You are on page 1of 4

Al Qur an Konstitusi Umat Islam

Segala puji hanya milik Allah, yaitu Dzat yang


telah membuka pintu gerbang surga untuk hamba-hamba-Nya yang berpuasa
karena dorongan keimanan dan hanya berharap ridho-Nya. Shalawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, yang diutus
untuk membawa dan menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia; dan
shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan juga kepada para keluarga dan
sahabatnya yang baik dan suci; serta siapa saja yang dengan setia mengikutinya,
menempuh jalannya, mengikuti petunjuknya, menjalankan sunnahnya, dan
melanjutkan dakwahnya hingga hari kiamat. Waba’du.

Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang begitu jelas dan terang. Sedang Dia
adalah Dzat yang ucapan-Nya paling jujur dan paling dapat dipercaya:

َ
‫ن‬ ِ ّ ‫ن ال‬
َ ‫ذي‬ َ ‫مِني‬ ُ ْ ‫شُر ال‬
ِ ْ ‫مؤ‬ ّ َ ‫م وَي ُب‬ُ َ‫ي أقْو‬َ ِ ‫دي ل ِل ِّتي ه‬
ِ ْ‫ن ي َه‬ ُ ْ ‫إ ِّن هََذا ال‬
َ ‫قْرَءا‬
‫جًرا ك َِبيًرا‬ َ ‫يعمُلون الصال ِحات أ َن ل َه‬
ْ ‫مأ‬ ْ ُ ّ ِ َ ّ َ َ َْ
“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang
mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (TQS. Al-
Isra’ [17] : 9).

Saudara seiman: Sesungguhnya Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber


legislasi dalam Islam. Sedangkan Sunnah Nabi juga merupakan dalil syara’ sama
seperti Al-Qur’an. Sebab Sunah Nabi sebagai dalil syara’ memiliki landasan yang
qath’iy (definitif), seperti halnya Al-Qur’an. Sementara ijma’ (konsensus) para
sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dapat mengungkapkan dalil syara’—yang masih
tersembunyi. Adapun qiyas (ijtihad), maka iapun dibangun bersandarkan dalil
syara’. Dengan ini, maka dalil hukum syara’ dalam Islam ada empat saja, yaitu:
Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Dan hanya inilah dalil-dalil
syara’ yang mu’tabarah (diakuinya). Sehingga selain keempat dalil ini bukanlah
dalil syara’.
At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Musnadnya dari Ali karramallahu wajhah, yang
berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan ada fitnah”. Ali berkata:
“Apa yang bisa menyelamatkan dari fitnah itu, wahai Rasulallah?” Rasulullah
SAW bersabda: “Kitabullah (Al-Qur’an). Di dalamnya terdapat berita tentang
orang-orang sebelum dan sesudah kalian. Ia pemberi keputusan atas apa yang
kalian perselisihkan. Al-Qur’an merupakan pemisah antara hak dan bathil, dan ia
bukanlah senda gurau. Siapa saja yang meninggalkannya dengan sombong,
maka ia menjadi musuh Allah. Siapa saja yang mencari petunjuk pada selain Al-
Qur’an, maka Allah akan menyesatkannya. Al-Qur’an adalah tali Allah yang
kokoh, cahaya-Nya yang terang, peringatan yang bijak, jalan yang lurus, obat
yang ampuh, menjaga siapa saja yang berpegang teguh dengannya,
keselamatan bagi siapa saja yang mengikutinya, apa saja yang bengkok al-
Qur’an meluruskannya, apa saja yang menyimpang, al-Qur’an akan
mengembalikannya. Al-Qur’an tidak akan disesatkan oleh hawa nafsu, tidak akan
tercampuri oleh bahasa-bahasa lain, tidak akan diwarnai oleh berbagai pendapat,
tidak membuat kenyang para ulama, tidak membuat bosa orang-orang yang
takwa, tidak usang meski banyak yang menolak, dan kehebatannya tidak pernah
habis. Al-Qur’an membuat jin berhenti seketika ketika jin mendengarnya.
Sehingga jin berkata: ‘Sesungguhnya kami mendengar bacaan (Al-Qur’an) yang
begitu mengagumkan. Siapa saja yang mengetahuinya, maka ia mengetahui hal-
hal sebelumnya; siapa saja yang berkata dengannya, maka ia benar(jujur); siapa
saja yang berhukum dengannya, maka dia pasti adil; siapa saja yang
mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala; dan siapa saja yang menyeru
kepadanya, maka ia menyeru kepada jalan yang lurus.’

Rasulullah SAW juga bersabda: “Aku telah diberi Al-Qur’an dan yang sepertinya”.
Sedang yang dimaksud dengan “yang sepertinya” adalah Sunnah Nabi yang
disucikan. Dengan demikian, As-Sunnah merupakan referensi (dalil) hukum-
hukum syariah sama seperti halnya Al-Qur’an. Dan menjalankan perintah-perintah
As-Sunnah sama dengan menjalankan perintah-perintah Al-Qur’an. Sebab
menaati Rasul hakekatnya adalah menaati Allah. Allah SWT berfirman:

‫ه‬ َ َ ‫قد ْ أ‬
َ ّ ‫طاع َ الل‬ َ َ‫ل ف‬
َ ‫سو‬
ُ ‫ن ي ُط ِِع الّر‬
ْ ‫م‬
َ
“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.”
(TQS. An-Nisa’ [4] : 80)

Oleh karena itu, wahai saudara seiman. Al-Qur’an itu tidak lain adalah konstitusi
umat Islam yang abadi. Dan Sunnah Nabi ini berfungsi menjelaskan dan
menerangkan Al-Qur’an al-Karim.

Dan mengingat teks-teks Al-Quran dan As-Sunnah datang dalam bahasa Arab,
maka bahasa Arab merupakan bagian penting, dan tidak terpisahkan dari Islam,
bahkan dakwah Islam tidak diemban melainkan dengan bahasa Arab, begitu juga
tidak mungkin memahami Islam dari sumber-sumber aslinya, dan menggali
berbagai hukum darinya kecuali dengan menguasai bahasa Arab.

Sungguh para generasi kita terdahulu yang shalih (salafush shalih) benar-benar
memahami hal itu. Mereka tahu bahwa para musuh Islam tidak akan pernah
mampu untuk melemahkan—apalagi mengalahkan dan melenyapkan—negara
Islam, selama Islam masih tertanam kuat dalam diri kaum Muslim, kuat
pemahamannya terhadap Islam, serta kuat dalam penerapannya. Oleh karena itu,
mereka (salafush shalih) sangat antusias terhadap bahasa Arab, perhatian
mereka terhadap bahasa Arab sangat besar. Mereka mengajari anak-anaknya
bahasa Arab seperti mereka mengajari anak-anaknya Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Dan pada saat mereka mengemban dakwah Islam, maka dalam mengembannya
juga fokus pada tiga hal, yaitu Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dan bahasa Arab.
Namun sekarang dimana semua itu?

Musuh-musuh Islam telah menggunakan dan menciptakan berbagai cara untuk


melemahkan pemahaman umat Islam terhadap Islam, dan melemahkan
penerapan mereka terhadap hukum-hukum Islam. Karenanya perhatian mereka
tertuju pada bahasa Arab, sebab ia merupakan bahasa yang digunakan dalam
menyampaikan Islam. Sehingga mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk
memisahkan bahasa Arab dari Islam. Dan untuk memuluskan tujuannya itu, maka
diserahkanlah kekuasaan kepada orang yang sama sekali tidak mengenal akan
nilai-nilai penting bahasa Arab. Dengan demikian, apa yang mereka inginkan
berjalan dengan mulus …. Akan tetapi sampai kapan ini semua akan terus terjadi!
Namun, Allah SWT berfirman:

َ ْ ‫م ُنوَره ُ وَل َوْ ك َرِه َ ال‬ َ ْ


‫ن‬
َ ‫كافُِرو‬ ّ ِ ‫ن ي ُت‬ ُ ّ ‫وَي َأَبى الل‬
ْ ‫ه إ ِل ّ أ‬
“Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-
orang yang kafir tidak menyukai.” (TQS. At-Taubah [9] : 32)

Dan firman-Nya:

َ ‫غال ِب عََلى أ َمره ول َكن أ‬


‫ن‬ ُ َ ‫س ل َ ي َعْل‬
َ ‫مو‬ ِ ‫نا‬
ّ ‫ال‬ ‫ر‬
َ َ ‫ث‬ْ ‫ك‬ ّ ِ َ ِ ِ ْ ٌ َ ‫ه‬ ُ ّ ‫َوالل‬
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahuinya.” (TQS. Yusuf [12] : 21)

“Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu di hari yang penuh berkah ini,
bulan suci Ramadan yang penuh keutamaan, supaya Engkau menyiapkan untuk
Al-Qur’an ini orang yang akan mengangkat dan mengibarkan bendera Islam,
merealisasikan tujuan Islam, dan menerapkan syariah Islam dengan cara
membuat Engkau ridho kepada kami. Dan kami memohon kepada-Mu, ya Allah
agar Engkau menerima shalat, puasa, tarawih, dan amal-amal shalih lainnya. Dan
kami memohon kepada-Mu, semoga Engkau memberi kesempatan mata kami
untuk menyaksikan berdirnya Khilafah, serta menjadikan kami tentara-tentara
Khilafah yang setia dan ikhlas. Sesungguhnya Allah SWT yang berkuasa dan
mampu mewujudkan semua itu.”