You are on page 1of 9

LAPORAN ANALISIS JURNAL

METODE MEMPERBANYAK PRODUKSI ASI PADA


IBU POST SECTIO CAESAREA DENGAN TEHNIK MARMET DAN
BREAST CARE DI RSUD KARANGANYAR
DI RUANG FLAMBOYAN RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
STASE KEPERAWATAN MATERNITAS

Disusun oleh :
Cornella Priscke Silvana, S. Kep
Devi Kurnia Sofia, S. Kep
Krisna Tri Haryono, S. Kep
Firman Solpiyan, S. Kep

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XV


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO, 2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Nutrisi yang baik selama masa bayi akan mendorong pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat selama golden period. Pemberian nutrisi yang baik perlu
didukung dengan adanya kesempatan untuk berinteraksi sosial, psikologis, dan bahkan
pendidikan antara orangtua dan bayinya (Potter & Perry, 1999). Pemberian nutrisi yang
optimal sejak dini dapat diberikan melalui pemberian air susu ibu (ASI) secara
eksklusif bagi bayi baru lahir (Perinasia, 2004).
ASI merupakan nutrisi terbaik yang secara khusus ditujukan bagi bayi baru lahir
karena mengandung berbagai komponen antibodi, nutrisi yang lengkap dan mudah
dicerna oleh bayi baru lahir dibandingkan dengan susu formula (Perinasia, 2004).
America Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif
kepada bayi selama minimal 6 bulan dan dapat dilanjutkan minimal sampai bayi
berusia 12 bulan (AAP, 2005).
Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0 sampai 6 bulan di Indonesia
pada tahun 2012 berdasarkan laporan sementara hasil Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2012 masih cukup rendah. Salah satu penyebab rendahnya cakupan
pemberian ASI eksklusif bagi bayi dibawah usia enam bulan karena produksi ASI pada
ibu post partum yang terhambat pada hari- hari pertama pasca persalinan sehingga
sebagian besar bayi mendapatkan susu formula pada saat baru lahir.
Permasalahan ibu post partum di rumah sakit menunjukkan bahwa produksi ASI
yang sedikit pada hari- hari pertama post partum menjadi kendala dalam pemberian ASI
eksklusif kepada bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Chertok dan Shoham (2008)
membuktikan bahwa wanita yang melahirkan dengan seksio sesarea beresiko tiga kali
lebih besar mengalami hambatan dalam proses menyusui. Sebagian besar ibu post
partum akan berhenti menyusui pada bulan pertama karena tidak dilakukan inisiasi
menyusu dini (IMD) serta keterlambatan dalam memberikan ASI dibandingkan dengan
ibu yang melahirkan secara normal. Perasaan nyeri yang dirasakan di area sekitar
operasi, kelemahan, dan hambatan mobilisasi juga mempengaruhi keterlambatan
produksi ASI pada wanita post seksio sesarea.
Faktor lain yang menyebabkan bayi mengalami kesulitan menyusui pasca seksio
sesarea adalah nyeri maternal, stress, mual, tipe anestesi, bayi dan ibu dirawat secara

terpisah, anemia karena kehilangan darah selama operasi dan post operasi, hambatan
respon menghisap bayi, dan hambatan produksi ASI akibat pemberian obat-obatan.
Proses melahirkan melalui seksio sesarea memiliki hubungan dengan keterlambatan
dalam proses laktogenesis dan menyusui dini. Keterlambatan produksi ASI disebabkan
oleh proses pemulihan membutuhkan waktu yang lama, prosedur operasi menimbulkan
rasa nyeri, kecemasan, serta kelemahan (Mathur, 2003).
Sebagai upaya untuk membantu pencapaian peran maternal pada wanita post
partum dengan seksio sesarea, peran perawat maternitas sebagai pemberi asuhan utama
dapat melakukan intervensi teknik marmet dan breast care yang terbukti mampu
membantu ibu post partum meningkatkan produksi ASI sehingga mampu mendukung
pemberian ASI eksklusif bagi bayi baru lahir (Rahayu & Andriyani, 2014).
Berdasarkan hasil observsi yang dilakukan selama tiga hari di ruang Flamboyan
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, terdapat ...... ibu yang melahirkan
secara seksio sesarea dan mengalami kendala dalam pemberian ASI karena produksi
ASI yang sedikit. Implementasi yang sudah dilakukan oleh perawat ruangan untuk
meningkatkan produksi ASI adalah dengan melakukan breast care, akan tetapi belum
pernah dilakukan teknik marmet. Oleh karena itu, kelompok kami akan membahas
mengenai perbedaan produksi ASI ibu post partum seksio sesarea setelah dilakukan
teknik marmet dengan breast care.
B.

TUJUAN
1.
Tujuan Umum
Tujuan dari analisis jurnal ini untuk mengetahui perbedaan produksi ASI ibu post
2.

partum seksio sesarea setelah dilakukan teknik marmet dengan breast care.
Tujuan Khusus
a.
Mengetahui cara melakukan teknik marmet dan breast care pada ibu post
b.

partum seksio sesarea


Membandingkan metode yang lebih efektif dalam meningkatkan produksi
ASI pada ibu post partum seksio sesarea.

C.

MANFAAT
1. Institusi Pelayanan
Memberikan pilihan intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu
post partum sectio caesarea sehingga dapat diterapkan di ruangan
2. Pemberi pelayanan keperawatan
Sebagai dasar dalam melakukan tindakan untik meningkatkan produksi ASI pada ibu post
partum sectio caesare
3. Pengembangan ilmu
Memberikan masukan khususnya bagi ilmu keperawatan maternitas tentang tindakan yang
dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu post partum sectio caesarea

BAB II
RESUME JURNAL
A.

PENCARIAN JURNAL
Penelusuran jurnal dilakukan dengan keyword: Metode untuk meningkatkan produksi ASI
pada ibu post partum sectio caesarea, dengan menggunakan google cendikia.

B.

ISI JURNAL
Judul Jurnal

: Metode memperbanyak produksi ASI pada Ibu Post Sectio Caesarea


dengan Tehnik Marmet dan Breast Care di RSUD Karanganyar

C.

Penulis

: Rani Rahayu, Annisa Andriyani

Publikasi

: GASTER, 2014, 11 (2) 56-68

RESUME JURNAL
1.

Latar Belakang
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, kejadian proses mulai menyusui di

Indonesi < 1 jam yaitu 29,3 %. Salah satunya karena kondisi ibu yang melahirkan
dengan caesar menyebabkan proses menyusuinya terganggu akibat luka operasi di
bagian perutnya yang menyebabkan ASI tidak lancar. Strategi merangsang produksi
ASI dapat dilakukan perawatan payudara yaitu teknik marmet dan breast care.
2.

Metode
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan quasi eksperimental. Desain yang

dipilih untuk penelitian ini adalah pretest-posttest with control group design.
Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive sampling, jumlah sampel 16 pada
kelompok perlakuan dan 16 pada kelompok kontrol. Instrumen penelitian
menggunakan lembar observasi.
Pada penelitian ini pengukuran produksi ASI dilakukan dengan melihat urin bayi
baru lahir. Volume urin bayi dihitung selama 24 jam setelah ibu mendapat intervensi
teknik marmet dengan mengukur urin normal per 24 jam yaitu 30-50 mg. Pada
eksperimen ini teknik marmet dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari, dilakukan
selama 2 hari.
2.

Hasil Penelitian
Hasil penelitian berdasarkan dengan karakteristik demografi responden

1.

Mayoritas ibu berusia 26-35 tahun, yaitu pada kelompok perlakuan 9 orang

2.

(56,3%) dan pada kelompok kontrol 10 orang (62,5%)


Pada kelompok perlakuan, mayoritas ibu bekerja swasta 7 orang (43,9 %)
sedangkan pada kelompok kontrol bekerja sebagai ibu rumah tangga 7

3.

orang (43,9 %).


Pendidikan terakhir Ibu pada kelompok perlakuan mayoritan SMA

4.

sebanyak 7 orang (43,9 %) dan kelompok kontrol 9 orang (56,3 %).


Pada kelompok perlakuan mayoritas ibu belum pernah melakukan SC 13

orang (81,3 %) dan kelompok kontrol 12 orang (75 %).


Hasil penelitian berdasarkan analisis univariat dan bivariat
1.
Produksi ASI sebelum diberikan teknik marmet dan breast care
Distribusi rata-rata produksi ASI pada kelompok intervensi sebelum
diberikan teknik marmet sebesar 28,75 mg dan distribusi rata-rata produksi
ASI pada kelompok kontrol sebelum diberikan breast care sebesar 27,75
2.

mg.
Produksi ASI setelah diberikan teknik marmet dan breast care
Distribusi rata-rata produksi ASI pada kelompok intervensi sesudah
diberikan teknik marmet sebesar 74,81mg dan distribusi rata-rata produksi

3.

ASI pada kelompok kontrol sesudah diberikan sebesar 70,94 mg.


Produksi ASI Pada Ibu Caesarea Kelompok Intervensi Sebelum Dan
Sesudah Diberikan Teknik Marmet
Berdasarkan uji , t test berpasangan diketahui bahwa p 0,000. Berdasarkan
hasil tersebut diketahui p < 0.05. Kesimpulannyaterdap at perbedaan yang
bermakna antara produksi ASI pada ibu post sectio caesarea sebelum dan

4.

sesudah diberikan teknik marmet.


Produksi ASI pada Ibu Caesarea Kelompok Kontrol\
Berdasarkan uji , t test berpasangan diketahui bahwa p 0,000. Berdasarkan
hasil tersebut diketahui p < 0.05. Kesimpulannyaterdap at perbedaan yang
bermakna antara produksi ASI pada ibu post sectio caesarea sebelum dan

5.

sesudah diberikan breast care.


Perbedaan produksi ASI Pada Ibu Pada Kelompok Intervensi dan Kontrol
Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik marmet dan Breast care
Hasil uji t test tidak berpasangan di atas dapat dilihat bahwa dari nilai p
sebesar 0,274 yang artinya nilai p < 0.05 yang berarti, tidak ada perbedaan
produksi ASI yang diberikan teknik marmet dan breast care. Maka Ho
diterima Ha ditolak artinya tidak ada perbedaan teknik marmet dan terhadap
produksi ASI.

BAB III
PEMBAHASAN
A.

ANALISIS JURNAL
Permasalahan ibu post partum di rumah sakit menunjukkan bahwa produksi ASI
yang sedikit pada hari-hari pertama post partum menjadi kendala dalam pemberian ASI
eksklusif kepada bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Chertok dan Shoham (2008)
membuktikan bahwa wanita yang melahirkan dengan seksio sesarea beresiko tiga kali
lebih besar mengalami hambatan dalam proses menyusui. Sebagian besar ibu post
partum akan berhenti menyusui pada bulan pertama karena tidak dilakukan inisiasi
menyusu dini (IMD) serta keterlambatan dalam memberikan ASI dibandingkan dengan
ibu yang melahirkan secara normal. Perasaan nyeri yang dirasakan di area sekitar
operasi, kelemahan, dan hambatan mobilisasi juga mempengaruhi produksi ASI yang
tidak lancar pada wanita post seksio sesarea.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut menggunakan
teknik memerah ASI yang dianjurkan adalah dengan mempergunakan tangan dan
jari karena praktis, efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan pompa.
Caranya memerah ASI menggunakan cara Cloe Marmet yang disebut dengan
Teknik Marmet yang merupakan perpaduan antara teknik memerah dan memijat.
Memerah dengan menggunakan tangan dan jari mempunyai keuntungan selain
tekanan negatif dapat diatur, lebih praktis dan ekonomis karena cukup mencuci
bersih tangan dan jari sebelum memeras ASI (Roesli, 2009). Teknik marmet
merupakan teknik memerah dengan tangan tidak memerlukan alat bantu sehingga dapat
memerah dengan mudah kapan saja dan dimana saja (Novianti, 2009). Jika teknik ini
dilakukan dengan efektif dan tepat maka tidak akan terjadi masalah dalam
produksi

ASI

maupun

cara

mengeluarkan

ASI sehingga bayi akan

tetap

mendapatkan ASI dan penggunaan susu formula di hari- hari pertama kelahiran
bayi dapat dikurangi (Soraya, 2006).
Usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oskitosin pada ibu setelah
melahirkan selain dengan memeras ASI, dapat dilakukan juga dengan melakukan
perawatan atau pemijatan payudara, membersihkan puting, sering-sering menyusui
bayi meskipun ASI belum keluar, menyusui dini (Biancuzzo, 2003; Indriyani, 2006;
Yohmi & Roesli, 2009). Teknik lain yang digunakan mempengaruhi produksi ASI
adalah perawatan yang dilakukan terhadap payudara atau breast care, bertujuan untuk
melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran produksi ASI
sehingga memperlancar pengeluaran ASI, dengan perawatan payudara yang bertujuan

untuk

memelihara

kebersihan

payudara,

memperbanyak

atau

memperlancar

pengeluaran ASI sehingga dapat dengan mudah untuk proses menyusui (Indriyani,
2006). Breast care sangat tepat dilakukan untuk mencegah bendungan ASI dan
bermanfaat meningkatkan produksi ASI. Ibu post section caesarea dengan
dilakukannya perawatan payudara selama 2 kali dalam sehari selama 2 hari akan lebih
efektif dapat melancarkan ASI dibandingkan dengan dilakukannya perawatan payudara
1 hari dalam 2 kali (Herbasuki, 2006)
Hasil penelitian Efektivitas Pemberian Teknik Marmet Terhadap Pengeluaran ASI
pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten Jember
(The Effectiveness of Applying Marmet Technique For Milk Ejection In Breastfeeding
Mothers Of 0-6 Months In The Work Area Of Public Health Center Of Arjasa, Jember
Regency) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan sebelum
diberikan teknik marmet pengeluaran ASI tidak lancar sebanyak 8 responden (53,3%)
dan pengeluaran ASI lancar sebanyak 7 responden (46,7%), sedangkan

setelah

pemberian teknik marmet didapatkan bahwa semua responden (15 responden) pada
kelompok perlakuan pengeluaran ASInya lancar. Hasil pengolahan data dengan SPSS
didapatkan p value (0,000) < (0,05) yang berarti Ho ditolak, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa pemberian teknik marmet efektif terhadap pengeluaran ASI pada
ibu menyusui 0-6 bulan di wilayah kerja

Puskesmas Arjasa Kabupaten Jember.

(Indriyani, 2006).
Beberapa penelitian telah mengeksplorasi pengaruh Teknik marmet dan breast
care terhadap peningkatan produksi ASI terhadap ibu post partum. Hasil menunjukkan
bahwa Teknik marmet dan breast care mampu meningkatkan kelancaran ASI terutama
permasalahan ibu post partum terhadap keterlambatan produksi ASI pada wanita post
seksio sesarea.
B.

IMPLIKASI KEPERAWATAN
Implikasi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ibu
post partum terhadap keterlambatan produksi ASI yang tidak lacar pada wanita post
seksio sesarea diantaranya:
1. Melakukan Teknik marmet dengan teknik memerah ASI dengan cara di pijat dengan
mempergunakan tangan dan jari karena praktis, efektif dan efisien dibandingkan
dengan menggunakan pompa.
2. Melakukan Breast care bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah
produksi ASI yang tidak lacar.

3. Memberikan konseling tentang Teknik marmet dan Breast care secara benar.
4. Menyediakan layanan khusus untuk konseling bagi ibu postpartum untuk memperlancar
ASI.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari analisis jurnal ini dapat disimpulkan bahwa permasalahan ibu post partum
terhadap produksi ASI yang tidak lancar pada wanita post seksio sesarea dapat
dilakukan Teknik marmet dan Breast care untuk memperlancar produksi ASI sehingga
dapat mengatasi masalah yang dialami ketika ASI kurang Lancar.
B. Saran
Diharapkan tenaga kesehatan khususnya perawat dan bidan dapat lebih memberikan
informasi pada ibu post partum terhadap keterlambatan produksi ASI pada wanita post
seksio sesarea, sehingga masalah keterlambatan ASI yang tidak lancar dapat tertangani.

DAFTAR PUSTAKA
AAP Section on Breastfeeding. (2005). Breastfeeding and the use of human milk.
American Academy of Pediatrics, 115 : 496-506
Chertok, I. R. & Shoham, V. I. (2008). Infant hospitalization and breastfedding post caesarea
section. British Journal Of Nursing, 17 : 786-791
Herbasuki. 2006. Standar operasi prosedur (SOP) keperawatan. Asosiasi Institusi
Pendidikan. Jawa Tengah.
Mathur, G. P. et.al. (2003). Breastfeeding in babies delivered by caesarean section. Indian
Pediatric Journal, 30 : 1285-1290
Novianti, R. (2009). Menyusui itu indah : Cara dahsyat memberikan ASI untuk bayi sehat
dan cerdas. Yogyakarta : Octopus
Perinesia. (2004). Manajemen laktasi menuju persalinan dan bayi-bayi lahir sehat. Jakarta :
Puspa swara
Potter, P. A., & Perry, A. G. (1999). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses,
dan Praktik (Vol. 1). Jakarta: EGC.
Rahayu, R., Andriyani, A. (2014) Metode Memperbanyak Produksi ASI pada Ibu Post Sectio
Caesarea Dengan Tehnik Marmet dan Breast Care di RSUD Karanganyar.
GASTER, 11 (2) : 56-68
Riset Kesehatan Dasar. (RIKESDAS) 2013. Laporan Provinsi Jawa Tengah Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Republik Indonesia. Jakarta.
Roesli, U., & Yohmi, E. (2009). Manajemen laktasi. Jakarta: IDAI.
Soraya. (2006). Pemberian ASI eksklusif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Medan: FKM USU.