You are on page 1of 16

Latar Belakang

KOROSI pada logam menimbulkan kerugian tidak sedikit. Hasil


riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat
memperkirakan, kerugian akibat korosi yang menyerang
permesinan industri, infrastruktur, sampai perangkat transportasi di
negara adidaya itu mencapai 276 miliar dollar AS. Ini berarti 3,1
persen dari Gross Domestic Product (GDP)-nya. sebenarnya,
negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia paling banyak
menderita kerugian akibat korosi ini. tetapi, tidak ada data yang
jelas di negara-negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap
tahunnya.
Korosi yang dipengaruhi oleh mikroba merupakan suatu inisiasi
atau aktifitas korosi akibat aktifitas mikroba dan proses korosi.
Korosi pertama diindentifikasi hampir 100 jenis dan telah
dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi yang
disebabkan aktifitas mikroba tidak dipandang serius saat degradasi
pemakaian sistem industri modern hingga pertengahan tahun1970an. Ketika pengaruh serangan mikroba semakin tinggi, sebagai
contoh tangki air stainless steel dinding dalam terjadi serangan
korosi lubang yang luas pada permukaan sehingga para
industriawan menyadari serangan tersebut. Sehingga saat itu, korosi
jenis ini merupakan salah satu faktor pertimbangan pada instalasi
pembangkit industri, industri minyak dan gas, proses kimia,
transportasi dan industri kertaspulp. Selama tahun 1980 dan
berlanjut hingga awal tahun 2000, fenomena tesebut dimasukkan
sebagai bahan perhatian dalam biaya operasi dan pemeriksaan
sistem industri. Dari fenomena tersebut, banyak institusi
mempelajari dan memecahkan masalah ini dengan penelitianpenelitian untuk mengurangi bahaya korosi tersebut.
Penulisan ini makalah ini ditujukan sebagai bahan perhatian kembali
kepada pelaku industriawan, dosen dan pendidikan secara khususnya
dan orang- orang yang berkompeten terhadap bidang, kimia, korosi
dan ilmu pengetahuan alam pada umumnya, bagaimana bahayanya
korosi bakteri di lingkungan bebas baik air, udara dan tanah di
sekitar kita.

Mikroba merupakan suatu mikrooranisme yang hidup di lingkungan


secara luas pada habitat-habitatnya dan membentuk koloni yang
pemukaanya kaya dengan air, nutrisi dan kondisi fisik yang
memungkinkan pertumbuhan mikroba terjadi pada rentang suhu
yang panjang biasa ditemukan di sistem air, kandungan nitrogen dan
fosfor sedikit, konsentrat serta nutrisi-nutrisi penunjang lainnya.
Mikroorganisme yang mempengaruhi korosi antara lain bakteri,
jamur, alga dan protozoa. Korosi ini bertanggung jawab terhadap
degradasi material di lingkungan. Pengaruh inisiasi atau laju korosi
di suatu area, mikroorganisme umumnya berhubungan dengan
permukaan korosi kemudian menempel pada permukaan logam
dalam bentuk lapisan tipis atau biodeposit. Lapisan film tipis atau
biofilm. Pembentukan lapisan tipis saat 2 4 jam pencelupan
sehingga membentuk lapisan ini terlihat hanya bintik-bintik
dibandingkan menyeluruh di permukaan.
Lapisan film berupa biodeposit biasanya membentuk diameter
beberapa centimeter di permukaan, namun terekspos sedikit di
permukaan sehingga dapat meyebabkan korosi lokal. Organisme di
dalam lapisan deposit mempunyai efek besar dalam kimia di
lingkungan antara permukaan logam/film atau logam/deposit tanpa
melihat efek dari sifat bulk electrolyte.
Mikroorganisme dikatagorikan berdasarkan kadar oksigen yaitu :
1. Jenis anaerob, berkembang biak pada kondisi tidak adanya
oksigen.
2. Jenis Aerob, berkembang biak pada kondisi kaya oksigen.
3. Jenis anaerob fakultatif, berkembang biak pada dua kondisi.
4. Mikroaerofil, berkembang biak menggunakan sedikit oksigen.
Pengertian Besi dan Korosi
1. Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang
banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang
bermanfaat sampai dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik,
besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26.

Besi
juga mempunyai
nilai
ekonomis
yang
tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam
penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah
dimodifikasi.
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai
berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja.
Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi
baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal
untuk
kebanyakan
penggunaan
besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam
contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.
2. Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks
antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang
menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam
bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang
paling
lazim
adalah
perkaratan
besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan
oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah
berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah
Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian
tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami
oksidasi.
Fe(s)
<-->
Fe2+(aq)
+
2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi
itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi

membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa


oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi
itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak
sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat
pengotor,
atau
perbedaan
rapatan
logam
itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam
karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan
lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah
kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya.
Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam
bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi
dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan
baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan
bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali
menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat
mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi
sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya
lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda
potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila
masih bersih dari oksida.
Reaksi Kimia Korosi Logam
Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab, proses reaksi
redoks yang terjadi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Anoda : { Fe (s)
Fe2+ (aq) + 2 e }
2x
2
+
Katoda : O (g) + 4 H (aq) + 4 e
2 H2O (l)
+
2+
Redoks : 2 Fe (s) + O2 (g) + 4 H (aq)
Fe (aq) + 2 H2O
(l)
Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar
untuk proses korosi ini adalah Eosel = +1,67 V. Reaksi ini terjadi
pada lingkungan asam dengan ion H+ sebagian dapat diperoleh dari
reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H 2CO3. Ion
Fe2+ yang terbentuk di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh
oksigen membentuk besi(III) oksida:
4 Fe2+ (aq) + O2 (g) + (4 + 2x) H2O (l)

2 Fe2O3.x H2O + 8 H+ (aq)

Hidrat besi(III) oksida inilah yang dikenal dengan karat besi. Sirkuit
listrik dipacu oleh migrasi elektron dan ion. Itulah sebabnya korosi
cepat terjadi dalam air garam. Jika proses korosi terjadi dalam
lingkungan basa, maka reaksi katodik yang terjadi adalah:
O2 (g) + 2 H2O (l) + 2 e

4 OH- (aq)

Korosi besi relatif lebih cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab
lapisan senyawa besi(III) oksida yang terjadi bersifat porous
sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi, aluminium
mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif dibandingakn besi,
proses korosi lanjut menjadi terhambat karena hasil oksidasi, Al 2O3,
yang melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi logam
yang dilapisi dari kontak dengan udara luar.
Penyebab korosi dan Pengendalian korosi
1.Penyebab korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan.
Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk
kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran
bahan
dan
sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu,
kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan
sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi)
terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa anorganik
maupun
organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat
mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam
atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik
yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta
persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif.
Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahanbahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang
cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan
tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat
mudah terlepas ke udara.

2. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur
berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja.
Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi
baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses ini terlalu
mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui
bahwa berbagai jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi.
Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini
didasarkan pada dua sifat tersebut.
1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat
menghindarkan kontak besi dengan udara dan air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk
berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak
besi dengan air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak
piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik
mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4. Tin plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan
timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut
electroplating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi
yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada
kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan
timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena
potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena
itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel
elekrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian,
timah mendorong korosi besi. Akan tetapi, hal itu justru yang
diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain
dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal
itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan
perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih

positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan
membentuk sel elekrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan
demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja
juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan
pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil.
Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama
seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun
lapisan kromium itu ada yang rusak.
7. Sacrificial
protection
(pengorbanan
anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih
mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium
dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat
tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja
yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara
periodik, batang magnesium harus diganti.

Proses Terjadinya Korosi


Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan
bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi
ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan
lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu
kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan
demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam
menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan)
logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut
dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi
ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh
korosi logam besi dalam udara lembab, misalnya proses reaksinya
dapat dinyatakan sebagai berikut :
Anode {Fe(s) Fe2(aq)+ 2 e}
x 2
Katode O2(g)+ 4H(aq)+ 4 e 2 H2O(l)
+
Redoks 2 Fe(s) + O2 (g)+ 4 H(aq) 2 Fe2++ 2 H2O(l)

Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar


untuk proses korosi ini, ,yaituE 0sel = + 1,67 V ; reaksi ini terjadi
pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian dapat diperoleh dari
reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air membentuk H2CO3.
Ion Fe+2 yang terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut
oleh oksigen membentuk besi (III) oksida :
4 Fe+2(aq)+ O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) 2 Fe2O3x H2O + 8 H+
(aq)
Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi.
Sirkuit listrik dipacu oleh migrasi elektron dan ion, itulah sebabnya
korosi cepat terjadi dalam air garam.
Jika proses korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi
katodik yang terjadi, yaitu :
O2 (g) + 2 H2O(l)+ 4e 4 OH-(aq)
Oksidasi lanjut ion Fe2+ tidak berlangsung karena lambatnya gerak
ion ini sehingga sulit berhubungan dengan oksigen udara luar,
tambahan pula ion ini segera ditangkap oleh garam kompleks
hexasianoferat (II) membentuk senyawa kompleks stabil biru.
Lingkungan basa tersedia karena kompleks kalium heksasianoferat
(III).
Korosi besi realatif cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab
lapisan senyawa besi (III) oksida yang terjadi bersifat porous
sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi meskipun
alumunium mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif
ketimbang besi, namun proses korosi lanjut menjadi
terhambatkarena hasil oksidasi Al2O3, yang melapisinya tidak
bersifat porous sehingga melindungi logam yang dilapisi dari
kontak dengan udara luar.
Dampak dari korosi
Karatan adalah logam yang mengalami kerusakan berbentuk
keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam
kecoklatan pada baja disebut Karat. Secara teoritis karat adalah
istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam saja yaitu baja,
sedangkan secara umum istilah karat lebih tepat disebut korosi.
Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam
dan paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan
lingkungannya. Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia
yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh

karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali.
Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga
memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek
elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron
dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang
memberikan elektron dan lingkungannya sebagai penerima elektron.
Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah
reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya
menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut.
Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari
lingkungan mendekati logam dan menangkap elektro-elektron yang
tertinggal pada logam. Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh
luar biasa.
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung
dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa
terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau stuktur
bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya
aktifitas produksi karena terjadinya penggantian peralatan yang
rusak akibat korosi, kehilangan produk akibat adanya kerusakan
pada kontainer, tangki bahan bakar atau jaringan pipa air bersih atau
minyak mentah, terakumulasinya produk korosi pada alat penukar
panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi
perpindahan panas, dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi
lingkungannya, korosi dapat diklasifikasikan sebagai korosi basah
yaitu korosi yang terjadi dilingkungan air, korosi atmosferik yang
terjadi di udara terbuka dan korosi temperatur tinggi yaitu korosi
yang terjadi dilingkungan bertemperatur diatas 500oC.
Bentuk-Bentuk Korosi
Bentuk-bentuk korosi dapat berupa korosi merata, korosi galvanik,
korosi sumuran, korosi celah, korosi retak tegang (stress corrosion
cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi
akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen), korosi
intergranular, selective leaching, dan korosi erosi.
1. Korosi merata adalah korosi yang terjadi secara serentak
diseluruh permukaan logam, oleh karena itu pada logam yang
mengalami korosi merata akan terjadi pengurangan dimensi yang
relatif besar per satuan waktu. Kerugian langsung akibat korosi

merata berupa kehilangan material konstruksi, keselamatan kerja


dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk
senyawa yang mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak
langsung, antara lain berupa penurunan kapasitas dan peningkatan
biaya perawatan (preventive maintenance).
2. Korosi galvanik terjadi apabila dua logam yang tidak sama
dihubungkan dan berada di lingkungan korosif. Salah satu dari
logam tersebut akan mengalami korosi, sementara logam lainnya
akan terlindung dari serangan korosi. Logam yang mengalami
korosi adalah logam yang memiliki potensial yang lebih rendah dan
logam yang tidak mengalami korosi adalah logam yang memiliki
potensial lebih tinggi.
3. Korosi sumuran adalah korosi lokal yang terjadi pada permukaan
yang terbuka akibat pecahnya lapisan pasif. Terjadinya korosi
sumuran ini diawali dengan pembentukan lapisan pasif
dipermukaannya, pada antarmuka lapisan pasif dan elektrolit terjadi
penurunan pH, sehingga terjadi pelarutan lapisan pasif secara
perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah sehingga
terjadi korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena
lokasi terjadinya sangat kecil tetapi dalam, sehingga dapat
menyebabkan peralatan atau struktur patah mendadak.
4. Korosi celah adalah korosi lokal yang terjadi pada celah diantara
dua komponen. Mekanisme terjadinya korosi celah ini diawali
dengan terjadi korosi merata diluar dan didalam celah, sehingga
terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen. Pada suatu saat oksigen
(O2) di dalam celah habis, sedangkan oksigen (O2) diluar celah
masih banyak, akibatnya permukaan logam yang berhubungan
dengan bagian luar menjadi katoda dan permukaan logam yang
didalam celah menjadi anoda sehingga terbentuk celah yang
terkorosi.
5. Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik
(corrosionfatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen
(corrosion inducedhydrogen) adalah bentuk korosi dimana material
mengalami keretakan akibatpengaruh lingkungannya. Korosi retak
tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik
statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan
terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan
amonia dan baja karbon rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk

terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif. Sedangkan


korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya
difusi hidrogen kedalam kisi paduan.
6. Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada
paduan logam akibat terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di
batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik
apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 815oC
karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir. Dengan
kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut
akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat
tersebut.
7. Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam
karena pelarutan salah satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti
yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme
terjadinya korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan
total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang
potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang
potensialnya lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi
keropos pada logam paduan tersebut. Contoh lain selective leaching
terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa
pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan
menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga
dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa.
Masalah-masalah di lapangan
Banyak sekali di dunia industri dan fasilitas umum terjadi proses
korosi disebabkan oleh fenomena biokorosi akibat adanya bakteri.
Kasus-kasus tersebut yaitu :
1. Pipa-pipa bawah tanah di Industri minyak dan gas bumi
Dalam suatu contoh kasus dari perusahaan Korea Gas Corporation
(KOGAS) menggunakan pipa-pipa gas yang dilapis denganpolyethy
lene (APL 5L X-65). Selama instalasi, pipa dilas tiap 12 meter dan
diproteksi denganim pr es s ed current proteksi katodik dengan
potensial proteksi 850 mV (vs saturated Cu/CuSO4). Kemudian
beberapa tahun dicek kondisi lapis lindung maupun korosi aktif
menggunakan pengujian potensial gardien5, hasilnya berupa letakletak coating defect di sepanjang pipa. Kegagalan selanjutnya yaitu

adanya disbonded coating area di permukaan pipa yang disebabkan


adanya arus proteksi katodik yang berlebihan terekspos. Coating
defect dan daerah disbonded coating sangat baik untuk
perkembangan mikroba anaerob. Pada disbonded coating area
terjadi korosi local (pitting), lubang pit berbentuk hemisspherikal
dalam tiap-tiap kelompok.
Kedalaman pit 5-7 mm (0,22 0,47 mm/year)4, bentuk pit ini
menindikasikan karakter bakteri reduksi sulfat terlihat pada Gambar
di bawah ini:
Lubang korosi 1. Kerusakan pada pipa akibat korosi (karat) secara
mikrobiologis
2. Peralatan sistem pemyemprot pemadam kebakaran.
Di kota Kalifornia Amerika serikat, departemen pemadam
kebakaran mengalami masalah cukup sulit dimana debit air alat
system penyemprot turun walau tekanan cukup besar, setelah
diselidiki maka di dalam alat penyemprot terjadi suatu korosi yang
disebabkan oleh aktifitas mikroba dipermukaan dinding bagian
dalam yang terbuat dari baja karbon dan tembaga saat beberapa
bulan pembelian.
Hal ini disebabkan adanya biodeposit (turbucle) yang tumbuh di di
dinding bagian dalam, kemudian di dalam biodeposit tersebut
terjadi aktifitas degradasi lokal berupa korosi pitting sehingga
mengurangi tebal pipa dan aktifitas ini menghasilkan senyawa H2S
di lubang pit yang mengakibatkan keadaan asam dan mempercepat
kelarutan logam

Korosi dan Cara Pencegahannya


Korosi atau perkaratan sangat lazim terjadi pada besi. Besi
merupakan logam yang mudah berkarat. Karat besi merupakan zat
yang dihasilkan pada peristiwa korosi, yaitu berupa zat padat
berwarna coklat kemerahan yang bersifat rapuh serta berpori.
Rumus kimia dari karat besi adalah Fe 2O3.xH2O. Bila dibiarkan,
lama kelamaan besi akan habis menjadi karat.
Dampak dari peristiwa korosi bersifat sangat merugikan. Contoh
nyata adalah keroposnya jembatan, bodi mobil, ataupun berbagai
konstruksi dari besi lainnya.Siapa di antara kita tidak kecewa bila

bodi mobil kesayangannya tahu-tahu sudah keropos karena korosi.


Pasti tidak ada. Karena itu, sangat penting bila kita sedikit tahu
tentang apa korosi itu, sehingga bisa diambil langkah-langkah
antisipasi.
Peristiwa korosi sendiri merupakan proses elektrokimia, yaitu
proses (perubahan / reaksi kimia) yang melibatkan adanya aliran
listrik. Bagian tertentu dari besi berlaku sebagai kutub negatif
(elektroda negatif, anoda), sementara bagian yang lain sebagai
kutub positif (elektroda positif, katoda). Elektron mengalir dari
anoda ke katoda, sehingga terjadilah peristiwa korosi
Ion besi (II)yang terbentuk pada anoda selanjutnya teroksidasi
menjadi ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida
terhidrasi (karat besi), Fe2O3.xH2O.
Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan adanya gas oksigen
dan air. Karena itu, besi yang disimpan dalam udara yang kering
akan lebih awet bila dibandingkan ditempat yang lembab. Korosi
pada besi ternyata dipercepat oleh beberapa faktor, seperti tingkat
keasaman, kontak dengan elektrolit, kontak dengan pengotor,
kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah,
tembaga), serta keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan atau kasar
halusnya permukaan).
Pencegahan korosi
Pencegahan korosi didasarkan pada dua prinsip berikut :
1.
Mencegah kontak dengan oksigen dan/atau air
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Bila salah satu tidak ada,
maka peristiwa korosi tidak dapat terjadi. Korosi dapat dicegah
dengan melapisi besi dengan cat, oli, logam lain yang tahan korosi
(logam yang lebih aktif seperti seg dan krom). Penggunaan logam
lain yang kurang aktif (timah dan tembaga) sebagai pelapis pada
kaleng bertujuan agar kaleng cepat hancur di tanah. Timah atau
tembaga bersifat mampercepat proses korosi.
2.
Perlindungan katoda (pengorbanan anoda)
Besi yang dilapisi atau dihubugkan dengan logam lain yang lebih
aktif akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katoda.
Di sini, besi berfungsi hanya sebagai tempat terjadinya reduksi
oksigen. Logam lain berperan sebagai anoda, dan mengalami reaksi
oksidasi. Dalam hal ini besi, sebagai katoda, terlindungi oleh logam

lain (sebagai anoda, dikorbankan). Besi akan aman terlindungi


selama logam pelindungnya masih ada / belum habis. Untuk
perlindungan katoda pada sistem jaringan pipa bawah tanah lazim
digunakan logam magnesium, Mg. Logam ini secara berkala harus
dikontrol dan diganti.
3.
Membuat alloy atau paduan logam yang bersifat tahan
karat, misalnya besi dicampur dengan logam Ni dan Cr menjadi
baja stainless (72% Fe, 19%Cr, 9%Ni).

DAFTAR PUSTAKA
Suroso, Asih, dkk.2011. Kimia untuk SMA/MA Kelas XII Semester 1.
Aspirasi
Purba, Michael. 2007. KIMIA untuk Kelas XII. Jakarta : Erlangga

Sagala, Polmer P. 2011. Jago KIMIA SMA Kelas 1, 2, 3. Jakarta : Kawan


Pustaka

KOROSI PADA BESI

Nama
Nim
Fakultas
Jurusan
MK

: Puput Eka Rachmadani


: 201312023
: Teknik
: Sipil
: Kimia Teknik

UNIVERSITAS KALTARA TANJUNG SELOR


FAKULTAS TEKNIK
KABUPATEN BULUNGAN
2014