You are on page 1of 4

Al-Qur’an dan Keajaiban Air

H. Agus Jaya. Lc. M.Hum

Dalam konsep al-Qur’an, Ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari


nilai-nilai tauhid (QS: al-Alaq: 1). Ilmu pengetahuan seutuhnya
bersumber dari Dzat yang Maha Pengajar. Allah swt berfirman: Dan
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar! (QS: al-Baqarah: 31).
Al-Qur’an memang bukan kitab teknologi, namun di dalam kitab
suci ini termuat prinsip-prinsip tentang ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta pesan-pesan yang berisi etos dan motivasi untuk
melakukan kajian ilmu pengetahuan dan teknologi. Diantara demikian
banyak kajian teknologi dalam al-Qur’an adalah keajaiban air yang
Allah jadikan asal segala sesuatu yang hidup. Allah swt berfirman;
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?" (QS: al-Anbiya’:30)
Al-Maraghi menjelaskan tentang air sebagai asal segala sesuatu
yang hidup, ia berkata “kami (Allah swt) telah menciptakan seluruh
hewan. Sebagaimana firman Allah swt dalam al-Qur’an: Dan Allah telah
menciptakan semua jenis hewan dari air (QS: an-Nur: 45), demikianlah
juga Allah menghidupkan dan mengembangkan segala jenis tumbuh-
tumbuhan. Qotadah berkata: ”Kami (Allah Swt) telah ciptakan segala
sesuatu yang tumbuh dari air termasuk seluruh hewan dan tumbuh-
tumbuhan. Disisi lain sebagian ilmuwan modern berpendapat bahwa
penciptaan awal seluruh hewan adalah di laut, lalu seiring berjalannya
waktu, hewan-hewan tersebut secara alami mengikuti tabiat hewan-
hewan didaratan dan selanjutnya jenis-jenis hewan tersebut
berkembang. (1946: 17: 26).
Ibnu katsir menjelaskan bahwa asal segala benda yang hidup
adalah air. (2000: 9: 401), pernyataan ini sangat akurat dengan hadits
Rasulullah saw dari Abu Hurairoh, Beliau bersabda: Segala sesuatu
tercipta dari air. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim).
Menarik untuk dicermati bahwa kata Bahr (laut) secara mufrad
dalam al-Qur’an berjumlah 33 kali (Muhammad Fuad Abdul Baqi: 1994:
145) jika dibandingkan dengan kata Barr (daratan) yang berjumlah 12
kali (Muhammad Fuad: 1994: 149) maka akan kita temukan nilai
perbandingan sekitar 3:1, dan fakta ilmiah menunjukkan bahwa
perbandingan antara lautan dan daratan dimuka bumi ini adalah
sekitar 71% laut dan 29% darat, dan jika terapkan pada tubuh
manusia, maka akan kita dapatkan hasil yang sangat mengejutkan,
yaitu perbandingan yang sama antara perbandingan benda cair dan
padat pada tubuh manusia dengan perbandingan laut dan darat.
(Zughlul Najjar: 2002: 2: 26). Maha Sempurna Allah yang menjelaskan
bahwa dalam diri manusia ada tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah swt
berfirman: ”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS: az-Dzariyaat: 20-21).
Salah satu keistimewaan air adalah satu-satunya benda yang
ketika cair lebih padat daripada saat beku, berbeda dengan benda-
benda lain seperti besi, timah dll, justru lebih padat ketika beku
dibandingkan cair. Hal inilah yang menyebabkan air ketika membeku
lebih ringan, sehingga air yang membeku menjadi es akan tetap
terapung dan bawahnya tetap cair. Kondisi ini memberikan
kesempatan hidup kepada penghuni laut yang berada dibawahnya.
(Zughlul Najjar: 2002: 2: 27)
Seluruh aktifitas makhluk hidup sangat tergantung dengan air,
fungsi air bukan hanya sekedar unsur pembentuk fisik tetapi jauh lebih
penting dari hal itu, air menjadi penentu kehidupan seluruh makhluk
hidup dimuka bumi ini. Dan air menjadi tempat diciptakannya seluruh
makhluk hidup. Penelitian ilmiah menjelaskan bahwa lautan dan benua
telah tercipta jutaan tahun sebelum terbentuknya daratan. Dan
kehidupan berkembang dilautan disaat tak ada sedikitpun kehidupan
didaratan. Allah swt berfirman: .... Dan dari air Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
(QS: al-Anbiya’:30). Seluruh jasad yang hidup tercipta dari air, dan
seluruh aktifitas sangat terikat dengan air serta kehidupan berasal dari
air. (Zughlul Najjar: 2002: 2: 34)
Alternatif lain dari penafsiran ayat diatas adalah pemahaman
tentang kata ”ma’, yang bisa dipahami sebagai tetesan air mani yang
menjadi asal muasal makhluk hidup. Hal ini tidak bertentangan dengan
informasi al-Qur’an tentang penciptaan manusia dari ”thin” (tanah
liat), karena tanah liat merupakan campuran antara tanah dan air.
(Kamal Faqih Imani: 10: 51-52).
Disamping air sebagai asal penciptaan, siklus air dan keberadaan
air tawar dan asin menjadi penentu kelangsungan makhluk hidup.
Mengenai siklus air, Allah swt berfirman; "Dialah Allah Yang
mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar
dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-
hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira"
(QS: ar-Rum:48)
Pada ayat ini, Allah swt menginformasikan tiga tahapan
terbentuknya hujan. Pertama, "Dialah Allah Yang mengirimkan angin,
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang
dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan
menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit, pada
tahapan penguapan ini, hanya air yang memiliki sifat lebih ringan yang
menguap, sementara garam yang sifatnya lebih berat terselesksi dan
tidak terangkat menuju langit. Kedua, lalu angin itu menggerakkan
awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang
dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, pada tahap
ini awan-awan kecil yang digerakkan angin, saling bergabung dan
membentuk awan yang lebih besar. Ketiga, "...lalu kamu lihat air hujan
keluar dari celah-celahnya..." pada tahapan ini, awan yang membawa
partikel air menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan
mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Tahapan-tahapan pembentukan hujan telah diceritakan dalam
ayat-ayat Al-Qur’an dengan urutan yang sangat tepat dengan hasil
temuan para ilmuwan modern tentang proses pembentukan awan
hujan.
Selanjutnya air hujan membasahi bumi dan kemudian membawa
kotoran, bakteri, virus dll, yang ada didaratan menuju lautan.
Kemudian kadar salinitas (garam) laut berfungsi untuk menetralkan
seluruh yang di bawa oleh air hujan tersebut. Tanpa siklus air ini, maka
akan terjadi ketimpangan bahkan kehancuran di muka bumi.
Kita harus ingat bahwa keajaiban air ini telah Allah swt
informasikan dalam al-Qur’an sejak turunnya. Fakta ini menegaskan
kebenaran al-Qur’an sebagai kitab suci yang mulia. Kebenaran al-
Qur’an ini selayaknya menyentuh hati sanubari setiap insan yang
berfikir. Wallahu A’lam.