You are on page 1of 138

ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

PENDAHULUAN

Hubungan Islam dengan Barat dalam sejarah panjangnya diwarnai dengan fenomena
kerjasama dan konflik. Kerjasama Islam dan Barat paling tidak ditandai dengan
proses modernisasi dunia Islam yang sedikit banyak telah merubah wajah tradisional
Islam menjadi lebih adaptatif terhadap modernitas. Akan tetapi sejak abad ke-19,
gema yang menonjol dalam relasi antara Islam dan Barat adalah konflik. Ketimbang
memunculkan kemitraan, relasi Islam dan Barat menggambarkan dominasi-
subordinasi.

Pasang surut hubungan Islam dan Barat adalah fenomena sejarah yang perlu
diletakkan dalam kerangka kajian kritis historis untuk mencari sebab-sebab pasang
surut hubungan itu dan secepatnya dicari solusi yang tepat untuk membangun
hubungan tanpa dominasi dan konflik di masa-masa mendatang. Barat selama ini
dicurigai sebagai pihak yang telah memaksakan agenda-agenda “pembaratan” di
dunia Islam dalam rangka mengukuhkan hegemoni globalnya. Dampak yang
ditimbulkan dari hegemoni global Barat adalah semakin terpinggirkannya peran
ekonomi, politik, sosial dan budaya Islam dalam panggung sejarah peradaban dunia.

Tidak hanya itu, Islam semakin tersudut dengan berbagai cap yang dilontarkan Barat
terhadap Islam, mulai dari cap fundamentalis sampai teroris. Tentunya berbagai cap
itu terselubung kepentingan tingkat tinggi (high interest) untuk membuat semakin
terpojoknya Islam sehingga mudah untuk dijinakkan –lagi-lagi – demi kepentingan
globalnya.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

PEMBAHASAN

PE
NG
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ER
TIA
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

N
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ISL
AM
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Dari
sudut
bhs,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

islam
beras
al
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

drpd
perka
taan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

arab,
iaitu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

salim
a
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Dari
sudut
bhs,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

islam
beras
al
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

drpd
perka
taan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

arab,
iaitu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

salim
a
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

yg
berm
aksu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

d
sela
mat
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
sento
sa
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

atau
keda
maia
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

n, ia
juga
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

yg
berm
aksu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

d
sela
mat
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
sento
sa
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

atau
keda
maia
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

n, ia
juga
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

berm
aksu
d
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

meny
erah
diri,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tund
uk,
patuh
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
taat.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

berm
aksu
d
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

meny
erah
diri,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tund
uk,
patuh
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
taat.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Men
gikut
istila
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

h
atau
syara
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER


ialah
patuh
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
meny
erah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

diri
kpd
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Men
gikut
istila
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

h
atau
syara
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER


ialah
patuh
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
meny
erah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

diri
kpd
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Allah
deng
an
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

penu
h
kese
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

daran
dan
kerel
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

aan
tanpa
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

paks
aan.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Allah
deng
an
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

penu
h
kese
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

daran
dan
kerel
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

aan
tanpa
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

paks
aan.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Islam
juga
distil
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ahka
n
perat
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

uran
hidu
p
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

yang
meng
atur
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

hidu
p
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Islam
juga
distil
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ahka
n
perat
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

uran
hidu
p
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

yang
meng
atur
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

hidu
p
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
kehid
upan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

manu
sia
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

dan
kehid
upan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

manu
sia
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Defi
nisi
Islam
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

juga
dpt
difah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ami
ketik
a
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

jibril
dtg
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

berta
nya
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Defi
nisi
Islam
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

juga
dpt
difah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ami
ketik
a
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

jibril
dtg
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

berta
nya
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Rasu
lulla
h
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tenta
ng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Islam
:
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Rasu
lulla
h
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tenta
ng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Islam
:

ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

“Ceri
takan
pada
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ku
(wah
ai
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

muha
mma
d)
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tenta
ng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

islam

ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Cerit
akan
pada
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ku
(wah
ai
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

muha
mma
d)
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

tenta
ng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

islam

ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Rasu
lulla
h
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

menj
awab
“Eng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

kau
meng
aku
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

bhw
tiada
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Tuha
n
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Rasu
lulla
h
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

menj
awab
“Eng
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

kau
meng
aku
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

bhw
tiada
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Tuha
n
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

melai
nkan
Allah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Muh
amm
mad
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ialah
hamb
a dan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

pesur
uh-
Nya,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

melai
nkan
Allah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Muh
amm
mad
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ialah
hamb
a dan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

pesur
uh-
Nya,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

mend
irika
n
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

solat,
meng
eluar
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

jkan
zakat
,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

puas
a
bulan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

mend
irika
n
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

solat,
meng
eluar
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

jkan
zakat
,
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

puas
a
bulan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

rama
dhan
dan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

menu
naika
n haji
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ke
baitu
llah
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

jika
engk
au
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

rama
dhan
dan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

menu
naika
n haji
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ke
baitu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

llah
ji
Tradisi Kajian Islam Kontemporer

ISLAM mengalami puncak kemajuan dalam bidang keilmuan memang tak dapat
dipisahkan dari persentuhan dengan Barat. Kita tahu pada masa Ibnu Rust, Al Gazali,
dan Ibnu Sina, dinamika keilmuan memang begitu deras mengalir. Itu dipengaruhi
oleh kajian-kajian keilmuan seperti filsafat yang pernah berkembang di Yunani.
Dialektika yang dikembangkan pada saat itu sanggup menelorkan ide-ide
pembaharuan yang brilian dan memunculkan para cendikiawan tangguh dan
fenomenal. Pemikiran-pemikira mereka kini masih dikaji. Pendakian puncak
peradaban keilmuan di dunia Islam itu mestinya menjadi inspirasi dan motifasi bagi
kemajuan dunia keilmuan Islam saat ini.
Inilah yang diharapkan oleh beberapa penulis dalam buku ini. Mereka mencoba
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

mengaji kembali Islam dalam berbagai pembacaan kontemporer. Mulai dari pencarian
makna kebenaran dalam prespektif filsafat, sosiologi, kebudayaan, sampai pada
pelacakan geneologi nalar Arab. Semua itu dilakukan untuk mengelaborasi isu-isu
kontemporer yang masih berkorelasi dengan keislaman seperti, fenomena
fundamentalisme, ekstrimisme, gerakan puritan, moderat sampai isu kontemporer
seperti demokrasi, emansipasi, gender, oksidentalisme, poluralisme, dan HAM (Hak
Asasi manusia)
Ketertinggalan ini membuat kegagapan dunia Islam ketika
dihadapkan pada persoalan-persoalan sosial yang kini semakin kompleks.
Ketidakmampuan menjawab berbagai macam persoalan kekinian itu akibat masih
kental studi Islam dalam ranah ulum Al-din dengan corak normative.
Tidak dapat dimungkiri kajian keilmuan masa klasik tersebut tetap terbatas pada
konteks yang berkembang saat itu. Hasil kajian sperti itu seharus direkontekstualisasi.
Sebelum era 80-an, buku-buku ilmu kalam, hukum Islam, dan ilmu hadis begitu
mewarnai Islam. Pendidikan agama (Islam) lebih menekankan kepada pengajaran
Islam sebagai sebuah doktrin yang tak terbantahkan. Fakta ini terlihat ketika
menengok kembali dunia keilmuan di lembaga pendidikan non-formal seperti
pesantren.
Di dunia pesantren, kecenderungan mengaji kitab-kitab klasik yang bercorak sangat
normatif masih banyak dipertahankan. Uapaya itu dianggap sebagai bentuk
mempertahankan tradisi Islam agar tidak terkontiminasi oleh pemahaman sekulerisme
yang berkembang saat ini di Barat. Semua itu tidak dapat diungkiri adalah bagian
panjang dari tradisi geneologi keilmuan klasik.
Kecendrungan kajian keilmuan yang bercorak klasik seperti itu kemudian disadari
oleh banyak pihak tidak lagi sanggup menahan deras dinamika social keagamaan dan
politik yang semakin berkembang pesat dengan bermacam persoalan.
Rekonstruksi
Hal ini yang menuntut para cendikiawan muslim di Indonesia pada era 90-an
kembali merekonstruksi pemahman-pemahaman yang dibawa oleh tokoh-tokoh Islam
klasik. Lalu dibentuklah ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), MUI
(Majelis Ulama Indonesia) atau lembaga kajian seperti LKiS (Lembaga Kajian Islam),
sampai yang bercorak liberal seperti JIL (Jaringan Islam Liberal).
Fenomena itu menandai adanya hasrat untuk bangkit dari keterkukungan
pemahaman Islam yang tradisional dari para generasi Islam di Indonesia. Upaya itu
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

terus berlanjut hingga sekarang ini. Meski tetap hadir kecenderungan dari sebagian
generasi Islam yang hendak mempertahan warisan lamanya itu.
Islam memang penting kembali dikaji sebagai respons atas perkembangan zaman
yang semakin kompleks ini dari berbagai sudut panjang. Hal itu dimaksudkan agar
nilai-nilai Islam mampu terkontekstualisasikan ditengah dinamika social yang terus
bergejolak di masyarakat Islam, dan dunia Internasional pada khususnya untuk
mengenalkan Islam secara substansial; humanis, emansipatoris, dan anti terhadap
prilaku-prilaku ekstrem seperti fenomena terorisme.
Asumsi-asumsi yang tidak objektif di mata dunia internasional perlu kembali
diluruskan agar stigmatisasi yang kini hadir dapat dicegah. Pemahaman yang tidak
objektif jika tetap dibiarkan akan mampu membunuh nilai-nilai Islam di mata dunia.
Akhirnya Islam dianggap sebagai agama yang merusak tatanan social dunia.
Eksistensinya secara otomatis akan termarjinalkan.
Buku ini berupaya menghadirkan kembali Islam yang subtantif melalui kajian-
kajian kontemporer. Meski begitu, kajian Islam kontemporer ini masih terdapat
korelasi antara tradisi keilmuan Islam klasik yang disintesiskan dengan metode-
metode baru yang berkembang dalam tradisi Barat. Dengan begitu, Islam dalam
kajian keilmuan nya tidak lagi terbatas pada paradigma positivistic-sekularistik, atau
terbawa oleh arus modernitas Barat.

Dialetika ini dimaksudkan agar kajian Islam dapat diperoleh melalui pemahaman
yang mendalam hingga melampaui semua itu melalui kritik nalar (posmoderen-
determinitas). Dengan begitu akan tebentuk suatu pemahaman baru dengan tidak
memarjinalkan perkembangan dunia yang ada saat ini.

A. TESIS HUNTINGTON

Sejak “serangan terorisme” menghantam dua simbol kedigdayaan AS – Pentagon dan


World Trade Centre – banyak pengamat mengupas kembali teori benturan
antarperadaban yang pernah dipopulerkan Samuel P. Huntington. Dalam tulisan
kontroversialnya The Clash of Civilization yang dimuat jurnal Foreign Affair
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

(Summer, 1993), guru besar studi-studi strategis pada Harvard University AS itu
memprediksikan makin parahnya ketegangan antara peradaban Barat dan peradaban
Islam.

Huntington mengajukan tesis dalam kalimat sangat tegas : ”Menurut Hipotesis saya,”
katanya, “sumber utama konflik dunia baru tidak lagi ideologi atau ekonomi, tetapi
budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik dominan.
Negara-negara akan tetap menjadi aktor paling kuat dalam percaturan dunia, tetapi
konflik politik global yang paling prinsipil akan terjadi antara bangsa-bangsa dan
kelompok-kelompok karena perbedaan peradaban mereka. Benturan peradaban akan
mendominasi politik global.”

Secara lebih luas, Huntington mendasarkan pemikirannya – paling tidak – pada enam
alasan yang dijadikannya sebagai premis dasar untuk menjelaskan mengapa politik
dunia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh benturan antar peradaban. Pertama,
perbedaan peradaban tidak hanya nyata, tetapi sangat mendasar. Selama berabad-abad
perbedaan antarperadaban telah menimbulkan konflik paling keras dan paling lama.
Kedua, dunia ini sudah semakin menyempit sehingga interaksi antara orang yang
berbeda peradaban semakin meningkat. Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan
perubahan sosial diseluruh dunia telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari
akar-akar identitas-identitas lokal yang telah berlangsung lama. Kecenderungan ini
menyisakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh identitas agama, seringkali dalam
gerakan berlabelkan “fundamentalisme”. Keempat, dominasi peran Barat
menimbulkan reaksi de-westernisasi di dunia non-Barat. Kelima, perbedaan budaya
kurang bisa menyatukan, dibanding perbedaan politik dan ekonomi. Kelima,
kesadaran peradaban bukan reason d’etre utama terbentuknya regionalisme politik
atau ekonomi (Huntington, 2002:ix-x).

Dari premis-premis itu, sebelum sampai pada kesimpulan bahwa dari fakta-fakta di
atas secara otomatis akan menciptakan jurang perbedaan di antara peradaban-
peradaban, Huntington melakukan dua hal; pertama, memetakan muara kultural,
kecenderungan dan dinamika internal peradaban-peradaban, yaitu : Barat,
Cina/Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik/Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika.
Premis di atas berimplikasi pada semakin lebarnya perbedaan antar peradaban yang
akan semakin menyulitkan kompromi antar peradaban itu untuk sampai pada saling
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

pengertian. Maka, ujung-ujungnya akan terjadi benturan antar peradaban. Namun


pertanyaan kemudian, peradaban mana, vis a vis mana yang nantinya akan saling
berbenturan? Ia menjawab pertanyan ini pada langkah kedua, meramalkan bahwa
potensi konflik yang akan mendominasi dunia masa mendatang bukan diantara
kedelapan peradaban tersebut, tetapi antar Barat dan peradaban lainnya. Sedangkan
potensi konflik paling besar terjadi adalah antara Barat dan koalisi Islam-Konfusius
(ibid, x).

Sejak awal, teori “benturan antarperadaban” Huntington itu banyak


mengundang kritik, bahkan cibiran, daripada apresiasi. Selain karena dianggap
sebagai fantasi yang fantastis, teori itu juga tidak mencerminkan semangat zaman
yang menekankan aspek globalisasi dan pluralitas, toleransi dan kesetaraan.

B. Kelemahan Tesis Huntington

Akbar S. Ahmed (1992), salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka, adalah salah
satu yang tidak sepaham dengan Huntington. Dia menyatakan bahwa benturan yang
terjadi dalam sejarah dunia lebih menunjukkan faktor kepentingan ekonomi dan
politik ketimbang faktor perbedaan budaya. Akbar menunjuk fenomena perang Teluk
I sebagai fakta empiris peta politik yang tidak berhadap-hadapan secara diametral,
Barat vis a vis Islam, tetapi lebih menunjuk kepada polarisasi kepentingan. Dalam hal
ini, negara-negara Muslim seperti Kuwait, Arab Saudi, Mesir pada posisi kepentingan
yang seirama dengan Amerika dan sekutunya (Barat), sehingga tidak bisa dikatakan
telah terjadi benturan antara Islam dan Barat.

Kelemahan lain dalam tesis Huntington adalah kerancuan dalam mendefinisikan


peradaban. Huntington menyebut tujuh atau delapan peradaban utama yang mungkin
akan saling berkonfrontasi di masa yang akan datang : Barat, Cina/Konfusius, Jepang,
Islam, Hindu, Slav/Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika.

Huntington mencampuradukkan berbagai hal yang bermacam ragam, termasuk letak


(Barat), ajaran (Konfusius), etnik (Slav), negara (Jepang), agama (Islam), dan benua
(Afrika). Dalam hal ini, ia tidak konsisten dan tanpa definisi peradaban yang dapat
diterapkan untuk menguji tesis itu.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Selain itu, sama seperti apa yang telah diungkap Akbar di atas, kesimpulan
Huntington ternyata tidak menggambarkan kenyatan yang sebenarnya. Dengan
berakhirnya perang dingin, kecenderungan yang terjadi bukan pengelompokan
masyarakat dalam entitas tertinggi – yaitu pengelompokan peradaban – tetapi justru
perpecahan menuju entitas yang lebih kecil, berdasar suku dan etnik. Hal ini terlihat
jelas dari disintegrasi Uni Soviet, yang sebagian besar penduduknya memiliki dasar
budaya dan peradaban yang sama. Kesamaan peradaban belum merupakan perekat
cukup kuat bagi kelompok-kelompok etnik minoritas yang secara politik atau
ekonomi merasa ditindas kelompok mayoritas yang berkuasa.

C. Benturan Antar Peradaban atau Benturan Kepentingan

Terhadap tesis Huntington yang melihat Islam dan Barat sebagai dua peradaban yang
saling berbenturan, ada banyak kalangan yang kemudian mempertanyakan : the clash
of civilization or the clash of interest? Pertanyaan ini wajar adanya mengingat
penelitian yang pernah dilakukan oleh Fawaz A. Gerges (2000:27-30) yang
menunjukkan peta tentang polarisasi kaum intelektual di Amerika. Menurut Fawaz,
kelompok intelektual Amerika sebenarnya terbagi ke dalam dua kelompok :
Konfrontasionis dan akomodasionis. Kelompok pertama selalu mempersepsi Islam
dengan pencitraan yang negatif. Dengan kata lain, mereka selalu menganggap Islam
sebagai the black side of the world. Islam selalu diposisikan sebagai ancaman bagi
demokrasi dan lahirnya tatanan dunia yang damai. Eksponen yang termasuk
kelompok ini misalnya, Almos Perlmutter, Samuel Huntington, Gilles Kepel, dan
Bernard Lewis.

Sementara kelompok akomodasionis justru menolak diskripsi Islamis yang selalu


menggambarkan Islam sebagai anti demokrasi. Mereka membedakan antara tindakan-
tindakan kelompok aposisi politik Islamis dengan minoritas ekstrim yang hanya
sedikit jumlahnya. Diantara kelompok ini terdapat nama John L. Esposito dan Leon T.
Hadar. Bagi mereka, di masa lalu maupun di masa sekarang, ancaman Islam
sebenarnya tidak lain adalah mitos Barat yang berulang-ulang (Fawaz, 2000:30).
Sehingga mereka, meminjam istilah mantan Perdana Menteri Malaysia Datuk
Mahathir Muhammad, takut dengan banyangannya sendiri.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Tesis Huntington sebenarnya bagian dari rekomendasi bagi pemerintahan Amerika


Serikat untuk membuat peta tata dunia baru di planet bumi. Huntington dalam hal ini
ingin mengingatkan pemerintah AS untuk waspada terhadap ancaman baru pasca
perang dingin dan runtuhnya negara Uni Soviet.

Pada sisi lain, Barat, menurut sebagian pengamat, dalam hal ini Amerika Serikat, jelas
merupakan pihak yang paling merasa “diamini” secara ilmiah oleh Huntington,
khususnya dalam untuk melaksanakan kebijkan-kebijakan politik luar negeri. Betapa
tidak, dengan tesis benturan antar peradaban ini, Barat yang telah lama terbiasa
dengan visi global dan kebijakan luar negeri yang didasarkan pada persaingan antar
negara adidaya dalam berebut mendapatkan pengaruh dominasi global, semakin
tergoda untuk mengidentifikasi ancaman ideologi global lainnya seperti Islam dan
Konfusius dalam rangka mengisi “kekosongan ancaman” yang timbul pasca
runtuhnya komunisme.

Bukti otentik adanya “faktor kepentingan” yang menyertai tindakan Barat (Amerika)
dalam aksi-aksi politik dan militer yang menyebabkan timbulnya clash antara Barat
dan beberapa negara Islam adalah fenomena Perang Teluk jidid II di Irak. Dengan
dalih memerangi terorisme dengan menumbangkan kekuasan Saddam Husein yang
dinilai melindungi para teroris, ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber
minyak yang konon kandungannya nyaris sepadan dengan yang dipunyai Arab Saudi.
Lebih dari itu, dengan runtuhnya pemerintahan Saddam di Irak, akan lebih
mengukuhkan hegemoni AS sebagai satu-satunya kekuatan adidaya di muka bumi ini
yang berhak berbuat apa saja untuk melaksanakan kepentingan globalnya.

Cendekiawan terkemuka Muslim lain yang pendapatnya selaras dengan asumsi ini
adalah Muhammad Abed al-Jabiri (1999:73), Guru Besar Filsafat dan Pemikiran
Islam-Arab pada Muhammad V University Maroko. Sepanjang sejarah, menurut al-
Jabiri, hubungan antar peradaban tidak bersifat konfrontasi, tetapi interpenetrasi.
Bahkan konfrontasi dan konflik lebih sering dan destruktif dibandingkan konfrontasi
antar negara-negara dengan peradaban berbeda. Buktinya, dua kali perang dunia
terjadi dalam peradaban Barat, disebabkan oleh konflik kepentingan (conflicts of
interensts)
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Kepentingan global Barat sesungguhnya adalah dominasi ekonomi dan politik atas
seluruh negara non-Barat. Untuk melancarkan kepentinganya itu, Barat memakai
banyak cara, dari yang paling halus sampai yang paling berdarah-darah. Cara halus
Barat mengukuhkan hegemoninya diantaranya melalui rezim pengetahuan. Rezim
pengetahuan yang diciptakan Barat tidak memberi ruang yang bebas kepada
pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik di negara berkembang
diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem pengetahuan Barat. Dan
bukan hanya cara berfikir saja yang diarahkan, tetapi gaya hidupnya pun
dikendalikan. Hegemoni pengetahuan Barat terlihat jelas ketika kaum terdidik di
negara berkembang dengan setia dan tidak sadar menyebarkan dan membela nilai-
nilai dan institusi Barat seperti demokrasi, civil society, hak asasi manusia. Semua
yang datang dari Barat diterima sebagai nilai-nilai universal yang merupakan produk
peradaban terbaik yang harus diikuti.

B. Respon Muslim : Dialog atau Melawan Hegemoni

Apapun motif, model, dan pihak yang terlibat konflik, realitas dunia yang
penuh konflik menimbulkan bencana kemanusiaan yang dahsyat, dimana negara-
negara berkembang – termasuk Muslim – adalah korbannya. Konflik yang dipicu oleh
semangat imperialisme telah membuat jurang yang semakin lebar antara kelompok
dominan dan yang didominasi. Dunia tentu tidak boleh terlalu lama dibiarkan
terpolarisasi atas dua kelompok itu, di mana kelompok dominan sebagai the first
class, bisa berbuat sewenang-wenang atas kelompok yang didominasi. Jalan keluar
dari kemelut ini ada dua yang ditawarkan beberapa kalangan, dialog atau melawan
hegemoni.

Dialog adalah model penyelesaian yang dinilai paling sedikit menanggung resiko.
Dialog ini mengasumsikan antara pihak yang terlibat konflik (Barat dan non-Barat –
Islam-) berada dalam posisi yang sejajar untuk mau saling mengerti satu sama lain.
Negara-negara Barat harus mau mengakhiri sikap imperialis dalam segala bentuknya,
termasuk proyek-proyek pos-kolonialismenya, dan mulai membangun relasi setara
dan bersahabat. Kerjasama dan partisipasi hanya akan bermakna bila didasarkan
keseimbangan kepentingan dan bebas dari hegemoni.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Orang yang mengidealkan cara dialog untuk menyelesaikan konflik peradaban atau
kepentingan mungkin lupa bahwa syahwat hegemoni Barat adalah sesuatu yang sudah
laten dalam tradisi relasi Barat – non-Barat. Keinginan untuk mengajak Barat bersikap
lebih adil adalah utopia di tengah nafsu serakah Barat yang ingin menguasai dunia.

Setelah cara dialog adalah model utopis, maka jalan lain yang tidak boleh dihindari
oleh negara-negara non-Barat (berkembang atau Muslim) adalah melawan hegemoni
itu dengan potensi kekuatan yang ada. Cara melawan hegemoni yang paling
fundamental adalah bersikap kritis terhadap berbagai pengetahuan yang
dikembangkan oleh dan untuk kepentingan Barat. Sikap yang terlalu adaptatif - umat
Islam Islam - terhadap yang datang dari Barat hanya akan semakin mengukuhkan
hegemoni Barat di dunia Muslim. Umat Islam yang secara sukarela belajar demokrasi,
lalu mengintegrasikan dalam ajaran Islam dan menerapkan dalam kehidupan politik
adalah salah satu bentuk menerima untuk dijajah. Belum lagi ketika belajar dan
menerima peradaban, modernitas, dan civil society hampir tanpa reserve. Padahal
nenurut James Petras dan Henry Veltmeyer (2002 : 217), wacana tentang itu semua
sesungguhnya dipakai untuk melegitimasi perbudakan, genocide, kolonialisme, dan
semua bentuk eksploitasi terhadap manusia.

Sudah saatnya kaum Muslim di negara-negara berkembang bersikap kritis untuk


melawan wacana global yang diproduksi Barat. Termasuk wacana globalisasi yang
selama ini diterima sebagai sesuatu yang niscaya, harus dikritisi karena tersembunyi
sebuah ideologi (hidden ideology) yakni neo-liberalisme yang dampaknya terhadap
pembunuhan ekoniomi rakyat sangat luar biasa.

Memang patut untuk disayangkan sikap beberapa kuam Muslim yang mengaku
berfikir liberal tetapi sesunggunya mereka telah menjadi terbaratkan. Misalnya saat
mereka ramai-ramai menolak penerapan syari’at Islam di Indonesia, yang mereka
tawarkan tidak lain dan tidak bukan adalah syari’at liberal yang jauh lebih
menghancurkan bangsa ini. Karena syariat liberal pada dasarnya adalah pembuka dan
sekaligus legitimasi rasional atas berbagai bentuk mutakhir penjajahan Barat atas
negara berkembang, termasuk Indonesia.
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

PENUTUP

Dari paparan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan penting terkait dengan relasi
Islam dan Barat yang membentuk struktur dominasi-subordinasi yang dalam beberapa
hal sarat konflik. Pertama, basis benturan Islam dan Barat adalah kepentingan
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

ekonomi dan politik (kapitalisasi dan liberalisasi). Kedua, bahwa dominasi Barat atas
dunia non-Barat, yang termasuk di dalamnya dunia Islam adalah dalam rangka
mengamankan kepentingan ekonomi dan politik global Barat. Ketiga, dominasi itu
dilaksanakan oleh Barat melalui cara yang paling halus sampai yang paling kasar,
bahkan berdarah-darah (perang fisik). Cara halus Barat adalah melalui rezim
pengetahuan yang terus-menerus diinjeksikan ke dalam dunia intektual Islam,
sehingga pengetahuan lain tidak (boleh) berkembang. Ketiga, Cara untuk melawan
hegemoni Barat adalah dengan bersikap kritis terhadap Barat, termasuk dalam hal ini
adalah bersikap kritis terhadap berbagai pengetahuan yang dikembangkan oleh dan
untuk kepentingan Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar S. Ahmed, Postmodernism and Islam : Predicamen and Promise, London :


Routledge, 2002
ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Fawaz A. Gerges, Amerika dan Islam Politik : Benturan Peradaban atau Benturan
Kepentingan ?, Jakarta : Alvabet, 2002

James Petras dan Henry Veltmeyer, Imperalisme Abad 21, penj. Agung Prihantoro,
Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2002

Mohammad Abed al-Jabiri, Islam, Modernism and the West, dalam Mun’in A Sirri,
“Membangun Dialog Peradaban : Dari Huntington ke Ibn Rusyd”,
Kompas 22 Januari 2002

Samuel Huntington, Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia , penj,
M. Sadat Ismail, Yogyakarta : Penerbit Qalam, 2002,