You are on page 1of 25

2KA14

RESEARCH
OPERATIONAL
Penerapan
Masalah
Transportasi

DISUSUN OLEH :

HERAWATI 10108959
JAKA HUSEN 11108055
HAPPY GEMELI QUANUARI 10108910
INDRA MOCHAMMAD YUSUF 11108020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Riset Operasi


Dasar pertimbangan dari berbagai definisi dilatar belakangi oleh ahli Riset Operasi dari
berbagai disiplin ilmu seperti teknik, matematika , dan lain – lain. Operational Research Society
of Great Britain mendefinisikan Riset Operasi adalah aplikasi metode ilmiah dalam masalah
yang kompleks dan system manajemen yang besar atas manusia, mesin, material ,dan dana dalam
industri, bisnis, pemerintah dan militer. Research Society of America mendefinisikan Riset
Operasi adalah berkenaan dengan pengambilan keputusan secara ilmiah, bagaimana membuat
model terbaik dan membutuhkan alokasi sumber daya yang terbatas .
Secara lebih umum Riset Operasi dapat didefinisikan sebagai model kwantitatif yaitu
metoda untuk memformulasikan dan merumuskan kedalam model matematika untuk
mendapatkan solusi yang optimal yang digunakan dalam pengambilan keputusan dalam
permasalahan sehari-hari baik mengenai bisnis, ekonomi , social maupun bidang lainnya.

1.2. Latar Belakang Sejarah Riset Operasi


Selama perang dunia II Riset Operasi benar-benar tidak dapat dipungkiri keefektifannya sebagai
metoda penyelesaian masalah. Kegiatan Operasional Research di Inggris dan Amerika secara
terus menerus . Dalam bidang nonmiliter terutama kelompok industri, sehingga aktifitas
operasonal research tidak hanya mengenai aktifitas ilmu tetapi menyangkut berbagai macam
disiplin dan bisnis.

1.3 Komputer dan Riset Operasi


Penggunaan komputer dalam Riset operasi secara terus menerus mengalami peningkatan
terutama dalam menghadapi persaingan lingkungan internasional dan masalah produktifitas.
Tanpa bantuan komputer adalah menjadi sangat sulit untuk menyelesaikan masalah yang cukup
besar.
1.3. Model Matemática dan Pengambilan Keputusan.

2 of 25
Pengambilan keputusan adalah merupakan tanggung jawab manajemen . Adapun
langkah-langkah berikut merupakan tahapan-tahapan dalam proses pengambilan
keputusan oleh seorang manager .

Mengidentifikasi Masalah

Mengidentifikasi Parameter Masalah


● Menentukan variable keputusan
● Menentukan tujuan (objective)
● Menentukan Kendala (Constraints)

Mencari Alternatif keputusan yang terbaik.

Melaksanakan keputusan

3 of 25
BAB II
METODE TRANSPORTASI

Dilihat dari namanya , Metode Transportasi merupakan suatu metode yang digunakan
untuk mengatur distribuís dari sumber – sumber yang menyediakan produk yang sama
(komoditas tunggal ) ke berbagai daerah tujuan secara optimal dengan biaya yang termurah.
Tiga hal penting yang harus diingat dari penjelasan di atas , yaitu Komoditas tunggal, daerah
sumber (asal) lebih dari satu dan daerah tujuan juga lebih dari satu.
Meskipun demikian , metode transportasi tidak hanya berguna untuk optimisasi
pengangkutan komoditas (barang) dari daerah sumber menuju daerah tujuan. Metode transportasi
juga dapat digunakan untuk perencanaan produksi. Data yang dibutuhkan dalam metode
transportasi adalah :
1. Level suplai pada setiap daerah sumber dan level permintaan pada setiap daerah
tujuan untuk kasus pendistribusian barang; jumlah produksi dan jumlah permintaan
(kapasitas inventori) pada kasus perencanaan produksi.
2. Biaya transportasi per unit komoditas dari setiap daerah sumber menuju berbagai
daerah tujuan pada kasus pendistribusian; biaya produksi dan inventori per unit pada
kasus perencanaan produksi.
Karena hanya ada satu jenis komoditas, pada dasarnya setiap daerah tujuan dapat menerima
komoditas dari sembarang daerah sumber, kecuali ada kendala lainnya. Kendala yang munkin
terjadi adalah tidaj adanya jarungan transportasi dari statu sumber menuju satu tujuan; waktu
pengangkutan yang lebih lama dibandingkan masa berlaku komoditas. Kita dapat
menggambarkan jeringan pengangkutan pada metode transportasi seperti gambar berikut

4 of 25
● ai ( i=1,2,3,...,m) menunjukkan suplai pada sumber ke-i.
● bj ( j=1,2,3,...,n) menunjukkan permintaan pada tujuan ke-j.
● cij menunjukkan biaya transportasi per unit dari sumber ke-i menuju tujuan-j.
● Xij menunjukkan jumlah yang diangkut/dialokasikan dari sumber i menuju tujuan j.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, metode transportasi tidak hanya digunakan dalam
pendistribusian barang (komoditas). Metode transportasi juga dapat digunakan untuk
mengoptimalkan sistem produksi. Persamaan elemen antara sistem transportasi dengan
sistem produksi ditunjukkan dalam tabel di bawah ini :
Sistem Transportasi Sistem Produksi
1. Sumber i 1. Periode produksi i
2. Tujuan j 2. Periode permintaan j
3. Suplai pada sumber i 3. Kapasitas produksi periode i
4. Permintaan pada tujuan j 4. Permintaan periode j
5. Biaya transportasi per unit dari 5. Biaya produksi dan inventori per unit dari
sumber i ke tujuan j periode i ke j

5 of 25
METODE-METODE PENENTUAN SOLUSI
Penentuan solusi awal dapat dilakukan dengan memilih salah satu dari metode berikut :
Solusi awal layak dilihat dari jumlah sel yang teralokasi. Solusi layak jika jumlah sel yang terisi
sebanyak m + n -1 (m menunjukkan jumlah sumber dan n adalah jumlah tujuan).
PT. XYZ mempunyai 3 pabrik yang berlokasi di 3 kota berbeda dan memproduksi minuman
ringan yang dibotolkan. Produk dari ketiga pabrik didistribusikan ke 5 gudang yang terletak di
lima kota daerah distribusi. Biaya pengangkutan per krat minuman (ratus rupiah), jumlah suplai
pada masing-masing pabrik (dalam ribu krat) dan daya tampung pada masing-masing gudang
(dalam ribu krat) setiap hari ditunjukkan
Tabel awal dapat dibuat dengan 2 metode, yaitu :
1. Metode North West Corner (NWC)  dari pojok kiri atas ke pojok kanan bawah
Kelemahan : tidak memperhitungkan besarnya biaya sehingga kurang efisien .
2. Metode biaya terkecil mencari dan memenuhi yang biayanya terkecil dulu.
Lebih efisien dibanding metode NWC.

Setelah tabel awal dibuat , tabel dapat dioptimalkan lagi dengan metode :
1. Stepping stone ( Batu Loncatan )
2. Modified Distribution Method (MODI)
Selain metode-metode di atas masih ada satu metode yang lebih sederhana penggunaannya yaitu
metode vogel’s Approximation Methode (VAM).
Solusi awal layak dilihat dari jumlah sel yang teralokasi. Solusi layak jika jumlah sel yang terisi
sebanyak m + n -1 (m menunjukkan jumlah sumber dan n adalah jumlah tujuan).

CONTOH MASALAH TRANSPORTASI


PT. XYZ mempunyai 3 pabrik yang berlokasi di 3 kota berbeda dan memproduksi
minuman ringan yang dibotolkan. Produk dari ketiga pabrik didistribusikan ke 5 gudang yang
terletak di lima kota daerah distribusi. Biaya pengangkutan per krat minuman (ratus rupiah),
jumlah suplai pada masing-masing pabrik (dalam ribu krat) dan daya tampung pada masing-
masing gudang (dalam ribu krat) setiap hari ditunjukkan dalam tabel di bawah ini :

6 of 25
Biaya distribusi per unit dan kapasitas sumber dan tujuan.

Biaya distribusi per unit dan kapasitas sumber dan tujuan.

Tabel Transportasi:

Penyelesaian Dengan Menggunakan Metode NWC ( North West Corner )


Solusi Awal menggunakan metode NWC ditentukan dengan mengisi sel kosong yang
masíh dapat diisi dan terletak paling kiri atas . Jumlah yang dialokasikan pada sel kosong tesebut
(Xij) tidak boleh melebihi jumlah suplai pada sumber i dan jumlah permintaan pada tujuan j.

Iterasi 1

7 of 25
Iterasi 2

Iterasi 3

Iterasi 4

Iterasi 5

8 of 25
Solusi awal dengan metode NWC adalah :

GUDANG
1 2 3 4 5 Suplai
P 2 5 6 3 5
A 500
A 300 200
B
B 6 10 3 3 7 300
R 200 100
I
C 11 5 6 6 4 600
K 100 300 200
kapasitas 300 400 200 300 200

Layak tidaknya solusi awal dipenuhi jira jumlah sel baris sel basis (sel yang terisi sama)
dengan 3+5-1=7. Jumlah sel basis pada soludi awal dengan metode NWC di tas adalah 7,
dengan demikian solusi awal yang diperoleh sudah layak. Alokasi barang dilihat dari solusi
awal dengan metode NWC adalah di atas adalah :
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 1 adalah 300000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 2 adalah 200000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 2 adalah 200000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 3 adalah 100000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 3 adalah 100000 krat per hari .
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 4 adalah 300000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 5 adalah 200000 krat per hari .

9 of 25
o Total biaya pengangkutan minutan ringan per hari adalah (600 + 1000 + 2000
+300+600+1800+800)x 100 000 = 710.000.000,00 rupiah.

Penyelesaian Dengan Menggunakan Metode Biaya Terkecil

Solusi awal menggunakan metode biaya terkecil ditentukan dengan sel kosong yang
masih dapat diisi dengan biaya paling kecil. Jumlah yang dialokasikan pada sel kosong
tersebut (Xij) todak boleh melebihi jumlah suplai pada sumber i dan jumlah permintaan
pada tujuan j .

Iterasi 1

Iterasi 2

Iterasi 3

10 of 25
Iterasi 4

Iterasi 5

Solusi awal dengan metode biaya terkecil oleh karenanya adalah:

11 of 25
Jumlah sel basis pada solusi awal di atas sama dengan 7, dengan demikian solusi awal yang
diperoleh sudah layak. Alokasi barang dilihat dari solusi awal dengan metode biaya terkecil di
atas adalah:
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 1 adalah 300.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 4 adalah 200.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 3 adalah 200.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 4 adalah 100.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 2 adalah 400.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 5 adalah 200.000 krat per hari.
o Total biaya pengangkutan minuman ringan per hari adalah
(600+600+600+300+2000+800) x 100.000= 490.000.000,00 rupiah.

Solusi awal ini lebih baik dibandingkan dengan solusi awal menggunakan
metode NWC.

Penyelesaian Masalah menggunakan Metode Pendekatan Vogel (Vogel’s Approximation


Method)
Solusi awal menggunakan metode pendekatan Vogel ditentukan dengan mengikuti langkah
berikut:
1. Tentukan selisih biaya terkecil dengan biaya di atasnya pada setiap baris dan kolom.
2. Cari selisih terbesar, dan alokasikan pada sel dengan biaya terkecil tersebut sesuai dengan
jumlah suplai sumber dan jumlah permintaan tujuan yang bersesuaian.
3. Ulangi langkah 1 dan 2 sampai solusi awal layak sudha

12 of 25
Iterasi 1

Iterasi 2

Iterasi 3

13 of 25
Iterasi 4

Iterasi 5

Iterasi 6

14 of 25
Solusi awal dengan metode pendekatan Vogel oleh karenanya adalah:

Jumlah sel basis yang diperoleh sama dengan 7, dengan demikian solusi awal yang diperoleh
sudah layak. Alokasi barang dilihat dari solusi awal dengan metode pendekatan Vogel di atas
adalah :
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 1 adalah 300.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 4 adalah 200.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 3 adalah 200.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 4 adalah 100.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 2 adalah 400.000 krat per hari.
o Jumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 5 adalah 200.000 krat per hari.
o Total biaya pengangkutan minuman ringan per hari adalah
(600+600+600+300+2000+800) x 100.000 = 490.000.000,00 rupiah.
Total biaya yang diperoleh menggunakan metode pendekatan Vogel sama dengan metode
terkecil. Kedua metode ini lebih baik dalam menghasilkan solusi awal dibandingkan dengan
metode NWC. Untuk kasus yang lebih kompleks , metode pendekatan Vogel lebih baik.

15 of 25
dibandingkan dengan metode biaya terkecil. Metode pendekatan Vogel untuk kasus tertentu
menghasilkan solusi optimal.

PENENTUAN SOLUSI OPTIMAL


Seperti sudah disebutkan diatas , ada dua metode yang dapat kita gunakan untuk
menentukan solusi optimal, yaitu metode stepping stone dan Modified Distribution (MoDi).
Kedua metode digunakan untuk menentukan sel masuk. Prinsip perhitungan kedua metode dalam
menentukan sel masuk adalah sama. Perbedaannya, metode MoDi didasarkan pada hubungan
primal-dual metode simpleks, sedangkan metode stepping stone tidak menunjukkan hubungan
sama sekali dengan metode simpleks. Metode yang akan digunakan dalam makalah ini adalah
MoDi.

Metodi Modifikasi Distribusi ( Modified Distribution – MoDi )

16 of 25
Terhadap: x + x + …+ x = a u
11 12 1n 1 1

x + x + …+ x = a u
21 22 2n 2 2

....
........
x +x + …+ x =a u
m1 m2 mn m m

x + x + …+ x =b v
11 21 m1 1 1

x + x + …+ x =b v
12 22 m2 2 2

....
........
x + x + …+ x =b v
1n 2n mn n n

Dual
Maksimumkan w = a u + a u + …+ a u + b v + b v + …+ b v
1 1 2 2 m m 1 1 2 2 n n

Terhadap : u + v ≤ c
1 1 11

u +v ≤c
1 2 12

.
..

17 of 25
u +v ≤c
2 1 21

u +v ≤c
2 2 22

.
..
u +v ≤c
m n mn

u , u …,u , v , v , …,v tidak terbatas.


1 2 m 1 2 n

Solusi optimal tercapai jika untuk:


• Maksimisasi, u + v – c ≥ 0
i j ij

• Minimisasi, u + v – c ≤ 0
i j ij

Langkah-langkah Penyelesaian:
1. Penentuan sel masuk.
• Untuk setiap sel basis, hitung u + v = c . u menunjukkan baris ke-i, v menunjukkan
i j ij i j

kolom ke-j dan c adalah biaya pada sel ij (baris i kolom j); karena jumlah variabel
ij

yang tidak diketahui (u dan v ) lebih banyak dibandingkan jumlah persamaan yang
i j

dibentuk, maka salah satu variabel diasumsikan bernilai 0.


• Untuk setiap sel non basis, hitung c = u + v - c .
pq i j ij

• Untuk maksimisasi, sel masuk adalah sel dengan nilai c paling negatif; sedangkan
pq

untuk minimisasi, sel masuk adalah sel dengan nilai c paling positif.
pq

2. Penentuan sel keluar. Penentuan sel keluar dilakukan menggunakan loop tertutup.
Awal dan akhir loop adalah sel masuk. Garis-garis horizontal ataupun vertikal yang
membentuk loop harus berakhir (ujung awal ataupun akhir garis) pada sel basis,
kecuali awal dan akhir loop pada sel masuk.

3. Periksa apakah sudah optimal. Syarat optimal dipenuhi jika c tidak ada yang
pq

bernilai negatif (≥ 0) untuk maksimisasi dan tidak ada yang bernilai positif (≤ 0 )
untuk minimisasi.

18 of 25
Kita gunakan solusi awal yang diperoleh menggunakan metode NWC sebelumnya.
Solusi awalnya adalah sebagai berikut :
GUDANG
1 2 3 4 5 Suplai
P 2 5 6 3 5
A 500
A 300 200
B
B 6 10 3 3 7 300
R 200 100
I
C 11 5 6 6 4 600
K 100 300 200
kapasitas 300 400 200 300 200

Iterasi-1
Sel basis adalah sel 11, 12, 22, 23, 33, 34, 35, sel non basis adalah 13, 14, 15, 21, 24, 25, 31, 32.
1. Penentuan sel masuk
1. Untuk setiap sel basis:
u + v = 2 u + v = 5 u + v = 10
1 1 1 2 2 2

u +v =3u +v =6u +v =6
2 3 3 3 3 4

u +v =4
3 5

Misalkan u = 0, maka v = 2; v = 5; u = 5; v = -2; u = 8; v = -2; v = -4


1 1 2 2 3 3 4 5

2. Untuk setiap sel non basis:


c = u + v - c = 0 - 2 – 6 = -8
13 1 3 13

c = u + v - c = 0 -2 – 3 = -5
14 1 4 14

c = u + v - c = 0 – 4 – 5 = -9
15 1 5 15

c = u + v – c = 5 +2 – 1
21 2 1 21

c = u + v – c = 5 - 2 - 3= 0
24 2 4 24

c = u + v – c = 5 – 4 – 7 = -6
25 2 5 25

19 of 25
c = u + v – c = 8 + 2 – 11 = -1
31 3 1 31

c = u + v – c = 8 + 5- 8
32 3 2 32

Karena masih ada dua sel non basis yang bernilai positif dan tujuan dari optimasi ini
adalah minimisasi biaya, maka tabel belum optimal. Sel masuk adalah sel dengan nilai
positif terbesar, dalam hal adalah sel 32, artinya dengan mengisi sel 32, biaya transportasi
dapat berkurang.
2. Penentuan sel keluar
Sel keluar ditentukan menggunakan loop tertutup. Loop harus berawal dan berakhir pada
sel 32. Hanya ada satu alternatif loop yang dapat kita bentuk. Loop terbentuk pada sel 32,
33, 23 dan 22. Karena sel 32 akan diisi, maka sel 33 dan 22 akan berkurang dan sel 32 dan
23 akan bertambah. Jumlah yang diperpindahkan sama dengan alokasi terkecil yang ada
dalam sel loop.

20 of 25
Alokasi pada iterasi pertama adalah:
o Dari pabrik A ke gudang 1 sebesar 300 unit, biaya 60.000.000
o Dari pabrik A menuju gudang 2 sebesar 200 unit, biaya 100.000.000
o Dari pabrik B menuju gudang 2 sebesar 100 unit, biaya 100.000.000,00
o Dari pabrik B menuju gudang 3 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 2 sebesar 100 unit, biaya 100.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 4 sebesar 300 unit, biaya 180.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 5 sebesar 200 unit, biaya 80.000.000,00
o Total biaya = Rp. 680.000.000,00

Iterasi-2:
1. Penentuan sel masuk

• Sel basis adalah sel 11, 12, 22, 23, 32, 34 dan 35.
u +v =2 u +v =5 u + v = 10
1 1 1 2 2 2
u +v =3 u +v =5 u +v =6
2 3 3 2 3 4
u +v =4
3 5
Misalkan u = 0, maka v = 2; v = 5; u = 5; v = -2; u = 0; v = 6; v = 4
1 1 2 2 3 3 4 5
• Sel non basis adalah sel 13, 14, 15, 21, 24, 25, 31 dan 33.
u +v –c =0–2–6=-8 u +v –c =0+6–3=3
1 3 13 1 4 14

u +v –c = 0 + 4 – 5 = -1 u +v –c =5+2–6=1
1 5 15 2 1 21

u +v –c =5+6–3=8 u +v –c =5+4–7=2
2 4 24 2 5 25

u +v –c = 0 + 2 – 11 = -9 u +v –c = 0 – 2 – 6 = -8
3 1 31 3 3 33

2. Penentuan sel keluar .

21 of 25
o Dari pabrik A menuju gudang 1 sebesar 300 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik A menuju gudang 2 sebesar 200 unit, biaya 100.000.000,00
o Dari pabrik B menuju gudang 3 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik B menuju gudang 4 sebesar 100 unit, biaya 30.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 2 sebesar 200 unit, biaya 100.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 4 sebesar 200 unit, biaya 120.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 5 sebesar 200 unit, biaya 80.000.000,00
o Total biaya = Rp. 550.000.000,00

Iterasi-3:
1. Penentuan sel masuk
• Sel basis adalah sel 11, 12, 23, 24, 32, 34 dan 35.
u +v =2 u +v =5 u +v =3
1 1 1 2 2 3

u +v =3 u +v =5 u +v =6
2 4 3 2 3 4

u +v =4
3 5

Misalkan u = 0, maka v = 2; v = 5; u = -3; v = 6; u = 0; v = 6; v = 4


1 1 2 2 3 3 4 5

• Sel non basis adalah sel 13, 14, 15, 21, 22, 25, 31 dan 33.
u +v –c = 0 – 6 – 6 = - 12 u +v –c =0+6–3=3
1 3 13 1 4 14

u +v –c = 0 + 4 – 5 = -1 u +v –c = -3 + 2 – 6 = -7
1 5 15 2 1 21

u +v –c = -3 + 5 – 10 = -8 u +v –c = -3 + 4 – 7 = -6
2 2 22 2 5 25

u +v –c = 0 + 2 – 11 = -9 u +v –c = 0 – 6 – 6 = -12
3 1 31 3 3 33

22 of 25
2. Penentuan Skalar

o Dari pabrik A menuju gudang 1 sebesar 300 unit, biaya 60.000.000,00

o Dari pabrik A menuju gudang 4 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00

o Dari pabrik B menuju gudang 3 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00

o Dari pabrik B menuju gudang 4 sebesar 100 unit, biaya 30.000.000,00

o Dari pabrik C menuju gudang 2 sebesar 400 unit, biaya 200.000.000,00

o Dari pabrik C menuju gudang 5 sebesar 200 unit, biaya 80.000.000,00

o Total biaya = Rp. 490.000.000,00

Iterasi-4:
3. Penentuan sel masuk

• Sel basis adalah sel 11, 12, 14, 23, 24, 32 dan 35.
u +v =2 u +v =5 u +v =3
1 1 1 2 1 4

23 of 25
u +v =3 u +v =3 u +v =5
2 3 2 4 3 2
u3 + v 5 = 4

Misalkan u = 0, maka v = 2; v = 5; u = 0; v = 3; u = 0; v = 3; v = 4
1 1 2 2 3 3 4 5

• Sel non basis adalah sel 13, 15, 21, 22, 25, 31, 33 dan 34.
u +v –c =0+3–6=-3 u +v –c =0+4–5=-1
1 3 13 1 5 15

u +v –c = 0 + 2 – 6 = -4 u +v –c = 0 + 5 – 10 = - 5
2 1 21 2 2 22

u +v –c = 0 + 4 – 7 = -3 u +v –c = 0 + 2 – 11 = -9
2 5 25 3 1 31

u +v –c = 0 + 3 – 6 = -3 u +v –c = 0 + 4 – 6 = -2
3 3 33 3 4 34

Karena semua nilai sudah negatif, maka tabel sudah optimal. Solusi optimalnya dengan demikian
sama dengan solusi yang dihasilkan pada iterasi-3, yaitu:
o Dari pabrik A menuju gudang 1 sebesar 300 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik A menuju gudang 4 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik B menuju gudang 3 sebesar 200 unit, biaya 60.000.000,00
o Dari pabrik B menuju gudang 4 sebesar 100 unit, biaya 30.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 2 sebesar 400 unit, biaya 200.000.000,00
o Dari pabrik C menuju gudang 5 sebesar 200 unit, biaya 80.000.000,00
o Total biaya = Rp. 490.000.000,00
Kalau anda perhatikan kembali solusi awal yang dihasilkan menggunakan metode biaya
terkecil dan pendekatan Vogel, solusi optimal ini sama dengan solusi awal yang dihasilkan
dengan kedua metode tersebut. Inilah kelebihan dari kedua metode tersebut, bahkan metode
pendekatan Vogel dapat menghasilkan solusi awal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan
metode biaya terkecil untuk kasus yang lebih kompleks.

24 of 25
BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian tentang riset operasional dalam implementasinya pada masalah transportasi
tersebut di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kita dapat melakukan pendekatan
secara metode ilmiah untuk memecahkan suatu masalah transportasi yang dimulai dengan
melakukan observasi dan formulasi masalah, kemudian dilanjutkan dengan membuat
permodelan-permodelan matematis yang merefleksikan esensi dari keadaan sebenarnya yang
kemudian dianalisis. Kemudian dicari solusi yang optimal berdasarkan model yang dibuat dan
dilakukan penerapan solusi yang diperoleh untuk memecahkan masalah.
Dari berbagai Metode dalam pemecahan masalah transportasi tersebut di atas kita dapat
membandingkan metode mana yang paling tepat yang akan kita implementasikan dalam mencari
solusi optimal, yang kemudian akan digunakan untuk keperluan suatu penganbilan keputusan.
Makalah ini dibuat agar mahasiswa dapat memahami disiplin ilmu seperti teknik,
matematika dan lain – lainnya sehingga dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari –
harinya untuk mendapatkan solusi optimal yang digunakan dalam pengambilan keputusan, tidak
hanya dalam masalah transportasi tetapi juga dapat diimplementasikan di bidang-bidang lain
seperti bisnis, ekonomi , social, manufacturing maupun bidang lainnya. Karena sebagaimana
kita ketahui menghadapi persaingan lingkungan internasional dan masalah produktifitas
merupakan masalah yang cukup kritikal untuk diselesaikan dengan cara sistematik, dan
terstruktur melalui pendekatan ilmiah dengan metode – metode pemecahan masalah yang dapat
dijabarkan dalam beberapa iterasi.

Sumber : http:// elearning .gunadarma.ac.id

25 of 25