You are on page 1of 5

OUTLINE

KEPEMILIKAN TERKONSENTRASI DAN ASIMETRI INFORMASI TERHADAP


KONSERVATISMA AKUNTANSI
1. Isu
Konservatisme akuntansi dijadikan salah satu prinsip penyusunan pelaporan
keuangan, prinsip ini juga termasuk prinsip kualitatif dalam penyusunan laporan
keuangan. Konservatisme ini erat hubungannya dengan pemilihan metode pencatatan
untuk menghasilkan penilaian terhadap aset dan pendapatan walaupun metode tersebut
memiliki kemungkinan terkecil dalam hal tersebut. Semakin berkembangnya standar
akuntansi, pada tahun 2012 Indonesia menerapkan IFRS. Penerapan IFRS ini merupakan
wujud dari penolakan prinsip konservatisme yang mulai digantikan dengan prinsip fair
Value yang lebih menekankan pada nilai relevansi.
Dalam IFRS, istilah konservatisme digantikan oleh prinsip yang disebut prudence
(IAI, 2012:37). Namun, penerapan prinsip prudence tersebut pada dasarnya sama dengan
prinsip konservatisme. Dimana keduanya merupakan karakteristik kualitatif yang
digunakan perusahaan sebagai tindakan kehati-hatian dalam hal melakukan perkiraan
disaat kondisi ketidakpastian. Menarik kemudian untuk diteliti apakah sebenarnya prinsip
konservatisme tersebut masih diberlakukan setelah diberlakukannya IFRS pada tahun
2012.
Konservatisme dalam berbagai penelitian sering dihubungkan dengan nilai
perusahaan (mayangsari & Wilopo, 2002) dan perilaku manajer (Juanda, 2007). Kedua
penelitian tersebut dilakukan sebelum diterapkannya IFRS di Indonesia dan sedangkan
penelitian setelah diterapkannya IFRS mengenai relevansi nilai perusahaan dilakukan
oleh Darsono, 2012. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah
prinsip konservatisme masih diberlakukan di Indonesia setelah diberlakukannya IFRS
walaupun penerapan prinsip konservatisme di Indonesia dinilai lebih rendah dibandingkan
Amerika (Juanda, 2007).
Pada penelitian ini ingin meneliti tingkat konservatisme yang dikaitkan dengan
adanya kepemilikan yang terkonsentrasi dan asimetri informasi. Kepemilikan yang
terkonsentrasi tersebut dibagi menjadi dua bahasan, yaitu kepemilikan insider dan
outsider. Hal ini mengingat bahwa struktur kepemilikan di Indonesia terdiri dari
kepemilikan terkonsentrasi (Claessens, et al.1999).
2. Research Gap
1) Penelitian Nekounam, et al. (2011)
Penelitian ini menguji tentang hubungan antara kepemilikan terkonsentrasi
terhadap konservatisma akuntansi. Penelitian ini melibatkan variabel kontrol yaitu,
firm size, leverage, growth index dan market value to book value, sedangkan
penggunaan variabel dependen yaitu konservatisma akuntansi. Dalam penelitian ini
menghasilkan 74 data perusahaan dengan menggunakan metode systematic deletion,
data yang terpilih dari Bursa Efek Teheran selama periode 2006-2010.
Penggunaan metode pengukuran konservatisma akuntansi oleh Givoly & Hayn
(2000), dengan hasil empirisnya adalah kepemilikan terkonsentrasi berpengaruh
secara signifikan negatif terhadap konservatisma akuntansi. Kesimpulannya bahwa,
pemegang saham mayoritas sebagai kepemilikan terkonsentrasi mampu
mengendalikan pelaporan keuangan. Apabila dengan kepemilikan saham yang banyak
atau mayoritas, maka mereka dapat menerapkan tekanan terhadap manajer guna
meningkatkan laporan overstatement serta berdampak pada kenaikan harga saham.

Fungsi dari penggunakan konservatisma akuntansi akan berlawanan dengan tujuan


pemegang saham mayoritas.
2) Penelitian Thai & Kuntisook (2009)
Penelitian ini secara empiris telah menguji pengaruh kepemilikan controlling
(kepemilikan oleh keluarga) terhadap konservatisma akuntansi. Pada penelitiannya
ini, menggunakan variabel kontrol yaitu corporate governance, leverage, institusional
ownership, firm size, litigation risk dan market to book ratio. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak disektor agriculture & food,
consumer products, industrial, property & construction, resource, services &
technology yang tercatat di Bursa Efek Thailand pada tahun 2000-2006 dengan
menggunakan penyampelan purposive sampling menghasilkan 1.733 sampel.
Pengukuran konservatisma akuntansi mengunakan asymmetric timeliness oleh Basu
(1997), maka hasil penelitian ini bahwa kepemilikan mayoritas yang terkonsentrasi
berpengaruh secara signifikan positif terhadap konservatisma akuntansi.
Kesimpulan dari penulisan tersebut, bahwa kepemilikan saham oleh mayoritas
pada perusahaan dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi menyebabkan lebih
menyajikan pelaporan yang konservatif. Alasannya bahwa kepemilikan mayoritas
lebih suka melupakan manfaat jangka pendek jika laporan keuangan kurang
konservatif. Tujuan kepemilikan saham oleh mayoritas cenderung memilih metode
yang berdampak pada laporan keuangan yang lebih konservatif, agar bisnisnya dapat
terwarisi hingga ke masa depan generasi berikutnya serta demi menjaga nama baik
dan melindungi reputasi keluarga.
3) Penelitian Yunos, et al. (2011)
Penelitian ini secara empiris telah menguji pengaruh kepemilikan orang dalam
yang terkonsentrasi (inside concentrated owners), board of directors pada
konservatisma akuntansi. Pada penelitiannya ini, menggunakan variabel kontrol yaitu
auditor, firm size, profitability, leverage dan market to book ratio. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak di luar sektor non
keuangan yang tercatat di Bursa Efek Malaysia pada tahun 2001-2007 dengan
menggunakan penyampelan purposive sampling menghasilkan 2019 sampel.
Pengukuran konservatisma menggunakan asymmetric timeliness oleh Basu (1997),
maka hasil dari penelitian ini bahwa kepemilikan insider terkonsentrasi tidak
berpengaruh terhadap konservatisma.
Kesimpulan dari Yunos, et al. (2011), dikarenakan variabel kepemilikan
insider terkonsentrasi sebagai variabel moderasi pada hubungan antara dewan direksi
dan konservatisma akuntansi, serta dewan direksi terdiri dari proporsi independent
directors dan proposi financial expertise yang lebih berpengaruh terhadap
konservatisma. Setelah kepemilikan insider terkonsentrasi teruji sebagai moderasi,
maka variabel ini yang mempengaruhi independent directors dan financial expertise
menjadi kurang untuk mengadopsi konservatisma akuntansi.
4) LaFond & Watts (2008)
Penelitian ini menganalisa tentang asimetri informasi yang terjadi antara
insider perusahaan dengan investor outside equity menghasilkan konservatisma dalam
laporan keuangan. Penggunaan variabel kontrol yaitu market to book, size, options
dan leverage. Sampel yang diperoleh mencapai 20.389 data perusahaan, dengan
menggunakan PIN score sebagai pengukur asimetri informasi yang telah tersedia di
data NYSE dan AMEX pada periode 1983-2001.
Temuan yang diperoleh dengan menggunakan metode pengukuran Basu
(1997), bahwa asimetri informasi secara signifikan berhubungan positif dengan
konservatisma akuntansi. Pada saat pengakuan asimetri antara keuntungan dan

kerugian dalam laporan keuangan dapat meningkatkan tingkat asimetri informasi


antara manajer dengan outside equity investor, bahkan pihak outside equity investor
menuntut laba lebih konservatif karena berfungsi sebagai alat yang mampu
menurunkan agency problem. Oleh karena itu, dengan menggunakan konservatisma
akuntansi dapat membatasi ruang gerak manajer yang bertujuan untuk memanipulasi
hingga menghasilkan kinerja perusahaan yang overstate.
5) Penelitian Chi & Wang (2008)
Penelitian ini menganalisa hubungan antara asimetri informasi dan
konservatisma akuntansi. Penulis berkeinginan untuk memperbaiki hasil penelitian
LaFond & Watts (2008) karena berfokus pada negara yang latar belakang seperti AS,
dengan tingkat konservatisma akuntansi diasumsikan di seluruh dunia adalah berbeda.
Variabel yang digunakan dalam salah satu hipotesanya adalah asimetri informasi
sebagai variabel independen dan konservatisma sebagai variabel dependen, selain itu
juga menggunakan variabel kontrol yaitu leverage dan market to book ratio.
Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Taiwan Stock Exchange Corporation dan Gre Tai
Securitas Market periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2006. Sampel yang
diperoleh dan memenuhi syarat sebanyak 1.748 perusahaan. Penggunaan pengukuran
asimetri informasi dengan PIN oleh Easley, et al. (2001) dalam Chi & Wang (2008)
dan metode pengukuran konservatisma akuntansi oleh Basu (1997). Adapun hasil
yang diperoleh dari analisa tersebut bahwa asimetri informasi secara signifikan
berhubungan positif dengan konservatisma akuntansi. Asimetri informasi yang terjadi
antara pemegang saham mayoritas dan minoritas pada periode saat ini akan lebih
meningkatkan konservatisma di akhir periode. Bahkan untuk mengatasi moral hazard
dari asimetri informasi antara stakeholder yang berkepentingan, konservatisma
merupakan salah satu karakteristik yang paling menonjol dari akuntansi keuangan
dianggap sebagai alat yang paling efisien dalam kasus ini.
3. Justifikasi
Dengan berlakunya IFRS di Indonesia, prinsip konservatisma akuntansi tidak lagi
diberlakukan dan digantikan dengan prinsip prudence. Pada hakikatnya konservatisma
akuntansi dan prudence memiliki konsep yang sama, yaitu sama sama merupakan
karakteristik kualitatif yang digunakan entitas sebagai unsur kehati-hatian pada saat
melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian. Penggunaan istilah prudence,
memiliki penekanan untuk membatasi sikap kehati-hatian dengan cara konservatisma
akuntansi yang telah digunakan pada batasan yang wajar. Hal ini berarti dampak dari
konservatisma akuntansi akan menghasilkan aset atau pendapatan yang tidak terlalu tinggi
dan biaya atau liabilitas tidak dinyatakan terlalu rendah (Wang, 2009).
Sedangkan, Konservatisma akuntansi dapat diintepretasikan sebagai kehati-hatian
yang menimbulkan kecenderungan pesimisme yang ada di dalam laporan keuangan.
Esensinya bahwa, konservatisma dikonsepkan sebagai prinsip akuntansi dengan
memprioritaskan pilihan yang memberikan pengaruh keuntungan paling kecil pada equity
pemilik. Cara memilih nilai yang paling rendah untuk melaporkan pos aktiva dan
pendapatan, dan nilai yang paling tinggi untuk melaporkan pos kewajiban dan biaya yang
akan dibayar. Hal ini sebagai langkah, guna menghadapi ketidakpastian transaksi ekonomi.
Implikasinya, konservatisma akuntansi menghasilkan laporan keuangan understatement.

4. Masalah Penelitian

Sesuai dengan isu yang telah dijelaskan diatas, maka rancangan penelitian ini menjadikan
beberapa masalah yang ingin diungkap. Masalah penelitian tersebut meliputi:
1) Apakah Kepemilikan Insider berpengaruh pada Konservatisma Akuntansi
2) Apakah Kepemilikan Outsider berpengaruh pada Konservatisma Akuntansi
3) Apakah Asimetri Informasi berpengaruh pada Konservatisma Akuntansi
5. Kontribusi
1. Kontribusi Teori
Rancangan penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti secara empiris bahwa
teori keagenan dalam menjelaskan kepemilikan saham oleh outsider terhadap
konservatisma akuntansi pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Selain itu rancangan penelitian ini juga diharapkan memberikan bukti
secara empiris bahwa teori keagenan dalam menjelaskan kepemilikan saham oleh
outsider terhadap konservatisma akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia.
2. Kontribusi Praktik
a. Bagi Investor
Sebagai bahan pertimbangan kritis dalam pengambilan keputusan melalui
konservtisma akuntansi sebagai kebijakan perusahaan. Adapun hasil dari
penerapan konservtisma akuntansi hanya bisa dirasakan oleh investor yang
bertahan lama.
b. Bagi Manajemen Perusahaan
Memberikan bukti pentingnya peran konservatisma akuntansi sebagai kebijakan
perusahaan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana manajer memilih
konservatisma akuntansi untuk meningkatkan kepemilikan outsider dalam
berinvestasi.
3. Kontribusi Kebijakan
Penelitian ini menjadi bahan pertimbangan bagi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dalam
rangka pengembangan dan pengevaluasian prudence, dimana prudence ini
menggantikan prinsip konservatisma setelah adopsi IFRS. Hal ini akan berdampak
pada praktiknya, mampu mengaplikasikan standar akuntansi yang memberikan banyak
manfaat bagi pihak yang berkepentingan (Standard setter, investor, pemerintah dan
stakeholder).
6. Hipotesis
1) Pengaruh Kepemilikan Insider pada Konservatisma Akuntansi
2) Pengaruh Kepemilikan Outsider pada Konservatisma Akuntansi
3) Pengaruh Asimetri Informasi pada Konservatisma Akuntansi
7. Model Penelitian

8. Populasi dan Sampel


Populasi yang menjadi objek dalam outline ini meliputi seluruh perusahaan dalam
kelompok non keuangan yang go public di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2012.
Sampel dalam outline ini menggunakan purposive sampling. Kriteria pengambilan sampel
dengan metode purposive sampling sebagai berikut:
1. Perusahaan termasuk perusahaan non keuangan yang mempublikasikan laporan
keuangan dan laporan tahunan selama 2012 2014 secara lengkap.
2. Perusahaan selama tahun 20122014 melaporkan laporan keuangannya
menggunakan mata uang Rupiah (Rp).
3. Laporan keuangan tahunan perusahaan-perusahaan anggota sampel yang bersifat
konservatif.
4. Perusahaan-perusahaan anggota sampel berjenis kepemilikan terkonsentrasi.
5. Perusahaan-perusahaan yang memiliki data harga bid dan harga ask yang tersedia
di BEI pada tahun 2012 2014.
9. Model Pengujian
Bentuk model pengujian dalam outline ini menggunakan model analisa regresi linier
berganda yang di rumuskan sebagai berikut:
KA = + b1 KINS + b2 KOUT + b3 AI + e
Dimana:
KA
= Konservatisma akuntansi
KINS = Kepemilikan saham insider
KOUT = Kepemilikan saham outsider
AI
= Asimetri informasi
e
= Error

= Konstanta
b1 b3 = Koefisien regresi
10. Alat Uji
Outline ini menggunakan alat uji Regresi Linier Berganda dengan menggunakan aplikasi
program Statistical Package for Social Sciences (SPSS).