You are on page 1of 39

ANALISIS KEAUSAN SPROKET PADA MESIN PEMERAS

SARI SINGKONG
DI PT. SEMANGAT JAYA PESAWARAN LAMPUNG
(Laporan Kerja Praktik)

Oleh
Jati Wahyu Nugraha

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2016

I. PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
PT. Semangat Jaya merupakan produsen tepung tapioka yang terletak di Desa
Bangunsari, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Provinsi
Lampung. Perusahaan ini merupakan perusahaan perseorangan yang dimiliki
oleh Hi. Supar. PT. Semangat Jaya memiliki 4 pabrik singkong yang di
pimpin oleh Hi. Supar. Dua Pabrik terletak di Negeri Katon, satu di Adiluwih
dan satu di Indo Lampung.

Perusahaan ini mengawali kegiatannya dalam pembuatan gaplk, kemudian


pada tahun 2001 berkembang menjadi perusahaan yang memproduksi tepung
tapioka. Tepung tapioka yang sudah kering dan dikemas akan dibeli
konsumen yang berasal dari dalam dan luar Lampung seperti Masgar, Metro,
Bogor, Cianjur, Cirebon, Tangerang, Tasikmalaya dan Tegal. Tepung yang
sudah dibeli konsumen akan diantarkan dengan kendaraan perusahaan,
kecuali konsumen yang membeli secara langsung ke pabrik dan membawa
kendaraan sendiri. PT. Semangat Jaya memperoleh bahan baku dari petani
sekitar dan petani luar daerah yang datang ke pabrik.

Proses utama dalam produksi tepung tapioka di PT. Semangat Jaya yaitu
pencucian, pemarutan, ekstraksi, pengendapan, penggilingan, pengeringan,
dan pengemasan.

Untuk memaksimalkan produksi tepung tapioka maka mesin-mesin yang


digunakan harus selalu dijaga performanya, salah satu mesin yang menjadi
ikut andil dalam menentukan kualitas tepung tapioka adalah mesin pemeras
sari singkong, setelah singkong diparut lalu di campur air langsung masuk ke
dalam pengayak, lalu ampas dari singkong tersebut diperas kembali untuk
diambil saripati singkong agar efisiensi dari pembuatan tepung tapioka tinggi,
kemudian sari pati singkong (onggok) dibuang ke tempat pembuangan.

Proses pembuangan sisa-sisa saripati singkong (onggok) dari mesin pemeras


sari singkong mengunakan transmsisi tidak langsung jenis sproket rantai rol.
Sproket adalah roda bergerigi yang berpasangan dengan rantai, track, atau
benda panjang yang bergerigi. Sproket berfungsi untuk mentransmisikan gaya
putar antara dua poros dimana roda gigi tidak mampu untuk menjangkaunya.

Namun, dalam aktualnya sproket pada mesin pemeras saripati singkong


sering mengalami kerusakan, seperti keausan pada sproket. Sehingga
mengurangi kinerja dari mesin tersebut. Untuk itu maka dalam laporan kerja
praktik ini akan dibahas tentang penyebab terjadinya kerusakan pada sproket
dan

mengetahui

mempengaruhinya.

laju

keausan

sproket

serta

faktor-faktor

yang

1.2 Tujuan Kerja Praktik


Tujuan dari kerja praktik yang dilaksanakan di PT. Semangat Jaya adalah
sebagai berikut.
1. Mengetahui penyebab terjadinya keausan pada sproket.
2. Mengetahui laju keausan pada sproket.

2.3 Batasan Masalah


Pada penulisan laporan kerja praktik ini, penulis membatasi masalah tentang
perhitungan laju keausan sprocket rantai rol pada mesin pemeras sari pati
singkong pada bulan Agustus-September 2015 di PT Semangat Jaya.

2.4 Sistematika Penulisan Laporan


Sistematika laporan kerja praktik ini adalah diawali dengan bab pertama yaitu
pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, menentukan tujuan, dan
batasan masalah yang sesuai dengan kerja praktik dan membuat sistematika
penulisan laporan. Tahap selanjutnya yaitu bab dua yang berisikan teori-teori
yang berhubungan dan mendukung tentang masalah yang diambil dalam
laporan kerja praktik ini. Teori digunakan sebagai pendukung dan bahan
rujukan dalam membuat isi laporan. Bab tiga berisikan metode yang
digunakan, lalu mengumpulkan informasi, tempat dan waktu kerja praktik
yang menerangkan alur kerja praktik serta bagaimana proses pengambilan
data. Selanjutnya pada bab empat berisikan data pengamatan yang diperoleh
dari hasil perhitungan dan pembahasan yang diakhiri dengan memberikan
simpulan dan saran untuk perusahaan pada bab lima.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keausan

Definisi paling umum dari keausan yang telah dikenal sekitar 50 tahun lebih
yaitu hilangnya bahan dari suatu permukaan atau perpindahan bahan dari
permukaannya ke bagian yang lain atau bergeraknya bahan pada suatu
permukaan. (Almen, 1950). Menurut M.B. Peterson dan W.O. Winer definisi
lain tentang keausan yaitu sebagai hilangnya bagian dari permukaan yang
saling berinteraksi yang terjadi sebagai hasil gerak relatif pada permukaan.
Keausan yang terjadi pada suatu material disebabkan oleh adanya beberapa
mekanisme yang berbeda dan terbentuk oleh beberapa parameter yang
bervariasi meliputi bahan, lingkungan, kondisi operasi, dan geometri
permukaan benda yang terjadi keausan.

2.2 Jenis-Jenis Keausan

Mekanisme keausan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu keausan


yang penyebabnya didominasi oleh perilaku mekanis dari bahan dan keausan
yang penyebabnya didominasi oleh perilaku kimia dari bahan. (Zum Gahr,
1987). Sedangkan menurut Koji Kato, tipe keausan terdiri dari tiga macam,
yaitu mechanical, chemical and thermal wear

a. Keausan yang disebabkan perilaku mekanis (mechanical).


Keausan yang disebabkan oleh perilaku mekanis digolongkan menjadi
abrasive, adhesive, flow dan fatigue wear.
1. Abrasive wear
Keausan ini terjadi jika partikel keras atau permukaan keras yang
kasar menggerus dan memotong permukaan sehingga mengakibatkan
hilangnya material yang ada di permukaan tersebut (earth moving
equipment) Contoh : micro-cutting, wedge forming, dan ploughing.

Gambar 2.1 Abrasive wear oleh microcutting ( Zum Gahr, 1987)

Gambar 2.2 a. cutting b. fracture c.fatigue d grain pull-out ( Zum Gahr, 1987)

2.

Adhesive wear.
Keausan ini terjadi jika partikel permukaan yang lebih lunak
menempel atau melekat pada lawan kontak yang lebih keras.

Gambar 2.3 Adhesive wear karena adhesive shear dan transfer


(Stachowiak, 2005)

Gambar 2.4 Proses perpindahan logam karena adhesive wear (Zum


Gahr, 1987)

3. Flow wear
Keausan ini terjadi jika partikel permukaan yang lebih lunak mengalir
seperti meleleh dan tergeser plastis akibat kontak dengan lain, seperti
Gambar 2.5

Gambar 2.5 Flow wear oleh penumpukan alias geseran plastis


(Stachowiak, 2005)

3. Fatigue wear
Fenomena keausan ini didominasi akibat kondisi beban yang berulang
(cyclic loading). Ciri-cirinya perambatan retak lelah biasanya tegak
lurus pada permukaan tanpa deformasi plastis yang besar, seperti: ball
bearings, roller bearings dan lain sebagainya seperti pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Fatigue wear karena retak di bagian dalam dan merambat
(Stachowiak, 2005)

b. Keausan yang disebabkan Perilaku Kimia


1. Oxidative wear
Pada peningkatan kecepatan sliding dan beban rendah, lapisan oksida
tipis, tidak lengkap, dan rapuh terbentuk. Pada percepatan yang jauh
lebih tinggi, lapisan oksida menjadi berkelanjutan dan lebih tebal,
mencakup seluruh permukaan. Contoh: Permukaan luncur di dalam
lingkungan yang oksidatif.
2. Corrosive wear
Mekanisme ini ditandai oleh batas butir yang korosif dan pembentukan
lubang. Misalnya, permukaan sliding di dalam lingkungan yang korosif.

Gambar 2.7 Corrosive wear karena pengelupasan yang terjadi pada


lapisan yang rapuh (Stachowiak, 2005)

c. Keausan yang disebabkan perilaku panas (Thermal Wear).


1. Melt wear
Keausan yang terjadi karena panas yang muncul akibat gesekan benda
sehingga permukaan aus meleleh.
2. Diffusive wear
Terjadi ketika ada pancaran (diffusion) elemen yang melintasi bidang
kontak misalnya pada perkakas baja kecepatan tinggi. Dalam banyak
situasi keausan, ada banyak mekanisme yang beroperasi secara
serempak, akan tetapi biasanya akan ada satu mekanisme penentu
tingkat keausan yang harus diteliti dalam hal ini berhubungan dengan
masalah keausan. Hubungan antara 12 koefisien gesek dan laju keausan
belum ada penjelasan yang tepat, karena hubungan keduanya akan
selalu berubah terhadap waktu.

Saat ini yang paling banyak digunakan dan paling sederhana dalam
memodelkan keausan adalah model keausan Archard, beberapa yang lain
mencoba mengembangkan model keausan dengan memasukkan efek

gesekan dalam menawarkan model yang lebih akurat yang dibandingkan


dengan penelitian percobaan yang telah dibuat.

2.3 Teori Sliding, Rolling Dan Rolling-Sliding Contact


Keausan pada suatu benda dapat terjadi ketika benda tersebut mengalami
kontak diantara dua permukaan, diantaranya dapat karena benda tersebut
mengalami peristiwa sliding, rolling atau mengalami dua peristiwa yang
bersamaan yaitu rolling sliding.
a. Teori sliding contact
Gesekan biasanya terjadi di antara dua permukaan benda yang
bersentuhan, baik terhadap udara, air atau benda padat. Ketika sebuah
benda bergerak di udara, permukaan benda tersebut akan bersentuhan
dengan udara sehingga terjadi gesekan antara benda tersebut dengan udara.
Demikian juga ketika bergerak di dalam air. Gaya gesekan juga selalu
terjadi antara permukaan benda padat yang bersentuhan, sekalipun benda
tersebut sangat licin. Permukaan benda yang sangat licin pun sebenarnya
sangat kasar dalam skala mikroskopis (asperity). Jika permukaan suatu
benda bergeseran dengan permukaan benda lain, masing-masing benda
tersebut melakukan gaya gesekan antara satu dengan yang lain. Gaya
gesekan pada benda yang bergerak selalu berlawanan arah dengan arah
gerakan benda tersebut. Selain menghambat gerak benda, gesekan dapat
menimbulkan aus dan kerusakan.

10

Gambar 2.8 Sliding contact (Liu, 2001)

b. Teori rolling contact


Rolling adalah perbedaan kecepatan sudut (angular) relatif antara dua
benda terhadap suatu axis yang berada dalam suatu bidang tangensial.
Yaitu fenomena terjadinya perpindahan (displacement) secara rotasi pada
suatu titik, yang diakibatkan adanya perbedaan w. Pada problem 2-D untuk
dua buah silinder, kontak yang terjadi berjenis line contact. Rolling contact
sesungguhnya hanya dapat terjadi jika terdapat gesekan, sehingga gaya
tangensial yang dipindahkan akan selalu lebih kecil dari gaya normal. Jika
gesekan dihilangkan, maka hanya terjadi perubahan sudut tanpa diikuti
perpindahan.

Gambar 2.9 Rolling contact (Stolarski, 2000)

11

c. Teori rolling-sliding contact


Rolling contact dapat diartikan adanya kontak antara dua buah benda
dimana benda mengalami rotasi dan adanya pembebanan untuk benda
tersebut sehingga terjadinya kontak. ketika dua buah benda tersebut
mengalami rotasi yang sama dapat dikatakan bahwa benda tersebut
mengalami rolling sempurna. Namun dalam kenyataannya kondisi rolling
sempurna sangat sulit ditemui.

Gambar 2.10 Rolling sliding contact (Andersson,2005)

Ketika benda tersebut berputar, sedemikian sehingga titik kontak bergerak


ke permukaan benda, kemudian ada dua berbagai kemungkinan dimana
kecepatan V1 dari titik-kontak pada permukaan benda satu sama dengan
kecepatan V2 dari titik-kontak di atas permukaan benda dua, atau tidak.
Dalam kasus ini (kecepatan yang sama) orang menyebutnya rolling,
kemudian kasus tentang dorongan dinamakan sliding, atau rolling dengan
sliding. (Blau,2001)

2.4 Pegertian Transmisi

Transmisi pada umumnya dimaksudkan adalah sebagai suatu mekanisme yang


dipergunakan untuk memindahkan gerakan elemen mesin yang satu ke

12

gerakan elemen mesin yang kedua. Dalam kebanyakan hal poros akan sejajar
satu sama lain. Tetapi garis sumbunya dapat juga saling memotong atau saling
menyilang. Secara garis besar transmisi putar dapat di bagi atas dua yaitu:
a. Transmisi langsung, dimana sebuah piringan atau roda pada poros yang
satu dapat menggerakkan roda yang serupa pada poros kedua melalui
kontak langsung. Dalam kategori ini termasuk roda gesek dan roda gigi,
seperti terlihat pada gambar 2.11

Gambar 2.11 : Perpindahan oleh dua buah roda (Sularso, 1983)

b. Transmisi tidak langsung, perpindahan di mana suatu elemen sebagai


penghubung antara sabuk atau rantai menggerakkan poros kedua.
Transmisi jenis ini digunakan bilamana jarak antara kedua poros cukup
besar, sebab kalau di terapkan perpindahan langsung, roda akan menjadi
tidak praktis besarnya, seperti yang terlihat pada gambar 2.12

Gambar 2.12 Perpindahan oleh sabuk atau rantai (Sularso, 1983)

13

Pada roda gesek dan sabuk, yang memindahkan gerakan poros yang satu
ke poros yang lain ialah gaya gesek. Keuntungannya ialah jika ada beban
lebih akan terjadi slip, jadi gaya tersebut agak bekerja seperti kopling slip,
karena sabuk bersifat elastis maka dapat meredam tumbukan dan getaran.
Kerugiannya ialah jumlah putaran poros yang digerakkan tidak seluruhnya
dapat di tentukan karena slip.

Pada roda gigi, rantai dan sabuk bergigi mempunyai sistem gigi sehingga
gerakan menjadi dipaksakan atau tanpa terjadi slip. Dalam suatu sistem
transmisi, roda gigi merupakan elemen yang paling banyak diterapkan
karena cocok untuk memindahkan daya yang sangat besar pada kecepatan
putaran tingi. Namun roda gigi memerlukan ketelitian yang lebih besar
dalam pembuatan, pemasangan dan pemeliharaan. (Sularso, 1983)

2.5 Sistem Transmisi Rantai


Rantai transmisi daya biasanya dipergunakan dimana jarak poros lebih besar
dari pada transmisi roda gigi tetapi lebih pendek dari pada dalam transmisi
sabuk. Sistem transmisi rantai adalah sebuah system yang berfungsi
menyalurkan daya dari sebuah sumber daya. Sumber daya transmisi adalah
sebagai berikut : mesin, motor, dan listrik. Daya yang ditransferkan adalah
berupa putaran dari sebuah poros ke poros lainnya, dimana kecepatan putaran
tersebut dapat diubah dari kecepatan tinggi ke kecepatan rendah, atau
sebaliknya.
Beberapa jenis transmisi sebagai berikut: (Blau,2011)

14

a.

Transmisi Belt
Dapat digunakan untuk poros sejajar dan poros bersilangan.
Keuntungan dari transmisi ini adalah konstruksi sederhana, operasi
yang tenang (tidak berisik), dapat menyerap beban kejut. harga murah.
Jenis-jenis Belt antara lain seperti sabuk rata, sabuk v, sabuk gigi

b. Transmisi Rantai
Digunakan untuk poros sejajar. Keuntungan dari transmisi rantai
adadlah jarak antara poros yang cukup besar, ratio kecepatan sampai 6 (
10 untuk kasus extrim), efficiency 97 s/d 98 %, daya sampai 5.000 hp,
gaya tangensial sampai 28.000 kgf dengan lebar 1, 2 m putaran sampai
5.000 rpm.
c.

Transmisi Roda Gigi


Paling umum digunakan dari seluruh sistem transmisi digunakan untuk
mentransmisikan daya untuk poros yang sejajar, berpotongan dan
besilanga. Dapat digunakan untuk daya terbesar sampai dengan yang
terkecil. Keuntungan dari transmisi roda gigi adalah digunakan untuk
seluruh ratio kecepatan tidak ada slip/kecepatan konstan, beban
independent reablity tinggi, dapat menahan beban lebih, perawata
mudah, tranmisi dengan kecepatan tinggi lebih dari 1000 (m/min),
bunyi kecil dan daya besar, dapat dipakai rantai gigi. rantai ini lebih
mahal dari pada rantai rol. Ada 2 macam rantai gigi :
1. Rantai Reynold
dimana plat mata rantai rangkap banyak dengan profil khusus
dihubungkan dengan pena selindris dengan bush yang terbelah.

15

2. Rantai HY-VO
dimana 2 buah pena, disebut pena sambungan kunci yang
mempunyai permukaan cembung dan cekung, dipasang sebagai
pengganti pena selindris. Pena yang permukaan cekung dipakai pada
plat mata rantai. Yang permukaan cembung dipakai saling
bersinggungan sambil menggilinding, satu pada yang lain. Ciri-ciri
rantai gigi ialah bahwa setelah mengait secara meluncur dengan gigi
sprocket yang berprofil involute(evolven), mata rantai yang berputar
sebagai satu benda dengan sprocket. Hal ini berbeda dengan rantai
rol dimana bush mata rantai mengait pada dasar kaki gigi.
Karakteristik transmisi rantai : digunakan untuk poros sejajar, jarak antar
poros yang cukup besar, rasio kecepatan sampai 6 (10 untuk ekstrim),
efisiensi 97% 98 %, daya sampai 5000 hp, dan putaran sampai 5000 rpm.
Kelebihan dan kekurangan dari transmisi rantai adalah :
keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
1. Mampu meneruskan daya yang besar karena kekuatanya yang besar
2. Tidak memerlukan tegangan awal
3. Keausan kecil pada bantalan
4. Mudah untuk memasang nya
Kekurangan kekurangan adalah sebagai berikut :
1. Variasi kecepatan yang tidak dapat dihindari karena lintasan busur pada
sproket yang mengait mata rantai

16

2. Suara dan getaran karena tumbukan antara rantai dan dasar kaki gigi
sproket dan perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang
diakibatkan oleh gesekan dengan sprocket.
3. Tidak cocok untuk putaran tinggi

2.6 Sproket

Sproket adalah roda bergerigi yang berpasangan dengan rantai, track, atau
benda panjang yang bergerigi lainnya. Sproket berbeda dengan roda gigi;
sproket tidak pernah bersinggungan dengan sproket lainnya dan tidak pernah
cocok. Sproket juga berbeda dengan puli di mana sproket memiliki gigi
sedangkan puli pada umumnya tidak memiliki gigi. Sproket yang digunakan
pada sepeda, sepeda motor mobil, kendaraan roda rantai, serta mesin lainnya.
Sproket digunakan untuk mentransmisikan gaya putar antara dua poros di
mana roda gigi tidak mampu menjangkaunya.
Pada sepeda, pengubahan rasio kecepatan putar secara keseluruhan dilakukan
dengan memvariasikan diameter dari sproket. Perubahan diameter sproket
akan mengubah jumlah gigi dari sproket. Misalnya, sepeda dengan 10 speed
bisa didapatkan dengan menggunakan dua sproket pada poros penggerak dan
5 sproket pada poros roda. Rasio kecepatan yang rendah menguntungkan
pengguna sepeda di jalan yang menanjak, sedangkan rasio kecepatan yang
tinggi memudahkan untuk bergerak cepat di jalan yang datar.Pada sepeda
motor, tidak ada pengubahan diameter sproket ketika bergerak. Namun
perubahan diameter sproket secara manual mampu mengubah tingkat

17

akselerasi dan kecepatan tertinggi dari sepeda motor. Sproket juga digunakan
pada kendaraan roda rantai.

Pada kendaraan jenis ini, jumlah sproket yang terlibat banyak, namun sproket
yang menggerakan hanya satu, dua, atau tiga. Sproket yang menggerakan,
jika jumlahnya satu, biasanya berada di depan atau belakang kendaraan.
Dengan dua sproket penggerak, posisi sproket ada di depan dan belakang.
Sproket penggerak ketiga bisa terletak dimana saja dan biasanya posisinya
lebih tinggi dari sproket penggerak yang lain (www.wikipedia.com).

2.7 Jenis Jenis Sproket

Penggunaan sproket banyak digunakan sebagai komponen mesin maupun


komponen konstruksi. Beberapa jenis sproket di antaranya adalah seperti
pada gambar berikut : (Ehbota, 2014)

Gambar 2.13 Jenis-jenis sproket (Ehbota,2014)

18

2.8 Rantai
Rantai transmisi daya bisanya dipergunakan untuk jarak poros yang lebih
besar dari pada transmisi roda gigi tetapi lebih pendek dari pada transmisi
sabuk. Rantai merupakan satu komponen yang memungkinkan sebuah sepeda
motor (yang menggunakan rantai) dapat berjalan. Rantai adalah untai material
yang fleksibel, biasanya metal dibuat dari jenis elemen yang keras, biasanya
disebut lingkaran, saling dikuncu atau dihubungkan satu sama lain tetapi
bebas untuk bergerak pada satu atau banyak bidang. Jenis- jenis rantai adalah
sebagai berikut (Sularso, 1983):
1. Rantai Rol
Dipakai, jika diperlukan transmisi posistif (tanpa slip) dengan kecepatan
600 m/min, tanpa pembatas bunyi dan harga yang murah. Terdiri dari
pena, rol dan plat mata rantai.

Gambar 2.14 Rantai Rol (Sularso, 1983)


Keterangan :
Pena (Pins) adalah bagian yang dihubungkan satu lingkaran ke lingkaran
berikutnya.
Bushing atau Thimble adalah Peralatan ini pada dasarnya pipa dengan
pengikatan cocok untuk megunci sidebar bersama-sama.

19

Rol/Canai ( Rollers ) digabung , karena untuk menurunkan friksi/gesekan


dan untuk pembebanan rantai .
Side plate Jenis sidebar ini membentuk porsi dalam dan luar lingkaran.

2. Rantai Gigi (Silent Chain)


Jika diinginkan transmisi dengan kecepatan tinggi lebih dari 1.000 m/min.
Bunyi yang kecil, daya yang besar dan lebih mahal. Disebut silent chain
karena suara dan getaran yang ditimbulkan bila dibandingkan dengan tipetipe rantai lainnya lebih kecil, tergantung dari kecepatan, beban,
pelumasan, besar sproket dan perangkat tambahan. Hal ini disebabkan dari
keunggulan dalam desain sambungan dan jalur dari silent chain itu sendiri.
Desain jalurnya menyebabkan gigi sproket menderita lebih sedikit impact
dan desain sambungannya yang menyebabkan rantai bekerja dengan
gesekan yang minimum serta keausan yang sama saat pemakaian. Silent
chain bertujuan untuk meneruskan daya dari sambungan sebelumnya yang
didesain untuk mengangkut bahan-bahan material dan dioperasikan
dengan getaran yang minimum. Keuntungan rantai gigi adalah tidak
berisik, getaran kecil, tumbukan impact saat akan berputar kecil, tahan
lama, tenaga yang diteruskan lebih besar, sedangkan keuntungan silent
chain dibandingkan dengan roller chain adalah bisa beroperasi dalam
kecepatan yang lebih tinggi dan kapasitas tenaga yang lebih besar, suara
yang dihasilkan silent chain lebih halus, getaran yang dihasilkan lebih
kecil, dan umur sprocket lebih tahan lama.

20

2.9 Perawatan Rantai


Agar gesekan antara sproket dan rantai tidak terjadi slip dan menyebabkan
berkurangnya umur pakai dari sproket maka rantai perlu dilakukan perawatan
sebagai berikut:
1. Pengawasan
Pengawasan dan pengaturan secara periodik sebaiknya dilakukan untuk
meningkatkan umur dan mengurangi biaya perawatan.
2. Pensejajaran
Kelurusan sproket harus selalu dipelihara untuk performa putaran dan
umur yang lebih optimum. Sproket juga harus diperhatikan apakah sudah
terpasang/ terkunci dengan aman, jika posisi sproket bergeser selama
pemasangan, maka kita harus kembali ke prosedur pensejajaran untuk
penyesuaian lagi.
3. Pengencangan dan Pemanjangan
Setelah beroperasi untuk waktu tertentu, pitch pada sproket akan
mengalami peregangan/ pertambahan panjang yang akan berakibat
dengan bertambah besarnya lingkaran pitch pada rantai. Solusi untuk
permasalahan

ini

adalah

dengan

mengencangkan

rantainya

jika

peregangan tidak terlalu besar untuk pereganga yang berlebihan dapat


mengakibatkan rusaknya sproket atau pun slip antara sproket dan rantai.
Untuk itu, rantainya harus diganti untuk menghindari kerusakan yang
lebih fatal.

21

2.10 Pelumasan Pada Transmisi Roda Gigi


Pada kendaraan banyak terdapat bagian bagian yang bergerak relatif
terhadap yang lain termasuk transmisi roda gigi. Oleh karena itu antara kedua
permukaan roda gigi yang bersinggungan harus terdapat lapisan pelumas
sehingga mempermudah proses kerja dari transmisi roda gigi tersebut.
Apabila jumlah pelumas tidak mencukupi atau pemakaiannya sudah lama
sehingga kehilangan sifat sifat pelumasannya maka pelumas harus di ganti
dengan yang baru. Hal ini untuk mencegah terjadinya gesekan antara
permukaan kontak roda gigi yang bekerja sehingga laju keausannya dapat
dikurangi dan umur elemen mesin lebih lama yang berdampak terhindarnya
hal hal yang tidak diinginkan sewaktu kendaraan di gunakan.
Jadi pelumas merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan
karena dapat melindungi dan menjamin kelangsungan proses kerja setiap
komponen permesinan termasuk transmisi roda gigi yang sangat vital.
Fungsi minyak pelumas secara umum antara lain :
a.

Mengurangi gesekan yang terjadi ketika terjadi kontak permukaan


elemen mesin yang bekerja.

b.

Membuang panas yang dihasilkan ketika elemen mesin bekerja.

c.

Mencegah terjadinya karat dengan membentuk lapisan pelindung


terhadap proses oksidasi.

d.

Mengeluarkan kotoran dan serpihan keausan yang timbul sewaktu mesin


bekerja.

e.

Melindungi permukaan bahan logam dan membentuk lapisan yang tipis.

22

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pelumas yang baik adalah :
a.

Viskositas/ tingkat kekentalan harus sesuai dengan jenis operasi mesin


yang digunakan.

b.

Mempunyai daya lekat yang baik dengan komponen mesin sehingga


dapat mengurangi gesekan yang terjadi.

c.

Memiliki titik nyala yang tinggi dan tidak mudah menguap

d.

Dapat membuang panas yang di hasilkan oleh mesin.

2.11 Perhitungan Keausan Sproket

1. Berdasarkan hukum keausan archard tentang hukum keausan bahwa


persamaan volume keausan teoritik dapat di peroleh dari rumus berikut:
(stachowiak, 2005)

(1)

Dimana : Vt = Volume yang hilang (mm3)


K = Koefisien keausan (0,007)
l = jarak luncur pada sproket (mm)
W = beban kerja (Kg)
H = Kekerasan rata-rata (HB)

2. Perhitungan jarak luncur pada sproket adalah sebagai berikut:

1
2

Dimana : l = jarak luncur (mm)


D = Diameter

(2)

23

3. Perhitungan beban kerja (W) dihitung dengan menggunakan rumus


sebagai berikut : (Sularso, 1983)
W=F

102

(3)

Dimana : pd = daya pada sproket


v = kecepatan keliling (m/s)

Daya pada sproket dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:


(Sularso,1983)
pd = P x Fc

(4)

dimana: P = Daya (Kw)


Fc = Faktor koreksi
Kecepatan keliling pada sproket dapat dihitug dengan menggunakan rumus
sebagai berikut : (Sularso, 1983)

60 1000

(5)

Dimana : D = Diameter sproket (mm)


n = kecepatan putaran (rpm)
4. Laju keausan teori pada sproket dapat di hitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut : (stachowiak, 2005)

(6)

Dimana : t = Laju keausan teoritik


Vt = Volume Keausan Teoritik
t

= Waktu keausan

24

5. Kekerasan rata-rata pada sproket diketahui dari tabel bahan roda gigi
Tabel 2.1 Kekerasan rata-rata pada sproket (sularso, 1983)
Kekuatan
tarik
Bahan

Lambang
B (kg/
mm2)

Besi cor

Baja cor

Baja
karbon
utk

Kekerasan

Tegangan lentur

(Brinell)

yang di izinkan

HB

A (kg/ mm2)

FC 15

15

140 160

FC 20

20

160 180

FC 25

25

180 240

11

FC 30

30

190 240

13

SC 42

42

140

12

SC 46

46

160

19

SC 49

49

190

20

S 25 C

45

123 183

21

S 35 C

52

149 207

26

S 45 C

58

167 229

30

S 15 K

50

400

30

konstruksi
mesin

(di celup
Baja

dingin dlm

paduan
minyak)
dgn
pengerasan

SNC 21

80

kulit

SNC 22

100

600
(di celup
dingin dlm
minyak)

34 40
40 - 55

III. METODOLOGI KERJA PRAKTIK

3.1 Metode Kerja Praktik


Metode yang dilakukan dalam menyelesaikan kerja praktik ini adalah:
1. Observasi (pengamatan), dilakukan dengan mengamati proses operasi secara
umum dan mengamati sistem kerja bantalan pada pengayak dan nantinya
diperoleh data-data pengamatan yang akan digunakan dalam analisis.

2. Wawancara dan diskusi, dilakukan dengan pembimbing kerja praktik serta


staf-staf bengkel, staf fasilitas keteknikan mengenai sistem kerja pada
pengayak khususnya pada bagian perawatan mesin.

3. Studi literatur, dilakukan dengan mengumpulkan data-data perusahaan dan


buku-buku diperpustakaan Universitas Lampungyang mendukung dalam
pembuatan laporan.

26

3.2 Waktu dan Tempat


1. Waktu
Waktu pelaksanaan kerja praktik dimulai dari tanggal 18 Agustus 2015 s.d. 18
September 2015.

2. Tempat
Kerja praktik dilaksanakan di PT. Semangat Jaya, Desa Bangun Sari
Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran-Lampung

27

2.3 Alur Kerja Praktik


Kerja praktik yang dilakukan melewati alur kerja praktik sesuai pada gambar 3.1
berikut ini.

Mulai

1. Pengenalan lingkungan
perusahaan
2. Pengamatan proses produksi
3. Pengamatan proses kerja
sproket rantai rol pada mesin
pemeras
4. Menentukan permasalahan

1.Studi literatur
2. Pengumpulan data

Tidak lengkap

Data
Lengkap
Melakukan analisa dan
kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Alur Kerja Praktik

IV.DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan


Adapun data pengamatan yang diperoleh pada mesin pemeras sari pati
singkong adalah sebagai berikut:
1.

Mesin Pemeras
Kapasitas

: 1 ton/jam

Panjang

:8m

Lebar

: 6,75 m

Tinggi

: 4,29 m

Gambar 4.1 Mesin Pemeras Sari Singkong

29

2. Data-data sproket
Tipe

: JIS 4510 fc 50

Diameter luar

: 8 cm

Tebal sproket

: 5,2 mm

Berat bantalan

: 2 kg

Kekerasan rata-rata

: 210 HB

Jumlah Gigi

: 17 Buah

3. Data-data penggerak
Merek

: Yuema

Putaran

: 1440 rpm

Daya motor

: 3 HP

Gambar 4.2 Sproket Rantai Rol

Data pengamatan di lapangan, waktu yang dibutuhkan sisa saripati singkong


(onggok) yang ada pada mesin pemeras untuk dibuang ke tempat
pembuangan adalah

30

Tabel 4.1 Waktu yang dibutuhkan untuk satu siklus


No
1
2
3
4
5
Rata-rata

Waktu (s)
85
87
92
95
91
90

Berikut ini adalah data pengamatan di lapangan tentang perbadingan ukuran


dimensi pada sproket baru dan sproket aus:

Gambar 4.3 Rantai Rol dan sproket (Sularso, 1983)

Tabel perbandingan hasil pengukuran sproket baru dan aus adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.2 Perbandingan ukuran rata-rata sproket baru dan aus

Jenis
Sproket
Sproket
Aus
Sproket
Baru

3 mm

21,1 mm

8,6 mm

15,2 mm

5,2 mm

18,7 mm

10,2 mm

13,5 mm

31

4.2 Perhitungan
4.2.1 Volume Keausan Teoritik Pada Sproket (Vt)

Untuk menghitung volume keausan teoritik pada sproket di gunakan rumus


persamaan (1):
=

. .

Dimana nilai dari l dihitung dengan menggunakan persamaan (2):


l = 1/2.D
l = 0,5.13,5 mm = 21,20575 mm
sehingga beban kerja (W) dihitung dengan menggunakan persamaan (3):
W= F
=

102

Daya pada sproket dihitung dengan persamaan (4)


Pd= P x fc
P = 3 HP = 2,238 Kw
Fc = 1
Jadi Pd = 2,238 Kw x 1 = 2,238 Kw
Kecepatan keliling dari sproket (v) dihitung dengan menggunakan
persamaan(5):
=

. D. n
60 1000

. 80mm. 1430
60000

= 5,99 /

32

Maka beban kerja adalah


=

102 2,238
= 38,11
5,99

Dari tabel roda gigi jenis fc 30 memiliki kekerasan rata-rata (H) sebesar
210 kg/mm2 dan koefisien keausan dari sprocket adalah 0,007, Sehingga
volume keausan teoritik pada sproket untuk satu siklus adalah
=

. .

0,007 21,20575 38,11


210 kg/mm2

= 0,02693837108 3

4.2.2 Laju Keausan Teoritik (t)


Mesin beroperasi selama 8 jam/hari maka laju keausan teoritik pada
sproket dapat di hitung dengan mengunakan persamaan (6) :
t = Vt/t
t = (0,02693837108 )/(8 jam)
t = 0,00336729638 mm3/jam

4.2.3 Laju Keausan Teoritik (t)


Mesin beroperasi selama 8 jam/hari, dan hari kerja di PT. Semangat Jaya
selama seminggu adalah 5 hari, dan diketahui dari tekniksi pergantian
sproket di lakukan setiap 12 bulan. Maka titik kritis dari sproket dapat di
hitung sebagai berikut :
Total waktu mesin beroperasi adalah
(8 x 5) x 4 x 12 = 1920 jam

33

Maka perbandingan titik kritis adalah


0,00336729638 mm3 = 1 jam
X

= 1920 jam

Titik kritis sproket

= 6,465 3

Total jumlah gigi pada sproket adalah 17 buah, maka besar volume keausan
untuk 1 gigi sproket adalah
6,465 mm3
17

= 0,33802941176 mm3

4.2 Pembahasan
Keausan adalah hilangnya bahan dari suatu permukaan atau perpindahan
bahan dari permukaannya ke bagian yang lain atau bergeraknya bahan pada
suatu permukaan. Keausan yang terjadi pada suatu material disebabkan oleh
adanya beberapa mekanisme yang berbeda dan terbentuk oleh beberapa
parameter yang bervariasi meliputi bahan, lingkungan, kondisi operasi, dan
geometri permukaan benda yang terjadi keausan. Keausan terdiri dari tiga
macam, yaitu mechanical, chemical and thermal wear.

Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi pada mesin permeras sari pati
singkong yang digunakan untuk memeras sari pati singkong hingga menuju
ke tempat pembuangan selama setahun telah mengalami satu kali kerusakan
dan penggantian sproket. Setelah dihitung secara teoritis, didapat beban
kerja dari sproket itu sebesar 38,11 kg dengan jarak luncur sproket sebesar
21,20575 mm dan kecepatan keliling sproket sebesar 5,99 m/s. Dari
perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa volume keausan teoritik

34

pada sproket dalam satu kali siklus sebesar 0,02693837108 3dengan


laju keausan pada sproket sebesar 0,00336729638 mm3/jam. Total keausan
pada sproket secara teoritik adalah sebesar 6,465 mm3 sedangkan nilai
keausan pada 1 gigi sproket adalah sebesar 0,33802941176 mm3.

Sproket adalah roda bergerigi yang berpasangan dengan rantai, track, atau
benda panjang yang bergerigi lainnya. Sproket berbeda dengan roda gigi;
sproket tidak pernah bersinggungan dengan sproket lainnya dan tidak
pernah cocok. Sproket juga berbeda dengan puli di mana sproket memiliki
gigi sedangkan puli pada umumnya tidak memiliki gigi. Jenis sproket yang
digunakan dalam pengayak ini adalah bantalan tipe JIS G 4501 dengan
lambang fc 30 atau sproket yang termasuk kategori fabricated steel split
sprocket.

Dari hasil pengamatan kerja praktik dan perhitungan laju keausan terdapat
beberapa hal yang menyebabkan keausan pada sproket yaitu keausan yang
diakibatkan oleh mekanik, kimia dan panas. Pada sproket yang diamati
keausan disebabkan oleh prilaku mekanik gesekan antara sproket dan rantai
rol dan menyebabkan keausan dan proses kimia juga menyebakan korosi
pada sproket. Selain itu kerusakan sproket juga dapat terjadi karena kurang
pelumasan pada sproket dan rantai yang kurang baik, sehingga gesekan
yang terjadi besar dan menyebabkan keausan, kekecangan dari rantai yang
kurang pas juga akan mengakibatkan slip sehingga merusak sproket dan
mengganggu proses produksi dan mengurangi umur pakai pada sproket

35

tersebut. Selain itu keausan pada sproket dapat mengakibatkan mulurnya


rantai dan dapat menyebabkan rantai menjadi putus.

Dalam studi literatur didapat kan bahwa pelumasan adalah salah satu cara
untuk membuat umur sproket semakin lama untuk itu sproket dan rantai
harus diberikan pelumas. Fungsi dari pelumasan antara lain mengurangi
gesekan yang terjadi ketika terjadi kontak permukaan elemen mesin yang
bekerja, membuang panas yang dihasilkan ketika elemen mesin bekerja,
mencegah terjadinya karat dengan membentuk lapisan pelindung terhadap
proses oksidasi dan mengeluarkan kotoran dan serpihan keausan yang
timbul sewaktu mesin bekerja. Dari beberapa faktor yang telah dijelaskan
tersebut, membawa pengaruh yang cukup besar terhadap keausan pada
sproket rantai rol.

Pergantian dari sproket biasanya dilakukan dengan cara visual yaitu dengan
melihat bentuk dari sproket yang aus. Bentuk sproket yang sudah aus
biasanya adalah berbentuk lancip.

Gambar 4.3 Sproket Aus

V. PENUTUP

5.1 Simpulan
Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan pada sproket
rantai rol pada mesin pemeras sari pati singkong maka didapat beberapa
simpulan :
1. Dalam perhitungan secara teoritis, laju keausan pada sproket adalah
0,00336729638 mm3/jam.
2. Dalam satu siklus, volume keausan teoritis pada sproket adalah
0,02693837108 3.
3. Besar volume keausan pada 1 gigi sproket secara teoritik adalah
0,33802941176 mm3.
4. Faktor yang mempercepat laju keausan adalah kurangnya pelumasan, dan
perawatan yang kurang dilakukan. Selain itu pengawasan, pensejajaran
dan pengencangan rantai juga mempengaruhi keausan sproket.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dari hasil analisa dan pembahasan yang telah
dilakukan adalah:
1. Mesin pemeras sari singkong dan sproket harus dilakukan perawatan
secara rutin untuk meningkatkan umur pakai.

38

2. Pada sproket dilakukan pelumasan dengan cara dan jenis pelumas yang
tepat agar gesekan antara sproket dan rantai bisa lebih kecil.
3. Sebelum melakukan aktivitas produksi harus dilakukan pengecekan
terhadap rantai rol.

DAFTAR PUSTAKA

Almen, J.O. (1950). in Mechanical Wear (ed J.T. Burwell), American Society for
Metals, pp. 229288.

Blau, P. J. (2001). The significance and the use of friction coefficient. Tribology
International

Glossary of terms and definitions in the field of friction, wear and


lubrication,Research Group on Wear of Engineering Materials, Organisation for
EconomicCo-operation and Development, (1969). Reprinted in Wear Control
Handbook (eds M.B. Peterson and W.O. Winer), American Society of Mechanical
Engineers, 1980, pp. 11431303.

Hokkirigawa, K. and Kato, K. (1989). Theoretical Estimation of Abrasive Wear


Resistance Based on Microscopic Wear Mechanism, Wear of Materials (ed K.C.
Ludema), ASME, New York,
Liu, R. & Li, D. Y. (2001). Modification of Archard's equation by taking account
of elastic/pseudoelastic properties of materials.
Sularso, dan Kiyokatsu Suga., 1983,Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin. PT. Pradnya Paramita: Jakarta.
tachowiak, Gwidon W. (2005). WearMaterials, Mechanisms and Practice.John
Wiley & Sons, Ltd., West Sussex, England.
Zum Gahr, K.H. (1987). Microstructure and Wear of Materials, Tribology Series,
Elsevier, Amsterdam.
www.wikipedia.com diakses pada 30 september 2015 pukul 08.00