You are on page 1of 6

RESPON PASAR ATAS INFORMASI LABA

(REPLIKASI BALL DAN BROWN 1968)


A. A. IstriAgung Maharani1
FakultasEkonomiUniversitasUdayana, Bali, Indonesia
e-mail: aaia.maharani@gmail.com / telp: +62 81 338 045858
ABSTRAK
Pasar modal adalah tempat investor menjual ataupun membeli saham.Informasi sangat
diperlukan investor dalam mengambil keputusan, salah satunya informasi laba perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris respon pasar akibat informasi laba
kejutan. Penelitian berfokus di Bursa Efek Indonesia dengan Jumlah sampel sebanyak 206
perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012 yang dipilih dengan metode
simple random sampling. Data dikumpulkan dengan metode non participant observation.
Analisis dilakukan dengan teknik uji t. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa pasar
merespon informasi laba kejutan, dan respon tersebut searah dengan informasi laba yang
diumumkan. Dapat disimpulkan bahwa pasar, khususnya para investor, akan cenderung
melakukan transaksi berdasar pada laba yang diumumkan dalam laporan keuangan. Ketika laba
perusahaan dibawah ekspektasi investor, transaksi pasar saham cenderung menyebabkan
turunnya harga saham perusahaan. Ketika laba perusahaan diatas ekspektasi investor, transaksi
pasar saham cenderung meningkatkan harga saham perusahaan.
Kata kunci: laba , respon pasar, abnormal return

PENDAHULUAN
Saham adalah satu surat berharga yang diperjual belikan di pasar modal. Ketika investor
memutuskan untuk membeli atau menjual saham, investor memerlukan informasi, salah satunya
adalah informasi laba perusahaan. Harga saham mengalami perubahan ketika investor merespon
informasi. Hal ini terjadi karena adanya laba kejutan, yang mana merupakan selisih dari laba
aktual perusahaan dengan laba yang diharapkan oleh investor. Reaksi investor dapat diukur
dengan abnormal return. Bila pasar efisien, maka abnormal return akan muncul disekitar tanggal
pengumuman informasi laba.

Penelitian yang dapat dikatakan menjadi pelopor dalam penelitian pasar modal adalah
penelitian terdahulu oleh Ball dan Brown di tahun 1968.Variabel yang digunakan dalam
penelitian tersebut adalah informasi nilai laba bersih yang diproksi dengan forecast error (dalam
penelitian ini disebut sebagai laba kejutan) dan respon pasar dinilai dengan harga pasar saham
yang mana berhubungan dengan return investasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pasar
dalam kondisi semi-kuat, sehingga ketika terjadi laba kejutan negatif (laba aktual kurang dari
laba ekspetasi), akan terbentuk bad news yang mana diperkirakan akan menyebabkan return
(harga) saham menjadi menurun. Sebaliknya, ketika terjadi laba kejutan positif (laba aktual
lebih dari laba ekspektasi), akan terbentuk good news yang menyebabkan return (harga) saham
meningkat.
Penelitian lain juga telah dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya. Telaumbanua dan
Sumiyana (2008) membuktikan bahwa investor bereaksi pada pengumuman laba perusahaan
dan sejalan dengan studi empiris sebelumnya (Ball dan Brown, 1968; Beaver, 1968; Beza 1997;
Hanafi; 1997; Sadikin, 2000).Namun, hasil empirisnya kontradiktif dengan hasil penelitian
lainnya (Ball dan Brown, 1968; Foster, 1977; Hayn, 1995).Penelitian ini justru menemukan
bahwa munculnya informasi laba yang bernilai positif menimbulkan respon yang lebih positif
dibandingkan ketika adanya informasi laba yang bernilai negatif.
Lain halnya dengan hasil penelitian Sugiri dan Sumiyana (2009) yang menemukan bahwa
laba kejutan negatif direspon lebih kuat dibandingkan dengan laba kejutan positif. Diperkirakan
hal tersebut terjadi akibat investor yang terlalu optimis dan harga saham tidak sepenuhnya
mencerminkan nilai perusahaan. Penelitian Sugiri dan Sumiyana (2009)mendukung hasil
penelitian Skinner dan Sloan (2002) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan respon harga
saham antara perusahaan yang mengumumkan laba kejutan negatif dan laba kejutan positif.
Disimpulkan bahwa pasar lebih merespon laba kejutan negatif dibandingkan laba kejutan
positif. Sejalan dengan penelitian Ulfyana (2011) yang menunjukkan bahwa pasar merespon
laba kejutan negatif secara signifikan, namun laba kejutan positif tidak direspon secara
signifikan.
Fama (1970) menyajikan tiga jenis bentuk dari tingkatan efisiensi pasar yang didasari
oleh macam bentuk informasi yang dicerminkan,antara lain: (1) bentuk lemah, (2) bentuk semikuat, dan (3) bentuk kuat. Bentuk lemah adalah pasar yang harga sekuritasnya memproyeksi
secara penuh informasi harga dan volume dari sekuritas di masa lalu. Bentuk semi-kuat adalah

pasar yang harga sekuritasnya memproyeksi penuh segala informasi yang tersedia untuk umum
termasuk data laporan keuangan. Bentuk kuat adalah pasar modal yang harga sekuritasnya
memproyeksi segala informasi privat bahkan informasi dalam (inside information) yang tidak
dipublikasikan (off-the records).
Laba unexpected(dalam penelitian ini disebut laba kejutan) adalah perbedaan jumlah
antara nilai laba yang diumumkan oleh perusahaan dengan nilai laba yang diekspektasi investor.
Adanya laba unexpected akan mempengaruhi harga saham perusahaan dan akhirnya juga
mempengaruhi return dari saham perusahaan (Prasetyadan Gunawan, 2007).
Teori Market Efisien menunjukkan bahwa pasar akan bereaksi segera terhadap informasi
baru (Ambarwati, 2008). Reaksi atau respon pasar umumnya diamati dari kenaikan atau
penurunan harga saham yang terjadi disekitar tanggal pengumuman laba. Apabila terdapat
selisih antara return yang diekspektasi dengan return aktual, maka terbentuk nilai abnormal
return yang disebabkan oleh pengumuman laba tersebut.
Penelitian ini berfokus pada hubungan antara informasi laba akuntansi dengan nilai
(return) saham.Dalam penelitian tersebut, informasi baru yang disampaikan oleh informasi laba,
diukur dengan forecast error, yaitu besarnya laba aktual dikurangi dengan besarnya laba yang
diekspektasi oleh investor.Untuk menilai respon pasar, digunakan harga saham yang searah
dengan tingkat pengembalian (return) saham. Dengan variabel-variabel tersebut, penelitian ini
menemukan bahwa ketika forecast error bernilai negatif, akan terbentuk bad news dan
diprediksi menyebabkan return saham perusahaan tersebut menjadi kurang dari yang
diekspektasi atau menurun. Begitu pula sebaliknya, ketika forecast error bernilai positif, akan
terbentuk good news dan diprediksi bahwa pengumuman informasi laba menyebabkan return
saham meningkat atau yang lebih dari yang diprediksi.
Dalam penelitian Ball dan Brown (1968), didapatkan bahwa forecast error (yang dalam
penelitian ini disebut sebagai laba kejutan) yang bernilai negatif akan memunculkan bad news
dan menuai respon pasar yang searah. Jadi, apabila terdapat informasi laba kejutan negatif,
pasar akan merespon secara negatif dalam bentuk harga atau tingkat return saham yang bernilai
negatif pula.
H1: Informasi laba kejutan negatif direspon negatif oleh pasar.

Sebaliknya, laba kejutan yang bernilai positif akan membentuk good news dan menuai
respon pasar yang positif pula. Jadi, ketika muncul informasi laba kejutan positif, pasar akan
merespon positif dalam bentuk harga atau tingkat return saham yang positif.
H2: Informasi laba kejutan positif direspon positif oleh pasar.
Tujuan dari penelitian ini ialah untukmembuktikan secara empiris ada tidaknya respon
pasar akibat informasi laba kejutan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode
tahun 2010 sampai dengan tahun 2012. Data sekunder (dari www.idx.co.id) digunakan sebagai
sumber data penelitian ini. Jenis data yang digunakan berupa angka atau data kuantitatif, yakni
angka laba (rugi) dan jumlah saham beredar pada laporan keuangan serta harga pasar saham
perusahaan. Metode non participant observationdigunakan dalam mengumpulkan data dan
kemudian data dianalisis dengan uji statistik t. Populasi sekaligus sampel penelitian adalah
perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2010 sampai dengan
tahun 2012. Untuk menentukan minimal sampel yang diperlukan dari 425 perusahaan yang
terdaftar, digunakan rumus Slovin (Selliva, et. al., 1994 dalam Umar, 2003) sebagai berikut:
Terdapat dua variabel utama yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: informasi
laba kejutan sebagai variabel independen dan respon pasar sebagai variabel dependen.Berdasar
definisi yang ditulis Hamdan (2013) tentang trailing twelve months, laba kejutan dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
Rata-rata EPS dengan metode trailing twelve months di atas dihitung dengan rumus yang
dikembangkan dari definisi trailing twelve months yang ditulis oleh Hamdan (2013) sebagai
berikut:
Untuk menilai respon pasar, penelitian ini menggunakan harga saham yang searah dengan
tingkat pengembalian (return) saham yang diukur mengunakan CAR (Cumulative Abnormal
Return). Tahap-tahap yang dilakukan untuk mengukur respon pasar dengan CAR antara lain
(Zain, 2007):
1) Menghitung return saham harian (Ri,t) dengan rumus:
2) Menghitung return pasar harian/expected return (Rm,t) dengan rumus:
3) Menghitung abnormal return masing-masing saham dengan rumus:

4) Menghitung CAR (Cumulative Abnormal Return) dengan rumus:

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan kriteria pemilihan sampel penelitian, diperoleh data pengamatan sebanyak 206
perusahaan yang terbagi dalam 95 perusahaan (46,1%) mengumumkan laba kejutan negatif dan
111 perusahaan (53,9%) mengumumkan laba kejutan positif.Analisis hipotesis penelitianini
diolah dengan programStatistical Package for Social Science (SPSS) versi 13. Sebelum
melakukan uji hipotesis 1, data sampel diuji Z Score-nya untuk menentukan ada tidaknya data
yang menyimpang (outlier) dengan batas 4,00 (Hair, 1998). Dari perhitungan Z Score
didapatkan bahwa salah satu dari 95 sampel memiliki Z Score yang melebihi batas. Maka dari
itu,tersisa 94 sampel untuk kategori perusahaan dengan laba kejutan negatif.Kemudian,
dilakukan one sample t test atascumulativeabnormal return saham dan diperoleh hasil sebagai
berikut:
Cumulative Abnormal Return (CAR) saham selama periode pengamatan memperoleh
nilai thitung = -2,066 dengan probabilitas sebesar 0,042. Nilai ttabel untuk = 5% uji sisi kiri
adalah t(0,05;93) = -1,66. Berdasarkan tabel di atas, thitung yang dihasilkan lebih kecil dari
ttabel, sehingga berada di daerah penolakan H0. Nilai signifikansi untuk uji satu sisi atas
hipotesis satu adalah setengah dari probabilitas yang dihasilkan SPPS, yaitu 0,021. Nilai di
bawah 0,05 menunjukkan bahwa pengumuman laba kejutan negatif menimbulkan respon yang
signifikan oleh pasar selama periode pengamatan pada tingkat signifikansi 5%. Hal ini
mencerminkan adanya respon negatif pasar, yang berarti Hipotesis 1 diterima.
Begitu pula pengujian terhadap hipotesis 2. Sebelum melakukan uji hipotesis, data
sampel diuji Z Score-nya untuk menentukan ada tidaknya data yang menyimpang (outlier)
dengan batas 4,00. Dari perhitungan Z Score didapatkan bahwa salah satu dari 111 sampel
memiliki Z Score yang melebihi batas. Maka dari itu, tersisa 110 sampel untuk kategori
perusahaan

dengan

laba

kejutan

negatif.Kemudian,

dilakukan

one

sample

test

atascumulativeabnormal return saham dan diperoleh hasil sebagai berikut:


Cumulative Abnormal Return (CAR) saham selama periode pengamatan memperoleh
nilai thitung = 1,951 dengan probabilitas sebesar 0,054. Nilai ttabel untuk = 5% uji sisi kanan

adalah t(0,05;109) = 1,66. Berdasarkan tabel di atas, thitung yang dihasilkan lebih besar dari
ttabel, sehingga berada di daerah penolakan H0. Nilai signifikansi untuk uji satu sisi atas
hipotesis satu adalah setengah dari probabilitas yang dihasilkan SPPS, yaitu 0,027. Nilai
signifikansi yang kurang dari 0,05 mencerminkan bahwa pengumuman laba kejutan positif
menimbulkan respon yang signifikan oleh pasar selama periode pengamatan pada taraf
signifikansi 5%. Hal ini
mencerminkan adanya respon positif pasar, yang berarti Hipotesis 2 diterima. Dengan
mengamati cumulative abnormal return saham di periode sekitar pengumuman laporan keuangan
dengan informasi laba kejutan negatif, menunjukkan Cumulative Abnormal Return (CAR) saham
selama periode pengamatan memperoleh nilai thitung = 1,951 dengan probabilitas sebesar 0,054.
Nilai ttabel untuk = 5% uji sisi kanan adalah t(0,05;109) = 1,66. Berdasarkan tabel di atas,
thitung yang
dihasilkan lebih besar dari ttabel, sehingga berada di daerah penolakan H0. Nilai signifikansi
untuk uji satu sisi atas hipotesis satu adalah setengah dari probabilitas yang dihasilkan SPPS,
yaitu 0,027. Nilai signifikansi yang kurang dari 0,05 mencerminkan bahwa pengumuman laba
kejutan positif menimbulkan respon yang signifikan oleh pasar selama periode pengamatan pada
taraf signifikansi 5%. Hal ini mencerminkan adanya respon positif pasar, yang berarti Hipotesis
2 diterima. Dengan mengamati cumulative abnormal return saham di periode sekitar
pengumuman laporan keuangan dengan informasi laba kejutan negatif, menunjukkan