You are on page 1of 4

Transit #3

Disusun untuk Ujian Tengah Semester mata kuliah


SR4103 Kritik Seni Rupa I

Oleh
Andrita Yuniza 17012010

Dosen Pengajar
Aminudin TH Siregar,M.Sn.
197307291999031002

Program Studi Seni Rupa


Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Teknologi Bandung
2015

Transit #3 merupakan pameran dari keempat seniman muda yang telah melaksanakan
residensi di Selasar Sunaryo selama 3 bulan. Residensi diikuti oleh Aliansyah Caniago
dari Bandung, Fika Ria Santika dari Padang, labadiou Piko dari Yogyakarta dan Kara
Andarini dari Jakarta. Pembukaan pameran pada hari jumat tanggal 30 oktober ini
terlambat 30 menit. Pameran residensi ini dibuka oleh ketiga fasilitator residensi lalu para
peserta residensi memberikan sambutan yang diwakili oleh Aliansyah Caniago.
Sunaryo membuka pameran dengan menjelaskan bahwa Transit berarti singgah, dalam
transit ini terdapat proses yang menarik dalam membuat karya. Jangan mengharapkan
sesuatu yang indah dan sudah selesai, sambungnya. Sedangkan program residensi ini
difasilitatori oleh Sunaryo, Agung Hujatnikajennong dan Hendro Wiyanto. Fasilitator
merupakan kata ganti bagi mentor dalam program residensi. Berdasarkan pernyataan
Hendro Wiyanto saat pembukaan, dalam penerimaan seniman residensi ini terdapat
proses seleksi dan membaca biografi dari aplikasi yang masuk. Untuk seorang seniman
agar dapat mengikuti program ini adalah seniman yang tidak terlalu punya sesuatu atau
seniman yang sudah tidak menyusun resume kekaryaannya, yaitu seniman-seniman muda
yang sebetulnya nyaris mencapai sebuah kekhasan bahasa mereka yang mungkin selama
ini tidak cukup mendapatkan perhatian ataupun mendapatkan ruang atau kesempatan
untuk menunjukan bahwa mereka berada dalam sebuah proses. Lalu mereka bersedia
untuk berdiskusi dengan fasilitator dan berkembang. Keberanian untuk memulai sesuatu
yang sangat berbeda dari yang sebelumnya mereka jalani. Batas usia untuk mengikuti
pameran ini adalah 35 tahun dan tidak atau belum pernah mengikuti program residensi
dimanapun.
Menurut Hendro Wiyanto, istilah jawa eling dan waspada melekat pada senimanseniman residensi ini, seniman seniman ini sadar diri dan punya kesadaran untuk merasarasa dan berpikir tetapi yang mereka harus hadapi bukan hanya itu tetapi juga tantangan
atau kewaspadaan yang luar biasa besar dalam melihat realitas global sekarang yang
semakin kompleks. Kewaspadaan untuk melihat keluar dari melihat peristiwa, bendabenda, hubungan antar manusia sampai melihat karya seni orang lain lalu menemukan
medium-medium yang tidak terduga dan ungkapan-ungkapan baru. Seni rupa
kontemporer ini belum menjadi seni kontemporer karena masih dipengaruhi rasa-merasa
yang kuat. Dalam proses residensi ini seniman muda banyak mencoba untuk
memperdalam, melihat ke dalam dan memperluas apa yang sudah dikerjakan dengan

berdiskusi dengan fasilitator. Beberapa dari mereka dianggap berhasil dalam proses dan
beberapa lagi harus ditunggu hasilnya setelah selesai pameran.
Bagi Agung Hujatnikajennong, selaku fasilitator bagi program residensi ini, proses
residensi ini meskipun ada fasilitator, perannya tidak begitu banyak dalam karya tetapi
diskusi dengan seniman. Karya-karya tersebut sepenuhnya hasil kerja seniman tanpa ada
campur tangan fasilitator. Menurutnya, tujuan residensi adalah menumbuhkan suatu
kepekaan baru bagi lingkungan kerja yang baru. Sedangkan dari peserta yang mengikuti
program, hanya satu yang berasal dari Bandung dan sisanya berasal dari luar Bandung.
Setelah pameran dibuka, para apresiator bergantian masuk ke ruang pamer yang terdiri
dari dua ruang. Karya Aliansyah, Fika dan Kara dipamerkan di Ruang B, sedangkan karya
Piko dipamerkan di Ruang Sayap. Saat memasuki Ruang B, apresiator disambut dengan
kuratorial mengenai Transit #3 dan video proses pembuatan karya.
Karya instalasi Aliansyah terdiri dari dua karya yang dinstal di sisi yang berbeda.
Berjudul Seni Kon(tra)septual 1 terdiri dari box spanram yang diikat dengan tali
tambang tebal yang menggantung, sedangkan ujungnya ditumpuk buku-buku teori seni.
Lalu dikelilingi lukisan-lukisan berukuran kecil. Karya Seni Kon(tra)septual 2 adalah
seragam hansip yang terkena cat lalu sejumlah perangkat melukis dari pallete, kuas
sampai cat. Selain kedua karya instalasi tersebut, terdapat video dokumentasi dari proses
berkarya dan wawancara.
Fika melakukan performance art dengan menggunakan kostum yang terbuat dari kacakaca bulat di ruang publik di Bandung. Ia memamerkan kostum yang ia kenakan saat
melakukan performance, performance-nya terekam dalam video dokumentasi berdurasi 7
menit dan foto dari wajah orang-orang yang tertangkap pada kostum kacanya.
Karya Kara merupakan partisi dari kumpulan gambar rute yang ia lakukan saat keluyuran
di Bandung dengan angkot. Karya pertama berupa kumpulan gambar yang membentuk
peta, tetapi ditampilkan dengan enam partisi frame. Karya selanjutnya merupakan
gambar-gambar rute yang disesuaikan dengan agenda. Karya keempat merupakan peta
dengan tracing di atas akrilik dengan waktu tempuh.

Piko memiliki teknis karya paling konvensional dibandingkan ketiga peserta residensi
lainnya yaitu lukisan. Pada saat pembukaan pameran, Piko melakukan live painting di
Ruang Pamernya. Selain itu terdapat 6 lukisan berukuran 200 x 200 x 5 cm dengan judul
yang berbeda-beda dengan menggunakan medium yang sama yaitu akrilik, oil dan
bitumen diatas kanvas. Karya tersebut di display secara berutuan dengan disorot dua
lampu.
Benang merah dari keempat karya seniman tersebut adalah ditunjukannya proses berkarya
secara transparan pada apresiator. Karya-karya keempat seniman tersebut menunjukan
proses dan perkembangan bagaimana sampai mencapai hasil akhir karya seperti itu. Jika
dibandingkan pada karya sebelumnya, keempat seniman tersebut telah mencoba hal yang
baru dalam proses berkaryanya. Banyak yang diantaranya memanfaatkan ruang lingkup
baru yaitu Bandung sebagai bagian dalam karya. Menemukan wawasan, medium, teknik
dan pendekatan berkarya yang baru. Pameran ini berhasil menunjukan bagaimana proses
berkembang seniman selama residensi di Selasar Sunaryo. Tetapi sayang kurangnya
publikasi, membuat pameran ini kurang ramai.