You are on page 1of 3

Nama

: Lola Mustapaloka

Nim : 1113016200049

Mengurangi beras impor dengan cara menanam

beras nuklir
eras merupakan sumber makanan pokok hampir seluruh rakyat
Indonesia. Dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia,
maka secara otomatis semakin meningkat pula kebutuhan beras
setiap tahunnya. Namun masalah yang sampai saat ini belum bisa

terselesaikan di Indonesia ialah ketidakmampuan negara kita untuk memenuhi


kebutuhan beras seluruh rakyat Indonesia sehingga menuntut pemerintah
untuk mengimpor beras dari negara tetangga seperti thailand dan vietnam.
Sungguh sangat disayangkan, negara agraris seperti Indonesia masih saja
mengimpor beras dari negara lain. Salah satu sumber masalah muncul
dikarenakan
digunakan

semakin
untuk

berkurangnya

menanam

padi.

lahan

pertanian

Banyak

lahan-lahan

yang

seharusnya

pertanian

yang

dialihfungsikan untuk kepentingan orang-orang tertentu, seperti mengubahnya


menjadi lahan untuk membangun perumahan atau mall-mall besar. Selain itu
hal lain yang menjadi masalah ialah padi tidak dapat tumbuh disembarang
tempat. Tidak semua varietas padi dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan
dengan suhu yang rendah (daerah dataran tinggi). Sedangkan, kita sudah sulit
sekali menemukan lahan pertanian di daerah dataran rendah seperti Ibukota
Jakarta.
Namun ternyata hal ini bukan lagi menjadi masalah, para peneliti telah
menemukan suatu teknik untuk menghasilkan varietas padi baru yang
diharapkan dapat berdaya hasil tinggi (berjumlah besar dalam sekali panen)
dan toleran pada suhu rendah sehingga memungkinkan untuk dapat ditanam
di dataran tinggi. Cara yang dilakukan ialah dengan teknik mutasi induksi.
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan iradiasi sinar Gamma yang
bersumber dari unsur radioaktif Cobalt-60 ( 60Co) dengan dosis radiasi berkisar
pada 0,1 - 0,3 kGy (kGy= kilogray, satuan yang digunakan untuk menyatakan
dosis radiasi). Iradiasi merupakan suatu teknik penggunaan energi radiasi
untuk

penyinaran

bahan secara

sengaja

dan

sudah banyak dimanfaatkan dalam bidang pangan.

terarah. Teknik iradiasi ini

Pada umumnya sinar gamma yang digunakan untuk radiasi adalah hasil
peluruhan inti atom
60

Co

memiliki

60

Co (penembakan inti atom dengan suatu partikel), karena

energi

radiasi

tembus yang besar pula. Karena

yang

besar

sehingga

mempunyai

daya

60

Co memiliki daya tembus yang besar maka

ketika proses iradiasi, sinar gamma hanya akan melewati benih padi dan tidak
akan tertahan di dalamnya.

Sehingga, masyarakat yang akan mengkonsumsi beras hasil iradiasi tidak perlu
khawatir akan terpapar radiasi dari sinar gamma tersebut. Selain itu, dosis
radiasi yang digunakan pada teknik ini termasuk ke dalam dosis rendah (< 1
kGy). Dosis ini tidak akan menyebabkan bahan pangan berkurang kualitas
gizinya. Teknik ini bisa menjadi alternatif pilihan karena radiasi dapat
mengubah sifat fisik dan kimia dari padi, sehingga bisa didapatkan padi
dengan kualitas yang lebih baik.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sherly Rahayu dkk, dalam
jurnalnya Analisis Stabilitas dan Adaptabilitas Beberapa Galur Padi Dataran
Tinggi Hasil Mutasi Induksi dijelaskan bahwa melalui teknik iradiasi sinar
gamma telah dihasilkan varietas

padi

yang dapat beradaptasi baik pada

ekosistem dataran tinggi dan memiliki stabilitas dan adaptabilitas yang baik
bila dibandingkan dengan padi pembanding (padi alami tanpa radiasi). Hal ini
ditunjukan dari uji coba yang dilakukan di lima lingkungan mulai dari dataran
rendah hingga dataran tinggi hasil produksi yang paling tinggi didapatkan oleh
padi hasil iradiasi sinar gamma, padi yang dihasilkan mencapai 4,69 ton/ha.
Ini membuktikan bahwa teknik iradiasi sinar gamma dapat dijadikan
salah satu alternatif untuk menangani kebutuhan beras masyarakat Indonesia
yang terus meningkat setiap tahunnya. Kurangnya lahan untuk menanam padi
di dataran rendah bukan lagi menjadi masalah, karena kita dapat menanam
padi hasil iradiasi di dataran tinggi bahkan hasil produksi yang didapat bisa
jauh lebih besar. Sekarang yang terpenting adalah perhatian masyarakat
Indonesia dan pemerintah untuk serius menanam beras nuklir (beras hasil

iradiasi sinar gamma) secara kontinyu. Karena sangat besar kemungkinan


beras nuklir ini menjadi jalan keluar untuk mengurangi beras impor, dan
membawa negara kita menjadi Indonesia yang lebih baik dan mandiri.