Вы находитесь на странице: 1из 7

MESIN DC

Mesin ini mempunyai sebuah lilitan (winding) DC atau magnet permanen pada bagian stator. Rotor
(armature) di suplay dengan sebuah arus DC yang melalui komutator (commutator) dan sikat2 (brushes).
Komutator dan sikat2 memerlukan perawatan. Kecepatan maksimal dibatasi oleh kemampuan dari
komutator dan sikat2. Tegangan rating umumnya antara 6V sampai 700 V. Berikut ini gambar sebuah
mesin DC.

Prinsip operasi :
Gaya
F = B *i *l
Dimana : F : gaya (Newton)
B: Kerapatan Fluks (N/A.m)
i : arus (ampere)
l : panjang (meter)
Torka T (N.m)
T = kΦ I a
p
Dimana kΦ = ZsΦ
π
Arah torka dapat dibalik dengan membalik arah arus medan atau arus jangkar (armature).

Komponen motor DC

Sikat dan komutator


Sikat2 karbon membuat sebuah kontak selip dengan komutator. Komutator terdiri dari segmen tembaga
terisolasi yang diletakkan pada tempat dudukan yang silinder. Komutator perlu untuk selalu bersih, dan
sikat serta sesuatu yang berhubungan deng slip ring harus selalu diservis. Bekas sikat akan membuat panas
dan panas tersbut akan dikeluarkan melalui ventilasi udara. Debu debu bisa menyebabkan hubung pendek
dan gangguan. Panjang aksial dari komutator tergantung pada arus yang melewatinya.

Stator
Dapat berupa lingkaran atau berbentuk polygonal. Dibuat dari besi laminasi (steel laminated ) atau cast
iron. Kutub medan diletakkan simetri disekeliling rotor, terdiri dari magnet permanen atau lilitan medan.
Keuntungan dari magnet permanen :
+ tidak dibutuhkan supply listrik
2
+ tidak ada rugi rugi i R
+ kemungkinan bisa mempunyai ukuran frame yang lebih
kecil
Kekurangan dari magnet permanen :
- kekuatan dari medan selalu konstan.

sebuah interpole atau commutating pole biasanya diletakkan


diantara dua buah kutub medan. Komponen ini terdiri dari
lilitan yang memfasilitasi proses komutasi.
Stator juga mempunyai compensating winding yang
berfungsi untuk menetralkan reaksi pada jangkar (armature).

Jumlah Kutub
Kecepatan yang sama dapat dicapai dengan jumlah kutub yang berbeda. Secara ekonomi 2 kutub (2 sikat)
atau 4 kutub (4 sikat) digunakan di motor ukuran kecil dan menengah, dan jumlah kutub yang lebih untuk
motor besar (akan memberikan minimum biaya dan berat). Faktor pembatas utama adalah frekuensi dari
pn
pembalikan fluks ( ) di dalam inti jangkar (armature) (umumnya 25-50Hz). Jumlah kutub makin besar
2
akan memberikan end winding (akhir lilitan) yang lebih pendek sehingga memberikan lebih sedikit rugi
rugi tembaga. Juga akan memberikan lebih sedikit fluks pada yoke.

Air gaps
Antara stator dan rotor. Yang menyebabkan untuk bisa berputar sebuah mesin. Juga bisa digunakan untuk
The layer of bonding tape disekitar rotor dan untuk pendingin udara yang melalui sebuah system tersebut.
Air gap yang lebar dapat mengurangi getaran yang mana jika terlalu lebar air gaps dapat mengurangi
medan magnetik kontak dengan konduktor.

a. Produksi Torka, sebuah fungsi dari komutator


b. Torka akan dihasilkan oleh reaksi antara komutator dan jangkar seperti pada gambar di bawah ini :

Pengurangan dari fluks magnetik berakitan dengan reaksid ari jangkar (armature).

c. Produksi torka, merupakan fungsi dari komutator dan interpoles


Induktansi sendiri dari belitan jangkar dan energy yang tersimpan karenanya, mungkin dapat menyebabkan
loncatan fluks pada permukaan sebelah luar yang kecil dari sikat2. Ini dapat dicegah dengan menggunakan
interpoles. Biasanya digunakan untuk motor rotor belitan ukuran sedang dan besar (di motor kecil, loncatan
masih bisa diterima, dan dalam motor magnet permanen, induktansinya kecil). Interpoles akan
menginduksi sebuah gaya gerak listrik (electromagnetic force or emf) pada belitan yang akan bergerak
melalui komutator.
Reaksi dari jangkar dapat dicegah dengan menggunakan interpoles dan untuk mesin besar, compensating
winding, sering juga digunakan.
Gaya gerak listrik or ggl (electromagnetic force)

Ggl bolak balik terjadi pada jangkar (armature) dan biasanya


dinamakan steel laminations. Dan ggl searah terjadi pada
sikat2.
E = k Φ ω Volt
T = k Φ I a %mr
p
Dimana : kΦ = Z s Φ %m/A atau Vs/rad
π
2πn rpm
Dan ω= = 2πn rad/s
60
Dimana n = kecepatan rotor per detik (rev/s).

Rangkaian ekuivalen motor DC


Dimana Ra = R sikat + Rrotor + Rint erpoles Ω
dI a 235 + t
V = Ra I a + L + E dan r tergantung dari suhu Rt = Rt 0 •
dt 235 + t 0
Karakteristik Steady state : Torka vs
kecepatan dan variasi dengan
tegangan

Steady state :
V = RI + E
V −E
I=
R
Kecepatan tanpa beban :
E = k Φ ω (Volt )
p
kΦ = Z s Φ = kΦ
π
V
ω0 = , I0 = 0

k ΦV − k Φ2 ω
T = kΦ I a =
R
V R
ω= − 2T
kΦ kΦ

Karakteristik Steady state : Generation dan regeneration


Semua mesin listrik secara prinsip mampu dioperasiakn sebagai generator.
Motor dapat ”regenerate” , yaitu mengembalikan energi ke supply. Seperti pada rolling mill (untuk
membalikan arah putaran) dan pada aplikasi dimana diperlukan pengereman yang cepat. Cara lain yaitu
dengan membuang energi di resistor (dynamic braking).
Generation, ketika mesin diputar oleh penggerak mula (prime mover), arah arus akan dibalik dan E lebih
besar dari V

Operasi 4 kuadran dan pengereman


regenerative

Mesin DC yang dikontrol oleh


tegangan jangkar, mampu beroperasi
dalam 4 kuadran dengan mengontrol
polaritas dan besarnya V.
Motoring : V˃E, arah putaran
berbalik jika V berganti polaritasnya.
Generating : E˃V, arah putaran
berbalik jika V berganti polaritasnya.

V∞kecepa tan
I∞torka
Jika kita bekerja dalam mode
motoring di kuadran 1 (Q1) (V˃E),
dan kita tiba2 mengurangi tegangan ke V˂E, arus akan berubah arah, dan daya (energi kinetik dari motor
dan beban inertia) akan menyuply sistem. Torka beban dan torka motor akan memperlambat rotor sampai
steady state (di Q1) tercapai ( pada kecepatan rendah dan tegangan rendah).
Pengereman regenerative terjadi pada saat setiap kita menurunkan tegangan untuk menurunkan kecepatan.

Pengeraman regenerative pada putaran penuh (pada tanpa beban) .

Perubahan secara mendadak dari V ke –V akan


memberikan arus yang sangat besar.

Kita perlu menjaga arus pada nilai rating.

Karakteristik Steady state : kecepatan dasar dan pengurangan medan (field weakening)
V R
ω= − 2T
kΦ kΦ
Effesiensi dan rugi rugi mekanik
Pinput − Prugi
Effisiensi dapat dicari dengan rumus η= biasanya sekitar 80-95%
Pinput
Rugi rugi mekanik terjadi karena gesekan mekanik dan windage. Rugi akan meningkat jika kecepatan
meningkat. Kenaikan rugi windage akan berbanding lurus dengan pangkat tiga dari kecepatan, sedangkan
rugi gesekan akan berbanding lurus dengan kuadrat dari kecepatan. Gesekan terjadi diantara shaft dan
bearing akibat dari adanya putaran, seperti pada sikat2 komutator, makanya bisa juga disebut rugi gesekan
sikat. Windage terjadi akibat adanya pendinginan cairan (fluid). Rugi mekanik biasnaya tidak tergantung
pada beban, biasnaya sekitar 1-2% dari daya masukan. Sedangkan rugi yang lain tergantung pada beban.

2
Rugi rugi besi, terjadi pada semua lilitan ( I R ), pada beban tinggi, biasanya rugi bisa mencapai 50% dari
total rugi rugi.

Rugi rugi inti besi : rugi rugi histerisis dan eddy current
Pada putaran rotor, medan magnet akan selalu berubah secara terus menerus, dan partikel magnet di rotor
juga akan menyusun kembali diantara mereka secara terus menerus juga sesuai dengan perubahan medan
magnet yang menyebabkan gesekan magnet dan rugi rugi (histerisis) dan bisa di hitung dengan
menggunakan rumus : Phy = K hy fB α , dimana f merupakan frekuensi, B medan magnetik maksimal, α
merupakan konstanta ( antara 1,6 – 2,4) dan K merupakan konstanta yang berdasarkan properti magnetik
dari material di rotor.
Rotor juga merupakan sebuah konduktor listrik dan arus eddy akan menginduksi ketika motor berputar
dalam medan magnet yang dihasilkan oleh stator, yang akan menghasilkan rugi rugi dan bisa dihitung
dengan menggunakan rumus Pec = K ec f 2 B 2 .
Rugi rugi inti besi tidak bergantung pada beban, dan biasnaay 1-2% dari daya masukkan (10-20% total
rugi)