You are on page 1of 20

Keterlibatan Mafia Migas dalam Pilpres

Semakin Terkuak
Jumat, 4 Juli 2014 18:41 WIB

TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Dari kiri, Anggota Komisi Informasi Pusat (KIP), Jhon Fresly, Komisioner Bawaslu,
Nasrullah, dan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KIP), Idy Muzayyat memberikan
keterangan pers di kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Jumat (4/7/2014). Jumpa pers bersama ini
terkait himbauan memasuki masa tenang sebelum pilpres 9 Juli mendatang.
TRIBUNNEWS/HERUDIN

Emil Salim: mafianya adalah cawapres berinisial R


Jakarta - Keterlibatan mafia minyak dan gas dalam pembiayaan
pilpres 2014 semakin terkuak. Pemilik grup Global Energy Resource
(GER), Muhammad Riza Chalid, yang selama ini dikenal sebagai
mafia migas disinyalir membiayai tabloid fitnah Obor Rakyat dan
membeli Rumah Polonia yang menjadi markas tim sukses
Prababowo-Hatta. Beberapa pakar dan wartawan berhasil
membongkar hubungan Riza Chalid dengan cawapres nomor urut 1,
Hatta Radjasa yang mantan Menko Ekuin.

Direktur Riset Badan Pemerhati Migas (BP Migas) Syafti Hidayat,


menuding Hatta Radjasa terlibat dalam mafia migas bersama
Muhammad Riza Chalid. Untuk itu, dirinya mendesak kepada Menko
Perekonomian Chairul Tanjung (CT) untuk berpihak kepada rakyat
kecil, dan mengadukan Hatta dan Riza kepada yang berwajib.
Selama ini Indonesia terus bergantung pada bahan bakar minyak
(BBM) impor, sengaja tidak mendirikan kilang pengolahan, hanya
supaya impor jalan terus dan komisi diperoleh mafia, ujar Syafti
Hidayat, Direktur Riset Badan Pemerhati Migas (BP Migas), dalam
aksi unjuk rasa di Jakarta, Kamis 5 Juli 2014.
Pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy pernah mengatakan
bahwa Muhammad Riza Chalid sebagai mafia minyak yang sudah
dikenal sejak era Soeharto.Sepak terjang Riza sungguh luar biasa dan
sangat di takuti lawan dan kawan di dalam negeri serta di luar negeri
karena telah menguasai Petral. Tudingan terhadap Riza yang telah
menguasai Petral selama puluhan tahun itu dikatakan terjalin dari
kerja sama dengan lima broker minyak, antara lain dengan Supreme
Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium
yang berbasis di Singapura, bahkan terdaftar di Virgin Island sebuah
wilayah bebas pajak. Sehingga kelima perusahaan inilah digadanggadang sebagai mitra utama Petral.
Hatta juga dilaporkan oleh Solidaritas Kerakyatan Khusus Migas
(SKK Migas) ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurut kelompok
SKK Migas ini, Hatta diduga terlibat dalam kasus impor minyak
mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Koordinator SKK Migas,
Ferdinand Hutahaean, mengatakan sewaktu menjabat Menteri
Koordinator bidang Perekonomian, Hatta berkuasa mengatur
pengadaan minyak. Pengaturan PT Pertamina dan anak
perusahaannya, PT Petral, dalam impor minyak itu dilakukan
sepenuhnya oleh Hatta.
"Hatta dengan kewenangannya menghambat pembentukan kilang
minyak dan menurunkan produksi minyak mentah sehingga ada celah
impor yang lebih besar," ujar Ferdinand kepada Tempo, Selasa, 1 Juli
2014.

Ihwal pelaporan keterlibatan Hatta dalam kasus impor minyak, Wakil


Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Zulkarnain menyatakan bahwa
status laporan tersebut masih di Bagian Pengaduan Masyarakat KPK.
Dia menjelaskan KPK akan menelaah dulu pelaporan tersebut. "Tentu
bisa dilanjutkan jika pelaporan itu memenuhi syarat," ujarnya.
Mantan Menteri di era Soeharto yang juga Ketua Dewan
Pertimbangan Presiden Emil Salim membenarkan ada mafia minyak
di sektor perminyakan Indonesia. "Benar, memang ada mafia minyak,
yang disebut-sebut itu, dia itu salah satu sahabat salah satu Cawapres,
mafianya itu keturunan Pakistan, kamu tanya saja dia (Cawapres)
pasti tahu," ucap Emil kepada wartawan di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu
2 Juli 2014.
Emil menegaskan, mafia minyak 'R' ini ingin BBM subsidi itu tetap
ada, karena makin menguntungkan dirinya dan jaringannya.Semakin
banyak BBM bersubsidi dan makin banyak impor BBM, mafia ini
makin bahagia.
"Kamu tahu kita tidak punya kilang minyak sampai saat ini terakhir
kali kita punya kilang zamannya Pak Ginanjar (menteri ESDM),
impor minyak dan BBM Indonesia terus bertambah, anggaran subsidi
membengkak itu merupakan satu rangkaian yang saling terkait, di
belakangnya ya mafia itu," tutupnya.
Sejak 2 Juni 2014, kasus penyelundupan minyak terbesar dalam
sejarah Indonesia belum juga terungkap. Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan kasus ini
masih dalam proses penyelidikan. "Saya belum dapat kabar lagi
karena masih penyelidikan," ujar Dirjen Bea Cukai Agung
Kuswandono di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu 2 Juli 2014.
Dalam debat Cawapres beberapa waktu lalu cawapres nomor urut 2,
Jusuf Kalla mengungkap dugaan ekonomi Indonesia dikuasai oleh 4
mafia. Ada mafia minyak, mafia gula, mafia sapi, dan mafia benih.
Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengungkapkan siapa mafia minyak
yang selama ini ada di Indonesia. Menurut Faisal, mafia tersebut
sangat senang Indonesia makin banyak mengimpor minyak, kilang

minyak tidak terbangun dan anggaran subsidi BBM meningkat, siapa


dia?
"Mafia minyaknya siapa lagi kalau bukan dia," tegas Faisal ditemui
usai diskusi bertajuk 'Realistiskah Program Ekonomi Jokowi?' di
Hotel Sahid, Jakarta, Rabu kemarin di Hotel Sahid, Jakarta. Saat itu,
Faisal menyebut nama jelas seorang importir minyak berinisial R.
Faisal mengatakan, mafia tersebut merupakan importir minyak, yang
biasa mengimpor minyak Indonesia. "Kalau data memang susah ya,
namanya mafia, tapi semua orang diperminyakan pasti tahu siapa dia.
Dia importir minyak, senang kalau Indonesia terus-terusan impor
minyak, senang kalau ada subsidi BBM," jelasnya.
Dalam wawancara khusus dengan Tempo, Hatta Rajasa menolak
anggapan adanya mafia minyak di Indonesia. "Apa yang dimaksud
dengan mafia minyak? Kami mati-matian bangun kilang minyak.Di
MP3EI jelas disebutkan kita tak boleh jual gas," katanya
kepada Tempo, Selasa dua pekan lalu. Hatta juga berjanji akan
mengungkap mafia minyak jika ia terpilih menjadi wakil presiden.
Namun janji Hatta tersebut langsung dijawab oleh KPK, agar Hatta
melaporkan ke KPK segera. "Seharusnya disampaikan ke KPK ketika
dia bertemu dengan Pimpinan KPK waktu itu," kata Juru Bicara KPK,
Johan Budi, di Gedung KPK di Jakarta, Senin malam, tentang ucapan
Hatta dalam debat cawapres pada Minggu malam. (skj)

Keterkaitan antara militer, mafia


perminyakan, dan akun-akun penyebar
kebohongan
Sabtu 21 Juni 2014 15:29 WIB

MILITER

Sejak awal Jenderal Besar (Purn.) Soeharto menjabat,


Pertamina sangat erat dengan militer. Pasti, orang tua Anda
mengetahui siapa Direktur Utama Pertamina tahun 19681976. Iya, benar. Letnan Jenderal Ibnu Sutowo yang tinggal
persis di samping Jalan Cendana, Menteng.

Ia mulai aktif di dunia perminyakan sejak tahun 1956, resmi


menjadi Direktur Utama Pertamina sejak tahun 1968, dan
sudah memiliki simpanan pribadi sekurang-kurangnya 226,2
juta USD pada tahun 1970. Tahun 1976, beliau diberhentikan
dari jabatannya karena marak diberitakan soal korupsi dalam
jumlah yang sangat besar. Korupsi ini membuat Pertamina
berutang sebesar US$10,5 Miliar atau 30% total output (PDB)
Indonesia saat itu. Luar biasa bukan?

Sayangnya, hingga detik ini ia tidak pernah


diadili, keluarganya tetap tinggal di samping Keluarga
Cendana dan masih saja kerap membuat ulah, seperti
menipu Ali Sadikin.
*Selingan: Sejak tahun 1970, Ibnu Sutowo sering berpergian
ke New York dengan jet pribadi Rolls Royce Silver Cloud
miliknya dan sering menyuruh Bob Tutupoly datang ke New
York hanya untuk membawa rendang dan menyanyi di
restoran termahal di New York yang di-booking secara penuh
oleh Ibnu Sutowo.
*Selingan: Gaya hidup mewah Ibnu Sutowo dan keluarga
yang lain dapat dilihat di internet. Contohnya di
http://www.merdeka.com/peristiwa/gay...-keluarga.html
*Selingan: Anak Ibnu Sutowo, Adiguna Sutowo, mendirikan
PT Mugi Rekso Abadi (MRA) pada tahun 1993. MRA
memiliki 35 anak perusahaan, antara lain: Hard Rock Cafe,
Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM
(Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, majalah Cosmopolitan,
majalah FHM, Four Seasons Hotel dan Four Seasons
Apartement di Bali, dealership Ferrari dan Maserati,
Mercedes Benz, Harley Davidson, Ducati, dan Bulgari.

*Selingan: Adiguna Sutowo dan istri gitaris Piyu


"Padi" terlibat dalam penabrakan pagar rumah istri kedua
Adiguna Sutowo.
*Selingan: Putra bungsu dari Adiguna Sutowo, Maulana
Indraguna Sutowo, menikah dengan Dian Sastrowardoyo pada
Mei 2010.

Titel Direktur Utama Pertamina boleh saja tidak lagi dipegang


Ibnu Sutowo, namun kekuasaan militer pada sektor
perminyakan tetap mendominasi hingga hari ini. (Direktur
Utama Pertamina selanjutnya adalah Mayor Jenderal Piet
Haryono, Mayor Jenderal Joedo Soembono, dan Mayor
Jenderal Abdul Rachman Ramly) Maka, bukan suatu
pemandangan yang langka di Indonesia, di samping kantorkantor Pertamina terdapat markas-markas militer.

Untuk mengetahui seberapa seksinya perminyakan Indonesia,


silakan cermati perhitungan KPK atas pemasukan potensial
negara dari sektor perminyakan bila seluruh aktivitas
mematuhi hukum dan tidak ada gratifikasi dan korupsi.
Hasilnya adalah 20.000 Triliun per tahun atau 250% dari
jumlah keseluruhan output (PDB) Indonesia per tahun 2013.

MAFIA PERMINYAKAN
Karena semua kalangan berpendidikan telah mengetahui
mengenai Gasoline Godfather: Muhammad Riza Chalid
(MRC) di Petral (Pertamina Energy Trading Limited),

Bambang Trihatmodjo (ipar salah satu capres),


dan Hatta Rajasa, saya rasa tak perlu menguraikannya.
*Sedikit generous clue for non engineering or economics
graduates:
1. Majalah Intelijen edisi 5-18 November 2009 mengulas
mengenai perusahaan induk Riza Chalid, Petral dan Global
Energy Resources, dan anak-anak perusahaannya Supreme
Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil, dan Cosmic
Petroleum di British Virgin Island dan kongsi bisnisnya yang
bersifat tidak transparan dengan Pertamina.
2. Dr. Theodorus M. Tuanakotta, S.E., M.B.A. (CEO
Deloitte salah satu Big4 Kantor Akuntan Publik di dunia,
MBA dari Harvard Business School, Tenaga Ahli BPK dan
KPK, penulis buku "Akuntansi Forensik dan Audit
Investigatif" yang sangat populer, penerima Satyalancana
Wira Karya, dan anggota staf pengajar dan peneliti di Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia) menuturkan bahwa Hatta
Rajasa memiliki influence amat sangat besar di Indonesia
karena ia terlibat dengan Muhammad Rizal Chalid "Gasoline
Godfather" Pertamina Energy Trading Limited (Petral) di
Singapura. Menurut Pak Theodorus, Rizal Chalid
menghasilkan 3,153 juta USD per hari setara 37,839 miliar
rupiah per hari (Kalkulasi: Impor 850rb barrel/hari x 80%
Petral x 41,67% Riza Chalid x 159 liter/barrel x 0,07 markup/liter x Rp12.000/USD), sementara keluarga Ani
Yudhoyono mendapat 7,872 miliar rupiah per hari atau 0,5
USD per barrel dari minyak mentah dan minyak olahan baik
yang diimpor maupun yang diekspor. (Hal senada juga
dipublikasikan oleh Menteri Koordinator bidang
Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan
Nasional, Dr. Rizal Ramli, Ph.D.; Guru Besar Manajemen UI,

Prof. Rhenald Kasali, S.E., Ph.D.; peneliti senior Indonesian


Resources Studies, Ir. Samsul Hilal, M.S.E.; dan Direktur
Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies, Erwin
Usman.)

Foto: Muhammad Riza Chalid "Gasoline Godfather" dan


Wakil Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Letjen TNI
(Purn) Burhanuddin di Rumah Polonia.

*Fakta: Pada 11 Februari 2014, Wakil Komite Badan Pengatur


Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), M. Fanshurullah
Asa, kembali menegaskan fakta bahwa Indonesia mengimpor
BBM dari Singapura, negara yang tidak ada eksplorasi
(pencarian) dan eksploitasi (produksi) minyak.
*Fakta: Walaupun Singapura tidak memiliki sumur minyak,
kapasitas penyulingan minyak (refinery) di Singapura adalah
1,4 juta barrel/hari, sedangkan kapasitas di Indonesia hanya
1,1 juta barrel/hari.
*Fakta: Ketua Umum MUI dan Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin,
M.A. ; Menteri Koordinator Ekonomi (1999 - 2000) dan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua
Bappenas (2001 - 2004), Kwik Kian Gie; dan Rektor IBII,
Anthony Budiawan mengatakan ada Indoktrinasi &
Brainwashing dalam pembelian BBM yang menggunakan
harga NYMEX.
*Fakta: Mahfud MD pernah menyebut Pertamina sebagai
sarang koruptor.
*Fakta: Silakan melihat laporan keuangan Pertamina bagian
Opini Auditor Independen PricewaterhouseCoopers, Petral di
Singapura yang notabene berperan sangat penting bagi kita,
negara raksasa pengimpor minyak, malahan tidak
diaudit dengan alasan aset lancar (kas, piutang, dsb) dan aset
tetap (bangunan, dsb)-nya kecil. Padahal dengan diauditnya
Petral, dapat mengungkap kecurigaan harga beli BBM yang
sesungguhnya yang selama ini memberatkan pos belanja
negara (subsidi).

*Fakta: Tren Pendidikan S1 Direktur Utama Pertamina akhirakhir ini adalah S1 Teknik Perminyakan ITB dan Hatta Rajasa
berasal dari S1 Teknik Perminyakan ITB.
*Fakta: Melihat sejarah Hatta Rajasa, ia dikenal sebagai salah
satu pengusaha yang sejak tahun 1980 bergabung dengan
Medco Energy milik Arifin Panigoro (Alumni ITB) di
Singapura dan di Indonesia.
*Fakta: Hatta Rajasa dan Marzuki Alie lahir di Palembang.
*Fakta: Laporan Utama di Majalah GEO ENERGI Indonesia
edisi Januari 2014: "Ambisi Pertamina buat (Si)apa?" yang
ditulis oleh Sri Widodo Soetardjowijono, Ishak Pardosi,
Amanda Puspita Sari, Faisal Ramadhan, dan Indra Maliara
menguraikan bagaimana Hatta Rajasa sukses mengantarkan
sekitar 60 persen anggota kabinet ke dalam Kabinet Indonesia
Bersatu. Usut punya usut, orang-orang ini ternyata berasal
dari rekomendasi Riza Chalid dan bertujuan untuk
mengamankan bisnis minyaknya.
*Fakta: Pernikahan Siti Ruby Aliya Rajasa dan Edhie Baskoro
Yudhoyono diyakini hampir seluruh elemen masyarakat
Indonesia berfungsi untuk mempertebal cengkraman dinasti
Hatta Rajasa dan Ani Yudhoyono di Indonesia.
*Fakta: Nama Riza Chalid makin ramai disebut-sebut sejak
pemberitaan bahwa Menteri Negara BUMN Dahlan
Iskan hendak membubarkan Petral karena disinyalir jadi
sarang korupsi. Namun, belum tuntas rencana Dahlan Iskan
membubarkan Petral, ia keburu dipanggil dan ditegur keras
oleh Presiden Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono
dan Hatta Rajasa di depan Karen Agustiawan. Isu pembubaran
Petral pun kembali menguap.

*Fakta: Pada Senin 16 Juni 2014, Direktur Pengolahan


Solidaritas Kerakyatan Khusus (SKK) Migas, Ferdinand
Hutahayan, telah melaporkan Hatta Rajasa kepada KPK dan
menyampaikan bukti-bukti yang dimilikinya. Lebih jauh,
Ferdinand mengatakan mafia perminyakan meraup untung
sedikitnya Rp 100 miliar per hari atau Rp 36 triliun per tahun.
*Fakta: Pada unjuk rasa di depan Gedung KPK pada Selasa, 3
Juni 2014 , Direktur Riset Badan Pemerhati (BP) Migas,
Syafti Hidayat; Koordinator Jaringan Aksi Mahasiswa (JAM)
Indonesia, Anyonk Latupono; dan Koordinator
Lapangan Koalisi Mahasiswa Jakarta (KMJ), Saefullah
Muhammad menuntut KPK memeriksa Hatta Rajasa atas
perannya sebagai mafia migas.
*Selingan: Walaupun diberi jabatan Menteri Koodinator
Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa dianggap sangat tidak
mengerti ekonomi dan sering menjadi bahan tertawaan oleh
Chatib Basri, Faisal Basri, Darmin Nasution, Fauziah Zen,
Mawar I. R. Napitupulu, dan hampir seluruh dosen yang
mengajar di FEUI. Satu dari sekian banyak contoh yang
mudah adalah ucapan Hatta Rajasa pada tahun 2010 yang
menargetkan PDB Nominal mencapai angka Rp 10.000
Triliun per tahun 2014. Pak Chatib Basri (sebelum terpilih jadi
menteri) mengatakan "Menko Ekuin kalian sekarang tol*l
banget tuh.. Masa' menggunakan PDB Nominal sebagai
target.. Kalau saya jadi dia sih, gampang saja, saya naikan saja
inflasi dua kali lipat." Hal ini sontak disambut tawa
menggelegar satu kelas besar. Bagaimana mungkin seorang
menko ekuin tidak mengetahui perbedaan antara PDB
Nominal dan PDB Riil (yang sudah di-adjust dengan
inflasi/kenaikan harga); sesuatu yang telah diajarkan di
Pengantar Ekonomi 1.

AKUN-AKUN PENYEBAR KEBOHONGAN DAN


PEMBENTUK OPINI
1. FPI dibentuk oleh pensiunan militer sebagai attack
dog yang memisahkan militer dan polisi dari tuduhan
pelanggaran HAM. (Lihat dokumen-dokumen Wikileaks) Di
samping itu, ingat saat tahun 1998, selain militer, ada unsur
lain yang melakukan kekerasan terhadap mahasiswa dengan
senjata-senjata yang tak lazim dengan pakaian-pakaian
menyerupai santri-santri.

2. Triomacan2000 (Syahganda Nainggolan [dulu Staf Ahli


Menko Ekuin Hatta Rajasa, sekarang Direktur Penggalangan
Relawan Tim Sukses Prabowo-Hatta Rajasa], Abdul
Rasyid [Staf Ahli Menko Ekuin Hatta Rajasa], dan Raden
Nuh) selalu melindungi dan memuja setinggi langit Hatta
Rajasa, besan SBY. Menurut buku "Cikeas Kian Menggurita"
yang ditulis George Junus Aditjondro dan diterbitkan Galang
Press, keluarga Ani Yudhoyono terlibat dalam sindikat mafia
perminyakan guna menambah kekayaan dan kekuasaan.
Untuk memastikan ini, silakan Anda mencari tahu alasan di
balik grasi Schapelle Leigh Corby (Warga Negara Australia),
usai santer diberitakan penyadapan Australia memperoleh
bukti-bukti bahwa keluarga besar Ani Yudhoyono, khususnya

Erwin Sudjono (kakak ipar SBY), sangat aktif dalam mafia


perminyakan.

Foto: Erwin Sudjono, mantan Pangkostrad (kakak ipar SBY)

Foto: Gatot Mudiantoro Suwondo, CEO Bank BNI (adik ipar


SBY)

Apakah Anda sekeluarga tahan melihat dan mendengar


keluarga Soeharto dan keluarga Ani Yudhoyono pura-pura
peduli dan prihatin; dan menginginkan mereka makin
menggurita?

JAWABAN ATAS DOA KITA


"Setahun pertama kita selesaikan mafia perminyakan." tegas
Jusuf Kalla pada Dialog KADIN, 20 Juni 2014.

TESTIMONI
"Jokowi memang bagus menjadi Presiden. Saya doakan
semoga terkabul keinginannya." ~Ridwan Kamil
"Tidak banyak yang tahu kan kalau sebenarnya Jokowi itu
lebih tegas dan keras daripada saya. Dia kelihatan lembut di
luar karena orang Jawa. Saya kalau lagi diskusi sama dia tegas
banget." ~Basuki Tjahaja Purnama#Tegas
"Biar seluruh rakyat Indonesia sejahtera dan kesenjangan
ekonomi tidak makin melebar, kita harus memberhentikan
dinasti-dinasti penguasa Orba bungkus baru dan
memberantas mafia perminyakan." ~seorang sahabat

BONUS SELINGAN
Untuk para pencinta selingan setanah air, mau dikasih
selingan lagi?
Pertama, tegakkan badan. Kedua, tarik napas secara
mendalam. Ketiga, senyum..Iya, senyum. Seriusan. Karena
ketenangan dan senyuman akan menaikkan testosterone dan

menurunkan cortisol yang baik untuk kesehatan dan


kehidupan.

Oke kita balik lagi ke selingan ekonomi level SMP ya.


Anda masih ingat polemik PP Mobil Murah yang
ditandatangani SBY pada 23 Mei 2013?
Saat itu, Indonesia telah mulai merasakan twin deficit (defisit
di APBN & defisit di neraca perdagangan, sehingga nilai tukar
Rupiah ke USD sangat lemah dan rentan) dan pembenahan
kemacetan Jakarta dan sekitarnya masih mengalami banyak
sekali resistensi.

Ibarat azab kemurkaan Allah yang tidak ada hentinya, pelaku


pasar dibuat makin gemetar dengan kabar bahwa besan Hatta
Rajasa menandatangani PP Mobil Murah, sesuatu policy yang
memicu meledaknya jumlah penjualan mobil, konsumsi
BBM, dan impor bahan baku otomotif yang membuat nilai
tukar makin runyam mencekam. Dalih yang digunakan besan
Hatta Rajasa, Hatta Rajasa, dan kader Golkar, MS Hidayat
saat itu tak lain dan tak bukan adalah mobil murah adalah
angkutan untuk pedesaan yang akan menggunakan Pertamax,
dan, karena pemanasan global adalah isu yang paling urjen
menurut mereka, mobil murah layak mendapat penghapusan
PPn-BM.

Nyatanya, statistik/fakta lebih berjaya daripada pidato yang


berkontradiksi dengan perbuatan. Lantas, Pak Chatib Basri
selaku Menteri Keuangan secara emosional menagih janji

Menperin MS Hidayat. Namun, penagihan janji itu dijawab


sendiri oleh besan Hatta Rajasa secara tidak langsung dengan
tindakan penunjukkan Muhammad Lutfi, Duta Besar
Indonesia di Jepang, sebagai Menteri Perdagangan.

Keambrukan pengurusan ekonomi negara dan ketamakan


kebijakan pro-kendaraan pribadi ternyata tak berhenti sampai
di situ. Joko Widodo yang merasa membanjirnya mobil murah
membuat penguraian kemacetan makin berat malahan ditolak
dalam pengajuan penghapusan bea impor untuk bus dan
pemasangan pembatas jalan TransJakarta yang tangguh di
jalan Sudirman-Thamrin dan Gatot Subroto-Tomang dan
diganjal dalam penerbitan PP Electronic Road Pricing.

*Selingan: Berbagai direktur institusi internasional seperti


Asian Development Bank dan World Bank; berbagai Chief

Economist bank-bank terbesar di dunia seperti Citibank dan


HSBC; dan berbagai Chief Economist di bank-bank terbesar
di regional seperti BII Maybank yang diundang ke FEUI pada
acara Economix menuturkan bahwa kebijakan Mobil Murah
merupakan a misguided policy, usai mereka memastikan tidak
ada wartawan/jurnalis yang hadir. Lebih jauh, mereka
mengatakan sebaiknya masyarakat awam melakukan
pengukuran dampak policy pemerintahan negara-negara maju
yang pro-transportasi publik dan dampak policy pemerintah
Indonesia yang pro-kendaraan pribadi.

Mantap tidak selingannya? All praise is to Allah.

LAMPIRAN 1: PROYEKSI REALISTIS

Kubu Pencipta Perdamaian dan Terobosan dengan Dialog


yang Memanusiakan Manusia
Ketua Umum MUI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, M.A., Prof. Dr. Muhammad
Quraish Shihab, M.A., Ketua Dewan Guru Besar FEUI Prof.
Prijono Tjiptoherijanto, Ph.D, Anies Baswedan, Dahlan Iskan,
Faisal Basri (Pendiri PAN, ekonom), Goenawan Mohamad
(Pendiri PAN, Jurnalis), Abdillah Toha (Pendiri PAN,
Komisaris Penerbit Mizan), Nono A. Makarim (Komite Etik
KPK), Wimar Witoelar (Kolumnis), Lin Chi Wei (Kata Data),
Arsendo Atmowiloto (Wartawan), Todung Mulya Lubis, Yoris
Sebastian, Ren Suhardono, Ayu Utami, Joko Anwar, Slamet
Rahardjo Djarot, Mira Lesmana, Olga Lidya, Butet

Kartaredjasa, Ong Harry Wahyu, Rayya Makarim, Riri Riza,


Leila S. Chudori, Iksaka Banu, Kurnia Effendi, Marco
Kusumawijaya (Arsitek), Samuel Indratma (Community
Visual Artist), Rudi Valinka (Auditor Forensik), Fadjroel
Rachman, dan Adian Napitupulu.
Slank, Erwin Gutawa, Addie MS, KLA Project, /rif, Giring
Ganesha "Nidji", Kikan Namara Cokelat, Yuni Shara,
Krisdayanti, Barry Likumahuwa, Trio Lestari (Glenn Fredly,
Tompi, Sandhy Sondoro), Andre Hehanusa, Superman is
Dead, JFlow, Soul ID, Bams, Ian Antono, Once, Oppie
Andaresta, Titi "Film Jalanan", Kadri Jimmo, Yukie PasBand,
Jalu Pratidina, Nia Dinata, Robi Navicula, Jhody Bejo,
Kartika Jahja, Joe Saint Loco, Marsha Timothy, Vino G
Bastian, Indra Birowo, Wanda Hamida, Cak Lontong, Otong
Koil, Richard Sambera, Gading Marten, Ello, Michael Idol,
Dochi Pee Wee Gaskins, Pop the Disco , ARockGuns,
Josaphat Killing Me Inside, Widi Vierratale, Delon IDOL,
Ivan Nestorman, Yacko, Kill The DJ, Billy BeatBox, Tabib
Qiu, Stereocase, Che Cupumanik, Lala Timothy, Kristina,
Melly Manuhutu, Ho Katarsis, Sawarna Warna Sunandar,
Sruti Respati, Roy Jeconiah, Ajul & Rekan, Edward Suhadi,
Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono.

Kubu Menantu Soeharto "Sang Pembunuh Massal" dan Besan


Ani Yudhoyono "Sang Mafia Perminyakan"