You are on page 1of 17

GLOBAL MARKETING

Marketing Audit: J.Co Entry to Taiwan


Bpk. Drs. Hamin, MBA, DBA

Ikhwan Sulaiman
14/374706/PEK/19824
KELAS EKSEKUTIF B28B

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JAKARTA
2016

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

DAFTAR ISI
Chapter 1. Introduction ............................................................................................................. 2
Chapter 2. Current Market Situation Analysis ........................................................................... 2
Chapter 3. Objective and Scope of the Audit ............................................................................ 8
Chapter 4. Marketing Audit ....................................................................................................... 8
4.1 Aspek Lingkungan ............................................................................................................. 8
A.

Markets ....................................................................................................................... 8

B.

Culture ......................................................................................................................... 9

C.

Customers ................................................................................................................... 9

D. Competition................................................................................................................. 9
4.2 Marketing ....................................................................................................................... 10
A. Tujuan ........................................................................................................................... 10
B. Strategi ......................................................................................................................... 10
C. Taktik ............................................................................................................................ 10
3. 4P ...................................................................................................................................... 11
A. Product ......................................................................................................................... 11
B. Price .............................................................................................................................. 11
C. Place.............................................................................................................................. 11
D. Promotion .................................................................................................................... 11
Penjualan .............................................................................................................................. 11
Chapter 5. Data Analysis and Interpretation ........................................................................... 12
Chapter 6. Marketing Strategy and Tactics Entering New Market .......................................... 13
Chapter 7. Conclusion and Recommendation ......................................................................... 14
Daftar Pustaka.......................................................................................................................... 15

DAFTAR GRAFIK
GRAFIK 1. PERBANDINGAN BUDAYA TAIWAN DAN INDONESIA (GEERT-HOFSTEDE, 2015) ............................ 3

DAFTAR TABEL
TABEL 1. POPULATION BY SEX (DIRECTORATE-GENERAL OF BUDGET, ACCOUNTING AND STATISTICS EXECUTIVE
YUAN, REPUBLIC OF CHINA, 2015) ............................................................................................ 5
TABEL 2. DISTRIBUSI POPULASI BERDASAR DISTRIBUSI USIA 2010 2014 (DIRECTORATE-GENERAL OF
BUDGET, ACCOUNTING AND STATISTICS EXECUTIVE YUAN, REPUBLIC OF CHINA, 2015) ....................... 6
TABEL 3. RATA-RATA PENGHASILAN BULANAN PENDUDUK TAIWAN (DIRECTORATE-GENERAL OF BUDGET,
ACCOUNTING AND STATISTICS EXECUTIVE YUAN, REPUBLIC OF CHINA, 2015) .................................... 6
TABEL 4. DOING BUSINESS RANKING (DOING BUSINESS, 2016) .............................................................. 7
TABEL 5. CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2015 (TRANSPARENCY INTERNATIONAL, 2015) ........................ 7

1|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Chapter 1. Introduction
J.CO Donuts & Coffee adalah produk Indonesia yang terinspirasi oleh konsep dari luar negeri
dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. Didirikan oleh Johnny Andrean
yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Mengikuti insting, sang
penata rambut kemudian terjun ke bisnis makanan. J.CO diilhami dari donat USA. Johnny
yang sering melakukan perjalanan bisnis ke USA, mendapatkan kesempatan menikmati
berbagai jenis donat dengan rasa dan keunikan yang berbeda. Pada mulanya, ia ingin
membeli waralaba suatu jaringan pemasaran donat USA, tetapi ia mendapatkan beberapa
keterbatasan pada produknya. Keterbatasan itu ada pada bahan baku dan kelemahan dalam
pengendalian kualitas. J.CO.Donuts sejatinya bukan pionir di industri kafe berbasis menu
kue donat di Indonesia, sebelumnya sudah ada Dunkin Donuts. Namun sejak masuk ke pasar
pada pertengahan 2005, J.CO Iangsung menjadi buah bibir, mengalahkan popularitas sang
incumbent Dunkin Donuts dan membukukan pertumbuhan penjualan yang terbilang tinggi
(Dewi, 2013).
Penetrasi pasar J.Co telah meluas hingga ke beberapa negara di Asia. Selain Indonesia, J.Co
telah merambah ke pasar Malaysia, Filipina, Singapura dan meski di situs resminya belum
tercantum dan belum dapat dikonfirmasi, beberapa sumber menyebutkan J.Co memiliki
cabang di China (J.CO Donuts & Coffee, 2013). Lebih lanjut, J.Co memiliki potensi untuk
terus memperluas jaringan pasarnya. Untuk itu dibutuhkan sistem yang dapat
mengidentifikasi masalah-masalah atau ancaman-ancaman pemasaran yang mungkin akan
atau sedang dihadapi oleh perusahaan dan membuat sebuah perencanaan perbaikan yang
perlu dilakukan untuk mengatasi dan menghilangkan masalah-masalah tersebut, sehingga
diharapkan aktivitas pemasaran dapat menjadi lebih efektif dan efisien (Wilson, 2002). Pada
kesempatan kali ini penulis akan mencoba melakukan marketing audit J.Co dalam usahanya
melakukan penetrasi pasar ke negara Taiwan. Mengapa Taiwan? J.Co telah berhasil
memasuki pasar Filipina yang terletak di bagian selatan Taiwan. Taiwan juga dikenal
memiliki kondisi perekonomian yang baik. Beberapa produk yang dikenal di Indonesia
seperti Asus, HTC, Acer, BenQ dan beberapa perangkat elektronik lainya telah menghiasi
etalase di Indonesia. Sangat menarik untuk dapat melakukan marketing audit untuk pasar
Taiwan.

Chapter 2. Current Market Situation Analysis


Taiwan, atau dikenal sebagai Republic of China adalah sebuah negara melingkupi sebuah
pulau yang terletak dilautan Pacifik (Laut China Selatan). Taiwan mirip dengan Indonesia
beriklim tropis hingga sub-tropis. Pemerintah Republic of China (ROC) mulai melaksanakan
pemerintahan atas Taiwan pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah diakhir perang dunia
ke-2. Pemerintah the ROC pindah ke Taiwan pada tahun 1949 setelah kalah dalam perang
sipil China. Pemimpin ROC daratan kalah dalam perang sipil China. Walaupun Taiwan hanya
merupakan sebuah negara kecil (dilihat dari luas wilayah), namun statistik ekonomi dan
perdagangan serta produk teknologi negara ini membuat dunia banyak tergantung ke pada
Taiwan. Statistik ekonomi Taiwan memang fantastis, merupakan negara di Asia dengan
pertumbuhan ekonomi yang cenderung stabil sejak 3 dekade terakhir, perdagangan Taiwan
membukukan total nilai sebesar 575 milliar dollar ditahun 2013, lebih dua kali lipat dari
Indonesia (Bernaulus Saragih, 2014).
2|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Grafik 1. Perbandingan Budaya Taiwan dan Indonesia (Geert-Hofstede, 2015)


Power Distance
Dimensi ini berkaitan dengan fakta bahwa semua individu dalam masyarakat yang tidak
sama - itu mengungkapkan sikap budaya terhadap ketidaksetaraan di antara kita. Power
Distance didefinisikan sebagai sejauh mana anggota yang kurang kuat dari lembaga dan
organisasi dalam suatu negara mengharapkan dan menerima kekuasaan yang
didistribusikan merata.
Taiwan memiliki skor yang relatif tinggi 58 pada dimensi ini yang menunjukkan bahwa itu
adalah masyarakat hierarkis. Ini berarti bahwa orang menerima perintah hirarkis di mana
setiap orang memiliki tempat dan yang tidak membutuhkan justifikasi lebih lanjut. Hirarki
dalam suatu organisasi dipandang sebagai mencerminkan ketimpangan yang melekat,
sentralisasi populer, bawahan berharap untuk diberitahu apa yang harus dilakukan dan bos
yang ideal adalah otokrat baik hati.
Individualisme
Isu mendasar ditangani oleh dimensi ini adalah tingkat ketergantungan masyarakat
mempertahankan di antara para anggotanya. Ini ada hubungannya dengan apakah citra diri
masyarakatnya didefinisikan dalam hal "Saya" atau "Kami". Dalam masyarakat Individualist
orang yang seharusnya menjaga diri mereka sendiri dan keluarga langsung mereka saja.
Dalam masyarakat kolektivis orang milik 'di kelompok' yang mengurus mereka dalam
pertukaran untuk loyalitas.
Taiwan, dengan skor 17 adalah masyarakat kolektivis. Ini terwujud dalam komitmen jangka
panjang dengan kelompok "anggota", bahwa sebuah keluarga, keluarga besar atau
hubungan yang diperpanjang. Loyalitas dalam budaya kolektivis adalah yang terpenting dan
3|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

menimpa aturan sosial yang paling lain dan peraturan. Masyarakat seperti ini
menumbuhkan hubungan yang kuat, di mana setiap orang bertanggung jawab untuk sesama
anggota kelompok mereka. Dalam masyarakat kolektif, pelanggaran menyebabkan rasa
malu dan kehilangan muka. Hubungan antara majikan dan karyawan yang dirasakan dalam
hal moral (seperti link keluarga), mempekerjakan dan pertimbangan promosi di kelompok
karyawan. Manajemen adalah manajemen kelompok.
Masculinity
Skor yang tinggi (Maskulin) pada dimensi ini menunjukkan bahwa masyarakat akan didorong
oleh kompetisi, prestasi dan keberhasilan, dengan keberhasilan yang ditetapkan oleh
pemenang atau yang terbaik di lapangan sistem nilai yang dimulai di sekolah dan berlanjut
sepanjang kehidupan berorganisasi.
Skor yang rendah (Feminin) pada dimensi berarti bahwa nilai-nilai dominan dalam
masyarakat adalah peduli pada orang lain dan kualitas hidup. Masyarakat feminin tidak
menyukai perbedaan dibanding dengan kelompok lainnya. Masalah mendasar di sini adalah
apa yang memotivasi orang, ingin menjadi yang terbaik (Maskulin) atau menyukai apa yang
anda lakukan (Feminin).
Taiwan memiliki skor 45 pada dimensi ini, lebih rendah dan dengan demikian dianggap
masyarakat sedikit Feminine. Di negara-negara Feminine fokusnya adalah pada "bekerja
untuk hidup", manajer berusaha untuk konsensus, nilai orang kesetaraan, solidaritas dan
kualitas kehidupan kerja mereka. Konflik diselesaikan dengan kompromi dan negosiasi.
Insentif seperti waktu luang dan fleksibilitas yang disukai. Fokus pada kesejahteraan, status
tidak ditampilkan. Manajer yang efektif adalah mendukung satu, dan pengambilan
keputusan dicapai melalui keterlibatan banyak pihak.
Uncertainty Avoidance
Dimensi Penghindaran Ketidakpastian harus dilakukan dengan cara yang berkaitan dengan
fakta bahwa masa depan tidak dapat diketahui: kita harus mencoba untuk mengendalikan
masa depan atau hanya membiarkan hal itu terjadi? Ambiguitas ini turut membawa
kekhawatiran dan budaya yang berbeda setelah belajar dari pengalaman untuk mengatasi
kekhawatiran ini dengan cara yang berbeda. Sejauh mana para budaya para anggotanya
merasa terancam oleh situasi ambigu atau tidak diketahui dan telah menciptakan keyakinan
dan mencoba untuk menghindarinya tercermin dalam skor pada Uncertainty Avoidance.
Skor Taiwan 69 pada dimensi ini dan dengan demikian memiliki preferensi tinggi untuk
menghindari ketidakpastian. Negara yang memiliki skor tinggi dengan tegas menghindari
perilaku yang tidak lazim dan ide-ide yang menghadirkan ketidakpastian. Dalam budaya ini
ada kebutuhan emosional untuk aturan (bahkan jika aturan tersebut sepertinya tidak
pernah berhasil) waktu adalah uang, orang memiliki dorongan batin untuk menjadi sibuk
dan bekerja keras, presisi dan ketepatan waktu adalah norma, inovasi dapat ditahan, unsur
keamanan penting dalam motivasi individu.
Long Term Orientation
Dimensi ini menggambarkan bagaimana setiap masyarakat harus menjaga beberapa link
dengan masa lalu sendiri ketika berhadapan dengan tantangan masa kini dan masa depan,
dan masyarakat memprioritaskan dua tujuan yang berbeda. Masyarakat yang normatif. Skor
4|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

rendah pada dimensi ini, misalnya, lebih memilih untuk mempertahankan tradisi dan norma
ketepatan waktu dihormati saat melihat perubahan sosial. Di sisi lain, mereka dengan nilai
budaya yang tinggi mengambil pendekatan yang lebih pragmatis: mereka mendorong
penghematan dan upaya pendidikan modern sebagai cara untuk mempersiapkan masa
depan.
Skor Taiwan 93, membuatnya menjadi pragmatis, berorientasi pada budaya jangka panjang.
Masyarakat dengan orientasi ini menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dalam
konteks modern yaitu pragmatisme, kecenderungan yang kuat untuk menabung dan
berinvestasi, ketekunan dalam mencapai hasilnya dan perhatian utama yang menghormati
tuntutan kebajikan. Negara-negara Asia Tenggara dan Timur Jauh biasanya ditemukan pada
dimensi jangka panjang ini.
Indulgence
Salah satu tantangan yang dihadapi umat manusia, sekarang dan di masa lalu, adalah sejauh
mana anak-anak kecil disosialisasikan. Tanpa sosialisasi kita tidak menjadi "manusia".
Dimensi ini didefinisikan sebagai sejauh mana orang mencoba untuk mengendalikan
keinginan dan dorongan mereka, berdasarkan cara mereka dibesarkan. Kontrol yang relatif
lemah disebut "Indulgence" dan kontrol yang relatif kuat disebut "Restraint". Budaya bisa
didefinisikan sebagai memanjakan atau terkendali.
Taiwan memiliki nilai menengah yaitu 49 yang tidak menunjukkan preferensi dominan pada
dimensi ini.

Tabel 1. Population by Sex (Directorate-General Of Budget, Accounting And Statistics


Executive Yuan, Republic Of China, 2015)
Informasi yang didapatkan dari Badan Statistik Taiwan (Directorate-General Of Budget,
Accounting And Statistics Executive Yuan, Republic Of China, 2015), populasi penduduk
Taiwan pada tahun 2014 yaitu 23.433.753 jiwa, yang terbagi atas 11.697.971 jiwa penduduk
laki-laki dan 11.735.782 jiwa penduduk perempuan.

5|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Tabel 2. Distribusi Populasi Berdasar Distribusi Usia 2010 2014 (Directorate-General Of


Budget, Accounting And Statistics Executive Yuan, Republic Of China, 2015)
Data dari sumber yang sama mendeskripsikan distribusi usia penduduk Taiwan dari tahun
2010-2014, dimana distribusi terkonsentrasi pada penduduk usia 15-64 tahun yaitu dengan
persentase sebesar 74%.

Tabel 3. Rata-Rata Penghasilan Bulanan Penduduk Taiwan (Directorate-General Of


Budget, Accounting And Statistics Executive Yuan, Republic Of China, 2015)
Data rata-rata penghasilan penduduk Taiwan berkisar antara 31.747 TWD (Taiwan Dollar)
dari tenaga kerja di industri akomodasi dan pelayanan makanan hingga 94.022 TWD pada
industri suplai listrik dan bahan bakar. Penulis mengalami kendala untuk mendapatkan
informasi resmi untuk klasifikasi penduduk yang memiliki pendapatan menengah ke atas.
Untuk itu diasumsikan bahwa nilai rata-rata pendapatan tertinggi dibagi 2 (dua) sebagai
pendapatan kelas menengah, sehingga didapatkan nilai: (94.022 TWD / 2 = 47.011 TWD).
Sehingga untuk klasifikasi penduduk yang memiliki pendapatan menengah ke atas adalah
penduduk yang memiliki pendapatan lebih dari 47.011 TWD.

6|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Tabel 4. Doing Business Ranking (Doing Business, 2016)


Lebih lanjut, ditinjau dari kemudahan melakukan bisnis yang disadur dari situs
doingbusiness.org Taiwan berada di peringkat 11 dalam kemudahan melakukan bisnis.
Sangat menarik karena Indonesia berada di peringkat 109 dari 189 negara yang didaftar.

Tabel 5. Corruption Perceptions Index 2015 (Transparency International, 2015)


Peninjauan dari aspek indeks persepsi korupsi, Taiwan berada pada peringkat 30 dari 167
negara. Hal ini termasuk dalam kategori yang cukup baik mengingat Taiwan merupakan
negara yang industrinya masih dalam tahap perkembangan.

7|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Chapter 3. Objective and Scope of the Audit


Marketing audit adalah konsep yang menjadi ujian komprehensif, sistematis, independen,
dan periodik ini dari suatu perusahaan atau SBU (Strategic Business Unit) untuk merancang
tujuan, kegiatan, dan lingkungan, sehingga mengungkapkan masalah, peluang, dan
merekomendasikan tindakan yang akan meningkatkan kinerja pemasaran perusahaan
(Kotler, 1977). Marketing audit memiliki beberapa tujuan, di antaranya:
1. Menentukan bagaimana pasar memandang perusahaan dan pesaingnya.
2. Merekomendasikan kebijakan harga.
3. Mengembangkan sistem evaluasi produk.
4. Menentukan bagaimana meningkatkan aktivitas penjualan dalam hal penyebaran
salesforce, tingkat dan jenis kompensasi, pengukuran kinerja, dan penambahan
perwakilan penjualan baru.
Peninjauan lingkup audit marketing sangat luas, namun dalam kesempatan kali ini lingkup
yang akan dibahas yaitu:
1. Aspek Lingkungan
a. Markets
b. Culture
c. Customers
d. Competition
2. Marketing
a. Tujuan
b. Strategi
c. Taktik
3. 4P
a. Product
b. Price
c. Place
d. Promotion
4. Penjualan

Chapter 4. Marketing Audit


4.1 Aspek Lingkungan
A. Markets
Pasar minuman donat dan kopi umumnya telah matang dan stabil karena sejarahnya yang
panjang. Untuk terus menjadi yang terbaik, J.Co terus mengembangkan berbagai campuran
minuman kopi sesuai konsumen selera dan untuk menarik lebih banyak pelanggan. J.Co saat
ini menawarkan lebih dari 30 jenis donat (J.CO, 2016), berbagai jenis minuman kopi dan teh.
J.Co terus mengembangkan produk-produknya dengan meluncurkan cronuts, yaitu
gabungan antara croissant donuts yang sempat sangat populer dan digemari pelanggannya.
J.Co terus mengembangkan pasar dalam pasar yang matang. Oleh karena itu peluang
8|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

terbesar untuk keuntungan masa depan sangat mungkin terletak pada kemampuan J.Co
untuk memenuhi permintaan konsumen dengan variasi yang berbeda.
Outlet J.Co merupakan salah satu pilihan yang paling populer di kalangan mahasiswa,
eksekutif muda dan para ibu muda yang ingin membawa buah tangan ke rumah biasanya
menjadi J.Co sebagai pilihan sebagai cemilan bagi anaknya atau teman-temannya dalam
acara-acara tertentu. Dengan sifat donat yang tidak mengenyangkan, namun lebih tepat
untuk menjadi menu pembuka, J.Co sangat diminati banyak orang.
B. Culture
Tujuan J.Co adalah untuk menciptakan tempat yang unik antara rumah dan kantor, dimana
pelanggan dapat mengumpulkan, berbagi ide, dan menikmati makanan dan minuman lezat.
Seperti yang terlihat saat ini, J.Co telah berhasil dalam menciptakan sebuah tempat
pertemuan yang nyaman dan santai untuk pelanggan, untuk negosiasi bisnis, belajar
bersama atau sekedar menghabiskan waktu bersama dan kencan. Pelanggan yang membeli
J.Co dapat melakukan pembelian untuk dibawa pulang ataupun dinikmati di outlet tersebut.
Dalam pengembangan bisnisnya, J.Co melakukan beberapa program, salah satunya dikenal
sebagai J.Co Safari. yaitu kegiatan belajar mengolah donat dan coffee langsung di outlet
J.CO. Selain itu J.Co juga turut berpartisipasi dalam membantu lumpuhnya sarana dan
prasarana pendidikan di Padang akibat bencana alam tahun 2009 dengan kegiatan J.Co Care
for PADANG (Amaliafitri, 2009).
C. Customers
Sejak didirikan pada tahun 2005 (Wikipedia, 2016), J.Co telah menjelma menjadi merek
donat dan kopi yang familiar di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Beberapa konsumen
umumnya memilih donat dan kopi J.Co karena kualitas, variasi, dan tempat yang nyaman.
Meskipun demikian, J.Co terus mempertahankan pemahaman yang jelas tentang keinginan
dan kebutuhan pelanggan dan menerapkan perbaikan untuk memenuhi permintaan
konsumen secara keseluruhan.
Seperti yang terlihat di pasar donat hari ini, harga donat J.Co yang sedikit lebih tinggi dari
pesaing lainnya. J.Co tidak dapat dikatakan sebagai market pioneer karena J.Co bukan
merupakan perusahaan yang menjual donat pertama kali. Meskipun J.Co bukan yang
pertama tetapi J.co dapat menjadi yang paling unggul jika di bandingkan dengan pesaingpesaingnya. Hal ini dapat juga dilihat berdasarkan harga produk. Harga J.Co menjadi
patokan sebagai leader price. Jika harga J.Co naik, maka pesaing- pesaingnya juga akan
menaikkan harga. (YOGA, 2012)
D. Competition
Sebagai pemain di pasar food and beverages spesifik pada donat dan kopi, J.Co
Donuts&Coffee memiliki beberapa pesaing: I-Crave dan Krispy Kreme.Membicarakan usaha
donuts and coffee, Dunkin Donuts tak akan terlewatkan. Brand yang dimotori Dunkin
Brands telah berdiri sejak tahun 1950. Brand ini mencakup worldwide untuk jangkauan
pasar dan hingga kini masih tegak berdiri dengan beberapa jenis produk yang ditawarkan:
donat, brownies, croissant, muffins, kopi, cokelat, dan lain-lain. Dari sisi usia jelas Dunkin
9|Page

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Donuts lebih banyak memiliki jam terbang dibandingkan J.Co Donuts & Coffee yang baru
berdiri pada tahun 2005. Akan tetapi Dunkin Donuts bukanlah kompetitor J.Co Donuts &
Coffee. Hal ini dikarenakan konsep Dunkin Donuts yang lebih mengarah pada mainstream
donuts, setara dengan Country Style Donuts. J.Co Donuts & Coffee lebih diposisikan sebagai
donat yang lux dari sisi tampilan maupun kemasan serta menjual gaya hidup (life style).
I-Crave yang dikelola Melawai Group mengedepankan variasi rasa yang jauh lebih banyak
dari J-Co.Variasi filling I-Crave kurang lebih 20 jenis lebih banyak dari J.CO Donuts & Coffee.
I-Crave dari sisi harga mampu memberikan diskon sampai 35% jika pelanggan membeli
dalam kuantitas di atas dua lusin. I-Crave tidak terlalu menjual ambience seperti yang
ditawarkan J.CO Donuts & Coffee, akan tetapi mengedepankan variasi rasa serta harga yang
relatif murah.
Krispy Kreme sebagai pesaing J.CO Donuts & Coffee muncul di bawah bendera PT. Premier
Doughnut Indonesia. Ia merupakan salah satu retail donat tertua di Amerika yang memiliki
track record yang jauh lebih lama dibanding J.CO Donuts & Coffee.

4.2 Marketing
A. Tujuan
Visi dari J.Co Donuts & Coffee sebagaimana yang pernah tercantum dalam website
perusahaan yaitu membentuk J.Co Donuts & Coffee sebagai brand International Premium
Donuts and Coffee terkemuka. Konsisten dengan misinya dengan menyediakan kualitas
premium donat dan kopi (Ananda, 2011). Setelah kurang lebih 11 tahun, J.Co telah tumbuh
dari satu gerai outlet pada tahun 2005 menjadi lebih dari 100 gerai di seluruh manca negara
(Amelia, 2014). J.Co harus fokus pada tujuannya dan melanjutkan perumbuhan secara
internasional.
B. Strategi
Untuk mencapai tujuannya, J.Co perlu untuk giat memperluas operasi ritelnya,
meningkatkan penjualan dan selektif mengejar peluang untuk memanfaatkan brand J.Co
melalui pengenalan produk baru dan pengembangan saluran distribusi baru. Strategistrategi ini jelas dalam mencapai tujuan perusahaan.
C. Taktik
Taktik ekspansi J.Co termasuk ekspansi melalui jaringan toko di daerah perlu
dipertimbangkan secara matang. Yaitu dengan memilih daerah yang memiliki profil
demografi yang menguntungkan dan dapat dilayani serta didukung oleh infrastruktur
operasional. Setelah wilayah yang ditargetkan diidentifikasi, J.Co akan memilih kota besar di
wilayah itu untuk melayani sebagai markas daerah, dimana tim profesional akan berlokasi
untuk memfasilitasi perluasan.
Taktik lain adalah untuk terus membangun brand J.Co dalam persepsi masyarakat dengan
mengembangkan program pengenalan produk kepada masyarakat. Selain itu, J.Co telah
berusaha dengan layanan pesan antar untuk peningkatan layanan konsumen. Taktik J.Co
10 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

terbukti sukses selama beberapa tahun terakhir dengan menjadi market leader dalam
menempatkan terlalu banyak toko dalam satu wilayah.

3. 4P
A. Product
Lini produk J.Co saat ini tampaknya sesuai dengan keinginan konsumen, lebih dari 30 variasi
topping donat yang sesuai dengan keinginan konsumen. Namun J.Co perlu lebih berhatihati, karena konsumen saat ini menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya,
salah satunya dengan mengawasi kadar gula yang dikonsumsi. Oleh karena itu J.Co perlu
mempertimbangkan pengembangan produk yang lebih sehat.
B. Price
Rata-rata harga donat J.Co lebih tinggi dibandingkan pesaingnya, sementara untuk harga
kopi kurang lebih mirip dengan kompetitor seperti starbucks. Namun tidak setiap konsumen
rata-rata mampu untuk membeli dengan harga tinggi donat dan kopi di J.Co. Oleh karena itu
J.Co perlu mempertimbangkan strategi harga lainnya seperti program rebate untuk
menurunkan harganya.
C. Place
Selain memberikan produk kepada konsumen melalui outlet-outlet di pusat-pusat
perbelanjaan, J.Co juga mendistribusikan produknya melalui tempat-tempat lain seperti
bandara, kantor, hotel dan kampus-kampus. Perusahaan harus fokus pada saluran distribusi
internasional untuk menjangkau pasar yang lebih internasional.
D. Promotion
Selama bertahun-tahun, J.Co belum menghabiskan terlalu banyak uang untuk iklan.
Sebaliknya, perusahaan telah bekerja untuk membangun brand melalui kepuasan
pelanggan, mengandalkan word-to-mouth marketing dan daya tarik etalasenya. Mindset
perusahaan adalah untuk menawarkan produk-produk berkualitas yang akan secara
otomatis menjual, terbuktu strategi ini telah sukses selama bertahun-tahun.

Penjualan
Donat J.Co menjadi berbeda dari produk lain di dalam negeri karena produknya diposisikan
sebagai gaya hidup dan ditargetkan untuk konsumen dari segmen menengah dan atas
dengan gaya hidup dinamis, muda dan modern. Untuk menggarap segmen pasar ini, J.Co
membuat donat yang tidak padat, lebih tipis dan lembut teksturnya, bisa dimakan kapan
saja dan dimana saja. Donat yang ada di pasar sebelumnya, cenderung besar dan padat.
Sementara J.Co dari ukuran dan bentuk, lebih cocok disebut cemilan. J.Co sangat diminati
pelanggan dengan daya jual yang tinggi dengan konsep open kitchen.

11 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Chapter 5. Data Analysis and Interpretation


Pemahaman budaya penduduk di suatu negara merupakan hal yang penting baik dalam
pemasaran internasional maupun domestik. Karakteristik ini mempengaruhi jenis produk
yang diinginkan, sistem pembelian dan cara konsumsinya. J.Co Donuts & Coffee selama ini
telah berhasil dalam memasuki pasar internasional di beberapa negara. Penduduk Taiwan,
seperti yang digambarkan pada Grafik 1 terkait perbandingan budaya Taiwan dengan
Indonesia dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang.
Taiwan memiliki nilai rendah dalam budaya individualisme, hal ini menunjukkan nilai budaya
kolektivisme tinggi yang dianut oleh penduduk Taiwan. Sehingga dapat diproyeksikan bahwa
penduduk Taiwan akan senang berkumpul di suatu tempat seperti caf dan restoran untuk
berkumpul bersama. J.Co Donuts & Coffee memiliki gaya yang cocok dengan selalu
menyediakan tempat-tempat duduk untuk berkumpul dan menikmati produk-produknya.
Budaya Uncertainty Avoidance penduduk Taiwan memiliki skor tinggi yang memiliki arti
lebih suka mengkonsumsi produk-produk yang sudah teruji atau pernah mereka beli
sebelumnya. Sehingga diprediksi jika J.Co Donuts & Coffee memasuki pasar Taiwan, akan
mengalami masa sulit karena penduduknya lebih menyukai produk-produk yang telah ada
dan terbiasa oleh penduduknya. Oleh karena itu J.Co Donuts & Coffee perlu melakukan
sosialisasi yang gencar terkait pengenalan produknya. Jika sudah berhasil mengena pada
hati penduduk Taiwan, maka akan sulit bagi penduduk Taiwan bergeser pada
kompetitornya.
Budaya penduduk Taiwan yang memiliki skor tinggi pada Long Term Orientation dan nilai
skor yang sedang pada budaya Indulgence dapat dipandang sebagai peluang ataupun
ancaman bagi usaha J.Co dalam memasuki pasar Taiwan. Di satu sisi budaya penduduk
Taiwan yang cenderung menabung dan berinvestasi dapat dipandang sebagai peluang untuk
bekerja sama dalam membuka outlet secara franchise di Taiwan, bergantung pada regulasi
yang berlaku di negara tersebut. Sementara keinginan penduduknya untuk bersenangsenang (Indulgence) memiliki skor sedang, sehingga budaya konsumtif penduduknya berada
pada level sedang-sedang saja.
Segmentasi pasar dalam J.Co Donuts & Coffee adalah segmen menengah ke atas dengan
gaya hidup dinamis, muda dan modern. Eksekutif muda yang baru mulai bekerja dan
memiliki tingkat konsumsi yang tinggi serta mencari gaya hidup utamanya pada rentang usia
22-27 tahun untuk segmentasi minuman dan 20-45 tahun untuk segmentasi makanan.
Sementara untuk usia kurang dari 22 tahun umumnya masih mengandalkan selera dari
orang yang lebih dewasa. Wilayah pemasaran J.Co Donuts & Coffee saat ini tidak hanya
berada di Indonesia, tetapi meluas ke negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura,
Filipina, dan lainnya untuk memperluas pasar.
Dalam segmentasi demografis, J.Co Donuts & Coffee menyasar usia 18-45 tahun. Ditinjau
dari data yang tersaji pada Tabel 1, jumlah total penduduk Taiwan berkisar 23 juta
penduduk. Distribusi usia pada Tabel 2 menyebutkan bahwa 74% penduduk Taiwan berada
pada rentang usia 15-64 tahun, sehingga didapatkan nilai 17.340.977 jiwa berada pada
rentang usia segmentasi demografis J.Co Donuts & Coffee dan merupakan pasar yang sangat
berpotensi bagi bisnis J.Co Donuts & Coffee.
12 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Standar nilai rata-rata pendapatan yang tercantum pada Tabel 3, memberikan pandangan
bahwa 3 jenis industri dari total 7 industri di Taiwan termasuk dalam pendapatan menengah
ke atas. Terutama pada industri listrik dan suplai bahan bakar. Hal menarik yang bisa kita
manfaatkan dari data ini salah satunya adalah nilai rata-rata pendapatan dari industri
akomodasi dan pelayanan makanan merupakan nilai yang terendah dibanding industri
lainnya. Sehingga dapat dikategorikan bahwa nilai gaji yang perlu dikeluarkan oleh J.Co
Donuts & Coffee jika memasuki pasar Taiwan, maka nilai gaji yang perlu dikeluarkan cukup
rendah.
Lebih lanjut, negara Taiwan berada pada peringkat 11 dalam kemudahan melakukan bisnis
di negaranya (Doing Business, 2016). Hal ini sangat menarik karena akan berkaitan langsung
dengan kendala-kendala terkait perizinan konstruksi, mendapatkan listrik, pendaftaran
properti, mendapatkan kredit, perlindungan terhadap investor-investor baru, pembayaran
pajak, ekspor-impor bahan baku, kontrak dan penyelesaian pertikaian.
Survey yang dilakukan oleh lembaga internasional yang melawan tindak korupsi,
Transparency International, menempatkan Taiwan pada peringkat 30 dari 167 negara. Hal
ini merupakan salah satu faktor yang menarik, khususnya bagi J.Co Donuts & Coffee untuk
melakukan ekspansi pasar ke negara tersebut, sehingga biaya di balik meja dapat lebih
minimal dibandingkan dengan negara-negara yang berada di peringkat bawah. Sebagai
catatan, Indonesia berada pada peringkat 88 pada Corruption Perception Index.
Industri yang saat ini menjadi sangat populer di Taiwan adalah industri elektronik. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa salah satu produsen telepon genggam nomor 1 di dunia,
Apple, berencana menghentikan pesanan chip semi-konduktornya kepada Samsung dan
dialihkan pada Taiwan Semi-Conductor Manufacturer Company (TSMC). Hal ini akan sangat
mempengaruhi kondisi perekonomian di Taiwan.
Keunggulan industri teknologi Taiwan dapat menjadi faktor yang menarik bagi J.Co Donuts &
Coffee untuk memasuki pasar Taiwan. Karena lebih dari 50% proses pembuatan donat dan
kopi merupakan hasil kerja perangkat-perangkat yang mereka miliki. Sehingga berpotensi
untuk minimalisasi biaya pengiriman alat atau suku cadang yang dibutuhkan oleh perangkatperangkat yang dibutuhkan dalam proses produksi.

Chapter 6. Marketing Strategy and Tactics Entering New Market


J.Co Donuts & Coffee dikenal berhasil dalam memasuki pasar-pasar di luar negara asalnya
yaitu Indonesia dengan mempelajari keinginan penduduk di negara tujuan, kebutuhan,
strategi penjualan dan distribusi serta mempromosikan produk-produk mereka dengan cara
yang kompetitif. Pasar Taiwan merupakan salah satu potensi untuk digarap oleh J.Co Donuts
& Coffee. Terkait strategi dan taktik untuk memasuki pasar Taiwan, penulis
merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
1. Melakukan survey di salah satu pusat perbelanjaan yang paling ramai dikunjungi oleh
penduduk dengan pendapatan kelas menengah ke atas di Taiwan, disarankan di
daerah Taipei yang merupakan pusat ibukota dan secara otomatis memudahkan
dalam distribusi peralatan dan bahan baku yang dibutuhkan dalam produksi
2. Meluncurkan program-program brand awareness.
13 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

3. Iklan-iklan yang menarik melalui selebaran atau broadcaster agar menarik rasa ingin
tahu dari penduduk Taiwan. Membuka situs resmi J.Co Taiwan yang berisi produkproduk donat dan kopi yang tersedia.
4. Memastikan bahwa tingkat kenyamanan outlet J.Co Donuts & Coffee sesuai dengan
budaya yang dianut oleh penduduk Taiwan yang gemar berkumpul.
5. Melakukan kampanye pengenalan produk, baik dengan program beberapa produk
gratis untuk dicoba oleh pelanggan, maupun acara-acara seperti yang telah diadakan
di Indonesia seperti J.Co Safari, yaitu program pendidikan informasi yang
mempelajari proses produksi donat dan kopi oleh trainer J.Co kepada pelanggannya.
6. Menetapkan harga yang rendah untuk mendapatkan nilai pengenalan produk pada
penduduk Taiwan.
7. Mengutamakan kepuasan pelanggan, karena pemasaran terkuat J.Co Donuts &
Coffee berasal dari kekuatan word-to-mouth pelanggan, yang sangat dipengaruhi
customer satisfaction.
8. Program-program promosi dengan bekerja sama dengan salah satu instansi bank
yang nasabah terbanyaknya dari segmentasi usia yang sama dengan J.Co (15-60
tahun).

Chapter 7. Conclusion and Recommendation


J.Co Donuts & Coffee merupakan salah satu contoh kesuksesan visi Johnny Andrean selaku
pendirinya. J.Co terbilang sukses dalam mencapai target dan menjadi market leader dalam
brand donuts & coffee. Beberapa hal yang menjadi simpulan dan rekomendasi dari
marketing audit J.Co Donuts & Coffee pada kesempatan kali ini:
1. Penetapan harga J.Co Donuts & Coffee cukup beresiko. Harga donat yang ditawarkan
terbilang mahal sebagai cemilan, sementara minuman kopi sangat bersinggungan
dengan brand lain seperti Starbucks.
2. Segmentasi pasar J.Co Donuts & Coffee utamanya adalah kalangan anak muda.
Untuk itu perlu diciptakan ambience yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan
kalangan muda, seperti sofa, wi-fi, suplai listrik, musik dan sebagainya. Pemasaran
melalui media-media dapat dipertimbangkan secara efektif dengan tetap
mengutamakan kepuasan pelanggan.
3. Mengembangkan produk-produk baru yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan
pelanggan.
4. Manajemen J.Co perlu secara dekat terlibat dalam menangani komplain dari
pelanggan, sehingga tercipta kepuasan pelanggan yang tinggi dengan harapan wordto-mouth marketing dan repeat order oleh pelanggannya.
5. Program-program pengenalan produk kepada pelanggan seperti J.Co Safari sangat
penting untuk memasuki pasar Taiwan. Program-program promosi harga juga sangat
penting untuk menarik minat pelanggan baru untuk mencoba.
6. Menciptakan rasa keterikatan dengan pegawainya, agar dapat tercipta sinergi antara
pegawai dan perusahaan. Sebelum pegawainya menyenangkan pelanggan,
perusahaan perlu menyenangkan pegawainya agar dapat optimal dalam melayani
pelanggan.
7. Penulis mengalami kesulitan dalam mendapatkan data aktual dari negara Taiwan.
Untuk itu perlu dilakukan marketing audit yang lebih dekat dengan kondisi aktual
Taiwan sebelum memasuki pasar Taiwan.
14 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

Daftar Pustaka
Amaliafitri, A., 2009. okezone.com. [Online]
Available at: http://lifestyle.okezone.com/read/2009/10/16/29/266176/kontribusi-j-co-padakegiatan-sosial
[Accessed 17 February 2016].
Amelia, L., 2014. Blogspot. [Online]
Available at: http://wwwliaamelia.blogspot.co.id/2014/06/strategi-bisnis-jco-donuts.html
[Accessed 18 February 2016].
Ananda, A., 2011. Blogspot. [Online]
Available at: http://agung-ananda.blogspot.co.id/2011/10/jco-donuts-coffee.html
[Accessed 18 February 2015].
Bernaulus Saragih, M. P., 2014. Universitas Mulawarman. [Online]
Available at: http://www.unmul.ac.id/read/news/2014/196/taiwan-tiger-asia-yang-terperangkapjaring-tiongkok.html
[Accessed 15 February 2016].
Dewi, S. P., 2013. Analisis marketing strategy J.CO Donuts & Coffee. [Online]
Available at: http://shartikapurnamadewi.blogspot.co.id/2013/01/analisis-marketing-strategy-jcodonuts.html
[Accessed 13 February 2016].
Directorate-General Of Budget, Accounting And Statistics Executive Yuan, Republic Of China, 2015.
National Statistics Republic of China (Taiwan). [Online]
Available at: http://eng.stat.gov.tw/mp.asp?mp=5
[Accessed 15 February 2016].
Doing Business, 2016. Doing Business. [Online]
Available at: http://www.doingbusiness.org/rankings
[Accessed 19 February 2016].
Geert-Hofstede, 2015. Geert-Hofstede. [Online]
Available at: http://geert-hofstede.com/taiwan.html
[Accessed 15 February 2016].
J.CO Donuts & Coffee, C., 2013. Facebook. [Online]
Available at: https://www.facebook.com/Jcochina/
[Accessed 15 February 2016].
J.CO, 2016. J.CO. [Online]
Available at: http://www.jcodelivery.com/
[Accessed 17 February 2016].
Kotler, P. G. W. &. R. W., 1977. Marketing Audit Comes of Age. 18 ed. s.l.:Sloan Management
Review.
Transparency International, 2015. Transparency International. [Online]
Available at:
http://www.transparency.org/cpi2015?gclid=CjwKEAiA9JW2BRDxtaq2ruDg22oSJACgtTxcBU72gbtPG
15 | P a g e

Global Marketing

[Marketing Audit: J.Co Entry Taiwan]

SYQ7CDeDdq6VsM9vO0U_sNXhRy7Xe0oyhoCtQnw_wcB
[Accessed 19 February 2016].
Wikipedia, 2016. Wikipedia. [Online]
Available at: https://id.wikipedia.org/wiki/J.CO_Donuts
[Accessed 17 February 2016].
Wilson, A., 2002. The Marketing Audit Handbook. 1st ed. s.l.:Kogan Page.
YOGA, C., 2012. Blogspot. [Online]
Available at: http://citrayoga.blogspot.co.id/2012/04/temog.html
[Accessed 17 February 2016].

16 | P a g e