You are on page 1of 5

Nama : Philiadi Permana Putra

Nim

: 156020301111019

Kelas : BP

ALASAN KENAPA ORANG KAYA MASIH KORUPSI

Di negeri kita tercinta yang bernama INDONESIA, setiap hari pasti kita selalu
mendengar berita tentang korupsi yang ada di berita televisi nasional. Tentunya kita tidak asing
lagi mendengar nama korupsi. Namun yang kita hanya tau siapa yang terjerat korupsi dan apa
yang dia serahkan kepada siapa. Korupsi itu tersendiri berasal dari kata latin corruptio yang
bermakna busuk atau rusak, tetapi dalam artian luas korupsi itu tersendiri ialah tindakan pejabat
publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu
yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalah gunakan kepercayaan publik yang dikuasakan
kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Menurut Robert Klitgaard, korupsi
adalah adalah suatu tingkah laku yang meyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam
negara, dimana untuk memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi
(perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri), atau melanggar aturan pelaksanaan yang
menyangkut tingkah laku pribadi. Pengertian korupsi yang diungkapkan oleh Robert yaitu
korupsi dilihat dari perspektif administrasi negara.
Di Indonesia sendiri tentunya tindakan korupsi banyak dilakukan oleh pejabat negara
yang mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri maupun
kelompok. Korupsi di Indonesia bukan hanya dari golongan atas saja, tetapi golongan bawah pun
juga melakukan korupsi mulai dari lurah, camat, sekda, wakil gubernur, gubernur, anggota
DPRD, Ketua DPRD, Anggota DPR, bahkan Menteri yang ditunjuk langsung oleh Presiden juga
melakukan korupsi. Para pejabat negara bukan lah orang-orang yang miskin atau dengan
finansial ekonomi yang standar, melainkan orang-orang yang berada. Tentunya rakyat Indonesia
sangat heran dengan para pejabat yang notabennya sudah mapan, secara finansial tentunya kaya
tetapi masih saja melakukan korupsi yang sangat melanggar undang-undang tentang korupsi.

Menurut Jack Bologne dalam teori gone menjelaskan akar penyebab korupsi ada empat
yaitu :

1. Greed
Keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Orang-orang yang melakukan
korupsi tidak puas akan keadaan dirinya sendiri. Jika mereka mempunyai uang 10juta
tentunya mereka ingin menambahkan penghasilan mereka minimal menjadi dua kali
lipat menjadi 20 juta.
2. Opportunity
Terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem yang tidak
rapi yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah melakukan
penyimpangan, saat bersamaan sistem pengawasan yang tidak ketat dalam melakukan
pengawasan tersebut sehingga orang mudah dalam memanipulasi angka.
3. Need
Berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup untuk memenuhi
kebutuhannya. Dalam artian seseorang sangatlah konsumtif sehingga apa yang dia
inginkan harus dia dapatkan dengan cara apapun. Belum tentu apa yang dia inginkan
bukan lah apa yang dia butuhkan
4. Exposes
Berkaitan dengan hukum pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak
sesuai dengan apa yang dia lakukan sehingga para pelaku korupsi tidak lah jera dalam
melakukan tindakan korupsi.
Empat akar ini lah yang merupakan para pejabat negara yang tentunya orang-orang yang
berfinansial lebih dapat melakukan korupsi. Perilaku korupsi memiliki motivasi dasar sifat yang
serakah yang akut. Adanya sifat rakus dan tamak.
Adapun

menurut

Lukman

Hakim

dalam

seminar

Pemberantasan

Kejahatan

memberantasan Kejahatan Perbankan, Tantangan Pengawasan Bank dan Masyarakat.


Menyebutkan empat faktor yang menyebabkan orang korupsi antara lain:
1. Faktor Kebutuhan

Seseorang terdorong untuk melakukan tindak pidana korupsi karena ingin memiliki
sesuatum namun pendapatannya tidak memungkinkan untuk mendapatkan yang
diinginkan tersebut. "Biasanya dorongan korupsi dari faktor kebutuhan ini dilakukan
oleh orang-orang bersentuhan langsung dengan pengelolaan keuangan
2. Faktor Tekanan
Dilakukan karena permintaan dari seseorang kerabat atau atasan yang tidak bisa
dihindari. "Faktor tekanan ini bisa dilakukan oleh pengelola keuangan, bisa juga oleh
pejabat tertinggi di lingkungan instansi pemerintah,"
3. Faktor Kesempatan
Dilakukan oleh pemegang kekuasaan dengan memanfaatkan jabatan dan kewenangan
yang dimiliki untuk memperkaya diri. Meskipun cara untuk mendapatkan kekayaan
tersebut melanggar undang-undang yang berlaku.
4. Faktor Rasionalisasi
Biasanya dilakukan oleh pejabat tertinggi seperti bupati/walikota di tingkat
kabupaten/kota atau gubernur di tingkat provinsi. "Pejabat yang melakukan korupsi
ini merasa bahwa kalau dia memiliki rumah mewah atau mobil mewah, orang lain
akan menganggapnya rasional atau wajar karena dia adalah bupati atau gubernur,"
Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang-orang melakukan korupsi, tentunya
manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal dan pikiran akan berfikir jernih dalam
melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya dapat merugikan diri sendiri, sehingga dapat
menghindari hal-hal yang tidak di inginkan seperti di penjara, di permalukan oleh masyarakat
dimana dia tinggal, dan masih banyak hal yang membuatnya malu.

Kasus Setya Novanto. Etis atau Hukum?

Rakyat Indonesia lagi heboh mendengar kasusPapa Minta Saham yang mencuat sejak
November 2015 sejak sudirman said melaporkan Setya Novanto kepada Mahkamah Kehormatan
Dewan(MKD) dengan bukti rekaman yang dilakukan oleh Maroef Sjamsoedin Presiden Direktur
PT Freeport Indonesia. Yang berdasarkan laporan tersebut bahwa Setya Novanto mencatut nama
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo serta Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla
yang dimana dalam rekaman tersebut pembagian saham senilai 20% yang dimana 11% untuk
Joko Widodo, serta 9% untuk Jusuf Kalla. Dalam bukti rekaman tersebut ada tiga orang yang
berbicara dalam forum tersebut yaitu Maroef Sjamsoedin, Setya Novanto, dan Riza Chalid.
Menurut Maroef Sjamsoedin pada persidangan terbuka MKD pada tanggal 3 Desember 2015
menyatakan bahwa pertemua tersebut atas gagasan Setya Novanto, serta mengajak Riza Chalid
dalam pertemuan tersebut.
Dalam hal ini Setya Novanto sebagai wakil rakyat yang harusnya menjaga wibawa serta
reputasinya untuk mendengarkan aspirasi rakyat Indonesia, apalagi jabatan Setya Novanto di
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) bukan sekedar anggota DPR RI,
melainkan Ketua DPR RI periode 2014-2019 tentunya sangat memprihatinkan sebagai ketua
DPR RI hanya mementingkan urusan diri sendiri dan golongannya. Apa yang dilakukan oleh
Setya Novanto tidak lah etis dan elok melakukan pertemuan bertiga yang dimana PT Freeport
Indonesia sendiri pun sedang melobi Pemerintah menegoisasikan perpanjangan kontrak karya
Freeport Indonesia Tahap III, yang dimana kontrak karya tahap II akan habis pada tahun 2021.
Tentu dalam rekaman tersebut yang menyatakan bahwa PT Freeport Indonesia harus
mendivestasi sahamnya lebih banyak daripada sebelumnya. Yang sebelumnya 9.3% sudah
dimiliki oleh Kementerian BUMN, harus menambahkan lagi sebesar 20%. Meskipun dalam
rekaman yang dilaporkan oleh Sudirman Said selaku pelapor disebutkan bahwa Riza Chalid lah
yang berbicara tentang seperti apa yang di laporkan di transkip MR: Pak, kalau gua, gua bakal

ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil,
kalau enggak rebut. Permasalahan ini lah yang menuai kritik oleh masyarakat luas.
Sungguh jabatan Ketua DPR yang diembankan oleh Setya Novanto tidak lah etis di salah
gunakan, meskipun dalam pembicaran tersebut bahwa Riza Chalid lah yang berbicara tentang
pembagian saham, tetapi Setya Novanto lah yang menjadi Promotornya yang mengajak Riza
Chalid untuk melakukan pertemuan dengan Maroef Sjamsoeddin. Jika Setya Novanto berjiwa
besar dan mengakui bahwa pertemuan tersebut atas keinginan dia serta mengajak Riza Chalid
untuk berdikusi dan mundur sebagai Ketua DPR sehingga kasusnya bakal di selesaikan secara
hukum tentunya merupakan jiwa bangsawan yang dimiliki oleh Setya Novanto. Dalam kasus ini
merupakan perilaku etis tetapi jika diselidiki lebih jauh ini merupakan kasus korupsi karena
jika PT Freeport Indonesia ingin mendapatkan Kontrak Karya III, maka dalam UU No 20 Tahun
2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pasal 5 ayat 1 (a) di jelaskan memberi
atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai dengan maksud supaya pegawai negeri atau
penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya. Dipidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama
lima tahun atau pidana paling sedikit Rp.50.000.000(lima puluh juta rupiah) atau paling banyak
Rp. 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah).
Tentunya dalam proses hukum ini harus di tindak lanjuti oleh kejaksaan agung, yang
sudah jelas bahwa akan menjanjikan bahwa kontrak karya PT Freeport tersebut akan di proses.
Karena sejak pertemuan itu pemerintah tengah menggodok perpanjangan PT Freeport Indonesia.
Ini akan membawa kearah keadilan jika saja Setya Novanto diputuskan bersalah oleh Sidang
MKD. Dan kasus yang telah di selidiki oleh kejaksaan agung akan membawa Setya Novanto ke
Pengadilan untuk di adili dalam kasus korupsi