You are on page 1of 8

KAJIAN BATIMETRI, ARUS, DAN SEDIMEN DASAR LAUT

DI PERAIRAN LEPAS PANTAI, LAMPUNG TIMUR


KAJIAN BATIMETRI, ARUS, DAN SEDIMEN DASAR LAUT
DI PERAIRAN LEPAS
PANTAI, LAMPUNG
TIMUR
(1)
(2 )
(3)
NABIGH NABIYL , TRI NUR CAHYO , HARTOYO
1,2

Program Studi Ilmu Kelautan , Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan
Teknik, Universitas Jenderal Soedirman
Jalan Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto (0281) 642360/7607433

Email: nabigh.nabiyl@gmail.com
ABSTRAK
Perairan Lampung bagian Timur termasuk wilayah dengan kondisi pemanfaatan yang tinggi di Provinsi
Lampung dimana terdapat bebrapa pemanfaatan yang penting yaitu : pelabuhan, wilayah perikanan
tangkap, wilayah budidaya air laut maupun penggunaan dalam bidang industri. Paramater yang dikaji untuk
meningkatkan pengelolaan wilayah perairan Lampung Timur adalah batimetri, arus dan sedimen yang
pengambilan datanya menggunakan alat akustik dan sediment sampler serta kondisi pasang surut yang
didapat dari penelitian sebelumnya untuk mendukung penelitian. Metode yang digunakan adalah metode
survei dan deskriptif dengan pengambilan stasiun menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2014 didapat bahwa hasil analisis secara spasial kondisi
batimetri perairan Lampung Timur termasuk perairan dangkal dengan perubahan kedalaman yang landai,
kecepatan arus yang lemah pada bagian dasar dan kuat pada bagian permukaan dipengaruhi oleh spring
tide dan neap tide yang dominan mengarah ke utara dan selatan serta kondisi sedimen dasar perairan yang
didominasi oleh Lanau dan Lempung. Hubungan dari batimetri, arus dan sedimen dasar laut yaitu arus yang
lemah pada dasar membawa sedimen yang tersuspensi dalam bentuk Lempung dan Lanau hampir pada
seluruh daerah yang diteliti dan arus yang kuat pada permukaan menyebarkan pasir secara luas hampir
diseluruh wilayah yang diteliti.
Kata kunci: Perairan Lampung Timur, batimetri, arus, sedimen
East Lampung waters are areas with high utilization conditions in Lampung Province where there are some
important utiliztion i.e a harbors, area of fisheries, aquaculture regions and the use industrial fields.
Parameters were studied to improve the management of waters of East Lampung are bathymetry, currents
and sediment data retrieval using acoustic instruments and sediment sampler and tidal conditions were
obtained from previous studies to support the research. The method used was survey method and
descriptive with taking the station using purposive sampling method. Based on the observations made in
2013 and 2014 found that the results analysis spatially of East Lampung waters bathymetric conditions are
shallow water depth with changes ramps of depth, a weak flow currents velocity in the bottom and high
velocity on the surface is affected by the spring tide and neap tide dominant leading north and south as well
as the condition of the bottom sediments were dominated by clay, sand and silt. The relationship of
bathymetry, currents and seabed sediments that weak currents in the bottom carry sediment suspended
solid in the form of clay and silt almost all studied area and high velocity on the surface spread sands widely
in nearly all studied areas.
Keywords: East Lampung waters, bathymetry, currents, sediment

Pendahulua
n
Umumnya wilayah pantai merupakan
daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk
kegiatan manusia. Pemanfaatan wilayah pantai
sebagai
kawasan
pusat
pemerintahan,
pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan,
pertanian/perikanan, pariwisata, dan sebagainya
(Triatmodjo, 1999). Wilayah perairan Kabupaten

Lampung Timur merupakan wilayah pantai dan


laut dengan berbagai pemanfaatan. Kabupaten
Lampung Timur dengan ibu kota Sukadana
adalah salah satu kabupaten di Provinsi
Lampung, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas
wilayah 5.300 km. Kondisi pantai di timur Propinsi
Lampung merupakan pantai yang landai di bagian
utara dan semakin curam di sebelah selatan.

Kondisi tersebut apabila dilihat dari garis-garis


kedalaman yang sama (isobath).
Garis isobath 5 m, di sebelah utara (dekat
perbatasan dengan Propinsi Sumatera Selatan)
berada pada jarak sekitar 12 km dari garis pantai.
Menuju ke selatan di daerah Labuan Maringgai,
garis isobath tersebut mendekat ke arah pantai
hingga sekitar 6 km dari garis pantai. Lebih ke
selatan di daerah Ketapang, garis tersebut berada
pada jarak kurang dari 3 km dari garis pantai.
Kondisi yang serupa ditunjukkan oleh garis
isobath 10 m. Di bagian utara, garis tersebut
berada pada jarak sekitar 22 km. Menuju ke
daerah Labuan Maringgai, garis isobath ini
berjarak sekitar 10 km dari garis pantai,
sedangkan lebih ke selatan di daerah Ketapang
jarak tersebut mengecil menjadi sekitar 3 km.
Data isobath sangat dipengaruhi kondisi
pasang surut (pasut) suatu wilayah, dimana tipe
pasut di Perairan Lampung Timur adalah tipe
campuran dengan dominasi tunggal (Pariwono,
1985). Lebih jauh ke timur (menuju ke arah
Kepulauan Seribu) pasut di perairan ini berubah
menjadi tipe pasut tunggal, dimana dalam satu
hari hanya terjadi satu kali air pasang dan satu
kali air surut. Hal ini ditunjukkan oleh nilai bilangan
Formzahl = 3.31 di Pulau Sabira (Wyrtki, 1961).
Kondisi pasut merupakan elemen penting dalam
perencanaan dan pembangunan bangunan di
pantai maupun lepas pantai. Kondisi pasut suatu
perairan berhubungan erat
dengan koreksi
pengukuran kedalaman laut dalam pembuatan
peta batimetri.
Batimetri adalah gambaran relief dasar
laut, perbedaan kenampakan atau ciri-ciri dasar
laut dan mempunyai arti penting dalam penelitian
karena dengan mengetahui roman muka bumi
akan memudahkan mengetahui kondisi morfologi
suatu daerah (Nontji,1987). Faktor lain yang
mempengaruhi perubahan kedalaman adalah
arus dan sedimen yang tertranspor. ATASografi
dasar laut akan mempengaruhi tipe arus yang
berbeda-beda pada dasar laut dan arus juga
mentranspor sedimen dari satu area ke area yang
lain. Keterkaitan antara arus, sedimen dasar, dan
batimetri akan diteliti lebih lanjut dalam penelitian
ini.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui morfologi dasar laut dari
Perairan Lampung Timur
2. Mengetahui pola arus di Perairan Lampung
Timur
3. Mengetahui tipe sedimen dasar dari
perairan laut Lampung Timur
Manfaat Penelitian

Manfaat
dari
penelitian
ini
adalah
memberikan gambaran morfologi dasar laut secara
spasial, sehingga diharapkan dapat digunakan
sebagai data dasar dalam berbagai keperluan yang
akan dilakukan di perairan Lampung Timur. Pola
arus yang merupakan media dalam transpor
sedimen digunakan sebagai gambaran pola transpor
dari sedimen dasar. Jenis sedimen dasar yang
dipengaruhi oleh arus akan mempengaruhi pola
kedalaman, sehingga diharapkan menjadi data
dasar dalam pengelolaan sumberdaya dan
lingkungan laut.
METODE
Metode dan Teknik Pengambilan Sampel
Metode dalam penelitian ini yaitu metode
survei. Data yang akan diambil dalam penelitian ini
adalah data kedalaman, arus dan sedimen dasar
perairan. Penentuan titik-titik pengambilan data
menggunakan metode purposive sampling yaitu
penentuan titik pengambilan data dengan hanya
mengambil beberapa titik sampling yang mewakili
keadaan keseluruhan daerah yang dikaji (Hadi,
1982). Alur penelitian yang dilakukan adalah
pemeruman kedalaman laut, pengambilan sampel
sedimen menggunakan grab-core dan drop-core
serta seismik stratigrafi untuk mengetahui lapisan
sedimen dasar laut, dan pengukuran arus untuk
mengetahui arus di lokasi penelitian.

Gambar 1.Peta lokasi penelitian


Parameter penelitian
Parameter dalam penelitian ini meliputi
kedalaman laut, sedimen dan arus.
Prosedur Penelitian
Pengambilan data kedalaman
Pengambilan
data
kedalaman
laut
(batimetri) yang dilakukan berpegang pada Standar
Nasional Indonesia (SNI) 7646:2010 mengenai
Survei Hidrografi menggunakan
Singlebeam
Echosounder
dan
Multibeam
Echosounder.
Pengambilan data kedalaman laut (pemeruman)
dilakukan dengan luasan daerah sekitar 1 x 21 km2.
Pengambilan data kedalalaman laut (pemeruman)
dilakukan menggunakan Singlebeam Echosounder
dan Multibeam Echosunder.

Pengambilan Sampel sedimen

Pengambilan
sedimen
dasar
laut
menggunakan alat drop-core dan grab core dimana
alat tersebut digunakan untuk mengambil sedimen
dari dasar laut dengan cara dijatuhkan dari atas
kapal untuk mengambil sedimen pada dasar laut.
Sedimen dari dasar laut tersebut akan terperangkap
di alat drop-core dan grab core. Sampel sedimen
yang didapat dari alat drop-core dan grab-core
selanjutnya akan diambil dan dianalisi di
laboratorium untuk diketahui jenisnya. Pengambilan
data stratigrafi sedimen dasar laut dilakukan untuk
mencocokkan data sedimen drop-core dan grabcore.

Pengambilan data arus


Pengukuran arus menggunakan alat ADCP,
ADCP bekerja dengan mentransmisikan gelombang
suara dengan pola tertentu ke kolom air dan
menerima pantulannya yang disebabkan oleh
partikel-partikel yang ada di dalam air. Informasi
tersebut dianalisa berdasarkan pergeseran frekuensi
menurut teori Doppler.
Data arus didapatkan dari 30 hari
pengukuran arus di 2 stasiun. Stasiun 1 yaitu pada
5.45286 Lintang Selatan dan 105.933103 Bujur
Timur pada tanggal 31 Maret 17 April, 17 April 23
April dan 23 April 28 April dan stasiun 2 pada
5.39004 Lintang Selatan dan 105.89107 Bujur
Timur pada tanggal 1 April 14 April, 14 April 23
April dan 23 April 2 Mei. Pengambilan data arus
pada kedua stasiun menggunakan alat Acoustic
Doppler Current Profiler (ADCP).

Peta batimetri, arus dan sedimen


Prosedur pembuatan peta batimetri, arus
dan sedimen menggunakan software pemetaan.

Timur. Pengolahan data dilakukan di kantor PT.


Rekayasa Industri, Kalibata, Jakarta Selatan.
Penelitian dilakukan selama 3 Bulan yaitu Mei Agustus 2014. Penelitian termasuk akuisisi data,
analisis data dan penyajian data.
Hasil dan Pembahasan
1. Morfologi dasar laut dari Perairan
Lampung Timur
Dari hasil dari pengambilan data kedalaman
dan dibuat peta batimetri diketahui kedalaman laut
di daerah penelitian bervariasi antara 0 meter
sampai 30,7 meter dari Barat Laut sampai
Tenggara. Nilai kedalaman laut sepanjang 21 km
diketahui bahwa tidak ada perubahan yang
signifikan, perubahan kedalaman yang tidak
signifikan diketahui dari nilai kedalaman maksimum
dikalikan panjang daerah penelitian dibagi dengan
100%. Perhitungan dari nilai perubahan kedalaman
laut yaitu :

Hasil dari perubahan kedalaman diketahui


sebesar 0,15%, dari nilai perubahan kedalaman
sebesar 0,15 % diketahui bahwa daerah yang diteliti
merupakan laut yang landai yang tidak memiliki
perubahan kedalaman yang curam, hal tersebut
sesuai dengan yang dijelaskan oleh Hutabarat
(1985) dan Bhatt (1978) bahwa Continental Shelf
adalah suatu daerah yang mempunyai lereng landai
kurang lebih 0,4% dan berbatasan langsung dengan
daerah daratan, lebar dari pantai 50 70 km,
kedalaman maksimum dari laut di antara 100 200
meter.
Hasil dari pembuatan peta batimetri diketahui
bahwa kedalaman laut landai menuju ke arah
Tenggara dan kontur kedalaman umumnya semakin
dalam ke arah Barat Laut hingga Tenggara. Hasil

pengukuran kedalaman laut maksimal sebesar 30,7


meter menunjukkan bahwa daerah tersebut
merupakan Continental Shelf yaitu laut dengan
kedalaman laut maksimal adalah 200 meter, dari
kedalaman maksimal 30,7 meter tersebut diketahui
bahwa tipe kedalaman laut pada daerah yang diteliti
termasuk laut dangkal, disebut laut dangkal karena
kedalamannya yang kurang dari 200 m.

Dasar lautan yang dangkal dan merupakan


daratan yang meluas serta terdapat disepanjang
pantai. Continental shelf adalah bagian dari benua
yang berdekatan dan tergenang oleh air laut
(dalamnya tak lebih dari 200 m). Paparan benua
(continental shelf) merupakan kelanjutan wilayah
benua (kontinen) dengan kedalamannya kurang
lebih 200 meter. Sebagian besar paparan terbentuk
selama periode glasial dan berupa permukaan
daratan tetapi relatif terendam dangkal di bawah
laut dikenal sebagai rak laut dan teluk-teluk.
Paparan benua terdiri dari lereng curam
suatu dataran yang diikuti oleh kenaikan secara
mendatar dari dataran itu. Sedimen dari dataran
tinggi menuruni lereng dan terakumulasi sebagai
tumpukan sedimen di dasar lereng, yang disebut
kontinental bertingkat dan daerah tebing paparan
benua disebut tebing benua/kontinen. Lebar
paparan benua sangat bervariasi dengan rata-rata
paparan benua adalah sekitar 80 kilometer.
Kedalaman Paparan Benua juga bervariasi tetapi
umumnya terbatas pada laut dangkal dengan
kedalaman maksimal 150 meter. Kemiringannya
biasanya cukup rendah, dengan kemiringan
dibawah 0,4%.
2. Arus di Perairan Lampung Timur

adalah 0,705 meter/detik dan kecepatan rata-rata


adalah 0.203 meter/detik.

Kecepatan arus maksimum dan nilai ratarata kecepatan arus menurun menuju kedalaman.
Arah tersebut dikatakan dominan dilihat dari grafik
mawar arus yang menunjukkkan arah Utara,
Selatan dan Timur Laut yang paling banyak
persentasenya. Di penempatan ADCP 1, kecepatan
arus maksimum di lapisan permukaan mencapai
2,119 meter/detik dengan kecepatan arus rata-rata
adalah 0,458 meter/detik dan penurunan pada
lapisan bawah dengan kecepatan arus maksimum
adalah 0.962 meter/detik dan rata-rata kecepatan
adalah
0.171
meter/detik.
Sementara
di
penempatan ADCP 2 umumnya, nilai kecepatan
lebih rendah daripada di penempatan ADCP 1
dimana kecepatan arus maksimum di lapisan
permukaan mencapai 1,096 meter/detik dengan
kecepatan arus rata-rata adalah 0.304 meter/detik
dan penurunan kecepatan arus pada lapisan bawah
dengan kecepatan arus maksimum adalah 0,705
meter/detik dan kecepatan rata-rata adalah 0.203
meter/detik.
Kecepatan arus pada ADCP 1 maksimum di
lapisan permukaan mencapai 2,119 meter/detik
dengan kecepatan arus rata-rata adalah 0,458
meter/detik dan penurunan pada lapisan bawah
dengan kecepatan arus maksimum adalah 0.962
meter/detik dan rata-rata kecepatan adalah 0.171
meter/detik. Di penempatan ADCP 2 nilai kecepatan
lebih rendah daripada di penempatan ADCP 1
kecepatan arus maksimum di lapisan permukaan
mencapai 1,096 meter/detik dengan kecepatan arus
rata-rata adalah 0.304 meter/detik dan penurunan
lapisan bawah dengan kecepatan arus maksimum

3. Tipe sedimen dasar dari perairan laut


Lampung Timur
Continental slope adalah daerah yang
mempunyai lereng lebih terjal dari ccontinental
shelf, kemiringannya anatara 3 6 %. Sebagian
besar pada Continental slope kemiringannya lebih
terjal sehingga sedimen tidak akan terendapkan
dengan ketebalan yang cukup tebal. Daerah yang
miring pada permukaannya dicirikan berupa batuan
dasar (bedrock) dan dilapisi dengan lapisan lanau
halus dan lumpur. Kadang permukaan batuan
dasarnya tertutupi juga oleh kerikil dan pasir
(Hutabarat, 1985).
Sedimen lunak sepanjang daerah yang
diteliti ditafsirkan dan dikonfirmasi oleh data
sedimen grab-core dan drop-core. Substrat lembut
dari dasar laut ditandai dengan adanya hasil dari
pantulan sinyal akustik yang transparan dalam
perekaman data sub-bottom profiler, sedimen
lembut tersebut diketahui terdiri dari lanau
bercampur dengan tanah liat dengan beberapa
pecahan kerang. Lapisan kasar pada dasar laut
ditafsirkan lapisan pasir yang renggang dan lapisan
pasir rapat.
Lapisan sedimen yang lunak diketahui dari
hasil pengambilan data sub-bottom profiler tidak
selalu
sesuai
dengan
kondisi
sebenarnya
dikarenakan oleh pengaruh arus air laut, kondisi
sedimen dasar laut diketahui lembut sampai sangat
lembut dan menjadi lebih keras dengan
meningkatnya
kedalaman.
Interpretasi
dari
ketebalan sedimen yang halus dari data perekaman
sub-bottom profiler dibandingkan dengan hasil grabcore dan drop-core.
Dari hasil data sub-bottom profiler juga
ditandai dengan pantulan sinyal akustik yang lebih
terang atau tipis, lapisan ini merupakan interpretasi
dari lapisan yang tidak teratur. Jenis sedimen dari
unit ini diartikan sedimen yang bertekstur keras
sampai sangat keras (berbagai campuran tanah liat,
pasir dan lanau). Diketahui juga adanya lapisan
yang relatif tidak lebih terang yang ditafsirkan
sebagai lapisan tipis dari pasir yang tercampur
dengan lanau dan lempung.
Interpretasi suksesi geologi dangkal di
wilayah yang diteliti berdasarkan data sub-buttom
profiler dan dikonfirmasi dengan data grab-core dan
drop-core diketahui terdiri dari tiga lapisan utama
sedimen yang berbeda, yaitu: tanah liat berpasir
sangat lembut ke pasir berlumpur, lapisan keras
dengan campuran tanah liat dan lapisan padat yaitu
campuran untuk pasir padat bercampur lanau.
Bahan dasar laut yang lembut diketahui dari lapisan
akustik transparan dalam data sub-bottom profiler,
juga ditafsirkan adanya lapisan lembut dengan

tanah liat bercampur lanau dengan beberapa


pecahan kerang.
Dari data sub-buttom profiler juga diketahui
pengembalian sinyal akustik yang lebih terang yang
diinterpretasikan sebagai tanah liat berpasir, lapisan
yang tidak teratur. Bahan dari lapisan ini diartikan
terdiri dari bahan keras sampai sangat kaku
(berbagai campuran tanah liat, pasir dan lanau).
Didapat juga lapisan dengan hasil pantulan sinyal
akustik yang relatif kurang terang dimana terdiri dari
tanah liat berlumpur dan ditafsirkan lapisan yang
tipis dari pasir padat dengan campuran lanau dan
lempung.
Dari
data
pengambilan
sedimen
menggunakan drop-core dan grab-core diketahui
sebaran, karakteristik dan jenis sedimen pada
daerah penelitian. Tabulasi data sedimen dapat
dilihat pada lampiran, tabel persentase sebaran
sedimen menggunakan drop-core dan grab-core
dapat dilihat pada berikut :

Dari hasil persentase sebaran sedimen


menggunakan drop-core dan grab-core diketahui
sebaran sedimen yang paling dominan berdasarkan
persentasenya. Dari tabel diatas diketahui sedimen
dengan karakteristik Pasir BerLanau dengan
persentase 34% menggunakan drop-core dan 38%
menggunakan grab-core, Lempung BerLanau 35%
menggunakan drop-core dan 32% menggunakan
grab-core, Lanau BerPasir 13% menggunakan
drop-core dan 15% menggunakan grab-core
merupakan sedimen dengan karakteristik yang
paling dominan di daerah yang diteliti. Dapat
disimpulkan
sedimen
yang
paling
banyak
sebarannya adalah Lempung 40%, Pasir 41% dan
Lanau 19%.
4.
Hubungan antara Batimetri, Arus dan
Sedimen
Arus pada permukaan di dua titik diketahui
kuat yang menyebabkan persebaran sedimen pada
daerah yang diteliti beragam, berdasarkan tipe
transpor sedimen oleh arus dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu (Richard, 1992) :
1.
Sedimen merayap (bed load) yaitu
material
yang
terangkut
secara

menggeser atau menggelinding di dasar


aliran.
2.
Sedimen loncat (saltation load) yaitu
material yang meloncat-loncat bertumpu
pada dasar aliran.
3.
Sedimen layang (suspended load) yaitu
material yang terbawa arus dengan cara
melayang-layang dalam air.
Berdasarkan tipe transpor sedimen oleh
arus permukaan yang kuat diketahui sedimen yang
tersebar adalah Lempung, Lanau dan Pasir. Pasir
tersebar luas karena arus permukaan yang kuat,
sedangkan Lanau terendapkan oleh arus dasar
yang lemah dan mengarah ke barat daya yang
menyebabkan hanya dapat ditemui mulai kilometer
12 21. Sedimen Lempung walaupun lebih ringan
namun dapat ditemui mulai kilometer 0 -21,
persebaran sedimen Lempung pada daerah dekat
pantai kemungkinan diakibatkan pada saat
pengendapan dipengaruhi oleh arus lemah pada
dasar laut yang mengarah ke barat laut yaitu ke
arah pantai.
Transpor sedimen pada wilayah perairan
dangkal seperti pada daerah yang diteliti banyak
menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan
seperti pendangkalan dasar laut. Fenomena ini
biasanya merupakan permasalahan terutama pada
daerah pelabuhan sehingga prediksinya sangat
diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan
metode penanggulangan.
Berdasarkan arus yang lemah di permukaan
pada daerah yang diteliti arus mentransporkan
sedimen dengan ukuran Lempung dan Pasir hampir
di seluruh daerah yang diteliti, sedimen Lanau
kurang tersebar luas karena diasumsikan arus pada
permukaan yang kuat membawa sedimen dengan
jarak yang jauh sedangkan Lanau dengan settling
time lebih cepat dan berat diendapkan lebih jauh ke
arah laut yaitu mulai dapat ditemukan pada
kilometer 12 21.
Batimetri, arus dan sedimen memiliki
hubungan dimana sedimen yang terbawa di perairan
akan ditransporkan oleh arus, kondisi arus yang
kuat di bagian permukaan pada daerah yang diteliti
menyebabkan
sedimen
yang
terendapkan
merupakan sedimen Pasir dengan settling time lebih
cepat dan berat yang lebih berat dari Lanau dan
Lempung mulai dari kilometer 0 - 21, sedimen Lanau
tersebut diketahui dari hasil pengambilan sedimen
dengan drop-core dan grab-core mulai ditemui dari
kilometer 12 21, sedangkan sedimen Lempung
juga mulai dapar ditemukan dari kilometer 0 - 21.
Dari hasil sebaran sedimen diketahui adanya
sebaran yang tidak sesuai dengan teori yang ada
dimana sedimen lana seharusnya lebih dapat
tersebar di dasar laut dibanding dengan Lempung
karena settling time lebih cepat dan berat yang lebih
berat dari Lempung. Sedimen dengan ukuran kecil
dapat terbawa sangat jauh oleh arus karena
ukurannya yang kecil dan beratnya yang ringan
sehingga mudah tersuspensi dengan air laut. Arus
membawa sedimen yang tersuspensi dengan air
laut sampai akhirnya sedimen tersebut tidak dapat

terbawa lagi dan akhirnya terendapkan pada dasar


perairan.
Selley (1988) membuat hubungan antara
proses sedimentasi dan jenis endapan yang
dihasilkan, sebagai berikut :

Arus biasanya menghasilkan suatu endapan


campuran antara Pasir, Lanau, dan Lempung.
Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan
bergerak mengalir di bawah media yang lebih encer.
Arus yang membawa pada sedimen sehingga
menjadi arus pekat dikenal dengan nama turbiditi.
Endapan dari suspensi pada umumnya berbutir
halus seperti Lanau dan Lempung.
Sedimen setelah mencapai dasar perairan
juga dapat terbawa kembali oleh arus yang ada di
dasar perairan sehingga sebarannya pada dasar
perairan diketahui sangat beragam. Sedimen yang
terendapkan
tersebut
lama-kelamaan
akan
membentuk kondisi dasar perairan dengan
kedalaman dan sebaran sedimen dasar yang
berbeda - beda .
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpula
n
Kesimpulan dari hasil peneltian ini adalah :
1. Morfologi dari dasar laut pada daerah yang
diteliti relatif datar dan sedikit miring ke arah
tenggara. kedalaman laut di daerah
penelitian bervariasi antara 0 meter sampai
30,7 meter dari Barat Laut sampai
Tenggara. Nilai kedalaman laut sepanjang
21 km diketahui bahwa tidak ada
perubahan yang signifikan, perubahan
kedalaman yang tidak signifikan diketahui
dari nilai perubahan kedalaman sebesar
0,15%. Morfologi dasar laut dengan
perubahan kedalaman dengan besar
kurang dari 0,4% merupakan laut dengan
tipe yang landai yang termasuk kedalama
tipe continental shelf.
2. Kecepatan arus pada ADCP 1 maksimum di
lapisan
permukaan
mencapai
2,119
meter/detik dengan kecepatan arus ratarata adalah 0,458 meter/detik dan
penurunan pada lapisan bawah dengan
kecepatan arus maksimum adalah 0,962
meter/detik dan rata-rata kecepatan adalah
0,171 meter/detik. Di penempatan ADCP 2
nilai kecepatan lebih rendah daripada di
penempatan ADCP 1 kecepatan arus
maksimum di lapisan permukaan mencapai

1,096 meter/detik dengan kecepatan arus


rata-rata adalah 0,304 meter/detik dan
penurunan
lapisan
bawah
dengan
kecepatan arus maksimum adalah 0,705
meter/detik dan kecepatan rata-rata adalah
0,203 meter/detik.
3. Sedimen dasar laut pada daerah yang
diteliti secara umum diinterpretasikan
sebagai sedimen sangat lembut halus.
Kondisi sedimen dasar laut tersebut
diketahui dari pengambilan sedimen
menggunakan grab-core dan drop-core
serta dikonfirmasi dengan data sub-bottom
profile, sedimen diidentifikasi sebagian
besar terdiri dari Lempung 40%, Pasir 41%
dan Lanau 19%. Juga diketahui sedimen
Lempung
dan
Pasir
lebih
luas
persebarannya dibanding dengan sedimen
Lanau.
Sara
n
Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan
waktu penelitian yang lebih panjang dengan
penambahan parameter oseanografi pada materi
penelitian seperti salinitas, densitas, dan sedimen
tersuspensi pada perhubairan sehingga dapat
diketahui lebih tepat ungan antara batimetri,
sedimen dan arus. Pemodelan terhadap parameter
arus dan sedimen tersuspensi perlu dilakukan
supaya pembahasan mengenai hubungan arus dan
sedimen lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Bernawis, Lamona I. 2000. Temperature and
Pressure Responses on El-Nino 1997 and
La-Nina 1998 in Lombok Strait. Proc. The
JSPS-DGHE International Symposium on
Fisheries Science in Tropical Area
Bhatt, J. J. 1978. Oceanography Exploring the
Planet Ocean. Dvon Nonstrand Company,
Toronto
Gross, M. G.1990. Oceanography ; A View of Earth.
Prentice Hall, Inc. Englewood Cliff. New
Jersey
Hadi,

Sutrisno. 1982. Metedologi Research.


Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Hutabarat,S. dan Evans, S.M, 1984. Pengantar


Oseanografi.
Penerbit
Universitas
Indonesia. Jakarta.
Holme N.A and Mc Intyre, A. D. 1984. Methods for
The Study of Marine Benthos. Backwall
Scientific Publications, Oxford.
Nontji,

Anugerah, Dr. 1987. Laut


Penerbit Djambatan. Jakarta

Nusantara.

Mitchum, R. M., Jr.. 1977. Seismic Stratigraphy


and Global Changes in Sea-Level, Part VII,
AAPG Mem. 26. Tulsa, Oklahoma, p.205212.
Ongkosongo, Otto S.R. 1989. Pasang Surut. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Jakarta.
Pariwono, J., 1985. Australian cooperative
programmes in marine sciences: tides and
tidal phenontena in the ASEAN region. Fl
inders University, Flinders.
Pettijohn, F.J. (1975): Sedimentary rocks. 3rd Ed.
Harper & Row, New York.
Pipkin,

B.W.1977.
Laboratory
Exercise
in
Oceanography.
W.H
Freeman
and
Company. San Fransisco.

Poerbandono dan E. Djunarsjah. 2005. Survey


Hidrografi. Refika Aditama, Bandung.
Pond, S. and G. L. Pickard, 1983. Introductory
dynamical oceanography.2 End ed. British
Library Cataloguing in Publication. Data
Selley, R.C. 1988. Applied Sedimentology. xii+446
pp. London: Academic Press.

Setiyono, H. 2008. Bekal Lapangan Survai Pantai.


BP UNDIP Press, Semarang.
Soeprapto. 2001. Survei Hidrografi. Gadjah Mada
University Oress, Yoyakarta.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R & D/ Bandung:Alfabeta.
Thurman, H., A. P. Trujillo. 2004. Introductory
Oceanography 10th. Pearson Education.
Triatmodjo, Bambang. 1996.
Offset. Yogyakarta

Pelabuhan.

Beta

Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik Pantai. Beta


Offset. Yogyakarta.
Vail, Peter. 1987. Seismic Stratigraphy Interpretation
Using
Sequence
Stratigraphy.
Rice
University, Houston, Texas.
Verstappen, H.Th, 1953. Applied Geomorphology,
Geomorphological
Surveys
for
Environmental
Development.
Elsivier,
Amsterdam.
Wyrtki,K.,1961.
Physical
oceanography
of
Southeast Asian waters Vol II, University of
California, La Lolla.