You are on page 1of 74

http://duniaseismik.blogspot.

com
Posted by ADRIAN OKTAVINTA

DUNIA SEISMIK
 FUNDAMENTAL OF SEISMIC
Latar Belakang

Survey seismik dilakukan untuk mendapatkan rekaman data seismik dengan kualitas yang
baik. Penilaian baik tidaknya data seismik adalah dari perbandingan antara banyaknya sinyal
refleksi dengan sinyal gangguan atau noise yang diterima. Semakin banyak sinyal refleksi
serta semakin sedikit noise yang diterima maka kualitas perekaman data seismik semakin
bagus. Keakuratan pengukuran waktu tempuh (travel time) juga mempengaruhi kualitas
perekaman.
Secara garis besar eksplorasi seismik dibagi menjadi eksplorasi seismik dangkal dan
eksplorasi seismik dalam. Eksplorasi seismik yang digunakan untuk eksplorasi hidrokarbon
(minyak dan gas bumi) adalah eksplorasi seismik dalam. Sedangkan eksplorasi seismik
dangkal (shallow seismic reflection) biasa digunakan untuk eksplorasi batubara dan bahan
tambang lainnya. Kedua jenis eksplorasi seismik tersebut memiliki resolusi dan akurasi yang
berbeda.
Seismik refleksi terbagi atas tiga bagian yaitu akuisisi data seismik, proses data seismik, dan
yang terakhir adalah interpretasi data. Akuisisi data adalah untuk memperoleh data seismik
dari area yang disurvey. Dari proses data seismik akan diperoleh penampang seismik
permukaan bawah tanah. Setelah data seismik diproses maka dilakukan interpretasi untuk
menganalisa keadaan geologi di bawah permukaan dan juga untuk memperkirakan komposisi
material batuan di bawah permukaan tersebut.
Proses akuisisi data sangat penting karena mempengaruhi kualitas data seismik. Kualitas data
seismik yang baik akan menghasilkan penggambaran penampang seismik bawah tanah yang
baik sehingga proses interpretasi juga dapat dilakukan dengan baik.

ラーミ ヒダヤティ Page 1


Konsep Gelombang Seismik

Gelombang seismik adalah gelombang mekanis yang muncul akibat adanya gempa bumi.
Sedangkan gelombang secara umum adalah fenomena perambatan gangguan (usikan) dalam
medium sekitarnya. Gangguan ini mula-mula terjadi secara lokal yang menyebabkan
terjadinya osilasi (pergeseran) kedudukan partikel-partikel medium, osilasi tekanan maupun
osilasi rapat massa. Karena gangguan merambat dari suatu tempat ke tempat lain, berarti ada
transportasi energi.
Gelombang seismik disebut juga gelombang elastik karena osilasi partikel-partikel medium
terjadi akibat interaksi antara gaya gangguan (gradien stress) malawan gaya-gaya elastik.
Dari interaksi ini muncul gelombang longitudinal, gelombang transversal dan kombinasi
diantara keduanya. Apabila medium hanya memunculkan gelombang longitudinal saja
(misalnya di dalam fluida) maka dalam kondisi ini gelombang seismik sering dianggap
sabagai gelombang akustik.
Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi, seismik refleksi lebih lazim digunakan daripada
seismik refraksi. Hal tersebut disebabkan karena siesmik refleksi mempunyai kelebihan dapat
memberikan informasi yang lebih lengkap dan baik mengenai keadaan struktur bawah
permukaan.
Penyelidikan seismik dilakukan dengan cara membuat getaran dari suatu sumber getar.
Getaran tersebut akan merambat ke segala arah di bawah permukaan sebagai gelombang
getar. Gelombang yang datang mengenai lapisan-lapisan batuan akan mengalami pemantulan,
pembiasan, dan penyerapan. Respon batuan terhadap gelombang yang datang akan berbeda-
beda tergantung sifat fisik batuan yang meliputi densitas, porositas, umur batuan, kepadatan,
dan kedalama batuan. Galombang yang dipantulkan akan ditangkap oleh geophone di
permukaan dan diteruskan ke instrument untuk direkam. Hasil rekaman akan mendapatkan
penampang seismik.

Sumber Gelombang Seismik


Sumber gelombang seismik pada mulanya berasl dari gempa bumi alam yang dapat berupa
gempa vulkanik maupun gempa tektonik, akan tetapi dalam seismik eksplorasi sumber
gelombang yang digunakan adalah gelombang seismik buatan. Ada beberapa macam sumber
gelombang seismik buatan seperti dinamit, benda jatuh, air gun, water gun, vaporchoc,
sparker, maupun vibroseis. Sumber gelombang seismik buatan tersebut pada hakekatnya
membangkitkan gangguan sesaat dan lokal yang disebut sebagai gradien tegangan (stress).

ラーミ ヒダヤティ Page 2


Gradien tegangan mengakibatkan terganggunya keseimbangan gaya-gaya di dalam medium
sehingga terjadi pergeseran titik materi yang menyebabkan deformasi yang menjalar dari
suatu titik ke titik lain. Deformasi ini dapat berupa pemampatan dan perenggangan partikel-
partikel medium yang menyebabkan osilasi densitas/tekanan maupum pemutaran (rotasi)
partikel-partikel medium. Apabila medium bersifat elastis sempurna maka setelah mengalami
deformasi sesaat tadi medium kembali ke keadaan semula.

Jenis Gelombang Seismik


Secara garis besar gelombang seismik dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Menurut cara bergetarnya
Menurut cara bergetarnya gelombang seismik dibagi menjadi dua macam yaitu:
1. Gelombang Primer (longitudinal/compussional wave)
Gelombang primer dalah gelombang yang arah getarannya searah dengan arah
bergetarnya gelombang tersebut. Gelombang ini mempunyai kecepatan rambat paling
besar diantara gelombang seismik yang lain.
2. Gelombang Sekunder (transversal/shear wave)
Gelombang sekunder adalah gelombang yang raah getarannya tegak lurus terhadap arah
perambatan gelombang. Gelombang ini hanya dapat merambata pada material padat saja
dan mempunyai kecepatan gelombang yan lebih kecil dibandingkan gelombang primer.
2. Menurut tempat menjalarnya
Berdasarkan tempat menjalarnya, gelombang seismik dapat dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu gelombang tubuh (body wave) yang menjalar masuk menembus medium dan
gelombang permukaan (surface wave) dimana amplitudonya melemah bila semakin masuk ke
dalam medium. Beberapa tipe gelombang permukaan yaitu:
1. Gelombang Rayleigh
Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang merambat pada batas permukaan saja dan
hanya dapat merambat pada media padat serta arah getarannya berlawanan arah dengan
arah perambatannya.
2. Gelombang Love
Gelombang love adalah gelombang yang hanya merambat pada batas lapisan saja an
bergerak pada bidang yang horisontal saja.
3. Gelombang Tabung
Gelombang tabung merupakan gerak/aliran fluida di sepanjang sumur pengeboran.
Gerakan fluida ini diakibatkan oleh getaran dinding sumur yang merambat dalam arah
axial. Gelombang tabung mempunyai tiga proses yaitu pertama adalah kontraksi dinding
sumur, kedua adalah merenggangnya dinding sumur, dan ketiga adalah aliran fluida di
dalam lubang sumur.
3. Menurut bentuk muka gelombang
Muka gelombang adalah suatu bidang permukaan yang pada suatu saat tertentu membedakan
medium yang telah terusik dengan medium yang belum terusik. Muka gelombang merupakan
potret dari penjalaran usikan. Berdasarkan bentuk muka gelombang (wave front) , gelombang
seismik dapat dibedakan atas empat macam yaitu:
1. Gelombang Bidang
Gelombang bidang/datar ditimbulkan oleh sumber terkomilasi. Gelombang bidang
menjalar sepanjang satu arah tertentu dengan muka gelombang yan berupa bidang datar
tegak lurus pada arah perambatan.

ラーミ ヒダヤティ Page 3


2. Gelombang Silinder
Gelombang silinder ditimbulkan oleh sumber usikan yang seragam dan terletak di
sepanjang suatu garis lurus. Gelombang silinder menjalar ke semua arah tegak lurus pada
garis sumbu dengan kecepatan yang sama.
3. Gelombang Bola
Gelombang bola/sferis ditimbulkan oleh sumber berupa titik (point source) yang
menjalar ke segala arah menuju ke pusat bola atau menjauhi pusat bola dengan kecepatan
yang sama.
4. Gelombang Kerucut
Gelombang kerucut ditimbulkan oleh adanya sumber yang bergerak. Dalam hal ini
sumber bergerak lebih cepat dari pada sepat rambat gelombang itu sendiri dan muka
gelombangnya berupa kerucut-kerucut bersumbu.

Tahapan Seismik
Metode seismik refleksi merupakan metode geofisika yang umumnya dipakai untuk
penyelidikan hidrokarbon. Biasanya metode seismik refleksi ini dipadukan dengan metode
geofisika lainnya, misalnya metode grafitasi, magnetik, dan lain-lain. Namun metode seismik
refleksi adalah yang paling mudah memberikan informasi paling akurat terhadap gambaran
atau model geologi bawah permukaan dikarenakan data-data yang diperoleh labih akurat.
Pada umumnya metode seismik refleksi terbagi atas tiga tahapan utama, yaitu:
1. Pengumpulan data seismik (akuisisi data seismik): semua kegiatan yang berkaitan
dengan pengumpulan data sejak survey pendahuluann dengan survey detail.
2. Pengolahan data seismik (processing data seismik): kegiatan untuk mengolah data
rekaman di lapangan (raw data) dan diubah ke bentuk penampang seismik migrasi.
3. Interpretasi data seismik: kegiatan yang dimulai dengan penelusuran horison, pembacaan
waktu, dan plotting pada penampang seismik yang hasilnya disajikan atau dipetakan
pada peta dasar yang berguna untuk mengetahui struktur atau model geologi bawah
permukaan.

Akuisisi Data Seismik


Secara umum kegiatan akuisisi data seismik adalah dimulai dengan membuat sumber getar
buatan, seperti vibroseis atau dinamit, kemudian mendeteksi dan merekamnya ke suatu alat
penerima, seperti geophone atau hidrophone. Getaran hasil ledakan akan menembus ke dalam
permukaan bumi dimana sebagian dari sinyal tersebut akan diteruskan dan sebagian akan
dipantulkan kembali oleh reflektor. Sinyal yang dipantulkan kembali tersebut akan direkam
oleh alat perekam di permukaan.
Sedangkan sinyal yang menembus permukaan bumi akan dipantulkan kembali oleh bidang
refleksi yang kedua snyalnya akan diterima kembali oleh alat perekam dan seterusnya hingga
ke alat perekam yang terakhir. Alat perekam akan menghasilkan data berupa trace seismik.

ラーミ ヒダヤティ Page 4


Proses Data Seismik

Data yang telah didapatkan dari hasil akuisisi akan diproses sehingga meningkatkan daya
resolusi secara vertikal maupun horisontal yang dapat menghasilkan keadaan bawah
permukaan yang sesungguhnya yaitu berupa migrated time section yang mudah untuk
diinterpretasikan oleh para interpreter untuk mencapai hasil yang maksimum pada saat
ekploitasi.

Hukum Fisika Gelombang Seismik


Gelombang seismik mempunyai kelakuan yang sama dengan kelakuan gelombang cahaya,
sehingga hukum-hukum yang berlaku untuk gelombang cahaya berlaku juga untuk
gelombang seismik. Hukum-hukum tersebut antara lain:
1. Huygens mengatakan bahwa gelombang menyebar dari sebuah titik sumber gelombang
ke segala arah dengan bentuk bola.
2. Hukum snellius menyatakan bahwa bila suatu gelombang jatuh di atas bidang batas dua
medium yang mempunyai perbedaan densitas, maka gelombang tersebut akan dibiaskan
jika sudut datang gelombang lebih kecil atau sama dengan sudut kritisnya. Gelombang
akan dipantulkan jika sudut datangnya lebih besar adri sudut kritisnya. Gelombang
datang, gelombang bias, gelombang pantul terletak pada suatu bidang datar.

Kecepatan dan Resolusi


1. Kecepatan Sebagai Alat Diagnosa
Sifat alamiah dari sedimen seerti porositas, densitas, temperatur, ukuran butir, saturasi
gas, frekuensi, dan tekanan berpengaruh terhadap kecepatan. Pertambahan kecepatan

ラーミ ヒダヤティ Page 5


dipengaruhi oleh takanan eksternal, ukuran butir dan densitas. Kecepatan akan berkurang
pada sedimen yang porous dan atau mempunyai takanan pori yang besar.
2. Pengukuran Kecepatan
Pengukuran kecepatan didasarkan pada perubahan waktu tiba pantulan (arrival time)
sebagai perubahan jarak dari sumber getar sampai geophone. Jarak tersebut dikenal
dengan offset, sedangkan perbedaan waktu dari offset disebut normal moveout.
Kecepatan sebagai implikasinya disebut stacking velocity.
3. Resolusi
Resolusi didefinisikan sebagai jarak terkecil antara dua kenampakan yang dapat
memisahkan adanya dua kenampakan tersebut. Pola refleksi dengan dua interface akan
nampak pada suatu pembagian dengan ketebalan 1/4 panjang gelombang, sedangkan jika
ketebalannya kurang dari itu maka hanya akan nampak satu interface saja. Batas
ketebalan lapisan yang dapat memberikan pantulan adalah sekitar 1/3 dari panjang
gelombang. Frekuansi gelombang seismik lebih kecil dibandingkan dengan frekuensi
yang digunakan pada log sumur, sehingga kemampuan perubahan seismik jauh lebih
besar, sekitar 100 kali lipat. Semakin kecil frekuensi dan kecepatan, maka gelombang
akan semakin besar.

 APPLIED SEISMIC
Topografi

Survey topografi dilakukan untuk menentukan titik-titik trace dan shoot point dengan akurat
sesuai dengan desain rencana yang diberikan oleh klien. Survey topografi dilakukan terlebih
dahulu sebelum dilakukan drilling dan recording. Output dari topografi di lapangan adalah
berupa patok-patok titik trace dan shoot point, output lainnya adalah berupa peta, sketch line,
dan elevasi.
Survey topografi dalam seismik merupakan suatu proses untuk menentukan koordinat di
lapangan (X,Y,Z) berdasarkan koordinat yang ada di peta (koordinat teoritik), dalam hal ini
koordinat teoritik yang ada hanyalah koordinat planimetris, sedangkan elevasinya ditentukan
berdasarkan pengukuran di lapangan. Kordinat teoritik sendiri dibuat berdasarkan parameter-
parameter yang diberikan oleh client. Biasanya client hanya akan memberikan koordinat awal
dan akhir line, interval trace, dan interval shot point.

ラーミ ヒダヤティ Page 6


Data Teoritis Topografi
Data teoritis diperoleh dari hasil perhitungan yang nantinya akan digunakan sebagai acuan
dalam pengukuran di lapangan. Data yang diperoleh adalah trace awal dan trace akhir yang
diberikan oleh klien dengan koordinat yang telah ditentukan. Dari trace awal dan trace akhir
tersebut kemudian dibuat trace-trace penghubung dengan menggunakan perhitungan berikut:
1. Menentukan besar sudut azimut (α) dari trace awal (A)
2. Kemudian lintasan tersebut dibagi dalam jarak d = 30 m (jarak antar trace), dan diperoleh
nilai x dan y untuk setiap trace dalam lintasan.

Dimana:
A : Trace awal
B : Trace akhir
1 : Trace pertama dengan jarak 30 m dari A

Data teoritis dapat dihitung dengan menggunakan Microsoft Exel, kemudian hasilnya
dimasukkan ke dalam program Autocad, dan setelah itu dapat ditampilkan sebagai peta
navigasi. Data teoritis dimasukkan ke dalam memory card yang terpasang pada total station.
Data teoritis tersebut kemudian digunakan sebagai acuan tim survei topografi dalam
melakukan pengukuran.

Pengukuran Topografi
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode stake out, dengan menggunakan
electronic total station (ETS). Metode ini menempatkan posisi titik-titik di lapangan

ラーミ ヒダヤティ Page 7


berdasarkan data koordinat teoritis. Pengukuran terikat pada titik-titik kontrol, hal ini
bertujuan untuk menjaga agar titik-titik tersebut tidak melenceng terlalu jauh dangan
koordinat teoritisnya.
Pada pengukuran lintasan baru, penentuan titik dilakukan dengan menjadikan titik BM
terdekat sebagai titik ikat. Pengukuran arah dan jarak patok didapat dari pembacaan pada
ETS yang merupakan posisi dari stick prisma. Stick prisma ditempatkan pada posisi sesuai
dengan koordinat teoritik. Selama pengukuran kita menggunakan tiga buah stick prisma, satu
buah untuk back shoot, satu untuk fore shoot, dan satu untuk point shoot. Back shoot dan fore
shoot dalam posisi diam sedangkan point shoot bergeser sesuai dengan titik-titik yang ingin
diukur. Setelah itu posisi fore shoot dijadikan sebagai posisi ETS, atau biasa disebut dengan
sentring paksa. Sedangkan posisi ETS sebelumnya dijadikan posisi back shoot.
Data yang diambil adalah berupa jarak miring, karena dari jarak miring kita bisa memperoleh
ketinggian. Dilakukan pengukuran azimut matahari minimal sebanyak satu kali pada awal
atau akhir pengukuran. Tujuan pengamatan azimut adalah untuk mengontrol koreksi
pengukuran pada hari itu.
Stake out koordinat merupakan kegiatan utama di lapangan pada survei topografi. Pada
pekerjaan ini digunakan alat Sokkia SET303R, di mana alat ini digunakan untuk menentukan
titik-titik trace dan shoot point di lapangan yang datanya bersumber dari koordinat teoritik.
Selain itu ditentukan juga elevasi dari MSL untuk titik-titik trace dan shoot point. Biasanya
untuk membedakan antara trace dan shoot point digunakan patok yang berbeda. Untuk trace
patok yang digunakan adalah berwarna biru sedangkan untuk sp patoknya berwarna merah.

Selanjutnya untuk start dan ending koordinat line sudah ditentukan oleh client, kemudian
selanjutnya dapat ditentukan jumlah source dari koordinat yang diberikan oleh client.
Biasanya untuk source pada 2D hanya ada pada SP ganjil. Akan tetapi apabila medan yang
akan dilewati tidak memungkinkan diproduksi SP ganjil (seperti perkampungan, sungai, dan

ラーミ ヒダヤティ Page 8


sebaginya) maka dibuat SP genap untuk kompensasi SP yang hilang, sehingga jarak antara
SP normal dengan SP kompensasi menjadi 30 m. Secara geometrik perbedaan antara seismik
3D dan 2D terletak pada penempatan source dan trace. Untuk 2D source dan trace terletak
pada satu line, sedangkan pada 3D source dan trace terletak pada line yang berbeda, di mana
terdapat Source Line (SL) dan Receiver Line (RL).
Untuk optimalisasi pengukuran maka awal pengukuran (start line) tidak dilakukan di awal
atau akhir line. Hal ini disebabkan belum tersedianya akses menuju awal atau akhir line.
Untuk mengatasi hal tersebut maka ada beberapa cara yang dilakukan, di antaranya:
1. Pengukuran traverse. Pengukuran ini pada dasarnya adalah membuat suatu poligon
terikat sempurna dari titik-titik GPS yang sudah diamati, di mana titik tersebut dijadikan
kontrol. Penempatan titik-titik traverse ditempatkan sepresisi mungkin dengan
perpotongan line, untuk memudahkan start line.
2. Translock koordinat. Pada prinsipnya proses ini sama dengan pengikatan ke muka pada
poligon, di mana ditentukan 2 buah titik GPS yang sudah fix untuk dijadikan titik ikat
dalam menentukan titik translock.
Sebelum melakukan pengukuran topografi, terlebih dahulu dilakukan koordinasi dengan
departemen maupun sub pekerjaan yang lain, terutama yang waktu pekerjaannya berdekatan
dengan pengukuran topografi, seperti rintis, bridging dan drilling. Hal ini dilakukan supaya
tidak terjadi “kejar-kejaran” waktu pekerjaan apalagi sampai terjadi overlap waktu pekerjaan.
Setelah didiskusikan maka dibuat program dari pengukuran topografi, yang selanjutnya akan
diikuti oleh rintis, bridging, drilling, dan recording. Departemen Topo juga melakukan
pendampingan terhadap departemen yang lain seperti penjelasan akses lokasi, eksistensi
patok-patok trace dan Sp, sampai terjadinya offset dan kompensasi
Secara teknis sebelum melakukan pengukuran stake out, maka terlebih dahulu dilakukan
pengukuran sunshot untuk medefinisikan azimuth awal dari titik start line. Selanjutnya
dilakukan pengukuran stake out, di mana koordinat teoritik yang sudah ada dan dimasukkan
pada memory alat dan “dipanggil” untuk menentukan koordinat trace dan shoot point di
lapangan. Titik-titik trace dan shoot point ditentukan dari titik-titik ikat poligon yang sudah
fix atau dengan kata lain titik-titik poligon ini adalah titik-titik kerangka dasar utama. Pada
sesi akhir pengukuran dilakukan kembali sun shot sebagai kontrol azimuth akhir. Hal ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya distorsi dari line yang diukur.

Selanjutnya pada waktu pengukuran ketika terjadi perpotongan antar line (crossing) maka
pengukuran diikatkan pada titik fix line tersebut. Hal ini dilakukan untuk memperoleh
koordinat titik-titik ikat tersebut melalui proses perataan. Sedangkan pada proses stake out
koordinat seismik 3D pengukuran dilakukan dari start line yang kemudian diikatkan dalam 1
blok, untuk mendapatkan koordinat titik-titik blok dari tiap loop. Blok-blok ini biasanya

ラーミ ヒダヤティ Page 9


dipisahkan atas beberapa swath sesuai dengan banyaknya SL dan RL. Biasanya lebar blok ini
disesuaikan dengan ketelitian jarak. Jadi, setiap ketelitian tutupan blok berbanding terbalik
dengan jaraknya, di mana apabila jarak blok panjang maka koreksinya kecil, sedangkan
apabila jarak blok pendek, maka koreksinya besar. Sebisa mungkin blok ini menutup pada
tiap-tiap ujung SL dan RL supaya koordinat titik-titik blok yang dihasilkan lebih bagus.
Pada waktu pengukuran dilakukan juga penanaman BM seismik. BM ini dibuat untuk
merekonstruksi titik-titik line yang dibutuhkan ataupun ketika ada program pengembangan
survei. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan BM seismik ini adalah:
- Distribusi BM merata (mengcover) keseluruhan line.
- Akses jalan menuju BM.
- Melakukan pensosialisasian kepada masyarakat sekitar bahwasannya BM tersebut sangat
penting dan tidak boleh diganggu, bahkan kalau perlu diberikan sanksi apabila ada yang
mengganggu.
Hal lain yang tak kalah penting pula adalah dalam hal pemasangan. BM seismik dipasang
berpasangan, baik itu dengan BM GPS maupun dengan sesama BM seismik sendiri. Hal ini
dilakukan untuk pendefinisian datum apabila akan dilakukan rekonstruksi.

Pengolahan Data Topografi

Data hasil pengukuran di lapangan kemudian diproses lebih lanjut. Proses data tersebut
menggunakan bantuan komputer. Data dari ETS diolah oleh software pemetaan Swift. Hasil
perhitungan berupa data koordinat x, y, dan z. Setelah itu kita dapat memperoleh perbedaan
antara data teoritik dengan pengukuran di lapangan.
Pemrosesan data ini dilakukan harian, kemudian dikumpulkan menjadi satu poligon yang
terikat sempurna maupun tertutup (loop). Pemrosesan harian atau dengan kata lain pasca
pengukuran dimaksudkan untuk mengecek hasil ukuran apakah mengalami distorsi atau tidak,
dalam hal ini pemrosesan harian bersistem poligon lepas. Apabila mengalami distorsi sampai

ラーミ ヒダヤティ Page 10


sejauh mana distorsi yang telah terjadi, apakah masuk toleransi atau tidak. Hal yang paling
mendasar adalah pada seismik 3D yang dipertahankan adalah posisi Sp dan trace, di mana
toleransi dari tiap titik adalah ± 5 m. Sedangkan pada seismik 2D yang dipertahankan adalah
interval dari tiap Sp.
Sumber utama dari data topografi ini adalah hasil pengukuran stake out di lapangan (x,y) dan
hasil pengukuran elevasi (z). Adapun data yang menunjang dari data ukuran utama ini adalah
data sun shot (di awal dan di akhir pengukuran), dan apabila di awal line maka ada koordinat
start line.
Pada prinsipnya penghitungan koordinat dalam pekerjaan seismik ini terdiri dari dua sistem
penghitungan yaitu poligon terikat sempurna dan poligon tertutup. Tidak ada perbedaan yang
cukup mendasar dari keduanya, hal yang membedakan adalah pada syarat salah penutupnya.
Secara teknis line yang diukur harus terikat, apabila di ujung line tidak ada titik kontrol, maka
dibuat akses terpendek ke line sebelahnya untuk membuat looping poligon. Hal ini dilakukan
untuk melakukan mekanisme kontrol kualitas terhadap data hasil ukuran dengan toleransi
yang sudah ditentukan. Sedangkan pada pengukuraan line yang berpotongan (crossing) titik-
titik fix dari line-line yang berpotongan saling diikatkan. Hal ini dilakukan untuk
memperoleh koordinat titik-titik crossing melalui mekanisme hitung perataan.
Perataan di atas dilakukan setelah semua hasil ukuran dari tiap seksi dicek dengan toleransi,
baik itu melalui pengecekan poligon terikat sempurna maupun dengan poligon loop.

Rintis dan Bridging


Rintis dan bridging bertujuan untuk mempermudah akses di lintasan yang akan dilalui.
Dilakukan sepanjang lintasan atau jalan akses menuju lintasan dengan lebar rintisan
maksimum 2 m, dengan seminimal mungkin membuat kerusakan di sepanjang rintisan.
Bridging dilakukan apabila lintasan melewati sungai, kanal, lembah, atau rawa.
Terdapat dua macam titian atau bridging, yaitu on the fly (melayang di atas tanah) dan on the
ground (menapak pada tanah). Kualitas bridging harus baik karena sangat berpengaruh pada
pengerjaan drilling dan recording.
Kreiteria-kriteria bridging, baik on the fly maupun on the ground, yang bagus adalah:
1. Pijakan diameter kayu 15 cm.
2. Tangan-tangan diameter kayu 8 cm.
3. Siku-siku (Skor) diameter kayu 10 cm.
4. Anti slip diameter kayu 5 cm
5. Siku-siku (skor) dipasang setiap 2m.
6. Anti Slip dipasang setiap 1m.
7. Semua terpasang kokoh atau kuat.

ラーミ ヒダヤティ Page 11


Untuk daerah yang menanjak akan dibuat tangga atau step. Kriteria-kriteria step yang abik
adalah:
1. Pijakkan diameter kayu 15 cm.
2. Tangan-tangan diameter kayu 8 cm.
3. Siku-siku (skor) diameter kayu 10 cm.
4. Anak tangga diameter kayu 10 cm.
5. Jarak anak tangga 25 cm.
6. Semua terpasang kokoh atau kuat.

ラーミ ヒダヤティ Page 12


Adapun bentuk-bentuk lain dari bridging biasanya disesuaikan dengan kebutuhan di
lapangan, di antaranya Platform (untuk penyimpanan pipa drilling), jembatan (bridging yang
melewati sungai), dan Jety (dermaga dari kayu-kayu untuk berlabuh, biasanya di tepi sungai).

Untuk mekanisme kontrol kualitas dari bridging, maka dilakukan pengecekan di lapangan
oleh checker. Checker ini bertugas menginventarisir dan menilai eksistensi bridging di
ラーミ ヒダヤティ Page 13
lapangan. Adapun kriteria dari penilaian ini berdasarkan ketetapan-ketetapan yang telah
disepakati. Parameter-parameter penilaian ini terdiri dari:
1. Good; Suatu bridging dikatakan good apabila bridging yang ada di lapangan > 90 %
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
2. Fair; Suatu bridging dikatakan fair apabila bridging yang ada di lapangan cukup kuat
menahan aktivitas yang akan terjadi, padahal dilihat dari ketentuan tidak seluruhnya
terpenuhi seperti anti slip dan kayunya kurang dari ketentuan. Untuk nilai kuantitatif
kondisi fair digolongkan antara 75 – 90 %.
3. Poor; Suatu bridging dikatakan poor apabila bridging yang ada di lapangan tidak mampu
menahan aktivitas yang akan terjadi, dan sangat rentan untuk menimbulkan kecelakaan,
seperti kayunya kurang dan tidak dipaku. Untuk nilai kuantitatif dari poor digolongkan <
75%.

Seismologi dan Seismic Drilling


Departemen seismologist bertanggung jawab melakukan pengeboran lubang shot point dan
melakukan penanaman bahan peledak dengan baik.
Drilling dilakukan sebelum perekaman dilaksanakan. Selama operasi drilling dilakukan
pengeboran pada titik tembak dengan toleransi kedalaman yang telah ditentukan oleh rekanan.
Setelah itu lubang diisi dengan bahan peledak, kemudian tamping. Hasil dari drilling
dilapangan adalah lubang siap tembak. Output dari drilling yang lain adalah berupa data
kedalaman pengisian bahan peledak, dan banyaknya bahan peledak yang digunakan pada
setiap lubang. Selain itu drilling juga harus memberikan data shot point yang di offset atau di
kompensasi.
Litologi sangat berpengaruh pada produktifitas pengeboran. Pada litologi yang keras
produktifitas pengeboran akan mengecil. Hambatan lain yang sering ditemukan adalah pada
daerah berpasir yang dapat menyebabkan pipa bor terjepit. Pada areal koral sering terjadi
lubang runtuh ketika pipa bor dicabut. Pengeboran juga akan terhambat pada daerah yang
sulit ditemukan air.

Peralatan Seismic Drilling


Peralatan yang digunakan oleh seismic drilling diantaranya adalah:
1. Mesin Power Rig
Adalah mesin pemutar bor yang digunakan pada pemboran. Mesin ini sesuai untuk
melakukan pengeboran dengan kedalaman 22 sampai 30 m. Membutuhkan tenaga kerja
yang lebih banyak. Dapat menembus batuan lebih cepat dibandingkan dengan
menggunakan rotari.
2. Mesin Dephi Pump
Alat ini berfungsi untuk menyedot air dan mengalirkannya ke lokasi pengeboran.
3. Mesin Mud Pump
Mud Pump berfungsi untuk menyedot air yang bercampur dengan cutting pemboran dan
mengalirkannya menuju pipa bor. Lumpur ini berfungsi untuk menekan tanah agar
gembur, mengangkat cutting hasil pengeboran dan melindungi mata bor agar tidak
bergesekan langsung dengan batuan. Jika lubang bor sangat dalam, maka mesin mud
pump dapat dirangkai secara seri untuk memperbesar tekanan.

ラーミ ヒダヤティ Page 14


4. King Swivel
Alat ini digunakan untuk menyambung selang dari mud pump ke pipa bor. King swivel
tidak dilakukan pada pengeboran dengan menggunakan power rig dan Jackro. King
swivel digunakan pada pengeboran dengan metode flushing.
5. Pipa Bor
Pipa bor berguna untuk mengalirkan air atau lumpur ke dalam lubang bor selama
pengeboran. Pipa bor memiliki panjang 1,5 m dengan persambungan pada kedua
ujungnya.
6. Mata Bor
Mata bor berguna untuk mengikis tanah atau batuan pada lubang bor. Pada mata bor
terdapat lubang untuk mengalirkan air atau lumpur.
7. Tripus
Tripus adalah mata bor khusus yang terbuat dari intan kasar. Mata bor ini digunakan
untuk menghancurkan batuan keras, tetapi tidak bisa bekerja pada batuan halus atau
tanah lembut.
8. Kunci Inggris
Alat ini digunakan untuk menyambung dan melepaskan pipa bor. Selain itu juga
difungsikan untuk mengangkat dan melepaskan pipa bor.
9. Fire Hose
Fire Hose adalah selang air yang digunakan untuk mengalirkan air ke tempat pengeboran.
10. Polimer
Polimer digunakan untuk menghindari terjadinya keruntuhan pada dinding lubang bor.
Cairan ini digunakan dengan cara mencmpurkannya dengan air atau lumpur yang akan
dimasukkan ke dalam pipa bor. Cairan ini sangat dibutuhkan terutama pada tanah yang
berpasir.
11. Ginagol
Alat ini digunakan untuk menyaring air atau lumpur yang akan dimasukkan ke dalam
pipa bor.
12. Lastok
Alat ini berupa pipa yang digunakan untuk memasukkan bahan peledak ke dalam lubang
pengeboran. Lastok terbuat dari bahan alumunium untuk menghindari timbulnya api,
yang dapat menyulut bahan peledak, akibat gesekan.
13. Dummie Load
Dummie load berfungsi untuk memeriksa kebersihan dan kedalaman lubang bor.
Dummie load memiliki bentuk silinder panjang yang memiliki diameter hanya sedikit
lebih kecil dari pada diameter lubang bor.
14. Daya Gel
Daya Gel adalah salah satu jenis bahan peledak yang berbentuk gel. Daya Gel berbentuk
batang dengan panjang 0,25 m, diameter 3 inci, dan berat 0,5 kg. Daya Gel dikemas
dalam plastik dan diberikan lapisan lilin agar terlindungi dari air. Daya Gel merupakan
bahan peledak pasif karena membutuhkan stimulant dari detotator agar dapat meledak.
15. Detonator
Detonator adalah bahan peledak aktif yang berfungsi sebagai sumbu ledak. Detonator
dapat meledak apabila diberikan tegangan di atas 6 volt. Proses peledakannya adalah
sebagai berikut:
- Detonator dimasukkan ke dalam Daya Gel
- Kabel detonator diberikan arus listrik
- Detonator meladak akibat arus listrik tersebut
- Daya Gel meledak karena dipicu oleh ledakan detonator

ラーミ ヒダヤティ Page 15


16. Speedy Loader
Speedy loader berupa plastik berbentuk kerucut yang dipasang bersama Daya Gel dan
detonator. Speedy loader berbentuk kerucut di pasang di bagian depan Daya Gel yang
berfungsi untuk mempermudah bahan peledak untuk dimasukkan ke dalam lubang bor.
17. O Ring
O Ring adalah cincin besar yang terbuat dari plastik untuk mengikat kabel detonator.
Fungsinya adalah untuk mempermudah dalam mengambil kabel detonator yang ditanam
di dalam lubang bor.
18. Anchor
Ancor adalah besi yang dipasang di bagian luar bahan peledak yang berfungsi untuk
menahan bahan peledak agar tidak terdorong kelaur lubang bor.

Unit Regu Seismic Drilling

ラーミ ヒダヤティ Page 16


1. Driller
Driller adalah orang yang bertugas untuk mengatur dan mengawasi proses pengeboran.
Dalam melakukan tugasnya driller harus mempunyai lisensi yang dikeluarkan oleh BP
Migas.
2. Shooter
Shooter adalah orang yang bertugas untuk merangkai bahan peledak sesuai dengan
prusedur BP Migas dan mengawasi proses pemasukan bahan peladak ke dalam lubang
bor yang dilakukan oleh kru pre-loading. Shooter beertugas untuk melakukan
pengecekan detonator setelah dirangkai, setelah dimasukkan ke dalam lubang bor, dan
setelah di tamping.
3. Kru Bor
Kru bor bertugas untuk melakukan pengeboran. Dalam satu unit terdapat empat kru bor.
Satu buah kru terdiri dari 9 sampai 10 orang yang bekerja dengan sebuah mesin bor.
Pembagian tugasnya adalah ada yang mengoperasikan mud pump, mengumpulkan
cutting, memasang pipa bor, dan memegang mesin bor.
4. Kru Water Relay
Tugas utama kru water relay adalah membawa air ke lokasi pengeboran. Dalam satu kru
water relay terdapat kurang lebih 10 orang. Peralatan yang digunakan tergantung pada
lokasi pengeboran.
5. Kru Pre-Loading
Kru pre-loading bertugas untuk membawa bahan peledak ke lokasi pengeboran dan
memasukkannya ke dalam lubang bor. Dalam satu kru terdapat kurang lebih 9 orang.
Pembagian tugasnya dalaha ada yang melakukan tamping, membawa bahan peledak, dan
ada yang membawa detonator.

Perekaman Data (Recording) Sercel SN408XL


Departemen recording bertanggung jawab melakukan perekaman dengan produktifitas yang
baik dengan tetap menjaga kualitas data. Uraian pekerjaan perekaman antara lain:
1. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pekerjaan perekaman data seismik.
2. Mengkoordinasikan dan mengawasi transportasi peralatan perekaman di lapangan.

ラーミ ヒダヤティ Page 17


3. Memasang, membongkar, mengangkut serta merawat instrumen beserta kelengkapannya
di lapangan.
4. Memasang geophone pada lintasan survey sampai mencapai lapisan tanah yang stabil
dengan bantuan alat penekan geophone dengan jarak antar geophone sesuai parameter
lapangan yang telah ditetapkan oleh rekanan.
5. Pada permukaan yang keras, misalnya batu gamping atau kerikil, menggunakan super
planter untuk melubangi tanah sehingga geophone terpasang dengan stabil.
6. Merawat keseluruhan peralatan lapangan mulai dari geophone, kabel, FDU, alat kontrol
utama serta peralatan perekaman lainnya.
7. Memasang dan menghubungkan group geophone pada lintasan serta
menyambungkannya ke FDU.
8. Memasang LAUL, LAUX, baterai, kabel dan peralatan lainnya pada posisi-posisi yang
diperlukan sehingga pekerjaan perekaman berjalan dengan baik.
9. Membuka lubang bor yang telah diisi bahan peledak dan menyambungkan kabel
detonator dengan firing line blaster.
10. Melakukan tes detonator. Jika detonator bekerja dengan baik maka pekerjaan dilanjutkan
ke tahap berikutnya. Yang dimaksud detonator bekerja dengan baik adalah memenuhi
persyaratan untuk diledakkan.
11. Meledakkan bahan peledak dengan koordinasi dengan observer yang berada di Labo.
12. Melakukan bor ulang atau bor lubang baru kemudian mengisinya dengan bahan peledak
dan merekam kembali data titik tembak tersebut jika sebelumnya terjadi misfire. Posisi
lubang baru adalah pada radius maksimum 5 m dari lubang sebelumnya.
13. Memperbaiki geophone, kabel, LAUL, LAUX, dan peralatan lainnya yang rusak.
14. Perekaman data dilakukan pada dua buah tape sekaligus.
15. Melepas geophone dari tanah dan sambungannya dengan FDU, melepas kabel link dan
menggulungnya.

Unit dan Peralatan Recording


A. Kru Bentang
Kru bentang bertugas untuk membentang kabel link FDU dan geophone di lintasan
sesuai dengan trace. Hasil dari kru bentang adalah kabel link yang telah terpasang dan
geophone siap rojok. Peralatan yang dibawa oleh kru adalah kayu atau bambu untuk
menggotong kabel dan geophone, dan juga radio HT yang dibawa oleh mandor.
B. Team Rojok
Kru rojok bertugas untuk menanam geophone dengan baik. Kualitas rojokan sangat
berpengaruh pada kualitas perekaman, karena menanam geophone dengan tidak baik
dapat menyebabkan potensial noise menjadi lebih besar atau sebaliknya geophone tidak
dapat mendeteksi getaran dengan tidak baik. Kru rojok membawa tali chaining untuk
mengukur jarak antar geophone, super planter untuk membuat lubang di tanah tempat
menanam geophone, dan pipa rojok untuk menanam geophone. Peralatan yang dibawa
oleh team rojok adalah:
1. Super planter
2. Planting hole
3. Tali chaining
4. Radio HT
5. Program kerja
6. P3K
7. Blanko toolbox meeting
8. Helm + sarung tangan + sepatu

ラーミ ヒダヤティ Page 18


9. Kacamata
10. Masker hidung
C. Team Labo
Kru Labo bertugas untuk menyiapkan lokasi Labo, seperti antena Labo, membentang
kaber transfer dari Labo ke line, dan mendirikan tenda Labo. Kru labo juga sangat
berperan dalam perpindahan Labo. Peralatan yang dibawa oleh kru Labo adalah:
1. Tiang antena
2. Antena repeater
3. Radio repeater
4. Tali labrang
5. Conector
6. Kabel antenna
7. Seling katrol
8. Linggis untuk labrang
9. Paku ground + kabel ground
10. Baterai + jumper power
11. Harnes (tali pengaman)
12. Tool set (kunci-kunci, contact cleaner)
13. Radio HT
14. Program kerja
15. P3K
16. Blanko toolbox meeting
17. Helm + sarung tangan + sepatu
18. Kacamata hitam
19. Masker hidung
D. Observer Line
Observer bertugas untuk melakukan trouble shooting di lintasan. Pada partai Elnusa
A5.43 observer bertanggung jawab untuk mengawasi proses penanaman geophone. Ada
juga observer yang bertugas untuk mengawasi cek leakage di lapangan. Observer line
bekerja di bawah partai Elnusa. Peralatan yang bibawa adalah:
1. Tang potong
2. Tang long nose
3. Obeng
4. Contact cleaner
5. Short KCK (resistor)
6. Radio HT
7. Program kerja
8. P3K
9. Blanko toolbox meeting
10. Helm + sarung tangan + sepatu
11. Kacamata
12. Masker hidung
E. Team Check Leakage
Kru rojok bertugas mengecek leakage string geophone dan cek kabel link dengan LT
setelah dibangkit sebelum dibentang kembali dilintasan. Cek leakage sangat penting
untuk memastikan geophone yang dimasukkan ke lintasan dalam keadaan baik agar
dapat mengurangi pergantian geophone atau kabel di lintasan sehingga mempermudah
trouble shooting. Cek leakage geophone menggunakan string scan. Peralatan yang
bibawa adalah:
1. LT set ( cable conector)

ラーミ ヒダヤティ Page 19


2. Baterai + jumper power
3. LAUL
4. Tool set (paku + pita + lem + tang jepit + tali rafia)
5. String scan
6. Contact cleaner
7. Multimeter
8. Ember + drum
9. Terpal + paying
10. Compressor
11. BBM
12. Radio HT
13. Program kerja
14. P3K
15. Blanko toolbox meeting
16. Helm + sarung tangan + sepatu
17. Kacamata
18. Masker hidung
F. Shooter Redrill
Kru shooter redrill bertugas melakukan penembakan ulang atau redrill akibat terjadinya
misfire. Dalam satu kru shooter terdapat seorang shooter yang bekerja dibawah partai
Elnusa. Shooter yang bekerja harus mempunyai lisensi sebagai shooter. Kru shooter
redrill membawa peralatan yang sama dengan kru shooter produksi ditambah dengan alat
untuk melakukan flushing. Alat yang dibutuhkan untuk melakukan flushing antara lain
mata bor, mud pump, pipa bor, king swivel, ginagol, selang hisap, dan polimer. Shooter
redrill juga harus membawa dan merakit bahan peledak dan detonator. Misfire yang
harus dilakukan redrill diantaranya adalah; lost hole, line cut, lost wire, dead after shoot
(DAS), short wire, dead cap, weak shoot, cap only, no CTB and UHT, lost record, dan
wrong spread. Peralatan yang bibawa adalah:
1. Mud pump
2. King swivle
3. Mata bor + nipple
4. Pipa bor
5. Selang king swiple
6. Selang hisap
7. Saringan selang hisap
8. Kunci pipa
9. Cangkul
10. Dirigen 20 liter
11. Firing line
12. Lastok + dummy + planting hole
13. Pancing lubang
14. Kotak handak + kunci kotak handak
15. Baterai kering
16. Blaster slave
17. Tool set
18. Cap tester
19. Capsim (up hole test)
20. Antenna pecut (antenna Ringo)
21. Polimer
22. BBM

ラーミ ヒダヤティ Page 20


23. Oli
24. Pompa sedot bensin
25. Radio HT
26. Program depth charge
27. P3K
28. Blanko toolbox meeting
29. Helm + sarung tangan + sepatu
30. Kacamata
31. Masker hidung
32. Parang
G. Shooter Produksi
Kru shooter bertugas untuk meledakkan shoot point. Peralatan yang di bawa adalah
blaster master-slave untuk memberikan arus untuk meledakkan detonator. Dalam satu
kru shooter terdapat seorang shooter yang bekerja dibawah partai Elnusa. Shooter yang
bekerja harus mempunyai lisensi sebagai shooter. Blaster slave dilengkapi dengan radio
frekuensi sebagai alat komunikasi, penerima sinyal untuk meledakkan deto dari Labo,
dan mengirim data seperti uphole time dan confirm time break ke Labo. Kru shooter juga
membawa firing line yang terdiri dari dua line, yaitu untuk dihubungkan ke kabel deto
dan satu lagi untuk dihubungkan dengan up hole geophone. Kru shooter juga harus
membawa pancing untuk mempermudah mengambil O Ring yang ditanam di lubang SP.
Peralatan yang bibawa adalah:
1. Baterai kering
2. Blaster slave
3. Firing line
4. Geophone up hole
5. Capsim
6. Tool set
7. Planting hole
8. Pancing lubang
9. Antena pecut (antenna Ringo)
10. Radio HT
11. Program kerja
12. P3K
13. Blanko toolbox meeting
14. Helm + sarung tangan + sepatu
15. Kacamata
16. Masker hidung
H. Team Repeater
Kru repeater bertugas untuk memasang antena repeater. Kru repeater juga mendirikan
tower untuk memasang antena. Pada area yang tidak memungkinkan untuk mendirikan
tower, antena juga dapat dipasang di atas pohon. Penempatan repeater harus
diperhitungkan agar dapat menghubungkan kedua belah pihak yang berkomunikasi.
Ketinggian repeater juga harus lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi di sekitarnya.
Peralatan yang bibawa adalah:
1. Antenna repeater
2. Radio repeater
3. Tali labrang
4. Conector + spare jumper conector
5. Kabel antena
6. Paku ground + kabel ground

ラーミ ヒダヤティ Page 21


7. Baterai + jumper power
8. Harness (tali pengaman)
9. Tool set (kunci-kunci, contact cleaner)
10. Radio HT
11. Program kerja
12. P3K
13. Blanko toolbox meeting
14. Helm + sarung tangan + sepatu
15. Kacamata
16. Masker hidung
I. Kru Baterai
Kru baterai bertugas untuk memasang baterai pada LAUL atau LAUX di lintasan. Satu
kru bertugas untuk memasang satu baterai dan dipimpin oleh seorang mandor telepon.
Satu kru membawa spare dua string geophone dan satu roll kabel link. Selain memasang
kabel, kru mandor telepon juga bertugas untuk melakukan trouble shooting dan menjaga
noise di lintasan.

Pembentangan Kabel dan Penanaman Geophone


Pembentangan kabel adalah pekerjaan tahap pertama pada recording. Pembentangan kabel
dilakukan oleh kru bentang. Satu kru bentang dapat membawa 8 roll kabel link dan 32 string
geophone. Tugas kru bentang adalah menyambungkan kabel dan geophone dengan baik
sesuai dengan lintasan dan tracenya. Satu orang kru bentang biasanya membawa satu roll
kabel link atau dua string geophone.
Setelah pembantangan maka pekerjaan seklanjutnya adalah penanaman geophone yang
dilakuakann oleh kru rojok. Peralatan yang dibutuhkan antara lain adalah super planter untuk
membuat lubang tempat geophone akan ditanam, planting hole untuk menanamkan geophone,
dan tali chaining untuk mengukur jarak antar geophone agar sesuai dengan parameter yang
telah ditentukan.

Penanaman Geophone (Rojok)

ラーミ ヒダヤティ Page 22


Hal yang harus diperhatikan pada penanaman geophone adalah:
- Kedalaman geophone harus tepat, tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu jauh, yaitu
geophone tertanam pada koplingnya sehingga geophone dapat menerima siyal getaran
seismik dengan baik.
- Posisi geophone harus tegak agar geophone dapat menerima gelombang seismik dengan
maksimal.
- Penanaman geophone harus hati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan.
- Tidaklah bagus apabila geophone yang ditanam mengenai agar, karena dapat
menimbulkan noise apabila pohon akar tersebut bergoyang tertiup angin.

A. Jenis Bentangan
1. Bentangan Normal
Pada satu string geophone atau satu trace terdapat 18 buah geophone. Pada bentangan
normal jarak antara geophone pertama dengan geophone ke-18 adalah:
JarakAntarTrace – JarakAntarTrace × JumlahGeophonePerTrace
Karena jarak antar trace adalah 30 m maka jarak antara geophone pertama dengan
geophone ke-18 adalah 28,33 m, maka jarak antar geophone adalah 28,33m/(18-1)
atau sama dengan 1.667 m.
Posisi bentangan geophone sejajar dengan lintasan sehingga semua geophone yang
terbentang berada tepat dilintasan.
2. Bentangan Simetri
Apabila geophone tidak dapat dibentang normal maka alternatif pertama yang
dilakukan adalah membentang geophone secara simetri. Pada prinsipnya
membentang geophone secara simetri sama dengan membentang geophone secara
normal, hanya saja jarak antar geophone yang diperkecil, tetapi jarak antar geophone
yang satu dengan yang lainnnya harus sama.
Membentang geophone secara simetri dapat disebabkan karena trace berada di dekat
jalan, sungai, kanal atau sebab-sebab yang lain yang dapat menyebabkan geophone
tidak dapat dibentang secara normal.Kekurangan bentangan simetri adalah
menyebabkan geophone lebih sensitif terhadap noise dan lebih mudah mendeteksi
ground roll dibandingkan apabila geophone dibentang secara normal.
3. Bentangan Group
Membentang geophone secara group adalah alternatif terakhir apabila goephone
tidak dapat dibentang secara normal maupun simetri. Penyebab geophone dibentang
secara group sama dengan halnya mengapa geophone dibentang secara simetri, yaitu
diantaranya karena geophone berada di dekat jalan, sungai atau kanal dan lintasan
juga berpotongan dengan jalan, sungai atau kanal tersebut.
Bentangan yang di group adalah yang paling sensitif terhadap noise dari luar dan
ground roll karena jarak antar geophone yang berdekatan. Tetapi bentangan group
juga lebih sensitif dalam menerima getaran seismik. Dalam monitor record dapat
terlihat bahwa bentangan yang digroup akan menghasilkan amplitudo getaran yang
lebih besar dan relatif lebih lama dalam mendeteksi getaran.
Parameter bentangan group adalah geophone ditanam secara melingkar dengan
diameter lingkaran sebesar 1 m. Harus diatur sedemikian rupa agar jarak antar
geophone sama besar.
B. River Crossing
River Crossing dilakukan apabila lintasan berpotongan dengan sungai yang cukup lebar
sehingga kita tidak dapat menghubungkannya dengan menggunakan kabel link. Bisanya
pada River Crossing terdapat trace yang mati karena trace tersebut berada di tengah-

ラーミ ヒダヤティ Page 23


tengah sungai dan tidak memungkinkan untuk di kompensasi maupun di offside.
Pada River Crossing kita menggunakan kabel transverse yang panjangnya dapat
mencapai 200 – 300 m. kabel tranverse tersebut menghubungkan antara dua Laux yang
masing-masing berada di kedua sisi sungai yang saling berseberangan. Kabel transverse
tersebut terhubung pada port transverse Laux, apabila kabel transverse tersebut
terhubung dengan port Left Transverse pada salah satu Laux maka pada Laux yang
satunya lagi harus terhubung pada port Right Transverse.
Hal yang sangat penting dan berbahaya pada pengerjaan River Crossing adalah
pembentangan kabel transverse di sungai. Pembentangan kabel transverse adalah dengan
menggunakan perahu kecil. Pada perahu tersebut telah dipasang sebuah roda besar untuk
menggulung ataupun untuk mengulur kabel. Pada saat pengangkatan kabel seringkali
terjadi kabel tersangkut di dasar sungai. Apabila hal ini terjadi maka hal yang terpaksa
dilakukan adalah memotong kabel transverse tersebut.

Pemasangan Instrumen Recording (Sercel SN408XL)


A. Pemasangan Instrumen 2D
Labo dihubungkan ke lintasan dengan menggunakan kabel transverse. Kabel transverse
dari Labo dihubungkan dengan LAUX yang berada di lintasan. Apabila kabel transverse
dihubungkan di port right transverse di Labo, maka pada LAUX kabel transverse
tersebut dihubungkan ke port left transverse dan demikian juga apabila dilakukan hal
sebaliknya. Kemudian LAUX akan terhubung dengan kabel link FDU melalui port High
Line dan Low Line. Port high line terhubung ke trace besar sedangkan low line
terhubung ke trace kecil.
Di setiap 10 kabel link atau sama dengan setiap 40 trace atau FDU dari LAUX
dipasangan LAUL. Sebenarnya jumlah FDU maksimal adalah 60 FDU dengan panjang
kabel antar FDU 30 m, 48 FDU dengan jarak kabel antar FDU 55 m, dan 40 FDU jika
panjang kabel antar FDU 75 m. Namun dengan bertambahnya usia dari kabel dan
instrumen yang lain maka kerakteristik tersebut akan berkurang. Maka untuk
menghindari kegagalan pada saat perekaman maka kita menggunakan parameter yang
berada di bawah kemampuan maksimal instrumen.
Apabila LAUX tidak tersedia, maka posisi LAUL dapat digantikan dengan LAUX tetapi
sebaliknya kita tidak dapat menggantikan fungsi LAUX dengan LAUL.

Pemasangan instrument pada survey 2D

ラーミ ヒダヤティ Page 24


B. Pemasangan Instrumen 3D
Pada perekaman 3D terdapat lebih dari satu lintasan yang aktif pada satu titik tembakan.
Dalam satu lintasan dibutuhkan minimal satu buah LAUX. LAUX berfungsi untuk
menghubungkan lintasan yang satu dengan lintasan yang lain, dan juga burfungsi untuk
menghubungkan Labo ke kabel di lintasan. Koneksi antar lintasan melalui port Left
Transverse dan Right Transverse pada LAUX, kabel yang digunakan adalah kabel
transverse.
Lintasan-lintasan pada perekaman 3D adalah sejajar dan jarak antar lintasan adalah
saman antara lintasan yang satu dengan yang lainnya.
Yang perlu untuk diperhitungkan adalah jumlah channel aktif maksimal. Kabel
transverse mempunyai kemampuan maksimal untuk 2000 channel aktif. Sedangkan satu
line mempunyai kemampuan 1000 channel aktif.

Channel aktif maksimum

Pemasangan instrument pada survey 3D

ラーミ ヒダヤティ Page 25


Intrument Test (Sercel SN408XL)
Intrument Test dilakukan setiap hari sebelum perekaman dilakukan. Intrument Test dilakukan
untuk memeriksa apakah FDU yang digunakan dalam kondisi bagus atau tidak. Semua FDU
yang digunakan pada hari itu harus sudah menjalani Daily Instrument Test. Hasil Instrument
Test pada panel Numeric disimpan sebagai bukti Instrument Test telah dilakukan.

Tampilan window Test Setup

Untuk melakukan Instrument Test posisi Tab harus berada pada posisi Instrument. Hasil tes
akan keluar pada tampilan Numeric dan Graphic. Pada kotak Absolute Spread kita
menspesifikasikan posisi line dan receiver yang ingin di tes. Kotak Aux Descr digunakan
untuk mendeskripsikan auxiliary channels yang ingin di tes. Gain yang ingin digunakan pada
Instrument Test dapat dipilih apakah menggunakan G1 atau G2. Record Length / panjang
perekaman dapat dipilih dari 1 – 99,9 detik. Tetapi pada tes Instrument Crosstalk panjang
perekaman minimum adalah 5 detik pada Sample Rate 2 ms. Pada Daily Instrument Test kita
harus merekam datanya, sehingga posisi pada tombol pilihan Record adalah Yes.
Jenis-jenis tes yang dilakukan adalah:
1. Instrument Noise (µV)
Selama tes channel input di short dengan menggunakan resistor internal. Geophone tidak
terpasang.
2. Instrument Distortion (dB)
Selama tes geophone tidak terhubungkan. Generator pada FDU digunakan sebagai input
channel yang sedang di tes.
3. Instrument Crosstalk (dB)
Tes ini terdiri dari dua tahap. Selama tahap pertama generator tes memberikan sebuah
sinyal sinusoidal ke test network pada setiap FDU genap. Converter ADC pada setiap
FDU ganjil mengukur tegangan yang dihasilkan pada test network-nya. Generator tes
pada setiap FDU ganjil tidak diaktifkan. Kemudian pada tes tahap kedua sinyal
sinusoidal diberikan pada setiap FDU ganjil dan tegangan yang dihasilkan diukur pada
tes network setiap FDU genap.

ラーミ ヒダヤティ Page 26


4. Instrument Gain/Phase Error (%)
Tes ini memberikan error maksimum pada amplitudo dan fase. Geophone tidak terpasang.
Generator yang berada di dalam FDU digunakan sebagai input channel yang sedang dites.
5. Common Mode Rejection (dB)
Selama tes, geophone tidak terpasang. Generator yang berada di dalam FDU digunakan
sebagai input channel yang sedang dites.
Apabila setelah dilakukan Instrument Test ternyata ada FDU yang rusak maka harus
dilakukan pergantian. Setelah pergantian FDU dilakukan maka dilakukan Instrument Tes
ulang. Instrument Test sangat penting karena hasilnya mencerminkan kualitas alat yang
digunakan.

Penembakan (Sercel SN408XL)

Tampilan window Operation

Ketika pilihan SOURCE dipilih pada menu Preference, maka pada panel utama Operation
menyediakan sebuah tabel yang berisi informasi akuisisi dari data dan memungkinkan
observer untuk memilih source point yang akan ditembak. Disebelah bawah panel terdapat
hasil dari akuisisi dan informasi proses akuisisi data tersebut, yaitu Internal Time Break (ITB)
dan Transmit Error.
Transmit Error (TE) terjadi apabila satu atau lebih kesalahan pada proses transmisi data
terdeteksi pada Line. Internal Time Break (ITB) menunjukkan bahwa 408XL gagal menerima
Time Break dan juga Time Break Window. ITB dihasilkan setelah Time Break Window
mengikuti setelah Firing Order seleasi, dengan akurasi ± 5 ms.

Tampilan panel Result pada window Operation

ラーミ ヒダヤティ Page 27


Transmit Error (TE) terjadi apabila satu atau lebih kesalahan pada proses transmisi data
terdeteksi pada Line. Internal Time Break (ITB) menunjukkan bahwa 408XL gagal menerima
Time Break dan juga Time Break Window. ITB dihasilkan setelah Time Break Window
mengikuti setelah Firing Order seleasi, dengan akurasi ± 5 ms.
TB Window adalah interval waktu yang mulai ketika 408XL mengirim sebuah Firing Order
(FO). Selama TB Window, 408XL menunggu TB dari shooting system. Jika TB muncul
dalam interval tersebut, kemudian akuisisi dimulai. Jika TB tidak muncul maka 408XL
membuat sebuah Internal TB (ITB) dan akuisisi dimulai.
Tabel operasi source harus didefinisikan dengan menggunakan panel Source Operation Setup
pada menu Preference. Kolom pada panel utama Operation adalah sama seperti pada panel
Operation Setup
Selama akuisisi sebuah pesan ASCII diterima dari kotak blaster (melalui adaptor XDEV pada
Auxiliary line) yang terdiri dari nilai:
1. Uphole Time (UHT)
Uphole Time adalah waktu pulsa dari ledakan terdeteksi oleh uphole. Ditentukan dengan
menganalisa sinyal dari geophone uphole.
2. Confirmed Time Break (CTB)
CTB adalah banyaknya waktu dari arus yang mengalir ke detonator lebih besar dari 4
amps. Mulainya arus mengalir adalah sebagai awal dari Time Break.
Panel Process Type Setup digunakan untuk menyediakan informasi dari tipe pemprosesan
data. Record Length (1,0 – 99,9 detik) adalah lamanya waktu perekaman data. Pada model
Impulsive, waktu ini sama dengan lamanya akuisisi data. Refraction Delay (0 – 64.000 ms)
adalah selisih waktu antara Time Break yang diterima oleh 408XL dengan dimulainya
akuisisi. TB Window (0 – 64.000 ms) adalah interval waktu yang dimulai ketika 408XL
mengirim sebuah Firing Order (FO). Selama TB Window, 408XL menunggu TB dari
shooting system. If TB muncul pada interval tersebut maka akuisisi dimulai. Jika tidak maka
408XL akan menghasilkan sebuah Internal TB (ITB) dan akuisisi dimulai. AUX Process
Descriptor adalah untuk mendefinisikan proses yang ingin dilakukan pada channel auxiliary.

Tampilan menu Process Type Setup pada window Operation

Panel Process Type Setup seperti yang di bawah terdiri dari sebuah tabel yang berisi
karakteristik dari perencanaan Shot Point secara berurutan.

ラーミ ヒダヤティ Page 28


Tampilan menu Operation Source Setup pada window Operation

Spread Option memungkinkan kita untuk memilih antara “Absolute” dan “Generic”. Dengan
memilih “Absolute” kita harus menspesifikasi spread dari akuisisi yang akan digunakan
secara komplit untuk setiap tembakan. Ketika kita mengisi file SPS ke database pada dengan
menggunakan Log, maka akan secara otomatis akan mengaktifkan tabel operasi dengan
menggunakan spread Absolute.
Sebuah spread “Generic” akan mendeskripsikan pola dari channel aktif. Generic sangat
berguna jika pemprograman spread diselesaikan secara manual dan kita tidak ingin
mengubah deskripsi setiap kali spread bergeser.
Shot/Vp Id adalah untuk nomor Shot point atau Vibrated Point. Break Point adalah untuk
memberikan identitas apakah pada Shot Point tersebut sudah dilakukan penembakan atau
belum. Source Line untuk menandakan pada Line berapa sumber getaran atau Shot Point
berada. Source Receiver adalah untuk menandakan pada Line berapa Receiver atau geophone
berada. Sfl, Spread First receiver Position Number, adalah Receiver Position atau nomor
trace terendah pada spread. Pada generic spread Sfn diisi oleh operator, sedangkan pada
absolute spread Sfl secara otomatis akan dihitung oleh sistem.
Dengan menekan tombol GO maka Firing Order akan terkirim. Dengan menekan ABORT
maka akan menginterupsi shot point yang sedang ditembak setelah proses akuisisi selesai.
Sebuah kotak dialog akan tampil dan memberikan pilihan apakah ingin merekam data atau
menggagalkan shot point. Pilih OK jika ingin merekam akuisisi. Jika memilih CANCEL
maka proses akuisisi tidak akan direkam.
Selama penembakan dapat terjadi kegagalan-kegagalan atau disebut juga dengan Misfire.
Ada Misfire yang terjadi sehingga harus dilakukan redrill, dan ada juga yang tidak.
Misfire yang terjadi sehingga harus dilakukan redrill diantaranya adalah:
1. Dead Cap
Dead Cap terjadi karena detonator tidak aktif, atau dapat juga terjadi karena kabel
detonatornya terlepas atau open. Dapat terdeteksi dengan nilai hambatan detonator yang
terukur pada blaster yang terlalu besar.
2. Short Wire
Short Wire terjadi karena kabel detonator terkelupas dan terhubung dengan kabel
pasangannya dai polaritas yang berbeda. Short Wire terdeteksi dengan nilai hambatan
detonator yang terukur pada blaster terlalu kecil.
3. Lost Wire
Lost Wire atau hilangnya kabel detonator dapat terjadi karena dua hal. Yang pertama
dapat terjadi karena kabel detonator tersebut terperosok ke dalam lubang sehingga tidak
mungkin lagi untuk diambil. Atau dapat juga hilang karena diambil atau ditarik oleh

ラーミ ヒダヤティ Page 29


orang secara sengaja maupun tidak sengaja. Biasanya ada beberapa orang warga
setempat yang sengaja mengambil kabel detonator tersebut untuk dijual.
4. Lost Hole
Lost Hole atau hilang lubang dapat terjadi karena hilangnya patok shot point sehingga
shooter tidak dapat mencari posisi lubang tembak. Adanya kompensasi dan offside akan
mempertambah sulit shooter dalam mencari lubang tembak terutama apabila patoknya
hilang.
5. Cap Only
Cap Only terjadi karena pada saat penembakan hanya detonatornya saja yang meledak
sedangkan bahan peledaknya tidak, sehingga getaran yang dihasilkan tidak cukup kuat.
6. Weak Shot
Weak Shot terjadi karena hanya sebagian dari bahan peledak saja yang ikut meledak
sehingga getaran yang dihasilkannya lemah.
7. No CTB & UHT
No CTB & UHT terjadi karena 408XL tidak dapat menerima Confirm Time Break dan
Uphole Time dari blaster slave. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya
adalah karena komunikasi radio yang buruk. Komunikasi radio yang buruk dapat
menyebabkan No CTB & UHT dikarenakan pengiriman data CTB dan UHT dari blaster
slave ke blaster master di LABO adalah melalui transmisi radio. No UHT dapat terjadi
karena shooter tidak memasang geophone Uphole dengan baik.
8. DAS (Dead After Shot)
DAS adalah kegagalan yang muncul setelah penembakan dilakukan. Sebelum
penembakan dilakukan tidak ada kerusakan pada detonator yang terukur. Tetapi setelah
penembakan dilakukan terjadi kerusakan pada detonator yang terdeteksi.
9. Low Frequency
Low Frekuency terjadi karena rendahnya frekuensi yang dihasilkan oleh sumber getar.
Low Frequency menyebabkan data yang terekam tidak bagus. Low Frequency dapat
disebabkan karena areanya yang menyerap energi dari sumber getar, atau karena
penanaman bahan peledak yang kurang dalam.
10. Line Cut
Line Cut terjadi karena adanya kegagalan pengiriman data melalui kabel pada saat
akuisisi data sehingga sebagian data hilang. Line Cut biasa terjadi karena transmission
error yang disebabkan oleh efek statik. Efek statik sering terjadi apabila cuaca mendung
atau berawan. Efek statik dapat terjadi pada saat proses akuisisi berlangsung sehingga
sulit untuk diprediksi.
11. Wrong Spread
Wrong Spread terjadi karena tidak cocoknya antara shot point yang ditembak dengan
channel yang aktif. Wrong spread dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah
karena adanya kesalahan pada pemprograman yang dilakukan oleh operator Labo.
Wrong Spread juga dapat terjadi karena kesalahan posisi yang dilakukan oleh shooter.
Wrong Spread dapat dihindari dengan mencek program sebelum penembakan, dan
mencek posisi shooter.
12. Lost Record
Lost Record terjadi karena kegagalan dalam merekam data ke dalam cartridge setelah
data berhasil diakuisisi. Lost Record dapat terjadi karena recorder sedang di bypass, atau
juga dapat terjadi karena konektivitas yang tidak baik antara cartridge dengan PRM.

ラーミ ヒダヤティ Page 30


Cek Lintasan/Check Trace (SN408XL)
Cek lintasan dilakukan sebelum dilakukan perekaman. Cek lintasan dilakukan untuk
memeriksa kondisi kabel, FDU, geophone, LAUX, LAUL, dan baterai dil lintasan. Cek trace
dilakukan di Labo, kemudian Labo mengintruksikan kepada observer line atau mandor
telepon di lintasan untuk melakukan trouble shooting sesuai dengan analisa yang dilakukan di
Labo.
Di labo, cek lintasan dilakukan dengan menggunakan window Line pada software Solaris
yang digunakan. Dengan menggunakan window Line kita dapat melihat kegagalan pada
instrumen di lintasan, baik kabel, FDU, geophone, LAUX, LAUL, dan baterai. Kegagalan
tersebut diindikasikan dengan warna merah pada lambang instrumen pada window Line. Kita
juga dapat melihat nilai numeriknya.

Tampilan window Line

Keterangan:
(1) Tab untuk memilih tampilan yang diinginkan.
(2) Indikator warna merah akan muncul pada tab apabila terjadi kegagalan pada tampilan
tersebut.
(3) Peinrtah untuk membuka sebuah clone dari window utama Line. Pada panel clone kita
dapat memilih tampilan yang berbeda.
(4) Tombol ini digunakan untuk memilih tipe tes yang ingin dilaksanakan. Hasil tes dapat
ditampilkan dengan menekan tombol GO.
(5) Tab untuk memilih tampilan grafik dan numerik.
(6) Tombol untuk mematikan dan menghidupkan power supply ke line.
(7) Menampilkan banyaknya elemen yang mengalami kegagalan, dan banyaknya elemen
yang terdeteksi.
(8) Lokasi pointer mouse yang berada di panel grafik.
(9) Legenda: menampilkan batasan Quality Control yang telah diprogram sebelumnya.
Pada tampilan grafik, elemen yang dites akan berwarna hijau jika elemen tersebut
berada pada limitnya, dan akan menunjukkan warna merah atau biru apabila berada
diluar limit yang telah ditentukan.
(10) Tombol zoom out yang akan menampilkan faktor zoom sebelumnya.
(11) Tombol view all yang akan menghilangkan zoom.

ラーミ ヒダヤティ Page 31


Terdapat tiga pilihan tampilan pada window Line, yaitu topographic view, numeric view,
dan histogram view.

A. Topographic View

Tampilan window Line Topographic View

Pada tampilan Topographic kita dapat melihat hasil cek elemen di lintasan dalam bentuk
grafik. Kita dapat memilih informasi yang akan ditampilkan, diantaranya adalah:
- informasi dari survei
- informasi unit-unit di lapangan
- informasi dari level noise
Dengan mengklik tombol GO pada tampilan Sensors dan Instrumen maka akan dilakukan tes
QC yang dipilih pada unit yang telah dipilih. Apabila tidak ada unit yang dipilih, maka tes
akan dilakukan pada seluruh survei. Hal ini akan menghapus hasil tes sebelumnya, dan unit-
unit akan menampilkan warna biru sampai tes selesai dan hasil tes yang baru tersedia.
Apabila kita melakukan tes dan terdapat unit yang berwarna abu-abu hal tersebut berarti unit
tersebut sibuk. Apapun tampilan informasi yang ditampilkan, hasil tes yang lain hanya perlu
dilakukan dengan satu kali klik.

1. Tampilan Sensors

Tampilan window Topographic View tab Sensor

Dari tampilan ini kita dapat melihat tipe dari sensor yang digunakan, dan hasil tes yang
dilakukan dari seluruh survei yang digunakan. Pada partai ini tipe sensor yang digunakan
hanya geophone. Jenis tes yang dapat dilakukan antara lain:

ラーミ ヒダヤティ Page 32


- Resistance :
Tes Resistance/hambatan dilakukan untuk melihat apakah hambatan geophone berada
pada batas yang telah ditentukan. Batasan hambatan yang dapat ditoleransi adalah 1.200
– 1.800 Ohm. Apabila geophone masih dalam toleransi tersebut maka tampilan sensor
akan berwarna hijau, apabila hal yang sebaliknya terjadi maka sensor akan berwarna
merah.
Hambatan geophone dapat lebih kecil dari 1.200 Ohm akibat geophone tersebut
terguncang akibat adanya aktivitas di sekitar geophone tersebut, atau dapat juga
disebabkan karena terjadi short di goephone tersebut. Sedangkan hambatan geophone
yang lebih besar dari 1.800 Ohm akibat terjadinya mati separuh/half dead pada geophone.
Mati separuh tersebut dapat terjadi karena adanya open pada geophone.
Apabila terjadi kegagalan pada hambatan geophone maka solusi yang pertama dilakukan
adalah melihat apakah ada aktivitas di lintasan tang menyebabkan geophone bergetar,
apabila tidak ada maka langkah berikutnya adalah dengan mengganti geophone tersebut
dengan yang baru.
- Tilt :
Tes Tilt dilakukan untuk melihat kualitas dari rojokan. Tes Tilt akan menunjukkan
kegagalan apabila geophone dirojok tidak dengan posisi tegak. Geophone yang yang
belum dirojok juga akan menunjukkan kegagalan pada tampilannya yang diindikasikan
dengan warna merah.
Apabila terjadi kegagalan pada Tilt maka hal pertama hal pertama yang dilakukan adalah
mencari informasi apakah geophone tersebut sudah dirojok atau belum, apabila
geophone tersebut sudah dirojok tetapi masih menunjukkan kegagalan Tilt maka solusi
berikutnya adalah dengan melakukan rojok ulang.
- Leakage
Tes Leakage adalah untuk memeriksa apakah ada kebocoran arus pada geophone.
Leakage dapat terjadi karena kabel geohone yang terkelupas atau casing geophone yang
pecah. Kasus leakage lebih banyak terjadi pada lokasi yang berair. Leakage juga dapat
terjadi apabila kepala take out geophone kotor. Leakage juga dapat terjadi apabila ada
aktivitas dilapangan yang menyebabkan geophone bergetar.
Solusi pertama yang dilakukan apabila terjadi kasus leakage adalah dengan
membersihkan take out geophone, apabila hal tersebut sudah dilakukan tetapi leakage
masih terjadi maka harus dilakukan pergantian geophone. Kasus leakage dapat dikurangi
dengan memastikan konektor antara take out geophone dengan FDU tidak basah, yaitu
dengan menggantung FDU tersebut dan melindunginya agar tidak terkena tetesan air
hujan.

2. Tampilan Seismonitor

Pada Seismonitor kita dapat melihat sinyal input dari sensor. Seismonitor menampilkan
spread yang aktif :
- Sensor yang aktif muncul sebagai kotak-kotak berwarna hijau,
- Sensor yang mati muncul sebagai kotak-kotak berwarna merah,
- Sensor yang di-mute muncul sebagai kotak-kotak berwarna biru tua,
- Trace yang tidak ada sensor di tampilkan dengan tanda tambah berwarna kuning.

ラーミ ヒダヤティ Page 33


Tampilan window Topographic View tab Sensor
Ketika seismonitor diaktifkan, tampilan ini memungkinkan kita untuk memonitor real-time
noise. Terdapat delapan tingkat besarnya noise pada setiap receiver dengan kenaikan sebesar
6 dB, tingkatan noise tersebut juga diwakilkan dengan tinggi dan warna (dari hijau sampai
merah) tergantung pada gain yang dipilih pada seismonitor. Warna merah adalah tingkat
skala tertinggi. Sedangkan warna hijau berarti tidak ada noise yang diterima oleh geophone.

Tampilan window seismonitor ketika penembakan


Dari seismonitor kita dapat melihat noise-noise yang terdeteksi oleh geophone. Dengan
menggunakan gain 42 dB kita masih dapat melakukan penembakan walaupun masih terdapat
noise yang berwarna putih (-30 dB) sampai noise yang berwarna kuning (-18 dB), hal
tersebut dikarenakan getaran noise tersebut masih terlalu lemah dibandingkan dengan getaran
seismik yang ingin diukur. Namun harus diperhatikan noise yang konstan, seperti noise
akibat mesin, karena walaupun noise yang diterima kecil tetapi akan merusak data.
Sedangkan noise yang disebabkan oleh tegangan tinggi, walaupun terekan, masih dapat
dihilangkan dengan melakukan notch pada frekuensi tegangan tinggi tersebut (50 Hz di
Indonesia).

ラーミ ヒダヤティ Page 34


3. Tampilan Instrument

Tampilan ini menunjukkan konektivitas dari instrumen di lapangan yang berada pada survei.

Tampilan window Topographic View tab Instrument

Dengan memilih tampilan Instrumen kita dapat melihat hasil dari self-test yang muncul pada
panel grafik. Kode pewarnaannya adalah sebagai berikut :
- Hijau : Unit yang teridentifikasi dan hasil self-testnya benar
- Jingga : Unit yang teridentifikasi tetapi tidak ada self-test yang dilakukan, hal ini terjadi
karena ada masalah dalam transmisi.
- Merah : Unit yang tidak dapat digunakan karena self-testnya mengalami kegagalan.

Pilihan tampilan pada window tab Instrument

Apabila terjadi bad auto test pada FDU maka harus dilakukan pergantian kabel link. Sebelum
menggantinya kabel link maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mencek apakah
kabel link penggantinya dalam kondisi bagus. Kabel link yang baru tersebut diperiksa dengan
menyambungkannya pada line sehingga dapat dicek oleh Labo. Kabel tersebut disambungkan
ke line sebelum dibentang atau masih dalam keadaan tergulung. Setelah dicek dan hasilnya
bagus maka baru kemudian kabel link tersebut dibentang, disambungkan ke kabel berikutnya,
dan menyambungkan take out geophonenya ke FDU. Kabel lama yang rusak dikeluarkan,
diberikan pita merah dengan diberikan keterangan jenis kerusakan yang terjadi. Serial
Number kabel link yang rusak tersebut dicatat, demikian juga dengan nomor FDU yang
mengalami kerusakan. Hal tersebut untuk mempermudah proses perbaikan kabel link tersebut
yang dikerjakan di gudang Labo.
Apabila terjadi Transmit Error pada kabel diantara FDU maka akan direpresentasikan pada
panel Instrument dengan kabel penghubung antar FDU yang berwarna kuning. Transmit
Error terjadi apabila kabel tidak dapat mentransfer data dengan baik. Apabila terjadi transmit
error maka harus dilakukan pergantian kabel link. Apabila terjadi transmit error pada saat
perekaman dapat menyebabkan Line Cut.

ラーミ ヒダヤティ Page 35


4. Tampilan Batteries

Tampilan ini menunjukkan tampilan power supply unit yang berada di dalam survey.
Tombol di pojok atas kiri memungkinkan kita untuk menampilkan atau menyembunyikan
beberapa elemen.
Kita dapat mengatur tegangan baterai minimum yang digunakan di Line dengan
menggunakan Threshold. Apabila ada baterai yang berada di bawah batas minimum yang
telah kita tentukan maka tampilan baterai akan berwarna merah. Baterai yang lemah harus
dikeluarkan untuk diisi kembali. Pemasangan jumper baterai yang tidak bagus dapat
menyebabkan tegangan baterai yang terukur menjadi lebih kecil dari tegangan baterai yang
sebenarnya. Tegangan operasional LAUX dan LAUL adalah 10,5 – 15 Volt DC.

Tampilan window Topographic View tab Batteries

B. Numeric View

Pada tampilan numeric kita dapat melihat hasil tes yang diperoleh dalam bentuk numerik.
Apabila ada sensor, FDU, atau baterai yang mempunyai karakteristik diluar yang telah
ditentukan, maka nilai karakteristik sensor, FDU, dan baterai tersebut pada tabel akan
mempunyai latar belakang warna merah. Kita juga mempunyai pilihan untuk hanya
menampilkan yang memiliki kegagalan saja dengan memilih Only Error. Tipe data yang bisa
dipilih adalah:

1. Sensors

Dari tipe data sensor kita dapat melihat beberapa informasi, diantaranya adalah serial
number dari FDU tempat geophone dipasangkan, nomor lintasan, nomor trace, tipe sensor
(pada proyek Elnusa A5.43 menggunakan geophone), besar hambatan geophone (Ohm),
besarnya noise pada geophone (µV), nilai leakage geophone (MOhm), nilai tilt geophone
(%).

Tampilan window Numeric View tab Sensor

ラーミ ヒダヤティ Page 36


2. Instruments

Dari tampilan ini kita bisa melihat nilai-nilai karakteristik dari FDU seperti Serial Number,
nomor Line, nomor trace, status Auto Test, besarnya Distorsi (dB), Noise (µV), Common
Mode Rejection Ratio (dB), Gain Error (%), dan Phase Error (µs).

Tampilan window Numeric View tab Instrument


3. History

Di History kita dapat melihat Serial Number, nomor Line, nomor trace dari instrumen
(Control Module, FDU, LAUX, LAUL) dan juga tanggal beserta waktu alat-alat tersebut
terlihat pertama dan terakhir kali pada survey.

Tampilan window Numeric View tab History

C. Histogram View

Kita dapat melihat hasil dari Sensor Tests dan Instrument Test dalam bentuk grafik pada
panel utama Histogram View.

Tampilan window Historic View

ラーミ ヒダヤティ Page 37


Penyimpanan Data (Sercel SN408XL)
Penyimpanan data dilakukan pada dua buah tape. Perekaman tape menggunakan Cartridge
Drive yang terhubung dengan Processing Module (PRM). Pada Cartridge Drive tersebut
terdapat dua buah device, dimana masing-masing device untuk merekam pada satu tape.
Sebelum perekaman dilakukan, harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya
adalah:
1. Cartridge Drive sudah dibersihkan dengan menggunakan cleaner sehingga tidak terjadi
kegagalan dalam perekaman karena Cartridge Drive kotor.
2. Tape yang akan direkam sudah dimasukkan ke dalam Cartridge Drive dan dalam
keadaan Ready.
3. Pengaturan Recorder pada posisi Data.
4. Memeriksa apakah nomor tape dan Record Number sudah sesuai.
5. Setelah penembakan harus diperhatikan indikator Recorder apakah perekaman dapat
berlangsung dengan baik atau tidak.

Tampilan menu Records Setup

Dengan menggunakan Record Setup kita dapat mengatur Record Number dan Test Record
Number, nomor tape, dan juga jumlah file maksimum dalam setiap tape. Test Record Number
digunakan untuk penomoran file Instrument Test. Apabila kita memasukkan angka 202 pada
Record Number, maka file pertama akan memiliki nomor 202 dan file berikutnya akan secara
otomatis naik satu nilai menjadi 203 dan begitu seterusnya, begitu juga halnya dengan Test
Record Number. Setiap harinya Test Record Number akan dimulai dengan angka 9001.
Namun pada Record Number akan melanjutkan angka pada hari sebelumnya.
Panel Recorder digunakan untuk mengontrol perekaman. Untuk dapat merekam pada tape,
kita harus memilih pilihan “Record on Tape” pada panel Install. Dengan menekan
“MANUAL” maka akan mengaktifkan tombol kontrol (INIT, EOF, AGAIN, dan

ラーミ ヒダヤティ Page 38


PLAYBACK) dan akan mengisolasi tahap recorder pada 408XL. Maka akuisisi data akan
tertahan sampai Recorder dipindahkan ke posisi AUTO kembali.

Tampilan window Recorder

Dengan memilih “AUTO” akan menghubungkan recorder stage ke stage sebelumnya pada
408XL. SCSI bus dapat dihubungkan sampai dengan empat buah recorder. Ketika sebuah
recorder terhubungkan dengan bus dan dihidupkan, sebuah lampu indikator akan muncul
pada panel “Device”. Lampu indikatornya ialah:
- Lampu indikator tidak muncul: hal ini mengindikasikan kalau recorder tidak
terhubungkan atau belum dinyalakan.
- Lampu indikator merah: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah
dinyalakan, tetapi cartridge belum dimasukkan.
- Lampu indikator jingga: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah
dinyalakan, dan cartridge sudahdimasukkan.
- Lampu indikator hijau: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah
dinyalakan, cartridge sudahdimasukkan, dan sedang digunakan untuk perekaman.
Ketika kita memilih ”MANUAL” maka pengoperasian secara manual seperti EOF, AGAIN,
dan PLAYBACK akan aktif.
1. EOF
Dengan memilih tombol ini maka akan menyebabkan End of File kedua yang akan
ditulis setelah file terakhir. Sebuah EOF akan secara otomatis tertulis pada akhir setiap
record. EOF yang kedua diinterpretasikan sebagai akhir dari tape. Hal ini akan
menyebabkan file count berubah kembali menjadi 0.
End of Tape juga akan secara otomatis muncul apabila jumlah file yang terekam pada
tape sudah mencapai batas maksimum yang telah ditentukan.
2. AGAIN
Dengan memilih tombol ini akan menyebabkan record yang sama akan ditulis kembali
ke tape yang baru, contohnya ketika terjadi kegagalan untuk menulis record secara
keseluruhan.
Ketika tombol “DATA” aktif, dengan menekan tombol AGAIN akan menyebabkan
record akan ditulis kembali ke dalam tape. Tetapi dengan tombol “TBP” yang aktif,
maka dengan menekan tombol AGAIN akan menyebabkan record di-playback pada

ラーミ ヒダヤティ Page 39


monitor record. Dengan tombol “File” yang aktif, dengan menekan tombol “AGAIN”
akan membuka MEDIA VIEW yang menampilkan disk space yang tersedia, dan
menampilkan nama dan ukuran file yang sudah disimpan.
3. PLAYBACK
Dengan menekan tombol PLAYBACK akan menampilkan sebuah kotak dialog yang
memungkinkan kita untuk memilih jenis Playback yang kita inginkan.

Tampilan menu Playback pada window Recorder

Tipe-tipe dari Playback yang tersedia adalah:


- Last Record
Digunakan untuk melakukan playback pada record yang sebelumnya. Tape akan
mencari header dengan Record Number yang sesuai dengan Record Number dari file
terakhir yang direkam. Last Record juga berfungsi untuk memposisikan record
terakhir pada akhir dari tape.
- Next Record
Next Record digunakan untuk melakukan playback pada record berikutnya.
- Forward
Forward digunakan untuk melakukan playback terhadap record yang berada setelah
posisi di tape pada saat itu.
- Backward
Sedangkan Backward digunakan untuk melakukan playback terhadap record yang
berada di posisi sebelumnya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah pengemasan tape hasil perekaman yang
ingin dibawa ke Basecamp. Setiap tape harus diberikan identitas seperti nomor tape, tanggal
perekaman, dan Record Number pada tape. Tape sangat rentan terhadap medan magnet.
Apabila tape terkena medan magnet yang cukup besar maka data yang berada pada tape dapat
rusak, sehingga tape harus dilindungi dari medan magnet. Tape hasil perekaman harus
dibungkus dengan alumunium foil agar tidak dapat ditembus oleh medan magnet. Kendaraan
yang membawa tape tidak diperbolehkan menyalakan radio karena akan speaker yang
menyala akan menghasilkan medan magnet. Tape juga harus dihindarkan dari medan magnet
lainnya seperti radio HT.

Data Processing
Pemrosesan data seismik adalah untuk mengolah data hasil perekaman yang merupakan
proses awal yang hanya membaca data produksi yang berada di dalam tape dari Labo. Data
ラーミ ヒダヤティ Page 40
dari Labo tersebut kemudian diolah menggunakan data koordinat topografi, sehingga
menghasilkan data berupa penampang melintang stack yang selanjutnya data ini akan
diproses.
Data yang disimpan dalam disket berupa XPS (informasi nomor record, Shot Point, dan
active channel), SEG (koordinat trace), SPS (informasi data mengenai uphole, waktu tembak,
dan SP), RPS (informasi nomor trace dan koordinat), OBS (data seperti laporan), dan RAW
(informasi mengenai kegiatan Labo).
Tahapan awal dalam pemrosesan data adalah pengecekan terhadap data yang terekam dalam
cartridge, disket, dan observer report. Setelah itu dilakukan proses geometri yaitu pemberian
titik koordinat pada data tersebut. Kemudian dilakukan pengecekan terhadap posisi
penembakan.
Setelah data mengalami pengecekan dan sesuai dengan kondisi semestinya, dilakukan tahap
preprocessing yaitu proses penyempurnaan data dengan cara true amplitudo recovery dan
deconvolution. Tahapan selanjutnya dengan melakukan velocity analysis, NMO, dan terakhir
proses brute satck. Penampang brute stack ini menampilkan model struktur lapisan bumi
berdasarkan domain waktu.
Ada beberapa contoh peranan topografi terhadap pengolahan data seismik antara lain:
1. Kontrol geometri
Sebagai contoh pemrosesan data memerlukan koordinat berformat SEG untuk penentuan
quality control geometri yang akan berpengaruh pada hasil stack (penjumlahan record
dari tiap trace yang berada pada CDP yang sama).
2. Koreksi statik
Koreksi statik ini menggunakan elevasi yang diukur oleh topografi. Koreksi ini
dilakukan untuk menyamakan datum dari receiver sehingga diperoleh arrival time yang
terletak pada satu bidang horizontal yang sama.
3. Plotting final stack
Pada plotting final stack dibutuhkan data crossing line yang berfungsi untuk mengikat
antara 2 line yang saling berpotongan. Lebih jauh lagi data crossing line ini dibutuhkan
interpreter untuk menginterpretasi awal supaya interpreter dapat melihat penampang
seismik baik itu secara inline maupun crossline secara tepat.
Hasil akhir dari pemrosesan data adalah berupa hasil stack yang merupakan gambaran yang
berada di bawah permukaan yang terekam oleh receiver dimana noise-noise yang ada sudah
difilter, sehingga hasil final stack ini dapat diinterpretasi lebih lanjut oleh interpreter.
Adapun untuk seismik 3D sebelum dilakukan pemrosesan, ada suatu program yang berfungsi
sebagai simulasi cakupan program penembakan yang dilakukan dengan menggunakan
software Messa. Pada seimik 3D juga tidak boleh ada titik yang hilang atau tidak ditembak,
sehingga kalau perlu titik yang hilang tersebut diganti. Aturan penempatan titik pengganti ini
disimulasikan oleh Messa untuk mendapatkan lokasi yang optimal, dan tentunya
berkoordinasi dengan topo mengenai lokasi di lapangan dari titik tersebut.
Proses data seismik meliputi tahap persiapan data, pre-processing, processing dan post-
processing. Perangkat lunak yang dipergunakan adalah:
1. ProMAX 2003 ver. 3,3 (perangkat lunak pengolahan data seismik),
2. SDI (perangkat lunak plotting)
3. GMG Millenium Version 5.4 (perangkat lunak perhitungan Refraction Static).

ラーミ ヒダヤティ Page 41


Sedangkan perangkat keras yang digunakan adalah:
1. Sun Blade 2000
2. Cartridge Drive 3490E
3. Exabyte Drive
4. Oyo Plotter GS-624
5. RAM 4 GB
6. External Harddisk 300 GB
7. Internal Harddisk 73.4 GB
8. PC Pentium IV/1.8 GHz, serta UPS 6 Kva.

Pre-processing
Proses yang dilakukan pada tahapan pre-processing adalah meliputi:
1. True Amplitude Recovery
Tahapan ini diperlukan untuk memulihkan kembali besaran-besaran amplitudo karena
kehilangan energi yang disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas agar seolah-olah energi
adalah sama pada setiap titik. Adapun proses pemulihan amplitudo ini adalah dengan
cara mengaplikasikan nilai koreksi amplitudo konstan dengan nilai koreksi sebesar 1,6
dB/sec.
2. Edit Trace
Prinsip dari proses editing ini adalah membuang atau menghapus sinyal-sinyal yang
tidak diinginkan (noise) dalam processing data seismik. Pada tahapan ini, ada dua buah
proses editing yang dilakukan, yaitu proses killing trace, dimana pada proses ini
dilakukan penghapusan trace-trace yang mengandung noise dalam bentuk 1 dimensi saja
(dimensi waktu).
Proses yang kedua adalah muting, dimana pada proses ini dilakukan pembuangan sinyal-
sinyal noise yang tidak diinginkan dalam bentuk 2 dimensi. Muting ini biasanya
membuang sinyal-sinyal noise yang muncul sebelum first break time. Adapun jenis mute
yang dipakai pada proyek ini adalah top mute.
Selain itu, proses muting ini juga dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengecek
(QC) hasil dari geometry assignment yang telah dilakukan sebelumnya. Apabila terjadi
kesalahan dalam proses geometry assignment, maka hasil plotting dari nilai-nilai mute
yang kita berikan akan tidak cocok dengan data. Hal ini terjadi dikarenakan bentangan
yang terjadi di lapangan berbeda dengan pattern yang telah kita set sebelumnya pada
geometry assignment. Jika terjadi kesalahan semacam ini, maka perlu dilakukan
perbaikan ulang pada proses geometri assignment dengan nilai-nilai pattern yang benar.
3. Filtering
Pada prinsipnya, frekuensi sinyal seismik di lapangan mempunyai bandwith yang cukup
lebar. Pada projek A5.43 ini bandwith frekuensi yang dihasilkan mempunyai range
frekuensi 1 – 250 Hz. Oleh karena itu, dari sekian range bandwith frekuensi yang
dihasilkan tersebut, tidak semuanya merupakan data-data sinyal seismik, sebagian
merupakan sinyal-sinyal noise. Untuk itu diperlukan suatu proses yang dapat
memisahkan range frekuensi antara sinyal sesimik dengan sinyal noise yang biasa

ラーミ ヒダヤティ Page 42


dikenal dengan proses Filtering. Band-pass filter adalah metoda yang mudah untuk
menekan noise yang ada di luar spektrum frekuensi dari sinyal yang diinginkan.
Adapun filter digital yang dipakai pada projek ini merupakan filter digital bandpas filter
dengan range nilai frekuensi 8 – 10 – 40 – 50 (Hz). Nilai parameter ini didapat dari hasil
try & error tes parameter di awal pengerjaan.
4. Dekonvolusi
Dekonvolusi dilakukan sepanjang sumbu waktu (time axis) yang bertujuan untuk
meningkatkan resolusi temporal dengan mengkompresi wavelet seismik asal sampai
mendekati bentuk spike dan meminimalkan reverberasi gelombang. Untuk itulah, maka
pada awal pengerjaan dekonvolusi diperlukan suatu time gate dimana di dalam gate
tersebut diusahakan tercakup nilai-nalai sinyal to noise rasio yang cukup baik agar
dihasilkan operator dekonvolusi yang tepat. Biasanya nilai signal to noise rasio yang
masih cukup baik terdapat antara first break time sampai beberapa milisecond di
bawahnya, dimana amplitudo sinyal masih dapat terlihat cukup kuat.
Adapun jenis dekonvolusi yang dipakai pada pengolahan data kali ini adalah tipe
spike/predictive dekonvolusi, dimana konsep dari metode ini yaitu dengan menggunakan
teori filter Wiener yang merupakan sebuah operasi matematik yang menganut azas
kuadrat terkecil dalam menjalankan operasinya.
5. Koreksi Statik
Tujuan dari koreksi statik ini adalah untuk menghilangkan pengaruh topografi terhadap
sinyal-sinyal seismik yang berasal dari reflektor. Pada flow ini dilakukan perhitungan
koreksi statik berdasarkan metode refraksi statik. Sebelum menjalankan refraksi statik,
user harus menjalankan subflow apply elevation statics terlebih dahulu untuk
menghasilkan harga koreksi statik source dan receiver.
Koreksi statik yang telah telah dihasilkan tersebut akan disimpan di dalam database
source dan receiver sebagai koreksi statik ketinggian (elevation statics), yang diperlukan
untuk perhitungan koreksi refraksi statik sisa (residual refraction statics).

Processing
Pada awalnya data seismik direkam dalam common-shot gather. Common-shot gather adalah
sekumpulan trace yang mempunyai atau berasal dari satu source point yang sama. Karena
pada umumnya pengolahan data seismik dilakukan pada domain common-midpoint (CMP),
maka data common-shot gather tadi disusun dan di-sort ke bentuk CMP gather. CMP gather
adalah sekumpulan trace yang memiliki titik tengah (midpoint) yang sama. Sebelum proses
stacking, masing-masing CDP gather dikoreksi dari efek perbedaan jarak offset yang disebut
Normal Move Out (NMO). Sebuah fungsi kecepatan yang disebut stacking velocity
dibutuhkan dalam koreksi NMO. Stacking velocity didapat dari sebuah proses yang disebut
velocity analysis.
Velocity Analysis adalah perhitungan dan penentuan fungsi kecepatan (stacking velocity)
dari pengukuran fungsi velocity normal move out. Perhitungan dibuat dengan
mengasumsikan fungsi kecepatan normal moveout (VNMO), menerapkannya ke CDP gather,
mengukur koherensi pada fungsi VNMO tersebut, dan mengubah fungsi VNMO untuk
mencari koherensi maksimal. Nilai-nilai koherensi ini diukur, dipetakan dan diberi skala

ラーミ ヒダヤティ Page 43


warna untuk proses velocity picking. Nilai-nilai koherensi yang telah dikontur disebut juga
dengan semblance.
Agar didapatkan nilai kecepatan yang tepat, maka picking velocity harus berdasarkan pada
tampilan beberapa panel yang muncul ketika melakukan picking velocity seperti panel
Semblance, panel CDP gather, panel Velocity Function Stack (VFS) dan panel Dynamic
Function dimana keempat panel tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang dapat
mempengaruhi hasil pemilihan kecepatan.
Semblance panel menampilkan nilai-nilai koherensi dari berbagai trace dalam kontur skala
warna sebagai fungsi waktu dan kecepatan. Warna kontur merah melambangkan nilai
semblance maksimum, sehingga melambangkan juga fungsi kecepatan NMO yang paling
tepat untuk mengkoreksi event seismik yang menghasilkan koherensi. Semblance panel
digunakan untuk menentukan fungsi stacking velocity, dengan cara memilih nilai-nilai
semblance yang paling tepat.
Gather panel juga digunakan dalam menentukan fungsi kecepatan. Gather panel
menampilkan super gather dari sejumlah CDP yang telah ditentukan. Super gather didapat
dari sejumlah CDP yang masing-masing tracenya di-stack secara common-offset, sehingga
menghasilkan hanya satu CDP gather, yaitu super gather.
Panel yang menampilkan deret trace-trace dari beberapa CDP yang telah di-stack disebut
panel Velocity Function Stack (VFS). Trace-trace ini dikoreksi untuk NMO dengan masing-
masing menggunakan fungsi kecepatan yang berbeda. Panel ini digunakan untuk memilih
fungsi kecepatan yang memberi respon data stack yang maksimum. Sehingga panel ini juga
bisa dijadikan sebagai referensi untuk melihat hasil koreksi NMO setelah diterapkan nilai
kecepatan dari proses picking velocity. Jika fungsi kecepatan yang digunakan tepat, event
seismik primer dalam gather panel akan terlihat datar. Jika kecepatan yang digunakan terlalu
rendah, maka event seismik primer dalam gather panel akan melengkung ke atas, sedangkan
jika kecepatan yang digunakan terlalu tinggi, maka akan melengkung ke bawah
Panel Dynamic Stack menampilkan pendekatan data stack yang dihitung dengan
menggunakan fungsi kecepatan yang telah dipilih. Panel ini digunakan sebagai kontrol
kualitas (QC) dari fungsi kecepatan yang dipilih. Keempat panel velocity analysis tersebut
digunakan sebagai acuan atau patokan dalam menentukan NMO velocity yang paling tepat
untuk digunakan dalam proses stacking.
Hasil akhir dari flow ini adalah suatu penampang post-stack, yang biasa disebut brute stack.
Penampang ini, pada dasarnya merupakan penampang post-stack yang pertama kali
dihasilkan dari suatu pengolahan data seismik dan disebut sebagai stack kasar (“brute stack”)
karena belum mendapat efek-efek lain dari pengolahan data seismik. Selain itu, parameter
kecepatan yang digunakan dalam brute stack ini juga belum sepenuhnya tepat. Brute stack ini
dihasilkan hanya untuk melihat gambaran awal dari suatu event seismik.

Post-processing
Proses yang dilakukan pada tahap post-processing meliputi:
1. Koreksi Residual Statik
Dalam flow ini akan dilakukan koreksi statik sisa, yang disebut residual statics
correction. Input dari flow ini pada dasarnya adalah koreksi statik ketinggian dari source

ラーミ ヒダヤティ Page 44


dan receiver yang telah dihasilkan sebelumnya dari subflow apply elevation statics di
dalam flow refraction statics. Sebelum masuk ke residual statics, flow pengolahan data
seismik masuk dulu ke trace display, agar dapat dilakukan static horizon picking yang
nantinya akan digunakan sebagai time gate pada pengaplikasian koreksi statik sisa
tersebut.
Static horizon picking dilakukan dengan membuat picks untuk satu ensemble traces pada
suatu time, dimana pada time tersebut diperkirakan akan terdapat event seismik yang
utama/dominan.
Setelah dilakukan picking autostatic horizon, kemudian hasil dari koreksi residual static
ini diaplikasikan kembali ke data preprocessing untuk di hitung ulang nilai kecepatannya
melalui analisa kecepatan tahap 2. Sehingga, setelah melalui tahapan proses ini
diharapkan data-data yang dihasilkan benar-benar sudah terkoreksi secara benar dan
menghasilkan penampang seismik yang benar-benar merepresentasikan keadaan bawah
permukaan bumi dengan tepat. Adapun tampilan dari hasil residual static serta analisa
kecepatan ke-2 ini dapat ditampilkan / di-display ke dalam display Final Stack.
2. Migrasi
Untuk mengkoreksi letak titik refleksi pada posisi sebenarnya maka digunakanlah
metode migrasi. Dalam flow ini akan dilakukan serangkaian tahap untuk
mengaplikasikan proses migrasi pada data, sehingga akan dihasilkan dataset terakhir dari
pengolahan data seismik ini berupa data yang telah dimigrasi (migrated data). Algoritma
migrasi yang akan diaplikasikan dapat dipilih sendiri oleh user, disesuaikan dengan
kebutuhan dan treatment dari data yang bersangkutan. Dalam panduan ini, metode yang
akan digunakan untuk migrasi adalah dengan menerapkan postack time migration
menggunakan finite difference time migration dengan max dip 70 derajat. Pemilihan ini
didasarkan pada hasil pemilihan atau try & error pemilihan parameter.
Sampai dengan tahap ini telah selesai dilakukan serangkaian tahap dalam melakukan
pengolahan data seismik postack time migration untuk tahap dasar, yaitu dari pembacaan
raw data seismik sampai dengan dihasilkannya data postack yang telah di migrasi.
Pada penampang postack hasil migrasi tersebut diatas, sangat terlihat adanya efek smile
atau swing. Efek tersebut dapat disebabkan oleh adanya noise dominan yang belum
dibersihkan secara optimal pada saat proses trace editing. Adanya hal tersebut sekaligus
untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa kurang optimalnya (atau bahkan kesalahan)
dalam pengolahan data seismik di suatu tahap (atau flow) akan sangat mempengaruhi
hasil pengolahan dari tahap lainnya, hingga pada akhirnya kesalahan-kesalahan itu akan
terakumulasi pada hasil akhir pengolahan data seismik, yang dalam konteks ini adalah
penampang postack hasil migrasi.
Sebagai tahapan akhir dari field processing, dilakukan suatu tahapan akhir berupa
plotting, dimana plotting ini dilakukan sebagai alat untuk menampilkan hasil akhir data
berupa penampang seismik dalam bentuk wiggle lengkap dengan attribut-atribut
keterangan yang menyertainya.

ラーミ ヒダヤティ Page 45


 RECORDING
Central Control Unit (Labo) SN408XL
Central Control Unit 408XL menggunakan UNIX sebagai sistem operasinya. Human Control
Interface atau HCI adalah suatu sistem yang memungkinkan terjadinya interaksi antara
Central Control Unit (CCU) dengan operator. Akuisisi data dapat dengan menggunakan satu
atau dua modul akuisisi CMXL untuk mencapai kapasitas maksimum yang mencapai 20.000
channel pada Sample Rate 2 ms.
Perekaman, plotting, proses correlation dan stack dilakukan oleh sebuah software tambahan
pada PRM atau Processing Module. PRM berkomunikasi dengan unit-unit lainnya dengan
menggunakan bus SCSI. HCI berhubungan dengan modul-modul lainnya dengan
menggunakan jaringan ethernet. Data yang mentah atau yang sudah diproses direkam pada
sebuah media magnet (cartridge drive). Proses filterisasi secara digital dapat dilakukan pada
data yang direkam atau data yang di-playback, untuk menampilkan notch-filtered atau
bandpass-filtered dari trace seismik pada sebuah plotter.
Peralatan tambahan seperti printer atau plotter dapat dihubungkan dengan central control unit
untuk menyediakan hard copy dari data, log operasi, dan parameter-parameter. Central
control unit mempunyai kemampuan untuk menampilkan sebuah monitor noise dari
keseluruhan spread dengan real time, tanpa adanya delay atau data yang hilang karena proses
yang tersegmentasi.
Dengan menggunakan SQC-Pro, sebuah perangkat lunak Quality Control seismik secara on-
line, Quality Control yang secara barlanjut dapat dilakukan secara paralel dengan akuisisi
data tanpa memperlambat pengoperasian pada pengambilan data 2-D maupun 3-D.

Human Control Interface (HCI)


Operator dapat mengontrol keseluruhan keseluruhan sistem dengan melalui sebuah Human
Computer Interface (HCI) yang terbuat dari sebuah workstation dengan sebuah monitor
dengan resolusi tinggi, sebuah keyboard, dan sebuah mouse.
Pada Sercel SN408XL Human Control Interface (HCI) menjadi satu kesatuan dengan sebuah
processing module (PRM). PRM yang digunakan adalah sebuah workstation Sun Blade 2000.
Fungsi utama sebuah HCI adalah:
1. Untuk mengontrol pengoperasian, mengatur parameter, mengubah dan menampilkan
keseluruhan sistem.
2. Menampilkan keseluruhan perangkat elektronik yang terhubungkan dengan central
control unit, termasuk auxiliary dan shot point.
3. Memilih dan mengatur spread, memonitor energi sebelum dan selama penembakan.
4. Menampilkan aktifitas dari keseluruhan sistem.
5. Menampilkan, menganalisa dan menyimpan hasil tes dari spread.
6. Membukukan secara otomatis data dari observer report.
7. Menampilkan grafik perencanaan posisi sumber dan penerima.
8. Menampilkan atribut sumber dan penerima dengan kode pewarnaan.

ラーミ ヒダヤティ Page 46


9. Mencetak semua parameter, dan hard copy dari laporan produksi harian dengan
menggunakan printer standar yang dipasangkan pada HCI.
10. Melakukan acceptance test dari central control unit secara otomatis.
Parameter yang dimasukkan melalui HCI akan di-download ke modul CMXL.

Port Belakang PRM

Control Module SN408XL

Control Module SN408XL

CMXL terdiri dari sebuah unit 408XL dan sebuah perangkat lunak PRM. Fungsi utama dari
sebuah modul 408XL adalah:
1. Sebagai interface antara central control unit dengan perangkat elektronik di lapangan.

ラーミ ヒダヤティ Page 47


2. Menghasilkan Firing Order dan menerima Time break.
3. Mengatur dan mengontrol line.
4. Mengontrol auxiliary line.
5. Mengumpulkan data dari perangkat elektronik lapangan.
6. Mengumpulkan data dari status sistem yang akan dikirim kembali ke HCI.

Tampilan Belakang CM SN408XL

Perangkat lunak PRM dapat dipasang pada workstation HCI, atau untuk kapasitas yang lebih
besar dapat disimpan pada terminal terpisah. PRM memiliki beberapa fungsi, diantaranya
adalah:
1. Menformat data dari atau ke cartridge drive, plotter dan SQC-Pro.
2. Mengedit noise.
3. Correlation dan stacking.
Sebuah 408XL mempunyai spesifikasi-spesifikasi sebagai berikut:
1. Temperatur penyimpanan: -40 sampai 70ºC.
2. Temperatur operasi: 0 sampai 40ºC.
3. Daya yang dibutuhkan: 110/220 V, 50/60 Hz, 450 W.
4. Konsumsi daya:
- 53 W dengan 1 pasang LCI/LMP
- 95 W dengan 2 pasang LCI/LMP
- 136 W dengan 3 pasang LCI/LMP
- 178 W dengan 4 pasang LCI/LMP
- 219 W dengan 5 pasang LCI/LMP
5. Kelembapan: 20-80%.
6. Berat:
- Rack-mount: 23,5 Kg.
- Standalone (dengan penutup): 38 Kg.

ラーミ ヒダヤティ Page 48


7. Ukuran (H×W×D)
- Rack-mount: 355 × 480 × 560 mm.
- Standalone (dengan penutup): 460 × 580 × 720 mm.
Setiap modul 408XL dilengkapi dengan:
1. Sebuah APPA4 (power supply)
2. Paling sedikit sebuah LCI (Line Control Interface)
3. Paling sedikit sebuah LMP_S (Line Memory Processor and SCSI)
4. Sebuah nomor dari board LCI/LMP_S yang tergantung dari kapasitas maksimum dari
sistem.

Untuk koneksi dengan 408XL kabel yang digunakan adalah:


1. UTP (10BaseT) straight, untuk menghubungkan ethernet switch dengan PRM, HCI, dan
408XL.

ラーミ ヒダヤティ Page 49


2. RJ45 (10 Base T) twisted wire, untuk menghubungkan PRM dengan real-time Quality
Control (SQC-Pro).
3. VHDCI – SCSI3, 1,5 m yang di suplai dengan board SCSI. Dengan tambahan sebuah
adapter. Digunakan untuk menghubungkan tape drive dengan PRM.
4. Kabel DB37, VERSATEC Long Line interface, menghubungkan antara PRM dengan
plotter.
5. VHDCI – SCSI3, 1,5 m yang di suplai dengan board SCSI. Dengan tambahan sebuah
adapter. Digunakan untuk menghubungkan antara PRM dengan 408XL.

Peripherals
1. Tape Drive
Tape cartridge dapat digunakan sebagai sebuah media magnetik pada sistem 408XL
untuk perekaman dalam format demultiplex. Dengan menggunakan cartridge drive kita
dapat merekam pada sebuah cartridge tape 3480 IBM secara langsung di lapangan.
Untuk perekaman dengan drive ganda, sebuah perangkat lunak standar menyediakan
perekaman alternatif atau secara simultan tanpa dibutuhkan alat tambahan.
2. Plotter
Sebuah plotter dapat dihubungkan ke 408XL untuk menampilkan hasil perekaman data
seismik pada kertas. Plotter dapat digunakan dengan model read-after-write atau dengan
play-back. Sebuah CMXL dapat menggunakan dua buah plotter. Plotter yang digunakan
pada proyek A5.43 adalah Veritas 12.

ラーミ ヒダヤティ Page 50


3. Real-time Quality Control (SQC-Pro)
Dengan menggunakan SQC-Pro, sebuah perangkat lunak Quality Control seismik secara
on-line, Quality Control yang secara barlanjut dapat dilakukan secara paralel dengan
akuisisi data tanpa memperlambat pengoperasian pada pengambilan data 2-D maupun 3-
D

Instrument Test Sercel SN408XL


Instrument test dilakukan untuk memeriksa apakah instrumen, field digitilizer unit, yang
digunakan dilapangan dalam keadaan baik atau tidak. Seluruh instrument yang ingin dites
harus tersambung dengan 408XL. Seluruh field digitilizer unit dites dengan parameter-
parameter record length: 5 s, dan Sample Rate: 2 ms. Spesifikasi-spesifikasi hasil tes adalah:
- Max. Distortion : -103 dB.
- Min. Common-Mode Rejection : 100 dB.
- Max. Gain error : 1.0 %.
- Max. Phase error : 20 µs.
- Max. Noise (0dB gain, 1600 mV scale) : 0.7 µV.
- Max. Noise (12dB gain, 400 mV scale) : 0.25µV.
- Min. Crosstalk rejection: 110 dB.
Ada bermacam-macam intsrument test yang dilakukan, diantaranya adalah daily instrument
test, monthly instrument test, dan end of job instrument test.
1. Daily Instrument Test
Daily instrument test dilakukan setiap hari sebelum perekaman dilakukan. Instrumen
yang dites adalah seluruh instrumen yang akan digunakan pada hari itu. Parameter gain
dan filter type yang digunakan pada instrument test sesuai dengan parameter-parameter
produksi, yaitu fix gain G1: 1600 mV (0 dB), dan fiter type 0,8N Minimum Phase.
2. Monthly Instrument Test
Monthly instrument test dilakukan setiap bulan. Instrumen yang dites adalah seluruh
instrumen yang digunakan pada proyek. Berbeda dengan daily instrument test, monthly
test dilakukan sebanyak empat kali dengan parameter yang berbeda-beda. Parameter gain
dan filter type yang digunakan pada monthly instrument test adalah:
1. Fix gain G1: 1600 mV (0 dB), filter type 0,8N minimum phase.
2. Fix gain G2: 400 mV (12 dB), filter type 0,8N minimum phase.
3. Fix gain G1: 1600 mV (0 dB), filter type 0,8N linear phase.
4. Fix gain G2: 400 mV (12 dB), filter type 0,8N linear phase.
3. End of Project Instrument Test
Pada prinsipnya end of project instrument test sama dengan monthly instrument test,
hanya saja end of job instrument test dilakukan pada setelah perekaman berakhir.

ラーミ ヒダヤティ Page 51


Blok diagram sederhana dari rangkaian di dalam FDU ketika kita melakukan instrument test
atau sensor test dengan menggunakan HCI, TMS408 workstation, atau LT408

Di dalam rangkaian setiap FDU terdapat sebuah generator arus (Digital-to-Analog


Converter), dan sebuah test network. Input yang masuk pada channel akuisisi akan dipilih
berdasarkan jenis tes yang dilaksanakan:
1. sinyal dari sensor (contohnya Noise test)
2. sinyal dari sensor dan DAC (contohnya Tilt test)
3. sinyal dari DAC dan test network (contohnya Gain test)
Sinyal tes yang dibutuhkan (tegangan DC, gelombang sinusoidal atau pulsa) daihasilkan oleh
DAC FDU dari sinyal digital standar yang tersimpan pada LAU.
Tegangan output maksimum adalah 2828 mV pada gain G1600 dan 707 mV untuk gain
G400 (arus DAC maksimum × RNetwork; RNetwork = 4 kΩ atau 1kΩ). Frekuensi test yang
tersedia pada DAC adalah: 7,8125 Hz; 15,625 Hz; 31,25 Hz; 62,5 Hz; 125 Hz; 250 Hz; 500
Hz dan 1000 Hz. Besarnya sinyal input yang masuk ke DAC bergantung pada gain pre-
amplifier yang dipilih (1,6√2for 0 dB, 0,4√2 for 12 dB).
Tahapan tes dikomposisikan dengan beberapa langkah yang berbeda:
1. Transient step untuk rangkaian analog: Beginning time (Tb) dan End time (Te).
2. Measurement steps (Tm), lamanya tergantung pada tipe dari tes, tipe filter dan sample
rate.

ラーミ ヒダヤティ Page 52


Instrument Noise Test (Sercel SN408XL)
Tes ini dilakukan untuk mengukur noise dari DAC converter di dalam FDU. Noise tersebut
adalah energi dari sinyal dengan frekuensi di atas 3 Hz sampai frekuensi Nyquist. Input dari
converter dihubungkan dengan internal test network. Sebuah DFT di hasilkan dan spektrum

ラーミ ヒダヤティ Page 53


noise dibawah 3 Hz di komputasi. Ketika energi total dari sinyal output diketahui, total noise
yang berada di dalam bandwidth dapat diketahui.
Input ADC terhubung dengan internal test network. Gain pre-amplifier: 1600 mV (0 dB) atau
400 mV (12 dB), tergantung pada pilihan pengguna. DAC dalam posisi OFF. Filter type dan
Sample Rate tergantung pada pilihan.

Blok diagram pada Instrument Noise Test

Dari DFT sinyal output DSP, sinyal noise dibawah 3 Hz akan dikomputasi. Apabila energi
total dari sinyal output diketahui, system akan menghitung level RMS dari noise intrumen
yang berada di dalam bandwidth.

Daya total pada sinyal output N sample:

Dimana: N : bergantung pada panjang akuisisi dan sample rate


X : amplitude sample, 24 bit coded

ラーミ ヒダヤティ Page 54


Sedangkan untuk daya dibawah 3 Hz:

Dimana: M : Banyaknya harmonic lines dibawah 3 Hz,


Xj : DFT dari sinyal output DSP X(t).

Nilai RMS dari noise instrument :

Instrument Gain & Phase test (Sercel SN408XL)


Tes ini digunakan untuk memeriksa apabila ada penyimpangan gain dan fase dari ADC
converter FDU yang berada di dalam band dari DC dampai frekuensi cuttof filter. Sebuah
pulsa digunakan sebagai sebuah sinyal tes.

Blok diagram pada Instrument Gain & Phase test

Input ADC dihubungkan ke internal test network. Gain pre-amplifier 1600 mV (0 dB) atau
400 mV (12 dB), tergantung pilihan pengguna. DAC terhubungkan dengan internal test
network. Tipe filter dan Sample Rate tergantung pilihan penguna. Menggunakan tiga test
sequence (T1, T2, T3).

ラーミ ヒダヤティ Page 55


Test sequence pada tes gain dan fase instrument

DAC memberikan sebuah pulsa (dengan amplitude dan lebar yang telah diketahui) ke internal
test network.

Input ADC dihubungkan dengan internal test network. Tegangan di internal test network
diukur. Sebuah DFT dikomputasi pada sinyal output DSP (dengan frequensi tes yang
berbeda) dan dibandingkan dengan sebuah model komputasi dengan frekuensi yang sama.
Error dihitung dengan mencari perbedaan amplitude dan fase antara sinyal yang terukur
dengan model.
Besarnya frekuensi tes yang digunakan untuk komputasi DFT (pada sinyal yan terukur
dengan model) bergantung pada Sample Rate yang dipilih karena berdasarkan persamaan
berikut:

ラーミ ヒダヤティ Page 56


DFT teoritis dari sinyal input, TheoretDft, dikomputasi dari nilai kalibrasi FDU, dari arus
output DAC, dan dari konfigurasi dari hambatan dalam jaringan. Nilai RMS dari sinyal input
teoritis adalah:
DevFreqRms merepresentasikan produk dari semua factor koreksi gain yang dimasukkan
oleh rangkaian channel akuisisi, seperti koreksi gain dari filter digital FDU dan LAU dan dari
ADC dan DAC. DevFreqRms tidak dilibatkan dalam perhitungan TheoretDft. Perbedaan nilai
DevFreqRms bergantung pada tipe filter yang digunakan, Sample Rate, dan frekuensi. Nilai
RMS dari sinyal yang terukur (setelah menggunakan DFT pada sinyal output DSP) adalah:

Sedangkan kesalahan relatif dari gain adalah:

Error gain dihitung untuk semua frekuensi tes, dan hasil maksimun digunakan sebagai hasil
akhir. Nilai fase dari sinyal input teoritis adalah:

DevFreqArg merepresentasikan hasil dari semua factor koreksi yang dimasukkan oleh
rangkaian channel akuisisi, seperti koreksi gain dari filter digital FDU dan LAU dan dari
ADC dan DAC. DevFreqArg tidak dilibatkan dalam perhitungan TheoretDft. Perbedaan nilai
DevFreqRms bergantung pada tipe filter yang digunakan, Sample Rate, dan frekuensi. Nilai
fase dari sinyal yang terukur (setelah menggunakan DFT pada sinyal output DSP) adalah:

Sedangkan error dari fase adalah:

Error dari fase dihitung untuk semua frekuensi tes, dan hasil maksimun digunakan sebagai
hasil akhir.

ラーミ ヒダヤティ Page 57


Instrument Resistance Test SN408XL
Tes ini dilakukan untuk memeriksa apakah ada kegagalan dalam pada channel elektronik
akuisisi (tes generator DAC dan ADC converter). Tes ini tidak dapat dilakukan dengan
menggunakan menu Test pada workstation 408UL HCI, tetapi secara otomatis akan
dilaksanakan setiap kali Line di hidupkan. Hanya hasil yang ditampilkan pada HCI (OK atau
ERROR).

Blok diagram sederhana pada Instrument Resistance Test

ADC input terhubung dengan internal test network. Gain pre-amplifier: 1600 mV (0 dB).
DAC terhubung dengan internal test network. Filter type 0,8LIN; Sample Rate: 1 ms.
DAC memberikan sebuah sinyal sinusoidal ke internal test network (f = 7,8125 Hz dan
Amplitudo = 0,776 × generator FullScale). Input ADC juga terhubung dengan internal test
network. Nilai RMS (Vrms), relative terhadap level input ADC, dari sinyal output selama tes
dilakukan ditentukan melalui sinyal output Discrete Fourier Transform (DFT) dan Digital
Sinyal Processing (DSP) (untuk frekuensi sinyal input). Jika nilai RMS dari tegangan dan
arus output dari test generator DAC diketahui, maka nilai yang terukur oleh ADC converter
(InstRes) dapat dihitung dengan persamaan berikut:

Dimana: NomIDac = 500,0 µA


SineModRate = 0,776
InstRes dalam Ω

Nilai teoritis dari resistance (TheoretRes) dihitung dengan menggunakan faktor koreksi
melalui proses kalibrasi. Kesalahan relatif, RelInstResError, (%) dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut:

ラーミ ヒダヤティ Page 58


Status Error akan muncul apabila relative error berada di luar nilai yang diperbolehkan.

Instrument Distortion Test (Sercel SN408XL)


Tes ini digunakan untuk memeriksa respon linear ADC converter pada FDU. Sebuah sinyal
sinusoidal dengan amplitude dan frekuensi yang diketahui diberikan pada input ADC
converter pada FDU melalui internal test network. Tes menghasilkan rasio dari spectral
power dari semua harmonik dalam bandwidth yang ditentukan oleh filter yang dipilih sampai
sinyal output dari power spectral.

Diagram sederhana pada tes distorsi instrument

Input ADC dihubungkan ke internal test network. Gain pre-amplifier 1600 mV (0 dB) atau
400 mV (12 dB), tergantung pilihan pengguna. DAC terhubungkan dengan internal test
network. Tipe filter dan Sample Rate tergantung pilihan penguna.

ラーミ ヒダヤティ Page 59


DAC memberikan sebuah sinyal sinusoidal dengan frekuensi sebesar 31,25 Hz ke internal
test network dengan amplitude sebesar 97% dari full scale FDU.

Input ADC dihubungkan dengan internal test network dan tegangan pada output internal test
network diukur. DFT dari sinyal output DSP di komputasi (untuk frekuensi sinyal output).
Pokok-pokok daya spectral yang saling berhubungan di komputasi (TestFreqPower). Daya
spectral harmonis dari sinyal yang sama di komputasi juga (HarmonicPower) dan dibagi
dengan daya spectral dasar (garis harmonis yang berada di bandpass dibatasi dengan
frekuensi cutt-off dari filter yang dipilih). Hasil tes dalam dB. Perhitungan daya spectral
dasar:

Dimana X1 adalah garis harmonis dasar. Sedangkan perhitungan daya spectal harmonis:

Dimana N ≤ 9. Dan perhitungan distorsi instrument:

Instrument CMRR Test (Sercel SN408XL)


Tes ini digunakan untuk mengukur Common Mode Rejection Ratio dari ADC converter di
dalam FDU. Sebuah sinyal sinusoidal dengan amplitudo dan frekuensi yang telah diketahui
diberikan pada kedua input ADC pada FDU dengan melewati internal tes network. Tes
menghasilkan rasio dari nilai RMS dari tegangan output, relatif terhadap input, terhadap
tegangan common mode.
Input ADC dihubungkan dengan internal tes network. Gain pre-amplifier: 1600 mV (0 dB)
atau 400 mV (12 dB), tergantung pilihan pengguna. Tipe filter dan Sample Rate tergantung
pilihan pengguna. DAC terhubung dengan internal tes network.

ラーミ ヒダヤティ Page 60


Test sequence pada tes CMMR intrumen

DAC memberikan sebuah sinyal sinusoidal ke internal tes network (f = 31,25 Hz dan
Amplitudo = 77,6% dari skala penuh DAC). Input ADC dihubungkan dengan internal tes
network dengan demikian ADC menerima sinyal yang sama pada kedua inputnya.
Nilai RMS input teoritis dari tegangan Common Mode, CMSignalRms, di komputasi dari
nilai kalibrasi FDU (faktor koreksi teoritis hambatan, faktor koreksi arus DAC). Tegangan
output yang terukur, Vrms, adalah nilai RMS setelah diskala (×1,6√2 atau ×0,4√2) dari
output DSP. Perhitungan CMRR:

Dimana CMfactor merepresentasikan faktor koreksi hambatan Common Mode yang


diperoleh dari hasil kalibrasi FDU. Hasil tes diekspresikan dalam dB.

ラーミ ヒダヤティ Page 61


Instrument Crosstalk (Sercel SN408XL)
Tes ini digunakan untuk mengukur crosstalk antara channel FDU dalam konfigurasi tes
instrument. Tes ini meliputi dua urutan : selama tahap pertama, generator tes pada setiap
FDU genap memberikan sebuah gelombang sinusoidal ke test network (f = 31,25 Hz).
Converter ADC pada setiap FDU ganjil mengukur tegangan yang dihasilkan diantara test
network-nya sendiri. (generator tes di FDU ganjil tidak difungsikan). Kemudian secara
berlawanan,selama tes tahap kedua, sebuah gelombang tes sinusoidal diberikan kepada setiap
FDU ganjil dan tegangan yang dihasilkan diukur diantara test network pada setiap genap.
Rasio dari nilai teoritis sinyal tes terhadap tagangan yang terukur di hitung dan di tampilkan
sebagai Instrument Crosstalk untuk setiap FDU aktif. Sebagai hasil, pada plotter, sinyal tes
sinusoidal yang muncul pada trace yang berdekatan (pada sisi yang lain sebuah LAU) tidak
mengindikasikan sebuah crosstalk error.

Ilustrasi pada tes crosstalk

Input ADC dihubungkan ke internal test network. Gain pre-amplifier 1600 mV (0 dB) atau
400 mV (12 dB). DAC dihubungkan ke test network: pada FDU genap selama tahap pertama,
dan pada FDU ganjil selama tahap kedua. Tipe filter dan Sample Rate yang digunakan
tergantung pilihan pengguna.

Blok diagram sederhana pada FDU genap selama tahap tes pertama dan pada FDU ganjil
selama tahap tes kedua

ラーミ ヒダヤティ Page 62


Blok diagram sederhana pada FDU ganjil selama tahap tes pertama dan pada FDU genap
selama tahap tes kedua

Test sequence pada tes crosstalk

DAC memberikan sebuah gelombang sinusoidal dengan frekuensi sebesar 31,25 Hz kepada
internal test network dari channel yang ditentukan, dengan maplitudo sebesar 97% dari skala
penuh FDU.

Sinyal output DSP pada setiap FDU genap selama tes tahap pertama dan setiap FDU ganjil
pada tes tahap kedua diperoleh dan nilai RMS (Vrms) relative terhadap input di komputasi.
Dari nilai teoritis peralatan yang ada pada setiap FDU, nilai RMS teoritis (TheoretRMS) dari

ラーミ ヒダヤティ Page 63


sinyal tes dikomputasi. Crosstalk instrumen dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut:

Instrument Pulse Test (Sercel SN408XL)


Tes ini digunakan untuk merekam respon dari channel instrumen terhadap sebuah pulsa (satu
sampel panjang). Tes ini hanya tersedia pada window Operation utama.

Diagram sederhana pada tes Instrument Pulse

Input ADC dihubungkan ke internal test RC network. Gain pre-amplifier 1600 mV (0 dB)
atau 400 mV (12 dB), tergantung pilihan pengguna. DAC dihubungkan dengan internal test
RC network. Tipe filter dan Sample Rate tergantung pilihan pengguna.

Tes sequence pada tes instrument pulse

DAC memberikan sebuah pulsa ke internal test RC network, dan menghasilkan sebuah sinyal
pada output ADC yang direkam pada tape.

ラーミ ヒダヤティ Page 64


Field Digitizer Unit (FDU) Sercel SN408XL

FDU hidup ketika menerima tegangan dari power supply. FDU mengubah data analog yang
diterima dari geophone menjadi digital dan mengirim data tersebut ke LAUL atau LAUX
untuk diproses dan dikirim ke CM408. Pada FDU terdapat sebuah ADC dengan
menggunakan metode sigma delta converter dengan frekuensi 256 kHz. Output FDU 24 bits
pada frekuensi 4 kHz (pada sample rate 0,25 ms). Satu FDU dikoneksikan dengan satu input
geophone. Konfigurasi yang biasa digunakan adalah terdapat empat FDU dalam sebuah kabel
link.

Fungsi FDU
FDU mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1. Menerima perintah dari Line Acquisition Unit (LAU)
2. Me-repeat data
3. Mengubah sinyal seismik dari geophone menjadi digital, menerima dan mengirim data
digital
4. Menghasilkan sinyal tes analog

ラーミ ヒダヤティ Page 65


5. Memberikan informasi ID yang tersimpan dalam EEPROM memory
6. Memberikan sensor fault melalui LED

Spesifikasi FDU 408


Beberapa spesifikasi FDU antara lain:
1. Satu buah FDU mengkonsumsi daya sebesar 140 mW
2. Tegangan operasional 27 – 50 V DC
3. Satu buah FDU memiliki berat 415 gram
4. FDU dengan kabel, panjang 55 m, memiliki berat 2,89 kg
5. Distorsi: -110 dB typical; -103 dB minimum
6. Interval antar FDU dapat mencapai 75 m
7. Kedap air:
- 1m dengan standard cable (ST)
- 15 m dengan submersible cable (WPSR)

Spesifikasi Kabel Link FDU 408


1. Dalam 1 channel terdapat satu FDU
2. Dalam satu link terdapat 1 sampai 60 FDU, (48 FDU dengan interval 55 m)
3. Interval FDU dapat mencapai 75 m
4. Tipe konektor sensor FDU adalah KCK
5. Tipe kable: standard cable (ST) & submersible cable (WPSR)

Fungsi Board FDU 408


FDU board mempunyai lima fungsi utama, yaitu:
1. power supply: menghasilkan tegangan 6,3 V untuk bagian analog dan 2,7 V untuk bagian
digital.

ラーミ ヒダヤティ Page 66


2. FDU Interface: mempertajam sinyal dan mensinkronisasi FDU
3. FDU COM:mengatur komunikasi dengan LAUL, proses data.
4. Sigma Delta: mengubah sinyal analog dari geophone menjadi digital. Juga terdapat DAC
yang dikontrol oleh LAUL atau LAUX untuk melakukan field test dan instrument test.
5. EEPROM : dikontrol oleh FDU COM, tempat menyimpan indentitas FDU dan parameter
kalibrasi.

Inisialisasi FDU 408


Ketika FDU dinyalakan, inisalisasi secara otomatis dilakukan dalam empat tahap:
1. Sinkronisasi clock: FDU Interface disinkronisasi dengan clock data pada frekuensi 8,192
MHz.
2. Aligment: FDU-COM mendeteksi awal dari data frame.
3. Orientation phase: untuk memilih bgian yang aktif dan pasif.
4. Inisialisasi tes: field test dari string geophone dan instrument test.

Analog-to-Digital Converter (ADC)


A. ADC konvensional
Setiap ADC akan mengambil nilai dari sinyal analog pada waktu t dan mengubahnya
menjadi nilai digital. Hal tersebut juga akan dilakukan pada t+1 dan seterusnya.

Analog-to-Digital Converter

B. Efek Aliasing
Efek aliasing terjadi karena frekuansi sinyal maksimum fmax lebih besar dari ½
frekuensi sampel fs. untukmenghindari efek aliasing maka frekuensi sampel fs harus dua
kali lebih besar daripada frekuensi sinyal maksimum fmax. Apabila efek aliasing terjadi
maka kita tidak dapat mengetahui frekuensi sinyal yang sebenarnya.

ラーミ ヒダヤティ Page 67


Sampling yang benar, fs > 2fmax

Gambar diatas adalah contoh sampling yang benar. Dimana frekuensi sampling fs lebih
besar dari dua kali frekuensi sinyal maksimum fmax, fs > 2fmax.

Sampling yang menyebabkan efek aliasing, fs <2fmax>

Gambar diatas adalah contoh aliasing. Sinyal yang dihasilkan tidak sama dengan sinyal
aslinya. Sinyal yang dihasilkan akan seperti gambar di bawah.

Bentuk sinyal yang dihasilkan akibat terjadinya efek aliasing

ラーミ ヒダヤティ Page 68


C. Quantisation error

Quantisation error

Quantisation error terjadi karena proses pengubahan sinyal dari analog ke digital.
Besarnya Quantisation error bergantung pada jumlah bit yang digunakan untuk
menunjukkan nilai sinyal, semakin banyak bit yang digunakan maka nilai quantisation
error akan semakin kecil. Jika kita manambah satu bit maka error akan berkurang
menjadi setengahnya.

Sercel Sigma Delta Converter (∆Σ Converter)

Skema Sigma Delta Converter

Sinyal digital yang dihasilkan oleh ∆Σ adalah sinyal digital satu bit yang dilewatkan pada line
serial. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah Digital Sinyal Processing (DSP) untuk mengubah
sinyal digital serial tersebut menjadi paralel 24 bit.

Rangkaian Sigma Delta Converter

ラーミ ヒダヤティ Page 69


Di differential amplifier besarnya tegangan input Vin dikurangi dengan tegangan referensi ±
Ref (nilai ± Ref diperoleh dari D/A conveter).

V1 = Vin ± Ref

Integrator memberikan sebuah sinyal (V2) yang proporsional dengan variasi nilai V1.

V2(p) = V1(p) + V2(p-1)

Komparator memberikan nilai +1 atau -1, tergantung pada nilai yang diperoleh dari V2.

Jika V2 > 0 maka Vout = +1


Jika V2 < 0 maka Vout = +1

DAC memberikan sinyal +/-Ref tergantung pada nilai yang diberikan oleh Vout.

Jika Vout > 0 maka V3 = - Ref


Jika Vout < 0 maka V3 = + Ref

Dengan mengasumsikan Vin = +0,6 Volt dan Vref = -1 Volt, berikut ini adalah encoding
sequence yang dihasilkan:

Tabel di atas menunjukkan input tegangan 0,6 Volt yang diubah menjadi sinyal digital 5 bit
sequence:
1 1 -1 1 1

Sequence ini mudah untuk di-decode: langkah 1, 2, 3, 4, 5 menghasilkan sebuah representasi


digital dari sinyal input. Untuk mengekstrasi nilainya kita hanya harus mencari nilai rata-
ratanya.

Crossing Line Acquisition Unit (LAUX) Sercel SN408XL


Crossing Line Acquisition Unit, atau lebih dikenal dengan LAUX, ekivalen dengan CSU
(Crossing Station Unit) yang digunakan pada Sercel SN388 yang dilengkapi dengan beberapa

ラーミ ヒダヤティ Page 70


fungsi tambahan. LAUX hidup ketika menerima tegangan pada empat portnya (minimal 5 V
DC), dan memberikan tegangan suplai +/-24 V pada setiap port transmisi dan pada transmisi
transfer dengan sebuah tegangan DC untuk menghidupkan LAUX berikutnya dan seterusnya.

Crossing Line Acquisition Unit (LAUX)

LED merah mengindikasikan status dari LAUX:


- LED mati: LAUX mati
- LED menyala: terjadi masalah pada perangkat keras, LAUX harus diganti
- Kelap-kelip: LAUX bekerja dengan bagus
LAUX dihubungkan dengan CM408 dengan menggunakan kable transfer. LAUX
menginterpretasikan perintah yang dikirim oleh CM408 dan mengontrol FDU pada kedua sisi
(mencapai 48 sampai 60 jika jarak antar FDU 30 m pada masing-masing sisi) dan juga
mengumpulkan, decimates, filter dan mengkompres data sebelum mengirimkannya ke
CM408. LAUX juga mensinkronisasi semua sampel dengan time break. Sample rate dapat
diatur pada 0,25 ms, 0,5 ms, 1 ms, 2 ms, dan 4 ms.
LAUX terdiri dari dua buah board:
- LPX (Line processor crossing board) yaitu board yang terdiri dari hardware digital.
- LIPX (Line interface and power crossing board) yaitu board yang terdiri dari booster dan
power supply.

Fungsi LAUX Sercel SN408XL


Beberapa fungsi LAUX antara lain:
1. Menginterpretasikan perintah yang dikirim oleh CM408
2. Mengontrol FDU pada kedua sisi (high line dan low line)
3. Mengumpulkan, decimates, filter dan mengkompres data sebelum mengirimkannya ke
CM408
4. Mensinkronisasi semua sampel dengan time break
5. Sebagai konektor port pada Line
6. Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
7. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
8. Menerima dan mengirim status dan data.

ラーミ ヒダヤティ Page 71


Spesifikasi LAUX Sercel SN408XL
Spesifikasi LAUX adalah:
1. Kapasitas data 16,384 Mb/s, 2000 channel aktif dengan sample rate 2 ms
2. Tegangan operasional 10,5 – 15 V DC
3. Berat 5,5 kg
4. Jumlah FDU maksimal diantara LAUX:
- 60 FDU, dengan jarak antar FDU 30 m
- 48 FDU, dengan jarak antar FDU 55 m
- 40 FDU, dengan jarak antar FDU 75 m
5. Kedap air sampai kedalaman 15 m

Konsumsi Daya LAUX Sercel SN408XL


Selama akuisisi LAUX mengkonsumsi daya sebesar 5,7 W (0,32 W ketika tidak melakukan
akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga
harus diperhitungkan.
Consumption = 5,7 + (N × 0,15 / 0,75) + loss in cables
- 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
- 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
- 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m

Diagram LAUX

Line Acquisition Unit Land (LAUL) Sercel SN408XL


Line Acquisition Unit Land atau lebih dikenal dengan LAUL ekivalen dengan PSU pada
Sercel SN388. LAUL menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408, mengkontrol

ラーミ ヒダヤティ Page 72


FDU pada sebuah line dan mengumpulkan data dari FDU tersebut. LAUL melakukan
decimating, filtering dan compressing data dan mengirim data tersebut ke CM408 melalui
LAUX. LAUL juga mensinkronisasi semua sampel dengan time break.

Line Acquisition Unit Land (LAUL)

Fungsi LAUL Sercel SN408XL


Beberapa fungsi LAUL antara lain:
1. Sebagai konektor port pada Line
2. Menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408
3. Mengontrol FDU pada line
4. Mengumpulkan data dari FDU
5. Melakukan Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
6. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
7. Menerima dan mengirim status dan data.

Spesifikasi LAUL Sercel SN408XL


Spesifikasi LAUL adalah:
1. Kapasitas data 8,192 Mb/s, 1000 channel aktif dengan sample rate 2 ms
2. Konsumsi daya 3,7 W
3. Tegangan operasional 10,5 – 15 V DC
4. Berat 2,4 kg (alumunium), 3,7 kg (stainless)
5. Jumlah FDU maksimal diantara LAUL:
- 60 FDU, dengan jarak antar FDU 30 m
- 48 FDU, dengan jarak antar FDU 55 m
- 40 FDU, dengan jarak antar FDU 75 m
6. Kedap air sampai kedalaman 15 m

ラーミ ヒダヤティ Page 73


Konsumsi Daya LAUL Sercel SN408XL
Selama akuisisi LAUL mengkonsumsi daya sebesar 3,5 W (0,42 W ketika tidak melakukan
akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga
harus diperhitungkan.
Consumption = 3,5 + (N × 0,15 / 0,75) + loss in cables
- 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
- 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
- 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m
-

Diagram LAUL

Indikator LED pada LAUL dan LAUX

ラーミ ヒダヤティ Page 74