling banyak menyusun jaringan tumbuhan.Ciri penting dari sel parenkim adalah
dapat membelah dan terspesialisasimenjadi berbagai jaringan yang memiliki fungsi
khusus. Sel parenkim biasanyamenyusun jaringan dasar pada tumbuhan, oleh karena
itu disebut jaringan dasar.Berdasarkan fungsinya, parenkim dibagi menjadi bebrapa
jenis jaringan, yaitu:
1).Parenkim Asimilasi
Biasanya terletak di bagian tepi suatu organ, misalnya pada daun, batang
yang berwarna hijau, dan buah. Di dalam selnya terdapat kloroplas, yang
berperan penting sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis,
2).Parenkim Penimbun
Biasanya terletak di bagian dalam tubuh, misalnya: pada empulur batang,umbi akaL
umbi lapis, akar rimpang (rizoma), atau biji. Di dalam sel-selnyaterdapat cadangan
makanan yang berupa gula, tepung, lemak atau protein,
3).Parenkim Air
Terdapat pada tumbuhan yang hidup di daerah panas (xerofit) untuk menghadapi
masa kering, misalnya pada tumbuhan kaktus dan lidah buaya,
4).Parenkim Udara
Ruang antar selnva besar, sel- sel penyusunnya bulat sebagai alat pengapungdi air,
misalnya parenkim pada tangkai daun tumbuhan enceng gondok.
c).Jaringan Penyokong
Jaringan penyokong atau jaringan penguat pada tumbuhan terdiriatas sel-sel
kolenkim dan sklerenkim. Kedua bentuk jaringan ini merupakan jaringan sederhana,
karena sel-sel penyusunnya hanya terdiri atas satu tipe sel.
1.Kolenkim
Kolenkim tersusun atas sel-sel hidup yang bentuknya memanjang
dengan penebalan dinding sel yang tidak merata dan bersifat plastis, artinya
mampumembentang, tetapi tidak dapat kembali seperti semula bila organnya
tumbuh.
Kolenkim terdapat pada batang, daun, bagian-bagian bunga, buah, dan akar.
Selkolenkim dapat mengandung kloroplas yang menyerupai sel-sel parenkim. Sel
- sel kolenkim dindingnya mengalami penebalan dari kolenkim bervariasi, adayang
pendek membulat dan ada yang memanjang seperti serabut dengan ujungtumpul.
Berdasarkan bagian sel yang mengalami penebalan, sel kolenkim
dibedakanatas:
a. kolenkim angular (kolenkim sudut), merupakan jaringan kolenkimdengan penebalan
dinding sel pada bagian sudut sel;

b. kolenkim lamelal, merupakan jaringan kolenkim yang penebalandinding selnya


membujur;
c. kolenkim anular, merupakan kolenkim yang penebalan dinding selnyamerata pada
bagian dinding sel sehinggi berbentuk pipa.
2.Sklerenkim
Sklerenkim merupakan jaringan penyokong tumbuhan, yang sel selnyamengalami penebalan sekunder dengan lignin dan menunjukkan sifat
elastis.Sklerenkim tersusun atas dua kelompok sel, yaitu sklereid dan serabut.
Sklereiddisebut juga sel batu yang terdiri atas sel - sel pendek, sedangkan serabut sel
- selnya panjang. Sklereid berasal dari sel-sel parenkim, sedangkan serabut
berasaldari sel - sel meristem. Sklereid terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel selnyamembentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji
danmesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang
khas.Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.
5. Jelaskan jaringan parenkim berdasarkan bentuk dan fungsinya
Ciri utama sel parenkim adalah memiliki dinding sel yang tipis, serta lentur.
Beberapa sel parenkim mengalami penebalan, seperti pada parenkim xilem. Sel
parenkim berbentuk kubus atau memanjang dan mengandung vakuola sentral yang
besar. Ciri khas parenkim yang lain adalah sel-selnya banyak memiliki ruang antarsel
karena bentuk selnya membulat. Parenkim yang mempunyai ruang antarsel adalah
daun. Ruang antarsel ini berfungsi sebagai sarana pertukaran gas antar klorenkim
dengan udara luar. Sel parenkim memiliki banyak fungsi, yaitu untuk
berlangsungnya proses fotosintesis, penyimpanan makanan dan fungsi metabolisme
lain. Isi sel parenkim bervariasi sesuai dengan fungsinya, misalnya sel yang
berfungsi untuk fotosintesis banyak mengandung kloroplas. Jaringan yang terbentuk
dari sel-sel parenkim semacam ini disebut klorenkim. Cadangan makanan yang
terdapat pada sel parenkim berupa larutan dalam vakuola, cairan dalam plasma atau
berupa kristal (amilum). Sel parenkim merupakan struktur sel yang jumlahnya paling
banyak menyusun jaringan tumbuhan. Ciri penting dari sel parenkim adalah dapat
membelah dan terspesialisasi menjadi berbagai jaringan yang memiliki fungsi
khusus. Sel parenkim biasanya menyusun jaringan dasar pada tumbuhan, oleh karena
itu disebut jaringan dasar.
Berdasarkan fungsinya, parenkim dibagi menjadi bebrapa jenis
jaringan, yaitu: 1) Parenkim Asimilasi Biasanya terletak di bagian tepi suatu
organ, misalnya pada daun, batang yang berwarna hijau, dan buah. Di dalam
selnya terdapat kloroplas, yang berperan penting sebagai tempat
berlangsungnya proses fotosintesis. 2) Parenkim Penimbun Biasanya terletak
di bagian dalam tubuh, misalnya: pada empulur batang, umbi akar, umbi
lapis, akar rimpang (rizoma), atau biji. Di dalam sel-selnya terdapat cadangan
makanan yang berupa gula, tepung, lemak atau protein. 3) Parenkim Air
Terdapat pada tumbuhan yang hidup di daerah panas (xerofit) untuk
menghadapi masa kering, misalnya pada tumbuhan kaktus dan lidah buaya.
4) Parenkim Udara
Jaringan parenkim B.3 Jaringan Penyokong (Penguat) Jaringan penyokong
merupakan jaringan yang menguatkan tumbuhan. Berdasarkan bentuk dan
sifatnya, jaringan penyokong dibedakan menjadi jaringan kolenkim dan

sklerenkim. 1) Kolenkim Kolenkim tersusun atas sel-sel hidup yang


bentuknya memanjang dengan penebalan dinding sel yang tidak merata dan
bersifat plastis, artinya mampu membentang, tetapi tidak dapat kembali
seperti semula bila organnya tumbuh. Kolenkim terdapat pada batang, daun,
bagian-bagian bunga, buah, dan akar. Sel kolenkim dapat mengandung
kloroplas yang menyerupai sel-sel parenkim. Sel sel kolenkim dindingnya
mengalami penebalan dari kolenkim bervariasi, ada yang pendek membulat
dan ada yang memanjang seperti serabut dengan ujung tumpul. Gb4.
kolenkim Berdasarkan bagian sel yang mengalami penebalan, sel kolenkim
dibedakan atas: 1. kolenkim angular (kolenkim sudut), merupakan jaringan
kolenkim dengan penebalan dinding sel pada bagian sudut sel; 2. kolenkim
lamelal, merupakan jaringan kolenkim yang penebalan dinding selnya
membujur; 3. kolenkim anular, merupakan kolenkim yang penebalan dinding
selnya merata pada bagian dinding sel sehinggi berbentuk pipa. 2)
Sklerenkim Sklerenkim merupakan jaringan penyokong tumbuhan, yang sel selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin dan menunjukkan sifat
elastis. Sklerenkim tersusun atas dua kelompok sel, yaitu sklereid dan
serabut. Sklereid disebut juga sel batu yang terdiri atas sel - sel pendek,
sedangkan serabut sel selnya panjang. Sklereid berasal dari sel-sel
parenkim, sedangkan serabut berasal dari sel - sel meristem. Sklereid terdapat
di berbagai bagian tubuh. Sel selnya membentuk jaringan yang keras,
misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut
berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas. Serabut sklerenkim
banyak menyusun jaringan pengangkut. Gb5. Kolenkim dan Sklerenkim B.3
Jaringan Pengangkut (Vaskuler) Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri
atas sel-sel xilem dan floem, yang membentuk berkas pengangkut (berkas
vaskuler). Xilem berperan mengangkut air dan mineral dari dalam tanah ke
daun, sedangkan floem berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke
seluruh bagian tumbuhan.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:


1. ..
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah ........

DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta

Mitra A, Filipp I, & Lukas N. 2011. Anatomi dan Struktur Mikroskopis Tumbuhan
C4 akibat Cekaman Garam. Journal of Plant Anatomy. 2(31), pp. 499 504.
(CONTOH PENULISAN JURNAL)
Schlegel, H.G. Schmidt, K. 1994. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press. (CONTOH BUKU)
Suriawiria, U. 1996. Anatomi Pohon Jati (Tectona grandis). Bogor
Pertanian Bogor (IPB)
(CONTOH TEXT BOOK)KOMPONEN LAPORAN
COVER
I.
A.
B.
II.
A.
B.
III.
A.
B.
IV.
A.
B.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan
MATERI DAN METODE
Materi
Metode
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran

DAFTAR PUSTAKA
FORMAT LAPORAN
Kertas

: A4 80 gram

Font

: Times New Roman

Size

: 12

Spasi

Bab Sub bab


Sub bab Paragraf
Antar paragraf

: 3 spasi
: 2,5 spasi
: 1,5 spasi

Kiri
Kanan, atas, bawah

: 4 cm
: 2,5 cm

Margin

: Institut