You are on page 1of 11

Sistem Informasi Geografis 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Dewasa ini banyak bencana alam yang terjadi disekitar kita. Bencana
alam yang sering terjadi diantaranya longsor dan banjir. Longsor dan banjir
sangat berkaitan dengan tingginya curah hujan, tingkat kelerengan, kepekaan
terhadap erosi, dan tekstur tanah di suatu daerah. Bencana bencana tersebut
sering memakan korban jiwa dan harta benda.
Dengan ArcGIS ini, kita dapat mengetahui daerah mana saja yang
memiliki curah hujan tinggi hingga rendah serta daerah rawan bencana. Oleh
karena itu dengan mempelajari SIG ini kita diharapkan dapat meminimalisir
kerugian / kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam.
1.2 Rumusan Masalah
1. Dimana daerah rawan longsor pada peta daerah Q?
2. Dimana daerah rawan banjir pada peta daerah Q?
3. Apakah daerah rawan tersebut saling berkaitan?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Adapun maksut dan tujuan dari pembuatan peta ini yaitu :
1. Mengetahui daerah rawan longsor pada peta daerah Q.
2. Mengetahui daerah rawan banjir pada peta daerah Q.
3. Mengetahui apakah daerah rawan tersebut saling berkaitan.
1.4 Dasar Teori
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information
System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang
memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih
sempit, adalah sistem komputeryang memiliki kemampuan untuk membangun,
menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis,
misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para
praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan
data sebagai bagian dari sistem ini.
Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah,


pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan
rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung
waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk
mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.
1. Menurut Aronaff (1989)
SIG adalah sistem informasi yang didasarkan pada kerja komputer
yang memasukkan, mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta
memberi uraian.
2. Menurut Burrough (1986)
SIG merupakan alat yang bermanfaat untuk pengumpulan,
penimbunan, pengambilan kembali data yang diinginkan dan penayangan
data keruangan yang berasal dari kenyataan dunia.
3. Menurut Kang-Tsung Chang (2002)
SIG sebagai a computer system for capturing, storing, querying,
analyzing, and displaying geographic data.
4. Menurut Murai (1999)
SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan,
menyimpan,

memanggil

kembali,

mengolah,

menganalisis

dan

menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospatial, untuk


mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan
penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas
kota, dan pelayanan umum lainnya.
5. Menurut Marble et al (1983)
SIG merupakan sistem penanganan data keruangan.
6. Menurut Bernhardsen (2002)
SIG sebagai sistem komputer yang digunakan untuk memanipulasi
data geografi. Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat keras dan
perangkat lunak komputer yang berfungsi untuk akusisi dan verifikasi
data, kompilasi data, penyimpanan data, perubahan dan pembaharuan data,
manajemen dan pertukaran data, manipulasi data, pemanggilan dan
presentasi data serta analisa data
7. Menurut Gistut (1994)
SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan
spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan
Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut.


SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan,
yaitu data spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi
8. Menurut Berry (1988)
SIG merupakan sistem informasi, referensi internal, serta
otomatisasi data keruangan.
9. Menurut Calkin dan Tomlison (1984)
SIG merupakan sistem komputerisasi data yang penting.
10. Menurut Linden, (1987)
SIG adalah sistem untuk pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan
(manipulasi), analisis dan penayangan data secara spasial terkait dengan
muka bumi.
11. Menurut Alter
SIG adalah sistem informasi yang mendukung pengorganisasian
data, sehingga dapat diakses dengan menunjuk daerah pada sebuah peta.
12. Menurut Prahasta
SIG merupakan sejenis software yang dapat digunakan untuk
pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan, dan keluaran
informasi geografis berikut atribut-atributnya.
13. Menurut Petrus Paryono
SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk
menyimpan, manipulasi dan menganalisis informasi geografi.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SIG merupakan
pengelolaan data geografis yang didasarkan pada kerja komputer (mesin).

BAB II
CARA PENGERJAAN

2. 1 Cara Pengerjaan
Registrasi Peta

Digitasi Peta

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

Skoring

Union

Layouting

Gambar 2.1 Diagram Alir


Registrasi Peta
Tahap awal pengerjaan adalah meregistrasi peta yang telah dipilih yang
dalam format jpeg di arcgis. Klik menu add control points untuk meregistrasi.
Registrasi dimulai dari paling kiri atas peta dan berputar searah jarum jam.
Setelah itu digunakan view link table untuk melihat error dari hasil registrasi peta
tersebut. Tingkat maksimal error adalah dibawah 1. Digitasi ini dilakukan pada 3
peta dasar yaitu Peta Curah Hujan, Jenis Tanah dan Kelerangan.
Digitasi Peta
Tahap selanjutnya adalah Digitasi Peta yang bertujuan untuk membagi
masing-masing klasifikasi tergantung pada keadaan sebenarnya. Digitasi ini
menggunakan menu catalog yang didalamnya ada new-shapefile. Pada shapefile
ini yang digunakan adalah polygon dan pilih koordinatnya yaitu WGS 1984 UTM
Zone 49S. Digitasi ini dilakukan pada 3 peta dasar yaitu Peta Curah Hujan, Jenis
Tanah dan Kelerangan.
Skoring
Skoring berfungsi untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tanah, intensitas
curah hujan, kelerengan kedalam suatu bentuk angka. Skoring ini terdapat pada
menu attribute table yang berada pada shapefile.
Tabel 2.1 Klasifikasi dan skor intensitas hujan harian rata-rata
Kelas
I
Kelompok 1
Kelas B

Intensitas (mm/hari)
0 13.60

Keterangan
Sangat rendah

Skor
1

Sistem Informasi Geografis 2015

II
III
IV
V

13.61 20.70
20.71 27.70
27.71 34.80
34.01

Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi

2
3
4
5

Tabel 2.2 Klasifikaasi skor jenis tanah menurut kepekaan terhadap Erosi
Kelas
I

Jenis tanah
Alluvial,gley,planosol,hidromorf

Keterangan
Tidak peka

Skor
1

II
III

kelabu
Latosol
Kurang peka
Brown forest soil, non calcic brown, Agak peka

2
3

IV

mediteran,kambisol
Andosol,laterit,grumusol,podsol,pods

Peka

olik
Regosol,litosol,organosol,renzina

Sangat peka

Tabel 2.3 Klasifikasi dan skor factor kemiringan lereng


Kelas
I
II
III
IV
V

Kemiringan Lereng dalam %


0.00 8.00
8.01 15.00
15.01 25.00
25.01 45.00
>45.01

Keterangan
Datar
Landai
Miring
Curam
Sangat curam

Skor
1 , 5
2 , 4
3 , 3
4 , 2
5 , 1

Union
Union berfungsi untuk menggabungkan antar shapefile untuk tujuan
tertentu. Pada kasus yang dikerjakan, Peta Longsor merupakan gabungan dari peta
dasar kelerengan, curah hujan, dan jenis tanah yang sebelumnya telah di digitasi.
Untuk Peta Banjir merupakan gabungan dari peta kelerengan dan curah hujan.
Setelah Proses Union selesai, dilanjutkan dengan proses penghitungan jumlah
skor peta tersebut. Penghitungan rumus ini dikerjakan di field calculator yang ada
di menu attribute table. Rumus yang dipakai pada peta longsor adalah
(SkorLereng x 3) + (SkorHujan x 2) + (SkorTanah x 3). Rumus yang dipakai pada
peta banjir adalah (SkorLereng x 2) + (SkorHujan x 1). Setelah itu ganti warna
sesuai dengan nilai dari hasil perhitungan tersebut. Warna tersebut menandakan
tingkat kerawanan banjir maupun longsor pada peta.

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

Layouting
Layout berfungsi untuk membuat tampilan peta lebih baik. Layout ini
meliputi gridding yang berfungsi untuk membuat tampilan koordinat yang berada
pada sisi-sisi dari peta. Setelah itu diberi kop peta yang berisi nama institusi, skala
peta, arah utara, penyusun, keterangan peta.
2. 2 Data dan Peralatan
Peralatan yang digunakan antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Laptop
E-book, jurnal
Internet
ArcGis
Peta Dasar

BAB III
PEMBAHASAN

3. 1 Peta Rawan Longsor Daerah Q

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

Gambar 3.1 Peta Longsor


Dari peta rawan longsor daerah Q diatas dapat kita ketahui daerah dengan
warna merah yang berada di bagian tengah hingga atas dari peta merupakan
daerah rawan longsor. Daerah tersebut berada pada koordinat X 398000 406000
dan koordinat Y 9175000 9184000. Kemudian pada daerah dengan warna
kuning yang berada di bagian bawah peta merupakan daerah dengan tingkat
kerawanan longsor sedang. Daerah tersebut berada pada koordinat X 400000
409000 dan koordinat Y 9172000 9175000.
Berdasarkan hasil dari layouting peta pada gambar 3.1. yang merupakan
Peta Longsor, didapat bahwa daerah semakin ke utara semakin rawan longsor
dengan dilambangkan dengan warna merah, yang memungkinkan faktor soil atau
tanah yang mempengaruhi tingkat erosional yang tinggi pada suatu daerah
tersebut, lalu juga didukung dengan jenis soil yang berada pada daerah tersebut,
yangmana semakin ke Utara didapat sifat tanah dengan kelas I III yaitu
termasuk pada kelas yang jenis soilnya tidak peka hingga agak peka terhadap
erosional sehingga masih aman untuk ditempati dalam jangka waktu yang lama,
apabila dikaitkan dengan jenis soilnya didapat pada kelas I yaitu alluvial, gley,

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

planosol, hidromorf kelabu, untuk kelas II didapat latosol, dan kelas III yaitu;
brownforest soil, non calcic brown, mediteran, dan kambisol, sehingga didapat
suatu overlay peta yang daerahnya diplot atau berdasarkan metodologi union
didapatdaerah tidak rawan atau aman., selain itu apabila dikaitkan dengan
intensitas hujan (mm/hari) didapat intensitas yang tidak terlalu intensif atau deras
yangmana dapat diidentifikasi masuk kelas I - III yaitu keterdapatan intensitas
hujan yang sangat rendah hingga sedang sehingga tidak terlalu menimbulkan
rawan banjir pada daerah tersebut dengan intensitas hujan 0 27,70 mm/hari
karena masih adanya kemungkinan terjadinya banjir pada daerah pertemuan
daerah Utara dengan Selatan. Didapat juga, kemiringan lereng pada suatu daerah
yang termasuk kelas IV V yaitu curam hingga sangat curam yaitu dengan range
25,01 lebih dari 45,01
Selanjutnya untuk wilayah yang semakin ke Selatan, didapat dengan
simbol warna, berwarna merah, yang menunjukkan pengaruh erosional terhadap
tanah juga sangant mempengaruhi yangmana didapat termasuk dalam kelas III
IV yangmana didapat jenis soil yang agak peka hingga peka terhadap erosional,
yaitu pada kelas III didapat soil berupa brownforest soil, non calcic brown,
mediteran, dan kambisol, kelas IV yaitu andosol, laterit, grumusol, podsol, dan
podsolik , lalu apabila dikaitkan dengan intensitas hujan (mm/hari) termasuk
dalam kelas III IV yangmana merupakan intensitas yang sedang hingga tinggi
dengan range 20,71 mm/hari 34,80 mm/hari sehingga kemungkinan daerah pada
Selatan sering digenangi oleh bencana banjir, dan apabila dilihat dari sudut
kelerengannya didapat suatu tinggian yang relatif landai yang termasuk kelas I
III sehingga aliran hujan mengalir pada suatu titik rendahan dan menggenang di
daerah Selatan dengan range kemiringan lereng (%), 0 25 yaitu datar hingga
miring
3. 2 Peta Rawan Banjir Daerah Q

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

Gambar 3.2 Peta Banjir


Dari peta rawan banjir daerah Q diatas dapat kita ketahui daerah dengan
warna hijau yang berada di bagian tengah hingga atas dari peta merupakan daerah
yang tidak rawan banjir. Daerah tersebut berada pada koordinat X 398000
406000 dan koordinat Y 9175000 9184000. Kemudian pada daerah dengan
warna merah yang berada di bagian bawah peta merupakan daerah dengan tingkat
kerawanan banjir sedang. Daerah tersebut berada pada koordinat X 400000
409000 dan koordinat Y 9172000 9175000.
Berdasarkan hasil dari layouting peta pada gambar 3.2. yang merupakan
Peta Banjir, didapat bahwa daerah semakin ke utara semakin aman dari banjir
dengan dilambangkan dengan warna hijau, yang memungkinkan faktor soil atau
tanah yang mempengaruhi tingkat erosional yang tinggi pada suatu daerah
tersebut, lalu juga didukung dengan jenis soil yang berada pada daerah tersebut,
yangmana semakin ke Utara didapat sifat tanah dengan kelas I III yaitu
termasuk pada kelas yang jenis soilnya tidak peka hingga agak peka terhadap
erosional sehingga masih aman untuk ditempati dalam jangka waktu yang lama,
apabila dikaitkan dengan jenis soilnya didapat pada kelas I yaitu alluvial, gley,

Kelompok 1
Kelas B

Sistem Informasi Geografis 2015

planosol, hidromorf kelabu, untuk kelas II didapat latosol, dan kelas III yaitu;
brownforest soil, non calcic brown, mediteran, dan kambisol, sehingga didapat
suatu overlay peta yang daerahnya diplot atau berdasarkan metodologi union
didapatdaerah tidak rawan atau aman., selain itu apabila dikaitkan dengan
intensitas hujan (mm/hari) didapat intensitas yang tidak terlalu intensif atau deras
yangmana dapat diidentifikasi masuk kelas I - III yaitu keterdapatan intensitas
hujan yang sangat rendah hingga sedang sehingga tidak terlalu menimbulkan
rawan banjir pada daerah tersebut dengan intensitas hujan 0 27,70 mm/hari
karena masih adanya kemungkinan terjadinya banjir pada daerah pertemuan
daerah Utara dengan Selatan. Didapat juga, kemiringan lereng pada suatu daerah
yang termasuk kelas IV V yaitu curam hingga sangat curam yaitu dengan range
25,01 lebih dari 45,01
Selanjutnya untuk wilayah yang semakin ke Selatan, didapat dengan simbol
warna, berwarna merah, yang menunjukkan pengaruh erosional terhadap tanah
juga sangant mempengaruhi yangmana didapat termasuk dalam kelas III IV
yangmana didapat jenis soil yang agak peka hingga peka terhadap erosional, yaitu
pada kelas III didapat soil berupa brownforest soil, non calcic brown, mediteran,
dan kambisol, kelas IV yaitu andosol, laterit, grumusol, podsol, dan podsolik , lalu
apabila dikaitkan dengan intensitas hujan (mm/hari) termasuk dalam kelas III IV
yangmana merupakan intensitas yang sedang hingga tinggi dengan range 20,71
mm/hari 34,80 mm/hari sehingga kemungkinan daerah pada Selatan sering
digenangi oleh bencana banjir, dan apabila dilihat dari sudut kelerengannya
didapat suatu tinggian yang relatif landai yang termasuk kelas I III sehingga
aliran hujan mengalir pada suatu titik rendahan dan menggenang di daerah Selatan
dengan range kemiringan lereng (%), 0 25 yaitu datar hingga miring

BAB IV
Kelompok 1
Kelas B

10

Sistem Informasi Geografis 2015

KESIMPULAN

4. 1 Kesimpulan
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari peta rawan longsor daerah Q dengan warna merah yang berada di
bagian tengah hingga atas dari peta merupakan daerah rawan longsor,
sedangkan daerah dengan warna kuning yang berada di bagian bawah
peta merupakan daerah dengan tingkat kerawanan longsor sedang.
2. Dari peta rawan banjir daerah Q warna hijau yang berada di bagian
tengah hingga atas dari peta merupakan daerah yang tidak rawan
banjir, sedangkan daerah dengan warna merah yang berada di bagian
bawah peta merupakan daerah dengan tingkat kerawanan banjir
sedang.
3. Pada peta hasil overlay didapat Peta Daerah Q relatif semakin aman
dari banjir, namun rawan longsor ke Utara, dilihat dari faktor
kelerengan yang relatif agak curam hingga miring dan tidak menutup
kemungkinan juga memiliki kemiringan yang ekstrim atau tegak
sehingga relatif mudah tererosi, lalu didukung juga dengan curah hujan
yang rendah sehingga relatif tidak rawan banjir, didukung juga oleh
faktor jenis soil yang kurang peka hingga agak peka yangmana
mempengaruhi suatu lahan mudah longsor dan semakin ke Selatan
didapat suatu range daerah yang rawan banjir serta aman dari longsor
karena curah hujan tinggi, persentase kemiringan lereng rendah, dan
sifat soil yang mudah tererosi.

Kelompok 1
Kelas B

11