You are on page 1of 2

Unik, Akulturasi Islam dan Hindu di Bali

Setangkai bunga menyambut di pintu yang masuk, sepotong kertas warna cokelat kec
il tersisip di antara daunnya. sebaris pesan tertulis diatasnya, ‘damai di langit,
damai di bumi dan damai setiap hati manusia.’
Sebuah keharusan dijalani, jika umat manusia ingin hidup berdampingan secara dam
ai. Sikap toleransi itu dapat dikembangkan seperti yang selama ini dirintis Foru
m Komunikasi Antar Umat Agama Propinsi Bali yang diketuai, Drs Ketut Suda Sugira
. Organisasi keagamaan di Bali anatara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI). Majel
is Pelayanan Antara Gereja (MPAG), Keuskupan, Wadah Umat Budha (WALUBI), dan Par
isada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, secara berkesinambungan menggelar dial
og dalam memperkokoh kerukunan antar umat beragama.
Upaya mewujudkan kerukunan dan keharmonisan umat beragama sebenarnya tidak terla
lu berat dalam penerapanya, asalkan dilandasi toleransi dan rasa saling menghorm
ati satu sama lain. Kerukunan antar umat beragama di Bali selama ini sangat mant
ap dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya yang diwarisi secara turun
temurun sejak 500 tahun silam. ‘Itu bisa terlaksana berkat konsep menyama braya y
akni persaudaraan betul–betul sudah diterangkan dalam kehidupan umat beragama di B
ali.’
Tutur Drs H Manyur, Kabid Bimas Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali.
Kehidupan umat beragama yang ‘mesra dan harmonis’ itu diharapkan dapat diperlihara g
una mendukung terciptanya kondisi aman, nyaman dan tentram, sekaligus memberikan
kesejukan di hati umat manusia.
Agama Islam dan Hindu, Sesungguhnya memiliki banyak persamaan bahkan terjadi aku
lturasi menyangkut seni dan budaya dari kedua agama tersebut di Bali . Kesamaan
itu antara lain terdapat pada buku dan geguritan (pembacaan ayat-ayat suci Hindu
) yang ternyata didalamnya mengandung unsur nuansa Islam, seperti yang pernah di
ungkapkan Prof Drs H ShaLeh Saidi (67) Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Ud
ayana.
Bukti lain dari terjadinya akulturasi Islam–Hindu adalah di Desa Pegayaman–Buleleng,
Kepaon–Denpasar, serta Desa Loloan Di Jembrana. Di desa Pegayaman misalnya sebagi
an besar warganya memeluk agama Islam, namun nama depan sebagian besar warganya
sama seperti orang Bali pada umumnya, sehingga muncul nama seperti misal Wayan M
uhammad Saleh atau Made Jalaluddin.
Dalam Budaya, umat Islam Bali telah ‘berbaur’ dengan budaya setempat, terlihat dari
lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali sama dengan lembaga adat masy
arakat Bali Hindu. Dalam pengairan bidang pertanian tradisional (Subak) misalnya
, umat muslim menerapkan cara dan pola pengaturan air seperti yang dilakukan pet
ani yang beragama Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panet berbeda.
Umat Islam yang mengolah lahan pertanian di Subak Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan
dan Subak Yeh Santang, Jembrana, menerapkan sistem pengairan secara teratur sepe
ti umumnya dilakukan pertani Bali. Hal ini diungkapkan Haji Mansyur Ali (53) aya
h lima anak kelahiran Banjar Yeh Sumbul. Adanya unsur kesamaan antara Islam dan
Hindu itu, dapat dijadikan tonggak lebih menciptakan ‘kemesraan’ dan tali persaudara
n antar Hindu dan Islam, termasuk umat lain di pulau Bali, bahkan di Nusantara.
Berbagai keunikan tersebut menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai segi baik
oleh wisatawan mancanegara, sosiolog maupun budayawan dari belahan dunia. Tidak
lah mengherankan, kondisi demikian menjadikan pulau Seribu Pura ini bertambah te
nar, bahkan terkadang melampaui ketenaran Indonesia – negara yang berpenduduk musl
im terbesar di dunia.
Pengendalian Diri.
Jika menurut sejarah, akulturasi dan kerukunan antar umat beragama di Bali sanga
t mesra dan harmonis serta tidak pernah terjadi benturan, sesungguhnya sudah diw
arisi secara turun temurun sejak abad ke–15 lalu. Terciptanya kerukunan hidup bera
gama demikian itu, berkat adanya saling pengertian serta saling hormat – menghorma
ti anatr warga berlainan suku maupun agama di Bali.
‘Kerukunan antar umat beragama yang hidup berdampingan satu sama lainnya itu, diha
rapkan dapat terus diperlihara dan dipupuk dalam mengembangkan kerukunan yang di
namis, sekaligus terhindar pengaruh luar yang negatif‘, ungkap Gebernur Bali Dewa
Beratha pada suatu kesempatan membuka sarasehan agamawan antar umat beragama di
Bali belum lama ini.
Pengendalian diri menjadi landasan penting dalam mewujudkan kerukunan umat berag
ama. Pengendalian diri akan mampu, mewujudkan ketentraman dan kedamaian bagi mas
yarakat. Berbagai aktivitas keagamaan di Bali mendorong kegiatan Budaya serta te
rwujudnya keseimbangan pembangunan lahiriah dan batiniah. Keseimbangan pembangun
an untuk menyadarkan umat manusia, yang senantiasa memiliki keterbatasan dan kel
emahan.
Propinsi Bali lalu membentuk wadah komunikasi antar umat beragama untuk mengadak
an komunikasi dan menjembatani berbagai permasalahan yang menyangkut anatar umat
beragama. Pembentukan wadah tersebut, awalnya mengantisipasi konflik yang bernu
ansa kesukuan, agama, ras, anatar– olongan ( SARA) yang sempat melanda di beberapa
daerah di Indonesia . Gagasan yang mendapat dukungan dari semua pihak itu terbu
kti mampu menciptakan kehidupan yang lebih akrab, saling menghormati dan menghar
gai serta melindungi satu sama lain.
‘Kerukunan antarumat beragama di daerah tujuan wisata Bali sangat kental, lolos da
ri berbagai cobaan dan tantangan yang pernah ‘mengujinya‘ perlu lebih disosialisasik
an dalam bentuk kerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat bawah,’ kata Kakanwil
Departemen Agama Bali, Drs I Gusti Made Ngurah.
Ujian Berat
‘Ujian berat’ yang pernah dihadapi umat beragama di Bali, terjadi tahun 1961 ketika
Umat Hindu, Islam dan Kristen pada hari yang sama merayakan hari raya suci masin
g–masing dengan tradisi yang berbeda. Umat Hindu pada Minggu, 17 Maret 1991 meraya
kan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1913 yang memerlukan dukungan suasana sepi u
ntuk melaksanakan tapa brata – empat pantangan: tidak bekerja, tidak bepergian, ti
dak mengumbar bahwa nafsu, dan tidak menyalakan api .
Sementara umat Islam melakukan takbiran menyosong Idul Fitri dan umat Kristen me
lakukan Kebaktian di Gereja. ‘Berkat saling pengertian dan kerukunan umat yang ken
tal, masing–masing umat beragama dapat merayakan hari raya suci mereka dengan baik
,’ ungkap ketua MUI Bali, H Roichan .
Kondisi demikian bertambah ‘mesra dan manis’ setelah masyarakat Bali yang 92% beraga
ma Hindu, dapat berperan serta menyukseskan pelaksanaan Seleksi Tilawatir Qur‘an (
STQ) tingkat nasional pada bulan 1998. ‘Dari dulu masyarakat Bali memiliki rasa ci
nta damai terhadap semua umat, dan tetap menjunjung tingi rasa persatuan dan kes
atuan bangsa,’ kata Ketua PHDI Bali, Ida Bagus Wijaya Kusuma.
Kehidupan Umat Beragama yang mesra dan harmonis di Bali optimis tetap dapat dipe
rtahakan di masa–masa mendatang, tercermin dari aktualisasi budaya antara Islam da
n Hindu. Kesenian hasil perpaduan antara unsur seni Bali dan Islam itu, pernah d
isuguhkan untuk memeriahkan pembukaan STQ ke XIII tingkat Nasioanal di Bali tiga
tahun silam.
Demikian pula di Kepaon, Denpasar Selatan, Desa Loloan, Jembrana, Muncan, Karang
asem dan Pegayaman, Buleleng hingga kini tetap mempertahankan adat dan tradisi b
udaya yang merupakan perpaduan kedua unsur Hindu dan Islam. (Sumber Bali Post, 2
Desember 2001).
http://balimuslim.com/unik-akulturasi-islam-dan-hindu-di-bali