You are on page 1of 18

1.

Penggunaan Senyawa Hidrokarbon


Senyawa hidrokarbon dapat digunakan di berbagai bidang
diantaranya :
Bidang Pangan
Beberapabahankimiahanyaterdiridarikarbondan
hidrogen(hidrokarbon).Hidrokarbondigunakandalam
industri,khususnyapadaindustripetroleumdanaspalcair.
Energikimiatersimpandalamhidrokarbon,unsurunsur
penyusunnyaadalahkarbondanhidrogen.Hidrokarbon
memperolehenergidarimataharisaattumbuhtumbuhan
menggunakansinarmatahariselamaprosesfotosintesis
untukmenghasilkanglukosa(makanan).
Glukosa,karbohidratyangpalingsederhanamengalir
dalamalirandarahsehinggatersediabagiseluruhsel
tubuh.Selseltubuhtersebutmenyerapglukosa.Gulaini
kemudianolehseldioksidasi(dibakar)denganbantuan
oksigenyangkitahirupmenjadienergidangasCO2dalam
bentukrespirasi(pernapasan).Energiyangdihasilkandan
tidakdigunakanakandisimpandibawahjaringankulit
dalambentuklemak.Reaksipembakaranguladalam
tubuh:
C6H12O6(gula)+6O2(udarayangdihirup)>Energi+6
CO2(udarayangdikeluarkan)+6H2O(keringatatauair
seni)
BidangSandang
Senyawasenyawaturunanhidrokarbonyang
berperandibidangpakaian,antaralainkapas,wol
(merupakansuatuprotein),sutra(protein),nilon(polimer),
danseratsintetis.
BidangPapan
Bidangpapan,senyawaturunanhidrokarbonyang
berperan,antaralainselulosa,kayu,lignin,danpolimer.
BidangPerdagangan
Minyakbumimerupakansenyawahidrokarbonyang
menjadikomoditiperdaganganyangsangatpentingbagi

duniakarenaminyakbumimerupakansalahsatusumber
energiyangpalingutamasaatini.Negaranegaradidunia
penghasilminyakbumimembentukorganisasiantarnegara
penghasilminyakbumiyangdiberinamaOPEC
(OrganizationofPetrolleumExportingCountry).Hasil
penyulinganminyakbumibanyakmenghasilkansenyawa
senyawahidrokarbonyangsangatpentingbagikehidupan
manusia,sepertibensin,petroleumeter(minyaktanah),
gaselpiji,minyakpelumas,lilin,danaspal.
BidangSenidanEstetika
Dibidangseni,senyawahidrokarbonyangsering
dipakai,antaralainlilin(wax)untukmelapisisuatukarya
pahatagartampaklebihmengkilat.Bahkanadaseniman
yangmembuatpatungdarililindengancaramemadatkan
lilindalamukuranbesarkemudiandipahatataudiukir
sesuaikeinginansangseniman.selainitujugaadaseni
pewarnaan,baikpadakainmaupunbendabendalain
menggunakansenyawasenyawakimia.Bahanbahanyang
dilapisidenganlilinakantampaklebihmenarikdandi
sampingitujugaakanterhindardariairkarenaairtidak
dapatbereaksidenganlilinkarenaperbedaankepolaran.
Toksikologi merupakan studi mengenai berbagai hal
tentang efek-efek yang tidak dinginkan dari zat kimia
terhadap organisme hidup (Kusnoputranto, 1996). Selain
itu, menurut Indranada (1985), unsur-unsur yang toksik
adalah unsur-unsur yang beracun. Jadi jika topik utama
toksikologi hidrokarbon dan pestisida, maka bahasan
utamanya adalah berbagai efek racun dari berbagai jenis
golongan zat hidrokarbon dan pestisida, yang dapat
berdampak buruk terhadap kehidupan organisme.
2.Dampak Senyawa Hidrokarbon

Senyawa kimia hidrokarbon seperti minyak dan gas bumi


merupakan salah satu pencemaran yang sering terjadi di perairan
laut. Polutan hidrokarbon di laut banyak merugikan ekosistem
laut, bahkan mematikan komoditi tertentu yang akhirnya terjadi

kepunahan. Selain itu, dilihat dari sifat kimiawinya, polutan


hidrokarbon dapat mempengaruhi kesehatan manusia
(karsinogenik). Polutan-polutan itu dapat berasal dari tumpahan
minyak oleh kapal-kapal niaga, kapal-kapal tanker maupun
kapal-kapal perang. Di samping itu dapat juga berasal dari
pengeksploitasian minyak lepas pantai yang kurang
pengendalian sehingga terjadi kesalahan teknis. Polutan minyak
di laut juga bisa berasal dari air ballas, kapal tanker maupun
kapal niaga lainnya (Rompas, 2010)
Minyak mentah (petroleum) adalah campuran yang kompleks,
terutama terdiri dari hidrokarbon bersama-sama dengan
sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur, oksigen,
nitrogen, dan sangat sedikit komponen yang mengandung
logam. Komposisi kimia pada minyak bumi sebagai bahan
toksik di perairan sangat bervariasi, yaitu karbon, hidrogen,
oksigen, dan sulfur. Dalam minyak bumi banyak terdapat zat
kimia yang merupakan zat-zat pengotor sehingga mengurangi
daya fungsinya, zat-zat tersebut yaitu senyawa sulfur, oksigen,
nitrogen, dan konstituen metalik. Bahan-bahan pengotor pada
minyak biasanya merupakan produk sampingan yang memiliki
daya toksisitas di lingkungan lebih tinggi dari kimia utama yang
terdapat dalam minyak bumi atau gas (Rompas, 2010).
Minyak yang mencemari laut sering dimasukkan dalam
kelompok padatan, yaitu padatan yang mengapung di atas
permukaan air. Minyak yang terdapat di dalam air dapat berasal
dari berbagai sumber, diantaranya karena pembersihan dan
pencucian kapal-kapal di laut. Buangan air ballas, pengeboran
minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut
minyak dan gas bumi, tabrakan laut dan lain-lain (Rompas,
2010).
Toksisitas hidrokarbon telah diklasifikasikan ke dalam lima
kelompok besar yaitu, alkana hidrokarbon aromatik tidak jenuh,
hidrokarbon aromatik (mempunyai satu atau dua rantai
aromatik), hidrokarbon polysiklik (banyak rantai), dan
hidrokarbon campuran. Penyebab minyak yang mencemari
lautan secara umum adalah transportasi minyak, pengeboran
minyak lepas pantai, pengilangan minyak, dan pemakaian bahan

bakar minyak bumi (Rompas, 2010).


Pada hakikatnya, minyak tidak dapat larut dalam air, sehingga
jika laut tercemar oleh minyak, maka banyak minyak tersebut
akan mengapung, kecuali jika terdampar ke pantai atau tanah di
sekeliling sungai. Tapi faktanya tidak demikian, karena semua
jenis minyak mengandung senyawa volatil yang segera dapat
menguap dan sisa minyak yang tidak menguap akan mengalami
emulsifikasi yang mengakibatkan minyak dan air bercampur.
Jika minyak terapung akan kita lihat dua macam emulsi yang
terbentuk antara minyak dan air, yaitu emulsi minyak dalam air
dan emulsi air dalam minyak. Emulsi minyak dalam air terjadi
jika droplet-droplet minyak terdispersi di dalam air dan
distabilkan dengan interaksi kimia dimana air menutupi
permukaan droplet-droplet tersebut (Rompas, 2010).
Emulsi air dalam minyak terbentuk jika droplet-droplet air
tertutupi oleh lapisan minyak dan emulsi ini distabilkan oleh
interaksi diantara droplet-droplet air yang tertutup. Emulsi
semacam ini terlihat sebagai lapisan yang mengapung pada
permukaan air dan lekat. Sebagian besar emulsi minyak tersebut
kemudian akan mengalami degradasi melalui fotooksidasi
spontan dan oksidasi oleh mikroorganisme, yang dalam hal ini
sangat berperan dalam dekomposisi minyak di laut. Setelah
kurang lebih tiga bulan, hanya beberapa saja volume minyak
pencemar masih terdapat di dalam air (Rompas, 2010).
Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa
pengaruh negatif bagi biota laut, karena emulsi lemak dapat
menghambat difusi oksigen dari atmosfer dalam badan air laut,
serta menghambat penetrasi sinar matahari ke permukaan
perairan, yang akhirnya mengakibatkan kematian fatal bagi
biota. Air yang bercampur minyak, juga akan mengganggu
organisme akuatik pantai, seperti berbagai jenis ikan, terumbu
karang (pori-pori tertutup), hutan bakau (mangrove), dan
merusak wisata pantai (Rompas, 2010).
Beberapa komponen yang menyusun minyak juga diketahui
bersifat racun terhadap berbagai hewan maupun manusia,
tergantung dari struktur serta molekulnya. Emisi minyak bumi

umumnya mengandung senyawa logam berat seperti Pb (timbal)


dan Cd (kadnium) yang sangat toksik bagi organisme perairan.
Beberapa jenis zat kimia dari minyak bumi yang mengambang
di permukaan air, biasanya lengket dan dapat menempel bulu
burung laut yang berenang di sekitarnya sehingga burung itu
tidak dapat terbang. Lapisan minyak di permukaan dapat juga
menghambat kehidupan biota perairan, sehingga ikan atau
hewan laut lainnya tidak dapat bernafas dan akhirnya mati dan
tenggelam (Rompas, 2010).
Kimia yang beracun terkandung pada minyak bumi adalah
alkana, etil (non-aromatik), benzena (aromatik hidrokarbon),
benzop (a) pyrene(polisiklik hidrokarbon/PAH), cumene, dan
tetraline (campuran hidrokarbon). Dalam menguraikan alkana,
terdapat dua reaksi yang bersifat toksik bagi lingkungan, yaitu
reaksi oksidasi dan reaksi substitusi dengan satu atom H atau
lebih. Reaksi oksidasi dengan molekul oksigen, seperti reaksi
pembakaran propana sebagai berikut :
C3H8 + 5O2
3CO2 + 4H2O + panas
Reaksi tersebut cukup berbahaya bagi lingkungan, karena dapat
meningkatkan kandungan racun di lingkungan. Sedangkan
reaksi substitusi misalkan reaksi metana dengan klorin yang
dapat menghasilkan komponen toksik yaitu tetrachloride
(Rompas, 2010).
Menurut Anonim (2012), hidrokarbon di udara akan bereaksi
dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang
disebut polycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak
dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini
masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan
merangsang terbentuknya sel-sel kanker.
Jika gas dan uap yang sifatnya larut dalam air, maka zat tersebut
dapat larut di dalam lendir yang melapisi permukaan saluran
pernapasan, sehingga menimbulkan iritasi dan mungkin tidak
akan pernah mencapai bagian bawah serat alveolus. Saat kita
menarik napas, partikel-partikel yang menyusun zat toksik
terkumpul di sepanjang saluran pernapasan. Oleh karena itu
respon sistem pernapasan terhadap pemaparan zat toksik

disaluran pernapasan akan mempengaruhi tingkat keparahannya,


karena kemungkinan besar sistem imun tidak dapat melawannya
jika zat toksik yang masuk terlalu banyak (Widyastuti, 2000).
Sel kanker tidak menanggapi secara normal mekanisme
pengontrolan tubuh. Sel ini membelah secara berlebihan dan
menyerang jaringan lain. Sel kanker tidak butuh faktor
pertumbuhan dalam medium kulturnya. Sel ini mungkin
membuat faktor pertumbuhannya sendiri atau memiliki
abnormalitas pada jalur pensinyalan yang menghantarkan sinyal
faktor pertumbuhan ke sistem pengontrolan siklus sel atau
sistem pengontrolan siklus itu sendiri mungkin abnormal.
Perilkau abnormal sel kanker dapat merusak apabila perilaku
tersebut terjadi pada tubuh. Potensi masalah berawal ketika sel
tunggal dalam jaringan mengalami transformasi,proses yang
mengubah sel normal menjadi sel kanker. Akibat perubahan
abnormal pada permukaan sel, sel itu juga kehilangan
pelekatannya dengan sel di sebelahnya dan dengan matriks
ekstraseluler, dan dapat menyebar ke jaringan di dekatnya. Sel
kanker juga dapat dapat menyebar diluar dari tempat asalnya
yang disebut metastasis.
Pengaruh hidrokarbon aromatik pada kesehatan manusia dapat
terlihat pada tabel dibawah ini, yang dikeluarkan oleh
Departemen Kesehatan :
Konsentrasi
Jenis
Hidrokarbon
(ppm)

Dampak Kesehatan

Benzena
(C6H6)
100
3000
7500

Iritasi membran mukosa


Lemas setelah 1 jam
Pengaruh sangat berbahaya setelah pemaparan 1
jam

20000

Kematian setelah pemaparan 5-10 menit

Toluena
(C7H8)
200
600

Pusing lemah dan berkunang-kunang setelah


pemaparan 8 jam
Kehilangan koordinasi bola mata terbalik setelah
pemaparan 8 jam
Menurut Widyastuti (2000), pemaparan dari Hidrokarbon
benzena dapat berupa zat cair ataupun gas yaitu melalui air dan
udara. Minyak mentah merupakan campuran dari beribu-ribu
hidrokarbon. Pada pabrik penyulingan misalnya, petroleum
menghasilkan berbagai jenis polutan udara dan air serta limbah
padat berbahaya. Seringkali polutan yang dilepaskan
mengandung semua produk penyulingan kilang minyak (bahan
bakar, solven, minyak, zat lilin, pelumas aspal ) dan khususnya
hidrogen sulfida, hidrokarbon polisiklik aromatik, CO. CO 2. dan
benzena.
Masalah seperti ini, biasanya akan berisiko terhadap penduduk
masyarakat yang tinggal didaerah perindustrian. Hal tersebut
dapat menyebabkan penduduk terkena dampak dari pencemaran
air dan udara dengan menghirup udara tercemar serta
mengkonsumsi air yang sudah tercemar. Resiko ini tergolong
tinggi, misalkan saja gejala sakit pernafasan. Beberapa paparan
bisa berasal dari kontak langsung melalui kulit dan inhalasi gas
serta uap, terutama hidrokarbon yang secara alami memang
terkandung di dalam minyak mentah(dilepaskan melalui
penyulingan. Substansi pokok penduduk, terutama para pekerja,
dapat terpapar saat bekerja di pabrik penyulingan petroleum
(Widyastuti, 2000).
Selain itu dampak buruk lainnya adalah pada reaksi pembakaran
hidroakarbon yang melibatkan O2 akan menghasilkan panas
yang tinggi. Panas yang tinggi ini menimbulkan peristiwa
pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek
atau partikel karbon. Gas hidrokarbon dapat bercampur dengan
gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk kabut
minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap
pekat dan menggumpal menjadi debu/partikel. Hidrokarbon

bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl


Nitrates) (Anonim, 2008).
Selain itu, hidrokarbon yang bersifat mutagenik akan sangat
rentan pada hewan. Beberapa percobaan pada hewan telah
membuktikan adanya indikasi perubahan gen pada hewan
tersebut. Dengan kekalan massa yang berlaku, konsumsi hewan
yang tercemar oleh manusia akan memindahkan kandungan
senyawa hidrokarbon ke manusia (Anonim, 2008).
Dampak buruk pada tumbuhan oleh hidrokarbon dapat berupa
campuran PAN dengan gas CO dan O 3 disebut kabut foto kimia
(Photo Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun
menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur
bahan lain toksitasnya akan meningkat (Anonim, 2008).
Hasil pengolahan industri senyawa-senyawa hidrokarbon untuk
kepentingan manusia akan menjadi bersifat polutan karena
pengolahan/pemakaiannya yang tidak sempurna. Misalnya asap
hasil pembakaran motor yang tidak sempurna merupakan hasil
pengolahan senyawa hidrokarbon yang tidak sempurna(Anonim,
2008).
3. Alternatif Senyawa Hidrokarbon

Kegunaan fraksi-fraksi yang diperoleh dari minyak bumi terkait


dengan sifat fisisnya seperti titik didih dan viskositas, dan juga sifat
kimianya.

Bensin
Bensin merupakan bahan bakar transportasi yang masih memegang
peranan penting sampai saat ini. Bensin mengandung lebih dari 500
jenis hidrokarbon yang memiliki rantai C5-C10. Kadarnya bervariasi
tergantung komposisi minyak mentah dan kualitas yang diinginkan.
Lalu, bagaimana sebenarnya penggunaan bensin sebagai bahan
bakar?
Bensin sebagai bahan bakar kendaraan bermotor
Oleh karena bensin hanya terbakar dalam fase uap, maka bensin
harus diuapkan dalam karburator sebelum dibakar dalam silinder
mesin kendaraan. Energi yang dihasilkan dari proses pembakaran
bensin diubah menjadi gerak melalui tahapan sebagai berikut.
Pembakaran bensin yang diinginkan adalah yang menghasilkan
dorongan yang mulus terhadap penurunan piston. Hal ini
tergantung dari ketepatan waktu pembakaran agar jumlah energi

yang ditransfer ke piston menjadi maksimum. Ketepatan waktu


pembakaran tergantung dari jenis rantai hidrokarbon yang
selanjutnya akan menentukan kualitas bensin. -Alkana rantai lurus
dalam bensin seperti n-heptana, n-oktana, dan n-nonana sangat
mudah terbakar. Hal ini menyebabkan pembakaran terjadi terlalu
awal sebelum piston mencapai posisi yang tepat. Akibatnya timbul
bunyi ledakan yang dikenal sebagai ketukan (knocking).
Pembakaran terlalu awal juga berarti ada sisa komponen bensin
yang belum terbakar sehingga energi yang ditransfer ke piston tidak
maksimum. -Alkana rantai bercabang/alisiklik/aromatik dalam
bensin seperti isooktana tidak terlalu mudah terbakar. Jadi, lebih
sedikit ketukan yang dihasilkan, dan energi yang ditransfer ke
piston lebih besar.
Oleh karena itu, bensin dengan kualitas yang baik harus
mengandung lebih banyak alkana rantai
bercabang/alisiklik/aromatik dibandingkan alkana rantai lurus.
Kualitas bensin ini dinyatakan oleh bilangan oktan.
Sumber energi alternatif mulai populer di seluruh dunia,
menggangtikan sumber energi fosil yang perlahan-lahan mulai
habis. Berdasarkan kebijakan Amerika Serikat tentang sumber
energi, ada delapan sumber energi alternatif yang berpotensi untuk
menggantikan peran minyak dan gas.
1. Ethanol
Merupakan bahan bakar yang berbasis alkohol dari fermentasi
tanaman, seperti jagung dan gandum. Bahan bakar ini dapat
dicampur dengan bensin untuk meningkatkan kadar oktan dan
kualitas emisi. Namun, ethanol memiliki dampak negatif terhadap
harga pangan dan ketersediannya.
2. Gas Alam
Gas alam sudah banyak digunakan di berbagai negara yang
biasanya untuk bidang properti dan bisnis. Jika digunakan untuk
kendaraan, emisi yang dikeluarkan akan lebih ramah lingkungan
dibandingkan dengan minyak.
Akan tetapi, efek rumah kaca yang dihasilkannya 21 kali lebih
buruk.
3. Listrik
Listrik dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi, seperti
baterai. Tenaga listrik dapat diisi ulang dan disimpan dalam baterai.
Bahan bakar ini menghasilkan tenaga tanpa ada pembakaran
ataupun polusi, namun sebagian dari sumber tenaga ini masih
tercipta dari batu bara dan meninggalkan gas karbon.

4. Hidrogen
Hidrogen dapat dicampur dengan gas alam dan menciptakan bahan
bakar untuk kendaraan. Hidrogen juga digunakan pada kendaraan
yang menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya. Walaupun
begitu, harga untuk penggunaan hidrogen masih relatif mahal.
5. Propana
Propana atau yang biasa dikenal dengan LPG merupakan produk
dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Sumber tenaga ini
sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar. Propana
menghasilkan emisi lebih sedikit dibandingkan bensin, namun
penciptaan metananya lebih buruk 21 kali lipat.
6. Biodiesel
Biodiesel merupakan energi yang berasal dari tumbuhan atau lemak
binatang. Mesin kendaraan dapat menggunakan biodiesel yang
masih murni, maupun biodiesel yang telah dicampur dengan
minyak. Biodiesel mengurangi polusi yang ada, akan tetapi
terbatasnya produk dan infrastruktur menjadi masalah pada sumber
energi ini.
7. Methanol
Methanol yang juga dikenal sebagai alkohol kayu dapat menjadi
energi alternatif pada kendaraan. Methanol dapat menjadi energi
alternatif yang penting di masa depan karena hidrogen yang
dihasilkan dapat menjadi energi juga. Namun, sekarang ini
produsen kendaraan tidak lagi menggunakan methanol sebagai
bahan bakar.
8. P-Series
P-series merupakan gabungan dari ethanol, gas alam, dan
metyhltetrahydrofuran (MeTHF). P-series sangat efektif dan efisien
karena oktan yang terkandung cukup tinggi. Penggunaannya pun
sangat mudah jika ingin dicampurkan tanpa ada proses dengan
teknologi lain. Akan tetapi, hingga sekarang belum ada produsen
kendaraan yang menciptakan kendaraan dengan bahan bakar
fleksibel.

DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK BUMI


Meskipun akhir-akhir ini banyak dicari bahan bakar
alternatif pengganti minyak bumi, tetapi minyak bumi masih
dimanfaatkan sebagai salah satu bahan bakar utama. Secara
umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari
alam seperti minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia
akan selalu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan

(misalnya udara dan iklim, air dan tanah).


Fraksi-fraksi dari minyak bumi yang merupakan
senyawa hidrokarbon, jika digunakan sebagai bahan bakar dan
mengalami pembakaran sempurna maka akan dihasilkan gas
karbondioksida dan air. Gas karbondioksida (CO2) ini bersamasama dengan uap air yang ada di atmosfer dapat menyebabkan
efek rumah kaca. Meningkatnya gas karbondioksida di udara
karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, pemakaian
bahan bakar fosil untuk industri, dan bahkan kebakaran hutan,
menyebabkan efek rumah kaca yang meningkat hebat, akibatnya
terjadi pemanasan global karena meningkatnya suhu di
permukaan bumi.
Tetapi, pada saat pembakaran bahan bakar fosil terjadi
tidak sempurna, artinya reaksi bahan bakar dengan oksigen tidak
berlangsung dengan efektif. Reaksi pembakaran senyawa
hidrokarbon akan menghasilkan gas karbonmonoksida (CO).
Gas karbonmonoksida adalah gas yang bersifat racun, karena
molekul CO yang bersifat polar jika terhisap melalui pernafasan
pada dosis tertentu akan lebih mudah terikat dengan
haemoglobin dalam darah dibandingkan gas oksigen (O 2) yang
bersifat non polar. Melalui reaksi :

CO + Hb ---> HbCO
Akibatnya, di dalam darah tidak cukup oksigen yang
seharusnya disuplai dan diedarkan oleh darah untuk pembakaran
dalam sel. Jika hal ini berlangsung terus menerus akan
mengakibatkan pusing dan mual-mual, bahkan dapat
mengakibatkan kematian. Selain oksida, pembakaran minyak
bumi dan bahan bakar fosil lainnya juga menghasilkan gas-gas
oksida belerang seperti SO2, SO3, dan oksida nitrogen seperti gas
NO2. Gas ini bila bereaksi dengan hujan atau uap air di udara
membentuk hujan asam. Reaksinya :

H2O + SO3 ---> H2SO4


H2O + NO2 ---> HNO3
Hujan asam membuat bangunan yang bahan dasarnya terdiri
dari logam dan batuan mudah rusak.
Selain itu, gas NO3 menjadi salah satu gas perusak lapisa
ozon di atmosfir yang menyebabkan sinar ultra violet dapat
langsung menembus ke permukaan bumi. Hal ini dapat
menyebabkan kerusakan (kanker) pada kulit.
Disamping gas-gas tersebut, jangan lupa bensin terutama
mengandung senyawa TEL sebagai zat aditif untuk menaikkan
bilangan oktan. Unsur timbal (Pb) pada gas buang menimbulkan
gangguan kesehatan seperti keracunan, iritasi, kerusakan otak,
gangguan fungsi ginjal dan dapat menyebabkan depresi.
Penggunaan minyak bumi sangat berdampak buruk
terhadap lingkungan. Berikut dampak negatif dari penggunaan
minyak bumi terhadap lingkungan selain yang disebutkan di atas
:

Pencemaran terhadap udara

Smog merupakan pencemaran udara yang disebabkan oleh


tingginya kadar gas NOx, SO2, O3 di udara yang dilepaskan,
antara lain oleh kendaraan bermotor, dan kegiatan industri.
Smog dapat menimbulkan batuk-batuk dan tentunya dapat
menghalangi jangkauan mata dalam memandang.

Pencemaran terhadap perairan

Eksploitasi minyak bumi, khususnya cara penampungan dan


pengangkutan minyak bumi yang tidak layak, misalnya:
bocornya tangker minyak atau kecelakaan lain akan
mengakibatkan tumpahnya minyak (ke laut, sungai atau air
tanah) dapat menyebabkan pencemaran perairan. Pada dasarnya
pencemaran tersebut disebabkan oleh kesalahan manusia.
Pencemaran air oleh minyak bumi umumnya disebabkan oleh

pembuangan minyak pelumas secara sembarangan. Di laut


sering terjadi pencemaran oleh minyak dari tangki yang bocor.
Adanya minyak pada permukaan air menghalangi kontak antara
air dengan udara sehingga kadar oksigen berkurang.

Pencemaran terhadap tanah

Dampak penggunaan energi terhadap tanah dapat


diketahui, misalnya dari pertambahan batu bara. Masalah
yang berkaitan dengan lapisan tanah muncul terutama
dalam pertambangan terbuka. Jika terhirup dan masuk ke
tubuh, sebagian besar akan ditimbun dalam tulang. Ketika
orang mengalami stres, Pb diremobilisasi dari tulang dan
masuk ke peredaran darah sehingga menimbulkan risiko
keracunan. Dalam jangka panjang, penimbunan Pb bisa
berbahaya.

Penggunaan minyak bumi selain sebagai bahan bakar, juga


digunakan dalam kehidupan manusia untuk keperluan seharihari, seperti :
Dalam bidang pangan sebagai bahan baku pembuatan pupuk
dari minyak bumi, industri yang menanganinya disebut industri
petrokimia.
Dalam bidang sandang dan papan sebagai bahan dasar
pembuatan kain sintetis dan beberapa jenis bahan bangunan
sintetis seperti bermacam-macam jenis plastik untuk paralon,
atap rumah dll.
Selain itu, minyak bumi juga digunakan untuk bahan
pembuatan obat-obatan, detergen, cat dll.

Pengertian Energi Alternatif


Energi alternatif merupakan istilah yang digunakan untuk semua
energi yang dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar
konvensional. Hal ini merujuk pada teknologi untuk
menghasilkan bahan bakar selain fosil/ minyak bumi karena
minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat
diperbarui.

Adapun kriteria-kriteria energi alternatif adalah:


- Dapat digunakan berulang-ulang
- Jumlahnya berlimpah
- Pengolahannya tidak merusak alam
- Tidak berbahaya, aman, serata tidak menimbulkan berbagai
penyakit akibat pengolahan/penggunaanya.
- Ramah lingkungan
2. Macam Sumber-Sumber Energi Alternatif

Sumber daya energi dapat dibagi dalam:


1. Sumber daya energi hayati
2. Sumber daya energi surya
3. Sumber daya energi air
4. Sumber daya energi laut
5. Sumber daya energi angin
6. Sumber daya energi nuklir
7. Sumber daya energi bahan fosil
8. Sumber daya energi panas bumi[1][1]
Energi alternatif pengganti minyak bumi diantaranya meliputi
elpiji, solar, biofuel, hidrofuel, biomassa, biogas, meatanol,
bioetanol, campuran spirtus dan sebagainya.

A.

Biogas

Kotoran hewan dapat digunakan sebagai kompos untuk


memupuk tanaman atau membuat biogas yang berguna sebagai
bahan bakar. Biogas cocok dikembangkan di daerah-daerah
yang memiliki biomassa berlimpah, terutama di sentra-sentra
produksi padi dan ternak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi
Selatan, Bali, dan lain-lain[1][2]
Biogas sebagian besar terdiri atas gas metan yang dapat dibakar.
Biogas merupakan hasil fermentasi bakteri metan di dalam
kondisi anaerobik. Secara teknis pembuatan biogas tidak
merupakan masalah.[2][3]
Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester yang
berfungsi untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan
bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling banyak
digunakan adalah model continuous feeding dimana pengisian
bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar

kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak yamg


dihasilkan dan banyaknya biogas yang diinginkan. Lahannya
yang diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester
diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu
koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon.
Setelah pengerjaan digester selesai maka mulai dilakukan proses
pembuatan biogas dengan langkah langkah sebagai berikut:
1. Mencampur kotoran sapi dengan air sampai terbentuk
lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampung
sementara. Bentuk lumpur akan mempermudah pemasukan
kedalam digester
2. Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang
pemasukan. Pada pengisian pertama kran gas yang ada diatas
digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan udara yang
ada didalam digester terdesak keluar. Pada pengisian pertama ini
dibutuhkan lumpur kotoran sapi dalam jumlah yang banyak
sampai digester penuh.
3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran)
sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan
(RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2.
Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses
fermentasi.
4. Membuang gas yang pertama dihasilkan pada hari ke-1
sampai ke-8 karena yang terbentuk adalah gas CO2. Sedangkan
pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru terbentuk gas metan
(CH4) dan CO2 mulai menurun. Pada komposisi CH4 54% dan
CO2 27% maka biogas akan menyala.
5. Pada hari ke-14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk
menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai
hari ke-14 sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu
terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
Selanjutnya, digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara
kontinyu sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar
khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak
kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin,
solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai

pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi


biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung
dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya
pertanian.

B.

Solar

Solar energy atau tenaga surya adalah energi dari matahari,


tanpa adanya energi dari matahari maka semua kehidupan di
bumi akan berakhir. Energi matahari telah dipandang sebagai
sumber energi yang dapat digunakan dalam jangka panjang
selama bertahun-tahun karena sejumlah besar energi tersedia
bebas, jika dimanfaatkan oleh teknologi modern maka akan
dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam kehidupan
sehari-hari.
Sebagai contoh dari adanya energi surya adalah penemuan
mobil surya. Mobil surya adalah jenis kendaraan listrik yang
menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energinya.
Energi matahari ditangkap dengan menggunakan panel cell
surya, kemudian digunakan untuk menggerakkan motor listrik
yang berfungsi untuk memutar roda agar dapat digunakan secara
stabil. Mobil surya dilengkapi dengan tempat penyimpanan
energi (energi storage).[3][4]

C.

Bioetanol

Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu biofuel yang hadir


sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan
sifatnya yang terbarukan. Merupakan bahan bakar alternatif
yang diolah dari tumbuhan yang memiliki keunggulan karena
mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%, dibandingkan
dengan emisi bahan bakar fosil seperti minyak tanah. Bioetanol
dapat diproduksi dari berbagai bahan baku yang banyak terdapat
di Indonesia, sehingga sangat potensial untuk diolah dan
dikembangkan karena bahan bakunya sangat dikenal
masyarakat. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan
bioetanol antara lain tanaman yang memiliki kadar karbohidrat
tinggi, seperti tebu, nira, aren, sorgum, ubi kayu, jambu mete
(limbah jambu mete), garut, batang pisang, ubi jalar, jagung,
bonggol jagung, jerami, dan bagas (ampas tebu). [4][5]
Dari biomas yang banyak mengandung pati dapat dibuat

alkohol. Alkohol merupakan bahan bakar yang baik. Dicampur


dengan bensin ia dapat digunakan untuk bahan bakar mobil,
sehingga dapat mengurangi konsumsi BBM.[5][6]

D.

Energi Alternatif Lain

a. Biomas
Termasuk dalam biomas ialah semua bahan organik tumbuhan,
seperti kayu, ranting, dan daun serat pati, gula dan getah susu
yang terdapat dalam tubuh tumbuhan.
Sebuah contoh populer perubahan biomas adalah gasohol
( suatu campuran 90% bensin dan 10% alkohol). Gula, jagung,
gandum, kentang, sisa perkebunan, dan bahan-bahan lain dapat
di ragi dan disuling untuk menghasilkan etanol. Metanol yang
dibuat dari batu bara atau kayu juga dapat digunakan sebagai
suatu bahan bakar alkohol.[6][7]
b. Biofuel (energi nabati)
Tanaman yang dapat dikembangkan bio-fuel meliputi kelapa,
kelapa sawit, enau/aren, jarak pagar, tebu, singkong/ ketela.
3. Manfaat energi alternatif sebgai pengganti minyak bumi
Secara umum, energi alternatif memiliki manfaat diantaranya:
1. Menghasilkan devisa suatu negara
2. Menambah pengaman terhadap pasokan energi
3. Mengurangi subsidi BBM
4. Memperbaiki lingkungan
I