You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obstruktif intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering
dijumpai, merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis
akut. Penyebab yang paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi / streng, sedangkan
diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasi obstetri-ginekologik makin sering
dilaksanakan yang terutama didukung oleh kemajuan di bidang diagnostik kelainan
abdominalis.
Ileus obstruktif adalah suatu penyumabatan mekanis pada usus dimana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau mengganggu jalannya isi usus (Sabara,
2007). Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus (Davidson,
2006). Di amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya
(Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa
hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien yang dirawat jalan pada tahun 2004 menurut
Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.
Terapi ileus obstruktif biasanya melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu
kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan
secepat yang layak dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien
(Sabiston, 1995)]. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih lanjut tentang definisi
obstruktif ileus, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik,
penatalaksanaan medis serta asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami gangguan
intestinal pada ileus, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik dan
benar sehingga] dapat meningkatkan derajat kesembuhan pasien.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi dari sistem pencernaan ?
1.2.2 Bagaimana definisi dari obstruktif ileus ?
1.2.3 Bagaimanakah etilogi dari obstruktif ileus ?
1.2.4 Bagaimanakah pathway dan patofisilogi dari obstruktif ileus ?
1.2.5 Bagaimanakah manifestasi klinis dari obstruktif ileus ?
1.2.6 Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik pada obstruktif ileus ?
1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan medis pada obstruktif ileus ?
1.2.8 Bagaimanakah komplikasi dari obstruktif ileus ?
1.2.9 Bagimanakah asuhan keperawatan dari obstruktif ileus ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari sistem pencernaan.
1.3.2 Untuk mengetahui definisi dari obstruktif ileus.
1.3.3 Untuk mengetahui etiologi pada obstruktif ileus.
1.3.4 Untuk mengetahui pathway dan patofisilogi dari obstruktif ileus.
1.3.5 Untuk mengetahui manifestasi klinis dari obstruktif ileus.
1.3.6 Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada obstruktif ileus.
1.3.7 Untuk mengetahui penatalaksanaan medis pada obstruktif ileus.
1.3.8 Untuk mengetahui komplikasi dari obstruktif ileus.
1.3.9 Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari obstruktif ileus.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan
a. Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu:
1). Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan pipi.
2). Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang
maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah belakang bersambung dengan faring.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan,
merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga
mulut dan didepan ruas tulang belakang.
c. Esofagus (kerongkongan)
Panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.
Esofagus terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung setelah melalui thorak
menembus diafragma masuk kedalam abdomen ke lambung.
d. Gaster (lambung)
Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang paling banyak
terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian lambung antara lain:
1). Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah kiri osteum
kardium biasanya berisi gas.
2). Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah notura
minor.
3). Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk spinkter pilorus.
4). Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum kordi samapi
pilorus.
5). Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi kiri osteum
kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus anterior.
Fungsi lambung
1). Menampung makanan.
2). Getah cerna lambung yang dihasilkan pepsin, asam garam, renin dan lipid.
e. Usus halus
Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada
pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya 6cm, merupakan saluran paling panjang
tempat proses pencernaan dan obstruksi hasil pencernaan makanan.
1). Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung
kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum terdapat
selaput lendir yang nambulir disebut papila vateri.
2). Yeyunum dan ileum
Panjangnya sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyunum dengan 2-3

meter dan ileum dengan panjang 4-5 meter. Lekukan yeyunum dan ileum melekat pada
dinding abdomen fasterior dengan perantara lipatan peritoneum yang berbentuk kipas
disebut mesentrium.
3). Mukosa usus halus
Permukaan epitel yang sangat halus melalui lipatan mukosa dan makro villi
memudahkan penernaan dan absorpasi.
Fungsi usus besar:
1). Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler
darah dan saluran-saluran limfe.
2). Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
3). Karbohirat diserap dalam bentuk monosakarida didalam usus halus.
f. Usus besar/interdinum mayor
Panjangnya 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari makanan, tempat
tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas 7 bagian:
1). Sekum.
2). Kolon asenden.
Terletak diabdomen sebelah kanan, membujur keatas dari ileum sampai kehati,
panjangnya 13 cm.
3). Appendiks (usus buntu)
Seing disebut umbai cacing dengan panjang 6 cm.
4). Kolon transversum.
Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan panjang 28 cm.
5). Kolon desenden.
Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke bawah dengan
panjangnya 25 cm.
6). Kolon sigmoid.
Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf "S" ujung bawah
berhubungan dengan rektum.
7). Rektum.
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus.
8). Anus.
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia
luar.
(Drs. Syaifuddin, hal 87-92)

2.2 Definisi Obstruktif Ileus.


a. Obstruktif ileus adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau mengganggu jalannya isi usus.
(medicastore.com)
b. Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal
melalui
saluran
pencernaan.
(Brunner
and
Suddarth,
2001).
c. Obstruksi usus adalah gangguan isi usus disepanjang saluran usus (Patofisiologi vol 4,
hal 403).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total atau
parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau parsial yang

menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau gangguan usus disepanjang
usus.
2.3 Etiologi
1. Mekanis : suatu penyebab fisik menyumbat usu dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik.
Misalnya : intussusepsi, tumor dan neoplasma, stenosis, perlekatan, hernia, dan abses.
2. Fungsional/ non mekanis: terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan
peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Misalnya:
amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes melitus, atau gangguan
neurologis seperti penyakit parkinson.
Atau Ileus Obstruktif yaitu terganggunya intestinal secara fisik dikarenakan keadaankeadaan seperti:
-

Perlengketan
Hernia
Neoplasma
Penyakit peradangan usus
Benda asing dan batu empedu
Fecal impaction
Stricture: congenital dan radiasi
Intusepsi (biasa pada bayi dan balita)
Volvulus (biasa pada manula)
(Hotma Romahorbo)

2.4 Patofisiologi dan Pathway


Pathofisiologi:
Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obstruksi usus tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau
fungsional. Perbedaan utamanya adalah obstruksi paralitik, paralitik dihambat dari
permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat kemudian
intermiten
akhirnya
hilang.
Limen usus yang tersumbat profesif akan terenggang oleh cairan dan gas. Akumulasi gas
dan cairan didalam lumen usus sebelah proksimal dari letak obstruksi mengakibatkan
distensi dan kehilangan H2O dan elektrolit dengan peningkatan distensi maka tekanan
intralumen meningkat, menyebabkan penurunan tekanan vena dan kapiler arteri sehingga
terjadi iskemia dinding usus dan kehilangan cairan menuju ruang peritonium akibatnya
terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus, bakteri yang berlangsung cepat
menimbulkan peritonitis septik ketika terjadi kehilangan cairan yang akut maka
kemungkinan terjadi syok hipovolemik. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan
atau
jika
terjadi
stranggulasi
akan
menyebabkan
kematian.
(Pice and Wilson, hal 404)

Gambar 1.

Pathway:

Gambar 2.

2.5 Manifestasi Klinis


a. Nyeri tekan pada abdomen.
b. Muntah.
c. Konstipasi (sulit BAB).
d. Distensi abdomen.
e. BAB darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus (Kapita Selekta, 2000, hal 318).
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Adapun
pemeriksaan
diagnostik
yang
bisa
dilakukan
antara
lain:
a. Pemeriksaan sinar x: Untuk menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam
usus.
b. Pemeriksaan laboratorium (misalnya pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap)
akan menunjukan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan
infeksi.
c. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat penting untuk menegakkan diagnosa
obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai oleh udara dalam usus halus, tetapi
tidak ada gas dalam usus. Bila foto fokus tidak memberi kesimpulan, dilakukan
radiogram barium untuk mengetahui tempat obstruksi (Brunner and Suddarth, 2001, hal
1121).
2.7 Penatalaksanaan
a. Pasang selang hidung untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi
distensi abdomen.
b. Pasang infus untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit.
c. Lakukan pembedahan.
(Kapita Selekta, 2000, hal 1318)
2.8 Komplikasi
a. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi
peradangan
atau
infeksi
yang
hebat
pada
intra
abdomen.
b. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra
abdomen.
c. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
d. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122)
2.9 Asuhan keperawatan dari Obstruktif Ileus
1.
Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan dan ngantuk.
Tanda : Kesulitan ambulasi
b. Sirkulasi
Gejala : Takikardia, pucat, hipotensi ( tanda syok)
c. Eliminasi
Gejala : Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus
Tanda : Perubahan warna urine dan feces
d. Makanan/cairan
Gejala : anoreksia,mual/muntah dan haus terus menerus.

Tanda : muntah berwarna hitam dan fekal. Membran mukosa pecahpecah. Kulit buruk.
e. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
Tanda : Distensi abdomen dan nyeri tekan
f. Pernapasan
Gejala : Peningkatan frekuensi pernafasan,
Tanda : Napas pendek dan dangkal
g. Diagnostik Test
1)
Pemeriksaan sinar X: akan menunjukkan kuantitas abnormal dari gas dan cairan dalam
usus.
2)
Pemeriksaan simtologi
3)
Hb dan PCV: meningkat akibat dehidrasi
4)
Leukosit: normal atau sedikit meningkat
5)
Ureum dan eletrolit: ureum meningkat, Na+ dan Cl- rendah
6)
Rontgen toraks: diafragma meninggi akibat distensi abdomen
7)
Rontgen abdomen dalam posisi telentang: mencari penyebab (batu empedu, volvulus,
hernia)
8)
Sigmoidoskopi: menunjukkan tempat obstruktif. (Doenges, Marilynn E, 2000)
2.
Diagnosa Keperawatan
a.
Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak
adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus yang ditandai dengan adanya mual,
muntah, demam dan diaforesis.
b.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi.
c.
Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen
d.
Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas usus.
e.
Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
f.
Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
(Doengoes, Marilynn E. 2000) dan ( Sabara, 2007 dikutip dari http://www.Files-ofDrsMed.tk )
3.

Perencanaan Keperawatan

a.
Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang
tidak adequat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus yang ditandai dengan adanya
mual, muntah, demam dan diaforesis.
Tujuan :
Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi, Mempertahankan hidrasi adekuat dengan bukti
membran mukosa lembab, turgor kulit baik, dan pengisian kapiler baik, tanda-tanda vital
stabil, dan secara individual mengeluarkan urine dengan tepat.
Kriteria hasil:
1.
Tanda vital normal (N:70-80 x/menit, S: 36-37 C, TD: 110/70 -120/80 mmHg)
2.
Intake dan output cairan seimbang
3.
Turgor kulit elastic
4.
Mukosa lembab
5.
Elektrolit dalam batas normal (Na: 135-147 mmol/L, K: 3,5-5,5 mmol/L, Cl: 94111 mmol/L).
Intervensi
Rasional
1. Kaji kebutuhan cairan pasien
1. Mengetahui kebutuhan cairan

Intervensi

Rasional
pasien.

2. Observasi tanda-tanda vital: N, 2. Perubahan yang drastis pada


TD, P, S
tanda-tanda
vital
merupakan
indikasi kekurangan cairan.
3.
kekurangan
cairan
dan
3. Observasi tingkat kesadaran dan elektrolit dapat mempengaruhi
tanda-tanda syok
tingkat
kesadaran
dan
mengakibatkan syok.
4. Menilai fungsi usus
4. Observasi bising usus pasien
tiap 1-2 jam
5. Menilai keseimbangan cairan
5. Monitor intake dan output
secara ketat
6. Menilai keseimbangan cairan
6. Pantau hasil laboratorium serum dan elektrolit
elektrolit, hematokrit
7. Meningkatkan pengetahuan
7. Beri penjelasan kepada pasien pasien
dan
keluarga
serta
dan keluarga tentang tindakan yang kerjasama antara perawat-pasiendilakukan: pemasangan NGT dan keluarga.
puasa.
8. Memenuhi kebutuhan cairan
8. Kolaborasi dengan medik untuk dan elektrolit pasien.
pemberian terapi intravena
b.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi.
Tujuan :
Berat badan stabil dan nutrisi teratasi.
Kriteria hasil :
1. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi.
2. Berat badan stabil.
3. Pasien tidak mengalami mual muntah.
Intervensi
Rasional
1. Tinjau faktor-faktor individual 1.
Mempengaruhi
pilihan
yang mempengaruhi kemampuan intervensi.
untuk mencerna makanan, mis:
status puasa, mual, ileus paralitik
setelah selang dilepas.
2.
Auskultasi bising usus; 2.
Menentukan kembalinya
palpasi abdomen; catat pasase peristaltik ( biasanya dalam 2-4
flatus.
hari ).
3.
Identifikasi kesukaan / 3.
Meningkatkan kerjasama
ketidaksukaan diet dari pasien. pasien
dengan
aturan
diet.
Anjurkan pilihan makanan tinggi Protein/vitamin
C
adalah
protein dan vitamin C.
kontributor
utuma
untuk
pemeliharaan
jaringan
dan
perbaikan. Malnutrisi adalah fator
dalam menurunkan pertahanan
terhadap infeksi.
4.
Sindrom malabsorbsi dapat

Intervensi
4. Observasi terhadap terjadinya
diare; makanan bau busuk dan
berminyak.
5. Kolaborasi dalam pemberian
obat-obatan
sesuai
indikasi:
Antimetik, mis: proklorperazin
(Compazine).
Antasida
dan
inhibitor histamin, mis: simetidin
(tagamet).

Rasional
terjadi setelah pembedahan usus
halus, memerlukan evaluasi lanjut
dan perubahan diet, mis: diet
rendah serat.
5.
Mencegah
muntah.
Menetralkan atau menurunkan
pembentukan
asam
untuk
mencegah erosi mukosa dan
kemungkinan ulserasi.

c.
Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :
pola nafas menjadi efektif
Kriteria hasil :
pasien memiliki pola pernafasan: irama vesikuler, frekuensi: 18-20x/menit
Intervensi
Rasional
1. Observasi TTV: P, TD, N,S
1.
Perubahan pada pola nafas
akibat adanya distensi abdomen
dapat mempengaruhi peningkatan
hasil TTV.
2. Kaji status pernafasan: pola, 2.
Adanya distensi pada
frekuensi, kedalaman
abdomen
dapat
menyebabkan
perubahan pola nafas.
3. Kaji bising usus pasien
3.
Berkurangnya/hilangnya
bising usus menyebabkan terjadi
distensi
abdomen
sehingga
mempengaruhi pola nafas.
4. Tinggikan kepala tempat tidur 4.
Mengurangi penekanan pada
40-60 derajat
paru akibat distensi abdomen.
5. Observasi adanya tanda-tanda 5.
Perubahan pola nafas akibat
hipoksia jaringan perifer: cianosis adanya distensi abdomen dapat
menyebabkan oksigenasi perifer
terganggu yang dimanifestasikan
dengan adanya cianosis.
6. Monitor hasil AGD
6.
Mendeteksi adanya asidosis
respiratorik.
7. Berikan penjelasan kepada 7.
Meningkatkan pengetahuan
keluarga pasien tentang penyebab dan kerjasama dengan keluarga
terjadinya distensi abdomen yang pasien.
dialami oleh pasien
8. Laksanakan program medic
pemberian terapi oksigen
8.
Memenuhi
kebutuhan
oksigenasi pasien

d.
Gangguan pola eliminasi: konstipasi berhubungan dengan disfungsi motilitas
usus.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola eliminasi kembali normal.
Kriteria hasil:
Pola eliminasi BAB normal: 1x/hari, dengan konsistensi lembek, BU normal: 5-35 x/menit,
tidak ada distensi abdomen.
Intervensi
Rasional
1. Kaji dan catat frekuensi, warna 1. Mengetahui ada atau tidaknya
dan konsistensi feces
kelainan yang terjadi pada
eliminasi fekal.
2. Auskultasi bising usus
2. Mengetahui normal atau
tidaknya pergerakan usus.
3. Kaji adanya flatus

3. Adanya flatus menunjukan


perbaikan fungsi usus.
4. Kaji adanya distensi abdomen
4. Gangguan motilitas usus dapat
menyebabkan akumulasi gas di
dalam lumen usus sehingga terjadi
distensi abdomen.
5. Berikan penjelasan kepada 5. Meningkatkan pengetahuan
pasien dan keluarga penyebab pasien dan keluarga serta untuk
terjadinya gangguan dalam BAB
meningkatkan kerjasana antara
perawat-pasien dan keluarga.
6. Kolaborasi dalam pemberian 6. Membantu dalam pemenuhan
terapi pencahar (Laxatif)
kebutuhan eliminasi
e.
Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :
rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil:
pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat
ditoleransi, menunjukkan relaks.
Intervensi
Rasional
1.
Observasi TTV: N, TD, HR, 1.
Nyeri hebat yang dirasakan
P tiap shif
pasien akibat adanya distensi
abdomen dapat menyebabkan
peningkatan hasih TTV.
2.
Kaji
keluhan
nyeri, 2.
Mengetahui kekuatan nyeri
karakteristik dan skala nyeri yang yang dirasakan pasien dan
dirasakan
pesien
sehubungan menentukan tindakan selanjutnya
dengan adanya distensi abdomen
guna mengatasi nyeri.
3.
Berikan posisi yang nyaman: 3.
Posisi yang nyaman dapat
posisi semi fowler
mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan pasien
4.
Ajarkan dan anjurkan tehnik 4.
Relaksasi dapat mengurangi
relaksasi tarik nafas dalam saat rasa nyeri
merasa nyeri

Intervensi
5.
Anjurkan pasien untuk
menggunakan tehnik pengalihan
saat merasa nyeri hebat.
6.
Kolaborasi dengan medic
untuk terapi analgetik

Rasional
5.
Mengurangi
dirasakan pasien.

nyeri

yang

6.
Analgetik dapat mengurangi
rasa nyeri

f.
Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan:
Kecemasan teratasi.
Kriteria hasil :
pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan mendemonstrasikan
keterampilan koping positif.
Intervensi
Rasional
1.
Observasi
adanya 1.
Rasa cemas yang dirasakan
peningkatan kecemasan: wajah pasien dapat terlihat dalam
tegang, gelisah
ekspresi wajah dan tingkah laku.
2.
Mengetahui
tingkat
2.
Kaji adanya rasa cemas yang kecemasan pasien.
dirasakan pasien
3.
Dengan mengetahui tindakan
3.
Berikan penjelasan kepada yang
akan
dilakukan
akan
pasien dan keluarga tentang mengurangi tingkat kecemasan
tindakan yang akan dilakukan pasien
dan
meningkatkan
sehubungan
dengan
keadaan kerjasama
penyakit pasien
4.
Dengan mengungkapkan
4.
Berikan kesempatan pada kecemasan akan mengurangi rasa
pasien untuk mengungkapkan rasa takut/cemas pasien
takut atau kecemasan yang
dirasakan
5.
Lingkungan yang tenang dan
5.
Pertahankan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi stress
tenang dan tanpa stres.
pasien
berhadapan
dengan
penyakitnya
6.
Support system dapat
6.
Dorong dukungan keluarga mengurani rasa cemas dan
dan
orang
terdekat
untuk menguatkan
pasien
dalam
memberikan support kepada pasien memerima keadaan sakitnya.
(Doengoes, Marilynn E. 2000) dan ( Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-ofDrsMed.tk )

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Obstruksi ileus adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh
sumbatan mekanik.
Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus itu sama, tanpa memandang apakah
obstruksi usus tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional.
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi, memperbaiki
peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki
kelangsungan dan fungsi usus kembali normal serta dilakukan tindakan kolostomi dan stent.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan kepada pembaca dan penulis mengenai makalah ini
adalah:
1.
Diharapkan penulis dapat mengembangkan dan melanjutkan penulisan makalah ini.
2.
Diharapkan hasil penulisan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan ilmu
pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien. Penerbit Buku Kedokteran, EGC:
Jakarta
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Harrison. 2000. Prinsip-prinsip Penyakit Dalam, edisi XIII, EGC: Jakarta.
Zwani. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Obstruksi Usus
(http://keperawatan-gun.blogspot.com/2007/07/obstruksi-usus.html. Diakses tanggal 18
Nopember 2011).
Vanilow, Barry. 2010. Askep Ileus Obstruksi . (http://barryvanilow.blogspot.com/. Diakses
tanggal 18 Nopember 2011)