You are on page 1of 18

MENGENAL MAKSIAT DAN BAHAYANYA

Semakin maju zaman, semakin banyak kerusakan. Semakin maju teknologi, semakin banyak
pula maksiat di mana-mana. Itulah yang terjadi di zaman kita saat ini. Hal ini dapat kita saksikan dari
bagaimana seorang wanita berbusana. Banyaknya wanita yang tidak mengenakan jilbab. Ada pula
yang suka memamerkan auratnya. Di akhir zaman, perbuatan zina pun tersebar di mana-mana.
Tidak sedikit kita mendengar, ada yang menikah namun sudah berisi lebih dulu (alias: hamil
di luar nikah). Di kalangan pelajar pacaran sudah dianggap hal yang lumrah. Bahkan tidak sedikit di
antara mereka yang melakukan perzinaan di usia dini. Dan satu lagi yang membuat resah adalah
tersebarnya video dan gambar porno di tengah-tengah masyarakat. Bahkan diceritakan bahwa yang
berperan dalam video tersebut bukan hanya orang dewasa, namun remaja-remaja SMP pun ada yang
memerankannya.
Itulah beberapa fenomena yang terjadi di zaman kita ini. Fenomena-fenomena di atas jika kita
menilik dalam kitab-kitab hadits merupakan isyarat bahwa hancurnya dunia ini memang semakin
dekat, tinggal menunggu waktu. Hanya orang yang memiliki hati saja yang bisa mengambil pelajaran.
Apa itu Maksiat, Dosa dan Zina?
1. Pengertian Maksiat
Secara bahasa maksiat adalah pelanggaran. Yaitu suatu perbuatan yang tidak mengikuti
petunjuk sehingga melanggar perintah Allah Taala dan rasul-Nya.
Maksiat menurut Ibnu Taimiyah rahimaullah adalah suatu perbuatan yang menyelisihi dan
menentang perintah Allah dan rasul-Nya maka ia telah bermaksiat.[Majmu fatawa vol VIII/268]
Allah Taala berfirman :

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka
Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. [Al Jin : 23]
Nabi Adam as dan Siti Hawa as telah bermaksiat kepada Allah Taala, yakni bermaka bahwa mereka
telah melanggar perintah Allah Taala. Bukti pelanggaran yang mereka lakukan tergambar dalam surat
Thaha ayat 121. Kemaksiatan yang mereka lakukan menyebabkannya terusir dari syurga dan turun ke
bumi.
Bekas
dari
pelanggaran
tersebut
disebut
dengan
dosa.
2. Pengertian Dosa
Dosa secara bahasa adalah bekas atau tanda akibat dari perbuatan maksiat.
Orang yang melakukan perbuatan maksiat (pelanggaran) maka akan berbekas dalam hatinya sebuah
penyesalan. Ia selalu merasa dihantui perasaan bersalah akibat pelanggaran yang dilakukan. Perasaan
merasa bersalah (melanggar) yang dilakukan itu disebut dengan perbuatan dosa. Dosa yang
tersimpan dalam hatinya adalah bekas perbuatan maksiat.
Kehinaan Dosa dan Maksiat Akibat Membangkang perintah Allah

1.
Nabi
Adam alaihissalam dan
istrinya
hawa
diusir
dari
surga
2.
Iblis
terusir
dari
kerajaan
langit,
menjadi
makhluk
yang
terlaknat
3. Allah mengirimkan angin kepada kaum Ad, hingga mayat-mayat mereka bergelimpangan
4. Allah mengirimkan suara yang menggelegar kepada kaum Tsamud hingga membinasakan mereka.
5. Allah membolak-balikan desa kaum Luthalaihissalam (homoseksual) , kemudian Allah
menghujani
mereka
dengan
batu
meteor
dari
langit.
6. Allah mengutus awan dan menurunkan hujan api kepada kaum Syuaib alaihissalam
7. Allah menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya kedalam lautan
8.
Qarun
tenggelam
dengan
istana
dan
hartanya
9. Bani Israil ditimpa dengan berbagai macam hukuman seperti pembunuhan, perbudakan, hancurnya
negeri, munculnya para raja dzalim yang memerangi mereka, dilaknatnya mereka menjadi kera dan
babi.
Itu semua adalah akibat dari dosa yang mereka lakukan. Hendaklah peristiwa yang telah
berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena orang yang
baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain dan bukan menjadi pelajaran yang jelek
bagi generasi setelahnya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:



Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang
Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang
mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada
yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi
merekalah
yang
menganiaya
diri
mereka
sendiri.
(Al-Ankabut:
40)

3. Pengertian zina
Pengertian zina adalah persetubuhan antara pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan
perkawinan yang sah menurut agama. Zina adalah dosa besar yang menghancurkan tatanan
kehidupan keluarga dan masyarakat. Perbuatan zina sangat dicela oleh agama dan dilaknat oleh
Allah didunia dan diakhirat. Pelaku perzinaan dikenakan sanksi hukuman berat berupa rajam
sebagaimana
dalam
surah
An
Nur
ayat
2,
Allah
Taala
berfirman

Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratusa kali. dan

janganlah rasa belas kasihan kepada mereka keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan)
agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allahd dan hari kemudian, dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. [An
Nuur : 2]
Ayat Al Quran Tentang Larangan Berzina

Dan janganlah kamu mendekati zina, itu (zina) sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang
buruk.[Al Israa : 32]
Mendekati saja sudah terlarang terlebih melakukannya, maka dosanya lebih besar lagi.

Yang dimaksud perbuatan mendekati zina adalah berpacaran. Karena dapat mengakibatkan
pelakunya ingin melakukan zina. Mendekati sesuatu yang dapat merangsang nafsu sehingga
mendorong diri kepada perbuatan zina juga termasuk perbuatan mendekati zina.
Begitu pula dengan perbuatan yang berpotensi mendorong nafsu seperti menonton aurat dan
mengkhayalkannya adalah mendekati perzinaan.
Mengapa Pacaran Disebut Zina?
Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan-larangan Alloh Taala. Fitnah ini
bermula dari pandang-memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hatisebab itu,
ada istilah dari mata turun ke hati kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara
kirim SMS atau surat cinta, telepon, atau yang lainnya.
Setelah itu, terjadilah saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan
sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena
merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina.
Perhatikanlah sabda Rosululloh Shallallahualahi wasallam:

Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua
mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan
mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan
memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan
berangan-angan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau men-dustakannya. (HR.
al-Bukhori: 6243, Muslim: 2657)
Imam an-Nawawi Rohimahullah berkata: Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan
bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan
farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan

memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan
kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan
mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau
melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan
yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam
hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi. (Syarah Shohih Muslim: 16/156-157)
Adakah orang yang berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram
sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau laki-laki ajnabi (bukan mahrom)
termasuk
perbuatan
yang
diharamkan?!
Adakah Pacaran Islami?
Ada pemuda-pemudi aktivis organisasi Islamyang punya semangat terhadap Islam
disebabkan kurangnya ilmu syari yang mereka miliki, terpengaruh dengan budaya Barat yang
berkembang, maka memunculkan istilah pacaran islami dalam pergaulan mereka. Mereka ingin
tampil beda dengan pacaran-pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegangpegangan. Masing-masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi
pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan
berdzikir kepada Alloh Taala serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah
katanya.
Ketahuilah, pacaran yang diembel-embeli Islam ala tak ubahnya omong kosong belaka. Inilah talbis
iblis (makar iblis) untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Walau bagaimana juga yang
namanya pacaran tidak lepas dari mandang memandang. Adakah diantara mereka yang dapat menjaga
pandangannya dari melihat yang haram? Sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau laki-laki
ajnabi
termasuk
perbuatan
yang
diharamkan?
Alloh
Taala
berfirman
:

Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci
bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah
kepada wanita-wanita yang beriman: Hen-daklah mereka menahan sebagian pandangan mata
mereka
dan
memelihara
kemaluan
mereka
....
(Q.S.
an-Nur
[24]:
30-31)
Wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rosululloh Shallallahualahi wasallam
bersabda:

Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada
fitnahnya wanita. (HR. al-Bukhori: 5096)
Putuskan Hubungan Yang Tidak Halal Tersebut Atau Putuskan Untuk Menikah!
Maka bersyukurlah anda yang telah putus, artinya Anda sudah bebas dari perbuatan dosa
karena pacaran. Pacaran itu banyak dosanya, mungkin Allah ingin menyelamatkanmu dari dosa.

Percayalah, jodoh itu di tangan Allah. Tidak harus punya pacar, banyak kok mendapatkan
jodoh meski tanpa pacaran dulu.
Ini saatnya, Anda fokus belajar, menuntut ilmu, berkarya, dan beribadah. Ini saatnya, Anda
mulai menjauhi dosa-dosa.
Putus? Alhamdulillah, Anda sudah menjauhi zina.
Yakinlah, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buatmu. Yakinkan kalau Allah itu sayang
kepadamu. Allah lebih menyayangi dibanding mantanmu.
Daripada inget si dia terus, mending inget Allah terus. Dzikir itu berpahala dan membuat hati
lebih tenang.
Sakit karena putus? Mungkin ini teguran dari Allah, agar menjalani hidup sesuai dengan
ajaran Islam.
Dan solusi terbaik adalah segeralah menikah.
Apa aja sih Keburukan Zina?
- Zina mengurangi agama seseorang.
- Zina menghilangkan sifat wara'(berhati-hati dalam beragama).
- Zina merusak kehormatan dan harga diri.
- Zina menjadikan pelakunya dikucilkan masyarakat.
- Zina merusak nasab (keturunan)..
- Zina menghilangkan kesucian pelakunya
- Zina menghilangkan sifat terpuji seperti 'iffah, baik, adil, amanah.
- Zina menghilangkan nama baik dan mendapat gelaran buruk seperti pezina, pengkhianat
- Zina menggelapkan wajah dan hati.
- Zina mengurangi sifat cemburu.
- Allah Taala memberikan kegelisahan hati buat para pezina.
- Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, temantemannya dan yang lain.
- Pezina mendapatkan murka Allah Taala.
- Zina menjatuhkan derajatnya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.
- Pezina menjatuhkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit
dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi untuk menyiksa para pezina.
(HR al-Bukhari ).
- Pelaku zina wajib diberi hukuman; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan
diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih
berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati.
- Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian
yang menyakitkan. Allah Taala berfirman :

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan. (Qs an-Nur/ 24:24).
Zina Dianggap Halal
Pada akhir zaman banyak orang tidak malu-malu lagi melakukan zina. Zina tidak lagi
dianggap sebagai sesuatu yang hina dan memalukan. Hal ini dikarenakan banyaknya tontonan zina
dan banyaknya orang yang berzina. Sehingga ketika seorang laki-laki ketahuan berzina terasa tidak
ada beban asal bertanggungjawab mau menikahi wanita zinanya. Wal 'iyadl Billah!

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy'ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:

"Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap halal perzinahan,
sutera, minuman keras, dan musik-musik." (HR. Bukhari)
Makna yastahilluuna (menghalalkan), menurut Ibnul 'Arabi adalah mereka meyakininya sebagai
sesuatu yang halal, sehingga mereka terus-menerus melakukannya tanpa beban, seolah-olah
menikmati sesuatu yang halal. (Disarikan dari ucapan Ibnul 'arabi dari Fathul Baari: 16/61 dari
Maktabah Syamilah)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam beliau bersabda: "Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini
sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara
mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, "alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini
di balik dinding ini." (HR. Abu Ya'la. Al Haitsami berkata, "perawi-perawinya shahih." Lihat Majmu'
Zawaid: 7/331)
Dan pada akhri zaman, setelah lenyapnya kaum muslimin, tinggallah orang yang jelek yang
seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Diriwayatkan dari al-Nawwas radliyallah
'anhu:

"Dan ingatlah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti
keledai. Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." (HR. Muslim)

Gambaran semacam ini sudah nampak di negeri kita, sebagaimana yang dilakukan para
pelacur yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di beberapa tempat keramaian atau taman
kota, dan juga yang terjadi di pinggir-pinggir pantai, tempat wisata. Tapi, jika dibandingkan di Barat
mungkin belum lah separah di sana. Namun, tidak menutup kemungkinan yang di Barat pun akan
terjadi di sini, sebagaimana fenomena akhir-akhir ini terjadi, sebagian orang sudah berani merekam
perbuatan bejatnya bersama wanita zinanya. Maka mungkin saja, zina di jalan-jalan dapat terjadi.
Dari Abdullah bin Umar radliyallah 'anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda, Kiamat tidak akan terjadi sampai orang-orang bersetubuh di jalan-jalan
seperti layaknya keledai. Aku (Ibnu Umar) berkata, Apa betul ini terjadi?. Beliau lantas
menjawab, Iya, ini sungguh akan terjadi.
Fenomena zina di akhri zaman, boleh jadi lebih para daripada yang terjadi pada zaman jahiliyah.
Orang-orang jahiliyah memandang buruk perzinahan yang dilakukan secara terang-terang. Berbeda
dengan pandangan umum masyarakat modern, zina dianggap sebagai sebuah kebebasan yang
diagungkan. Bahkan, orang yang melarang zina dianggap melanggar HAM.
Ibnu Abbas radliyallah 'anhuma berkata: "Mereka pada masa jahiliyah memandang zina yang
lakukan dengan sembunyi-sembunyi tidaklah mengapa. Namun, mereka memandang buruk zina yang
dilakukan dengan terang-terangan. Lalu Allah mengharamkan zina yang dilakukan dengan sembunyisembunyi dan terang-terangan." (Dinukil dari Fathul Baari)

DAMPAK BURUK PERBUATAN DOSA DAN MAKSIAT


Dosa dan maksiat memiliki dampak yang mengerikan. Bahaya maksiat bagi hati laksana
bahaya racun bagi tubuh. Maksiat merupakan sebab kehinaan didunia dan di akherat. Imam Ibnul
Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ad-Daa wa Ad Dawaa menyebutkan dampak dosa dan
maksiat
antara
lain:

1. Dosa menghalangi dari ilmu yang bermanfaat.


Karena ilmu merupakan cahaya yang Allah Subhanahu wa Taala letakkan pada hati
seseorang, sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Imam Asy-SyafiI
rahimahullahu duduk di hadapan gurunya, Imam Malik rahimahullah, sang guru melihat
kesempurnaan pemahaman Syafii rahimahullah. Maka ia berpesan kepadanya: Sungguh, aku
memandang Allah Subhanahu wa Taala telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka janganlah kau
padamkan
dengan
gelapnya
kemaksiatan.
Imam Syafii juga berkata dalam syairnya:



Aku mengadu kepada Waki tentang buruknya hafalanku dia menasehatiku agar aku meninggalkan
maksiat diapun berkata, ketahuilah sesungguhnya ilmu itu karunia dan karunia Allah tidak akan
diberikan
kepada
orang
yang
bermaksiat.[
Diwaan
Asy-Syafii:
hal.
54]

2. Maksiat menyebabkan terhalang dari rizki.


Sebagaimana sebaliknya yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa Taala akan mendatangkan
rizki.
Allah berfirman,




Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.. (At-Thalaq: 2-3)
3. Sengsara hati dan rasa jauh antara dia dengan Allah Taala.
Hal itu akan dirasakan oleh orang yang hatinya masih hidup, sebagaimana disebutkan dalam
sebuah syair:

Luka tidak akan menyakitkan orang yang sudah mati.


Berkata seorang yang bijak:


. . .



Apabila engkau sudah merasa hampa karena dosa Maka tinggalkanlah ia, jika kamu mau, dan raihlah
kebahagiaan.

4. Disulitkan segala urusannya


Para pelaku maksiat akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kebuntuan. Allah
berfirman,

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit.
(Thaha:
124)
Sedangkan orang yang bertaqwa akan dipermudah segala urusannya. Allah berfirman,

Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya
kemudahan
dalam
urusannya.
(Ath-Thalaq:
4)
5. Maksiat menyebabkan gelapnya hati
Pelaku kemaksiatan akan merasakan kegelapan di hatinya sebagaimana gelapnya malam yang
sudah larut. Hal itu dikarenakan ketaatan adalah cahaya, sementara maksiat adalah kegelapan.
Berkata Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhu, Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar
di wajah, cahaya di hati, kelapangan dalam rizki, kekuatan pada tubuh, serta mendapatkan kecintaan
di hati para makhluk. Sesungguhnya kejelekan memiliki tanda hitam diwajah, kegelapan di hati,
kelemahan pada tubuh, kekurangan pada rizki, serta kebencian di hati para makhluk.
6. Maksiat menghalangi untuk melakukan ketaatan
Maksiat akan menghalangi kita untuk melakukan ketaatan karena hati kita telah dipenuhi
kekotoran sehingga akan terasa berat melakukan ketaatan. Ibarat seseorang yang menyantap suatu
makanan kemudian ia menjadi sakit berkepanjangan sehingga tidak bisa lagi menikmati
makanan. Wallahul
Mustaan.
7. Maksiat akan menghilangkan keberkahan umur
Oleh karena itu Allah berfirman tentang para pelaku dosa dan maksiat tentang bagaimana
penyesalan mereka di akherat kelak,


. . .


Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini. (Al-Fajr: 24)
8. Maksiat akan melahirkan kemaksiatan yang lain
Kemaksiatan akan menyebabkan pelakunya melakukan kemaksiatan yang lain, hingga
pelakunya sulit untuk meninggalkan maksiat tersebut.
Sebagian salaf mengatakan, Hukuman dari keburukan adalah keburukan yang setelahnya,
sedangkan ganjaran dari kebaikan adalah munculnya kebaikan setelahnya. Jika seorang hamba
melakukan kebaikan, maka kebaikan laian akan berkata kepadanya: amalkan aku juga. Apabila ia
mengamalkannya, maka kebaikan yang lain akan mengamalkan seperti itu juga, demikian seterusnya.
Hingga, berlipat gandalah keuntungan dan bertambahlah kebaikan. Demikian pula dengan maksiat.
Hal itu akan terus berlangsung hingga ketaatan atau kemaksiatan menjadi suatu karakter yang tetap
dan
melekat
pada
diri
seseorang.
9. Maksiat menyebabkan hati tidak lagi menganggap sesuatu yang jelek sebagai keburukan.
Seorang yang berlumuran dengan perbuatan maksiat, maka ia tidak peduli lagi dengan dosa
maksiat yang ia kerjakan. Dia tidak peduli dengan nasihat dan pandangan buruk manusia terhadapnya.
Bahkan sebagian mereka malah bangga dan tidak malu lagi menceritakan maksiat yang mereka
kerjakan. Manusia seperti ini adalah manusia yang tidak di maafkan. Rasulullah shallallahualaihi
wasallambersabda,













Setiap umatku dimaafkan kecuali Al-Mujahirun(Orang-orang yang terang-terangan berbuat
dosa)[ HR. Bukhari: no. 5721 dan Muslim: no. 2990]
Perbedaan orang yang beriman dan durhaka dalam memandang dosa, Berkata Abdullah bin
Masud, sesungguhnya seorang mumin melihat dosa-dosanya seolah-olah ia sedang berada di kaki
gunung; ia takut kalau gunung tersebut menimpanya. Adapun orang yang durhaka melihat dosadosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, ia pun mengibasnya, sehingga pergilah lalat
tersebut.[
Shahih
Bukhori:
no.
5949.]
Artinya
ia
menganggap
biasa
dosa
tersebut.
10. Maksiat menyebabkan kesialan.
Diantara dampak kemaksiatan adalah adalah kesialan yang menimpa dirinya. Oleh karena itu
berkata sebagian ulama salaf, Sesungguhnya apabila aku berbuat maksiat, maka aku mendapatkan
kesialan
dalam
kendaraanku
dan
sikap
istriku.
11. Maksiat membawa kehinaan
Kemaksiatan itu membawa kehinaan, dikarenakan kemuliaan hanyalah di dapat dengan
ketaatan kepada Allah. Allah berfirman,

Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semua... (Fathir: 10)

Artinya carilah kemuliaan dengan mentaati Allah. Sebab, seseorang tidak akan mendapatkan
kemuliaan
melainkan
dengan
ketaatan
kepada-Nya.
Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda,

Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang meyelisihi perintahku.[ HR. Ahmad: 2/50,
dan
dishahihkan
oleh
syaikh Al-Albani
didalam
Shahihul
Jami:
no.
2831]
Oleh karena itu sebagian ulama salaf berdoa:

Ya Allah muliakanlah aku dengan mentaati-Mu dan janganlah hinakan aku dengan mendurhakaiMu.[
Hilyatul
Auliya:
3/196. ]
Berkata

Abdullah

bin

Al-Mubarak

-ulama

Tabiin-:









. . .












. . .

Aku melihat bahwa dosa itu mematikan hati Dan kecanduan dengannya mewariskan kehinaan
Sedangkan meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati Maka lebih baik bagimu untuk
meninggalkan maksiat.

12. Kemaksiatan mematikan hati


Diantara dampak buruk maksiat adalah pelakunya akan mati hatinya dan terkunci hatinya,
akhirnya ia menjadi orang yang lalai dan tidak mau menerima kebenaran. Allah berfirman,

Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya apa yang mereka selalu usahakan itu menutup hati
mereka.
(Al-Muthaffifun:
14)
Berkata Al-Hasan Al-Bashri, Itu adalah dosa diatas dosa hingga membutakan hati.[ Hilyatul
Auliya: 2/351, Al-Uqubaat, Ibnu Abid Dunyaa: no. 70]
Apabila telah bertumpuk kemaksiatan, maka hati pun akan berkarat, semakin lama karat
tersebut bertambah sehingga akan membuat hati menjadi tertutup. Sehingga ia akan jauh dari
petunjuk.
13. Maksiat adalah sebab datangnya berbagai kerusakan di muka bumi
Maksiat itu berdampak pada kerusakan di muka bumi, baik di udara, air, pertanian, buahbuhan, maupun tempat tinggal. Allah berfirman,















Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali
(ke jalan yang benar). (Ar-Rum: 41)
Dalam ayat yang mulia ini Allah Taala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di
muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang
dilakukan manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti kerusakan yang
sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.
Imam Abul Aliyah ar-Riyaahi berkata, Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka
bumi maka (berarti) dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan di
langit (hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah Taala).[Tafsir Ibnu Katsir: 3/576.]
Dalam ayat lain Allah Taala berfirman:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS asy-Syuura:30).
Syaikh Abdurrahman as-Sadi ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, Allah Taala
memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anakanak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan
buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan[ Taisir Al-Karimur Rahman: hal. 759]
Dalam ayat lain Allah Taala berfirman,


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS al-Araaf: 96).
Artinya: Kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan
dengan amalan shaleh, serta merealisasikan ketakwaan kepada Allah lahir dan batin dengan
meninggalkan semua larangan-Nya, maka niscaya Allah akan membukakan bagi mereka (pintu-pintu)
keberkahan di langit dan bumi, dengan menurunkan hujan deras (yang bermanfaat), dan
menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka, (mereka
hidup) dalam kebahagiaan dan rezki yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan maupun
penderitaan, akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa maka Allah menyiksa mereka karena
perbuatan
(maksiat)
mereka[
Taisir
Al-Karimurrahman:
hal.
298.]
14. Maksiat menghilangkan rasa malu
Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan malu yang merupakan sumber kehidupan
hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya seluruh kebaikan. Ini
sebagaimana sabda Nabi
Rasa

malu

seluruhnya

adalah

kebaikan[

HR.




Muslim:

no.

87]

Oleh karena itu, seseorang yang bermaksiat dan terus menerus melakukannya, dikatakan sebagai
orang yang tidak tahu malu. Nabi bersabda

Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu
tidak malu, berbuatlah sesukamu![ HR. Bukhari: no. 5769.]

Maksudnya, dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa
menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih
saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak di antara
mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang
sudah sampai pada kondisi tersebut, tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya.

SEBAB-SEBAB MELAKUKAN MAKSIAT


Imam Ibnu Qayyim mengatakan, Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang
besar
maupun
yang
kecil
ada
tiga,
yaitu:
Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah.
Kedua, menuruti dorongan amarah.
Ketiga, menuruti dorongan syahwat.
Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan
keji.
Terpedaya Dengan Luasnya Kemurahan dan Pengampunan Allah
Sebagian sebab terjerumusnya seseorang ke dalam kemaksiatan dan dosa adalah
keyakinannya bahwa Allah maha baik/pemurah dan maha pengampun. Hati kecilnya berkata,
"Sekarang aku bermaksiat, setelah ini aku segera bertaubat, sungguh Allah maha pengampun toh
Allah Maha baik Allah tidak menyegerakan hukuman dan adzab"
Ini adalah penipuan syaitan, dengan tipuan ini syaitan telah membinasakan banyak hambahamba Allah. Memudahkan mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Menjadikan mereka memandang
remeh dosa-dosa, karena dengan alasan "Allah maha pemurah dan maha pengampun".
Allah

berfirman




()




Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang
Maha Pemurah. (QS Al-Infithoor : 6)
Sebagian salaf menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa diantara sebab seorang anak
Adam durhaka dan bermaksiat kepada Allah adalah terpedayanya dia dengan baiknya Allah.
Dikatakan kepada Al-Fudhoil bin 'Iyaadh, "Seandainya Allah menyidangmu pada hari kiamat
dan berkata : "Apakah yang membuatmu terpedaya sehingga durhaka kepadaKu"?. Fudhail berkata,
"Aku berkata, "Tirai-Mu yang Engkau ulurkan" (Zaadul Masiir li Ibnil Jauzi 4/411 dan Tafsir Ibnu
Katsir 8/342)
Maksud Fudhail rahimahullah, yaitu sebab maksiat adalah baiknya Allah yang menutup aibaib hambanya, seperti tirai yang diulurkan yang menutupi dosa-dosa hamba dari pandangan manusia.
Seandainya setiap dosa dibongkar oleh Allah maka tidak akan ada yang berani bermaksiat karena
malu. Akan tetapi dengan kebaikanNya- Allah menutup aib-aib mereka.
Abu Bakar Al-Warrooq berkata, "Kalau seandainya Allah berkata kepadaku, "Apa yang
membuatmu durhaka kepada Robmu Yang Pemurah/Baik"?, maka aku akan berkata, "Aku terpedaya
dengan kebaikan Dzat Yang Maha Baik/Pemurah" (Tafsir Ibnu Katsir 8/342)
Yahya bin Mu'adz berkata, "Seandainya Allah berkata kepadaku, "Apakah yang membuatmu
terpedaya (sehingga durhaka) kepadaKu?" Aku menjawab, "KebaikanMu yang telah lalu dan yang
akan datang" (Zaadul Masiir li Ibnil Jauzi 4/411)
Yaitu seseorang yang bermaksiat terkadang dan sering tetap saja diberi kenikmatan oleh
Allah, hal ini terkadang menjadikannya lupa sehingga menyangka bahwa ia akan terus aman
mendapatkan kebaikan Allah meskipun ia tetap bermaksiat. Maka sungguh ia telah terpedaya

Al-Baidowi
berkata
dalam
tafsirnya
tentang
ayat
di
atas
:
"pemberitahuan tentang apa yang menyebabkan seseorang terpedaya oleh syaitan, karena syaitan
berkata kepadanya : "Lakukanlah apa yang kau kehendaki, sesungguhnya Robmu Maha Baik, ia tidak
akan mengadzab seorangpun, Robmu tidak menyegerakan hukuman". Padahal seharusnya indikator
yang menunjukkan banyaknya kebaikan Allah melazimkan kesungguhan dalam ketaatan
kepadaNya dan bukan malah asyik dan tekun dalam bermaksiat kepadanya karena terpedaya dengan

kebaikanNya"

(Anwaar

At-Tanziil

5/292)

PENCEGAHAN MAKSIAT
OBAT PENAWAR YANG MUJARRAB AGAR TERHINDAR DARI KECANDUAN DOSA
1. Sadarilah, Allah menciptakan kita tidak sia-sia, semuanya akan dikembalikan kepada-Nya
untuk dimintai pertanggung jawaban.


{








}

Artinya: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara mainmain (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?. QS. Al Mukminun: 115.




(

)










Artinya: Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan. QS. Al Maidah: 115.



( 45)










{ (46)




Artinya: Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (yaitu)
orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan
kembali kepada-Nya. QS. Al Baqarah: 45-46.











[156 : { ]


Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi raaji`uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).
QS. Al Baqarah: 156.

2. Jangan lupa! ada hari hisab, hari perhitungan, dimana Allah Taala akan mengganjar atas
semua amal perbuatan kita



}










{


Artinya: Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan.
Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya. QS. Ibrahim: 51.










}

{






Artinya: Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang
dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. QS. Ghafir: 17.













(








Artinya: Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk
(melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu
kerjakan. Al Jaatsiyah : 28

3. Di hari kiamat, buku catatan amal akan diperlihatkan dan seluruh ucapan dan perbuatan
kita tertulis di dalamnya tanpa ketinggalan dan kita sendiri yang akan membacanya.















)



(











Artinya: Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu
(juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada
masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan Allah sangat
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. QS. Ali Imran: 30.
















{



Artinya: Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan
terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini
yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya;
dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya
seorang jua pun. QS. Al Kahfi: 49.





(6)






}


( 7)

( 9)


( 8)

( 10)
(11)










(13)








( 12)

)



( 14)






{ (15
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju
Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari
sebelah kanannya. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan
kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang
diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak: "Celakalah aku. Dan dia akan masuk
ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di

kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak
akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu
melihatnya. QS. Al Insyiqaq: 6-15.














)





-







(





Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung)
pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya
terbuka. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".
Al Israa: 13-14
4. Allah Taala menyaksikan seluruh amal perbuatan kita
















)
(





Artinya: Dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di
waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di
bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu,
melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz). Yunus: 61





(



)



Artinya: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib
kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah
setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan
segala sesuatu. QS. An Nisa: 33.
5. Bahkan anggota tubuh kita akan bersaksi atas perbuatan kita.













( 24)

{ (25)










Artinya: Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa
yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal
menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala
sesuatu
menurut
hakikat
yang
sebenarnya).
QS.
An
Nur:
24-25.
BETAUBAT DARI PERBUATAN DOSA DAN MAKSIAT
Dan dalam hadits sunan at-Tirmidzi, dengan sanad yang hasan dari hadits Muadz bahwa
Nabi shollallohu alaihi wa sallambersabda, Dan iringilah perbuatan buruk dengan kebaikan,
niscaya akan menghapusnya.
Alloh taala berfirman,

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang


buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114)
Dan di antara sebab-sebab ampunan adalah istighfar (memohon ampunan) dengan tidak
terus-menerus melakukan kesalahan. Alloh azza wa jalla berfirman,

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. (Ali Imron: 135)
Jalan Menuju Taubat
1. Mengetahui hakikat taubat. Hakikat taubat adalah: Menyesal, meninggalkan kemaksiatan
tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi.
2. Merasakan sial akibat dosa yang dilakukan.
3. Menghindar dari lingkungan yang jelek. Seperti dalam kisah seorang yang membunuh 100
orang. Gurunya berkata: Pergilah ke negeri sana sesungguhnya disana ada orang-orang yang
menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah disana bersama mereka dan janganlah kamu
kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek.
4. Membaca Al-Quran dan mentadabburinya.
5. Berdoa. Allah berfirman mengkisahkan Nabi Ibrahim: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua
orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk
patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami,
dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. Al Maraghi berkata: Yang dimaksud terimalah taubat kami adalah: Bantulah kami
untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.
6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: Janganlah
engkau melihat akan kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.
7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
8. Mempelajari ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengancam orang-orang yang berdosa.
9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.
Macam Macam Hawa Nafsu
Hidup ini adalah perjuangan melawan hawa nafsu (syetan). Kadangkala kita menang dan
kadangkala kita kalah melawan hawa nafsu syetan kita.
Imam Ghazali menyebut ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadap hawa nafsu.
1. Yang pertama, nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa
nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik daripada yang buruk.
2. Yang kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika
iman kadangkala menang dan kadangkala kalah melawan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut
perbuatan
baiknya
relatif
seimbang
dengan
perbuatan
buruknya.
3. Yang ketiga adalah nafsu laammaratu bissu (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni
ketika iman kalah dibandingkan dengan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak berbuat
yang
buruk
daripada
yang
baik.

Coba kita renungkan, termasuk manakah kita ?


Salah satu ciri orang yang ternasuk nafsu muthmainnah adalah segera sadar dan gelisah
terhadap perbuatannya yang buruk. Walaupun ia melakukan perbuatan buruk yang kecil, tetapi sudah
dianggapnya besar, sehingga ia selalu hati-hati dalam melangkah.
Kita perlu bersyukur kepada Allah Taala karena memiliki sensifitas yang tinggi terhadap
perbuatan
dosa.
Dan
ini
adalah
ciri
orang-orang
yang
bertaqwa.
Mengendalikan
Hawa
Nafsu
Sedangkan untuk mengendalikan hawa nafsu, sebaiknya Anda melakukan langkah-langkah sebagai
berikut :
1. Banyak melakukan ibadah, terutama ibadah-ibadah sunnah (sholat dhuha, tahajud, baca Al
Quran,
dll).
Sebab
makanan
hati
yang
bersihadalah
ibadah.
2. Minta kepada Allah dengan sungguh-sungguh (berdoa) agar keinginan Anda semakin kuat untuk
meninggalkan hal-hal yang buruk.
3. Meyakini pahala besar yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang mampu mengendalikan
hawa nafsunya. Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang
demikian itu (memperturuti hawa nafsu)?. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada
sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya.
Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat
akan hamba-hamba-Nya (QS. Ali Imron yat 15).
Kuatkan keyakinan tersebut dengan banyak berzikir (mengingat Allah) dan beribadah
kepadanya. Jangan hanya mengandalkan ibadah wajib saja untuk mengendalikan nafsu, tambah juga
dengan ibadah sunnah, seperti shaum senin-kamis, sholat tahajjud, tilawah Al Quran, sholat dhuha,
dan
lain-lain.
4. Jaga panca indera kita dari pengaruh syahwat (nafsu). Jaga mata kita untuk tidak melihat halhal yang berbau maksiat, jaga pendengaran dari pembicaraan yang jorok, jaga mulut dari berkata-kata
yang cabul, dan jaga tangan serta kaki kita untuk tidak menjamah atau melangkah ke hal-hal
yang maksiat.
5. Jaga pikiran kita dengan selalu berpikir positif dan produktif yang akan didapat dari banyak
membaca yang positif dan hindari juga lingkungan yang membangkitkan hawa nafsu kita.
(rumahkeluarga-indonesia)
Nasihat Untuk Bersabar Terhadap Maksiat
Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar
tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
- Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan
hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga
hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang
ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang
membahayakannya.
- Kedua, merasa malu kepada Allah Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari
pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di
matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia

akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya Rasa malu
itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda
sedang berada di hadapan Allah
- Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat
perbuatan baik-Nya kepadamu Seorang penyair pernah berkata, Apabila engkau berlimpah
nikmat maka jagalah, karena maksiatakan membuat nikmat hilang dan lenyap. Barang siapa yang
tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan
nikmat itu sendiri.
- Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
- Kelima, mencintai Allah karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya
Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
- Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya
Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan
berbagai perbuatan maksiat.
- Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta
jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa
muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri karena
dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.
- Kedelapan, membuang buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan
menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau
dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya.
Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat
tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak
akan memberikan manfaat apa-apa.
- Kesembilan, menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena
sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan
dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang
hamba adalah waktu senggang dan lapang yang dia miliki karena jiwa manusia itu tidak akan
pernah mau duduk diam tanpa kegiatan sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang
bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
- Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas yaitu kekokohan
pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati Maka kesabaran hamba untuk menahan diri
dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh
maka kesabarannya pun akan kuat dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah
Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam
penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah
keliru.
***
(Diterjemahkan dari artikel berjudul Asyru Nashaaih libnil Qayyim li Shabri anil Mashiyah,