You are on page 1of 45

UJI AKTIVITAS ANTI LITHIASIS EKSTRAK ETANOL

DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill)


PADA TIKUS PUTIH JANTAN

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul “Uji Aktivitas
Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus
Putih Jantan” adalah karya sendiri di bawah pengarahan komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi.

Bogor, September 2009

Anggara Aldobrata Hernas Saputra


NRP B04051929
ABSTRACT

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA. The Anti Lithiasis Activity of


Avocado Leaf Ethanol Extract (Persea americana Mill) on White Male Rats.
Under direction of IETJE WIENTARSIH and RINI MADYASTUTI
This study aims was to determine the anti lithiasis activity of avocado leaf
ethanol extracts (Persea americana Mill) on white male rats nefrolithiasis model
induced by ethylene glycol. Avocado leaves as a traditional medicine was
believed has the potential to cure urolithiasis. The inhibitory effect of the avocado
leaf ethanol extract was examined on the formation of calcium oxalate crystals. At
the end of experiment the kidneys of all treated rats were removed and laboratory
analyzed for calcium and phosphorus level. The parameters include kidney weight
and its ratio to the body weight. The results showed that the amount of calcium in
the kidney treated groups were significantly reduced compared with the control
group of rats without treatment (p < 0,05). The result is ethanol extract of avocado
leaves could be use as an alternative medicine for urolithiasis.
Key word : Persea americana Mill; anti lithiasis; kidney stone; ethylene glycol.
ABSTRAK

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA. Uji Aktivitas Anti Lithiasis


Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan.
Dibimbing oleh IETJE WIENTARSIH dan RINI MADYASTUTI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti lithiasis dari
ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) pada tikus putih jantan
model nefrolithiasis dengan induksi etilen glikol. Daun alpukat dipercaya
masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi batu ginjal. Aktivitas anti
lithiasis yang terdapat pada ekstrak etanol daun alpukat diperiksa dengan melihat
daya hambatnya terhadap pembentukan kristal kalsium oksalat. Pada akhir
perlakuan ginjal tikus diambil dan dianalisis kadar kalsium dan fosfornya.
Parameter ginjal meliputi bobot ginjal dan rasio terhadap bobot badan tikus.
Hasilnya menunjukan kadar kalsium pada kelompok tikus perlakuan secara
signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok tikus kontrol tanpa perlakuan (p <
0,05). Ini membuktikan ekstrak etanol daun alpukat dapat menjadi alternatif
pengobatan batu ginjal.
Kata kunci : Persea americana Mill; anti lithiasis; batu ginjal; etilen glikol.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang – Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tujuan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
UJI AKTIVITAS ANTI LITHIASIS EKSTRAK ETANOL
DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill)
PADA TIKUS PUTIH JANTAN

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
Judul : Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat

(Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan.

Nama : Anggara Aldobrata Hernas Saputra

NRP : B04051929

Disetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Hj. Ietje Wientarsih, M. Sc, Apt Rini Madyastuti P, S.Si, Apt
NIP. 19530211 198503 2 002 NIP. 19780608 200604 2 001

Diketahui

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan

Dr. Nastiti Kusumorini M.Si


NIP. 19621205 198703 2 001

Tanggal lulus :
PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik penelitian dan
penulisan skripsi yang berjudul ”Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun
Alpukat (Persea americana Mill) pada Tikus Putih Jantan” yang merupakan salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan di Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari
bimbingan, bantuan, dan dukungan baik moral, spiritual maupun materi dari
pihak-pihak dibalik kehidupan dan pembentukan jati diri sang penulis. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih
yang begitu dalam kepada:
1. Keluargaku tersayang, Papah, Mamah dan Mbak Ratna yang tiada
hentinya memberikan doa dan dukungan seumur hidup kepada penulis.
2. Dr. Dra. Hj. Ietje Wientarsih, M.Sc, Apt dan Rini Madyastuti Purnomo,
S.Si, Apt sebagai pembimbing skripsi yang dengan sabar memberikan
bimbingannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. Drh. Sri Murtini, M.Si sebagai pembimbing akademik yang telah
membantu penulis selama menjalankan masa studi di FKH IPB.
4. Segenap staf dan keluarga besar IPB pada umumnya dan FKH pada
khususnya, serta Mas Wawan foto copy yang selalu setia menemani.
5. Guru TK, SD, SMP, SMU, Bimbel dan Guru Ngaji yang telah
memberikan ilmu yang bermanfaat tanpa tanda jasa.
6. Afu dan Mencit, teman satu penelitian dan teman-teman FKH 42 “
GOBLET” yang telah bersama-sama berjuang dalam menempuh studi
di FKH IPB, tidak lupa teman-teman terdekat di luar kampus.
7. Amir, Izul, Karo, teman-teman satu kontrakan yang telah berjuang
bersama-sama dalam menyelesaikan pendidikan di IPB dan melewati
suka duka dalam mengarungi bahtera kehidupan.
8. Venty Oktovani S, ITP 42 sebagai tujuan hidup yang selalu memberikan
inspirasi dan kebahagiaan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu saran dan kritik tetap penulis harapkan untuk menjadikan
tulisan ini lebih baik. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun sebagai tambahan
informasi untuk memperkaya ilmu di kemudian hari.

Bogor, September 2009

Penulis
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 30 September 1987 sebagai


anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Heru Anto, BA. dan Ibu
Kusdiyatni, SH.
Penulis menyelesaikan Taman Kanak-kanak di TK YPWKS III Cilegon
pada tahun 1993 dan Sekolah Dasar di SD YPWKS IV Cilegon pada tahun 1999,
kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Cilegon dan lulus pada tahun
2002. Pada tahun 2005, penulis telah menyelesaikan pendidikan di SMU Negeri I
Serang dan diterima menjadi mahasiswa pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut
Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) IPB.
Selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB, penulis aktif
dalam organisasi internal kampus menjabat sebagai ketua divisi internal
Himpunan Minat Profesi (HIMPRO) Satwa Liar FKH IPB. Penulis juga pernah
aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Keluarga Mahasiswa Banten
(KMB). Selain itu penulis juga aktif pada berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang
diselenggarakan oleh berbagai organisasi di IPB. Pada tahun 2009 Penulis lolos
seleksi Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan
oleh Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA) IPB.
DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR ISI ........................................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xi

DAFTAR TABEL ................................................................................................. xii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3
1.3 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Alpukat ........................................................................................................ 4
2.2 Hewan Percobaan ........................................................................................ 6
2.3 Ginjal ........................................................................................................... 8
2.4 Batu ginjal ................................................................................................... 9
2.5 Etilen glikol ............................................................................................... 12

METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................... 14
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................................... 14
3.3 Determinasi dan Pengumpulan Daun Alpukat .......................................... 14
3.4 Pembuatan Serbuk / Simplisia Daun Alpukat ........................................... 14
3.5 Pembuatan ekstrak etanol Daun Alpukat .................................................. 15
3.5 Pengujian aktivitas penghambatan batu ginjal .......................................... 15
3.6 Analisis sampel ......................................................................................... 16
3.6.1 Preparasi sampel............................................................................... 16
3.6.2 Analisis Kalsium .............................................................................. 16
3.6.3 Analisis Fosfor ................................................................................. 17
3.7 Teknik analisis data ................................................................................... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Bobot Badan, Bobot Ginjal dan Rasio ...................................................... 19
4.2 Kadar Kalsium dan Fosfor ........................................................................ 21

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 26
5.2 Saran .......................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27

x
DAFTAR GAMBAR
Halaman

1. Persea americana Mill........................................................................................ 4


2. Rattus sp. ............................................................................................................. 7
3. Metabolisme Etilen Glikol ................................................................................ 12
4. Bobot Badan Harian .......................................................................................... 19
5. Bobot Ginjal dan Rasio ..................................................................................... 20
6. Kadar Kalsium .................................................................................................. 21
7. Kadar Fosfor...................................................................................................... 24

xi
DAFTAR TABEL
Halaman

1. Komposisi batu ginjal ....................................................................................... 11


2. Rataan Bobot badan, Bobot ginjal dan Rasio.................................................... 20
3. Rataan Kadar Kalsium dan Fosfor .................................................................... 22

xii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

1. Uji Statistik One Way ANOVA ........................................................................ 30

2. Uji lanjut Duncan (p < 0,05) ............................................................................. 31

xiii
1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini kemajuan ilmu pengetahuan di bidang pengobatan maju pesat
seiring dengan kemajuan teknologi, namun penggunaan obat tradisional masih
banyak digemari oleh masyarakat (Back to nature). Hal tersebut disebabkan obat
tradisional mempunyai banyak keuntungan, antara lain: harga yang relatif murah
sehingga dapat dijangkau masyarakat luas, praktis dalam pemakaian, bahan baku
yang mudah diperoleh dan disamping itu efek samping penggunaan obat
tradisional yang sejauh ini dianggap lebih kecil daripada efek samping obat
sintetik. Secara tradisional dan sudah umum digunakan adalah dengan
menggunakan tanaman obat. Salah satu penyakit yang banyak diobati dengan
tanaman secara empiris adalah batu ginjal. Contoh tanaman yang digunakan oleh
masyarakat untuk mengobati penyakit ini adalah Kumis Kucing, Meniran, Pecut
Kuda, Sambiloto, Ketimun dan Pare. Batu ginjal merupakan salah satu masalah
kesehatan yang menempati urutan ketiga setelah infeksi saluran kemih dan
kelainan prostat pada sekian banyak penyakit saluran kemih. Akibat terburuk dari
adanya batu ginjal adalah kerusakan ginjal secara permanen dan berdampak pada
uremia (Wijaya dan Darsono 2005).
Batu ginjal adalah partikel padat seperti kerikil yang terdapat diberbagai
bagian dari saluran urin. Terbentuk akibat kelebihan garam di dalam aliran darah
yang kemudian mengkristal di ginjal. Ukuran dan bentuk batu bermacam-macam,
berkisar dari partikel sangat kecil yang dapat lewat tanpa diketahui sampai batu
yang berukuran sekitar 5 cm. Selama tidak bergerak, adanya batu tidak diketahui.
Tetapi batu yang kecil sekalipun dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat ketika
berjalan keluar dari ginjal. Perdarahan ringan dapat terlihat akibat luka pada
dinding saluran kemih. Proses pembentukan batu terjadi di dalam ginjal di bagian
muara dari saluran kecil yaitu di bagian yang disebut piramid. Terbentuknya batu
dipengaruhi oleh berbagai hal fisika dan kimia antara lain mula-mula kadar suatu
zat, misalnya asam urat berlebihan dalam urin disebut supersaturasi sehingga
mengendap menjadi kristal, zat-zat lain adalah kalsium oksalat dan strufit. Faktor
lain adalah bila zat inhibitor (zat pencegah terjadinya kristal) kadarnya berkurang,
2

misalnya sitrat, faktor keasaman urin (pH) serta infeksi. Jenis batu yang sering
terdapat dalam ginjal ada empat, yaitu kalsium oksalat (70-75 %), strufit (20 %),
asam urat (5 %) dan sistin (1 %). Biasanya batu kalsium oksalat dan asam urat
akan terbentuk karena makanan dan minuman yang banyak mengandung kalsium
oksalat dan purin, sedangkan batu strufit sering terjadi karena ada infeksi di ginjal.
Batu sistin akan terjadi bila ada gangguan metabolisme (Coe 2003).
Pemeriksaan batu ginjal dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain
ultrasound, CT-scans, X-ray dan urin tampung 24 jam untuk memastikan jenis
batu penyebab dan bagaimana strategi terapinya (Stockham dan Scott 2008).
Terapi batu ginjal dapat dilakukan dengan mengubah pola makan, penggunaan
obat-obatan seperti diuretik, kalium sitrat dan operasi. Pengangkatan batu ginjal
dengan cara operasi memiliki resiko yang cukup tinggi selain mengeluarkan biaya
yang mahal, masyarakat enggan untuk melakukan operasi karena takut akan
trauma pasca operasi yang berkepanjangan. Batu ginjal tidak dapat larut hanya
dengan mengatur asupan makanan dan minuman obat tertentu. Obat-obatan yang
digunakan hanya akan mencegah agar batu tersebut tidak bertambah besar dan
membantu pengeluaran batu ginjal secara spontan. Untuk itu dapat dipilih obat-
obatan yang dapat menurunkan kadar kalsium dalam urin dan meningkatkan
frekuensi buang air kecil (diuresis). Salah satu obat yang sering digunakan dalam
pengobatan batu ginjal adalah preparat diuretikum. Diuretik umumnya digunakan
pada pengobatan hipertensi dan gangguan lain yang berhubungan dengan
pengeluaran cairan dan natrium dari tubuh.
Pohon alpukat selama ini dikenal hanya buahnya saja yang biasa
dikonsumsi masyarakat. Ternyata daun alpukat merupakan salah satu bahan alami
yang bisa digunakan sebagai obat tradisional. Daun ini secara empiris telah
digunakan sebagai diuretik, analgesik, anti radang, hipertensi, hipoglikemia, diare,
sakit tenggorokan dan perdarahan (Brai et al. 2007). Namun penelitian tentang
daun alpukat sendiri masih jarang dilakukan. Penelitian ini difokuskan pada
aktivitas anti lithiasis dari tanaman tersebut untuk melihat sejauh mana daya
hambat ekstrak etanol daun alpukat terhadap pembentukan batu ginjal.
3

1.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti
lithiasis ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) dalam mengurangi
dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan melihat kadar kalsium dan
fosfor dalam ginjal.

1.3 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan bermanfaat di bidang kedokteran khususnya
kedokteran hewan sebagai landasan untuk menjadi alternatif pengobatan.
Pengobatan batu ginjal yang paling utama dilakukan dengan cara mekanik atau
operasi dan membutuhkan biaya mahal. Selain itu, obat batu ginjal yang banyak
digunakan umumnya berasal dari bahan-bahan kimia yang memiliki efek samping
yang cukup serius dan berbahaya. Dengan penggunaan obat herbal ini,
pengobatan tidak lagi mahal dan dapat mengurangi resiko toksik dari bahan-bahan
kimia tersebut sehingga dapat meningkatkan kesehatan masyarkat.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat akan khasiat dari daun alpukat serta nilai tambah bagi pohon alpukat
secara ekonomis.
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alpukat
Taksonomi alpukat menurut Prihatman (2000):
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Ranales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana Mill

Gambar 1 Persea americana Mill (Prihatman 2000)

Tanaman ini merupakan pohon buah kecil yang telah banyak dikenal,
berasal dari Amerika Tengah, saat ini dapat ditemukan di semua negara beriklim
panas. Tanaman ini dibudidayakan dari biji di daerah pegunungan rendah. Buah
yang berwarna hijau pada umumnya berat rata-rata tidak lebih dari 200 gram.
Buah yang sudah matang kalau digerakan terdengar suara biji, kemudian buah
dibiarkan beberapa hari agar menjadi lunak. Buah ini hampir tidak berasa karena
hampir tidak memiliki kandungan gula, tetapi daging buah yang praktis tidak
berserat dan berwarna hijau dapat menghasilkan bubur (Moes) (Heyne K 1987).
5

Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama


alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo
pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan
lain-lain. Pohon buah dari Amerika Tengah, tumbuh liar di hutan-hutan, banyak
juga ditanam di kebun dan di pekarangan yang lapisan tanahnya gembur dan
subur serta tidak tergenang air. Walau dapat berbuah di dataran rendah, tapi hasil
akan memuaskan bila ditanam pada ketinggian 200-1.000 m di atas permukaan
laut (dpl), pada daerah tropik dan subtropik yang banyak curah hujannya
(Prihatman 2000).
Pohon kecil, tinggi 3-10 m, berakar tunggang, batang berkayu, bulat,
warnanya coklat kotor, banyak bercabang, ranting berambut halus. Daun tunggal,
bertangkai yang panjangnya 1,5-5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting,
bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang, tebal seperti kulit, ujung dan
pangkal runcing, tepi rata kadang-kadang agak menggulung ke atas, bertulang
menyirip, panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun muda warnanya kemerahan dan
berambut rapat, daun tua warnanya hijau dan gundul (Prihatman 2000).
Bunganya majemuk, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang keluar
dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buahnya buah buni, bentuk bola
atau bulat telur, panjang 5-20 cm, warnanya hijau atau hijau kekuningan,
berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging buah jika sudah
masak lunak, warnanya hijau, kekuningan. Biji bulat seperti bola, diameter 2,5-5
cm, keping biji putih kemerahan. Buah alpukat yang masak daging buahnya
lunak, berlemak, biasanya dimakan sebagai es campur atau dibuat jus (Prihatman
2000).
Bagian yang dapat dipakai dari pohon alpukat antara lain daging buah
untuk konsumsi, daun dan biji mempunyai efek pengobatan. Sifat kimiawi dari
masing-masing bagian untuk buah dan daun mengandung saponin alkaloida dan
flavanoid, selain itu juga buah mengandung tanin dan daunnya mengandung
polifenol, quersetin dan gula alkohol persit. Kegunaan dari masing-masing bagian
yaitu daging buah dapat digunakan untuk sariawan, melembabkan kulit kering,
daun alpukat dapat digunakan untuk mengatasi kencing batu dan darah tinggi,
sakit kepala, nyeri syaraf, nyeri lambung, saluran napas membengkak (bronchial
6

swellings), menstruasi tidak teratur dan biji dapat digunakan untuk sakit gigi dan
kencing manis. Daun mempunyai aktivitas antibakteri dan menghambat
pertumbuhan Staphylococcus aureus strain A dan B. Staphylococcus albus,
Pseudomonas sp; Proteus sp; Escherichea coli dan Bacillus subtilis (Prihatman
2000).
Penggunaan biasanya pada buah alpukat untuk dikonsumsi sedangkan
daun dan biji alpukat dirasa kurang aman karena mengandung toksik.
Aktivitasnya antara lain sebagai anti penuaan, anti bakteri, anti radang, antiseptik,
astringensia, COX-2 Inhibitor, deobstruksi usus, diuretik, emolien, ekspektoran,
hematonik, hepatoproteksi, hipertensi, hipokolesterolemia, laksatif, anti parasit,
rodentisida, rubefasiensia. Indikasinya untuk alopesia, Alzheimer disease, anemia,
arthrosis, atherosclerosis, perdarahan, kalkuli, kanker, flu, batuk, ketombe,
penyakit kulit, diabetes, diare, disentri, enterosis, demam, frigid, kembung, asam
urat, sakit kepala, hematom, hepatosis, impoten, infeksi, malaria, neuralgi,
pulmonosis, rematik, skabies, gigitan ular, sakit tenggorokan, nyeri sendi, sakit
gigi, hingga memperlancar menstruasi. Kontraindikasi, interaksi dan efek
sampingnya belum ditemukan. Daun alpukat mengandung dopamin dan
minyaknya mengandung methyl chavicol. Ingesti dari daun, ranting atau keduanya
menyebabkan mastitis pada sapi, kuda, kelinci dan kambing. Di samping itu dosis
tinggi sangat fatal pada kambing. Daun alpukat yang terendam di kolam dapat
membunuh ikan di dalamnya. Dikatakan buah alpukat mentah itu beracun, burung
kenari mati setelah memakan buah yang matang. Dua jenis getah yang berasal dari
kulit buah, memiliki sifat racun bagi marmut melalui suntikan secara subkutan
dan peritonial. LD50 ekstrak daun alpukat lebih besar dari 8828 mg/kg secara
intraperitonial dan lebih besar dari 12500 mg/kg secara oral pada tikus percobaan
sedangkan LD50 ekstrak buah lebih besar dari 12500 mg/kg secara oral (Duke et
al. 2002).

2.2 Hewan Percobaan


Hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakan
untuk dipakai sebagai hewan model guna mempelajari dan mengembangkan
berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorik
(Malole et al. 1989). Untuk digunakan dalam penelitian, hewan percobaan harus
7

memenuhi kriteria tertentu, antara lain kemiripan fungsi fisiologis dengan


manusia, perkembangbiakan cepat, cenderung mudah didapat dan dipelihara,
memiliki galur genetis murni serta murah secara ekonomis (Subahagio et al.
1997).

Taksonomi tikus putih dalam Robinson (1979) :


Kingdom : Animalia
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus sp.

Gambar 2 Rattus sp. (data pribadi)

Hewan percobaan yang umum digunakan dalam penelitian farmakologi


dan toksikologi adalah mencit dan tikus putih. Hewan ini dipilih karena murah,
mudah didapat dan mudah ditangani. Mencit dan tikus putih memiliki banyak data
toksikologi, sehingga mempermudah pembandingan toksisitas zat-zat kimia.
Tikus putih telah digunakan secara luas untuk tujuan penelitian, karena hewan ini
telah diketahui sifat-sifatnya dengan sempurna, mudah dipelihara, merupakan
hewan yang relatif sehat dan cocok untuk berbagai macam penelitian (Lu 1995).
8

Tikus putih mempunyai 3 galur yang umum dikenal yaitu, galur Sprague-
Dawley, galur Winstar dan galur Long-Evans. Galur Sprague-Dawley yang umum
digunakan untuk penelitian, mempunyai ciri berwarna putih albino, berkepala
kecil dan ekornya lebih panjang dari badannya (Malole et al. 1989).
Penelitian dalam bidang toksikologi dan farmakologi memerlukan
serangkaian percobaan terhadap hewan percobaan untuk mengetahui tingkat
toksisitas dan keamanan obat untuk manusia. Penggunaan berbagai tingkat dosis
obat terhadap hewan percobaan dilakukan untuk mendapatkan dosis terbesar yang
tidak menimbulkan efek merugikan atau dosis yang sangat besar yang dapat
menimbulkan kelainan jaringan atau efek toksik yang jelas. Waktu observasi akan
jauh lebih pendek bila kita menggunakan dosis yang lebih besar, sehingga akan
mengurangi biaya pemeriksaan. Pada waktu tertentu sebagian hewan percobaan
perlu dibunuh untuk mengetahui pengaruh obat terhadap organ. Pemeriksaan
kimia darah, urin dan tinja dilakukan untuk mengetahui kelainan yang timbul
(Darmansjah 1995).

2.3 Ginjal
Ginjal adalah organ tubuh yang berperan utama dalam memelihara
keseimbangan cairan serta elektrolit dan mengatur tekanan darah (Hartono 1992).
Salah satu organ yang sering menderita karena adanya zat-zat yang bersifat toksik
adalah ginjal. Hal ini berkaitan dengan fungsi ginjal yang tercermin pada sistem
pembuluh darah kompleks. Peran utama ginjal adalah ekskresi sebagian besar
hasil akhir metabolisme tubuh melalui urin dan mengatur konsentrasi unsur-unsur
yang terdapat dalam cairan tubuh (Guyton 1994). Selain itu ginjal berfungsi
memetakan toksikan pada filtrat, membawa toksikan melalui sel tubulus dan
mengaktifkan senyawa racun tertentu, menyebabkan ginjal sebagai organ sasaran
utama dari efek toksik (Lu 1995).
Sebuah ginjal dengan potongan melintang memberi gambaran dua daerah
yang cukup jelas. Daerah perifer yang beraspek gelap disebut korteks (cortex) dan
selebihnya yang agak cerah disebut medula (medulla), berbentuk piramid terbalik
(Hartono 1992). Unit terkecil dari ginjal adalah nefron, yang terdiri dari
glomerolus, kapsula Bowman dan tubulus renalis. Nefron memiliki fungsi dasar
membersihkan atau menjernihkan plasma darah dari substansi yang tidak
9

diinginkan oleh tubuh. Biasanya substansi tersebut berasal dari hasil metabolisme
seperti urea, kreatinin, asam urat dan ion-ion natrium, kalium, klorida serta ion-
ion hidrogen dalam jumlah yang berlebihan (Guyton 1994). Proses filtrasi terjadi
di glomerulus dan substansi dengan ukuran kecil sampai sedang dapat melewati
dinding kapilernya. Substansi yang besar seperti protein plasma tidak dapat
melewati dinding kapiler sehingga tidak terfiltrasi. Substansi darah yang dapat
terfiltrasi antara lain natrium, kalium, klorida, fosfor anorganik, glukosa, kreatinin
dan asam urat (Strukie 1976).
Ginjal dalam tubuh berfungsi sebagai filter untuk membersihkan darah
atau cairan lainnya. Fungsi ini bertujuan agar bahan-bahan kimia yang terkandung
dalam darah atau cairan tubuh lainnya tidak terbawa kembali oleh darah dan
beredar ke seluruh tubuh. Sebagian kotoran hasil penyaringan ini akan
dikeluarkan melalui ginjal bersama urin. Namun sebagian lagi mungkin tertinggal
dan mengendap menjadi batu ginjal. Apabila endapan ini tidak dikeluarkan, maka
akan menetap di ginjal atau berpindah ke kantung kemih. Cairan yang menyerupai
plasma difiltrasi melalui dinding kapiler glomerolus ke tubulus renalis di ginjal.
Dalam perjalanannya sepanjang tubulus ginjal, isi cairan filtrat akan berkurang
dan susunannya berubah akibat proses reabsorbsi tubulus dan proses sekresi
tubulus untuk membentuk urin yang akan disalurkan ke dalam pelvis renalis. Air
serta elektrolit dan metabolit penting lainnya akan diserap kembali. Dari pelvis
renalis, urin dialirkan ke dalam kandung kemih untuk kemudian dikeluarkan
melalui proses berkemih (Ganong 1995).

2.4 Batu ginjal


Pembentukan batu hasil sedimentasi di saluran kemih disebut dengan
urolithiasis atau kalkuli. Kalkuli biasa ditemukan di kantung kemih, pelvis renalis,
atau bahkan ditemukan di tubulus renalis. Urolith yang berada di ureter,
menghasilkan rasa sakit yang bukan main dikenal dengan kolik ureter. Kalkuli di
kantung kemih dikeluarkan bersama urin biasanya tersangkut di uretra pada
hewan jantan, termasuk fleksura sigmoidea pada ruminan, hasilnya obstruksi yang
fatal jika tidak diobati. Pada betina sangat jarang karena bentuk uretra yang lebih
pendek dan lebar. Kalkuli yang ditemukan di dalam ginjal dinamakan nefrolith.
Urolith berukuran dari yang kecil seperti partikel pasir sampai yang berukuran
10

besar seperti batu yang mengisi pelvis ginjal dan kantung kemih. Batu tersebut
bisa padat, lunak, berwarna putih, kekuningan, halus, kasar, bulat atau persegi
(Smith dan Jones 1962).
Hewan herbivora sering ditemukan batu yang didominasi bentukan silikat
dan sangat sedikit ditemukan bentukan fosfat, karbonat, kalsium oksalat,
amonium dan magnesium. Bentukan batu ginjal sangat dipengaruhi makanan yang
dikonsumsi. Tanaman yang tumbuh di daerah gersang banyak ditemukan unsur
silika. Pada daerah lain ditemukan derivat xanthine dilaporkan sebagai penyebab
kalkuli pada domba. Pada karnivora dan omnivora urolith yang ditemukan pun
berbeda. Kalkuli yang ditemukan mirip dengan yang ada pada manusia,
dikarenakan karakteristik urin yang asam kontras dengan karakteristik urin pada
herbivora yang lebih alkalis. Batuan kalsium oksalat sangat keras, berwarna putih
kekuningan dan berduri. Biasa ditemukan satuan di kantung kemih dan ukuran
diameternya mencapai beberapa sentimeter. Kalkuli asam urat sebagian besar
terdiri atas amonium (dari dekomposisi urea) dan sodium urat. Biasa ditemukan
pada anjing ras dalmatian yang mengekskresikan banyak asam urat pada urinnya.
Kalkuli fosfat seperti kalkuli pada herbivora, berwarna putih dan lebih rapuh
seperti kapur. Batuan sistin lebih kecil, bentuknya lebih bervariasi dan tidak
umum, jarang ditemukan (Smith dan Jones 1962).
Kejadian urolithiasis selama 15 tahun di Royal Veterinary College,
Copenhagen ditemukan kalkuli 0,6 % dari keseluruhan penyakit anjing. Sebagian
besar berupa magnesium-amonium fosfat, kalsium oksalat, batuan asam urat dan
sistin. Banyak pendapat, yang menyebabkan kalkuli karena infeksi saluran kemih
dan kekurangan vitamin A. Beberapa kasus menyebutkan pembentukan kalkuli
karena kristalisasi dari suatu partikel yang akan menjadi inti dari batuan. Inti
batuan bisa berupa leukosit yang mati, sel epitel yang runtuh, atau gumpalan
fibrin (Smith dan Jones 1962).
Pemeriksaan urolith secara reaksi kimia untuk mendeteksi adanya kation
dan anion memiliki kelemahan sehingga tidak dipakai. Pemeriksaan ini tidak
menunjukan data kuantitas, tidak menyediakan jumlah relatif antar unsur
pembentuk batuan, kehilangan beberapa jumlah ion secara signifikan, tidak bisa
mendeteksi silika dan sistin, beberapa komponen sering menunjukan positif palsu
11

dan batu ginjal campuran tidak bisa diklasifikasikan. Batu ginjal jenis dan
komposisinya bermacam-macam seperti yang terlihat pada Tabel 1. Pemeriksaan
tersebut telah digantikan dengan pemeriksaan secara fisik, yaitu dengan
kristalografi optikal, X-ray dan yang jarang dilakukan seperti microprobe
electron, scanning electron microscopy (SEM) dan mikroskop inframerah
(Stockham dan Scott 2008).

Tabel 1 Komposisi batu ginjal


Kelompok Nama Senyawa Rumus Kimia
Karbonat Kalsium karbonat CaCO3
Sistin Sistin S CH2 CH(NH2)COOH
Oksalat Kalsium oksalat monohidrat CaC2O4.H2O
Kalsium oksalat dihidrat CaC2O4.2H2O
Fosfat Kalsium fosfat Ca5(PO4)3(OH)
Hidroksiapatit Ca10(PO4)6(OH)2
Karbonit-apatit Ca10(PO4,CO3OH)6(OH)2
Kalsium hidrogen fosfat dihidrat CaHPO4.2H2O
Trikalsium fosfat Ca3(PO4)2
Oktakalsium fosfat CaH(PO4)3.2.5H2O
Magnesium amonium fosfat MgNH4PO4.6H20
heksahidrat
Magnesium hidrogen fosfat MgHPO4.3H2O
trihidrat
Silika Silikon dioksida SiO2
Asam urat Asam urat C5H4N4O3
Asam urat dihidrat C5H4N4O3.2H2O
Urat Amonium asam urat C5H4N4O3NH4
Sodium asam urat monohidrat C5H3N4O3Na.H2O
(Stockham dan Scott 2008)

Patogenesa dari pembentukan batu ginjal merupakan proses yang


kompleks, melibatkan banyak faktor yang meningkatkan pembentukan batuan dan
yang menghambat. Tahap-tahap pembentukan kalkuli diantaranya kation dan
anion dari urolith terbentuk dari konsentrasi urin yang sudah jenuh. Kation dan
anion bersatu membentuk kristal yang unik. Faktor seperti pH, suhu dan flow rate
juga mempengaruhi pembentukan kristal. Kristal tersebut dapat terlihat di
sedimen urin dan tidak akan berkembang menjadi batuan yang besar apabila dapat
dikeluarkan bersama urin terlebih dahulu. Antara kristal-kristal kecil yang
terbentuk dapat bersatu menjadi agregat dan berkembang menjadi batuan yang
besar relatif cepat. Pembentukan kristal dihambat oleh beberapa zat seperti sitrat
12

yang dapat mengikat kalsium. Protein Tamm-Horsfall merupakan penghambat


alami yang dihasilkan tubulus renalis (Stockham dan Scott 2008).

2.5 Etilen glikol


Etilen glikol adalah senyawa kimia turunan yang dibuat dari sekian banyak
produk kimia komersial, termasuk polietilen tereftalat (PET) resin, poliester resin
tak jenuh, serat poliester dan poliester lapis. Etilen glikol digunakan sebagai
cairan anti pembekuan, penghilang es, pelapis permukaan, pemindah panas,
pendingin industri, hidrolik, surfaktan dan pengemulsi. Khalayak umum atau
konsumen sering terpapar etilen glikol dari penggunaannya sebagai anti
pembekuan dibidang otomotif. Keracunan akut pada manusia dan hewan pelihara
banyak terjadi secara tidak sengaja mengkonsumsi cairan tersebut karena rasanya
yang manis. Ginjal merupakan organ yang paling peka terhadap etilen glikol dan
merupakan target organ primer. Tata cara pengobatan keracunan etilen glikol akut
diatur untuk mencegah metabolit asam yang sangat toksik masuk, mengatasi
asidosis dan mencegah kerusakan ginjal permanen (Cruzan et al. 2004).

Gambar 3 Metabolisme Etilen Glikol (Cox et al. 2004)

Metabolisme dari etilen glikol terdiri dari empat tahap, berawal dari
perombakan senyawa tersebut di hati (Gambar 3). Tahap pertama etilen glikol
13

dimetabolisme menjadi glikol aldehid oleh alkohol dehidrogenase. Glikol aldehid


selanjutnya diubah menjadi glikolat oleh aldehid dehidrogenase pada tahap kedua.
Lebih jauh lagi glikolat diubah menjadi glioksilat yang hasil metabolisme
selanjutnya adalah oksalat. Senyawa tersebut mengendap bersama kalsium dalam
tubuh membentuk kristal kalsium oksalat (Cox et al. 2004).
Hipokalsemia dapat terjadi karena kalsium membentuk batuan sehingga
tidak dapat direabsorpsi kembali oleh ginjal. Etilen glikol juga merusak mukosa
saluran cerna menghasilkan lesio hemoragi. Etilen glikol merupakan depresan
bagi sistem susunan syaraf pusat dan dapat menimbulkan edema otak. Depresi
otot jantung mungkin terjadi akibat deposisi kalsium oksalat di otot tersebut tetapi
hal ini terjadi lebih karena metabolisme yang kacau dari tubuh yang keracunan
etilen glikol (Cox et al. 2004).
Keracunan etilen glikol memperlihatkan perbedaan kepekaan antar spesies
dan jenis kelamin setelah pemberian jangka panjang, dimana tikus lebih peka
daripada mencit dan jenis kelamin jantan lebih peka daripada jenis kelamin betina.
Etilen glikol menginduksi nefrotoksik pada tikus yang kemungkinan berpengaruh
terhadap resiko kesehatan manusia. Kerusakan ginjal tersebut diakibatkan oleh
pembentukan kristal kalsium oksalat pada tubulus ginjal (Cruzan et al. 2004).
14

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi, Departemen Ilmu Nutrisi
dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan dan Laboratorium Farmasi,
Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan,
Institut Pertanian Bogor mulai bulan Juni sampai Agustus 2008. Penelitian ini
dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap
persiapan meliputi pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak etanol daun alpukat,
persiapan kandang, pakan dan hewan percobaan sedangkan tahap pelaksanaan
meliputi perlakuan, pengamatan dan analisis data.

3.2 Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sonde lambung,
gelas ukur, timbangan digital, maserator, rotary evaporator, instrumen AAS,
spektrofotometer, oven, gelas piala 100 ml, cawan penguap, batang pengaduk,
ayakan nomor 20, seperangkat alat bedah tikus dan tabung mikro (Eppendorf®).
Bahan yang digunakan adalah daun alpukat, etanol 70 %, etilen glikol 0,75 %,
amonium klorida 2 %, eter, tikus putih jantan galur Sprague Dawley, asam nitrat
0,4 N dan akuades.

3.3 Determinasi dan Pengumpulan Daun Alpukat


Daun alpukat diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
(BALITRO) dan dilakukan determinasi daun alpukat di Pusat Penelitian Biologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong untuk memastikan bahwa
bahan coba benar-benar jenis Persea americana Mill. Bagian yang digunakan
adalah daun yaitu daun yang sudah tua dan terletak di tengah ranting.

3.4 Pembuatan Serbuk / Simplisia Daun Alpukat


Daun alpukat kemudian dibersihkan dari kotoran yang menempel,
kemudian dicuci dengan air mengalir sampai bersih dan ditiriskan, kemudian
dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau dijemur di bawah sinar matahari
dengan ditutup plastik hitam. Setelah kering kemudian dibersihkan kembali dari
kotoran yang mungkin tertinggal saat pencucian. Setelah bersih dari kotoran,
15

maka simplisia kering diserbukan dan diayak dengan ayakan nomor 20 sehingga
didapat serbuk daun alpukat, disimpan dalam wadah bersih dan tertutup rapat
(Ditjen POM 2000).

3.5 Pembuatan ekstrak etanol Daun Alpukat


Pembuatan ekstrak etanol daun alpukat dilakukan dengan menambahkan
etanol 70 % ke dalam serbuk daun alpukat. Perbandingan jumlah pelarut dengan
serbuk adalah 1 : 10, direndam selama 2 x 24 jam dan sesekali diaduk kemudian
ditampung dalam suatu wadah dengan selalu mengganti pelarut tiap hari. Hasil
dari maserasi berupa ekstrak etanol daun alpukat yang kemudian dilakukan
evaporasi dengan alat rotary evaporator (40o C dan 50 rpm) untuk menguapkan
pelarutnya sehingga didapat ekstrak kental dari daun alpukat (Ditjen POM 2000).

3.5 Pengujian aktivitas penghambatan batu ginjal


Penelitian mengenai aktivitas penghambatan batu ginjal oleh ekstrak
etanol daun alpukat ini dilakukan dengan menggunakan tikus putih jantan galur
Sprague dawley. Untuk uji aktivitas ekstrak etanol daun alpukat pada percobaan
ini digunakan 20 tikus sehat dengan berat badan sekitar 200 gr – 300 gr yang
terbagi dalam 4 kelompok dan masing-masing kelompok 5 tikus, yaitu:
1. Kelompok kontrol normal (N): tikus diberi air minum normal ad libitum
2. Kelompok kontrol negatif (K): tikus diberi inducer
3. Kelompok perlakuan 1 (P1) : tikus diberi inducer dan dicekok ekstrak
etanol daun alpukat dosis 100 mg/kg
4. Kelompok perlakuan 2 (P2) : tikus diberi inducer dan dicekok ekstrak
etanol daun alpukat dosis 300 mg/kg
Inducer mengandung etilen glikol 0,75 % dan amonium klorida 2 % untuk
menginduksi batu ginjal dan mempercepat proses pembentukan. Dosis cekok
ekstrak daun alpukat adalah 3 ml/200gr BB dicekok dengan menggunakan sonde
lambung. Pengamatan bobot badan juga dilakukan dan perhitungan rasio terhadap
bobot ginjal. Perlakuan selama 10 hari dan pada hari ke-11 dilakukan nefroktomi.
Tikus dimatikan dengan menggunakan eter. Bagian abdomen dibuka kemudian
diambil ginjalnya untuk dianalisis kadar kalsium dan fosfor.
16

3.6 Analisis sampel


3.6.1 Preparasi sampel
Ginjal tikus ditaruh ke dalam cawan penguap dan dimasukan ke dalam
oven 100o C selama 24 jam. Setelah itu ginjal kering dicincang kemudian
dimasukan ke dalam gelas piala 100 ml berisi 7 ml asam nitrat 0,4 N untuk
melarutkan kalsium. Dilakukan pemanasan sampai cairan berubah menjadi
kekuningan. Reaksi yang terjadi sebagai berikut: Ca(s) + 2HNO3(aq) →
Ca(NO3)2(aq) + H2(g). Cairan tersebut dimasukan ke dalam mikrotub untuk
selanjutnya dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) atau
spektrofotometer. Sebelumnya dilakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan faktor
pengenceran yang dibutuhkan dan penambahan bahan kimia untuk
menghilangkan ion-ion pengganggu dengan reagen Cl3La.7H2O (Lanthanum
trichloride heptahydrate) (Reitz et al. 1960).
Untuk analisis kalsium preparasi AAS dengan memipet 0,5 ml cairan
sampel ditambah 0,05 ml reagen dalam akuades 5ml kemudian divorteks baru bisa
dilanjutkan dengan prosedur AAS sedangkan untuk analisis fosfor dengan
memipet 0,5 ml cairan sampel ditambah akuades sampai 3 ml dan 2 ml larutan C
(molibdovanadat) kemudian dikocok baru bisa dilanjutkan dengan pengukuran
menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm (Suzanne 1998).

3.6.2 Analisis Kalsium


Untuk menganalisis material biologi seperti kalsium digunakan instrumen
AAS adalah suatu teknik analisis untuk menetapkan konsentrasi suatu unsur
(logam) dalam suatu sampel. Terdapat dua langkah, yaitu atomisasi sampel dan
absorpsi radiasi dari sumber sinar oleh atom bebas. Sampel berupa hasil ekstraksi
ginjal kering diubah menjadi atom oleh perangkat atomisasi (berupa nyala atau
tungku grafit). Selama proses absorpsi sinar UV-Vis, atom bebas akan mengalami
transisi elektronik dari ground stated ke exited stated. Banyaknya atom yang
mengalami transisi elektronik bergantung pada temperatur, dirumuskan dalam
persamaan Boltzmann.
𝑁𝑞 𝑔𝑞 𝑒 −(𝐸 𝑞 /𝑘𝑇 )
=
𝑁𝑇 (𝑔 𝑖 𝑒 −(𝐸 𝑖 /𝑘𝑇 ) )
(Suzanne 1998).
17

3.6.3 Analisis Fosfor


Determinasi fosfor digunakan prosedur kolorimetri (AOAC Method
986.24). Intensitas warna dari fosfomolibdovanadat bisa diukur secara kuantitatif
menggunakan prinsip spektrofotometri. Prosedur tersebut menghasilkan stabilitas
warna yang lebih baik sehingga umum digunakan. Daerah cahaya tampak dalam
spektrum elektromagnetik, beberapa panjang gelombang diserap dan sebagian
dipantulkan. Panjang gelombang yang dipantulkan adalah warna yang kita lihat.
Pada metode kolorimetri, reaksi kimia harus menghasilkan warna yang stabil yang
dikembangkan dengan cepat dan hanya terbentuk satu jenis warna. Reaksi
pembentukan warna tersebut dipilih berdasarkan jenis mineral yang akan
dianalisis.
Selama intensitas warna meningkat, cahaya yang dapat menembus suatu
larutan sangat sedikit. Begitu pula saat cahaya menembus jalur yang panjang
dalam larutan, sedikit cahaya yang dapat diteruskan. Kemampuan menghitung
cahaya yang dapat diteruskan melewati suatu larutan atau sebaliknya, cahaya yang
diserap oleh suatu larutan, sangat mungkin ditentukan konsentrasi dari substansi
yang bereaksi.
Transmittance (T) dari suatu larutan adalah perbandingan P dengan Po
ditunjukan persamaan sebagai berikut.
𝑇 = 𝑃 𝑃𝑜
Transmittance juga dinyatakan dalam persen ditunjukan persamaan sebagai
berikut.
% 𝑇 = 𝑃 𝑃𝑜 × 100
T = Transmittance
Po = kekuatan sinar yang dipancarkan masuk melewati absorption cell
P = kekuatan sinar yang dipancarkan keluar dari absorption cell
Untuk menghitung nilai Absorbance (A) dari nilai T maka hubungan persamaan
sebagai berikut.
𝐴 = log 𝑃𝑜 𝑃 = − log 𝑇 = 2 − log % 𝑇
A = Absorbance
18

Hubungan antara nilai Absorbance suatu larutan dengan konsentrasi terlarut


dinyatakan dengan hukum Beer.
𝐴 = 𝑎𝑏𝑐
a = absorbtivity (konstanta)
b = jarak yang ditempuh melewati suatu larutan (cm)
c = konsentrasi zat terlarut (mg/ml, %)
(Suzanne 1998).

3.7 Teknik analisis data


Hasil disajikan sebagai Rataan + standard deviation (St Dev) dan ANOVA
satu arah digunakan untuk menentukan perbedaan yang nyata atau tidak diantara
kelompok perlakuan. Dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test
(DMRT) α : 0,05 . Perangkat lunak komputer digunakan untuk perhitungan
statistik.
H0: X1 = X2 (tidak berbeda nyata)
H1: X1 ≠ X2 (berbeda nyata)
Nilai probabilitas (p) < 0,05 diterima sebagai hal yang berbeda nyata, sedangkan
apabila (p) > 0,05 maka diterima sebagai hal yang tidak berbeda nyata (Mattjik
dan Sumertajaya 2000).
19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Bobot Badan, Bobot Ginjal dan Rasio

350

325

300 N
Bobot badan (gram)

K
275
P1
250 P2

225

200
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Waktu (hari)
Gambar 4 Bobot Badan Harian. N: Normal, K: Kontrol negatif, P1: Perlakuan 1
dosis 100 mg/kg, P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg

Berdasarkan hasil percobaan didapatkan data rataan bobot badan tikus


perhari. Terlihat pada Gambar 4 bobot badan (BB) tikus mengalami peningkatan
pada kelompok kontrol normal (N) atau kelompok tikus tanpa perlakuan. Semua
kelompok tikus yang diberi inducer baik kelompok kontrol negatif (K), kelompok
perlakuan 1 (P1) maupun kelompok perlakuan 2 (P2) mengalami penurunan BB.
Walaupun kelompok K, P1 dan P2 mengalami penurunan terlihat perbedaan yang
cukup bermakna diantara ketiganya. P1 dan P2 lebih tidak stabil dan cenderung
naik pada hari ke-8 sedangkan K terus menurun secara konsisten. Secara statistik
nilai rataan bobot badan P1 dan P2 berbeda nyata dengan K (Tabel 2).
Ekstrak etanol dari daun alpukat (Persea americana Mill) sedikit banyak
berpengaruh pada tingkat kecuraman grafik dari penurunan bobot badan
dibandingkan dengan kelompok kontrol normal yang tidak diberi perlakuan (p <
0,05). Dalam hal ini jika dibandingkan dengan penurunan BB yang diakibatkan
kelompok perlakuan yang diberi etilen glikol saja Brai et al. (2007) menyatakan
bahwa ekstrak etanol daun alpukat meningkatkan katabolisme lemak dalam
20

jaringan adiposa menyebabkan penurunan bobot badan tetapi tidak menurunkan


lemak dalam hati pada tingkatan tikus percobaan sehingga terdapat perbedaan
tingkat kecuraman yang ditunjukan pada Gambar 4. Rataan BB tikus semua
kelompok menurun pada hari terakhir percobaan karena tikus dipuasakan.

1.20
1.07
1.10
1.12 0.97
1.00
0.86
Bobot (gram)

0.90 Bobot Ginjal


0.77 0.76
0.80
Rasio / 200 gr
0.70 BB
0.71 0.72
0.60

0.50

0.40
N K P1 P2
Kelompok

Gambar 5 Bobot Ginjal dan Rasio. N: Normal, K: Kontrol negatif, P1: Perlakuan
1 dosis 100 mg/kg, P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg

Tabel 2 Rataan Bobot badan, Bobot ginjal dan Rasio


Parameter N K P1 P2
c b a
BB (gr) 314,98 + 7,97 278,80 + 23,63 238,45 + 18,47 253,72 + 17,64a
BG (gr) 1,12 + 0,08 1,07 + 0,24 0,86 + 0,26 0,97 + 0,26
Rasio 0,71 0,77 0,72 0,76
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukan hal yang berbeda nyata
(p < 0,05)

Walaupun rataan bobot ginjal (BG) dan ratio bobot ginjal per 200 gram
bobot badan tikus menunjukan hal yang tidak berbeda nyata antar kelompok (p >
0,05) tetapi P1 cenderung menunjukan penurunan BG mencapai 19 %
dibandingkan K yang lebih tinggi jumlahnya (Gambar 5) mengingat besarnya
ginjal tikus yang menderita nefrotoksik tidak akan melebihi 2 kalinya besar ginjal
normal. Sekilas terlihat BG kelompok normal (N) lebih tinggi dari kelompok
induksi (K) tetapi dengan perhitungan rasio BG/200 gram BB menunjukan N
21

lebih rendah dari K. Rasio digunakan untuk menyetarakan atau mengkoreksi


faktor bobot badan yang lebih besar akan memiliki bobot ginjal yang besar pula
begitu juga sebaliknya. Dosis ekstrak etanol daun alpukat lebih tinggi (300 mg/kg)
yang digunakan pada P2 justru tidak menurunkan bobot ginjal seperti P1 (100
mg/kg).
Menurut Baker et al. (1979) besarnya ukuran relatif dan ketebalan daerah
di ginjal dipengaruhi oleh perbandingan bobot ginjal dan bobot badan tikus dan
akan membentuk grafik garis horizontal berapapun umur tikus pada keadaan
normal. Bobot badan rata-rata 314,98 gram memiliki bobot ginjal 1,12 gram pada
kelompok normal memiliki rasio 0,71 sedangkan apabila ada kelainan di ginjal
berupa peradangan dan deposit mineral akan menaikan bobot ginjal 1,07 gram
relatif terhadap bobot badan 278,8 gram sebesar 0,77. Aktivitas anti radang dari
ekstrak etanol daun alpukat menurunkan bobot ginjal relatif mendekati normal
sebesar 0,72 seperti yang terlihat pada Tabel 2. Nefrotoksik secara otomatis
meningkatkan bobot ginjal karena kebengkakan akibat reaksi radang selain kadar
mineral yang tinggi dalam ginjal. Cruzan et al. (2004) menyatakan tikus putih
mengalami penurunan bobot badan akibat keracunan etilen glikol dosis tinggi dan
menaikan bobot ginjal serta rasio bobot ginjal relatif terhadap bobot badan.

4.2 Kadar Kalsium dan Fosfor

0.160
0.139
0.140

0.120

0.100

0.080 0.075
0.067
0.060 Kalsium
0.060

0.040

0.020

0.000
N K P1 P2

Gambar 6 Kadar Kalsium. N: Normal, K: Kontrol negatif, P1: Perlakuan 1 dosis


100 mg/kg, P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg
22

Etilen glikol (EG) dimetabolisme dalam hati menghasilkan senyawa


metabolit oksalat sehingga menyebabkan hiperoksaluria yang dapat berikatan
dengan kalsium dalam darah membentuk kristal kalsium oksalat (CaOx) dan
terdepo di ginjal (nefrolithiasis) (Green et al. 2005). Kadar kalsium yang diukur
pada kelompok normal (N) sebesar 0,075 mg tidak berbeda nyata dengan
kelompok perlakuan P1 (0,060 mg) dan P2 (0,067 mg). Tetapi sangat signifikan
secara statistik berbeda dibandingkan dengan kadar kalsium kelompok kontrol
negatif (K) sebesar 0,139 mg (p < 0,05) (Tabel 3). Hiperoksaluria kalsium dialami
kelompok K yang diinduksi EG. Walaupun demikian kelompok perlakuan yang
diberi ekstrak etanol daun alpukat mampu mengurangi kadar kalsium dalam
pembentukan batuan di ginjal (nefrolithiasis). Kelompok perlakuan P1
menurunkan grafik dengan tingkat kecuraman yang tinggi dari K (Gambar 6). P1
lebih baik dalam mencegah pembentukan CaOx dibandingkan dengan P2.

Tabel 3 Rataan Kadar Kalsium dan Fosfor


Parameter N K P1 P2
Kadar Ca 0,075 + 0,013 0,139 + 0,079a 0,060 + 0.012 0,067 + 0,009
Kadar P 0,540 + 0,023 0,872 + 0,095a 0,512 + 0.143 0,568 + 0,137
Keterangan : Superskrip menunjukan hal yang berbeda nyata (p < 0,05)

Tikus yang terinduksi nefrolithiasis menunjukan deposit kristal kalsium


oksalat di dalam tubulus ginjal. Perlekatan kristal CaOx dengan sel-sel di tubulus
dipertimbangkan sebagai faktor potensial dalam pembentukan kalkuli (Touhami et
al. 2007). Kristal CaOx menempel pada reseptor anion dari permukaan membran
sel. Kristal CaOx dapat melisiskan membran epitel sel menggunakan protease
yang ditemukan dalam urin. Perlekatannya sangat cepat dan bergantung pada
konsentrasi jumlah kristal. Ini sangat berbeda dengan pembentukan kristal batuan
lainnya. Hal tersebut menunjukkan mengapa jenis batuan yang paling sering
ditemukan pada kejadian batu ginjal adalah kalsium oksalat. Pertahanan sel
pertama melawan kalkulogenesis adalah dengan membentuk protein penghambat
kristal (Protein Tamm-Horsfall), merupakan protein fagolisosom yang dapat
memfagosit kristal-kristal batuan dan menghancurkannya dengan enzim-enzim
lisosom yang terkandung di dalam protein tersebut (Grover et al. 2007). Faktor
23

penghambat batu ginjal lainnya adalah asam sitrat yang dapat memecah kristal
dengan mengikat kalsium. Dengan perhitungan sungguh-sungguh yang
mempertimbangkan kecepatan pertumbuhan kristal dan kecepatan arus cairan di
tubulus memberi kesan bahwa satu kristal menjadi tidak cukup besar untuk
menahan atau mengobstruksi lumen tubulus. Lebih jauh lagi ini membuktikan
bahwa kristal CaOx dapat dicegah perlekatannya dengan permukaan dari sel epitel
di ginjal (Atmani et al. 2004).
Komposisi kimia daun alpukat mengandung saponin, alkaloida, flavonoid,
polifenol, quersetin, gula alkohol persit, vitamin A, B, C dan E (Prihatman 2000).
Flavonoid merupakan unsur mikro yang terkandung dalam hampir semua varietas
tanaman. Pada tanaman tersebut flavonoid berfungsi sebagai pigmen warna buah
atau daun, pengusir serangga dan molekul pemberi isyarat. Polifenol dan quersetin
termasuk ke dalamnya. Quersetin merupakan antioksidan yang kuat, mampu
mencegah peroksidasi lemak (Sampson et al. 2002). Fungsi dalam tubuh dari
flavonoid menunjukan adanya aktivitas anti bakteri, anti peradangan, anti alergi,
anti mutagenik, anti viral, anti neoplasma, anti trombus dan vasodilatasi. Potensi
aktivitas antioksidan dari flavonoid adalah kemampuannya dalam mengumpulkan
radikal bebas seperti hidroksil, anion superoksida dan radikal peroksidasi lemak
yang mungkin merupakan fungsi terpenting dari flavonoid (Painter 2000).
Oksalat dapat mencegah proliferasi sel epitel tubulus renalis melalui
peningkatan reaksi oksidatif sel yang memproduksi radikal bebas yang dapat
menyebabkan kerusakan sel tersebut (Han et al. 2004). Selain memiliki
kandungan flavonoid yang tinggi, ekstrak etanol daun alpukat memiliki
kandungan vitamin E yang juga merupakan antioksidan yang kuat dan bisa
mencegah perlekatan CaOx pada membran sel epitel tubulus di ginjal dengan
menghambat kerusakan sel akibat hiperoksaluria peroksidatif pada permukaan
membran tubulus renalis (peroksidasi lemak) (Touhami et al. 2007). Khasiat
antioksidan yang dimiliki ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill)
mampu mencegah perlekatan kristal CaOx dan rangkaian proses selanjutnya
dalam pembentukan batu ginjal.
Kalsium yang terdepo di ginjal dalam bentuk CaOx menyebabkan
hipokalsemia karena kalsium tersebut tidak dapat direabsorpsi kembali melalui
24

tubulus renalis. Vander et al. (1990) menyebutkan bahwa secara normal


penurunan plasma kalsium dalam darah menginduksi kelenjar paratiroid untuk
mensekresikan paratiroid hormon (PTH). PTH mengembalikan plasma kalsium
normal dengan cara meningkatkan reabsorpsi kalsium di ginjal, meningkatkan
absorpsi kalsium di usus dan demineralisasi kalsium dari tulang. Homeostasis
tubuh meregulasi agar kadar mineral dalam tubuh jumlahnya selalu normal dan
seimbang. Menurut Last (2007) jumlah perbandingan normal kadar kalsium dan
kadar fosfor dalam darah adalah 10 : 4. Efek lain dari PTH adalah menurunkan
plasma fosfor dengan cara menurunkan reabsorpsi fosfor di ginjal dan
meningkatkan ekskresi fosfor dalam urin untuk menjaga rasio plasma Ca : P
selalu seimbang.

1.000
0.872
0.900
0.800
0.700
0.600 0.540 0.568
0.512
0.500 Fosfor
0.400
0.300
0.200
0.100
0.000
N K P1 P2

Gambar 7 Kadar Fosfor. N: Normal, K: Kontrol negatif, P1: Perlakuan 1 dosis


100 mg/kg, P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg

Rataan kadar fosfor N sebesar 0,540 mg. Peningkatan yang signifikan


ditunjukan pada kelompok P2 yang diinduksi etilen glikol mencapai 0,872 mg.
Hal tersebut cukup bermakna secara statistik dengan p < 0,05 (Tabel 3). Tren
grafik rataan kadar fosfor yang ditunjukan sama dengan tren grafik pada rataan
kadar kalsium (Gambar 7). Pada kelompok perlakuan P1 kadar fosfor menurun
hingga dibawah normal mencapai 0,512 mg. Hal ini menunjukan efek dari ekstrak
etanol daun alpukat berpengaruh nyata pada dosis 100 mg/kg (P1) dibandingkan
25

dengan dosis 300 mg/kg (P2) yang hanya menurunkan kadar fosfor dengan selisih
0,028 di atas kontrol normal (N).
Efek dari pemberian EG adalah menurunkan kadar kalsium dan fosfor
tulang, plasma kalsium, ekskresi fosfor dan asam sitrat serta meningkatkan plasma
fosfor dan ekskresi kalsium. Peningkatan kadar fosfor disebabkan karena
gangguan fungsi ginjal akibat nefrotoksik yang tidak mampu mengekskresikan
fosfor sehingga terjadi peningkatan kadar fosfor dalam darah (Rajagopal et al.
2004) terlihat pada kelompok tikus yang diinduksi etilen glikol (K). Dalam darah
fosfor dikenal dengan fosfat (H2PO4- dan HPO42-). Hiperfosfatemia menyebabkan
gejala metabolik asidosis oleh karena ion H+ meningkat bersamaan dengan
peningkatan fosfat (HPO42- + H+ → H2PO4-). Metabolik asidosis pada umumnya
menginduksi hiperfosfaturia (Vander et al. 1990). Pencegahan nefrotoksik oleh
ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) mengembalikan fungsi ginjal
dalam mengatur homeostasis mineral dalam tubuh.
26

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Data hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol
Persea americana Mill pada tikus percobaan dengan etilen glikol yang
menginduksi nefrolithiasis, mengurangi dan mencegah perkembangan dari
pembentukan batuan di ginjal, mendukung pengobatan herbal yang ada di
masyarakat berkenaan dengan aktivitas anti lithiasis tanaman tersebut. Mekanisme
dibalik efek yang ditunjukan berkaitan dengan efek diuresis yang ditingkatkan,
aktivitas antioksidan dan menurunkan konsentrasi faktor pembentuk kalkuli dalam
saluran kemih.

5.2 Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut dan studi klinik untuk menjelaskan teori
dari unsur-unsur kimia pokok yang terkandung di dalam ekstrak dan
mekanismenya terhadap aktivitas farmakologi dalam upaya pengembangan obat
herbal menjadi obat herbal terstandar hingga mencapai taraf fitofarmaka.
27

DAFTAR PUSTAKA

AOAC International. 1995. Official Methods of Analysis. 16th Ed. AOAC


International. Gaithersburg. MD.
Atmani F, Gerald F, John L. 2004. Extract from herniaria hirsuta coats calcium
oxalate monohydrate crystals and blocks their adhesion to renal epithelial
cells. The Journal of Urology, 172(4 Pt 1):1510-4.
Baker HJ, Lindsey JR, Weisbroth SH. 1979. The Laboratory rat: Biology and
Disease. Vol 1. New York : Academic Press Inc.
Brai BIC, Odetola AA, Agomo PU. 2007. Effects of persea americana leaf
extracts on body weight and liver lipid in rats fed hyperlipidaemic diet.
African Journal of Biotechnology, 6(8):1007-1011.
Coe FL. 2003. Kidney stone in Adults. http://www.kidney.niddk.nih.gov/
Kudisease/pus/kidneyfaillure/index.htm [3 Juni 2009]
Cox RD, Phillips WJ. 2004. Ethylene glycol toxicity. Military Medicine,
169(8):660-663.
Cruzan G, Corley RA, Hard GC, Mertens JJWM, McMartin KE, Snellings WM,
Gingell R, Deyo JA. 2004. Subchronic toxicity of ethylene glycol in wistar
and F-344 rats related to metabolism and clearance of metabolites.
Toxicological Sciences, 81(2):502-511.
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
Duke JA, Bogenschutz-Godwin MJB, duCellier J, Duke PK. 2002. Handbook of
Medicinal Herbs. 2nd Ed. Florida : CRC Press LLC.
Darmansjah I. 1995. Toksikologi Dasar dalam Farmakologi dan Terapi. Jakarta :
Bagian Farmakologis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ganong WF. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Jakarta : Penerbit
buku kedokteran.
Green ML, Hatch M, Freel RW. 2005. Ethylene glycol induces hyperoxaluria
without metabolic acidosis in rats. AJP-Renal Physiology, 289(3):536-543.
Guyton AG. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran. EGJ.
Grover PK, Thurgood LA, Fleming DE, Bronswijk W, Wang T, Ryall RL. 2007.
Intracrystalline urinary proteins faacilitate degradation and dissolution of
calcium oxalate crystals in cultured renal cells. AJP-Renal Physiology,
294:355-361.
28

Han HJ, Lim MJ, Lee YJ. 2004. Oxalate inhibits renal proximal tubule cell
proliferation via oxidative stress, p38 MAPK/JNK, and cPLA2 signaling
pathways. AJP-Renal Physiology, 287:1058-1066.
Hartono R. 1992. Histologi Veteriner. Edisi 3. Jakarta: Universitas Indonesia.
Hlm 392-444.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Jakarta : Yayasan Sarana
Wana Jaya.
Last W. 2007. The calcium-phosphorus ratio. http://www.health-science-
spirit.com/calcium.html [4 September 2009]
Lu FC. 1995. Toksikologi Dasar. Terjemahan Edi Nugroho. Jakarta : UI Press.
Malole MBM, Pramono CSU. 1989. Pengantar Hewan-Hewan Percobaan di
Laboratorium. Bogor : Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB.
Mattjik A, Sumetajaya M. 2000. Perencanaan Percobaan dengan Aplikasi SAS
dan Minitab. Bogor : IPB Press.
Painter, FM. 2000. Antioxidant flavonoids: structure, function and clinical usage.
Alternative Medicine Review, 1(2):103-111.
Prihatman K. 2000. Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan.
Jakarta : BAPPENAS.
Rajagopal G, Venkatesan K, Ranganathan P, Ramakrishnan S. 1977. Calcium and
phosphorus metabolism in ethylene glycol toxicity in rats. Toxicology
and Applied Pharmacology, Vol. 39(3): 543-547
Reitz LL, Smith WH, Plumlee MP. 1960. A simple wet oxidation procedure for
biological materials. Analytical chemistry, Vol. 32: 1728.
Robinson T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam.
Terjemahan Kosasih Padmawinata. Bandung : Penerbit ITB.
Sampson L, Rimm E, Hollman PC, de Vries JHM, Katan MB. Flavonol and
flavone intakes in US health professionals. 2002. Journal of The American
Dietetic Association, 102(10):1414-1420.
Smith HA, Jones T C. 1962. Veterinary Pathology. 2nd Ed. Texas: Lea & Febiger.
Subahagio, Rahman I, Ibnusahni, Sutarjo, Sulaksono ME. 1997. Pengaruh faktor
keturunan dan lingkungan terhadap sifat-sifat biologis terlihat pada hewan
percobaan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Badan
Pengembangan Kesehatan, Vol. VII No.1.
Suzanne N. 1998. Food Analysis. 2nd Ed. West Lafayette. Indian : Purdue
University.
Stockham SL, Scott MA. 2008. Fundamental of Veterinary Clinical Pathology.
2nd Ed. Iowa : Blackwell Publishing.
29

Strukie PDB. 1976. Kidney, Exterenal Salt Exretion and Urine. In: Avian
Physiology. 3rd Ed. New York: Heidebeg, Springer-Verlag.
Touhami M, Laroubi A, Elhabazi K, Loubna F, Zrara I, Eljahiri Y, Oussama A,
Grases F, Chait A. 2007. Lemon juice has protective activity in a rat
urolithiasis model. Pubmed Central, 7:18.
Vander AJ, Sherman JH, Luciano DS. 1990. Human Physiology: The Mechanisms
of Body Function. 5th Ed. New York : McGraw-Hill Inc.
Wijaya S, Darsono FL. 2005. Uji daya anti kalkuli perasan buah ketimun
(Cucumis sativus) terhadap tikus putih jantan dengan metode kalkuli.
Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3): 173-176.
30

Lampiran 1. Uji Statistik One Way ANOVA

ANOVA
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Between
P Groups 0.413928 3 0.137976 10.65508 0.000526
Within
Groups 0.19424 15 0.012949
Total 0.608168 18
Between
Ca Groups 0.019792 3 0.006597 3.748003 0.034324
Within
Groups 0.026403 15 0.00176
Total 0.046195 18

Sum of Mean
Bobot Badan Squares df Square F Sig.
Between
Groups 8313.425 2 4156.713 10.30792 0.000472
Within
Groups 10887.86 27 403.2541
Total 19201.29 29
31

Lampiran 2. Uji lanjut Duncan (p < 0,05)

Duncan
P
perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2
3 5 0.512
1 4 0.54
4 5 0.568
2 5 0.872
Sig. 0.485588731 1

Ca
perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2
3 5 0.06028
4 5 0.06674
1 4 0.074575
2 5 0.13912
Sig. 0.627920849 1

Bobot Badan
perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2 3
3 10 238.44
4 10 253.7203
2 10 278.82
1 10 313.87
Sig. 0.064025 1 1