Вы находитесь на странице: 1из 7

Pengelolaan Sampah Perkotaan

Oleh : Suparjo*
Menurunnya kinerja pengelolaan
persampahan di beberapa kota di Indonesia
dalam beberapa tahun terakhir ini tidak
terlepas dari dampak perubahan tatanan
pemerintahan dalam era reformasi, otonomi
daerah serta krisis ekonomi global. Adanya
perubahan arah kebijakan pembangunan
infrastruktur perkotaan, menguatnya ego
otonomi daerah, menurunnya kapasitas pembiayaan daerah, menurunya daya beli dan
kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu
pemicu degradasi kualitas lingkungan perkotaan termasuk juga masalah kebersihan dan
keindahan kota.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan juga ditemukan bahwa masih ada sebagian
besar masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai membuang sampahnya ke
sungai. Di mana mereka menganggap itu lebih praktis, karena sampah akan langsung
dihanyutkan sehingga tidak menjadi permasalahan lagi. Sebenarnya itu bukan suatu
penyelesaian masalah, tetapi merupakan pemindahan masalah. Sampah akan tetap
menjadi masalah bagi daerah di hilirnya, mengingat besarnya dampak yang akan
ditimbulkan dari sampah-sampah tersebut. Baik dari tercemarnya lingkungan perairan
sungai, pendangkalan sungai maupun estetika lingkungan.
Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah, bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah bertugas menjamin
terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan dengan
tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta
menjadikan sampah sebagai sumber daya.Sehingga beban pengelolaan sampah menjadi
suatu wewenang pemerintah daerah yang mana Pemerintah Kota / kabupaten memiliki
kewajiban untuk memenuhi hak masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang baik.
Untuk mewujudkan Kota yang bersih sebagaimana harapan masyarakat semua.
Diperlukan beberapa hal. Pertama, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah
Kabupaten/Kota untuk mewujudkan kota yang bersih. Komitmen ini hendaknya dipegang
teguh oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, khususnya pejabat yang memerintah sekarang
selama masa jabatannya. Sejarah telah membuktikan bahwa tanpa adanya komitmen yang
kuat dan teguh, masalah salah sampah tidak akan pernah terselesaikan.
Kedua, perlunya dukungan masyarakat dan stake holder yang mencerminkan pengetahuan
dan kesadaran tentang bahaya sampah terhadap lingkungan. Sehingga perilaku
masyarakat untuk tidak menciptakan sampah, meminimalkan sampah dan mengolah
sampah sebelum dibuang ke TPS menjadi tindakan yang membanggakan yang dimulai

dari anak anak usia dini hingga orang dewasa.


Ketiga, ini juga merupakan hal yang penting yaitu, dukungan Pemerintah Pusat. Ini
dikarenakan, tidak semua daerah Kabupaten/Kota memiliki kemampuan yang sama dalam
pembiayaan untuk mengolah sektor persampahan. Secara Nasional bahwa Retribusi
Persampahan baru mencapai 22% dari potensi retribusi sampah yang ada dan Pelayanan
hanya mencapai 40% pada tahun 2000 (BPS 2000), angka tersebut pernah mencapai 50%
sebelum Reformasi. Dukungan pembiayaan oleh pemerintah pusat masih sangat terbatas
karena hanya mendorong daerah untuk mengolah sampah secara mandiri termasuk
menilai daerah yang mengelola lingkungan (terutama sampah) yang diimplementasikan
dalam Piala Adipura.

Rumitnya Membenahi Masalah Air Perkotaan

Rabu, 16 Desember 2009

Permasalahan air yang mengkhawatirkan mengharuskan pemilik kebijakan mencari solusi dengan pendekatan
holistik.
Apabila diabaikan, krisis air dan tenggelamnya Jakarta menjadi sebuah ancaman.
Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air, apalagi manusia. Dalam kesehariannya, manusia tidak
bisa hidup jauh-jauh dari air.
Air tidak hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga untuk keperluan lainnya, semisal memasak, mandi, mencuci, atau
menyiram tanaman.
Sayangnya, pada kenyataannya, air yang berperan penting dalam kehidupan manusia itu belum dikelola dengan
baik, bahkan di negeri ini sistem manajemen air cenderung masih asal-asalan.
Salah satu bukti dari buruknya sistem pengelolaan air ialah penggunaan air tanah yang berlebihan. Menurut pakar
lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi Sutjahjo, penggunaan air tanah yang berlebihan bisa
mengakibatkan permukaan tanah mengalami subsiden atau penurunan.
Jika kondisi itu dibiarkan terus-menerus, kota-kota besar seperti Jakarta akan mengalami intrusi air laut atau
penggenangan pada permukaan tanah oleh air laut.
Dampak eksploitasi air tanah akan semakin besar manakala pihak-pihak yang melakukan aktivitas itu, seperti
kalangan industri manufaktur, industri pariwisata, dan masyarakat, mengeksploitasi secara berlebihan.
Beberapa produsen air minum kemasan, misalnya, kerap mengambil air yang berada di lapisan akuifer dalam.
Sebenarnya air yang ada di lapisan itu tidak boleh diambil. Pasalnya, hal itu dapat mengakibakan siklus hidrologi
terganggu dan ketersediaan air tanah menipis.
Eksploitasi air tanah yang berlebihan juga bisa mengakibatkan rongga-rongga kosong yang ada di dalam tanah
akan diisi langsung oleh air laut. Ujung-ujungnya air tanah akan terasa asin karena telah bercampur dengan air
laut.
Hal itu bisa terjadi jika air laut telah mendekati jarak 10 kilometer dari bibir pantai. Air tanah yang juga berfungsi
sebagai penyuplai mata air untuk keperluan konsumsi masyarakat pun menjadi tidak laik dan perlu diolah lagi.
Persoalan tidak hanya menyangkut air tanah. Air di permukaan yang berupa air danau, sungai, dan rawa kini
terancam tercemar karena membeludaknya sampah di perairan itu. Contoh paling nyata bisa dilihat di beberapa
sungai di Jakarta.
Sampah kerap terlihat memenuhi kali-kali dan menghambat aliran air. Volume sampah bahkan terus bertambah
karena masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran kali menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Akibatnya, ekosistem sungai terancam, kualitas air bersih tereduksi, dan timbul banjir. Bukan hanya itu, hal
tersebut juga menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti demam berdarah dan diare yang bisa
menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.
Kepala Pusat Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gadis Sri Haryani mengutarakan dalam
kurun 30 hingga 50 tahun ke depan, jumlah kebutuhan akses air bersih akan meningkat.
Hal itu berkorelasi positif dengan bertambahnya jumlah penduduk kota besar dunia, khususnya Asia. Ironisnya,
jumlah ketersediaan air bersih justru tidak bertambah.
Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali berpotensi pula menambah kotoran dan polusi terhadap sumbersumber air bersih yang ada, seperti air tanah dan air permukaan di luar perkotaan.
Badan air seperti sungai, selokan, rawa, dan danau di kota besar masih terus-menerus dijadikan lokasi akhir
pembuangan sampah dan mengalirkan limbah yang pada akhirnya terakumulasi di laut, ujar Gadis.

Perilaku Boros
Krisis pasokan air bersih disebabkan pula oleh perilaku masyarakat yang kerap boros dalam menggunakan air.
Menurut Umar Anggara Jenie, Kepala LIPI, masyarakat belum bisa memanfaatkan air dengan seefisien mungkin.
Sebuah pencucian mobil atau motor bisa menggunakan berliter-liter air tawar dalam satu hari. Hal itu merupakan
pemborosan, ujarnya.

Saat ini, persoalan air telah mencapai titik yang memprihatinkan. Air tidak lagi menjadi sumber daya alam tak
terbatas.
Jika kondisi itu dibiarkan, tentu saja bisa mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena
itu, diperlukan solusi yang sifatnya holistik.
UNESCO, badan PBB yang menaungi persoalan pendidikan dan lingkungan, mencoba menempuh solusi yang
berlandaskan pada tiga elemen, yaitu penggunaan air secara rasional, ekoteknologi, dan ekohidrologi.
Penggunaan air secara rasional merujuk pada manajemen permintaan akan air bersih dan pemberian edukasi
kepada masyarakat akan pentingnya penghematan air.
Setelah diberikan landasan pendidikan, seharusnya tidak ada lagi orang yang menghamburkan air bersih untuk
membilas kotoran atau melakukan pencucian kendaraan bermotor, terang Hubert Gijzen, Regional Director and
Representative UNESCO for Indonesia.
Landasan lainnya, yakni ekoteknologi, merupakan faktor perantara antara ekologi dan ekonomi. Jadi, faktor
ekologi tetap dapat menjadi sebuah produk sumber daya ekonomi tetapi tidak menggoyahkan stabilitas
lingkungan.
Salah satu bentuk pengaturan air berdasarkan ekoteknologi ialah pembudidayaan bibit pakan ikan di tambak.
Adapun landasan ekohidrologi ialah mengedepankan proses pengembalian sungai dan kali ke habitat lautan.
Ekohidrologi sebenarnya telah menjadi wacana yang berkembang sejak 10 tahun yang lalu dan merupakan ilmu
yang mempelajari interaksi proses hidrologi dengan dinamika biologi dalam berbagai kondisi spatial (ruang) dan
temporal (waktu).
Jadi, dalam ekohidrologi, pemecahan masalah lingkungan, terutama air, didasarkan pada kemampuan untuk
memelihara proses sirkulasi air secara evolusioner dan dua dimensi.
Konsep ekohidrologi yang diajukan UNESCO salah satunya adalah tidal flushing. Tidal flushing merupakan
sebuah aksi air laut memasuki muara dua kali dalam sehari saat air pasang.
Saat memasuki muara atau delta, air laut akan memperbarui salinitas dan nutrisi pada muara serta memindahkan
racun yang terdapat di muara tersebut. Konsep itu telah dipraktikkan di Birmingham, Inggris.
Lantas, konsep apa yang cocok diterapkan di Jakarta? Hubert menyatakan memang agak sulit membenahi tata
kota perairan di Jakarta.
Begitu kompleksnya masalah sungai di Jakarta sehingga jika satu masalah dibenahi, malah memunculkan
masalah lain yang berlipat-lipat di wilayah lain, katanya.
Oleh karena itu, ujarnya, implementasi program-program pembenahan perairan yang diestimasikan berbiaya 1 juta
dollar AS di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari aspek sosial. Hal penting lainnya, masyarakat mesti diajak untuk
bersama-sama mengatasi persoalan.
(hag/L-2)

Rumitnya Membenahi Masalah Air Perkotaan

16 Dec 2009
Koran Jakarta

Nasional

Di perkotaan persoalan air masih sulit teratasi. Bukan hanya minimnya pasokan air bersih
serta pengambilan air tanah secara berlebihan, tetapi juga perilaku boros masyarakat dalam
menggunakan air menjadikan persoalan semakin rumit.
Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air, apalagi manusia. Dalam
kesehariannya, manusia tidak bisa hidup jauh-jauh dari air. Air tidak hanya untuk dikonsumsi,
tetapi juga untuk keperluan lainnya, semisal memasak, mandi, mencuci, atau menyiram
tanaman.Sayangnya, pada kenyataannya, air yang berperan penting dalam kehidupan
manusia itu belum dikelola dengan baik, bahkan di negeri ini sistem manajemen air cenderung
masih asal-asalan.
Salah satu bukti dari buruknya sistem pengelolaan air ialah penggunaan air tanah yang
berlebihan. Menurut pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi
Sutjahjo, penggunaan air tanah yang berlebihan bisa mengakibatkan permukaan tanah
mengalami subsiden atau penurunan, lika kondisi itu dibiarkan terus-menerus, kota-kota
besar seperti Jakarta akan mengalami intrusi air laut atau penggenangan pada permukaan
tanah oleh air laut.Dampak eksploitasi air tanah akan semakin besar manakala pihak-pihak
yang melakukan aktivitas itu, seperti kalangan industri manufaktur, industri pariwisata, dan
masyarakat, mengeksploitasi secara berlebihan. Beberapa produsen air minum kemasan,

misalnya, kerap mengambil air yang berada di lapisan akuifer dalam. Sebenarnya air yang ada
di lapisan itu tidak boleh diambil. Pasalnya, hal itu dapat mengakibakan siklus hidrologi
terganggu dan ketersediaan air tanah menipis.
Eksploitasi air tanah yang berlebihan juga bisa mengakibatkan rongga-rongga kosong yang
ada di dalam tanah akan diisi langsung oleh air laut. Ujung-ujungnya air tanah akan terasa
asin karena telah bercampur dengan air laut. Hal itu bisa terjadi jika air laut telah mendekati
jarak 10 kilometer dari bibir pantai. Air tanah yang juga berfungsi sebagai penyuplai mata air
untuk keperluan konsumsi masyarakat pun menjadi tidak laik dan perlu diolah lagi.
Persoalan tidak hanya menyangkut air tanah. Air di permukaan yang berupa air danau, sungai,
dan rawa kini terancam tercemar karena membeludaknya sampah di perairan itu. Contoh
paling nyata bisa dilihat di beberapa sungai di Jakarta. Sampah kerap terlihat memenuhi kalikali dan menghambat aliran air. Volume sampah bahkan terus bertambah karena masyarakat
yang tinggal di sekitar bantaran kali menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Akibatnya, ekosistem sungai terancam, kualitas air bersih tereduksi, dan timbul banjir. Bukan
hanya itu, hal tersebut juga menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti demam
berdarah dan diare yang bisa menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Kepala Pusat
Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gadis Sri Haryani mengutarakan dalam kurun 30
hingga 50 tahun ke depan, jumlah kebutuhan akses air bersih akan meningkat.Hal itu
berkorelasi positif dengan bertambahnya jumlah penduduk kota besar dunia, khususnya Asia.
Ironisnya, jumlah ketersediaan air bersih justru
tidak bertambah.Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali berpotensi pula menambah
kotoran dan polusi terhadap sumber-sumber air bersih yang ada, seperti air tanah dan air
permukaan di luar perkotaan. "Badan air seperti sungai, selokan, rawa, dan danau di kota
besar masih terus-menerus dijadikan lokasi akhir pembuangan sampah dan mengalirkan
limbah yang pada akhirnya terakumulasi di laut," ujar Gadis.
Perilaku Boros
Krisis pasokan air bersih disebabkan pula oleh perilaku masyarakat yang kerap boros dalam
menggunakan air. Menurut Umar Anggara Jenie, Kepala LIPI, masyarakat belum bisa
memanfaatkan air dengan seefisien mungkin."Sebuah pencucian mobil atau motor bisa
menggunakan berliter-Hter air tawar dalam satu hari. Hal itu merupakan pemborosan,"
ujarnya.Saat ini, persoalan air telah mencapai titik yang memprihatinkan. Air tidak lagi
menjadi sumber daya alam tak terbatas.Jika kondisi itu dibiarkan, tentu saja bisa mengancam
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang
sifatnya holistik. UNESCO, badan PBB yang menaungi persoalan pendidikan dan lingkungan,

mencoba menempuh solusi yang berlandaskan pada tiga elemen, yaitu penggunaan air secara
rasional, ekoteknologi, dan ekohidrologi.
Penggunaan air secara rasional merujuk pada manajemen permintaan akan air bersih dan
pemberian edukasi kepada masyarakat akan pentingnya penghematan air. "Setelah diberikan
landasan pendidikan, seharusnya tidak ada lagi orang yang menghamburkan air bersih untuk
membilas kotoran atau melakukan pencucian kendaraan bermotor," terang Hubert Gijzen,
Regional Director and Representative UNESCO for Indonesia.Landasan lainnya, yakni
ekoteknologi, merupakan faktor perantara antara ekologi dan ekonomi. Jadi, faktor ekologi
tetap dapat menjadi sebuah produk sumber daya ekonomi tetapi tidak menggoyahkan
stabilitas lingkungan. Salah satu bentuk pengaturan air berdasarkan ekoteknologi ialah
pembudidayaan bibit pakan ikan di tambak.
Adapun landasan ekohidrologi ialah mengedepankan proses pengembalian sungai dan kali ke
habitat lautan. Ekohidrologi sebenarnya telah menjadi wacana yang berkembang sejak 10
tahun yang lalu dan merupakan ilmu yang mempelajari interaksi proses hidrologi dengan
dinamika biologi dalam berbagai kondisi spatial (ruang) dan temporal (waktu). Jadi, dalam
ekohidrologi, pemecahan masalah lingkungan, terutama air, didasarkan pada kemampuan
untuk memelihara proses sirkulasi air secara evolu-sioner dan dua dimensi.Konsep
ekohidrologi yang diajukan UNESCO salah satunya adalah tidal flushing. Tidal flushing
merupakan sebuah aksi air laut memasuki muara dua kali dalam sehari saat air pasang. Saat
memasuki muara atau delta, air laut akan memperbarui salinitas dan nutrisi pada muara serta
memindahkan racun yang terdapat di muara tersebut. Konsep itu telah dipraktikkan di
Birmingham, Inggris.
Lantas, konsep apa yang cocok diterapkan di Jakarta? Hubert menyatakan memang agak sulit
membenahi tata kota perairan di Jakarta. "Begitu kompleksnya masalah sungai di Jakarta
sehingga jika satu masalah dibenahi, malah memunculkan masalah lain yang berlipat-lipat di
wilayah lain," katanya.Oleh karena itu, ujarnya, implementasi program-program pembenahan
perairan yang dies-timasikan berbiaya 1 juta dollar AS di I.ik.u i.i tidak bisa dilepaskan dari
aspek sosial. Hal penting lainnya, masyarakat mesti diajak untuk bersama-sama mengatasi
persoalan. hag/L-2