Вы находитесь на странице: 1из 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bunyi selalu berhubungan dengan indera pendengar kita , berarti juga
dengan sensasi fisik yaitu fisiologi telinga dan fisiolog otak yang menterjemahkan
sensasi yang merangsang mencapai telinga. Kita mendengar bunyi karena adanya
gangguan yang menjalar ketelinga. Getaran udaralah yang memaksa gendang
telinga kita bergetar. Karena gangguan ini, selaput gendang telinga bergetar dan
getaran ini berubah menjadi denyut listrik yang di laporkan ke otak lewat urat
syaraf. Bentuk gelombang yang kira-kira priodik atau terdiri dari sejumlah kecil
komponen yang kira-kira priodik akan menimbulkan suatu sensasi yang
menyenangkan (jika intensitasnya tidak terlalu tinggi) seperti bunyi musik.
Sedangkan bunyi yang mempunyai bentuk gelombang yang tidak periodik akan
terdengar sebagai derau (noise). Pada contoh bunyi alat musik di hasilkan warna
bunyi yang bagus dan teratur untuk didengarkan dan dinikmati , hal ini
disebabkan karena bunyi yang terbentuk telah ditetapkan nilai frekuensinya
sehingga keharmonisannya juga teratur, dimana tiap warna bunyi dengan
frekuensi tertentu ini dinamakan nada , yang juga memiliki jarak antara nada satu
dengan berikutnya teratur.
Karakteristik dan besarnya frekuensi gelombang bunyi yang dihasilkan
dari tiap nada alat musik maupun nada dasar suara tidak mampu diamati secara
langsung dengan alat sederhana biasa apalagi dengan kemampuan manusia , maka
hal ini merupakan salah satu fenomena yang sesuai dan perlu untuk diamati
dengan alat-alat bantu yang berbasis komputer. Pada penelitian ini akan di kaji
penerapan menganai sistem berbasis komputer yaitu sistem Spectra Plus dimana
fungsi sistem ini untuk menganalisis gelombang suara. Pada penelitian ini kami
juga akan menyelidiki bagaimana pengaruh frekuensi dan amplitudo terhadap
besar kecilnya suara terutama pada nada dasar la.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 1

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk gelombang nada dasar la setelah diuji dengan sistem
spectra plus?
2. Bagaimana pengaruh frekuensi dan amplitudo terhadap besar kecilnya
suara?
3. Bagaimana hubungan antara frekuensi dan amplitudo?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bentuk gelombang pada nada dasar la.
2. Untuk menganalisis pengaruh frekuensi dan amplitudo terhadap besar
kecilnya suara.
3. Untuk menganalisis hubungan antara frekuensi dan amplitudo.

BAB II
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 2

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori
a. Gelombang Bunyi
Dari semua gelombang mekanik yang ada di alam , yang akrab
dalam kehidupan sehari-hari adalah gelombang longitudina. Gelombang
longitudinal dalam sebuah medium biasannya udara dinamakan gelombang
bunyi, lebih khusunya dikenal dengan gelombang akustik. Sebagaimana
dikemukakan oleh Herman Helmholtz (1821-1894) yang teori dan usahanya
dilanjutkan oleh Lord Rayleigh (1841-1919) mengutarakan bahwa , akustik
merupakan cabang dari ilmu fisika dan ilmu teknik yang berkonsentrasi tentang
timbul dan merambatnya bunyi, tentang sifat proses pendengaran, tentang alatalat untuk mengukur, merekam dan memproduksi bunyi. Serta tentang
konstruksi auditorium yang memenuhi syarat pendengaran yang baik, baik
secara teori maupun matematis. Alasannya bahwa telinga manusia sangat peka
dan dapat mendeteksi gelombang bunyi walau intensitasnya sangat rendah
(Sears, 1963). Fenomena bunyi memiliki tiga aspek penting dalam
pembahasannya, yang pertama pasti ada sumber bunyi yang merupakan benda
yang bergetar. Kedua , energi dipindahkan dari sumber bunyi dalam bentuk
gelombang bunyi longitudinal, dan ketiga bunyi dideteksi oleh telinga atau
sebuah alat ( Giancoli, 1998).
Gelombang bunyi merupakan gelombang tiga dimensi, karena medium
gelombangnya bersifat tiga dimensi , dimana gelombang mengalir keluar dari
sumber kesemua arah. Jadi, gelombang bunyi dapat menjalar kedalam ruang
tiga dimensi ( misalnya: gelombang gempa bumi, gelombang cahaya dan
gelombang bunyi yang merambat diudara terbuka) .
Bentuk gelombang yang kira-kira periodik atau terdiri dari sejumlah kecil
komponen yang kira-kira periodik akan menimbulkan suatu sensasi yang
menyenangkan (jika intensitasnya tidak terlalu tinggi) seperti bunyi musik,
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 3

sedangkan bunyi yang mempunyai bentuk gelombang yang tidak periodik akan
terdengar sebagai derau (noise) (Haliday dan Resnick, 1997).
Bunyi sebagai gelombang mempunyai sifat-sifat sama dengan sifat-sifat dari
gelombang yaitu:
a. Dapat dipantulkan (refleksi)
Bunyi dapat dipantulkan terjadi apabila bunyi mengenai permukaan benda
yang keras, seperti permukaan dinding batu, semen, besi, kaca dan seng.
Contoh :
- Suara kita yang terdengar lebih keras di dalam gua akibat dari pemantulan
bunyi yang mengenai dinding gua.
- Suara kita di dalam gedung atau studio musik yang tidak menggunakan
peredam suara.
b. Dapat dibiaskan (refiaksi)
Refiaksi adalah pembelokan arah linatasan gelombang setelah melewati
bidang batas antara dua medium yang berbeda.
Contoh : Pada malam hari bunyi petir terdengar lebih keras daripada siang
hari karena pembiasan gelombang bunyi.
c. Dapat dipadukan (interferensi)
Seperti halnya interferensi cahaya, interferensi bunyi juga memerlukan dua
sumber bunyi yang koheren.
Contoh : Dua pengeras suara yang dihubungkan pada sebuah generator
sinyal (alat pembangkit frekuensi audio) dapat berfungsi sebagai dua
sumber bunyi yang koheren.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 4

d. Dapat dilenturkan (difraksi)


Difraksi adalah peristiwa pelenturan gelombang bunyi ketika melewati
suatu celah sempit.
Contoh : Kita dapat mendengar suara orang diruangan berbeda dan tertutup,
karena bunyi melewati celah-celah sempit yang bisa dilewati bunyi.

b. Karakteristik Bunyi
Yang kita kenal sebagai bunyi sebetulnya ialah gelombang mekanik
longitudinal dengan frekuensi dalam daerah pendengaran kita (frekuensi
audio),yaitu antara 29 Hz sampai kira-kira 20.000 Hz. Gelombang
mekaniklongitudinal dengan frekuensi di bawah daerah pendengaran disebut
gelombang infrasonik dengan frekuensi kurang dari 20 Hz, gelombang
semacam ini biasanya dihasilkan oleh sumber yang besar, misalnya gempa
bumi, guntur, gunung berapi, dan gelombang yang dihasilkan oleh getaran
mesin-mesin yang berat. Gelombang frekuensi rendah ini meskipun tidak dapat
terdengar namun berkerja dengan cara resonansi, sehingga dapat menyebabkan
gerakan dan iritasi yang cukup besar pada organ-organ di dalam tubuh
sehingga menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia.
Untuk frekuensi di atas daerah pendengaran, gelombang bunyi yang
frekuensinya di luar jangkauan ini mungkin dapat terdengar mencapai
telinga,tetapi biasanya kita tidak menyadarinya. Gelombang mekanik
longitudilal inidisebut gelombang ulrtasonikyang menlpunyai rentang frekuensi
di atas 20.000 Hz Gelombang ultrasonik ini dapat dihasilkan oleh getaran
mekanik pada kwarsa yang diberi tegangan listrik bolak-balik dengan frekuensi
ultrasonik. Dengan cara-seperti ini orang dapat menghasilkan gelombang
mekanik dengan frekuensi setinggi
kira sebesar

5 10 3

6 10 8

, dengan panjang gelombang kira-

cm, sama besarnya dengan panjang gelombang cahaya.

Gelombang ultrasonik ini sering dipergunakan untuk perneriksaan kualitas

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 5

produksi dalam industri danbeberapa aplikasi dalam ilmu kedokteran


(Sutrisno,1979: l9)
Kita dapat mendengar bunyi karena bunyi merambat melalui medium.
Setiap benda mempunyai ciri-ciri tersendiri. Tentunya, kamu dapat
membedakan suara yang kamu dengar. Sebagai contoh, kamu dapat
membedakan suara orang dewasa dan suara anak-anak. Ternyata, setiap bunyi
yang kita dengar mempunyai frekuensi dan amplitudo yang berbeda, meskipun
merambat pada medium yang sama.
1. Desah dan Nada
Berdasarkan keteraturan frekuensinya, bunyi dibedakan menjadi
nada dan desah. Nada adalah bunyi yang frekuensinya teratur, mislanya
bunyi berbagai alat musik. Desah adalah bunyi yang frekuensinya tidak
teratur, misalnya bunyi daun tertiup angin dan bunyi gemuruh ombah. Ada
pula bunyi yang berlangsung sangat singkat tetapi kadang-kadang sangat
kuat. Bunyi demikian disebut dentum, misalnya bunyi meriam, senapan,
dan bom.Tinggi rendahnya nada tergantung pada frekuensinya, sedang
kuat lemahnya nada ditentukan oleh amplitudonya. Berbagai jenis nada
dapat dideteksi dengan garputala. Sebuah garputala mempunyai frekuensi
biasanya sudah tertera pada garputala tersebut.
2. Kekuatan Bunyi
Apakah kekuatan bunyi itu? Bunyi ada yang kuat dan ada yang
lemah. Jika bunyi yang kamu dengar sangat keras dan melebihi ambang
bunyi yang dapat diterima manusia, bunyi ini dapat merusak telingamu.
Untuk mengetahui kekuatan bunyi, lakukan kegiatan kecil berikut.
Petiklah senar gitar sehingga keluar bunyi. Kemudian, pada senar yang
sama, petik kembali senar tersebut dengan simpangan yang agak besar.
Apa yang terjadi? Senar yang dipetik dengan simpangan besar akan
berbunyi lebih kuat daripada dipetik dengan simpangan kecil. Dalam hal
ini, simpangan yang kamu berikan pada senar merupakan amplitudo.
Semakin besar amplitudo, semakin kuat bunyi dan sebaliknya. Jadi
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 6

kekuatan bunyi ditentukan oleh besarnya amplitudo bunyi tersebut. Bila


dua sumber bunyi yang kerasnya sama, tetapi jarak antara sumber bunyi
dengan pendengar berbeda maka sumber bunyi yang lebih dekat dengan
pendengar akan terdengar lebih kuat. Faktor-faktor yang memengaruhi
kuat bunyi adalah:
1) amplitudo,
2) jarak sumber bunyi dari pendengar,
3) jenis medium.

3. Timbre ( Warna Bunyi)


Di dalam suatu keramaian, kamu pasti mendengar berbagai macam
bunyi. Ada suara laki-laki, perempuan, anak-anak, dan sebagainya.
Telingamu mampu membedakan bunyibunyi tersebut. Ketika sebuah gitar
dan organ memainkan lagu yang sama, kamu masih dapat membedakan
suara kedua alat musik tersebut. Meskipun kedua alat musik tersebut
mempunyai frekuensi yang sama, tetapi bunyi yang dihasilkan oleh kedua
sumber bunyi tersebut bersifat unik. Keunikan setiap bunyi dengan bunyi
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 7

lainnya meskipun mempunyai frekuensi yang sama disebut sebagai warna


bunyi. Dua nada yang mempunyai frekuensi sama tetapi bunyinya berbeda
disebut timbre (warna suara). Tembre terjadi karena cara bergetar setiap
sumber bunyi berbeda.Dapatkah kamu menyebutkan contoh lain yang
menunjukkan bahwa bunyi memiliki warna yang berbeda meskipun
frekuensinya sama.
4. Hukum Mersenne
Tinggi nada atau frekuensi nada diselidiki oleh ilmuwan fisika
berkebangsaan Prancis bernama Mersenne (1588-1648). Mersenne
menyelidiki hubungan frekuensi yang dihasilkan oleh senar yang bergetar
dengan panjang senar. Penampang senar, tegangan senar, dan jenis senar.
Alat yang digunakan adalah sonometer.
Frekuensi dawai yang bergetar bergantung pada beberapa faktor, yaitu :
a. Panjang dawai, semakin pendek dawai semakin tinggi frekuensi yang
dihasilkan.
b. Tegangan dawai, semakin tegang dawai, semakin tinggi frekuensi yang
dihasilkan.
c. Massa jenis bahan dawai, semakin besar massa jenis bahan dawai,
semakin rendah frekuensi yang dihasilkan.
d. Penampang dawai, semakin besar luas penampang dawai, semakin
rendah frekuensi yang dihasilkan.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 8

c. Perambatan Bunyi
Telah disebutkan bahwa gelombang bunyi merambat di dalam suatu
medium. Seorang ahli Fisika berkebangsaan Jerman Otto von Guericke (1602
1806) telah membuktikan bahwa gelombang bunyi merambat memerlukan
medium. Dalam percobaannya, Guericke memasukkan bel ke dalam tabung
yang telah divakumkan dengan cara memompa udaranya keluar tabung. Dia
mendapatkan bahwa ketika bel dimasukkan ke dalam tabung hampa, bunyi bel
tidak dapat terdengar. Hal ini membuktikan bahwa bel dapat terdengar jika ada
udara sebagai medium penghantar gelombang bunyi. Dapatkah bunyi
merambat pada zat cair? Selain udara sebagai penghantar bunyi, zat cair
(contohnya air) pun dapat dijadikan medium untuk menghantarkan bunyi. Ikan
lumba-lumba

dapat

berkomunikasi

dengan

sesamanya

menggunakan

gelombang bunyi yang dapat diterima sesamanya karena gelombang bunyi


tersebut merambat di dalam air. Perambatan bunyi di dalam air dapat kamu
amati langsung ketika kamu sedang menyelam di dalam air. Misalkan kamu
dan temanmu secara bersama-sama menyelam di dalam air. Kemudian,
temanmu berteriak di dalam air, kamu dapat mendengar teriakan temanmu
tersebut. Selain pada udara dan zat cair, bunyi pun dapat merambat di dalam
zat padat. Jadi, bunyi tidak dapat merambat melalui hampa udara (vakum).
Syarat terjadi dan terdengarnya bunyi adalah sebagai berikut.
a. Ada sumber bunyi (benda yang bergetar).
b. Ada medium (zat antara untuk merambatnya bunyi).

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 9

c. Ada penerima bunyi yang berada di dekat atau dalam jangkauan sumber
bunyi.

Berikut gambar untuk mengamati perambatan gelombang bunyi di dalam zat


padat:

d. Cepat Rambat Gelombang Bunyi


Pernahkah kamu melihat halilintar? Kilatan halilintar dan suaranya
tampak tidak terjadi dalam satu waktu. Sebenarnya, kilatan halilintar dan
suaranya terjadi bersamaan. Mengapa kita melihat kilatan halilintar lebih
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 10

dahulu, kemudian disusul suaranya? Hal ini berkaitan dengan cepat rambat
gelombang. Halilintar terdiri atas dua gelombang, yaitu gelombang cahaya
yang berupa kilatannya dan gelombang bunyi yang berupa suaranya. Karena
kedua gelombang ini mempunyai cepat rambat gelombang yang berbeda, dua
gelombang ini tampak terjadi beriringan. Ternyata cepat rambat gelombang
cahaya lebih besar dari cepat rambat gelombang bunyi. Oleh karena itu, kilatan
cahaya akan lebih dahulu kita lihat, kemudian disusul suaranya. Hal serupa
juga terjadi ketika kamu mendengar bunyi pesawat di atas kamu, ternyata
pesawat terlihat sudah jauh berada di depan. Hal ini disebabkan cepat rambat
cahaya lebih besar daripada cepat rambat bunyi. Kecepatan perambatan
gelombang bunyi bergantung pada medium tempat gelombang bunyi tersebut
dirambatkan. Selain itu, kecepatan rambat bunyi juga bergantung pada suhu
me-

Kecepatan perambatan gelombang bunyi di udara bersuhu 0o C akan


berbeda jika bunyi merambat di udara yang bersuhu 25o C.

e. Bunyi pada Instrumen Musik


Skala musik yang digunakan dalam musik dunia barat yang berawal
pada peradaban zarnan Yunani kuno, aslinya terdapat 7 (tujuh) nada dasar pada
sebuah skala. Nada ini disebut dengan suatu nada diatonik dan biasanya musisi
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 11

amatir (bukan musisi asili) mengenalnya sebagai do-re-mi-fo-sol-la-si-doSkala ini dapat dimainkan dengan tomboi-tombol putih pada papan piano
/keybord, yang dimulai dengan C. Perbandingan frekuensi antara dua nada
yang berurutan disebut suarantara, yang mana mempunyai harga:
c

9/8

10/9

16/15

9/8

10/9

9/8

16/15

Suarantara yang terkecil yaitu 16/15 disebut suarantara setengah nada


sedangkan 9/8 dan 10/9 disebut suarantara satu nada, susunan nada seperti
diatas disebut tangga nada diatonik. Selain nada tersebut ada juga tangga nada
dengan suarantara tetap yang disebut tangga nada kromatik. Interval octaf
dengan prime dibagi menjadi 12 suarantara yang sama, jadi masing-masing
12

2 1,06

besarnya

. Frekuensinya hampir sama dengan tangga nada diatonik

dan diberi nama :


c

sis

dis
(des)

fis

gis

(eis)

(ges)

ais
(as)

(bes)

Supaya dapat memainkan berbagai alat musik bersama-sama, tiap nada


harus mempunyai tinggi tertentu, pada tahun 1939 oleh dunia internasional
telah ditetapkan frekuensi sesuatu nada sebagai standar yaitu "A" (standar) atau
"A" (normal) yang memiliki frekuensi 440 Hz sehingga frekuensi deret nada
adalah (Widagdo,60).
do

re
c

262

mi
d

294

fa
e

330

sol
f

349

la
g

392

si
a

440

do
b

494

c
524

Sebagai mana kita melewati skala diatonik yang berjumlah 8 (delapan)


langkah dari do kembali ke do lagi, berdasarkan alasan ini, jarak antara nada
nya disebut dengan Octav.
Nada adalah bunyi tunggal yang berasal dari sumber bunyi yang
mempunyai ferkuensi tetap. Istilah nada digunakan dalam seni suara dan musik
untuk membedakan dengan bunyi pada umumnya (Sulistiyo,2003: 228). Musik
atau lagu-lagu didasarkan pada nada-nada yang tergabung dalam susunan
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 12

tangga nada. Tangga nada diatonik digunakan pada musik barat didasarkan
pada not-not 1,2,3,4,5,6,7, i. Not-not ini diberi nama dengan huruf c, d, e, f g,
a, b, c. Perbandingan frekuensi nada-nada ini adalah : 24. 27, 30, 32, 36, 40,
45,48. Setiap nada mempunyai jarak interval yang teratur yang merupakan
perbandingaa antara frekuensi suatu nada dengan nada lain yang iebih rendah.
Jadi interval merupakan bilangan yang lebih besar dari pada 1 (Widagdo, 58).

f. Sifat-sifat Bunyi
1. Sumber Energi Bunyi
Energi bunyi adalah segala kemampuan yang terjadi akibat adanya
pengaruh bunyi. Bunyi adalah getaran di udara. Benda yang bergetar akan
menghasilkan bunyi. Saat berbicara kita mengeluarkan bunyi. Semua bunyi
itu dihasilkan oleh suatu sumber bunyi.
Bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar, semakin kuat benda
bergetar semakin kuat bunyi yang ditimbulkannya dan semakin lemah benda
itu bergetar semakin lemah bunyi yang ditimbulkan benda tersebut.
Sumber energi bunyi ada bermacam-macam. Benda-benda yang
menghasilkan bunyi disebut sumber bunyi. Kita juga dapat menghasilkan
bunyi karena pita suara.
Alat-alat musik juga merupakan sumber bunyi. Ada bermacammacam cara untuk memainkan alat musik agar berbunyi. Misalnya gitar, alat
musik ini akan menghasilkan bunyi jika di petik. Gendang dan drum akan
menghasilkan bunyi ketika dipukul.
Resonansi adalah bergetarnya suatu benda karena getaran benda
lain. Sebagian besar alat musik dilengkapi resonator. Resonator merupakan
ruang udara yang berfungsi untuk memperkuat bunyi. Bunyi akan terdengar
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 13

kuat ketika kita berada di dekat sumber bunyi. Bunyi semakin melemah jika
kita menjauhi sumber bunyi. Bunyi yang dihasilkan berbagai benda ada
yang kuat, lemah, melengking dan bernada rendah.
Amplitudo adalah simpangan terbesar dari kedudukan setimbang,
satuannya desibel (dB). Amplitudo inilah yang mempengaruhi keras
lemahnya bunyi. Bunyi yang keras dihasilkan oleh benda-benda yang
amplitudo getarannya besar. Demikian sebaliknya, bunyi lemah dihasilkan
oleh benda yang amplitudo getarannya kecil.
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam satu detik.
Satuan frekuensi adalah Hertz (Hz). Suatu benda bergetar dengan frekuensi
rendah akan menghasilkan bunyi yang rendah. Getaran berfrekuensi tinggi
akan menghasilkan bunyi yang tinggi atau melengking.
Berdasarkan kuat lemahnya atau frekuensinya, bunyi dibedakan
menjadi tiga jenis, yaitu:

Infrasonik
Infrasonik adalah bunyi yang sangat lemah. Jumlah getaran

bunyinya kurang dari 20 getaran per detik. Kita tidak dapat mendengarkan
bunyi ini. Hanya hewan-hewan seperti jangkrik, angsa, dan anjing yang
dapat mendengarkannya.

Audiosonik
Audiosonik adalah jenis bunyi yang dapat kita dengar. Jumlah getaran

bunyinya berkisar antara 20 sampai 20.000 getaran per detik.

Ultrasonik
Ultrasonik adalah bunyi yang sangat kuat, di atas audiosonik. Jumlah

getaran bunyinya lebih dari 20.000 getaran per detik. Bunyi ini juga tidak

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 14

dapat kita dengar. Hewan yang dapat menangkap bunyi ini, misalnya
kelelawar dan lumba-lumba.
Kuat lemahnya bunyi ditentukan oleh amplitudo. Amplitudo ialah
simpangan terjauh dari kedudukan benda pada saat tidak bergetar, sedangkan
tinggi rendahnya bunyi ditentukan oleh frekuensi. Frekuensi adalah
banyaknya getaran yang terjadi dalam satu detik.
Berdasarkan jarak sumber bunyi dan dinding pemantul, maka bunyi
pantul dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:

1. Gema
Sifat-sifat bunyi pantul adalah sebagai berikut:
a. Bunyi pantul memperkuat bunyi asli yaitu bunyi pantul yang dapat
memperkuat bunyi asli. Biasanya terjadi pada keadaan antara sumber
bunyi dan dinding pantul jaraknya tidak begitu jauh (kurang dari 10
meter). Jarak antara sumber bunyi dan dinding pemantul dekat, sehingga
bunyi pantul terdengar hampir bersamaan dengan bunyi asli sehingga
memperkeras suara asli. Contoh: bila kita berbicara di dalam ruangan
kosong yang tertutup.
b. Gaung adalah bunyi pantul yang terdengar kurang jelas atau tidak sejelas
bunyi aslinya. Biasanya terjadi pada jarak antara 10 sampai 20 meter.
Gaung dapat terjadi di dalam gedung bioskop, gedung konser, atau gedung
pertemuan.
c. Gema adalah bunyi pantul yang terdengar setelah bunyi asli, gema
terdengar jelas seperti bunyi aslinya. Biasanya terjadi pada jarak lebih dari
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 15

20 meter. Gema akan terjadi jika kita berteriak di tengah-tengah stadion


sepak bola atau lereng bukit. Sifat bunyi pantul ini yaitu memperkuat
bunyi asli. Contohnya suara kita ketika bernyanyi di dalam kamar
mandi.Contoh lainnya : di gua-gua, lembah-lembah, dan bukit-bukit.
2.Sifat-sifat Energi Bunyi
Energi bunyi mempunyai sifat dapat berpindah ke tempat lain dengan
cara merambat melalui media tertentu. Selain itu, bunyi juga dapat
dipantulkan dan dapat diserap.

Bunyi Dapat Merambat Melalui Zat Padat, Zat Cair, dan Gas
Getaran bunyi merambat dalam bentuk gelombang. Oleh karena itu, bunyi

yang merambat disebut gelombang bunyi. Gelombang bunyi dapat merambat


melalui zat padat, cair, dan gas. Perambatan berlangsung paling cepat melalui
udara. Gelombang bunyi tersebut hampir sama seperti gelombang air.
a) Perambatan bunyi melalui benda padat
Bunyi juga dapat merambat melalui benda padat. Perambatan
bunyi melalui benda padat biasanya dimanfaatkan untuk membuat mainan.
Misalnya membuat mainan telepon-teleponan. Pada waktu bermain
telepon-teleponan bunyi merambat melalui benang menuju ke telinga kita.
b) Perambatan bunyi melalui benda cair
Bunyi juga dapat merambat melalui benda cair. Ketika dua batu
diadu di dalam air, bunyi yang ditimbulkan dapat kita dengar. Hal tersebut
menunjukkan bahwa bunyi dapat merambat melalui zat cair. Sifat bunyi
dapat merambat melalui zat cair biasanya dimanfaatkan oleh tim SAR
untuk mencari dan menolong kecelakaan yang terjadi di tengah lautan.
c) Perambatan bunyi melalui gas

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 16

Udara merupakan benda gas. Oleh karena itu kita dapat mendengar
suara orang berbicara dan burung berkicau karena getaran suara itu masuk
ke telinga kita. Sama halnya dengan bunyi guntur. Guntur dapat kita
dengar karena getaran suaranya masuk ke telinga kita setelah merambat
melalui udara.
Bunyi tidak dapat merambat di ruang hampa. Hal ini dapat
ditunjukkan dengan sebuah bel listrik yang diletakkan di dalam wadah
yang hampa udara.

Bunyi Dapat Diserap dan Dipantulkan


Ketika merambat ke tempat lain, bunyi dapat mengenai benda-benda

di sekitarnya. Bunyi yang mengenai permukaan suatu benda dapat


dipantulkan ataupun diserap. Jika bunyi mengenai dinding, akan dipantulkan.
Oleh karena itu, bunyi tersebut mengalami pemantulan. Biasanya benda yang
keras, rapat, dan mengkilat bersifat memantulkan bunyi.
Beberapa manfaat gelombang bunyi dalam hal ini adalah pantulan
gelombang bunyi antara lain:
1) Dapat digunakan untuk mengukur kedalaman laut disini yang digunakan
adalah bunyi ultrasonik.
2) Mendeteksi janin dalam rahim, biasanya menggunakan bunyi infrasonik.
3) Mendeteksi keretakan suatu logam dan lain-lain.
4) Diciptakannya speaker termasuk manfaat dari bunyi audiosonik.
g. Filter Frekuensi
Filter adalah adalah sebuah rangkaian yang dirancang agar melewatkan
suatu pita frekuensi tertentu seraya memperlemah semua isyarat di luar pita
tersebut. Filter adalah suatu device yang memilih sinyal listrik berdasarkan
pada frekuensi dari sinyal tersebut. Filter akan melewatkan gelombang/sinyal
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 17

listrik

pada

batasan

frekuensi

tertentu

sehingga

apabila

terdapat

sinyal/gelombang listrik dengan frekuensi yang lain (tidak sesuai dengan


spesifikasi filter) tidak akan dilewatkan. Rangkaian filter dapat diaplikasikan
secara luas, baik untuk menyaring sinyal pada frekuensi rendah, frekuensi
audio, frekuensi tinggi, atau pada frekuensi-frekuensi tertentu saja. Jenis-jenis
filter frekuensi:
1. Filter Aktif
Filter Aktif yaitu filter yang menggunakan komponen aktif, biasanya
transistor atau penguat operasi (op-amp). Kelebihan filter ini antara lain:
Untuk frekuensi kurang dari 100 kHz, penggunaan induktor (L) dapat
dihindari.
Penguatan dan frekuensinya mudah diatur, selama op-amp masih
memberikan penguatan dan sinyal input tidak sekaku seperti pada
filter pasif. Pada dasarnya filter aktif lebih gampang diatur.
Tidak ada masalah beban, karena tahanan input tinggi dan tahanan
output rendah. Filter aktif tidak membebani sumber input.
a. Low pass Filter
Adalah filter

yang

digunakan

untuk

meneruskan

sinyal

berfrekuensi rendah dan meredam sinyal berfrekuensi tinggi. Penguatan


tegangan untuk frekuensi lebih rendah dari frekuensi cut off adalah: Av =
- R2 / R1 sementara besarnya frekuensi cut off didapat dari: fC = 1 /
(2.R2C1).

Gambar 1 : Rangkaian dan gelombang frekuensi Low Pass Filter


b. High Pass Filter
Adalah jenis filter yang melewatkan frekuensi tinggi, tetapi
mengurangi amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 18

cut-off. Penguatan tegangan untuk frekuensi lebih tinggi dari frekuensi


cut off adalah: Av = - R2 / R1 sementara besarnya frekuensi cut off
didapat dari: fC = 1 / (2.R1C1).

Gambar 2: Rangkaian dan gelombang Pass Filter


c. Band Pass Filter (Filter Tolak Tinggi)
Adalah filter yang digunakan terutama di nirkabel pemancar dan
penerima. Fungsi utama filter seperti di pemancar adalah untuk membatasi
bandwidth sinyal output minimum yang diperlukan untuk menyampaikan
data pada kecepatan yang diinginkan dan dalam bentuk yang diinginkan.
Penguatan tegangan untuk pita lolos adalah: Av = (-R2 / R1) (-R4 / R3).
Besarnya frekuensi cut off atas didapat dari: fCH = 1 / (2.R1C1) Besarnya
frekuensi cut off bawah didapat dari: fCL = 1 / (2.R4C2).

Gambar 3: Rangkaian dan gelombang Band Pass Filter


d. Band Stop Filter or Notch Filter (Filter Tolak Rendah)
adalah filter yang melewati frekuensi paling tidak berubah, tetapi
system kerja filter ini dalam rentang tertentu ke tingkat yang sangat
rendah. Ini adalah kebalikan dari filter band-pass.
2. Filter Pasif

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 19

Filter ini banyak digunakan untuk memberikan sirkuit seperti


amplifier, osilator dan sirkuit power supply karakteristik frekuensi yang
diperlukan. Beberapa

contoh

diberikan

di

bawah

ini. Mereka

menggunakan kombinasi dari R, L dan C.


Jenis-jenis filter pasif:
a. Low Pass Filter
Adalah filter yang digunakan untuk menghapus atau menipiskan
frekuensi yang lebih tinggi di sirkuit seperti amplifier audio, system ini
memberikan respon frekuensi yang diperlukan untuk rangkaian penguat.
Teknik ini dapat digunakan dalam penguat audio sebagai "TONE" atau
"TREBLE CUT" kontrol.

b. High Pass Filter


Adalah filter yang digunakan untuk menghilangkan atau meredam
frekuensi yang lebih rendah di amplifier, terutama audio amplifier mana ia
dapat disebut "BASS CUT" sirkuit.
c. Band Pass Filter
Adalah filter yang mengizinkan hanya sebuah band frekuensi yang
diperlukan untuk lulus, dan menolak sinyal di semua frekuensi di atas dan
di bawah band ini. Desain tertentu disebut filter T karena cara komponen
digambar dalam diagram skematik. Filter T terdiri dari tiga unsur, dua seri
terhubung LC sirkuit antara input dan output, yang membentuk jalan
impedansi rendah untuk sinyal dari frekuensi yang diperlukan, namun
memiliki impedansi tinggi untuk semua frekuensi lainnya.
d. Stop Pass Filter
Filter ini mempuyai prisip kerja kebalikan dari band pass filter,
yaitu ada dua paralel LC sirkuit di jalur sinyal untuk membentuk
impedansi tinggi pada frekuensi sinyal yang tidak diinginkan.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 20

BAB III
METODE PENELITIAN, ALAT DAN BAHAN,
DAN PROSEDUR KERJA
A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan cara eksperimen,
maksudnya disini instrumen yang digunaklan dalam eksperimen ini adalah system
akuisisi data berbasis komputer yang di kenal dengan istilah system Spectra Plus.
Subjek eksperimen ini yakni menggunakan rekaman suara manusia pada
nada dasar La dengan peak frekuensi 440 Hz. Kemudian dari rekaman
bunyi/suara yang diperoleh dilakukan analisis menggunakan spectrum dan time
series yang sudah tersedia dalam software spectra plus. Kemudian analisis nilai
frekuensi dan amplitudonya dari grafik spectrum tersebut lalu ambil dan disajikan
dalam bentuk tabel, lalu di analisis untuk mengetahui hubungan antara frekuensi
dan amplitudo serta pengaruh keduanya terhadap bunyi/suara. Selainitu juga
analisis time series serta data dari tabel time seriesnya untuk melihat hubungan
tegangan dengan waktu grafik tersebut.
C. Alat dan Bahan

Alat
1. Laptop

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 21

2. Software spectra plus


3. Software microsoft office excel
Bahan
1. Rekaman suara pada nada dasar La

D. Prosedur Kerja
Dalam melakukan penelitian gelombang menggunakan software spectra
plus di lakukan langkah-langkah berikut ini :
1. Merekam suara peneliti dengan nada dasar la sampai menghasilkan peak
frekuensi (440 Hz).
2. Menampilkan hasil rekaman grafik di time seriesnya menggunakan spectra
plus.
3. Menampilkan frekuensi puncaknya atau peak frekuensi
4. Mengambil data dari grafik hubungan tegangan dan waktu grafik tersebut.
Dengan cara klik kanan grafik yang telah di pilih pada jarak rentang
waktu, lalu klik kanan pilih copy as takes dan copy pastekan ke dalam
microsoft office excel.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 22

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Salah satu hasil pengukuran frekuensi dan amplitudo serta bentuk
gelombang menggunakan software spectra plus dengan nada dasar La
menghasilkan peak frekuensi 432 Hz yaitu seperti pada gambar 1 dan gambar 2.

Gambar 1. Spectrum Plot

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 23

Gambar 2. Bentuk Salah Satu Gelombang yang


Beraturan Pada Spectrum Plot
Setelah data disajikan dalam grafik kemudian data disajikan dalam bentuk
tabel supaya memudahkan untuk menganalisis nilai frekuensi dan amplitudo dari
grafik tersebut.
Tabel 1. Nilai frekuensi dan amplitudo
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Frekuensi ( Hz)
6.962.891
6.972.656
6.982.422
6.992.188
7.001.953
7.011.719
7.021.484
7.031.250
7.041.016
7.050.781
7.060.547
7.070.313
7.080.078
7.089.844
7.099.609
7.109.375

Amplitudo (dB)
-85.989.273
-74.655.899
-75.484.680
-78.304.321
-71.174.957
-81.239.441
-78.953.773
-72.953.613
-77.263.344
-70.076.447
-68.505.791
-74.853.218
-79.107.735
-73.102.982
-74.907.135
-87.430.374

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 24

Kemudian dari tabel tersebut di sajikan ke dalam bentuk grafik sehingga


akan membentuk pola grafik seperti berikut :

20,000,000
0
-20,000,000
-40,000,000

;Freq(Hz)
Relative Amplitude
(dBr): Channel 0

-60,000,000
-80,000,000
-100,000,000

Gambar 3. Grafik Dari Tabel Frekuensi Dan Amplitudo

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 25

20,000,000
0
1

-20,000,000

;Freq(Hz)
Relative Amplitude
(dBr): Channel 0

-40,000,000
-60,000,000
-80,000,000
-100,000,000

Gambar 4. Grafik High Pass Filter


Kemudian setelah mengetahui grafik frekuensi dan amplitudo, ambil data
time seriesnya untuk mengetahui hubungan tegangan dan waktu grafik tersebut.
Berikut gambar grafik time seriesnya:

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 26

Gambar 5 . Grafik Time Series

Gambar 6. Grafik Time Series Pada Salah Satu Bentuk Gelombang

Tabel 2. Data dari Time Series

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 27

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Milliseconds

Left

0.000000
0.125000
0.250000
0.375000
0.500000
0.625000
0.750000
0.875000
1.000.000
1.125.000
1.250.000
1.375.000
1.500.000
1.625.000
1.750.000
1.875.000
2.000.000
2.125.000
2.250.000
2.375.000
2.500.000
2.625.000
2.750.000
2.875.000
3.000.000

-16.144
-50.020
-63.173
-55.635
-31.343
-0.0092
20.508
25.239
26.093
24.201
-0.2503
-35.218
-40.315
-32.289
-12.116
17.823
16.877
-0.6043
-28.748
-56.368
-55.422
-48.219
-29.542
0.2472
23.652

B. Pembahasan
Berdasarkan gambar 1. dapat di lihat bahwa suatu suara tidak pernah diam
tetapi terus berubah menurut waktu. Ini berarti bahwa setiap amplitudo sinusoid
berubah sehingga bentuk grafik yang mewakili spektrum juga berubah. Ini
menjelaskan apa yang kita lihat ketika kita memperhatikan analisa spektrum
dengan LED-nya yang menyala-nyala. LED itu sebenarnya menunjukkan
amplitudo dari sinusoid-sinusoid dalam spektrum.
Dari data data diatas dapat di ketahui juga bahwa nada dasar La
memang memiliki nada standar dengan peak frekuensi 440 Hz. Hal ini juga di
karenakan pada tahun 1939 oleh dunia internasional telah ditetapkan frekuensi

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 28

sesuatu nada sebagai standar yaitu "A" (standar) atau "A" (normal) yang memiliki
frekuensi 440 Hz sehingga frekuensi deret nada adalah (Widagdo,60).
do

re
c

262

mi
d

294

fa
e

330

sol
f

349

la
g

392

si
a

440

do
b

494

c
524

Berdasarkan teori itu juga saya menganalisis dari data-data penelitian


maupun rekaman, bahwa pada frekuensi nada dasar La frekuensinya rata-rata
standar pada saat direkam berkisar 432 Hz sampai 434 Hz. Sehingga nada dasar la
dikatakan relatif stabil.
Dari penelitian ini juga saya mendapati bahwa kenapa ketika seseorang
mengambil nada dasar La di katakan sebagai sebuah nada dasar dari sebuah
deret nada. Hal ini dikarenakan nada adalah bunyi tunggal yang berasal dari
sumber bunyi yang mempunyai ferkuensi tetap. Istilah nada digunakan dalam seni
suara dan musik untuk membedakan dengan bunyi pada umumnya .
Dari percobaan penelitian suara juga dapat di analisis bahwa benda yang
bergetar akan menghasilkan bunyi. Saat berbicara kita mengeluarkan bunyi.
Semua bunyi itu dihasilkan oleh suatu sumber bunyi.
Kemudian seperti pada gambar 1. dapat di lihat bahwa didalam software
spectrum plot dapat terlihat ada banyak getaran/ gelombang yang ada didalamnya.
Oleh karena itu, berdasarkan data gelombang tersebut dapat disimpulkan bahwa
bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar, semakin kuat benda bergetar
semakin kuat bunyi yang ditimbulkannya dan semakin lemah benda itu bergetar
semakin lemah bunyi yang ditimbulkan benda tersebut.
Nada dasar La memiliki peak frekuensi 440 Hz, sehingga frekuensi nada
dasar La ini termasuk jenis bunyi audiosonik . Hal ini berdasarkan teori tentang
macam-macam bunyi yang di klasifikasikan berdasarkan kuat lemahnya atau
frekuensinya yaitu :

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 29

Infrasonik
Infrasonik adalah bunyi yang sangat lemah. Jumlah getaran bunyinya

kurang dari 20 Hz getaran per detik. Kita tidak dapat mendengarkan bunyi
ini. Hanya hewan-hewan seperti jangkrik, angsa, dan anjing yang dapat
mendengarkannya.

Audiosonik
Audiosonik adalah jenis bunyi yang dapat kita dengar. Jumlah getaran

bunyinya berkisar antara 20 Hz sampai 20.000 Hz getaran per detik.

Ultrasonik
Ultrasonik adalah bunyi yang sangat kuat, di atas audiosonik. Jumlah

getaran bunyinya lebih dari 20.000 Hz getaran per detik. Bunyi ini juga tidak
dapat kita dengar. Hewan yang dapat menangkap bunyi ini, misalnya
kelelawar dan lumba-lumba.
Berdasarkan penelitian itu juga saya menganalisis bahwa amplitudo dan
frekuensi mempengaruhi kuat lemahnya bunyi seperti yang terlihat pada gambar 1
dan gambar 2. Hal ini di karenakan:

Amplitudo adalah simpangan terbesar dari kedudukan setimbang, satuannya


desibel (dB). Amplitudo inilah yang mempengaruhi keras lemahnya bunyi.
Bunyi yang keras dihasilkan oleh benda-benda yang amplitudo getarannya
besar. Demikian sebaliknya, bunyi lemah dihasilkan oleh benda yang
amplitudo getarannya kecil.

Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam satu detik. Satuan
frekuensi adalah Hertz (Hz). Suatu benda bergetar dengan frekuensi rendah
akan menghasilkan bunyi yang rendah. Getaran berfrekuensi tinggi akan
menghasilkan bunyi yang tinggi atau melengking.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 30

Seperti yang terlihat pada gambar 1 dan 2 serta tabel 1 terlihat bahwa, jika
frekuensi dan amplitudonya semakin tinggi sehingga suara/bunyi yang di
hasilkan semakin tinggi

terlihat pada bentuk gelombangnya. Hal inilah di

katakan bahwa frekuensi dan amplitudo mempengaruhi kuat lemahnya bunyi.


Selain itu juga dengan adanya amplitudo dan frekuensi membuat suara terdengar
menjadi lebih enak/indah karena suara yang terdengar akan lebih teratur.
Berdasarkan tabel 1. Frekuensi dan amplitudo juga dapat kita buat grafik
dari data tabel tersebut seperti yang terlihat pada gambar 3 dan 4 , dari grafik
tersebut dapat terlihat bahwa grafik tersebut termasuk grafik high pass filter. Hal
ini di karenakan high pass filter dalah jenis filter yang melewatkan frekuensi
tinggi, tetapi mengurangi amplitudo frekuensi yang lebih rendah dari pada
frekuensi cut-off.
Berdasarkan tabel 2., gambar 5 dan gambar 6 mengenai data time
seriesnya dapat dianalisis bahwa cepat rambat gelombang bunyi selalu berubah
tiap satuan waktunya . Berdasarkan data tabel tersebut cepat rambat gelombang
bunyi bertambah menjadi 0.125 m/s tiap getarannya. Karena itulah juga frekuensi
dan amplitudonya selalu berubah tiap getarannya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian menggunakan software spectra plus dapat disimpulkan :

Software spectra plus dapat digunakan untuk menganalisis gelombang,


frekuensi maupun amplitudo . Sehingga dapat membuat data lebih akurat
dibandingkan jika meneliti secara manual.

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 31

Amplitudo dan frekuensi sangat mempengaruhi kuat lamahnya bunyi,


tinggi rendahnya bunyi hal ini di karenakan amplitudo adalah simpangan
terbesar dari kedudukan setimbang, satuannya desibel (dB). Amplitudo
inilah yang mempengaruhi keras lemahnya bunyi. Bunyi yang keras
dihasilkan oleh benda-benda yang amplitudo getarannya besar. Demikian
sebaliknya, bunyi lemah dihasilkan oleh benda yang amplitudo getarannya
kecil. Kemudian frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam
satu detik. Satuan frekuensi adalah Hertz (Hz). Suatu benda bergetar
dengan frekuensi rendah akan menghasilkan bunyi yang rendah. Getaran

berfrekuensi tinggi akan menghasilkan bunyi yang tinggi atau melengking.


Hubungan antara frekuensi dan amplitudo:
Amplitudo adalah simpangan terbesar dari titik setimbang.
frekuensi adalah banyaknya getaran yang dilakukan tiap satu satuan waktu.
Sehingga dengan adanya amplitudo dan frekuensi lagu/nada menjadi lebih

enak untuk didengar.


Cepat rambat gelombang bunyi selalu berubah tiap satuan waktunya , hal
ini lah yang menyebabkan cepat rambat pada gelombang bunyi tersebut
berbeda-beda dan mengahsilkan frekuensi serta amplitudo yang berbeda.

B. Saran
Untuk penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memperbaiki kekurangan yang
ada. Untuk itu disarankan sebagai berikut :
1. Dapat dilakukan penelitian dengan menggunakan metode lain, sehingga bisa
dibandingkan tingkat akurasi serta kebenaran megenai peak frekuensi pada
nada dasar la. Selain itu juga untuk mengetahui metode apa yang lebih baik
digunakan.
2. Dapat melakukan penelitian pada nada dasar lainnya tidak hanya pada nada
dasar la, supaya kita dapat membandingkan nilai-nilai pada

nada dasar

lainnya. Dengan demikian akan lebih banyak lagi pengetahuan yang didapat
dan akan lebih akurat hasil penelitiannya karena semakin banyak penelitian
semakin banyak juga data yang diperoleh sehingga dapat membandingkan data
Penelitian Nada Dasar La
Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 32

satu dengan yang lainnya kemudian dapat disimpulkan dan akan menghasilkan
sebuah penelitian yang lebih sempurna dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Giancoli. D. C. 1998. Fisika Jilid l. Erlangga: Jakarta.
Resnick, R. dan Halliday, D.1997. Fisika .Jilid 2. Erlangga : Jakarta.
Sutrisno.1979. Seri Fisika Dasar Gelombang dan Optik. ITB : Bandung.
Tipler, P. A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jilid 1. Erlangga : Jakarta.
Young, H. D dan Freedman, R. A. 2000. Fisika Universitas. jilid 2. Jakarta:
Elangga

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 33

Penelitian Nada Dasar La


Created : Sari Purwanti (2013 122 018)Page 34