You are on page 1of 8

AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP DAN METODE PENELITIANNYA

A. DEFINISI AL-QUR’AN
Al-Qur’an menurut bahasa berasal dari qara’a yang berarti berkumpul dan menghimpun,
qira’ah yang berarti menghimpunkan huruf – huruf dan kata – kata. Ada pula yang
mengatakan berasal dari kata qarain (jamak dari kata qarinah) yang berarti kaitan; karena
dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat – ayat Al-Qur’an itu satu sama lain saling
berkaitan. Secara istilah Abuddin Nata mengutip dari beberapa pendapat menyimpulkan
bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara
bertahap melalui malauikat jibril, pembawanya Nabi Muhammad SAW, susunannya
dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas, bagi yang membacanya
bernilai ibadah fungsinya antara lain sebagai hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan
Muhammad SAW, keberadaannya hingga kini masih terpelihara dengan baik dan
pemasyarakatannya dilakukan secara berantai dari satu generasi ke generasi yang lain
dengan tulisan maupun lisan.
Para ulama berbeda pendapat mengenai hakikat Al-Qur’an. Imam al-Ghazali dalam kitab
al-Mustasfa min Ilm al-Usl (kitab yang membahasa masalah - masalah usul fikih)
menjelaskan bahwa hakikat Al-Qur’an adalah kalam yang berdiri pada Zat Allah SWT,
yaitu salah satu sifat diantara sifat – sifat Allah SWT yang kadim (tidak bermula). Adapun
menurut golongan Muktazilah, hakikat Al-Qur’an ialah huruf – huruf dan suara yang
diciptakan Allah SWT yang setelah berwujud lalu hilang dan lenyap. Dengan pendapat ini
kaum Muktazilah memandang Al-Qur’an sebagai makhluk (ciptaan) Allah SWT. Karena
itu, Al-Qur’an dianggap bersifat baru, tidak kadim.
Al-Qur’an diturunkan pertama kali di Gua Hira pada malam 17 Ramadhan (16 Agustus 610
M) ketika Nabi sedang berkhalwat (menyendiri). Ayat – ayat yang pertama diturunkan
adalah lima ayat pertama dari surah al-‘Alaq. Mengenai ayat terakhir yang diwahyukan
kepada Nabi Muhammad SAW, ada dua pendapat ulama. Menurut riwayat an-Nasa’i dan
Ikrimah, Ibnu Abbas menyatakan bahwa wahyu terakhir ialah surah al-Baqarah ayat 281,
adapun menurut pendapat jumhur ulama adalah surah al-Maidah ayat 3.
Mengenai turunnya Al-Qur’an Manaul Quthan menyebutkan pendapat yang kuat bahwa
Al-Qur’an diturunkan dua kali :
• Pertama, turun sekaligus pada malam lailatul qadar diturunkan kepada Baitul Izzah
langit dunia.
• Kedua, turun dari langit dunia ke bumi bercerai berai dalam masa sekitar dua puluh
tiga tahun.
Pendapat tersebut merupakan kesimpulan dari pendapat Ibnu Abbas dan jumhur serta
pendapat yang dikemukakan oleh Syu’bry, yang dalam hal ini kedua pendapat tersebut

1
mengacu pada penafsiran tiga ayat yaitu : QS. Al-Baqarah : 185, QS. Al-Qadr : 1, QS. Al-
Furqan : 33.
Alqur’an mempunyai 114 surah yang tidak sama panjang dan pendeknya. Adapun dalam
perhitungan jumlah ayat dalam Al-Qura’an para ulama mempunyai pendapat yang berbeda.
Menurut Abdurrahman as-Salmi, Al-Qur’an terdiri dari 6.236 ayat. Menurut as-Suyuti,
terdiri dari 6.000 ayat lebih. Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma’ani fi Tafsir Al-
Qur’an al-Azim wa as-Sab’ al-Masani (Semangat Makna dalam Tafsir Al-Qur’an yang
Agung dan al-Fatihah) menyebutkan bahwa jumlah ayat Al-Qur’an sekitar 6.616 ayat.
Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan diantara mereka
tentang kalimat Basmalah pada awal surah dan Fawatih as-suwar (kata-kata pembuka
surah), seperti Yasin, Alif Lam Mim dan Ha Mim. Ada yang menggolongkan kata – kata
pembuka tersebut sebagai ayat dan ada pula yang tidak.

B. ISI DAN KANDUNGAN AL-QUR’AN


Al-Qur’an sebagai Kitab Allah menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari
keseluruhan ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia
dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Al-Qur’an merupakan mukjizat
terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mukjizat menurut Imam as-
Suyuti dalam bukunya al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an (Buku Lengkap Mengenai Al-Qur’an)
adalah sesuatu di luar kebiasaan yang disertai dengan adanya tantangan. Sedangkan
Quraish Shihab, sesuatu dinamakan mukjizat apabila memenuhi empat unsur yaitu :
1. suatu hal yang ada di luar kebiasaan
2. nampak dari seorang nabi
3. disertai dengan adanya tantangan
4. sesuatu yang tidak sanggup ditantang orang lain
Mukjizat Al-Qur’an dapat dilihat dari dua sisi :
1. segi bahasa
2. segi kandungan isi
Dari segi bahasa, ulama sepakat bahwa Al-Qur’an memiliki uslub (gaya bahasa) yang
tinggi, fasahah (ungkapan kata yang jelas) dan balagah (kefasihan lidah) . Syekh
Muhammad Rasyid Ridha berpendapat bahwa salah satu bukti ketinggian aslub Al-Qur’an
ialah bahwa seluruh maksud Al-Qur’an itu bercampur baur dan terpencar dalam banyak
surah, baik yang pendek maupun yang panjang, dengan munasabah (hubungan atau kaitan)
yang berbeda – beda sehingga menjadi ‘ibarah (ungkapan) yang sempurna dan
menyenangkan hati. Di antara keistimewaan Al-Qur’an yang lain adlah bahwa Al-Qur’an
merupakan kitab yang bersifat i’jaz (melemajhkan dan meyakinkan para penentangnya).
Sejarah juga telah membuktijkan bahwa para penetang Al-Qur’an tidak sanggup membuat

2
sebuah ayat pun yang dapat menyamai Al-Qur’an dari segi kebahasaan maupun isi dan
kandungannya.
Dari segi kandungan isi, mukjizat Al-Qur’an dapat dilihat dari tiga aspek :
1. Merupakan isyarat ilmiah. Dalam hal ini Al-Qur’an banyak berisi informasi ilmu
pengetahuan walaupun hanya dalam bentuk isyarat ilmiah.
2. Merupakan sumber hukum.
3. menerangkan suatu ‘ibrah (teladan) dan kabar gaib, baik yang terjadi pada masa
lalu, sekarang maupun yang akan datang.
Sebagai sumber ajaran, isi Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pembahasan
pokok, yaitu :
1. Pembahasan mengenai prinsip – prinsip akidah (keimanan)
Dalam ilmu kalam keyakinan bisa disebut akidah. Akidah adalah keimanan dalam hati
secara kokoh, tidak ada keraguan dan dipilih menjadi ajaran hidup. Al-Qur’an berisi
tentang ajaran akidah yang mewajibkan beriman kepada Allah, malaikat, kitab – kitab,
rasul – rasul, hari akhir dan qada dan qadar. Ini merupakan garis pemisah antara iman
dengan kafir seperti yang termaktub dalam rukun iman. Hal ini juga sesuai dengan yang
diuraikan dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari “Iman
adalah engkau percaya kepada Allah, melaikat – malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para
rasul-Nya, hari kebangkitan dan kada (peraturan) dan qadar atau kuasa-Nya”.
2. Penjelasan yang menyangkut prinsip – prinsip ibadah
Secara bahasa ibadah berarti taat, tunduk, menurut, mengikuti dan do’a. Menurut ulama
tauhid ibadah adalah mengesakan Allah SWT dengan merendahkan diri serta
menundukan jiwa setunduk – tunduknya kepada Allah. Pengertian ini didasarkan pada
firman Allah SWT yang artinya “sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun” (QS. 4:36). Menurut pendapat para
ulama ibadah secara garis besarnya dibagi menjadi dua macam :
a. ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah (yang ketentuannya pasti),
yakni ibadah yang ketentuannya dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nas dan
merupakan sari ibadah kepada Allah SWT, seperti salat, puasa, zakat dan haji.
b. Ibadah ammah (umum), yakni semua perbuatan yang mendatangkan
kebaikan dan dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT seperti makan,
minum dan bekerja mencari nafkah. Dengan kata lain, semua bentuk amal kebaikan
bisa dikatakan ibadah ‘ammah bila dilandasi dengan niat semata – mata karena
Allah SWT.
Ibadah dilihat dari segi pelaksanaannya dapat dibagi dalam 3 bentuk :
a. ibadah jasmaniah rohiah (rohaniah), yaitu perpaduan ibadah jasmani dan
rohani seperti shalat dan puasa

3
b. ibadah rohaniah dan maliah, yaitu perpaduan ibadah rohani dan harta seperti
zakat
c. ibadah jasmaniah, rohaniyah dan maliah, seperti ibadah haji
3. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip – prinsip syariat
Syari’at adalah segala tuntunan yang diberikan Allah SWT dan Rasul-Nya melalui
perkataan, perbuatan dan takrir (ketetapan). Tuntunan itu menyangkut baik hubungan
yang berhubungan dengan masalah akidah, maupun hukum – hukum perseorangan,
hukum manusia dengan Khalik, hubungan manusia dengan sesamanya, atau hubungan
yang bertalian dengan etika pergaulan sikap terhadap diri sendiri dan atau orang lain.
Pengertian syariat sebagai segala sesuatu yang dikandung oleh Al-Qur’an dan sunah
dapat juga ditemui antara lain dalam tulisan Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam at-
Ta’rifat (Definisi – Definisi) dan al-Gazali dalam kitabnya al-Mustafa min ‘Ilm al-Usl
(Yang Dapat Dipetik dari Ilmu Usul Fikih). Mereka berpendapat bahwa syariat tersebut
identik dengan ad-din (agama) dan tidak hanya identik dengan fikih.

C. TAFSIR AL-QUR’AN
Semua kitab suci agama termasuk Al-Qur’an menggunakan bahasa simbolik yang untuk
mengetahui apa yang sebenarnya terkandung dalam Al-Qur’an harus menggunakan sebuah
metodologi, dalam hal ini yang harus digunakan adalah metode penafsiran. Adapun tafsir
berasal dari bahasa Arab fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman
dan perincian. Pengertian tafsir menurut Al-Jurjani adalah menjelaskan makna ayat – ayat
Al-Qur’an dari berbagai seginya, baik konteks historisnya maupun sebab al nuzulnya,
dengan menggunakan ungkapan atau keterangan yang dapat menunjukan kepada makna
yang dikehendaki secara terang dan jelas. Sementara Az-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir
adalah ilmu yang fungsinya untuk mengetahui kandungan kitabullah (Al-Qur’an) yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan cara mengambil penjelasan maknanya,
hukum serta hikmah yang terkandung didalamnya. Sedangkan ilmu tafsir menurut
Muchotob Hamzah yang mengutip pendapat Hasby ash-Shiddieqy adalah ilmu yang
membahas tentang nuzulul ayat, keadaan – keadaannya, kisah – kisahnya, sebab – sebab
turunnya, tertib makiyah dan madaniyahnya, muhkam dan mutasyabihnya, nasikh
mansukhnya, ‘am dan mutlaqnya, mujmalnya, mufasarnya (mufashshalnya), halal –
haramnya, wa’ad, wa’idnya, amarnya, nahyunya, ibar dan amtsalnya.Lanjutnya lagi bahwa
tafsir dan ilmu tafsir itu berbeda. Tafsir adalah makna – makna, hukum – hukum, hikmah –
hikmah, penjelasan – penjelasan, dll. Sedangkan ilmu tafsir adalah ilmu yang digunakan
oleh seorang mufassir sebagai ayat untuk menafsirkan suatu ayat dari ayt – ayat Al-Qur’an,
dan ilmu ini adalah salah satu cabang dari ‘Ulumil Qur’an.
Tafsir Al-Qur’an menjadi begitu pentingnya mengingat Al-Qur’an diturunkan sebagai
pedoman hidup umat Islam tidak hanya menyangkut kehidupan beragama saja tetapi juga

4
mencangkup seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian juga akhirnya ilmu tafsir menjadi
salah satu kegiatan ilmiah yang paling tua dalam Islam. Dan kegiatan yang berhubungan
dengan tafsir tersebut ada 2 macam :
1. Kegiatan Penafsiran Al-Qur’an
Menurut Quraish Shihab, perkembangan tafsir dilihat dari segi penulisannya
(kodifikasi) dibagi ke dalam tiga periode :
• Periode pertama, yaitu masa Rassulullah SAW, sahabat dan permulaan tabi’in.
Dimana tafsir belum tertulis dan secara umum periwayatannya ketika itu tersebar
secara lisan.
• Periode kedua, bermula dengan kodifikasi hadits secara resmi pada masa
pemerintahan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (99 – 101 H), dimana tafsir ketika itu ditulis
bergabung dengan penulisan hadis, walaupun tentunya penafsiran yang ditulis itu
umumnya adalah Tafsir bi Al-Ma’tsur.
• Periode ketiga, dimulai dengan penyusunan kitab – kitab tafsir secara khusus dan
berdiri sendiri sendiri. Oleh sementara ahli diduga dimulai oleh Al Farra (w. 207 H)
dengan kitabnya yan berjudul Ma’ani Al-Qur’an.
Dan menurutnya pula corak –corak penafsiran yang dikenal selama ini antara lain :
corak sastra bahasa, corak filsafat dan teologi, corak penafsiran ilmiah, corak fikih atau
hukum, corak tasawuf, corak sastra budaya kemasyarakatan.
Metode penafsiran secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Metode Ma’tsur (Riwayat)
Adalah metode yang mengandalkan periwayatan dan kebahasaan. Ada juga yang
mengatakan tekstualisme dan mengartikan tafsir Al-Qur’an dengan dengan sunnah
atau dengan riwayat. Kitab – kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah :
a. Jami’ul Bayan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary
b. Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim oleh Ibnu Katsir
c. Tanwirul Miqyas min Tafsiri Ibnu ‘Abbas karya Abu Thahir Muhammad
bin Ya’kub al-Fairuzzabadi
2. Metode Penalaran (ra’yi / rationalisme)
Al-Farmawi membagi metode tafsir yang bercorak penalaran ini kepada empat
macam metode, yaitu :
a. Metode Tahlily
Metode tahlily atau yang dinamai oleh Baqir al-Shadr sebagai metode tajzi’iy
adalah metode tafsi yang munfassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat –
ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat – ayat
Al-Qur’an sebagaimana tercantum dalam mushaf.
b. Metode Ijmali

5
Metode ijmali atau disebut juga metode global adalah cara menafsirkan ayat – ayat
Al-Qur’an dengan menunjukan kandungan maksud yang terdapat pada suatu ayat
secara global.
c. Meode Muqarin
Metode muqarin adalah suatu metode tafsir Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara
membandingkan ayat Al-Qur’an yang satu dengan yang lainnya, yaitu ayat – ayat
yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua atau lebih kasus yang berbeda, dan
atau yang memiliki redaksi yang berbeda untuk masalah atau kasus yang sama atau
diduga sama, atau membandingkan ayat – ayat Al-Qur’an dengan hadis – hadis
Nabi Muhammad SAW, yang tampak bertentangan, serta membandingkan pendapat
– pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran Al-Qur’an.
d. Metode Maudlu’iy
Metode maudlu’iy mempunyai dua pengertian, yaitu :
1. adalah penafsiran menyangkut satu surat dalam Al-Qur’an dengan
menjelaskan tujuan – tujuannya secara umum dan yang merupakan tema
sentralnya, serta menghubungkan persoalan – persoalan yang beraneka
ragam dalam surat tersebut antara satu dengan yang lainnya dan juga
dengan tema tersebut, sehingga satu surat tersebut dengan berbagai
masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
2. penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat – ayat Al-Qur’an yang
membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Al-Qur’an
yang membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Al-
Qur’an dan yang sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya,
kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat – ayat tersebut,
guna menarik petunjuk Al-Qur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas
itu.
Adapun kitab – kitab tafsir birra’yi ini antara lain :
1. Al-Kasysyafi karya az-Zamakhsyari
2. Mafatihul Ghaibi oleh Fakhruddin ar-Razi
3. Tafsir Al-Khazin oleh Alaudin Ali al-Baghdady
4. Ruhul Ma’any oleh Syihabuddin al-Alusy
5. Jalalain oleh Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti
Adapun sarat – sarat menjadi munfasir (orang yang menafsirkan Al-Qur’an) para ulama
telah menentukan beberapa syarat yang diperlukan, yaitu :
1. mengetahui bahasa Arab dengan baik, baik ilmu nahwu, ilmu sharaf maupun ilmu
balaghah.
2. mengetahui ilmu asbab an-nuzul (sebab – sebab turunnya ayat)
3. mengetahui ilmu usul fikih

6
4. mengetahui ilmu qiraah
5. mengetahui ilmu tauhid
6. mengetahui ilmu mansikh dan mansukh
7. mengetahui hadis – hadis Nabi Muhammad SAW beserta ilmunya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa selain syarat – syarat diatas bahwa munfasir harus
mempunyai kepribadian yang terpuji baik dalam akhlak, ibadah maupun hubungan
dengan masyarakat.
2. Kegiatan penelitian di sekitar produk – produk penafsiran yang
dilakukan generasi terdahulu.
Kegiatan penelitian tafsir tersebut bisa digolongkan sebagai periode keempat untuk
melengkapi periodesasi perkembangan tafsir yang dikemukakan oleh Quraish Shihab
jika kita mengutip pernyataan Abuddin Nata yang menyatakan bahwa periode keempat
yaitu periode munculnya para peneliti tafsir yang membukukan hasil penelitiannya itu ,
sehingga masyarakat mengenal karya – karya tafsir yang ditulis oleh ulama pada
periode sebelumnya dengan mudah.
Sebagian besar peneliti tafsir menggunakan model penelitian yang bersifat eksploratif,
deskriptif, analitis dan perbandingan. Yaitu model penelitian yang berupa menggali
sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama – ulama tafsir terdahulu
berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yang bersifat primer, yakni yang ditulis oleh
ulama tafsir yang bersangkutan, maupun yang ditulis ulama lainnya (sebagai contoh
Tanwirul Miqyas min Tafsir Ibnu Abbas, kitab tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu
Abbas). Ulama – ulama yang menggunakan model penelitian ini antara lain: Quraish
Shihab, Ahmad Al-Syarbashi, Syaikh Muhammad Al-Ghazali.

7
KESIMPULAN
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan pedoman hidup tidak dapat diragukan, hal ini
desebutkan dalam firman Allah yang artinya “(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya,
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. 2:2). Dan bahkan Al-Qur’an tersebut juga
diturunkan kepada seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) yang semakain
menguatkkan bahwa Al-Qur’an benar – benar merupakan mukjizat dari Allah SWT.
Beberapa penelitipun telah mengungkapkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam
tidak pernah bertentangan dengan sains yang selama ini dianggap musuh dari agama. DR.
Mourice Bucaille dalam bukunya La Bible, Le Coran et le Science (Bibel, Qur’an dan
Sains Modern) menyatakan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan Sains,
sebagian dari Hadits bertentangan dengan Sains, tetapi tidak ada satupun ayat Al-Qur’an
yang dibohongkan Sains. Adapun jika terjadi pertentangan antara Al-Qur’an dan Sains ia
menyatakan bahwa kesalahan ini terjadi karena penerjemahan yang keliru, pendapat yang
terakhir ini ia ungkapkan dalam bukunya yang berjudul Asal-Usul Manusia, 1998.
Pendapat ini juga berarti mengungkapkan pentingnya metode penafsiran yang tepat
sehingga apa yang tersirat dalam Al-Qur’an benar – benar dapat diketahui. Pendapat dari
Orientalis lain bernama George Sale yang mengatakan bahwa “di seluruh dunia diakui Al-
Qur’an ditulis dalam bahasa Arab dengan gaya bahasa yang paling tinggi dan bahasa yang
paling murni diakui sebagai standard bahasa arab dan tak dapat ditiru oleh pena manusia
dan oleh karena itu diakui sebagai mukjizat yang besar, lebih besar dari membangkitkan
orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa itu berasal dari
Tuhan”.
Al-Qur’an sebagai kitab suci yang merupakan pedoman hidup dan sumber ajaran juga
harus dikaji dari berbagai aspeknya, sehingga misi Al-Qur’an yang mewujudkan Islam
sebagai agama yang ‘rakhmatan lil ‘alamin’ dapat diwujudkan.

Sumber bacaan :
1. Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada
2. Mana’ul Quthan. Pembahasan Ilmu Al-Qur’an (terj.).
3. Muchotob Hamzah. Studi Al-Qur’an Komprehensif.
4. Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hove (cet. Ke-11; 2003)