You are on page 1of 11

Hordeolum

Disusun oleh:

dr. Alexandro Ivan C.

Pendamping:

dr. Eka Alpasra

Program Internsip Dokter Indonesia


Puskesmas Tembilahan Kota
Tembilahan
Indragiri Hilir
2015 - 2016

Ilustrasi Kasus
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: An S

Jenis Kelamin : Perempuan


Umur

: 15 tahun

Pekerjaan

: SMP

Alamat

: Telaga Biru

Tgl. Periksa

: 10 Mei 2016

II.

ANAMNESA (Autoanamnesis)

Keluhan Utama

: Benjolan di kelopak mata kiri

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Puskesmas Tembilahan Kota dengan keluhan ada benjolan di kelopak mata
kiri atas sejak 3 hari sebelum datang ke puskesmas. Awalnya berupa benjolan kecil
kemerahan kemudian semakin lama semakin besar sehingga kelopak mata kiri atas menjadi
merah dan bengkak. Benjolan disertai rasa sakit, terutama bila benjolan tersentuh dan terasa
gatal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama seperti ini sebelumnya.
Riwayat alergi obat disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak terdapat anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama dengan pasien.

Riwayat Pengobatan :

Selama sakit pasien belum berobat.


Riwayat trauma :
Riwayat trauma, terkena benda asing, atau bahan kimia pada mata disangkal oleh pasien.

III.

PEMERIKSAAN FISIS

Status generalis:
Keadaan umum

: Tampak Sakit Ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 780 x/ mnt

Respirasi

: 16 x/ mnt

Suhu

: 36,4 C

Status Internis:
Kepala

: Tidak ditemukan kelainan

Rambut

: Hitam, tidak mudah rontok

Mata

: Status lokalis

Mulut

: Tidak ditemukan kelainan

THT

: Tidak ditemukan kelainan

Leher

: Tidak ditemukan kelainan,

Thorax

:
Paru
- Inspeksi

: Normochest, simetris, retraksi tidak ada

- Palpasi

: Stem fremitus kanan kiri depan belakang sama kuat

- Perkusi

: Sonor

- Auskultasi

: Vesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada

Jantung
- Inspeksi

: Pulsasi ictus cordis tidak tampak

- Palpasi

: Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra

- Perkusi

: Redup

- Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
- Inspeksi

: Datar

- Palpasi

: Supel, turgor kulit baik, hepar-lien tidak membesar

- Perkusi

: Timpani

- Auskultasi

: Bising usus (+) menurun

Genitalia

: Tidak ditemukan kelainan

Ekstremitas

: Tidak ditemukan kelainan

STATUS OPHTALMOLOGIS
Pemeriksaan subyektif
Pemeriksaan
Visus

Pemeriksaan Objektif

OD
6/6

OS
6/6

INSPEKSI

OD

OS

Muscle balance

Orthotrophia
Normal ke segala arah

Normal ke segala arah

Gerakan bola mata

benjolan (+) diameter 0,5 cm

Palpebra Superior

edema (-)

Palebra inferior

edema (-)

edema (-)

Apparatus Lakrimalis

Lakrimasi(-)

Lakrimasi (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Konjungtiva Bulbi

Injeksi Konjungtiva (-)

Injeksi Konjungtiva (-)

Kornea
COA

Jernih
Sedang
Bulat

Jernih
Sedang
Bulat

Pupil

Refleks direk +

Refleks direk +

Iris
Lensa

Refleks indirek +
Sinekia (-)
Jenih

Refleks indirek +
Sinekia (-)
Jernih

Konjungtiva Tarsalis
Superior
Konjungtiva Tarsalis
Inferior

Nyeri tekan (+)

IV.

RESUME

Seorang perempuan berumur 15 tahun datang dengan keluhan :


Benjolan di kelopak mata kiri atas sejak 3 hari sebelum ke puskesmas yang awalnya berupa
benjolan kecil kemerahan kemudian semakin lama semakin besar sehingga kelopak mata
menjadi merah dan bengkak.
Benjolan disertai rasa sakit, terutama bila benjolan tersentuh dan terasa gatal.
Pada pemeriksaan fisis :
Visus ODS : 6/6
Palpebra inferior OS:
benjolan (+) diameter 0,5 cm
Nyeri tekan (+)
V.

DIAGNOSIS BANDING
Hordeolum eksterna OS
Hordeolum interna OS
Kalazion OS

VI.

DIAGNOSA KERJA
Hordeolum eksterna OS

VII.

PENATALAKSANAAN

Kompres hangat 4 kali sehari selama 15 menit OS

Salep mata erlamycetin (kloramphenicol) 4 kali sehari OS

Amoxicilin 3 x 500 mg P.O.

Prednison 2 x 5 mg P.O.

VIII. PROGNOSIS

Quo Ad Vitam

: Ad Bonam

Quo Ad fungsionam

: Dubia Ad Bonam

Quo Ad sanactionam

: Dubia Ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Hordeolum ( stye ) adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata
bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya oleh kuman
Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata
atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang terkena,
timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna
yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.

Hordeolum Eksternum
Adalah infeksi kelenjar sebaceous dari Zeis di dasar bulu mata, atau infeksi
pada kelenjar keringat apokrin dari Moll. [1Hordeolum eksternum terbentuk pada
bagian luar palpebra dan dapat dilihat sebagai benjolan merah kecil.
Hordeolum Internum
Adalah infeksi pada kelenjar sebaceous meibom yang melapisi bagian dalam
kelopak mata. Penyakit ini juga menyebabkan benjolan merah di bawah palpebra
(pada konjunctiva tarsalis) dan tampak dari luar sebagai bengkak dan kemerahan.
Hordeolum internum mirip dengan chalazia, tetapi cenderung lebih kecil dan lebih
menyakitkan dan biasanya tidak menghasilkan kerusakan permanen. Hordeolum
internum ditandai dengan onset akut dan biasanya pendek durasinya (7-10 hari tanpa
pengobatan) dibandingkan dengan chalazia yang kronis dan biasanya tidak sembuh
tanpa intervensi.

Gb I. Hordeolum eksterna

Gb II. Hordeolum interna


Pada hordeolum eksternus benjolan ikut bergerak dengan pergerakan kulit, benjolan
menonjol ke arah kulit, dan bila mengalami supurasi benjolanmemecah sendiri ke arah kulit.
Sedangkan pada hordeolum internus benjolan tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit,
benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan karena letaknya dalamtarsus jarang memecah
sendiri.
ETIOLOGI
Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.
PATOFISIOLOGI
Hordeolum externum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll.
Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus.
Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan
sekitarnya. Kedua tipe hordeolum dapat timbul dari komplikasi blefaritis.

TANDA DAN GEJALA


Gejala
-

Pembengkakan

Rasa nyeri pada kelopak mata

Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata

Riwayat penyakit yang sama

Tanda

Eritema

Edema

Nyeri bila ditekan di dekat pangkal bulu mata

Seperti gambaran absces kecil

Keluhan utama dapat berupa bengkak dan kemerahan pada kelopak mata yang terasa nyeri
untuk hoedeolum internum, dan bisul atau benjolan kmerahan, dapat disertai nanah atau tidak
pada hordeolum eksternum

PENATALAKSANAAN
Biasanya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu 5-7 hari.
Umum
1. Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk membantu
drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
2. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau sampo yang
tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses
penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
3. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang
lebih serius.
4. Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab
infeksi.
5. Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.

Obat
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada
perbaikan, dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.
1. Antibiotik topikal.
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari.

Dapat juga diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan
hordeolum interna ringan.
2. Antibiotik sistemik
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran
kelenjar limfe di preauricular.
Pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang sedang sampai berat. Dapat
diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari.
Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan clindamycin 300 mg oral 4
kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari.

Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur pembedahan
mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum.
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain
tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan
dilakukan insisi yang bila:
-

Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo
palpebra.

Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.