You are on page 1of 11

BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Variabel (Laju Alir
Gas)
6 L/menit
8 L/menit
10 L/menit

r
0,0101
0,0101
0.01267

d
5,067 x10-3
0,0101
6,334 x 10-3

t
6,4 x 10-3
0,0101
0,0102

4.1. Hasil Percobaan dan Pembahasan Pengaruh Laju Alir


Terhadap Hold Up Gas
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Pengaruh Variabel Laju Alir Terhadap Hold Up Gas
0.01
0.01
0.01
0.01

Hold Up gas ()

0.01

0
0
5.5 6 6.5 7 7.5 8

8.5 9 9.5 10

Laju Alir Gas (L/menit)

Gambar 4.1 Hubungan Variabel Laju Alir terhadap Hold Up Gas


Berdasarkan gambar 4.1 dapat dilihat bahwa laju alir memiliki
hubungan terhadap untuk hold up dari raiser, downcomer atapun hold up
total. Untuk hold up raiser dan hold up total mengalami kenaikan seiring
dengan meningkatnya laju alir yang digunakan hal ini dikarenakan
11

bertambahnya laju alir udara akan menyebabkan bertambahnya hold up


gas. Hal ini bisa dipahami bahwa dengan semakin bertambahnya laju alir
udara maka gelembung udara yang terdispersi didalam air akan bertambah sehingga
bertambah pula fraksi volume udara dalam larutan. Bertambahnya fraksi
volume udara akan meningkatkan nilai hold up gas (Haryani dan
Widayat,2011). Selain itu, meningkatnya laju alir gas menyebabkan laju reaksi menjadi
lebih cepat sehingga produk yang terbentuk menjadi lebih banyak, dengan naiknya jumlah
produk maka jumlah partikel dalam volume tertentu semakin banyak dan menyebabkan
densitas larutan menjadi lebih besar. Peningkatan densitas menyebabkan banyak udara
yang terjebak dalam sistem sehingga fraksi volumenya menjadi lebih besar. Hal ini dapat
dibuktikan dengan,

Pada persamaan diatas terlihat bahwa diperoleh bahwa hold up gas dipengaruhi
oleh 2 faktor yaitu densitas larutan dan perubahan ketinggian inverted manometer pada
raiser dan downcomer (hr dan hd) yang bekerja bedasarkan perbedaan tinggi cairan pada
reactor. Sehingga hubungan antara hold up gas dengan densitas berbanding lurus, dimana saat

densitas larutan naik maka nilai hold up gas akan naik pula.
Pada gambar 4.1 telihat pula bahwa d memiliki nilai yang lebih kecil dan
cenderung fluktuatif dibandingkan dengan r maupun total, ,hal tersebut diakibatkan oleh
perbedaan tekanan yang menyebabkan adanya turbulensi yang mempengaruhi arus alir
pada downcomer dan

menyebabkan sedikit udara yang terjebak dizona downcomer

karena kebanyakan gas yang bersirkulasi keluar ke udara bebas dan hanya sedikit yang
bersirkulasi ke area downcomer hal tersebut mengakibatkan fraksi udara semakin kecil
sehingga tinggi cairan pada inverted manometer downcomer menjadi lebih rendah sehingga
didapat nilai hold up gas yang rendah pula (Dina Amalia,2012). Hubungan antara tinggi
inverted manometer dengan hold up gas downcomer, ditunjukan pada persamaan berikut :

12

Sementara itu dapat dilihat pula bahwa nilai r lebih besar dibanding d
maupun total hal ini dikarenakan pada area riser terdapat struger yang menalirkan gas ke dalam
reaktor, sehingga seiring meningkatnya laju alir maka tekanan pada area riser juga semakin
meningkat akibatnya friksi dari udara semakin besar dan ketinggian cairan pada inverted
manometer riser menjadi semakin tinggi, dengan tingginya cairan ini maka nilai hold up pada
riser semakin besar dan mengalami kenaikan sesuai dengan persamaan diatas (Haryani dan
Widayat,2011).

4.2 Hasil Percobaan dan Pembahasan Hubungan Antara Laju Alir terhadap Laju
Sirkulasi
Tabel 4.2 Hasil Percobaan Pengaruh Variabel Laju Alir Terhadap Laju Sirkulasi
Variabel (Laju Alir Gas) ULd (cm/s)
6 L/menit
17.647
8 L/menit
23.077
10 L/menit
30

ULr (cm/s)
11.11
14.53
18.89

Gambar 4.2 Hubungan laju alir terhadap laju sirkulasi


Berdasarkan gambar 4.2. dapat dilihat bahwa nilai Ulr lebih kecil daripada Uld. Nilai Ulr
pada laju alir gas 6 L/s, 8 L/s, 10 L/s berturut-turut adalah 11.11 cm/s, 14.53cm/s dan 18,89
cm/s. Hal ini dikarenakan, laju sirkulasi berbanding terbalik dengan luas penampangnya.
Pernyataan ini sesuai dengan rumus berikut:
Ulr.Ar = Uld.Ad
dimana:
Ulr = laju sirkulasi cairan riser (cm/s)
13

Uld = laju sirkulasi cairan downcomer (cm/s)


Ar = luas bidang zona riser (cm2)
Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)
Dalam praktikum ini digunakan reaktor air-lift dimana luas penampang riser lebih besar
daripada luas penampang downcomer. Dengan luas penampang riser yang lebih besar, maka
nilai laju sirkulasi area riser (Ulr) menjadi kecil karena nilai laju sirkulasi berbanding terbalik
dengan luas penampang dan nilai Uld pun lebih besar daripada nilai Ulr (Haryani dan Widayat
2011).
Gambar 4.2 juga menunjukkan bahwa bertambahnya laju alir udara akan menyebabkan
bertambahnya laju sirkulasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Haryani dan Widayat (2011) yang
menyatakan bahwa bertambahnya laju alir udara menyebabkan meningkatnya laju sirkulasi
cairan. Hal ini bisa dipahami dengan bertambahnya laju alir udara berarti daya dorong akan
semakin besar. Apabila konsentrasi larutan tetap, maka laju sirkulasi akan semakin cepat.
Karena dengan daya dorong yang lebih besar untuk mensirkulasikan sejumlah massa yang sama
(konsentrasi tetap) dibutuhkan waktu yang lebih sedikit.

4.3 Hasil Percobaan dan Pembahasan Pengaruh Variabel Laju Alir terhadap Nilai KLa
Rata -

Rata

Tabel 4.3 Hasil Percobaan Pengaruh Variabel Laju Alir Terhadap KLa rata rata
a

Variabel 1 (Laju Alir 6 L/m)


t

V titran

(menit)

(ml)

(mmol)

(mmol)

(mmol)

(mmol)

(mgr/s)

0
5
10
15
20

9,8
9
8,4
8
7,9

291,06
291,06
291,06
291,06
291,06

0,5
0,5
0,5
0,5
0,5

0,255
0,275
0,29
0,3
0,3025

145,4025
145,3925
145,385
145,38
145,3788

0
15,50853
7,753867
5,169067
3,876767

kLa (L/s)
rata rata
0,807706

b. Variabel 2 (Laju Alir 8 L/m)


t

(menit

titran

(ml)

0
5
10

kLa (L/s)

(mmol) (mmol) (mmol)

(mmol)

(mgr/s)

rata- rata

9,6
9,4

291,06
291,06

0,5
0,5

0,26
0,265

0
0,807732
15,50907

8,7

291,06

0,5

0,2825

145,4
145,397
5
145,388
8

7,754067
14

15

8,6

291,06

0,5

0,285

5,169333

0,3

145,387
5
145,38

20

291,06

0,5

(mmol) (mmol) (mmol)

(mmol)

(mgr/s)

145,4
145,387
5
145,377
5
145,375
145,373
8

0
15,508

3,8768

c. Variabel 3 (Laju Alir 10 L/m)


t

(menit

titran

(ml)

0
5

9,6
8,6

291,06
291,06

0,5
0,5

0,26
0,285

10

7,8

291,06

0,5

0,305

15
20

7,6
7,5

291,06
291,06

0,5
0,5

0,31
0,3125

7,753467

kLa (L/s)

0,8078146

5,168889
3,876633

0.81
0.81

KLa 0.81
0.81
0.81

10

11

12

Laju Alir (L/menit)

Gambar 4.3 Hubungan Variabel Laju Alir terhadap Nilai KLa Rata - Rata
Berdasarkan gambar 4.3 dapat dilihat bahwa nilai konstanta perpindahan massa (KLa)
tertinggi pada saat laju alir 10 L/m dan nilai Kla terendah ada pada laju alir 6 L/m,
sehingga dengan bertambahnya laju alir gas (dengan konsentrasi sama) maka nilai koefisien
perpindahan panas akan naik pula. Pada percobaan digunakan metode sulfit untuk
menganalisa Kla. Metode sulfit adalah salah satu metode untuk menganalisa koefisien
15

perpindahan massa volumetrik (Kla) dengan mereaksikan oksigen dalam udara dan natrium
sulfit. Dengan meningkatnya laju alir gas maka laju reaksi antara oksigen dengan natrium
sulfit semakin besar. Sebelum terjadi proses reaksi antara gas dengan natrium sulfit terdapat
proses perpindahan massa volumetrik gas dan cairan. Dengan konsentrasi larutan yang tetap
dan laju alir gas yang meningkat, maka konsentrasi gas di larutan semakin meningkat.
Perbedaan konsentrasi gas di fase gas dan fase cair yang besar menyebabkan kecenderungan
udara untuk mengalami perpindahan massa dari fase gas ke fase cair semakin besar. Selain
itu, dengan laju alir udara yang semakin besar maka udara yang dapat dipindahkan kedalam
larutan akan semakin besar pula dan mengakibatkan laju perpindahan oksigen makin
besar, sehingga koefisien perpindahan massa juga akan bertambah besar (Haryani dan
Widayat, 2011). Hal tersebut sesuai dengan persamaan empiris berikut :

Persamaan diatas merupakan persamaan yang digunakan untuk mencari


koefisien perpindahan massa yang terjadi sesuai dengan reaksi sebagai berikut :

Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3 (sisa)

(Ground, 1982)

Natrium sulfit bereaksi dengan oksigen membentuk natrium sulfat. Tidak semua
natrium sulfit bereaksi sehingga natrium sulfit yang sisa dianalisa dengan titrasi iodometri
untuk mengetahui konsentrasi natrium sulfit sisa, reaksinya sebagai berikut :
Na2SO3 (sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2 (sisa)

(Ground, 1982)

Natrium sulfit sisa dibentuk menjadi Natrium sulfat dan iodide dengan cara
direaksikan dengan Kalium Iodida yang berlebih. Untuk mengetahui kadar natrium sulfit sisa,
harus menganalisa kadar iodide terlebih dahulu dengan cara dititrasi dengan natrium tiosulfit,
titik akhir titrasi ditandai dengan berubahnya warna kuning kecoklatan menjadi kuning
terang. Reaksi antara natrium tiosulfat dengan iodida dinyatakan sebagai berikut :
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI

(Ground, 1982)
16

4..4 Hasil Percobaan dan Pembahasan Hubungan Antara Waktu


Tinggal Terhadap Nilai KLa
Tabel 4.4 Hasil Percobaan Pengaruh Variabel Laju Alir Terhadap KLa
a. Variabel 1 (Laju Alir 6 L/m)
t

V titran

(menit)

(ml)

(mmol)

(mmol)

(mmol)

(mmol)

(mgr/s)

0
5
10
15
20

9,8
9
8,4
8
7,9

291,06
291,06
291,06
291,06
291,06

0,5
0,5
0,5
0,5
0,5

0,255
0,275
0,29
0,3
0,3025

145,4025
145,3925
145,385
145,38
145,3788

0
15,50853
7,753867
5,169067
3,876767

kLa (L/s)
0
1,938567
0,969233
0,646133
0,484596

b. Variabel 2 (Laju Alir 8 L/m)


t

(menit

titran

(ml)

0
5

kLa (L/s)

(mmol) (mmol) (mmol)

(mmol)

(mgr/s)

9,6
9,4

291,06
291,06

0,5
0,5

0,26
0,265

0
15,50907

0
1,938633

10

8,7

291,06

0,5

0,2825

7,754067

0,969258

15

8,6

291,06

0,5

0,285

5,169333

0,646167

20

291,06

0,5

0,3

145,4
145,397
5
145,388
8
145,387
5
145,38

3,8768

0,4846

kLa (L/s)

(mmol) (mmol) (mmol)

(mmol)

(mgr/s)

145,4
145,387
5
145,377
5
145,375
145,373
8

0
15,508

0
1,9385

7,753467

0,969183

5,168889
3,876633

0,646111
0,485279

c. Variabel 3 (Laju Alir 10 L/m)


t

(menit

titran

(ml)

0
5

9,6
8,6

291,06
291,06

0,5
0,5

0,26
0,285

10

7,8

291,06

0,5

0,305

15
20

7,6
7,5

291,06
291,06

0,5
0,5

0,31
0,3125

17

2
1.8
1.6
1.4
1.2

Var 1

1
0.8
0.6

Var 2
Var 3

0.4
0.2
0
4

10

12

14

16

18

20

22

Gambar 4.4 Hubungan Antara Waktu Tinggal Terhadap Nilai KLa


Berdasarkan Gambar 4.4 terlihat bahwa semakin lama waktu tinggal maka nilai
koefisien perpindahan massa semakin kecil. Laju reaksi adalah laju pengurangan reaktan tiap
satuan waktu atau pembentukan produk tiap satuan waktu (Endang, 2007) sehingga
dengan konsentrasi natrium sulfit yang tetap, semakin lama waktu operasi menyebabkan
konsentrasi natrium sulfit dalam larutan semakin kecil. Saat semakin kecilnya konsentrasi
natrium sulfit maka kebutuhan oksigen dalam reaksi pun akan menurun. Karena kebutuhan
oksigen yang menurun maka niali Kla pun akan turun, sesuai dengan persamaan berikut :

Pada percobaan, dalam waktu yang sama, nilai Kla cenderung sama. Hal ini
disebabkan oleh peningkatan laju alir udara menyebabkan meningkatnya laju reaksi antara
natrium sulfit dengan oksigen didalam udara tidak signifikan. Peningkatan laju alir udara
yang tidak signifikan menyebabkan perbedaan dari perubahan konsentrasi pada setiap
laju alir sangat kecil. Oleh karena itu, pengaruh peningkatan laju alir udara terhadap
koefisien perpindahan massa pada waktu yang sama tidak terlalu signifikan untuk interval
18

yang kecil.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Semakin tinggi laju alir gas maka hold up gas akan naik karena fraksi volume
udara dan densitas yang meningkat saat laju alir gas naik sehingga hold up gas naik
pula
2. Seiring naiknya laju alir gas maka laju sirkulasi pun akan meningkat, hal tersebut
disebabkan dengan naiknya laju alir gas, dorongan udara/gas akan lebih besar untuk
mensirkulasikan sejumlah massa yang sama. Uld lebih beasr dari Ulr karena luas riser
lebih besar dari luas downcomer
3. Saat laju alir gas naik maka koefisien perpindahan massa akan naik, hal tersebut
dikarenakan dengan naiknya laju alir gas mengakibatkan laju perpindahan oksigen
makin besar sehingga KLa meningkat pula.
4. Semakin lama waktu tinggal reaksi maka koefisien perpindahan massa akan
turun, disebabkan oleh semakin lama bereaksi maka kadar natrium sulfit menurun
sehingga kebutuhan oksigen akan menurun pula sehingga KLa menurun.
5.2 Saran
1. Dalam pengaturan laju alir akan lebih baik jika ada alat digital
sehingga pengaturannya lebih akurat
2. Pada inverted manometer akan lebih baik jika terdapat alat ukur
yang pasti sehingga didapat hasil yang akurat
19

3. Menggunakan Compresor yang lebih baik, sehingga ditengah


proses praktukum Compresor tidak mati dengan sendirinya karena
mengganggu jalannya praktikum.

20

DAFTAR PUSTAKA
Blenke, H. 1979.Loop Reactor.Adv Biochem Eng 13:121-124
Christi, M.Y. and M. Mooyoung. 1988. Prediction of Liquid Circulation Velocity in Air-Lift
Reactor with Biological Media. J. Chem. Technol. Biotechnol
Dina, Amalia. 2012. Hidrodinamika Reaktor. Laboratorium Proses Teknik Kimia 2012

Endang. 2007. Kinetika Kimia. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas


Negeri Yogyakarta
Ground, G.A, Schumple and W.D. Decker. 1982. Gas-Liquid Mass Transfer in Bubble
Column with Organic Liquids. Chemical Engineering Science page 3509 3516.
Pergamon Press Ltd.

Haryani dan Widayat. 2011. Pengaruh Viskositas dan Laju Alir terhadap Hidrodinamika
dan Perpindahan Massa dalam Proses Produksi Asam Sitrat dengan Bioreaktor AirLift dan Kapang Aspergillus Niger. Jurnal Reaktor Vol. 13. Jurusan Teknik Kimia
Universitas Diponegoro (diakses tanggal 9 April 2015).

21