You are on page 1of 3

BAB IV

DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan
(nm)
Cu + H2O
Cu + H2O + NH3
750
0,488
0,044
760
0,362
0,069
770
0,366
0,041
780
0,370
0,039
790
0,373
0,031
800
0,371
0,034
810
0,501
0,032
820
0,363
0,030
830
0,356
0,029
840
0,349
0,027
850
0,340
0,025

Cu + NH3
0,452
0,444
0,387
0,354
0,327
0,297
0,272
0,248
0,306
0,205
0,189

4.2 Pembahasan
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terdiri dari logam yang
berikatan

dengan

ligan

melalui

ikatan

kovalen

koordinasi.

Umumnya

pembentukan senyawa kompleks ditandai dengan adanya perubahan warna. Ligan


merupakan penyumbang pasangan elektron (basa lewis) untuk logam (atom
pusat). Warna yang terbentuk pada senyawa kompleks menandakan adanya
absorpsi di daerah sinar tampak (visible). Warna tersebut dihasilkan karena
adanya eksitasi elektron oleh sinar tampak dari orbital molekul kompleks yang
diisi elektron ke orbital dengan tingkat energi yang kosong. Perbedaan energi
antar orbital yang dapat mengalami transisi disebut E.
E = h. V
Transisi elektron yang dihasilkan dibagi menjadi dua golongan :
1. Bila kedua orbital molekul yang dapat mengalami transisi memiliki karakter
utama d, transisinya disebut transisi medan ligan atau transisi d-d. Panjang
gelombang absorpsinya bergantung pada pembelahan medan ligan.
2. Bila satu dari kedua orbital memiliki karakter utama logam serta orbital
lainnya memiliki karakter ligan, transisinya disebut transfer muatan.

Teori medan ligan merupakan satu dari teori yang paling bermanfaat dalam
menjelaskan struktur elektronik kompleks. Setiap ligan baik suatu molekul netral
atau ion negatif akan menyumbangkan sepasang elektron untuk membentuk
sebuah ikatan dengan ion atau atom pusat. Gaya yang dihasilkan terhadap ion atau
atom pusat oleh elektron-elektron ini dan oleh muatan netto ligan-ligan disebut
medan ligan.
Ligan merupakan molekul atau ion yang mengelilingi logam. Contoh ligan
dalam bentuk molekul adalah CO, NH3 dan H2O. Sedangkan contoh ligan dalam
bentuk ion adalah Cl-, Br-, dan F-. Ligan-ligan tersebut memiliki setidaknya satu
pasang elektron yang akan disumbangkan ke atom pusat. Pengaruh ligan terhadap
kekuatan medan listrik dan kedudukan geometri ligan dalam kompleks sangat
bergantung dari jenis ligan tersebut. Medan listrik pada atom pusat dapat
mempengaruhi ligan-ligan sekelilingnya, sedangkan medan gabungan dari liganligan akan mempengaruhi elektron-elektron dari ion pusat. Medan listrik akan
sangat berguna dalam karakterisasi senyawa kompleks.
Percobaan ini menggunakan larutan Cu (NO3)2 karena mengandung logam
Cu yang dapat membentuk kompleks oktahedral. Kompleks oktahedral
merupakan senyawa kompleks yang memiliki enam ligan. Ketika dua ligan pada
posisi trans didekatkan atau dijauhkan terhadap atom pusat, kompleks tersebut
mengalami distorsi tetragonal. Distorsi tetragonal lebih dikenal dengan distorsi
Jahn-Teller. Distorsi Jahn-Teller adalah penyimpangan geometri kompleks (dari
oktahedral menjadi tetragonal) yang disebabkan oleh keberadaan elektron di
orbital d pada atom pusatnya. Ligan bermuatan negatif, karenanya akan mendapat
tolakan oleh elektron (yang juga bermuatan negatif) yang terdapat pada orbital d.
Meskipun demikian hanya elektron-elektron pada orbital-orbital tertentu yang
tolakannya efektif sehingga distorsi Jahn-Teller dapat teramati.
Salah satu distorsi yang dihasilkan kompleks oktahedral adalah sistem d4,
d9. Pada sistem d4 spin tinggi tiga elektron pertama akan terdistribusi pada orbital
t2g, sedangkan electron keempat menempati orbital eg (dx2-y2 atau dz2). Jika
menempati orbital dx2-y2, maka empat ligan yang berada pada sumbu x dan sumbu
y mengalami tolakan sehingga jaraknya terhadap ion pusat menjadi lebih jauh,
sama halnya dengan dz2. Sedangkan untuk sistem d9 spin tinggi pada dasarnya

sama dengan sistem d4 karena dari 9 elektron yang ada enam diantaranya
terdistribusi pada t2g dan tiga diantaranya terdistribusi pada orbital eg.
Percobaan ini dilakukan dengan mebuat tiga jenis larutan. Larutan I
merupakan campuran 0,5 ml Cu(NO 3)2 dengan 24,5 mL H2O. Larutan II terdiri
dari 1 ml NH3 ditambah 1 ml Cu(NO3)2 dan 48 ml H2O. Larutan III terdiri dari 0,5
ml Cu(NO3)2 dan 1,5 ml NH3. Larutan kemudian diuji dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 750-850 nm. Pengukuran tersebut dilakukan untuk
mengetahui maks dari ketiga larutan. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan
untuk menegtahui absorbansi larutan. Prinsip dasar alat ini yaitu jika suatu sinar
monokromatis diteruskan pada sampel maka sebagian sinar akan diserap dan
sebagian lagi akan diteruskan, jumlah sinar yang diserap akan sebanding dengan
konsentrasi larutan. Hal ini didasarkan pada hukum Lambert-Beer yaitu
A = . B . C.
Kekuatan ligan sangat mempengaruhi pembelahan orbital d serta
senyawa kompleks. Semakin kuat ligan maka pembelahan (splitting) orbital akan
semakin besar sehingga yang dihasilkan akan semakin kecil. Berdasarkan hasil
pengukuran larutan III merupakan larutan dengan panjang gelombang yang paling
kecil kemudian larutan II dan larutan I. Panjang gelombang pada larutan I
dipengaruhi oleh ligan NH3 yang menghasilkan (NO3)2 pada larutan Cu(NO3)2.
NH3 merupakan ligan kuat sehingga menghasilkan yang kecil. Larutan I
menghasilkan yang paling besar karena Cu (N0 3)2 hanya ditambahkan H2O. max
larutan I adalah 810 nm dengan absorbansi sebesar 0,501 A. max larutan II adalah
760 nm dengan absorbansi sebesar 0,069 A. max larutan III adalah 750 nm dengan
absorbansi sebesar 0,452 A. panjang gelombang terkecil menandakan bahwa
senyawa tersebut memiliki ligan yang kuat.