You are on page 1of 6

TINGGALKAN ZONA NYAMAN, DAPATKAN PENGALAMAN

Muhammad Agus Massholeh


3401413129
Bahasa Indonesia

Mahasiswa Saat Ini


Dalam kamus mahasiswa pasti kita mengenal adanya mahasiswa kupukupu yang merupakan singkatan dari kuliah pulang kuliah pulang. Istilah
mashiswa kupu-kupu ditujukan bagi mahasiswa yang kesehariannya hanya
pergi ke kampus untuk berangkat kuliah setelah selesai kuliah pulang ke kos
istirahat, mengerjakan tugas, mencari hiburan, tidur, kemudian paginya berangkat
ke kampus lagi, dan seterusnya seperti itu. Mungkin kita akan merasa nyaman
dengan aktivitas itu sebagai mahasiswa, terlebih jika kita hanya mengejar prestasi
akademik ketika kita kuliah, tentu saja banyak waktu yang bisa kita gunakan
untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa agar
tercapai target akademiknya. Akan tetapi, apakah hanya akademik saja yang perlu
kita targetkan? Apakah kita sudah puas dengan prestasi akedimik yang tinggi?
Tentu saja ada hal lain yang kita butuhkan untuk bekal kita saat lulus selain
prestasi akademik yang kita kejar-kejar itu. Banyak hal yang tidak akan kita
ketahui ketika kita hanya diam di dalam lingkaran nyaman kita yang hanya fokus
terhadap akademik semata dan tidak mau beranjak keluar dari lingkaran yang
sudah kita buat tersebut untuk mencari tahu hal baru selain akademik.
Meninggalkan tempat paling nyaman kita yang bisa dikatakan sebagai zona
nyaman (comfort zone) kita sebagai mahasiswa tentu akan membuat kita berpikir
kembali karena kita harus membagi waktu untuk mencari hal baru dan
mempertahankan akademik.
Kapan lagi kita akan berkembang jika kita hanya berdiam diri dalam zona
nyaman kita dan tidak mau bergerak melangkah keluar dari zona nyaman yang
sudah kita buat. Pengalaman untuk hidup mandiri tidak datang dengan sendirinya,
tentu saja kita perlu mencarinya selagi kita masih hidup dibawah tanggung jawab

orang tua kita agar kelak ketika kita sudah lepas dari tanggung jawab orang tua,
kita sudah siap untuk hidup mandiri berbekal pengalaman yang sudah kita
dapatkan. Namun, berbeda lagi ketika kita hanya diam dan menikmati
kenyamanan kita saat ini yang kita tahu hanya mengenai akademik dan akademik,
lalu dari mana kita akan tahu hal lain selain akademik.
TETAP BERTAHAN ATAU TINGGALAKANDI ZONA NYAMAN?
Comfort Zone atau zona nyaman diartikan sebagai kondisi dimana kita
sudah hidup nyaman di dalam aktivitas keseharian kita saat ini dan selalu terulang
setiap harinya. Menurut Alesandair White (2008) the comfort zone is a
behavioural state within which a person operates in an anxiety-neutral condition,
using a limited set of behaviours to deliver a steady level of performance, usually
without a sense of risk. Dari pengertian diatas, dapat kita ketahui orang yang
hidup di zona nyaman cenderung hidup stabil dan tidak mau mengambil resiko
dalam kehidupannya karena mereka menganggap kehidupan mereka sudah teratur
dan tidak mau merusak keteraturan hidup mereka dengan mengambil resiko.
Tentu saja setiap orang memiliki pilihan tersendiri terhadap kehidupannya.
Apakah orang tersebut akan tetap bertahan dalam zona nyaman atau memilih
untuk meninggalkan zona nyaman mereka. Dengan pilihan tersebut tentunya ada
sudut pandang yang berbeda dari setiap orang mengenai zona nyaman. Bagi orang
yang Pro Comfort Zone tentu saja menganggap tetap tinggal dalam zona nyaman
sebagai pilihan mereka. Karena dalam zona nyaman mereka sudah dapat hidup
secara teratur dan stabil, tidak mau mengambil resiko untuk mengubah pola
kehidupannya. Sedangkan bagi orang yang Contra Comfort Zone menganggap
zona nyaman itu berbahaya. Mereka tidak mau terlena dan menganggap zona
tersebut membosankan sehingga mereka beranjak keluar untuk mendapatkan
tantangan yang akan menambah pengalaman mereka diluar rutinitas yang teratur
dan dianggap membosankan.
Adapun perbandingkan alasan mereka yang ingin bertahan dengan mereka
yang ingin meninggalkan Comfort Zone.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jump out of the comfort zone


Tertarik dan tertantang mencoba sesuatu
yang baru
Dapat meningkatkan dan memperluas area
Comfort Zone,
Meningkatkan rasa percaya diri
Pengalaman adalah sarana pembelajaran
dalam memperluas wawasan
Mengukur kemampuan diri dalam
menghadapi hal baru
Menjadi pribadi yang menarik dan berbeda
Menjadi lebih bijak dalam melakukan
sesuatu

Dont leave the comfort zone


1. Kekhawatiran mencoba hal baru yang
beresiko.
2. Kekhawatiran kehilangan kompetensi dan
tugas yang telah dikuasai
3. Telah nyaman dengan kondisi saat ini
4. Kekhawatiran disingkirkan karena berbeda
dengan yang lain
5. Keengganan bekerja lebih keras lagi
6. Kekhawatiran menghadapi kegagalan

Dengan perbandingan kedua alasan diatas dengan keluar dari Comfort


Zone

merupakan

pilihan

yang

tepat

untuk

mencari

pengalaman

dan

mengembangkan diri. Namun, sejauh mana kita perlu melangkah keluar dari zona
nyaman agar kita tetap bisa mengontrol diri? Kita perlu mengetahui terlebih
dahulu jenis-jenis zona dalam proses pembelajaran.
JENIS-JENIS ZONA DALAM PROSES BELAJAR
1. Zona Nyaman (Comfort Zone)
Zona nyaman didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang
beroperasi tanpa kecemasan, menggunakan seperangkat perilaku yang terbatas
untuk memberikan tingkat kinerja yang stabil tanpa risiko. Dalam definisi itu ada
istilah seperangkat perilaku yang terbatas dan menghasilkan tingkat kinerja
yang stabil. Hal ini menyiratkan bahwa tidak ada usaha mengembangkan
keterampilan baru. Beberapa pakar menyebut zona ini dengan No Progress Zone.
Dalam kehidupan nyata, seseorang yang bekerja dengan kinerja yang stabil (tetap)
adalah mereka dengan kemampuan rata-rata atau biasa-biasa saja. KInerja mereka
tidak pernah dibicarakan, lebih buruk atau bahkan dilupakan. Jarang kita lihat
orang yang bisa mencapai puncak karier hanya dengan kinerja biasa-biasa saja.
Mereka umumnya menjadi besar dan sukses karena kinerja yang luar biasa dan
berani out of the box.
2. Zona Pembelajaran (Learning/Stretch Zone)

Zona pembelajaran berada sedikit di luar zona nyaman. Seseorang dapat


sampai pada zona ini jika berusaha keras dan memaksakan diri keluar dari zona
nyaman. Beberapa buku menyebut zona ini dengan Stretch Zone atau Optimal
Performance Zone. Dikatakan Stretch Zone karena memang pada zona ini
umumnya orang mengalami stres. Seseorang yang tertantang untuk melakukan
sesuatu yang baru akan berusaha mengerahkan kemampuan yang dimilikinya
untuk mencapai hal-hal yang luar biasa. Adalah hal yang wajar apabila kita cemas
menghadapi tantangan baru. Namun demikian, rasa keingintahuan yang besar ini
dapat mentolerir kecemasan yang dialami yang dapat mengoptimalkan kinerja.
itulah alasan Yerkes and Dodson melakukan eksperimen mengenai pengaruh
anxiety dengan kinerja. Ia menyatakan bahwa anxiety improves performance
until a certain optimum level of arousal has been reached. Beyond that point,
performance deteriorates as higher levels of anxiety are attained. Ia
mengistilahkan zona ini sebagai optimal level of anxiety, yaitu tingkat kecemasan
moderat

yang

dapat

mengoptimalkan

kinerja.

Jadi,

zona

ini

menggerakkanseseorang ke arah tujuan hidup yang lebih baik.


3. Zona Panik (Panic/ Danger Zone)
Zona panik berada di luar zona pertumbuhan.Dinamakan zona panik
karena

kita

belum

pernah

berada

dalam

zona

ini.

Beberapa

pakar

mengistilahkannya dengan danger zone. Berada dalam zona ini, seseorang akan
mengalami kecemasan tinggi karena berada jauh di luar batas kemampuan.
Kaitannya dengan kehidupan mahasiswa yang hidup dalam Comfort Zone
dengan pola hidup mahasiswa kupu-kupu ialah mereka yang tidak mau
meninggalkan rutinitas sehari-hari yang hanya pergi ke kampus, mencari hiburan,
mengerjakan tugas,dan kembali tidur, begitu seterusnya. Timbulah pertanyaan dari
keseharian mahasiswa yang memiliki pola hidup seperti itu, apakah mereka bisa
mengembangkan pemikiran mereka? Tentu saja tidak, karena mereka sudah
merasa nyaman dengan apa yang dilakukan sehari-hari sehingga tidak mau
mengambil resiko untuk mengubah pola hidup dengan memasukan aktivitas baru
dalam rangkaian keseharian. Bagaimana akan berkembang jika tidak mau belajar
diluar apa yang sudah dipelajari selama ini. Terlalu nyaman dalam Comfort Zone
atau zona nyaman akan menjadi berbahaya bagi mahasiswa karena yang mereka

tahu hanyalah apa yang sudah didapatkan dalam perkuliahan saja mengenai
akademik. Lantas bagaimana dengan hal-hal yang berkaitan dengan nonakademik? Dimana kita bisa mengembangkan kemampuan non-akademik?
Ketika mahasiswa lulus dari perkuliahan mereka akan disuguhkan dengan
lapangan pekerjaan yang begitu kompleks sesuai dengan bidang masing-masing
lulusan. Bukan hanya nilai akademik saja yang akan digunakan untuk
mendapatkan pekerjaan yang begitu kompleks, tetapi perlu keterampilan lain yang
tidak kita pelajari dalam proses perkuliahan di dalam ruangan. Keterampilan itu
didapatkan melalui kegiatan-kegiatan diluar zona nyaman mahasiswa yang hanya
kuliah, cari hiburan, mengerjakan tugas, dan tidur lagi. Sebagai contoh ketika kita
kuliah mengambil prodi pendidikan tentu saja prospek kedepan kita ialah untuk
menjadi guru, mentor, ataupun dosen. Untuk menjadi seorang guru sendiri, selain
menguasai materi pembelajaran pasti kita perlu ketrampilan lain yakni
keterampilan dalam berbicara didepan para siswa yang akan kita ajar. Ketika kita
menguasai materi namun kita merasa gugup dalam berbicara di depan umum tentu
saja materi yang akan kita sampaikan tidak maksimal dan kemungkinan besar
dapat membuat siswa yang kita ajar menjadi bingung dalam menerima materi
yang diajarkan. Memang, kita dalam perkuliahan sedikit banyak diajarkan
bagaimana cara kita menyampaikan materi kepada orang lain melalui presentasi
kelompok yang seringkali kita lakukan dalam perkuliahan, tetapi apakah dengan
porsi tersebut akan cukup untuk mendukung kita dalam mengajar kelak? Tentunya
kita perlu melangkah meninggalkan zona nyaman untuk mendapatkan
pengalaman yang membuat kita bisa berbicara didepan umum untuk mendukung
profesi kita.
Salah satu tujuan yang ketika kita melangkah keluar dari zona nyaman
ialah organisasi intra kampus seperti HIMA, BEM Fakultas, BEM KM, ataupun
UKM. Sebagai contoh ketika kita masuk dalam HIMA jurusan, kita sudah
memilih untuk melangkah meninggalkan zona nyaman sebagai mahasiswa
normal. Karena dengan berkecimpung dalam organisasi, berarti kita akan
mengurangi waktu kita diluar waktu kuliah untuk berorganisasi. Tujuan memasuki
organisasi pastilah untuk mencari pengalaman. Apapun pengalaman yang akan

kita dapatkan setelah mengikuti organisasi tergantung dengan apa yang kita
lakukan ketika masih aktif dalam organisasi tersebut.
Seperti yang kita ketahui dalam organisasi tidak akan lepas dari yang
namanya rapat dan kegiatan. Kita melakukan rapat untuk menyiapkan suatu
kegiatan agar dapat terlaksana dengan lancar. Adanya rapat dan kegiatan ini
tentunya menambah agenda dalam daftar rutinitas sebagai mahasiswa. Disinilah
titik dimana mahasiswa keluar dari zona nyaman mereka sehingga tidak menjadi
mahasiswa kupu-kupu. Terlebih lagi ketika kita menjadi penanggung jawab
sebuah kegiatan dan dalam setiap rapat menjadi pemimpin rapat sehingga kita
ditutut untuk bisa berbicara di depan forum mrmimpin rapat. Dengan begitu
mengikuti organisasi akan menambah pengalaman kita dalam menguasai
ketrampilan berbicara didepan orang banyak yang akan berguna ketika kita
menjadi seorang pendidik kelak.
Setelah kita melangkah meninggalkan Comfort Zone dengan masuk ke
dalam organisasi pasti kita mengalami rasa cemas karena ada tantangan baru yang
hadir dalam kehidupan mereka yang memaksa mereka untuk mengeluarkan
kemampuan dalam menggerakan organisasi yang diikuti. Namun, dengan
keinginantahuan kita sambil belajar akan mentolerir kecemasan dalam organisasi
sehingga mahasiswa dapat mengoptimalkan kenirja dalam organisasi tanpa
mengganggu kegiatan perkuliahannya. Inilah zona diluar Comfort Zoneyang
disebut Learning Zone. Zona yang dimana kita belajar menyesuaikan diri dengan
zona diluar Comfort Zone.
Sebenarnya, ketika kita keluar dari zona nyaman atau Comfort Zonetidak
sepenuhnya kita benar-benar keluar, tetapi lebih kepada kita memperluas zona
nyaman kita atau ExpandComfort Zone. Karena ketika kita keluar dari Comfort
Zonesebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja kemudian kita mampu merasa
nyaman dalam zona diluar Comfort Zone sama saja kita memperluas zona nyaman
kita dan akan terus berkembang sampai batas kemampuan kita dalam
mengembangkan diri diluar Comfort Zone.