You are on page 1of 5

BAB I

ARTIKEL
BANDARLAMPUNG - Lima pegawai RSUD dr Dadi Tjokrodipo (RSUDDT) Bandar
Lampung ini benar-benar keji. Bagaimana tidak, mereka dengan tega membuang soerang pasien
bernama Suparman bin Sariun alias Mbah Edi, 63 di sebuah gubuk di Jalan Raden Imba
Kusuma, Sukadanaham, Tanjungkarang Barat. Mbah Edi yang miskin itu pun akhirnya
meninggal dunia setelah sempat ditemukan dan ditolong warga.
Kelimanya pegawai RSUDDT itu adalah Muhaimin (sopir ambulans), Andi Karyadi alias Rika
( perawat di bagian rawat inap), Andi (bagian sanitasi), Dika (bagian sanitasi), dan Rudi
( seorang tukang parkir).
Kelima pelaku itu berhasil ditangkap Unit Reskrim Polresta Bandar Lampung dan Polsekta
Tanjungkarang Barat di tempat berbeda kemarin
Keempatnya, yakni Rika Aryadi, Andi Febrianto, Andika, dan Rudi Hendra Hasan diciduk di
RSUDDT Bandarlampung. Sedangkan sopir ambulans maut, Muhaimin, diciduk di
kediamannya.
Selama diperiksa, Rika Aryadi dan Muhaimin "bernyanyi" mereka diperintah seorang pejabat
rumah sakit.
Keduanya lantas mengajak dua cleaning service dan juru parkir untuk mengangkat dan
membuangnya ke sebuah gubuk di jalan Raden Imba Kusuma, Sukadanaham, Tanjungkarang
Barat.
Selain menangkap lima pelaku, penyidik juga menyita mobil ambulans BE 2427 AZ yang
digunakan membuang Edi. Termasuk menyita rotator yang disembunyikan di gudang.

Diketahui, penangkapan kelima pegawai ini hanya berselang sehari setelah Wali Kota
Bandarlampung Herman H.N. meminta polresta mengusut dan menangkap pelaku.

1 | Page

Diduga, Mbah Edi sengaja dibuang pihak rumah sakit lantaran dia adalah pasien miskin yang
tidak mampu membayar perawatan. Apalagi kondisi Mbah Edi juga sudah tua renta. Setelah
dibuang di gubuk, Mbah Edi ditemukan warga dalam kondisi yang mengenaskan.
Kasus pembuangan seorang pasien kakek bernama Edi (63) dari ambulance sampai meninggal
dunia ternyata bukan kali pertama. Kabarnya sudah beberapa kali pasien dibuang oleh RSUD A
Dadi Tjokrodipo Bandarlampung.
Hal ini terungkap berdasarkan pengakuan Muhaimin (33), satu dari lima tersangka yang bertugas
sebagai supir ambulance. Ia mengungkapkan hal itu di hadapan penyidik Polresta
Bandarlampung beberapa waktu lalu.
Warga curiga pria sepuh itu sengaja di buang lantaran di tempatnya berbaring ditemukan, obatobatan, kantong bekas infus dan perlengkapan rumah sakit yang lain. Meski sempat ditolong,
Mbah Edi mengembuskan nafas terakhirnya.
Gara-gara kasus pembuangan pasien mbah Edi itulah akhirnya Komisi Ombudsman RI mencabut
kembali predikat yang pernah diberikan kepada Rumah Sakit Umum Daerah A.Dadi Cokro Dipo.
Yaitu predikat terbaik untuk bidang Zona Hijau Rumah Sakit Umum Daerah suatu predikat
yang bergengsi dilingkungan Rumah sakit
Warga kota Bandarlampung tak habis pikir terhadap tindakan oknum di RSUDDT tersebut.
Seharusnya sebagai rumah sakit umum daerah kota Bandarlampung, rumah sakit yang dibiayai
dengan APBD Kota Bandarlampung, note bene dibiayai pleh warga kota Bandarlampung
memberikan pelayanan terbaik kepada warga Bandarlampung. Sebab fungsi rumah sakit RSUD
Dadi Tjokrodipo adalah sebagai rumah sakit umum daerah, tempat rujukan puskesmaspuskesmas dan rumah sakit swasta diseluruh kota Bandarlampung. Maka niscaya sekali
perbuatan oknum pembuang pasien yang tidak mampu seperti yang mereka lakukan terhadap
mbah edi tersebut
Namun sepandai-pandainya tupai melompat adakalanya jatuh juga. Kini nasi sudah menjadi
bubur. 8 oknum pegawai RSUD Dadi Tjokrodipo Bandarlampung sedah mendekam dibalik jeruji
tahanan Polresta Bandarlampung, malah kini berkas kasus pembuangan pasien mbah Edi itu,
sudah mulai diserahkan oleh Polresta dan kini sedang diteliti oleh Kajari Bandarlampung.
2 | Page

BAB II
ANALISA KASUS
Menurut kami, kasus dari artikel dan video tersebut kami dapat menganalisa bahwa
perawat tersebut sudah melanggar prinsip etik keperawatan beneficience, justice, dan
nonmaleficience :
a. Beneficience (berbuat baik) yaitu melakukan kebaikan dan mencegah atau menghilangkan
kejahatan atau bahaya.
Pada kasus ini, perawat yang ikut serta dalam pembuangan pasien miskin bernama
Suparman berusia 63 tahun sudah jelas bahwa perawat tersebut telah melanggar prinsip
beneficience yaitu perawat tidak menolak perintah dari atasannya yang memerintahkan
untuk membuang pasien lansia tersebut. Sehingga, malahan perawat dan supir ambulance
tersebut mengajak rekannya seperti Andi (bagian sanitasi), Dika (bagian sanitasi), dan Rudi (
seorang tukang parkir) untuk membantunya membuang pasien miskin tersebut. Yang
dinama, kita ketahui dia sebagai perawat seharusnya mencegah tindakan keji tersebut. Dan
atas perilakunya tersebut, dia sudah melanggar Undang-Undang Keperawatan nomor 38
tahun 2014 yang mengenai hak dan kewajiban perawat dan pasien yang berisi :
Pasal 37
Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berkewajiban:
Memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar Pelayanan
Keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan
Pasal 38
Dalam Praktik Keperawatan, Klien berhak:
Mendapatkan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar Pelayanan
Keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan
b. Justice (Keadilan) yaitu prinsip dimana perawat harus menerapkan prinsip moral adil dalam
melayani pasien
Pada kasus ini, menurut kami perawat tersebut juga telah melanggar prinsip justice
karena dia membeda-bedakan pasien yang mampu dan miskin. Di rumah sakit tersebut,
pasien yang mampu dirawat dengan baik, sedangkan pasien yang miskin diterlantarkan.
3 | Page

c. Nonmaleficience (Tidak Merugikan)


Pada kasus ini, menurut kami perawat tersebut juga telah melanggar prinsip
nonmaleficience karena akibat dari perbuatannya tersebut, pasien lansia tersebut akhirnya
meninggal setelah sempat ditemukan dan ditolong oleh warga.

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Lima pegawai RSUD dr Dadi Tjokrodipo (RSUDDT) Bandar Lampung tega
membuang soerang pasien bernama Suparman bin Sariun alias Mbah Edi, 63 di sebuah
gubuk di Jalan Raden Imba Kusuma, Sukadanaham, Tanjungkarang Barat. Mbah Edi yang
miskin itu pun akhirnya meninggal dunia setelah sempat ditemukan dan ditolong warga.
Selama diperiksa, Rika Aryadi dan Muhaimin "bernyanyi" mereka diperintah seorang
pejabat rumah sakit. Diduga, Mbah Edi sengaja dibuang pihak rumah sakit lantaran dia
adalah pasien miskin yang tidak mampu membayar perawatan. Apalagi kondisi Mbah Edi
juga sudah tua renta. Setelah dibuang di gubuk, Mbah Edi ditemukan warga dalam kondisi
yang mengenaskan.
4 | Page

b. Saran
Kita sebagai seorang perawat, seharusnya mencegah tindakan atau menghilangkan
kejahatan, tidak membeda-bedakan pasien baik dari suku, harta, agama, dan lain-lain, dan
tidak melakukan perbuatan yang merugikan pasien

5 | Page