You are on page 1of 17

KEMAMPUAN DEFERRED TAX EXPENSE DAN CURRENT TAX

EXPENSE DALAM MENDETEKSI EARNINGS MANAGEMENT


DI SAAT PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN
TAHUN 2008 2010
(STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
DI BURSA EFEK INDONESIA)
JULIATI
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret
HERU TJARAKA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

Abstract
This study have a goal to give empirical evidence that deferred tax expensea
and current tax expense have an aility to detect eanings management at
changing of tax rate like the study that be done(Philips, 2003; Dhaliwal,
2003, Yulianti, 2005 dan Hendrawan, 2007). This study used discretionary
accruals to measure earnings management. Data used manufacturer
company that list at Indonesian Stock Exchange 2008 -2010. The test of
liner regression showed that deferred tax expense and current tax expense
have an ability to detect earnings management at changing of tax rate. The
diferrent of tax rate between 2008, 2009 and 2010 is variabel dummy for
this study and the changing of tax rate from 2008 to 2009 have the relation
to earnings management.
Keywords: earnings management, discretionary accruals, deferred tax
expense, current tax expense, tax rate.

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris bahwa deferred tax
expense, dan current tax expense memiliki kemampuan dalam mendeteksi
eanings management di saat perubahan tarif pajak penghasilan badan seperti
yang telah dilakukan beberapa peneliti sebelumnya (Philips, 2003;
Dhaliwal, 2003, Yulianti, 2005 dan Hendrawan, 2007). Penelitian ini
menggunakan discretionary accruals sebagai proxy earnings management.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur
yang listed di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2010. Pengujian
hipotesis dengan dengan menggunakan regresi linear menunjukkan hasil
bahwa hanya deferred tax expense dan current tax expense yang memiliki
kemampuan dalam mendeteksi earnings management di saat perubahan tarif
pajak penghasilan badan. Tarif pajak yang berbeda antara tahun 2008, 2009
dan 2010 menjadi varibal dummy, dan perubahan tarif pajak dari tahun
2008 ke tahun 2009 yang memiliki pengaruh terhadap earnings
management.
Keywords:

earnings management, discretionary accruals, deferred tax


expense, current tax expense, perubahan tarif pajak.

1. Pendahuluan
Deferred tax expense dapat digunakan untuk mendeteksi adanya earnings
mangement yang dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari penurunan laba dan
menghindari kerugian (Philips et al. 2003:30-31). Dalam penelitiannya disebutkan
bahwa perusahaan akan berusaha membuat laba akuntansi semakin tinggi sementara
laba fiskal tetap, akibatnya deferred tax expense yang merupakan hasil dari perbedaan
temporer dalam pengakuan pendapatan dan beban secara akrual akan semakin besar.
Northcut dan Vines (1998:23) juga memaparkan bahwa kandungan akrual yang terdapat
dalam deferred tax expense bisa digunakan untuk memprediksi earnings mangement
bagi perusahaan yang memiliki perbedaan yang besar antara laba akuntansi dan laba
fiskal, perusahaan yang memiliki ETR (effective tax rate) yang rendah akan berusaha
untuk menaikkan ETR dengan menurunkan laba karena perusahaan cenderung
menginginka laba akuntansi yang kecil untuk menghindari adanya kemungkinan
pembayaran pajak yang tinggi di masa yang akan datang sehingga perusahaan bisa
melakukan kebijakan pada akrual yang terkandung dalam deferred tax expense yaitu
dengan membuat deferred tax expense menjadi lebih kecil. Deferred tax expense
merupakan perkalian dari perbedaan temporer dengan tarif pajak yang berlaku
(Harnanto, 2003: 121)
Di Indonesia, Hendrawan (2007:106) mengemukakan hasil yang berbeda dengan
penelitian Philips et al. (2003), dengan mengambil sampel perusahaan manufaktur yang
go public tahun 2004-2006 mengemukakan bahwa deferred tax expense tidak memiliki
pengaruh terhadap earnings management Akan tetapi, penelitian Yulianti (2004:123)
serta Amali (2009:79) memberikan hasil yang sama dengan Philips et al. (2003) yang
menyebutkan bahwa deffered tax expense dapat dijadikan pengukur adanya earnings
management dalam menghindari kerugian tetapi tidak untuk menghindari penurunan
laba. Penelitian tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati
dan Djamaluddin (2007:19) bahwa deffered tax expense yang dihasilkan dari selisih
antara aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya earnings management.
Current tax expense merupakan tax expense yang mencerminkan perbedaan
permanen dan perbedaan temporer antara laba akuntansi dan laba fiskal, current tax
expense merupakan perkalian dari tarif pajak yang berlaku pada suatu tahun pajak
dikalikan dengan penghasilan kena pajak pada tahun tersebut sehingga current tax
expense akan mencerminkan laba fiskal yang sesungguhnya (Harnanto, 2003).

Perusahaan akan lebih menyukai performance laba akuntansi yang bagus tapi dengan
jumlah beban pajak penghasilan yang kecil (Philips et al. 2003; Dhaliwal et al. 2003).
Northcut dan Vines (1998:27) mengungkapkan bahwa perubahan dalam current tax
expense berdampak negatif pada deferred tax expense, sehingga jika current tax expense
semakin besar maka deferred tax expense akan semakin kecil. Dhaliwal et al. (2003)
juga menyebutkan untuk mendapatkan earnings yang ditargetkan, perusahaan akan
menggunakan tax expense sehingga selain deferred tax expense, current tax expense
juga dapat digunakan untuk mendapatkan earnings yang ditargetkan. Manajemen
perusahaan bisa membuat transaksi yang bukan merupakan perbedaan temporer tetapi
merupakan perbedaan permanen (Philips et al. 2003).
Perubahan peraturan perpajakan yang terjadi di Indonesia, bisa menjadi celah
bagi perusahaan untuk dapat melakukan penghematan pajak seperti halnya di luar
negeri. Penelitian yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa perusahaan berusaha
menunda pengakuan pendapatan untuk mendapatkan keuntungan dari adanya penurunan
tarif pajak (Chung, 1998: 39). Penelitian Lin et al. (2012:35-36) juga menyebutkan
bahwa di China adanya perubahan tarif pajak dari 33% ke 25% pada tahun 2007 ke
tahun 2008 membuat perusahaan untuk melakukan earnings management dengan
menurunkan laba pada tahun 2007, sehingga perusahaan memperoleh tax saving.
Perubahan tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang terjadi pada Wajib Pajak badan yaitu
adanya penurunan tarif selama 2 (dua) tahun berturut-turut, pada tahun 2008 terjadi
perubahan tarif PPh badan dari tarif progresif ke tarif tunggal menjadi 28%, yang
diberlakukan mulai tahun 2009, kemudian perubahan tarif terjadi lagi pada tahun 2009
terjadi penurunan tarif kembali dari 28% menjadi 25% yang berlaku pada tahun 2010.
Sitorus dan Handayani (2010:54) dalam penelitiannya mengenai earnings management
karena adanya perubahan tarif PPh badan yang ada di Indonesia menemukan bukti
empiris bahwa tidak terjadi indikasi manajemen laba dengan adanya penurunan tarif
PPh badan dari tarif progresif pada tahun 2008 menjadi 28% pada tahun 2009 karena
nilai rata-rata discretionary accruals yang dijadikan indikator earnings management
menjadi lebih kecil sesudah terjadinya perubahan tarif pajak.
Penelitian ini penting dilakukan untuk melihat elemen dalam laporan keuangan
perusahaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi earnings management, karena
earnings management merupakan hal yang sangat bisa dilakukan oleh perusahaan.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Philips et al. (2003) dengan
menambahkan variabel current tax expense sebagai alat untuk mendeteksi earnings

management karena dalam Dhaliwal et al. (2003) dan Northcut dan Vines (1998),
current tax expense mampu mendeteksi earnings management yang dilakukan oleh
perusahaan. Hal lain yang membedakan dengan penelitian Philips et al. (2003) adalah
penelitian ini juga dilakukan dalam masa peruahan tarif PPh badan yang ada di
Indonesia karena menurut beberapa penelitian (Lin et al. 2012; Chung, 1998 ),
perubahan tarif pajak bisa menjadi salah satu motivator perusahaan untuk melakukan
earnings management. Di Indonesia Sitorus dan Handayani (2010) dengan mengambil
sampel perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan
bahwa perubahan tarif PPh Badan dari tahun 2008 ke tahun 2009 tidak menjadi
motivasi perusahaan untuk melakukan earnings management.

2. Rerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis


Penelitian Philips et al. (2003:30-31) merupakan penelitian yang memasukkan
elemen deffered tax expense untuk mendeteksi earnings management yang dilakukan
perusahaan, hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa deffered tax expense berguna
untuk mendeteksi earnings management yang dilakukan perusahaan untuk menghindari
kerugian dan penurunan laba. Deffered tax expense merupakan komponen dari beban
pajak penghasilan yang merefleksikan efek pajak yang timbul dari perbedaan temporer
antara laba akuntansi dan laba fiskal, hal utama yang menyebabkan perbedaan temporer
tersebut muncul adalah pengakuan pendapatan dan beban secara accrual yang berbeda
antara laba akuntansi dan laba fiskal dalam periode yang berbeda (Philips et al. 2003:
4). Penelitian di Indonesia yang merupakan replikasi dari penelitian Philips et al. (2003)
yang dilakukan oleh Yulianti (2004), Hendrawan (2007) dan Amali (2009) memberikan
hasil yang saling berbeda karena jika dalam penelitian Yulianti (2004) dan Amali
(2009) mendapatkan hasil bahwa deferred tax expense mampu memprediksi earnings
management hanya untuk menghindari kerugian, penelitian Hendrawan (2007) justru
menyatakan bahwa deferred tax expense tidak mampu secara parsial untuk mendeteksi
adanya manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan.
Northcut dan Vines (1998) mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa
deferred tax expense bisa mendeteksi earnings management dalam masa perubahan tarif
pajak. Hasil penelitiannya, perusahaan dengan rata-rata ETR yang rendah pada tahun
1981 1984 akan berusaha menaikkan ETR pada tahun 1985 sehingga perusahaan
akan melakukan penurunan pendapatan akrual dalam deferred tax expense yang bisa
menurunkan laba dan ETR akan menjadi lebih tinggi. Dhaliwal et al. (2003) juga

menyebutkan bahwa tax expense bisa digunakan untuk mendapatkan earnings yang
ditargetkan, kandungan perbedaan temporer akan bisa mempengaruhi deferred tax
expense maupun current tax expense, sebelum pelaporan quarter terakhir jika
perusahaan belum mendapatkan laba sebelum pajak sesuai yang ditargetkan maka
perusahaan bisa memilih kebijakan yang termasuk dalam perbedaan temporer untuk
mendapatkan target laba yang diharapkan.
Perbedaan temporer tersebut timbul karena adanya pengakuan penghasilan dan
beban secara akrual yang berbeda antara peraturan perpajakan dan peraturan akuntansi
(Philips et al. 2003; Guenther et al.

1997). Perbedaan pengakuan tersebut bisa

menyebabkan perbedaan antara laba fiskal dan laba akuntansi. Misalnya dalam
pengakuan biaya depresiasi menerapkan metode yang berbeda antara fiskal dan
akuntansi akibatnya laba yang dihasilkan menjadi berbeda. Akuntasi lebih memberikan
banyak pilihan metode bagi manajemen dalam pelaporan keuangannya dibandingkan
fiskal. Sebagai contoh dalam penghitungan biaya depresiasi, fiskal hanya membolehkan
adanya 2 (dua) metode yaitu metode garis lurus dan saldo menurun sementara dalam
akuntansi terdapat 4 (empat) metode yaitu garis lurus, saldo menurun, jumlah angka
tahun dan saldo menurun berganda, contoh yang lain dalam penilaian persediaan, fiskal
hanya membolehkan 2 (dua) metode yaitu metode FIFO dan rata-rata sementara
akuntansi menerapkan 3 (tiga) metode yaitu metode FIFO, rata-rata dan LIFO.
Akuntansi juga membolehkan adanya metode cadangan sementara dalam perpajakan
tidak mengakui adanya metode cadangan. Banyaknya perbedaan temporer tersebut tentu
akan membuat manajemen bisa melakukan kebijakan yang diinginkan.
Hasil dari kebijakan manajemen dalam perbedaan temporer tersebut akan
tercermin dalam deferred tax expense karena deferred tax expense merupakan perkalian
tarif pajak penghasilan dengan perbedaan temporer (Harnanto, 2003: 121). Deferred tax
expense bisa bernilai positif maupun negatif. Pos ini akan membuat suatu asset
(deferred tax asset) ketika bernilai positif atau kewajiban (deferred tax liability) ketika
bernilai negatif. Kecendrungan perusahaan adalah melaporkan laba yang rendah untuk
keperluan pajak karena sesuai dengan prinsip tax planning yang dilakukan oleh
perusahaan sedangkan perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba yang
meningkat untuk pelaporan kepada publik (Guenther et al. 1997; Philips et al. 2003).
Perusahaan akan mempertahankan laba fiskal dan menaikkan laba akuntansi, sehingga
perusahaan semakin berusaha untuk membuat laba akuntansi yang jauh berbeda dengan
laba fiskal melalui perbedaan temporer. Semakin tinggi perbedaan temporer akan

memperlihatkan bahwa perusahaan tersebut berusaha untuk membedakan antara laba


fiskal dengan laba akuntansi.
Dalam masa perubahan tarif PPh Badan di Indonesia yang mana tarif pajak
menjadi lebih kecil pada tahun 2009 dan 2010, perusahaan tentu akan menyukai
pembayarn PPh Badan yang lebih kecil sehingga untuk menghindari pengenaan tarif
pajak yang tinggi maka laba akuntansi akan dipindahkan dari tarif pajak yang tinggi ke
tarif pajak yang rendah akibatnya laba pada tahun 2008 akan lebih kecil daripada laba
pada tahun 2009 dan 2010. Karena perusahaan berusaha untuk memindahkan laba
akuntansi ke tahun yang tarif pajaknya lebih kecil, sementara tetap mempertahankan
laba fiskal maka

deferred tax expense akan semakin besar pada tahun yang tarif

pajaknya lebih rendah. Berdasarkan temuan dan analisis tersebut maka terbentuk
hipotesis yang pertama, yaitu:
H1: Deferred Tax Expense memiliki kemampuan dalam mendeteksi Earnings
Management di sekitar perubahan tarif PPh badan tahun 2008 2010 pada
perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia
Dhaliwal et al. (2003:27) dalam hasil penelitiannya menyebutkan bahwa tax
expense bisa digunakan oleh perusahaan untuk mendapatkan earnings yang ditargetkan.
Penelitian tersebut mengukur earning management dengan menggunakan perbedaan
ETR yang didefinisikan sebagai tax expense dibagi dengan laba akuntansi sebelum
pajak. Penelitian tersebut menggunakan tax expense yang mana terdapat perbedaan
temporer yang berpengaruh terhadap deferred tax expense maupun current tax expense.
Chen et al. (2012:97) menyebutkan bahwa metode earnings management yang disukai
oleh manajemen perusahaan adalah meningkatkan laba akuntansi tetapi tanpa
meningkatkan laba fiskal, metode ini akan berdampak pada perbedaan temporer dan
permanen antara laba akuntansi dan laba fiskal.
Perbedaan permanen hanya pada current tax expense. Laba akuntansi setelah
dikurangi (ditambah) dengan perbedaan temporer dan perbedaan permanen akan
menghasilkan laba fiskal. Perbedaan permanen merupakan perbedaan bukan karena
waktu, tetapi karena peraturan yang berbeda antara peratuan akuntansi dan peraturan
fiskal seperti dalam pengakuan pendapatan atau biaya yang dikenakan PPh final, dalam
akuntansi pengakuan pendapatan atau biaya tersebut tetap boleh dilakukan tetapi dalam
peraturan fiskal tidak boleh mengakui pendapatan atau biaya yang telah dikenakan PPh
final. Perbedaan permanen tidak akan terlihat langsung pada current tax expense, tetapi
besarnya laba fiskal akan memperlihatkan dua perbedaan tersebut. Current tax expense

menunjukkan perkalian tarif pajak dengan laba fiskal, antara laba akuntasi dan laba
fiskal selain terdapat perbedaan temporer juga terdapat perbedaan permanen (Harnanto,
2003: 121). Oleh karena itu current tax expense akan mencerminkan 2 (dua) perbedaan
tersebut.
Dhaliwal et al. (2003) menyebutkan untuk menaikkan earnings, perusahaan
harus berusaha menekan tax expense. Northcut dan Vines (1998) juga menyebutkan
bahwa current tax expense secara signifikan berpengaruh terhadap earnings
management karena current tax expense berbanding terbalik dengan deferred tax
expense, maka perusahaan ingin memperbesar ETR dengan membayar current tax
expense yang kecil dan deferred tax expense harus menjadi besar. Current tax expense
yang semakin kecil akan menunjukkan bahwa perusahaan berusaha untuk melakukan
tax planning (Chen et al. 2012:99).
Penurunan tarif PPh Badan di Indonesia akan mempengaruhi current tax expense
yang dilaporkan oleh perusahaan. Penurunan tarif PPh Badan memungkinkan
perusahaan untuk memindahkan laba akuntansi ke tarif pajak yang lebih rendah
sementara perusahaan akan berusaha mempertahankan laba fiskal. Ketika laba akuntansi
yang dihasilkan dikalikan dengan tarif pajak yang berlaku berbeda jauh dengan current
tax expense maka perusahaan berusaha untuk melaporkan laba akuntansi yang berbeda
jauh dengan laba fiskal. Oleh karena itu, dengan tarif PPh Badan yang mengalami
penurunan maka current tax expense juga semakin mengalami penurunan, sehingga
perusahaan yang melakukan earnings management akan menunjukkan penurunan
dalam current tax expense. Berdasarkan temuan dan analisis tersebut hipotesis kedua
yang kemudian terbentuk adalah:
H2: Current Tax Expense memiliki kemampuan dalam mendeteksi Earnings
Management di sekitar perubahan tarif PPh badan tahun 2008 2010 pada
perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia

3. Metode Riset
Penelitian ini untuk menguji apakah deferred tax expense dan current tax
expense memiliki kemampuan dalam mendeteksi earnings management di sekitar tahun
terjadinya perubahan tarif PPh badan pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa
Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan rentang waktu selama tiga tahun yaitu
tahun 2008, 2009 dan 2010. Pada ketiga tahun tersebut terdapat kebijakan pemerintah
yaitu tarif pajak penghasilan badan yang berbeda untuk setiap tahunnya. Dalam Ghozali

(2006), adanya kebijakan pemerintah salah satunya kebijakan pajak bisa menjadi
variabel dummy dalam penelitian karena kebijakan tersebut bisa berpengaruh terhadap
variabel dependen yang akan diteliti.
Persamaan logistic regresion yang digunakan adalah sebagai berikut:
EMit = 0 + 1 D_09+ 2 D_10 + 1DTEit + 2CTEit + it
Keterangan:
EMit

= earnings management yang dilakukan perusahaan i pada tahun t, dinilai


dengan menggunakan discretionary accruals. Perusahaan melakukan earnings
management jika discretionary accruals bernilai positif maupun negatif (
discretionary accruals tidak sama dengan nol)

DTEit = deferred tax expense perusahaan i di tahun t


CTEit = current tax expense perusahaan i di tahun t
D_09

= variabale dummy tahun 2009 (tarif pajak 28%)

D_10

= variabel dummy tahun 2010 (tarif pajak 25%)

= tahun 2008 sebagai tahun dasar

1... 2 = Koefisien regresi untuk variabel X1....X2


it

= error term
Pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi linear, terlebih dahulu

dilakukan pengujian asumsi klasik.


Variabel Dependen dalam penelitian ini menggunakan discretionary accrual
yang telah dikembangkan oleh Dechow dengan memasukkan cash flow sebagai control
dalam penghitungan discretionary accrual (Phiplips et al. 2003; Sitorus dan Handayani,
2010).

Perusahaan

yang

melakukan

earning

management

mempunyai

nilai

discretionary accrual atau nilai discretionary accrual tidak sama dengan nol.
TA = NIt - CFOt ....................................................................................(1)
Nilai total accrual (TA) yang diestimasidengan persaman regresi OLS sesuai dengan
Dechow yang telah dimodifikasi dengan variabel control arus kas seperti dalam
penelitian Philips, et all (2003) serta Sitorus dan Sri Handayani (2010) adalah sebagai
berikut:
TAit /Ait-1 = (1 /Ait -1)+ 1(REVit /Ait-1 - RECit /Ait-1 )+ 2(PPEit
/Ait-1

3(CFOit

/Ait-1

e.............................................................................................(2)
Dengan menggunakan koefisien regresi di atas maka nilai non discretionary accrual
(NDA) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

NDAit = (1 /Ait -1)+ 1(REVit /Ait-1 - RECit /Ait-1 )+ 2(PPEit /Ait-1 )


+ 3(CFOit /Ait-1 ).......................................................................................................(3)
Selanjutnya discretionary accrual (DA) dapat dihitung sebagai berikut:
DAit = ( TAit / Ait-1) NDAit. ........................................................................(4)
Keterangan:
DAit

= Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t

NDAit = Non Discretionary Accrualsperusahaan i pada periode ke t


TAit

= Total akrual perusahaan i padaperiode ke t

Nit

= Laba bersih perusahaan i padaperiode ke-t

CFOit = Aliran kas dari aktivitas operasiperusahaan i pada periode ke t


Ait-1 = Total aktiva perusahaan i padaperiode ke t-1
Revt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t
PPEt

= Aktiva tetap perusahaan pada periode ke t

RECit = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t


e

= error
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah:

1. Deferred Tax Expense (DTE)


Indikator variabel ini berdasarkan pengukuran ini sesuai yang dilakukan oleh
Philips et al. (2003), Yulianti (2004), Hendrawan (2007), Rahmawati (2007) dan Amali
(2009) adalah sebagai berikut:
DTEit = DTEit
Ait-1
Keterangan:
DTEit
Ait

= Deferred tax expense perusahaan i pada tahun t


= Total Asset pada tahun t-1

2. Current Tax Expense (CTE)


Indikator variabel current tax expense diukur dengan cara membagi current tax
expense dengan total asset pada tahun sebelumnya adalah sebagai berikut:
CTEit = CTEit
Ait-1
Keterangan:
CTEit
Ait

= Current tax expense perusahaan i pada tahun t


= Total Asset pada tahun t-1

4. Analisis Data dan Pembahasan


Discretionary accruals sebagai proxy earnings management diperoleh dengan
menghitung total accruals terlebih dahulu. Dari hasil regresi dengan menggunakan
SPSS versi 16.0 diperoleh hasil seperti dalam Tabel 1.1
Tabel 1.1
Hasil Pengujian Estimasi Non-Discretionary Accruals

Variabel
Independen
TA

Variabel

Koefisien

Nilai t

Sig

Konstanta

0,059

3,965

0,000

REV/A-PIU/A

0,045

2,658

0,008

PPE/A

-0.071

-2,481

0,014

CFO/A

-0,426

-8,633

0,000

Dependen

Sumber: data yang diolah

sehingga persemaan regresi tersebut adalah sebagai berikut:


TAit /Ait-1 = 0,059(1 /Ait -1)+ 0,045(REVit /Ait-1 - RECit /Ait-1 )
0,071(PPEit /Ait-1 ) - 0,426 3(CFOit /Ait-1 )
Setelah melakukan total accruals dikurangkan dengan nilai non discretionary accruals
maka akan diperoleh discretionary accruals. Dari 111 perusahaan selama tiga tahun
pengamatan, terlihat bahwa semua perusahaan melakukan earnings management. Hal
tersebut ditandai dengan semua perusahaan tidak ada yang memiliki nilai discretionary
accruals sama dengan nol.
Berdasarkan data yang diperoleh dari tahun 2008 2010 maka diperoleh hasil
statistik deskriptif dari discretionary accruals, deferred tax expense dan current tax
expense seperti dalam Tabel 1.2, Tabel 1.3, Tabel 1.4.

Tabel 1.2
Hasil Statistik Deskriptif Discretionary Accruals
Keterangan

DA_2008

DA_2009

DA_2010
N

111

111

111

Minimum

-0.38512

-0.24786

-0.647838

Maximum

1.34330

0.533896

0.4629993

0.0233182

0.10212

0.051583

0.17319084

0.138204

0.11939771

Mean
Std. Deviation

Sumber: data yang diolah

Tabel 1.3
Hasil Statistik Deskriptif Deferred Tax Expense
Keterangan

dte_2008

dte_2009

dte_2010
N

111

111

111

Minimum

-0.208068

-0.0545994

-0.0961127

Maximum

0.04639

0.17677

0.125403

-0.00673

0.00116

0.000704

0.0264003

0.0219157

0.01878766

Mean
Std. Deviation
Sumber: data yang diolah

Tabel 1.4
Hasil Statistik Deskriptif Current Tax Expense
Keterangan

cte_2008

cte_2009

cte_2010
N

111

111

111

Minimum

Maximum

0.2161012

0.1772095

0.15114356

0.027595

0.028051

0.0250963

0.04437351

0.03863508

0.03074069

Mean
Std. Deviation
Sumber: data yang diolah

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dengan mengunakan regresi linear


Pengolahan data dalam pengujian ini menggunakan SPSS 16.0. Pengujian dilakukan
dengan menggunakan data perusahaan manufaktur yang listed di BEI dalam kurun
waktu 2008 2010. Dari pengujian statistik deskriptif dengan jumlah sampel 111
perusahaan untuk setiap tahunnya maka dalam kurun waktu 3 tahun yaitu 2008 -2010
diperoleh 333 pengamatan dan dilakukan uji hipotesis.

Tabel 1.5
Hasil Pengujian Variabel Independen
Variabel
Independen
EM

Variabel
Dependen

Koefisien

Nilai t

Sig

regresi

D_09

0,072

3,874

0,000

D_10

0,025

1,368

0,172

DTE

0,784

2,343

0,020

CTE

1,195

6,061

0,000

Sumber: data yang diolah

Untuk nilai R dari model pengujian ini adalah 39,6% sementara nilai R2 sebesar 15,7%
yang menunujukkan kemampuan model dalam mendeteksi variabel dependen.
Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa Deferred Tax Expense memiliki
kemampuan dalam memprediksi Earnings Management di sekitar perubahan tarif PPh
badan tahun 2008 2010 pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek
Indonesia ternyata diterima hal tersebut ditunjukkan dengan signifikasi yang lebih kecil
dari 0,05 yaitu 0,020 dengan nilai t sebesar 2,343.
Deferred tax expense yang mengandung perbedaan temporer dalam penelitian
ini memiliki kemampuan dalam mendeteksi earnings management, hasil ini sesuai
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Philips, et all (2003), Yulianti (2005),
Rahmawati (2007) dan Amali (2009) tetapi tidak sesuai degan penelitian yang
dilakukan Hendrawan (2007). Philips et al. (2003) menyebutkan bahwa ketika
perusahaan melakukan earnings management dengan menaikkan laba maka deferred
tax expense juga semakin besar sehingga semakin besar perusahaan melakukan earnings
management perbedaan antara laba fiskal dan laba komersial akan semakin besar yang

akan terlihat pada deferred tax expense. Deferred tax expense yang positif menunjukkan
bahwa perusahaan melaporkan laba komersial lebih tinggi daripada laba fiskal
sebaliknya deferred tax expense yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan
melaporkan laba komersial lebih rendah daripada laba fiskal (Philips et al. 2003).
Kecendrungan perusahaan adalah melaporkan laba yang rendah untuk keperluan pajak
karena sesuai dengan prinsip tax planning yang dilakukan oleh perusahaan sedangkan
perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba yang meningkat untuk pelaporan
kepada publik (Guenther et al. 1997; Philips et al. 2003). Perusahaan akan
mempertahankan laba fiskal dan menaikkan laba akuntansi, sehingga perusahaan
semakin berusaha untuk membuat laba akuntansi yang jauh berbeda dengan laba fiskal
melalui perbedaan temporer. Semakin tinggi perbedaan temporer akan memperlihatkan
bahwa perusahaan tersebut berusaha untuk membedakan antara laba fiskal dengan laba
akuntansi. Dalam penelitian ini juga terlihat bahwa mean dari deferred tax expense
semakin besar ketika perusahaan melakukan earnings management dengan menaikkan
laba pada tahun 2009, discretionary accruals yang meningkat dari tahun 2008 ke tahun
2009 diikuti dengan deferred tax expense yang juga semakin besar dari tahun 2008 ke
tahun 2009, begitu pula dengan tahun 2010, ketika perusahaan tidak melakukan
earnings management dengan meningkatkan laba, terlihat dari mean discretionary
accruals yang menurun dari tahun 2010 ke tahun 2009 maka deferred tax expense juga
menagalami penurunan dari tahun 2010 ke tahun 2009.
Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa Current Tax Expense memiliki
kemampuan dalam memprediksi Earnings Management di sekitar perubahan tarif PPh
badan tahun 2008 2010 pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek
Indonesia ternyata diterima hal tersebut ditunjukkan dengan signifikasi yang lebih kecil
dari 0,01 yaitu sebesar 0,000.
Current tax expense yang memiliki kandungan perbedaan temporer dan
permanen serta mencerminkan laba fiskal yang sesungguhnya ternyata memiliki
kemampuan dalam mendeteksi earnings management. Current tax expense tidak akan
pernah bernilai negatif, karena ketika mengalami kerugian fiskal current tax expense
akan bernilai nol, sehingga perusahaan yang memiliki current tax expense melebihi nol
akan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak mengalami kerugian fiskal.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dhaliwal et al. (2003) serta
Northcut dan Vines (1998) bahwa kandungan permanen dalam current tax expense
memiliki kemampuan dalam mendeteksi earnings management yang dilakukan oleh

perusahaan. Current tax expense menunjukkan perkalian antara laba fiskal dengan tarif
pajak. Dhaliwal et al. (2003) menyebutkan bahwa tax expense digunakan oleh
perusahaan untuk mendapatkan earnings yang ditargetkan, sehinnga ketika perusahaan
belum mencapai earnings yang ditargetkan maka perusahaan akan berusaha
menggunakan tax expense untuk mendapatkan earnings yang ditargetkan. Perusahaan
yang belum mendapatkan earnings yang ditargetkan akan berusaha memperkecil
current tax expense agar earnings yang ditargetkan dapat terpenuhi. Northcut dan Vines
(1998) juga menyebutkan bahwa current tax expense secara signifikan berpengaruh
terhadap earnings management karena current tax expense berbanding terbalik dengan
deferred tax expense, maka perusahaan ingin memperbesar ETR dengan membayar
current tax expense yang kecil dan deferred tax expense harus menjadi besar. Current
tax expense yang semakin kecil akan menunjukkan bahwa perusahaan berusaha untuk
melakukan tax planning (Chen et al. 2012:99). Dalam penelitian ini, perusahaan
berusaha untuk memperkecil current tax expense, hal tersebut terlihat dari tahun 2008
ke tahun 2009 walaupun ada peningkatan mean discretionary accruals pada tahun 2009
tetapi mean current tax expense tidak menunjukkan peningkatan yang besar bahkan
hampir sama dengan tahun 2008. Pada tahun 2009 ke tahun 2010 terlihat pula bahwa
mean discretionary accruals yang semakin menurun diikuti dengan mean current tax
expense yang menurun.
Variabel dummy tarif pajak memiliki pengaruh pada earnings management
untuk tarif pajak pada tahun 2009 yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi kurang
dari 0,01 yaitu sebesar 0,000. Jika dilihat dari mean discretionary accruals antara tahun
2008 dan tahun 2009 terlihat bahwa nilai mean discretionary accruals mengalami
peningkatan dari tahun 2008 ke tahun 2009, hal tersebut menunjukkan bahwa
perusahaan berusaha untuk memindahkan laba dari tahun 2008 ke tahun 2009 agar bisa
menghemat pajak. Hasil pengujian juga memperlihatkan bahwa tarif tahun 2009
memiliki pengaruh terhadap earnings management.
Variabel dummy tarif pajak tahun 2010 tidak memiliki pengaruh terhadap
earnings management. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi hasil
pengujian yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,172. Pada tahun 2010, mean
discretionary accruals juga menunjukkan nilai yang lebih kecil daripada tahun 2009,
sehingga dari nilai tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan tidak berusaha untuk
memindahkan laba tahun 2009 ke tahun 2010 untuk tujuan penghematan pajak dengan
adanya penurunan tarif pajak pada tahun 2010.

5. Kesimpulan dan Saran


Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan deferred tax expense, dan
current tax expense dalam mendeteksi Earnings Management di sekitar perubahan tarif
PPh badan tahun 2008 2010 pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek
Indonesia. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Penelitian ini menggunakan discretionary accruals untuk menentukan earnings
managment. Dari pengujian yang telah dilakukan semua perusahaan manufaktur
dalam penelitian ini yaitu 111 perusahaan selama 3 tahun pengamatan,
semuanya melakukan earnings management. Hal tersebut terlihat dari nilai
discterionary accruals yang bernilai porsitif maupun negatif.
2. Dari hasil pengujian tersebut deferred tax expense dan current tax expense
memiliki kemampuan dalam dalam mendeteksi Earnings Management di sekitar
perubahan tarif PPh badan tahun 2008 2010 pada perusahaan manufaktur
yang listed di Bursa Efek Indonesia karena memiliki nilai signifikansi kurang
dari 0,05 untuk deferred tax expense dan sebesar 0,02 sedangkan current tax
expense signinfikan pada level 0,01 yaitu sebesar 0.000.
3. Perubahan tarif pajak penghasilan badan juga memiliki pengaruh terhadap
earnings management yang dilakukan oleh perusahaan tetapi untuk tahun 2009
karena variabel tahun 2009 memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,01 yaitu
0,00 sedangkan untuk tahun tarif pajak tahun 2010 tidak memiliki pengaruh
terhadap earnings management karena nilai signifikansinya lebih dari 0,05 yaitu
sebesar 0,172. Nilai mean discretionary accruals untuk tahun 2009
menunjukkan peningkatan daripada mean discretionary accruals pada tahun
2008. Sedangkan untuk tahun 2010 mean discretionary accruals justru
menagalami penurunan dari mean discretionary accruals tahun 2009. Penurunan
tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak merespon penurunan tarif pajak
dengan memindahkan laba tahun 2009 ke tahun 2010.
Adapun saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Deferred tax expense bisa dipisahkan antara yang merupakan kompensasi
kerugian dan karena kebijakan akuntansi fiskal atau bisa dipisahkan antara
deferred tax benefit dan deferred tax expense.
2. Kemampuan current tax expense sebagai alat untuk mendeteksi earnings
management perlu dilakukan penelitian lagi untuk lebih mendapatkan bukti
bahwa variabel tersebut memiliki kemampuan dalam mendeteksi earnings
management

Referensi
Amali, Muhammad N. 2009. Analisis Deffered Tax Expense Dalam Mendeteksi
Earnings Management Pada Wajib Pajak Emiten Yang Terdaftar di Kantor
Pelayanan Pajak Perusahaan Masuk Bursa. Jurnal Akuntansi dan Bisnis Vol.
9, No. 1, Pebruari: 71-84.
Burgstahler, D. dan I. Dichev. 1997. Earnings Management to Avoid Earnings
Decrease and Losses. Journal of Accounting and Economics 24: 99-126.
Chen, L.H., D.S. Dhaliwal dan M.A. Trombley. 2012. Consistency of Book Tax
Difference and The Information Content of Earnings. The Journal of The
American Taxation Association. Vol. 34 No. 2. pp: 22-36
Chung, Dennis Y. 1998. Income Management in Response to Corporate Tax Rate
Reductions: Canadian Evidence. The International Tax Journal. 24, 4. pg: 28.
Departemen Keuangan, Undang-Undang No.36 Tahun 2008 Tentang Perubahan
Keempat Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan,
Jakarta.
__________________, Undang-Undang No.16 Tahun 2009 Tentang Perubahan
Keempat Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan, Jakarta.
Dhaliwal, D., C.A. Gleason and L.F. Milss. 2003. Last Chance Earnings
Management: Using the Tax Expense to Meet Analysts Forecasts. Working
Paper SSRN, http://www.ssrn.com . Diakses tanggal 14 Desember 2010.
Ghozali,Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Guenther, D.A, E.L. Maydew dan S.E. Nutter. 1996. Fianancial Reporting, Tax Costs
and Book-Tax Conformity. Journal of Accounting and Economics 23: 225
248.
Gujarati, Damodar. 2010. Dasar-Dasar Ekonometrika. Buku I, Edisi Kelima. Jakarta:
Salemba Empat. Terjemahan.
Harjito, Martono. 2005. Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Kelima,
Yogyakarta: Penerbit Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII.
Harnanto. 2003. Akuntansi Perpajakan. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Harahap, Sofyan S. 2001. Teori Akuntansi. Edisi Revisi, Cetakan Keempat. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Hendrawan, D. Lucas. 2007. Analisis Pengaruh Deffered Tax Expense (DTE), Total
Accruals (TAcc) dan Delta Operating Cash Flow (Delta CFO) Dalam
Memprediksi Earnings Management Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa
Efek Jakarta. Thesis UNAIR.

Husnan, Suad. 2006. Manajemen Keuangan. Edisi Kelima, Cetakan Pertama.


Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Lin, B., R. Lu dan T. Zhang. 2012. Tax Induced Earnings Management in Emenrging
Markets. Evidence from China. The Journal of The American Taxation
Association. Vol. 34 No. 2. pp: 19-44
Northcut, D.W. dan C.C. Vines. 1998. Earnings Management in Response to Political
Scrutiny of Effective Tax Rates. The Journal of The American Taxation
Association. Vol. 20 No. 2. pp: 22-36
Perdana, Halim D. 2006. Analisis Pengaruh Price Earnings Ratio (P/E) dan Market to
Book Ratio (P/B) Terhadap Pertumbuhan Earnings (Growth) Perusahaan
Manufaktur di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Sistem Teknologi Informasi
Vol. 5 No.1, hal: 1-23.
Philips, J., M. Pincus, and S. Rego. 2003. Earnings Management: New Evidence
Based on Deferred Tax Expenses. Working Paper SSRN, http://www.ssrn.com .
Diakses tanggal 14 Desember 2010.
Rahmawati dan S. Djamaluddin. 2007. Analisis Perubahan Aktiva Pajak Tangguhan
dan Kewajiban Pajak Tangguhan untuk Mendeteksi Manajemen Laba.
http://www.uns.ac.id/direktori_sdm diakses tanggal 8 Agustus 2011
Research Division. 2009. IDX Fact Book 2009. Indonesia Stock Exchange
______________. 2010. IDX Fact Book 2010. Indonesia Stock Exchange
______________. 2011. IDX Fact Book 2011. Indonesia Stock Exchange
Resmi, Siti. 2008. Perpajakan: Teori dan Kasus. Edisi 4: Buku 1. Jakarta: Salemba
Empat.
Scott, R. W. 1997. Financial Accounting Theory 2nd Ed., Prentice Hall, New Jersey.
Setiawati, L dan A. Naim. 2001. Bank health evaluation by Bank Indonesia and
earnings management in banking industry. Gadjah Mada International
Journal of Business. Volume 3 No 2. May: 159-176.
Sitorus, R.P. and S. Handayani. 2010. Indikasi Manajemen Laba Sebelum dan
Sesudah Perubahan Tarif Pajak Penghasilan Badan Tahun. EngD thesis,
Perpustakaan FE UNDIP. http://eprints.undip.ac.id/22943/ diakses tanggal 29
Juli 2011
Subramanyam dan J. Wild. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 10: Buku 2.
Jakarta: Salemba Empat. Terjemahan.
Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Edisi
Ketiga, Cetakan Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Waluyo. 2008. Akuntansi Pajak. Jakarta: Salemba Empat.
Yulianti. 2004. Kemampuan Beban Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi
Manajemen Laba. Thesis UI. http://eprints.lib.ui.ac.id/16156/. Diakses tanggal
27 Desember 2010.