Вы находитесь на странице: 1из 14

Jembatan Gantung

Salah satu tipe bentuk jembatan adalah jembatan gantung. Tipe ini sering digunakan untuk
jembatan bentang panjang. Pertimbangan pemakaian tipe jembatan gantung adalah dapat
dibuat untuk bentang panjang tanpa pilar ditengahnya. Jembatan gantung terdiri atas
pelengkung penggantung dan batang penggantung (hanger) dari kabel baja, dan bagian yang
lurus berfungsi mendukung lalulintas (dek jembatan)
Selain bentang utama, biasanya jembatan gantung mempunyai bentang luar (side span) yang
berfungsi untuk mengikat atau mengangkerkan kabel utama pada balok angker. Walaupun
pada kondisi tertentu terdapat keadaan dimana kabel utama dapat langsung diangkerkan
pada ujung jembatan dan tidak memungkinkan adanya bentang luar, bahkan kadangkala
tidak membutuhkan dibangunnya pilar.
Berkaitan dengan bentang luar (side plan) terdapat bentuk struktur jembatan gantung sebagai
berikut:
1. Bentuk batang luar bebas (side span free)
Pada batang luar kabel utama tidak menahan/dihubungkan dengan lantai jembatan oleh hanger,
jadi tidak terdapat hanger pada batang luar. Disebut juga dengan tipe straight backstays atau
kabel utama pada bentang luar berbentuk lurus.
1. Bentuk bentang luar digantungi (side span suspended)
Pada bentuk kabel ini kabel utama pada bentang luar menahan struktur lantai jembatan dengan
dihubungkan oleh hangel
Steinman (1953), membedakan jembatan gantung menjadi 2 jenis yaitu:
Jembatan gantung tanpa pengaku
Jembatan gantung tanpa pengaku hanya digunakan untuk struktur yang sederhana (bukan
untuk struktur yang rumit dan berfungsi untuk menahan beban yang terlalu berat), karena
tidak adanya pendukung lantai jembatan yang kaku atau kurang memenuhi syarat utntuk
diperhitungkan sebagai struktur kaku /balok menerus.
Jembatan tampa pengaku adalah tipe jembatan gantung dimana seluruh bebean sendiri dan
lalulintas didukung penuh oleh kabel. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya elemen struktur
kaku pada jembatan. Dalam hal ini bagian lurus yang berfungsi untuk mendukung lantai
lalulintas berupa struktur sederhana, yaitu berupa balok kayu biasa atau bahkan mungkin
terbuat dari bambu. Dalam perhitungan struktur secara keseluruhan, struktur pendukung
lantai lalulintas ini kekakuannya (EI) dapat diabaikan, sehingga seluruh beban mati dan
beban lalulintas akan didukung secara penuh oleh kabel baja melalui hanger

Jembatan gantung dengan pengaku


Jembatan gantung dengan pengaku adalah tipe jembatan gantung yang karena kebutuhan
akan persyaratan keamanan dan kenyamanan, memiliki bagian struktur dengan kekakuan
tertentu.
Jembatan dengan pengaku adalah tipe jembatan gantung dimana pada salah satu bagian
strukturnya mempunyai bagian yang lurus yang berfungsi untuk mendukung lantai lalu lintas
(dek). Dek pada jembatan gantung jenis ini biasanya berupa struktur rangka, yang
mempunyai kekakuan (EI) tertentu. Dalam perhitungan struktur secara keseluruhan, beban
dan lantai jembatan didukung secara bersama-sama oleh kabel dan gelagar pengaku
berdasarkan prinsip kompatibilitas lendutan (kerjasama antara kabel dan dek dalam
mendukung lendutan).
Jembatan gantung dengan pengaku mempunyai dua dasar bentuk umum, yaitu:
1. Tipe rangka batang kaku (stiffening truss)
Pada tipe ini jembatan mempunyai bagian yang kaku atau diperkaku yaitu pada bagian
lurus pendukung lantai jembatan (dek) yang dengan hanger dihubungkan pada kabel
utama.
2. Tipe rantai kaku (braced chain)
Pada tipe ini bagian yang kaku atau diperkaku adalah bagian yang berfungsi sebagai
kabel utama.
Sistem Kabel
Kabel merupakan bahan atau material utama dalam struktur jembatan gantung. Karakteristik
kabel kaitannya dengan struktur jembatan gantung antara lain:

Mempunyai penampang yang seragam/homogen pada seluruh bentang ,

Tidak dapat menahan momen dan gaya desak,

Gaya-gaya dalam yang bekerja selalu merupakan gaya tarik aksial,

Bentuk kabel tergantung pada beban yang bekerja padanya,

Bila kabel menderita beban terbagi merata, maka wujudnya akan merupakan lengkung
parabola,

Pada jembatan gantung kabel menderita beberapa beban titik sepanjang beban mendatar.

Schodek (1991) menyatakan bahwa kabel bersifat fleksibel cenderung berubah bentuk drastis
apabila pembebanan berubah. Dalam hal pemakaiannya kabel berfungsi sebagai batang tarik.
Menara (Tower)
Menara pada sistem jembatan gantung akan menjadi tumpuan kabel utama. Beban yang
dipikul oleh kabel selanjutnya diteruskan ke menara yang kemudian disebarkan ke tanah
melalui pondasi. Konstruksi menara dapat juga berupa konstruksi cellular, yang terbuat dari
pelat baja lembaran, baja berongga, atau beton bertulang.
Kelebihan Jembatan Gantung
1. Seluruh struktur jembatan dapat dibangun tanpa perancah dari tanah.
2. Struktur utamanya nampak gagah dan mengekspresikan fungsinya dengan baik.
3. Merupakan pilihan yang ekonomis untuk jembatan dengan panjang bentang lebih dari
600 meter.
Kelemahan Jembatan Gantung :
1. Apabila lantai kerja tidak cukup kaku, maka jembatan penggantung akan bergoyang dan
menjadi tidak stabil jika terkena angin dan getaran akibat resonansi, seperti pada
jembatan Tacoma Narrows, Seattle, Amerika dan jembatan Millenium, River Thames,
London.
Saat ini jembatan gantung yang terpanjang adalah Jembatan Akashi-Kaikyo, di Jepang,
dengan panjang total mencapai 4 km, dan panjang bentang 1990 meter.

Konstruksi Jembatan
Pengertian jembatan secara umum adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk
menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah
yang dalam, alur sungai, danau, saluran irigasi, kali, jalan kereta api, jalan raya yang melintang
tidak sebidang dan lain-lain. Jenis jembatan berdasarkan fungsi, lokasi, bahan konstruksi dan tipe
struktur sekarang ini telah mengalami perkembangan pesat sesuai dengan kemajuan jaman dan
teknologi, mulai dari yang sederhana sampai pada konstruksi yang mutakhir.
Klasifikasi Jembatan terbagi 3 :
1.
2.
3.
1.
2.
3.

Menurut Kegunaanya
Menurut Jenis Materialnya
Menurut sistim struktur
Menurut Kegunaanya
Jembatan jalan raya (highway brigde)
Jembatan pejalan kaki (foot path)
Jembatan kereta api (railway brigde)

4.
5.
6.

jembatan jalan air


jembatan jalan pipa
jembatan penyebrangan
Menurut Jenis Materialnya

1.
2.
3.
4.
5.

Jembatan jalan raya (highway brigde)


Jjembatan kayu
jembatan baja
jembatan beton bertulang dan pratekan
jembatan komposit
Menurut Jenis Structural

1.
Jembatan dengan tumpuan sederhana (simply supported bridge)
2.
Jembatan menerus (continuous bridge)
3.
Jembatan kantilever (cantilever bridge)
4.
Jembatan integral (integral bridge)
5.
Jembatan semi integral (semi integral bridge)
6.
Jembatan pelengkung tiga sendi (arches bridge)
7.
Jembatan rangka (trusses bridge)
8.
Jembatan gantung (suspension bridge)
9.
Jembatan kable (cabled-stayed bridge)
10.
Jembatan urung-urung (culverts bridge)
Sejarah jembatan sudah cukup tua bersamaan dengan terjadinya hubungan komunikasi /
transportasi antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam lingkungannya.
Macam dan bentuk serta bahan yang digunakan mengalami perubahan sesuai dengan kemajuan
jaman dan teknologi, mulai dari yang sederhana sekali sampai pada konstruksi yang mutakhir.

Bagian-Bagian dari Konsturksi Jembatan


1. Superstrucutre ( Konsturksi Bagian Atas ), Struktur atas jembatan merupakan bagian yang
menerima beban langsung yang meliputi berat sendiri, beban mati, beban mati tambahan, beban
lalu-lintas kendaraan, gaya rem, beban pejalan kaki, dll.
Struktur atas jembatan umumnya meliputi :

Trotoar
o Sandaran dan tiang sandaran,
o Peninggian trotoar (Kerb),
o Slab lantai trotoar.

Hand Rail

Deck Slab

Steel Girder

Balok Gelagar

Ikatan Pengaku (Ikatan angin, Ikatan rem, Ikatan tumbukan)

Perletakan (Rod dan Sendi) *tdk semua jembatan memiliki Rol dan Sendi

2. Substructure ( Konsturksi Bagaian Bawah ), terdiri dari :

Pile Cap

Abutment

Pier ( Pilar )

Wingwall

3. Foundation ( Pondasi ), diantaranya :

Bored Pile Foundation ( Pondasi Tiang bor)

Pondasi Tiang Pancang

Jembatan
Jembatan merupakan bangunan yang membentangi sungai, jalan, saluran air, jurang dan lain
sebagainya untuk menghubungkan kedua tepi yang dibentangi itu agar orang dan kendaraan
dapat menyeberang.
Secara umum, jembatan mempunyai struktur atas, bangunan bawah dan pondasi. Bangunan atas
memikul beban lalulintas kendaraan yang bergerak diatasnya. Beban tersebut disalurkan ke
kepala jembatan yang harus didukung pula oleh pondasi. Dalam kasus tertentu dengan bentang
yang panjang dibutuhkan pilar yang mendukung beban yang terletak diantara ujung / kepala
jembatan.
Struktur jembatan terdiri dari struktur atas, struktur bawah dan pondasi. Didalam pemilihan tipe
maupun ukuran dari struktur jembatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain :
- Aspek Lalu Lintas
- Aspek Geometri

- Aspek Tanah
- Aspek Hidrologi
- Aspek Perkerasan
- Aspek Konstruksi
Struktur jembatan dapat berfungsi dengan baik untuk suatu lokasi tertentu apabila memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
Kekuatan dan stabilitas struktural
- Tingkat pelayanan
- Keawetan
- Kemudahan pelaksanaan
- Ekonomis
- Keindahan estetika
ASPEK LALU LINTAS
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan jembatan ditinjau dari segi
lalu lintas yang meliputi antara lain :
Kebutuhan Lajur
- Nilai konversi kendaraan
- Klasifikasi menurut kelas jalan
- Lalu lintas harian rata-rata
- Volume lalu lintas
- Kapasitas jalan
- Derajat kejenuhan

Jembatan gantung

Jembatan gantung atau dikenal sebagai Suspension Bridge merupakan digantungkan dengan
menggunakan tali untuk jembatan gantung yang sangat sederhana dan kabel baja pada jembatan
gantung besar. Pada jembatan gantung modern, kabel menggantung dari menara jembatan
kemudian melekat pada caisson (alat berbentuk peti terbalik yang digunakan untuk
menambatkan kabel di dalam air) atau cofferdam (ruangan di air yang dikeringkan untuk
pembangunan dasar jembatan). Caisson atau cofferdam akan ditanamkan jauh ke dalam lantai
danau atau sungai. Jembatan gantung terpanjang di dunia saat ini adalah Jembatan Akashi
Kaikyo di Jepang. Jembatan ini memiliki panjang 12.826 kaki (3.909 m).
Pada gambar berikut ditunjukkan konsep jembatan gantung[5]:

Jembatan Gatung dan Jembatan Cable Stayed


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Jembatan Gantung ( Suspension Bridge)
Jembatan gantung adalah jembatan yang berfungsi sebagai pemikul langsung beban lalu lintas
yang melewati jembatan tersebut, terdiri dari lantai jembatan, gelagar pengaku, batang
penggantung, kabel pemikul dan pagar pengaman.Seluruh beban lalu lintas dan gaya-gaya yang
bekerja dipikul oleh sepasang kabel pemikul yang menumpu di atas 2 pasang menara dan 2
pasang blok angkur.(Surat Edaran Menteri PU, 2010)
Jembatan Gantung merupakan salah satu tipe jembatan yang sering digunakan untuk jembatan
pejalan kaki dengan bentang panjang.Menurut Supriyadi, B. (2007) jembatan gantung terdiri atas
pelengkungan penggantung dan batang penggantung (hanger) dari kabel baja, dan bagian lurus
berfungsi mendukung lalu lintas kendaraan. Selain bentang utama, jembatan gantung biasanya
mempunyai bentang luar (side spam) yang berfungsi untuk mengikat atau mengangkerkan kabel
utama pada balok angker. Pada kondisi tertentu terdapat keadaan dimana kabel utama dapat
langsung diangkerkan pada ujung jembatan dan tidak memungkinkan adnya bentang luar ,
bahkan terkadang tidak membutuhkan pilar.
Keunggulan jembatan gantung dibandingkan dengan jembatan lainnya, antara lain, memiliki
nilai estetika dan memiliki bentang relatif panjang untuk melewati sungai atau jurang dimana
pemasangan tiang-tiang penyangga secara menerus dengan bentang pendek tidak
dimungkinkan(Anggraeni I.,2008). Tipe jembatan ini mampu digunakan pada bentang 100
2000 m.
Lebar untuk jalan masuk dan lintasan untuk tipe jembatan pejalan kaki yang berbeda dan tingkattingkat lalu lintas terdiri dari dua lebar standar, yaitu:

a) 1 m sampai dengan 1,4 m untuk pejalan kaki,sepeda, hewan ternak,


sekawanan hewan,gerobak dorong beroda satu dan beroda dua, dan motor (jembatan pejalan kaki
kelas II).
b) 1,4 m sampai dengan 1,8 m untuk kendaraan yang ditarik hewan dan
kendaraan bermotor ringan dengan maksimum roda tiga (jembatan pejalan kaki kelas I).
1.2 Pengertian Jembatan Cable Stayed ( Kabel Tarik )
Jembatan cable stayed sudah dikenal sejak lebih dari 200 tahun yang lalu
(Walther, 1988) yang pada awal era tersebut umumnya dibangun dengan menggunakan kabel
vertikal dan miring seperti Dryburgh Abbey Footbridge di Scotlandia yang dibangun pada tahun
1817.
Jembatan cable stayed merupakan tipe jembatan bentang panjang yang estetis dan sering
digunakan sebagai prasarana transportasi yang penting. Struktur jembatan ini terdiri dari
gabungan berbagai komponen struktural seperti pilar, kabel dan dek jembatan. Dek jembatan
digantung dengan kabel prategang yang diangkur pada pilar. Dengan demikian, semua gaya-gaya
gravitasi maupun lateral yang bekerja pada dek jembatan akan ditransfer ke tanah melalui kabel
dan pilar. Kabel akan menerima gaya tarik sedangkan pilar memikul gaya tekan yang sangat
besar disamping efek lentur lainnya (Yuskar dan Andi,2005).
Respon jembatan terhadap gaya-gaya luar sangat tergantung pada interaksi dari masing-masing
komponen strukturnya. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah sambungan antara
kabel dan pilar Lokasi sambungan tersebut tergantung pada pemilihan pola atau susunan kabel.
Kabel dapat semuanya diangkur di ujung atas pilar atau disepanjang pilar secara merata atau
tidak merata. Pada umumnya sambungan antara pilar dan kabel berupa sendi, namun secara
teoritis sambungan ini dapat berupa katrol, geser atau sendi. Masing-masing tipe sambungan ini
akan mempengaruhi karakteristik dan respon struktur jembatan secara keseluruhan terhadap
beban gravitasi maupun beban lateral.
Pada umumnya jembatan cable stayed menggunakan gelagar baja, rangka, beton, atau beton pra
tekan sebagai gelagar utama (Zarkasi dan Rosliansjah, 1995). Pemilihan bahan gelagar
tergantung pada ketersediaan bahan, metode pelaksanaan dan harga konstruksi. Penilaian
parameter tersebut tidak hanya tergantung pada perhitungan semata melainkan masalah ekonomi
dan estetika lebih dominan. Kecenderungan sekarang adalah menggunakan gelagar beton pre
cast (prefabricated). Tipe jembatan ini mampu digunakan pada bentang 250 1000 m.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis Jenis Jembatan Gantung dan Jembatan Cable Stayed
2.1.1 Jenis Jembatan Gantung(Suspension Bridge)
Berkaitan dengan bentang luar (side span) terdapat bentuk struktur jembatan gantung sebagai
berikut:
1. Bentuk bentang War bebas (side span free)
Pada bentang luar, kabel utama tidak menahan atau dihubungkan dengan lantai jembatan oleh
hanger (penggantung), jadi tidak ada hanger pada bentang luar. Disebut juga dengan tipe straight
backstays atau kabel utama pada bentang luar berbentu lurus.

2. Bentuk bentang luar digantungi (side span suspended)


Pada bentuk ini kabel utama pada bentang luar menahan struktur lantai jembatan dengan
dihubungkan oleh hanger.
Steiveman (1953), membedakan jembatan gantung menjadi 2 jenis yaitu:
a. Jembatan gantung tanpa pengaku
Jembatan gantung tanpa pengaku adalah tipe jembatan gantung dimana seluruh beban sendiri dan
lalu lintas didukung penuh oleh kabel. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya elemen struktur
kaku pada jembatan. Jembatan gantung tanpa pengaku hanya digunakan untuk struktur yang
sederhana (bukan untuk struktur yang rumit dan berfungsi untuk menahan beban yang terlalu
berat), karena tidak adanya pendukung lantai jembatan yang kaku atau kurang memenuhi syarat
untuk diperhitungkan sebagai struktur kaku/balok menerus.
b. Jembatan gantung dengan pengaku
Jembatan dengan pengaku adalah tipe jembatan gantung dimana pada salah satu bagian
stukturnya mempunyai bagian yang lurus yang berfungsi untuk mendukung lantai lalu
lintas(dek). Dek pada jembatan gantung jenis ini biasanya berupa struktur rangka, yang
mempunyai kekuatan EI tertentu.
Jembatan gantung dengan pengaku mempunyai dua dasar bentuk umum, yaitu:
1. Tipe rangka batang kaku (stiffening truss)
Pada tipe ini jembatan mempunyai bagian yang kaku atau diperkaku yaitu pada bagian lurus
pendukung lantai jembatan atau dek yang dengan hanger dihubungkan dengan kabel utama.
2. Tipe rantai kaku (braced chain)
Pada tipe ini bagian yang kaku atau diperkaku adalah bagian yang berfungsi sebagai kabel
utama.
2.1.2 Jenis Jembatan Cable Stayed (Kabel Tarik)
Ada dua jenis jembatan cable stayed berdasarkan bentangnya yaitu jembatan bentang dua dengan
angker tanah dan Jembatan bentang tiga dengan pendukung antara di sisi bentang. Berlawanan
dengan jembatan gantung, jembatan kabel tarik merupakan sistem struktur tertutup, dengan kata
lain lebih ke arah sistem self-anchored. Karena jembatan kabel tarik dapat dibangun tanpa blok
angker yang besar dan penyangga temporer, akan sangat menguntungkan diterapkan pada daerah
di mana kondisi lahan tidak terlalu baik. Jika dibandingkan dengan jembatan gantung, jembatan
kabel tarik lebih kaku karena kabel lurus hingga mendekati batas panjang bentang yang mungkin
lebih panjang dari sebelumnya. Meskipun struktur bentang tiga paling umum digunakan, tetapi
struktur dengan bentang dua bisa diterapkan dalam jembatan kabel tarik. Apabila sisi bentang
sangat pendek, semua atau beberapa kabel tarik diangkerkan ke tanah. Angker tanah jembatan
kabel menyebabkan seluruh struktur menjadi kaku dan lebih menguntungkan perencanaan
jembatan kabel tarik yang sangat panjang(Ariestadi,2008).
2.2 Komponen Jembatan Gantung
Secara umum jembatan gantung terdiri dari:
a. Bangunan atas terdiri dari:
1) Lantai jembatan( dek), berfungsi untuk memikul beban lalu lintas yang melewati
jembatan serta menyalurkan beban dan gaya-gaya tersebut ke gelagar melintang.
2) Gelagar melintang berfungsi sebagai pemikul lantai dan sandaran serta
menyalurkan beban dan gaya-gaya tersebut ke gelagar memanjang.

3) Gelagar memanjang berfungsi sebagai pemikul gelagar serta menyalurkan beban dan gayagaya tersebut ke batang penggantung.
4) Batang penggantung berfungsi sebagai pemikul gelagar utama serta
melimpahkan beban-beban dan gaya-gaya yang bekerja ke kabel utama.
5) Kabel utama berfungsi sebagai pemikul beban dan gaya-gaya yang bekerja
pada batang penggantung serta melimpahkan beban dan gaya-gaya tersebut ke
menara pemikul dan blok angkur.
6) Pagar pengaman berfungsi untuk mengamankan pejalan kaki.
7) Kabel ikatan angin berfungsi untuk memikul gaya angin yang bekerja pada
bangunan atas.
8) Menara berfungsi sebagai penumpu kabel utama dan gelagar utama, serta
menyalurkan beban dan gaya-gaya bekerja melalui struktur pilar ke fondasi.
b. Bangunan bawah terdiri dari:
1) Blok angkur merupakan tipe gravitasi untuk semua jenis tanah yang berfungsi
sebagai penahan ujung-ujung kabel utama serta menyalurkan gaya-gaya yang
dipikulnya ke fondasi.
2) Pondasi menara dan fondasi angkur berfungsi sebagai pemikul menara dan blok
angkur serta melimpahkan beban dan gaya-gaya yang bekerja ke lapisan tanah pendukung.
2.2.1 Sistem kabel
Kabel merupakan bahan atau material utama dalam struktur jembatan gantung . Schodeck (1991)
menyatakan bahwa kabel bersifat fleksibel cenderung berubah bentuk drastis apabila
pembebanan berubah. Dalam hal pemakaiannya kabel berfungsi sebagai batang tarik.
Karakteristik kabel kaitannya dengan struktur jembatan gantung antara lain:
a. Mempunyai penampang yang seragam / homogen pada seluruh bentang.
b. Tidak dapat menahan momen dan gaya desak.
c. Gaya gaya dalam yang bekerja selalu merupakan gaya tarik aksial.
d. Bentuk kabel tergantung pada beban yang bekerja padanya.
e. Bila kabel menderita beban terbagi rata, maka wujudnya akan merupakan lengkungan
parabola.
f. Pada jembatan gantung kabel menderita beberapa beban titik sepanjang beban mendatar.
2.2.2 Menara ( Tower/Pylon)
Menara pada sistem jembatan gantung akan menjadi tumpuan kabel utama. Beban yang dipikul
oleh kabel selanjutnya diteruskan ke menara yang kemudian disebarkan ke tanah melalui
pondasi. Dengan demikian agar dapat menyalurkan beban dengan baik, perlu diketahui pula
bentuk atau macam menara yang digunakan.
Bentuk menara dapat berupa portal, multistory, atau diagonally braced frameIsen sebagaimana
yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Konstruksi menara tersebut dapat juga berupa
konstruksi cellular, yang terbuat dari pelat baja lembaran, baja berongga, atau beton bertulang.
Tumpuan menara baja biasanya dapat diamsumsikan jepit atau sendi. Sedangkan tumpuan kabel
diatas menara sering digunakan tumpuan rol untuk mengurangi pengaruh ketidak seimbangan
menara akibat lendutan kabel.

2.3 Komponen Jembatan Cable Stayed


Pada dasarnya komponen utama jembatan cable stayed terdiri atas gelagar,
sistem kabel, dan menara atau pylon.
2.3.1 Sistem Kabel
Sistem kabel merupakan salah satu hal mendasar dalam perencanaan jembatan cable stayed.
Kabel digunakan untuk menopang gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan beban
tersebut ke menara. Secara umum system kabel dapat dlihat sebagai tatanan kabel transversal dan
tatanan kabel longitudinal. Pemilihan tatanan tersebut didasarkan atas berbagai hal karena akan
memberikan pengaruh berlainan terhadap perilaku struktur terutama pada bentuk menara dan
tampang gelagar. Selain itu akan berpengaruh pula pada metode pelaksanaan, biaya dan
arsitektur jembatan.
Walther (1988) menyatakan sebagian besar struktur yang sudah dibangun terdiri atas dua bidang
kabel dan diangkerkan pada sisi sisi gelagar. Namun ada beberapa yang hanya menggunakan
satu bidang. Penggunaan tiga bidang atau lebih mungkin dapat dipikirka untuk jembatan yang
sangat lebar agar dimensi balok melintang dapat lebih kecil.
Ada beberapa macam tatanan kabel antara lain:
a) Tatanan kabel Transversal
1. Sistem satu bidang
Sistem ini sangat menguntungkan dari segi estetika karena tidak terjadi kabel bersilangan yang
terlihat oleh pandangan sehingga terlihat penampilan struktur yang indah. Kabel ditempatkan
ditengah tengah dek menyebabkan torsi pada dek menjadi besar akibat beban lalu lintas yang
tidak simetri dan tiupan angin. Kelemahan tersebut diatasi dengan dek kaku berupa gelagar kotak
(box girder) yang mempunyai kekakuan torsi yang sangat besar. Penempatan menara yang
mengikuti bidang kabel di tengah dek mengurangi lebar lantai kendaraan sehingga perlu
dilakukakan penambahan lebar sampai batas minimum yang dibutuhkan. Untuk jembatan
bentang panjang biasanya memerlukan menara yang tinggi menyebabkan lebar menara di bawah
dek sangat besar. Penyebaran kaki ke sisi-sisi dek dapat mengatasi hal tersebut dengan tidak
mengurangi lebar kendaraan yang dibutuhkan. Secara umum jembatan yang sangat panjang atau
sangat lebar tidak cocok dengan penggantung kabel dengan satu bidang.
2. Sistem dua bidang
Penggantung dengan dua bidang dapat berupa dua bidang vertikal sejajar atau dua bidang miring
yang pada sisi atas lebih sempit. Penggunaan bidang miring dapat menimbulkan masalah pada
lalu lintas yang lewat diantara dua bidang kabel, terlebih bila jembatan mempunyai bentang yang
relatif pendek atau menengah. Kemiringan kabel akan sangat curam sehingga mungkin
diperlukan pelebaran dek jembatan. Pada ujung balok melintang dimana akan dipasang angker
kabel, mungkin akan terjadi kesulitan pada pendetailan struktur khususnya bila menggunakan
beton pratekan. Pengangkeran kabel dapat bertentangan dengan kabel prategang balok
melintang.
3. Sistem tiga bidang
Pada perencanaan jembatan yang sangat lebar atau m,embutuhkan jalur lalu lintas yang banyak,
akan ditemui torsi yang sangat besar bila menggunakan kabel satu bidang dan momen lentur
yang besar pada tengah balok melintang jika menggunakan system dua bidang. Kejadian ini

menyebabkan gelagar sangat besar dan tidak menjadi ekonomis lagi. Penggunaan penggantung
tiga bidang dapat mengurangi torsi, momen lentur, dan gaya geser yang berlebihan. Penggunaan
penggantung tiga bidang sampai saat ini masih berupa inovasi dan baru sampai pada tahap desain
(Walther,1998).
b) Tatanan Kabel Longitudinal
Tatanan kabel longitudinal juga memiliki banyak variasi yang berbeda. Untuk bentang yang lebih
pendekkabel tunggal mungkin sudah cukup untuk menahan beban rencana. Untuk bentang utama
yang panjang dan bentang yang tidak isometric yang menggunakan angker, variasi tatanan kabel
tidak cukup dengan kebutuhan secara teknis tetapi harus menghasilkan konfigurasi dasar tatanan
kabel longitudinal yaitu radiating, harp, fan, dan star (Podolny dan Scalzi,1976).
1. Tipe radiating
Merupakan sebuah susunan dimana kabel dipusatkan pada ujung atas menara dan disebar
sepanjang bentang pada gelagar. Kelebihan tipe ini adalah kemiringan rata-rata kabel cukup
besar sehingga komponen gaya horizontal tidak terlalu besar kabel yang terkumpul diatas kepala
menara menyulitkan dalam perencanaan dan pendetailan sambungan.
2. Tipe Harp
Terdiri atas kabel-kabel penggantung yang dipasang sejajar dan disambungkan ke menara dengan
ketinggian yang berbeda-beda satu terhadap yang lainnya. Susunan kabel yang sejajar
memberikan efek estetika yang sangat indah namun terjadi lentur yang besar pada menara.
3. Tipe Fan
Merupakan solusi tengah antara tipe radiating dan tipe harp. Kabel disebar pada bagian atas
menara dan pada dek sepanjang bentang, menghasilkan kabel tidak sejajar. Penyebaran kabel
pada menara akan memudahkan pendetailan tulangan.
4. Tipe Star
Memiliki bentuk yang berlawanan dengan tipe radiating dimana kabel terpusat pada gelagar.
Bentuk ini memberikan efek estetika yang baik namun menyulitkan pendetailan sambungan pada
gelagar. Dukungan antara dua tumpuan tetap jembatan hanya ada pada pertemuan kabel sehingga
momen lentur yang akan terjadi menjadi lebih besar.
2.3.2 Menara
Pemilihan bentuk menara sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika, dan kebutuhan
perencanaan serta pertimbangan biaya, Bentuk-bentuk menara dapat berupa rangka portal
trapezoidal, menara kembar, menara A, atau menara tunggal. Selain bentuk menara yang telah
disebutkan, masih banyak bentuk menara lain namun jarang digunakan seperti menara Y, menara
V, dan lain sebagainya.
Menurut Podolny (1976), tinggi menara ditentukan dari beberapa hal seperti tipe sistem kabel,
jumlah kabel dan perbandingan estetika dalam tinggi menara dan panjang bentang. Untuk itu
direkomendasikan perbandingan antara bentang terpanjang dan tinggi menara antara 0,19-0,25.
2.3.3 Gelagar
Bentuk gelagar jembatan cable stayed sangat beragam namun yang paling sering digunakan ada
dua yaitu stiffening truss dan solid web (Podolny dan Scalzi, 1976). Stiffening truss digunakan
untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton baik beton bertulang

maupun beton prategang.


Pada awal perkembangan jembatan cable stayed modern, stiffening truss banyak digunakan
tetapi sekarang sudah mulai ditinggalkan dan jarang digunakan dalam desain, karena mempunyai
banyak kekuranagan. Kekurangannya adalah membutuhkan fabrikasi yang besar, perawatan yang
relatif sulit, dan kurang menarik dari segi estetika. Meskipun demikian dapat digunakan sebagai
gelagar dengan alasan memiliki sifat aerodinamik yang baik. Dalam keadaan jembatan jalan raya
disatukan dengan jembatan jalan rel dan biasanya menggunakan dek ganda yang bertingkat, truss
dapat dipertimbangkan sebagai elemen utama dek.
Gelagar yang tersusun dari solid web yang terbuat dari baja atau beton cenderung terbagi atas
dua tipe yaitu:
a. Gelagar plat (plat girder), dapat terdiri atas dua atau banyak gelagar.
b. Gelagar box (box girder) dapat terdiri atas satu atau susunan box yang dapat berbentuk persegi
panjang atau trapezium.
Susunan dek yang tersusun dari gelagar plat tidak memiliki kekakuan torsi yang besar sehingga
tidak dapat digunakan untuk jembatan yang bentangnya panjang dan lebar atau jembatan yang
direncanakan hanya menggunakan satu bidang kabel penggantung. Dek jembatan yang
menggunakan satu atau susunan box akan memiliki kekakuan torsi yang sangat besar sehingga
cocok untuk jembatan yang memiliki kekauan torsi yang sangat besar.
Solid web yang terbuat dari beton precast mempunyai banyak keuntungan (Zarkasia dan
Roliansjah,1995) antara lain:
a. Struktur dek cenderung untuk tidak bergetar dan dapat berbentuk aerodinamis yang
menguntungkan.
b. Komponen gaya horizontal pada kabel akan mengaktifkan gaya tekan pada system dek dimana
beton sangat cocok untuk menahan gaya desak.
c. Beton mempunyai berat yang sangat besar sehingga perbandingan beban hidup dan beban mati
menjadi kecil, sehingga perbandingan lendutan akibat beban hidup dan beban mati tidak besar.
d. Pemasangan bangunan atas dan kabel yang realtif mudah dengan teknik prestressing masa
kini, prefabrikasi, segmental,dan mempunyai kandungan local yang tinggi.
e. Pemeliharaan yang lebih mudah karena beton tidak berkarat seperti pada baja.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jembatan gantung adalah jembatan yang berfungsi sebagai pemikul langsung beban lalu lintas
yang melewati jembatan tersebut, terdiri dari lantai jembatan, gelagar pengaku, batang
penggantung, kabel pemikul dan pagar pengaman.Seluruh beban lalu lintas dan gaya-gaya yang
bekerja dipikul oleh sepasang kabel pemikul yang menumpu di atas 2 pasang menara dan 2
pasang blok angkur (Surat Edaran Menteri PU, 2010).
Jembatan cable stayed merupakan tipe jembatan bentang panjang yang estetis dan sering
digunakan sebagai prasarana transportasi yang penting. Struktur jembatan ini terdiri dari
gabungan berbagai komponen struktural seperti pilar, kabel dan dek Jembatan. Dek jembatan
digantung dengan kabel prategang yang diangkur pada pilar. Dengan demikian, semua gaya-gaya
gravitasi maupun lateral yang bekerja pada dek jembatan akan ditransfer ke tanah melalui kabel

dan pilar. Kabel akan menerima gaya tarik sedangkan pilar memikul gaya tekan yang sangat
besar disamping efek lentur lainnya (Yuskar dan Andi,2005).
Jembatan gantung sudah banyak jumlahnya dan sering ditemui disekitar lingkungan masyarakat.
Jembatan gantung maupun jembatan cable stayed sangat mendukung lalu lintas perjalanan
kendaraan. Jembatan ini menghubungkan dari tempat ke tempat yang terpisah oleh jurang,
sungai atau selat dan lainnya. Selama ini masih dikembangkan teknologi baru untuk jembatan
gantung dan jembatan cable stayed kedepannya kedua jembatan ini menjadi lebih sempurna lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni I.,2008. Studi Parameter Desain Dimensi Elemen Struktur Gantung Pejalan Kaki
dengan Bentang 120 m. Jurnal Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional Bandung, Bandung.
Ariestadi, Dian. Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 429 462.
Departemen Pekerjaan Umum, 2008. Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Jembatan Gantung
Pejalan Kaki, Pd X-XXXXXX-B,. Departemen PU, Jakarta.
Podolny & Scalzi, 1976. Construction and Design of Cable Stayed Bridges. New York: Wiley &
Sons Inc.
Schodeck, 1991. Struktur (Alih Bahasa : Suryoatmojo).Jakarta: PT. Eresco.
Steiveman, D.B.,1953. A Practical Treatise on Suspension Bridges. New York: Wiley & Sons
Inc.
Supriyadi, B. & Muntohar, A.S.,2007. Jembatan. Yogyakarta: Beta Offset.
Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum, 2010. Pemberlakuan Pedoman Perencanaan dan
Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Gantung untuk Pejalan Kaki. Kementerian Pekerjaan Umum,
Jakarta.
Walther, R.,1988. Cable Stayed Bridges. London: Thomas Telford.
Yuskar, L. & Andi, I.,2005. Kajian Sambungan antara Pilar dan Kabel
pada Jembatan Cable Stayed. Jurnal Teknologi, Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia.
Zarkast I., & Roliansjah,S.,1995. Perkembangan Akhir Jembatan Cable Stayed. Makalah pada
Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) IV, Padang.