Вы находитесь на странице: 1из 28

RM.

Sonny Sasotya
Subbag Uroginekologi &
Rekonstruksi
Bagian Obstetri & Ginekologi
FKUP/ RSHS

Nama
: R.M. Sonny Sasotya
Tempat & tgl lahir : Bandung 7 oktober 1966
Pekerjaan
: Staff Subbagian
Uroginekologi & Rekonstruksi
Bagian OBGIN FKUP/RSHS
Pendidikan
: Spesialis OBGIN FK.
UNPAD tahun 2000
Konsultan uroginekologi
FK. UI tahun 2006
Organisasi
: Anggota IDI
Anggota POGI
Anggota PUGI
Anggota PERKINA
Anggota IUGA
Anggota AAVIS

Robekan pada vagina dan perineum


beserta jaringan di bawahnya yang
disertai robekan otot sfingter ani dan
mukosa anus.

Paling sering merupakan komplikasi dari


persalinan.

Merupakan penyebab utama


inkontinensia alvi

Prevalensi sampai 19% (Sultan 2007)

Sultan (1999)

Derajat 1

: robekan hanya mengenai epitel

vagina dan kulit


Derajat 2

tidak
Derajat 3

: robekan sampai otot perineum tapi


sfingter ani
: robekan sampai sfingter ani :

3a. < 50 % ketebalan sfingter ani


3b. > 50 % ketebalan sfingter ani
3c. hingga sfingter interna
Derajat 4: robekan hingga epitel anus

Mendiagnosis dengan pill rolling action

Instrumen untuk Reparasi Robekan Perineum :


Retractor Weislanders
Forceps gigi (fine & strong)
Needle holder (small and large)
Forceps Allis (4)
Forceps arteri (6)
Gunting McIndoe
Gunting pemotong jahitan
Spekulum Sims
Retraktor dinding samping dalam
vagina
Forceps pemegang kasa
Tampon
Kapas besar

PEMILIHAN BENANG BERDASARKAN


JARINGAN

Anal epithelium
PGA 3-0, 26 mm round bodies needle W9120

Internal Anal Sfingter


PDS 3-0, 26 mm round bodies needle W9124T

External Anal Sfingter


PDS 2-0, 26 mm round bodies needle W9124T

Perineal Muscles
PGA rapide 2-0, 35 mm tappercut needle W9124

Perineal skin
PGA rapide 2-0, 35 mm tappercut needle W9124

(dapat digunakan untuk subkutikuler atau jahitan


interrupted).

Reparasi sebaiknya hanya dilakukan oleh


dokter yang terlatih secara formal atau
di bawah supervisi dokter yang terlatih

Dilakukan di kamar operasi dengan


pencahayaan yang baik, menggunakan
peralatan yang sesuai dan dalam kondisi
asepsis.

Menggunakan anestesi umum atau


regional yang memberikan analgesi dan
relaksasi otot yang baik

Otot

sfingter ani dijahit dengan PDS atau


PGA 3/0. SAI harus diidentifikasi dan jika
robek harus dijahit terpisah dengan SAE.
SAI dijahit dengan cara interupted atau
matras.

Ujung-ujung

SAE harus diidentifikasi dan


dipegang dengan Allis forceps,
kemudian dibebaskan dari lemak
ischioanal sehingga mudah dimobilisasi.

SAE

dijahit dengan PDS atau PGA 2/0


menggunakan teknik overlap

Setelah

sfingter diperbaiki,
dilakukan penjahitan otot-otot
perineumuntuk membentuk kembali
perineal body

Terakhir

mukosa vagina dan kulit


perineum diaproksimasi dan dijahit
menggunakan PGA 2/0 secara
jelujur, sedangkan untuk kulit
perineum dijahit subkutikuler.

Pemeriksaan rektovaginal harus


dilakukan pascareparasi